Minggu, 24 Mei 2026

Bab 9.Dia, dan Naskah yang belum selesai

 Sorot mata Izack yang tajam, seperti elang yang sebentar lagi akan menyambar mangsanya saat melihat gadis imut itu berdiri di samping lampu traffic light dengan membawa koran di tangannya. Sekalipun wajahnya sedikit tenggelam di bawah tudung topi dan maskernya. Tapi baju yang ia pakai tidak asing lagi. Itu adalah baju pemberian darinya, milik kakak perempuannya.

"Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu?" pikir Izack mengepalkan tangan di setiran.

Rasanya, ingin sekali ia mendatangi gadis --yang selama ini mencuri hatinya di waktu-waktu --yang tak bisa membuatnya bernafas.

Ia baru sadar, ada Alvin yang duduk di sebelahnya. Ia menghitung tatapan dirinya dengan jemarinya.

"Tiga puluh, tiga satu, tiga dua, tiga tiga..." suara Alvin akhirnya terdengar mulai jelas sambil berpaling ke arah Izack melepas sabuk pengaman. "Waa... pecah rekor! Dalam sejarah, baru kali ini seorang Izack menatap cewek lebih dari tiga puluh detik."

Spontan Izack menoleh.

"Jangan bilang kalau kamu tertarik sama cewek itu, Zack,"

"Maksudmu??"

Jari Alvin cekatan menekan tombol sunroof. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan sebagian kepalanya dari atap mobil, membuat Izack pun langsung melotot geram.

"Ngapain kamu?!" nadanya geram, menarik ujung kemeja.

Mata Chika yang jeli, langsung menangkap gerakan Alvin memanggil dari atas mobil. Ia menajamkan pandangan. Wajahnya mengernyit, mencoba mengenali. Tapi belum sempat berpikir lebih jauh, sedan itu melaju kencang --meninggalkan tanda tanya.

Izack menutup sunroof otomatis. Klep! Kepala Alvin hampir saja terjepit.

"Woy! Sakit, tahu!" pekiknya turun, lalu membetulkan sabuk pengaman dengan wajah cemberut.

Tapi Izack justru tertawa ngkakak.

"Apanya yang lucu, coba?!"

"Suruh siapa keluarkan kepala," jawab Izack enteng, memegang setiran.

Alvin melirik. "Ah... Syukurlah. Aku kira kamu suka aku."

"Sembrono!" Izack melotot, menahan tawa.

Alvin cekikikan. "Coba pikir. Selama ini, mana ada cewek yang kamu suka duluan? Semuanya nempel sendiri. Dari Sarah, Sefti, sampai Shaika... siapa lagi tuh?"

Ia mengingat-ingat, membayangkan peristiwa kemarin saat Izack ditunggu cewek anggun di depan ruang dosen, tepat setelah dirinya selesai bimbingan tesis.

Alvin mencibir. "Punya pacar itu juga ajang cari istri, bos."

"Yang bertahun-tahun dan ujungnya zonk sepertimu, gitu?" ledek Izack setengah bercanda. "Bukan zamannya buang-buang duit, buat orang yang nggak jelas."

"Dasar pelit! Pantes dari dulu jomblo!" sahut Alvin.

Izack terkekeh santai. "Hidup itu harus pakai perhitungan, Bro,"

"Ish! Beneran nggak asyik kamu!" tukas Alvin.

Izack melirik ke kaca spion. Matanya menyipit. Seorang gadis sedang dibonceng motor di belakangnya –itu adalah gadis di traffic light tadi.

Keduanya tampak santai, sesekali tertawa kecil. Mereka berhenti di depan rumah makan langganan Izack.

"Ya! Itu dia," batin Izack tegang sejenak. "Luchika Aria..."

Tangannya refleks merogoh ponsel dan menelepon Pak Yusuf, senior editor di kantornya.

"Halo, Pak Yusuf. Buku yang dikirm anak AMN Tayoga dua tahun lalu, sudah dikirim balik, belum, ya?"

Suara di seberang terdengar agak ragu, "Oh, yang dari teman penerbitan teman bapak di AMN itu ya?"

"Belum, Pak."

"Oke. terima kasih."

Izack termenung. Naskah itu... terlalu berani. Menulis dengan gamblang soal dokumen negara yang selama ini hanya dianggap rumor. Dari proses latar belakang bagaimana dokumen itu dibuat, hingga sampai ke tangan seseorang. Semuanya diceritakan secara detil.

Tak masuk akal jika gadis semuda itu bisa tahu sebanyak itu –kecuali jika dia memang terlibat. Dan itupun sepertinya tidak mungkin.

Ia terlalu muda untuk menyaksikan peristiwa yang memakan waktu hampir satu abad yang lalu.

Jika naskah itu jatuh ke tangan penerbit lain –yang tidak tahu cara memprosesnya dengan aman—bahaya, itu anak.

Pandangannya kembali ke arah Chika yang kini berhenti, dan turun menunggu temannya memarkir.

Melihat cewek itu berjalan lebih dulu, lalu berhenti di depan rumah makan langganannya. Izack pun terbetik ide untuk berhenti di sana.

"Kita cari makan dulu, lah. Lapar aku," kata Izack tiba-tiba.

Alvin memandangnya curiga. "Makan?"

Izack menunjuk rumah makan depan. "Situ aja ya, favorit kita, kan?"

"Oke,"

Izack pun langsung menepiskan laju kendaraannya.

Saat itu Alvin baru sadar, gadis itu ada di depan warung. Ia tengah ngobrol dengan seorang lelaki gondrong yang cukup tampan, dengan separuh matanya dibiarkan tertutup sebagian poninya.

Melihat peristiwa itu, Izack agak ragu. Tapi saat lelaki itu pergi, Izack pun kembali sigap membuka pintu mobil dan turun.

Chika masuk ke rumah makan sambil mengibaskan keringat.

"Bro!" lirih Alvin, memberi isyarat pada gadis itu yang baru masuk.

Seorang ibu-ibu keluar dari dalam, menyambut kedatangannya yang duduk sambil melepas topi ala kompeni.

Saat itu Izack melangkah masuk. Ia disambut mbak-mbak pelayan yang sigap mengambilkan nasi. Tapi mata Alvin tak lepas dari tatapan gadis itu, menatap sejenak ibu owner bicara pada gadis itu.

"Gimana?" tanya ibu pemilik warung.

"Duh, Bu... orang sekarang lebih senang baca dari internet. Selebaran begini sering dibuang di jalan."

"Iya, ya... zaman sudah berubah," sahut si ibu, menyodorkan sepiring nasi.

"Banyak yang ngeluh dagangan sepi, Nduk.."

"Tak kirain cuma liburan kemarin aja, karena anak mahasiswa pulang kampung. Tapi ternyata sampai sekarang juga sama."

Saat mereka mengambil menu makan di etalase. Alvin senyum-senyum memberi isyarat pada Izack, yang mulai tampak sedikit grogi.

"Makan dulu, Nduk..." ibu owner menawarkan, meletakkan makan siang utuknya.

Gadis itu beranjak dari tempat duduk, lalu berdiri di depan wastafel mencuci tangan. Dari pantulan kaca di depannya, ia menangkap bayangan seorang lelaki yang tak asing. Chika melotot kaget. Ia menoleh, mencoba memastikan.

"Siapa???" pikirnya.

Ia kembali ke tempat duduk, tempat di mana ibu owner masih berdiri.

"Terima kasih, Bu.." ujar Chika tanpa ba bi bu, langsung melahap makanannya.

Diam-diam, Izack mencelos. Ia memperhatikan wajah Chika yang kemerahan bekas sengatan matahari. Gadis itu dengan cekatan mengeluarkan buku kecil dan bolpen, lalu menulis cepat –seakan menggelontorkan gagasannya yang tak bisa ditunda.

"Kenapa dia lebih memilih bekerja seperti ini dibanding memanfaatkan kecerdasannya?" pikir Izack dalam, ada yang mengganjal, membuat makanan di hadapannya terasa hambar.

Sesekali Izack melirik Chika dari seberang meja. Ia sibuk memeriksa hape jadulnya.

"Halo, Ren," sapanya terdengar ceria.

Ia menurunkan nada bicaranya pelan. "Hehe... katanya kamu beli laptop baru? Boleh pinjam, nggak?"

"Hm,"

"Aku pingin nulis artikel baru... tentang dunia penghijauan dan sampah."

"Hm!"

"Ketemuan di mana?"

"Ogah, kantin. Duitnya siapa?"

"Kamu traktir, aku mau."

"Oke, Yok!"

"Sudah, habis pulsaku."

Mendengar percakapan itu, lamunan Izack buyar seketika. Ia sengaja mempercepat makan siangnya. Tanpa berkata-kata, ia segera menuju kasir, berniat membayarkan makanan gadis itu.

Tapi si kasir justru menatapnya bingung.

"Mas-nya kenal sama mbak Chika, tho?" tanya si kasir.

Izack langsung memberi isyarat untuk merendahkan suara.

"Dia kerja di sini kok, Mas," lanjutnya.

"Oh?" Izack melongo.

"Jadi? Gratis?"

"He em."

"Oh, ya sudah."

Izack dan Alvin pun berlalu begitu saja meninggalkan warung masakan tradisional itu. Tapi mata Izack refleks melirik ke spion, –ke arah Chika yang mulai mengelap kaca depan warung.

"Kenapa nggak kamu samperin aja tadi?" tanya Alvin.

Izack hanya tersenyum samar.

Ia tak ingin dipermalukan lagi di depan orang, --seperti peristiwa dua tahun lalu.

"Kita pernah ketemu dua tahun lalu, waktu aku masih sibuk benahi perusahaan."

"Dia penulis cerdas. Bro," lanjut Izack, membuka cerita.

"Oh ya?!"

Sepanjang jalan, Izack bercerita soal Chika –tentang latar belakang keluarganya, dan tentang naskah yang sempat pernah ia tolak karena hanya diketik manual, tanpa soft copy.

"Baru kali ini, aku tahu seorang Izack bisa detil tahu seorang cewek," ucap Alvin meledek.

Izack kecap. Tapi tatapan Alvin terus membuat lelaki itu salah tingkah, seolah sedang menangkap basah apa yang tersembunyi di matanya.

"Kenapa??!"

"Kamu jatuh cinta sama dia, kah?"

"Ck!!" Izack mendengus, menggeleng cepat. "Hahhh...?! kamu tuh, apa-apa selalu disangkutkan kesana."

"Soalnya baru kali ini aku lihat kamu perhatian sama cewek."

"Payah!" Izack menggeleng, membuang pandangan ke jalan.

Alvin masih tersenyum jahil. "Tapi ngomong-ngomong cantik juga loh, andaikan ekonominya ketolong dikit... aja."

"Sudahlah, banyak yang ngelirik nanti kalau kamu tolong."

"Sok! Kalau kamu tertarik. Tetangga kostnya Hendrik, tuh," lirik Alvin sambil menatap Izack, yang tampak sedikit tersinggung.

Ingatannya melayang pada peritiwa dua tahun lalu –saat gadis itu meninggalkannya begitu saja, di saat ia rela mentraktir makan-makan teman se-basecamp AMN, hanya demi ngobrol dengan gadis itu.

Alvin tertawa kecil, lalu menambahkan, "Hati-hati, Bro! Jodoh itu nggak ada yang tahu."

Izack meliriknya sekilas, mecoba mengabaikan ucapannya dengan melengos.

"Hari ini kamu nggak tertarik karena terkesan kumuh. Tapi siapa tahu, beberapa hari lagi kamu malah terpesona."

Izack mencibir, meski dalam hatinnya, terselip harapan kecil.

Dan ucapan Alvin barusan –nyaris seperti stempel keras di keningnya. Menyinggung sekaligus menyakitkan.

Ia teringat lagi perasaan rendah dirinya dulu. Ketika ditolak oleh gadis yang secara status sosial, jelas jauh di bawahnya.

Hening.

Di luar, udara panas bergelombang. AC mobil seakan menyerah, hembusannya tak lagi terasa.

Alih-alih marah, angannya justru kembali ke dua tahun lalu –saat wajah gadis itu masih bersih, lembut dan polos. Senyumnya yang mahal, sering terkesan cuek. Tapi justru itu yang membuat Izack makin jatuh hati pada pandangan pertama.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar