Pagi itu, keduanya tidur saling berpelukan. Hangat. Chika kaget mendapati wajah lelaki di depan matanya, refleks loncat dari bed. Ia lupa, ada bekas luka di perut yang harus ia jaga.
Spontan Izack terbangun, kaget melihat gadis itu nungging di lantai.
"Kamu kenapa?"
"Hihi... sakit banget."
"Kenapa tiba-tiba loncat?" tanyanya melongo.
Gadis itu ak menjawab, hanya tertawa geli campur nyengir membungkuk kesakitan.
Izack segera bangkit, keluar dari selimutnya dan jongkok di depannya --menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajah.
"Mimpi apa kamu sampai terbang begitu?" tanyanya mendengus geli.
Chika mendongakkan wajah, malu campur kesal. Tapi senyum samarnya tergambar jelas di wajah.
Tak lama kemudian bel pintu terdengar.
Izack hanya mengacak kecil rambut Chika gemas, lalu beranjak pergi.
***
Satu jam kemudian.
Meskipun ia sudah mulai terbiasa melihat kaki Izack yang terekspos selesai mandi. Tapi entah mengapa, pemandangan itu selalu menarik perhatiannya. Kali ini ia menyamakan dengan kakinya sendiri yang jauh lebih bersih dibanding sebelum masuk rumah sakit, meskipun kakinya jauh lebih kusam dibanding kaki itu.
Lelaki itu hanya menoleh sesaat pada dirinya yang masih berdiri di depan kamar.
"Sikat gigi dulu," ucapnya.
Tapi Chika tak peduli, ia justru duduk di meja makan, melihat lelaki itu riwa-riwi menghidangkan sarapan di meja.
"Bang,"
"Hm,"
"Boleh ikut bantu-bantu di kantormu, nggak?" tanyanya ragu.
"Boleh,"
"Seriuss?!!" matanya melotot penuh harap.
"Hm!"
"Sekarang ya?!"
"Tunggu badanmu benar-benar fit,"
Glekkk... wajahnya kembali bersungut.
Izack melirik sejenak, menatap wajahnya yang tak bersahabat.
"Baru sehari jahitan perut dilepas, sudah mau lari aja. Sabar."
"Tapi aku butuh income tambahan, Bang?!" ceplosnya. Tapi ia kaget dengan kata-katanya sendiri. dan tanpa bersalah, ia nyengir.
Refleks tangan Izack terhenti, menatap lama wajah Chika yang tertunduk.
"Income apa, nih?"
Chika menggigit bibir, cemas.
Hening.
"Aku mau dapat uang dari kerja kerasku sendiri, Bang," gerutunya.
Izack memejamkan mata, melengos.
"ATM yang aku kasih kemarin dimana? Jangan-jangan kamu buang?"
"Enggaklah, gila, apa?!"
"Terus?"
"Ya masih aku simpan."
Tegang.
"Mau buat apa uang segitu kalau badan sakit begitu mau kerja?"
Chika tertunduk, matanya sesekali melirik takut.
"Sewaktu-waktu aku pergi, aku nggak perlu behutang lagi ke kamu," ucapnya lirih.
Spontan lelaki itu duduk lemas, meraup wajahnya sendiri.
Ia menarik nafas dalam. "Sebenarnya apa sih yang ada dalam pikiranmu?"
"Nggak ada. Aku cuman nggak mau berhutang budi, gitu aja. Apa itu juga salah?"
"Salah," potongnya cepat.
"Aku itu suamimu, Chika..."
"Kewajiban suami itu melindungi istri, menafkahi lahir batin. Paham?" ujarnya lembut hati-hati.
Tangan Chika lemas di atas meja.
Tatapan itu membuat Chika tak berani mengangkat wajahnya sedikitpun.
"Sudah. Kalau mau ikut, ikut aja. Nggak usah berpikir macam-macam."
"Bener?" Chika melotot, girang.
"Hm."
Gadis itu langsung bangkit dari kursi, setengah berlari masuk kamar mandi. Awalnya Izack kaget, tapi perlahan bibirnya tersenyum geli melihat impulsif kekanak-kanakannya.
***
Tak berapa lama ia muncul dengan setelan kemeja kotak-kotak merah-biru dan celana denim krem. Ia mengalungkan head setnya ke leher dengan tas gendong di belakang.
Izack yang sudah siap dengan setelan blazzer biru tua dan kaos turtle neck menutupi sebagian lehernya, hanya tersenyum samar melihat penampilan istrinya funky.
Melihat tatapan suaminya, Chika sedikit malu, nggak pede.
"Bajuku jelek kah?"
Izack tersenyum lebar, dua lesung pipitnya benar-benar nggak nahan.
"Aku suka punya pacar mahasiswa baru."
Tapi Chika pura-pura cuek membenahi tali sepatunya.
"Aku mau bantu-bantu di gudang dulu, makanya pakai baju seperti ini," katanya penuh percaya diri.
Saat kembali berdiri, kaget, Izack sudah di depan wajahnya. Ia bergerak mundur, tapi Izack menahan pinggangnya.
"Jangan berulah, sudah dibilang berapa kali nggak boleh buat angkat-angkat dulu," desisnya gemas.
Sambil merangkul pundak, Izack mendorong langkahnya keluar.
Pintu itu terkunci otomatis dengan sekali tekan.
Izack melirik gadis yang kini sedang digenggam tangannya, kurus dan pucat.
"Makan yang banyak. Kamu tinggal di ibu kota harus fight."
"Ogah, aku nggak mau gendut,"
Izack menahan tawa, geli.
"Kamu gendut, yang kurus seperti apa, Non..."
"Ogah, ntar nggak bisa manjat pagar lagi," ucapnya lirih.
Izack tersenyum geli, sepanjang jalan menuju lift membayangkan gadis itu meloncat pagar kampus setinggi itu.
Chika yang melihatnya bersungut. "Apanya yang lucu?"
Izack membuka ponsel, lalu scroll beberapa video yang memperlihatkan dirinya manjat pagar besi area hutan.
"Ini kan?"
Tingg!!
Pintu lift terbuka.
Chika melotot, ia berusaha meraih ponsel itu saat keduanya masuk lift hingga tertutup. Jemari Izack cekatan menekan tombol, namun tak membiarkan gadis itu meraih ponsel yang ia angkat tinggi-tinggi.
Selama dalam perjalanan, ia melirik baju yang dikenakan lelaki itu sekilas. Blazer slim fit, dengan kaos lengan panjang menutupi separuh lehernya. Lalu membandingkan dirinya dengan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan.
"Kenapa?" tanya Izack menoleh sekilas.
Chika nyengir menggeleng, tapi tangannya meremas ujung lengan hem yang menutupi sebagian telapak tangannya.
Hingga perjalanan dalam mobil, Chika masih ragu membayangkan seberapa bisa dirinya beradaptasi di kantor.
"Mikir apa dari tadi?" ucap Izack.
Lagi-lagi Chika hanya nyengir, tak menjawab sepatah katapun.
Hingga saat mereka turun dari parkiran basement menuju lift, nyali Chika makin ciut. Ia berjalan selangkah lebih lambat dari suaminya, hingga seseorang menyapa Izack di depan pintu masuk berbarcode.
"Pagi pak Izack," salam sapa itu hangat.
Lelaki itu melirik Chika di belakangnya, lalu berbincang sejenak dan kembali berjalan.
Izack menggenggam itu cukup tegas, menarik Chika di sampingnya. Saat seseorang kembali menyapa, ia memperkenalkan Chika sebagai pacarnya dengan nada bercanda pada orang tersebut.
Begitu selesai keduanya ngobrol, Izack menarik siku Chika untuk masuk ke dalam pintu berpalang dengan kartu miliknya. Ia berdiri di belakangnya sambil berbisik lirih.
"Aku nggak suka sikapmu seperti bawahanku,"
"Terus harus gimana?" ucap Chika lelah.
Izack tak menjawab. Ia hanya terus berjalan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Chika merasa minder dan hilang kepercayaan diri saat masuk lorong demi lorong setelah keluar dari lift, hingga disambut orang-orang di sana.
Batin Chika mulai bergejolak.
"Ampun dah! Angkuhnya kamu, begitu sampai di kantor," pikirnya kesal melihat sikap Izack yang terlalu dingin.
"Tapi, benarkah dia CEOnya?"
"Atau, jangan-jangan cuma karyawan?" batinnya berkecamuk.
Hampir semua orang yang berpapasan dengannya selalu menyapa dan menunduk hormat. Bahkan pada dirinya, yang membuat Chika risih sendiri.
Saat mereka sampai di depan ruangan berdinding kaca, langkah Izack terhenti di depan meja seorang pegawainya.
"Gimana, Rony?" tanya Izack.
"Iya pak, sudah siap... tinggal tunggu bapak dari tadi," kata lelaki muda itu.
Dan Izack hanya mengangguk dingin, lalu menarik gagang pintu ruangannya. Sementara Rony diam-diam melirik Chika di belakangnya.
Saat keduanya masuk, dua orang datang menatap Rony penuh isyarat.
"Istrinya pak Bos kah?"
Rony menggeleng. Sementara Chika hanya melirik gerak-gerik mereka di balik kaca ruangannya yang membuat dua orang itu pergi diusir.
Izack menekan tombol otomatis dinding ruangan, kaca berubah abu-abu tak tembus pandang.
Chika kaget, ternyata s ceanggih itu kantornya. Ia pun menarik nafas lega, jongkok meraup wajahnya lelah di tengah ruangan, membuat Izack melongo saat hendak duduk di kursinya.
"Kenapa lagi kamu?" Izack melotot heran.
Ekspresi itu tak selembut di rumah, ia langsung beranjak mencantolkan blazernya dan sedikit menyingsingkan lengan kaos panjangnya. Sementara Chika masih kikuk dan grogi beradaptasi dengan suaminya sendiri yang sudah berubah total auranya.
"Kalau kamu butuh sesuatu, panggil masnya di depan aja dengan menekan nomor ini," ujarnya sembari duduk di meja kerja.
"Itu air minum kalau mau, buatlah sendiri," tunjuk Izack pada meja kecil di sudut ruangannya.
Sebelum benar-benar bangkit, terdengar pintu diketuk. Chika langsung berdiri kaget.
Itu adalah Rony.
Ia membawa sebandel map berisi proposal film animasi dari studio.
"Sebenarnya sudah dua hari yang lalu mereka datang, tapi Bapak nggak di kantor."
"Hm, nggak apa."
"Biar aku hubungi mereka hari ini."
"Tapi, sebelumnya aku mau kita rapat dulu 15 menit untuk membahas ini."
"Sudah kamu siapkan?"
"Sudah, Pak."
"Oke, lanjut," ucapnya tegas membuat lelaki itu berbalik melangkah.
Ia melirik Chika yang masih berdiri mematung di tengah ruangan, hingga kedua mata saling menatap sekilas.
Saat pintu tertutup. Chika melangkah ragu, ia duduk di sofa depan meja kerjanya.
"Sebentar lagi aku ada rapat, setelah itu keluar bareng Ozin. Kamu gimana?" ucap Izack melirik istrinya.
Melihat ekspresi Izack yang demikian, dingin. Raut Chika langsung memerah. Matanya berkaca-kaca.
Izack kaget melihat ekspresi itu.
Seseorang kembali mengetuk pintu. Dan Izack nyaris saja berlari untuk menahan pintu, agar orang itu tak langsung masuk.
Ia membuka pintu sedikit, lalu menjawab beberapa patah kata dan menutupnya kembali. Pandangannya berbalik tertuju pada Chika yang masih berdiri kaku. Ia segera mendekat dan berdiri di belakang punggungnya mengelus kedua lengannya, hingga melingkarkan tangannya ke perut.
"Sebenarnya apa sih, yang kamu pikirkan dari tadi?"
"Kamu beda dari Izack yang aku kenal."
Lelaki itu mengembangkan senyumnya diam-diam.
"Sikapku di kantor, di rumah, dan di AMN mungkin bisa membingungkanmu. Tapi itulah peran yang harus aku jalani, sayang..."
Izack menarik nafas berat.
"Kalau di sini aku bersikap seperti di Tayoga, semua bisa runtuh, Non. Banyak hal yang harus aku tahan demi karir dan penghidupan mereka," ucapnya mengeratkan tubuhnya dengan dagu di atas kepala gadis itu.
"Ketahuilah... sebenarnya ini semua berat. Itulah mengapa aku butuh kamu –pemahaman dan kedewasaanmu."
Ia menyibakkan rambut Chika yang jatuh ke kening, lalu berbisik.
"Di Tayoga, aku bisa nongkrong berjam-jam di depan kamar Hendrik karena ada orang yang aku tunggu."
Izack membalikkan tubuh itu, menatap dalam.
"Silahkan marah sepuasmu di depanku, Non... Tapi jangan di hadapan orang lain."
"Karena bukan kita saja yang akan jatuh, tapi ada banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan."
Glekkk... tubuhnya melunak seketika. Saat itu Izack sudah melangkah pergi, mengambil blazer yang ia cantolkan.
"Istirahatlah dulu di sini. Atau kalau mau, aku panggilkan karyawan yang mungkin se tipe denganmu."
"Memangnya kamu tahu tipikalku seperti apa??!" tukas Chika cepat.
Izack tersenyum tipis.
"Aku kenal dirimu lebih dari yang kau tahu, Sayang... makanya aku berani langsung melamarmu karena itu."
Chika melongo. Izack hanya tersenyum samar.
"Sudah, kamu mau apa sekarang. Mau belanja, pegang laptop, atau sekedar nongkrong di kantin. Bebas. Tapi aku nggak mengijinkanmu melakukan pekerjaan berat-berat."
Chika bingung memilih.
"Abang cari duit dulu,"
Tiba-tiba senyumnya muncul perlahan. "Sapi perah," ucapnya lirih.
Izack mengerutkan dahi. "Maksudnya sapi perah?"
"Ya... kamu. Mirip sapi perahku, kalau seperti itu."
"Hwkwkwk... apapun itulah."
Izack membalikkan tubuh Chika, lalu memeluknya lebih tenang, hingga sisa marah di wajah Chika pun perlahan cair, meski tak sepenuhnya terima diperlakukan seperti itu.
Izack kembali membubuhkan ciuman di kening, menatap mata Chika yang tertunduk, dan mencium bibirnya hangat terasa mengaliri tubuhnya.
"Doakan semua project lancar ya."
"Aku butuh keikhlasanmu, sayang..."
Chika mengernyit bingung.
"Hm," Izack mengangguk.
"Mulailah belajar kelola emosimu."
"Kenapa harus aku terus yang kamu tuding?"
"Aku nggak niat begitu, sayang..."
"Tapi, sekarang kamu adalah sterring partnerku di posisi ini. Dimanapun dan kapanpun. Kedewasaan kita di tuntut, sekalipun rasanya berat dan melelahkan."
"Tapi jika itu kamu biasakan, lama-lama akan terbiasa kok."
"Kamu hanya butuh hadir sepenuhnya di posisimu sebagai seorang istri pimpinan."
Chika menurunkan pundak lelah dan kesal.
Izack langsung memeluknya erat. "Oke, maaf. Aku nggak tahu gimana caranya mengatakan ini semua," ucapnya sembari mengelus rambut Chika yang tergerai lurus.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar