Minggu, 24 Mei 2026

Bab 53. Dominasi Sang Pimpinan

 Dua hari kemudian.

Pagi itu, depan ruang dekan fakultas kehutanan riuh. Puluhan mahasiswa berdesakan di depan papan pengumuman kayu yang cukup besar, mencari nama mereka di antara deretan daftar lokasi KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Chika berdiri di barisan paling belakang dengan jantung berdebar. Di kepalanya, bayangan hutan hujan tropis yang damai sudah tergambar jelas. Ia sudah menyiapkan sepatu boots dan tas carrier yang baru dibeli kemarin, --saat Izack masih di Tayoga.

"Sini Chik!" teriak Rendra dari kerumunan paling depan.

Wajahnya tampak aneh, antara bingung dan tak enak hati.

Chika merangsek maju, menyikut beberapa punggung mahasiswa laki-laki yang jauh lebih tinggi dan besar dari tubuhnya, hingga sampai di depan kertas putih.

Tangan Rendra menyisirkan namanya.

Luchika Aria – 202201... – Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Pantai Barat.

Dunia seakan berhenti. Chika mengerjap, berharap ia salah baca.

Jarinya mengurutkan lagi deretan kelompoknya di Pulau Terluar. Tapi namanya tak ada di sana.

Seseorang nyletuk. "Kok bisa, Chik? Bukannya kemarin kamu yang usulkan, ya?"

Tangannya terkepal, mengeras seketika. Satu nama langsung muncul di kepalanya: Izack.

Kata-kata itu seolah kembali terdengar jelas di telinga: "Apa perlu Abang sendiri yang ngomong ke kampus?"

Tanpa berkata sepatah pun pada Rendra, gadis itu langsung berbalik. Langkah kakinya menghentak keras di jalanan menuju ruang Dekanat. Ia tak peduli jika harus dianggap tidak sopan, ia hanya butuh jawaban.

"Permisi, Pak," Chika masuk tanpa mengetuk, napasnya memburu.

Pak Dekan, seorang pria paruh baya yang selalu terlihat tenang, mendongak dari balik kacamatanya. Ia tampak sudah menduga kedatangan Chika.

"Duduk dulu, Luchika."

"Kenapa nama saya nggak ada di daftar pulau Terluar, Pak? Bukankah itu yang mengusulkan saya ya? Nilai Konservasi saya juga A, fisik saya juga sudah dinyatakan sehat, sama dokter."

"Keputusan ini demi kebaikanmu, Nak," potong Pak Dekan halus. "Pulau Terluar sedang tidak stabil. Konflik lahan di sana meningkat. Pihak kampus mendapatkan masukan bahwa mengirim mahasiswa perempuan, terutama yang baru saja menjalani masa pemulihan medis, sangat beresiko."

"Masukan dari siapa, Pak?"

"Ketua umum AMN?" cecar Chika, suaranya naik.

Pak Dekan terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Suamimu hanya mengkhawatirkan keselamatanmu, Nak. Dan jujur saja, lobi yang ia berikan masuk akal."

"Apalagi Balai Konservasi Hutan Mangrove masih membutuhkan banyak tim untuk perluasan penanaman pohon Magrove."

Chika mengusap wajah frustasi. "Tapi Pak, kenapa Bapak membiarkan pihak luar mendikte penempatan lokasi KKN mahasiswa."

"Apa hanya karena dia seorang ketua umum AMN?"

"Dia bukan orang luar, Luchika. Dia suamimu."

"Dia juga alumni kampus ini, meskipun beda fakultas denganmu."

"Berkat dia pula, mahasiswa kita hari ini dimudahkan masuk kampus-kampus top dunia dengan beasiswa full."

Chika keluar dari ruangan dengan wajah mendung, berkaca-kaca. Bukan karena gagal ke Pulau Terluar. Tapi ia baru sadar, bahwa sekuat apapun dirinya berlari. Kuasa Izack selalu ada di sana, jauh dari yang ia kira.

Lelaki itu tak hanya memiliki hatinya, tapi mulai menjajah masa depannya.

Sambil mengusap air matanya yang jatuh, ia merogoh ponsel. Jemarinya bergetar saat harus mendial nomor Izack. Ia bahkan tak memberi kesempatan Izack menyapa, saat panggilan tersambung.

"Puas, kamu. Bang?" suaranya bergetar menahan tangis amarah.

Di seberang sana, hening sejenak. Hanya terdengar suara ketikan laptop yang terhenti.

"Aku sedang rapat, Sayang... Kita bicara nanti ya," jawab Izack, suaranya tenang. Bahkan terlalu tenang, yang justru membuatnya meledak.

"Jangan panggil aku 'Sayang' kalau hanya jadi bonekamu!" pekiknya.

Suara itu lolos, membuat orang di sebelah kanan kiri meja Izack langsung menoleh kaget. Tapi lelaki itu tetap tenang, tak menghiraukan tatapan mereka.

"Kamu pikir dengan mengeluarkanku dari tim Pulau Terluar, dan pindahkan ke Pantai Barat itu aman?"

"Enggak, Bang!"

"Aku sedang ada rapat, Sayang..." potong Izack dengan suara sedikit berbisik.

"Biarin!"

"Kalau kamu nggak ganggu aku, aku juga nggak akan ganggu kamu," suaranya meledak.

"Oke-oke," jawabnya.

Beberapa orang hanya senyum-senyum mendengar ledakan tangis yang lolos dari ponselnya.

Izack diam sejenak, lalu bangkit dari kursinya –paling ujung. Ia memberi kode pada tim penerbitannya untuk melanjutkan diskusi tanpa dirinya, lalu melangkah keluar. Saat itulah Izack menutup pintu rapat, meninggalkan senyum yang menyebar, --seolah paham karakter manja sekaligus keras kepalanya istri pimpinan.

"Nggak nyangka, istrinya Pak Izack 180 derajat bertolak belakang dengan karakternya Pak Izack," ucap seorang lelaki muda.

"Sudah, mari kita teruskan," potong Rony, seolah mengubah mode.

Di luar, Izack menarik nafas tenang mendengar Chika yang terus mendebat semua kata-katanya diiringi suara tangis.

"Kamu nggak tahu kan? bagaimana kondisi Pantai Barat itu jauh lebih kotor karena tercemar limbah dan polusi!" nadanya tinggi. "Apalagi itu pantai, ujung dermaganya jadi jalur kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara dari pulau seberangnya," suaranya serak campur tangis kesal, tersengal-sengal.

Izack tak ambil marah. Matanya justru berbinar lembut menatap langit-langit sambil membayangkan bagaimana ekspresi istrinya saat menolak call video.

"Tolong dengar sebentar, Non..." suaranya merendah, mencoba mendinginkan suasana.

Hening.

Hanya suara sesak nafas berulangkali.

"Itu semua demi kesehatan dan keamananmu," ujar Izack akhirnya. "Pulau Terluar bukanlah tempat main-main buatmu, di saat kondisimu dalam masa pemulihan."

"Iya, tapi kenapa harus Pantai Barat?!" pekiknya, parau.

Izack diam menarik nafas dalam.

"Diantara sekian pilihan, fakultas memberi rekomendasi itu Non... Karena secara waktu dan medan lebih aman buat kamu."

Klekk...

Tiba-tiba suara itu terputus.

Izack menatap layar itu sesaat, menunggu barangkali ia akan membuat panggilan lagi.

Tapi setelah sekian menit menunggu, justru panggilan Papa muncul, bergetar.

Ia mengira Chika laporan pada Papa, sekalipun ia yakin: itu bukanlah karakter Chika banget yang suka buat laporan ke orang tuanya di saat ia terjepit masalah.

Namun ternyata laporan Papa akan sebidang tanah seluas 10Ha di ujung selatan Kota Giwana.

"Ini bagus buat Chika, Zack."

"Bukankah, Giwana itu kota kelahiran orang tuanya istrimu?"

Beliau menyarankan untuk membeli tanah tersebut, berbekal uang pesta pernikahan yang dulu ia tabung sejak beberapa tahun pada Mama nya.

Tanah itu adalah tanah lelang hasil sitaan korupsi negara, yang dulunya milik salah satu pejabat negara.

"Bisa-bisa nggak ada waktu lagi buat saya, Pa." ucapnya.

"Papa justru punya gambaran bagus untuk observasi dan usaha semacam edufarming ke depan buat dia, mengingat lahan di sana makin mahal dan peluang wisata makin bagus."

"Tapi Pa... bisa-bisa dia malah makin sibuk dan nggak peduli lagi sama rumah tangga kami."

"Hmm... aku kira Chika bukan tipikal cewek yang seperti itu, Zack."

"Hari gini, mana ada cewek seusianya yang kerja keras ketika suaminya sudah mapan."

"Jadi, syukuri aja..."

"Tinggal kamu kasih pagar --biar dia nggak sampai keluar dari range keluarga."

Izack mendenguskan tawanya pelan.

"Pagar, kata Papa?"

"Chika itu bukan tipikal yang bisa dibendung, Pa. Kalau sudah punya keinginan, dia kejar sampai dapat. Apapun resikonya," ucapnya memijit pelipis, lalu menarik nafas pelan mencoba mengurai kepenatan isi kepalanya tentang banyak hal.

"Itu tanda orang cerdas. Bersyukur aja kamu punya calon ibu untuk anak-anakmu yang cerdas."

"Mamamu sudah nggak sabar dengar kabar dari kalian itu," senyum kecil terdengar dari ujung ponsel.

"Haduh Pa... Jauh. Makanya aku bisa ketawa aja, Papa tawarkan tanah segitu luasnya untuk dia."

"Bisa-bisa..."

Ayahnya tertawa kecil memahami kegalauan anak angkatnya.

"Sebenarnya kamu itu sama seperti dia, Zack."

Izack terdiam sejenak seakan tidak peduli dengan kata-kata Papanya.

"Awal pernikahan dulu, aku kira dia bakal tertarik kerja di kantorku. Aku pikir itu solusi, biar kita punya waktu bareng."

"Tapi ternyata, dia pulang ke Kota Pelajar sudah siap bawa skripsi dan usulan data lokasi KKN."

"Malah belakangan dia mau ikut proyek restorasi hutan hujan tropis," Izack memejamkan mata tampak lelah.

Ayahnya tersenyum, seakan bangga dengan pencapaiannya.

"Hebat."

"Iya, dia memang hebat. Cuma kadang aku merasa... capek, Pa. Aku merasa kesepian, meskipun dia ada di rumah."

"Kampusnya membolehkan? Sudah tahu kalau dia pasca operasi abdomen?"

"Sudah, dan boleh."

"Haha... mantap. Dan kamu kesepian lagi."

Izack menghela nafas, bingung dengan dirinya.

"Hhh..." desahnya pamit memutuskan panggilan.

Ia kembali memijit kening.

***

Baru saja Papa mematikan telepon, meninggalkan hawa sesak yang diam-diam menggelikan. Terbayang bagaimana sosok istrinya yang tomboi dan nggak bisa diam, tiba-tiba punya anak kembar sekaligus.

Izack masih berdiri, lalu melangkah di antara koridor kantor penerbitannya menuju ruang kerjanya. Di gedung ini, ia adalah otak sekaligus penggerak utama. Setiap editor, penulis, dan staf pemasaran menunduk hormat saat ia lewat.

Tapi aura itu runtuh dalam hitungan detik saat ponselnya kembali bergetar.

Itu adalah nomor unik yang tak dimiliki siapapun. Tapi dari logonya, itu bukanlah panggilan biasa.

"Selamat sore, Izack al Haque. Bapak Presiden ingin bertemu dengan anda sekarang juga.

Unit Penjemput sudah di depan pintu lobi perusahaan anda."

Degg...

"Oh, siap. Pak," jawab Izack setengah gugup.

Izack menarik napas panjang, merapikan kerah kemejanya. Ia melangkah menuju lobi, di mana sedan hitam mengkilap --dengan kaca terlalu gelap itu sudah terparkir di depan pintu utama, mengabaikan segala aturan parkir gedung.

Sekalipun ia pemilik gedung perusahaan tersebut, namun begitu di depan pria berwajah kaku dengan earpiece di telinga, nyalinya seakan luruh di jalanan.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma kulit mahal itu, Izack menyandarkan kepala. Ponselnya kembali bergetar, itu adalah panggilan Chika. Namun belum sempat ia mengangkat, pria di kursi depan itu berdeham kecil.

"Mohon maaf, Bung Izack. Protokol. Semua alat komunikasi harus dinonaktifkan sekarang."

Izack menatap layar ponselnya untuk yang terakhir kalinya hingga gelap.

Di titik ini, ia sadar: ia baru saja mengunci kebebasan istrinya di Pantai Barat, sementara sekarang, negara sedang mengunci kebebasannya di dalam mobil ini.

Seorang Izack bukan lagi siapa-siapa. Ia hanyalah aset yang harus dipindahkan, atau mungkin target yang sedang digiring masuk ke kandang singa.

Mobil itu meluncur, membelah kemacetan kota Takata dengan pengawalan yang sunyi namun menekan. Izack menatap wajahnya sendiri di kaca jendela.

Pikirannya melayang sejenak pada amarah Chika hingga kode keras ayahnya untuk segera memiliki momongan.

"Ah... andaikan kalian tahu. Betapa detik ini aku sudah nggak bisa mundur dari jabatan ini, demi meneruskan suara-suara dari bawah yang makin menekan keadaan negeri ini."

Penjemputan yang mendadak ini, mungkin membuktikan satu hal yang paling Izack benci: bahwa setiap langkahnya, setiap tarikan napasnya, bahkan saat menelepon istrinya tadi. Mungkin sudah tercatat dalam laporan intelijen yang kini sudah di meja kerja Presiden.

Saat gerbang Istana yang berat itu terbuka perlahan, Izack melirik dengan sudut matanya yang tenang, menekan gugup.

Ia harus melepas identitasnya sebagai suami yang tengah memikirkan kemana masa depan keluarganya dibangun.

Karena sebenarnya, pertarungan baru saja dimulai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar