Minggu, 24 Mei 2026

Bab 24. Kehidupan sampai di Sini

 Di bawah temaram lampu neon. Tiga orang lelaki, duduk-duduk di depan rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Lalu satu dari mereka mendatangi kendaraannya, Izack segera keluar –sengaja menghalau kedatangannya, saat melihat Chika mengusap wajahnya yang basah.

"Maaf, Pak. Ini rumahnya Pak Syainuri?"

"Iya, Mas. Ada perlu apa?" tanya lelaki kurus ceking itu.

Namun sudut matanya dikejutkan dengan sosok yang tak asing, itu adalah keponakannya, Chika. Di bawah langit yang gelap, ia tampak memunguti barang bawaannya. Spontan Izack sigap mendekat, mengambil alih.

"Sudah dibilang, jangan angkat-angkat dulu," suara Izack lirih, namun tegas.

"Sudah, cepetan pulang," ucap Chika berbisik.

Melihat pemandangan itu dari jauh. Dua orang lelaki tetangganya yang kini mulai berdiri, menatap separuh curiga pada keduanya.

"Ada apa, Nduk??" tanya pamannya.

Chika tak menjawab. Ia hanya menjabat tangan, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

Izack membawakan barang bawaan, beserta berkas rekam medis.

Pamannya kaget, saat ia memberikan hasil rekam medis Chika.

Melihat nama Luchika Aria, pamannya kaget. "Apa ini, Nak..."

"Eeeh..." Izack melirik Chika yang sudah berdiri menatap tajam ke arah Izack, seakan mengingatkan untuk segera pergi.

Tapi Pamannya langsung menarik masuk, meminta penjelasan. Izack tak bisa berkutik. Sekalipun membuat alasan ada urusan di ibu kota, dan ia harus segera pergi. Tapi pamannya terus menarik langannya, Izack pasrah, melangkah masuk.

"Wajahmu kelihatan capek banget, Nak,"

"Istirahat dulu sebentar."

"Iya, Mas... Keselamatan lebih penting," jawab tetangganya.

Lagi-lagi melirik sorot mata Chika yang tajam, Izack bingung karena ia terus didesak suruh duduk.

Izack menarik nafas dalam, pura-pura tak melihat Chika yang masih berdiri tegang saat Bu Leknya menggelarkan alas duduk.

Lelaki itu menyapukan pandangannya sekilas, lalu mulai bercerita singkat bagaiamana Chika jatuh sakit, lalu harus opname dan operasi. Sementara dirinya harus menunggu, karena tak ada seorang temannya yang datang.

Pasangan itu masih kaget, bingung dan... syukur.

"Ya Allah, Nak... apapun itu, bapak sudah berterima kasih sekali, kamu mau antar jauh-jauh kesini."

"Terus biaya Rumah Sakitnya gimana?" raut Pak Lek cemas.

Chika melototi Izack penuh kode.

"Ditanggung asuransi tempat kerjanya, Pak."

"Ya Allah Nduk... Beruntung sekali kamu," ucap tetangganya, lugu.

Chika hanya nyengir, asam.

Entah gimana, Tiba-tiba saja terdengar suara parau Bu Leknya mengusap air matanya yang berkaca-kaca. "Ya Allah Nak... Sejak kecil dia ikut saya. Apa-apa dia tanggung sendiri. Nggak pernah ngeluh, nggak pernah minta macam-macam," pecah tangis.

"Sudah Bu..." potong suaminya seakan memberi kode, agar tak melebar kemana-mana.

Izack paham.

Seorang lelaki tetangganya kembali menyela. "Iya, Nak. Saya masih ingat waktu dia smp. Anakku pulang sekolah, langsung main. Dia pulang sekolah, langsung kerja. Kadang ikut beres-beres di rumahnya pak dokter."

"Iya Nur. Tak pikir karena kliniknya Pak Dokter jauh ke kota, mau tak boncengi motor. Tapi dia kekeh nggak mau, pilih jalan kaki."

"Benar-benar TOP keponakanmu,"

Izack terdiam sejenak. Dadanya sesak perlahan: gadis yang selama ini ia kenal sebagai cewek yang cuek, keras kepala, dan begitu tegar, ternyata memanggul begitu banyak beban sejak kecil.

Izack menarik nafas dalam.

Tiba-tiba adzan subuh berkumandang dari surau kecil. Warga pun mulai beranjak keluar rumah satu persatu, melewati depan halaman. Termasuk dua tetangganya yang sejak tadi ikut ngobrol, segera pergi.

Melihat tatapan mata Chika, Izack pun tahu diri. Ia ikut pamitan hendak pergi.

"Tunggu orang-orang pada subuhan dulu, Nak..." jawab Pak Syainuri menarik siku Izack masuk, --sengaja menghindarkan tatapan warga.

Tapi tiba-tiba beberapa warga datang.

Glekkk...

Chika mengusap wajah kesal, putus asa.

***

Entah berapa menit berlalu.

Di ruang depan, dialog panjang mulai terdengar alot.

Mendengar keributan di tengah kesunyian pagi buta, dua orang tetua yang melewati depan halaman, mendekat. Awalnya mereka hanya mendengarkan penjelasan Izack dan pak Syainuri. Tapi lalu warga berargumen kekehalasan Pak Syainuri dan Izack soal kepulangan Chika larut malam.

"Sejak awal dia memang ngotot mau naik bus sendiri, Pak... Tapi saya yang nggak membolehkan. Karena jangankan untuk berjalan, berdiri saja masih limbung."

Izack menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya dengan bahasa yang cukup tenang dan gamblang. Tapi karena warga kekeh, akhirnya seorang tetua menegaskan, bahwa: aturan desa sudah dijalani bertahun-tahun. Dan dengan adanya konsekuensi itu, para gadis desa lebih berhati-hati dalam pergaulan.

"Mengapa harus perempuan yang selalu disalahkan?!" gertak Chika dengan nada tinggi.

Glekkk...

Semua terdiam.

"Kalau kami menikah sekarang, lalu sebulan kemudian cerai, siapa yang dirugikan, Pak?!"

Warga tak berkutik.

"Apa kalian suka?!! Punya gadis desa yang cepat menikah, lalu cepat menjanda di usia muda??" tatapnya sengit pada wajah-wajah itu.

"Bukankah ini bentuk dari sikap abuse terhadap perempuan?"

"Berapa banyak gadis desa yang baru lulus sekolah, langsung dinikahkan?!"

"Lihatlah anaknya pak Pani yang dulu cantik, sekarang layu?!"

"Dia yang harusnya masih menikmati usia sekolah, sekarang putus asa kehilangan daya hidup?!"

"Begitukah...?! yang kalian inginkan?!"

Tahu karakter Chika yang demikian keras, dan logis Izack hanya menelan ludah. Tak bisa berkutik banyak.

"Sssstt..." Bu Lek menarik bahu, nyengir menahan malu. Namun Chika menghempas kesal, membuat Izack khawatir melihat raut pak Syainuri tersulut.

"Sekarang kamu pulang, Bang!" teriak Chika langsung menyentakkan tubuhnya, berdiri. Tapi tubuhnya limbung.

Izack mendongak kaget, Bu lek yang duduk di sebelahnya langsung menahan tubuhnya, lalu menuntunnya kembali duduk. Gadis itu menekan perut, nyengir kesakitan. Tapi Izack tahu, ada drama yang tersembunyi di matanya.

Semua orang terdiam. Ada hawa sesak di ruangan itu yang tertahan.

"Bapak-bapak semua! Kalian tahu kan, aku ini yatim piatu yang sedang berjuang keras membiayai sekolah hingga kuliahku sendiri. Kalian benar-benar nggak punya hati, kalau memaksaku nikah, lalu hidup di bawah ketiak dia!" tuding Chika tak sudi.

Spontan Izack menelan nafas.

Mereka semua tertunduk, paham. Bagi mereka, kata-kata Chika semuanya masuk akal. Namun adat itu tak bisa membuatnya berani berkutik.

Chika terus ngoceh, lantang dengan nafas tersengal-sengal, membuat suaranya terdengar sampai di jalanan. Dan orang yang pulang dari surau pun segera mendekat.

Sesekali para tetua menanggapi semua ocehan Chika, namun gadis itu tak mau kalah. Ia terus mendebat, hingga pamannya geleng-geleng menarik nafas kalah dan meminta maaf.

Lelaki itu segera berdiri, menyeret Chika masuk.

Izack segera pamit dari mereka, untuk membasuh wajah. Namun jauh dari itu, raut kekhawatirannya jauh lebih kuat.

Hingga sampai di depan kamar, sayup-sayup suara terdengar:

"Maafkan Bu lek sama Pak Lek, Nduk..."

"Pikiran kami saat itu, cuma satu: kasihan Nak Izack," ucap Bu Leknya "Berhari-hari menunggumu di Rumah Sakit, masih mau-maunya antar sampai sini, selarut ini."

Chika menyela kesal, "Aku ini keponakannya Bu Lek, kenapa malah kasihan dia."

"Bukan begitu, Chika..." sangkalnya.

Takut gerak-geriknya diketahui, Izack segera melanjutkan langkah menuju kamar mandi di ruang dapur yang masih berlantaikan tanah licin.

Sayup-sayup suara Chika terdengar dari kamar mandi, yang berdinding triplek dan seng.

Lelaki itu segera keluar, sengaja mendengarkan keluhan Chika.

"Kalau nggak egois, aku nggak bakal bisa kuliah di Tayoga, pak lek!"

"Mending kamu nggak kuliah, daripada kelakuanmu seperti itu," potong lelaki itu sengit.

"Ya! Dan aku nggak perlu ketemu dia."

Dubrak!!!

Suara pintu dibuka kasar membuat Izack tersentak, nyaris terpeleset.

Raut Chika terkesumat di depan pintu kamar, ia kaget Izack muncul di pintu ruang tengah. Namun mata Izack masih tetap tenang, seperti biasa.

Saat Izack melangkah masuk, tanpa sadar, tangannya menarik kembali ke dapur.

Mata mereka saling bertemu. Izack menatap genggaman tangannya yang sudah kepalang dingin. Seperti baru sadar, gadis itu langsung melepaskan, kaget.

"Beginikan, yang kamu mau?"

Hening. Izack tak bisa berkata-kata lagi.

***

Saat langit mulai benar-benar terang, dua orang pejabat negara datang. Mereka memakai jas abu dan hitam, disambut Pak Lek dan beberapa warga yang hadir.

Sementara, di dapur Izack masih berdiri menunggu Chika memuntahkan semua kekesalannya. Izack yang merasa dilema, hanya diam. Tak ada sedikitpun wajah kesal dan kemarahan di sana. Namun itu justru membuat kemarahan Chika makin meledak.

"Kenapa dari tadi cuma diam?"

"Jawab!"

"Ini kan, trik yang sengaja kamu pakai mengajakku menikah sejak dalam perjalanan?"

Izack menarik wajah, meraupnya pelan dengan kedua tangan. Lalu kembali menurunkan wajah, menarik nafas dalam. Jakunnya naik turun seolah menata emosinya yang sebenarnya menumpuk berat.

"Lalu aku harus gimana, Non..."

"Coba pikirkan, andaikan kamu di posisiku sekarang..."

"Bisa saja aku maksa pergi, tadi. Tapi aku bakal nggak tega ketika ada konsekuensi yang harus kalian terima saat aku pergi."

"Aku nggak peduli, itu urusan kami!"

Izack menarik nafas lelah.

"Tapi aku peduli dengan kesehatanmu, Non..."

"Kamu kira aku nggak kesal waktu dengar teman kostmu berkata seperti itu, ke kamu?"

"Stopp!! Aku hanya menanyakan janjimu kalau semua bisa dibicarakan baik-baik," pekik Chika tajam mengacung-ngacungkan jarinya mendelik.

Tapi Izack hanya menatap dalam, seakan mengalahkan emosi Chika.

"Jawab! Ini semua memang niatmu kan?!" pekik Chika menatap sengit.

Izack tak berkutik. Tapi mulutnya siap menjawab.

"Oke, aku akui... Negosiasiku bareng Pak Lek gagal, tadi. Aku benar-benar kehabisan akal."

Sampai di detik itu mulut Chika diam, mengusap wajahnya frustasi berkali-kali. Mengacak rambut panjangnya hingga berantakan.

Melihat itu, langkah Izack berusaha mendekat. Kakinya mencengkeram sandal licin di atas lantai tanah yang basah. Tapi rupanya gerak Chika sigap, ambil kuda-kuda dengan kedua tangannya terkepal, membuat Izack mendelik kaget.

Dalam sekian detik kaki itu melayang ke udara, dan...

"Phakkk!!"

"Akh!"

"Brugghh!!!" kaki itu menyodok dada hingga terpental dan...

"Bruakkkk!!"

Izack terperosok pada tumpukan kayu bakar.

"Chika!!" teriak Bu Lek yang ternyata sudah berdiri di pintu dapur.

"Pakk!!"

"Mas Izack, Pak...!" teriak Bu Lek panik.

Spontan beberapa orang bergegas masuk, nyumpel di depan pintu melongok Chika yang melotot sadar.

"Ya Allah, Mas!" pekik pak Lek dan beberapa orang langsung menarik Izack.

Semua mata terbelalak, melihat raut Chika masih berurat campur rasa bersalah.

Melihat raut Pak Syainuri terkesumat, Izack sudah panik. Tapi langkahnya kalah sama gerak pak lek yang cepat, menampar wajah Chika. Spontan ditarik dua orang lelaki yang kewalahan. Dari belakang Bu Lek mendekap keras sambil menangis.

"Sabar Pak... sabar... Ini keponakanmu satu-satunya," tangisnya pecah, merangkul suaminya yang masih berurat menatap Chika dingin.

"Jangan Pak Lek, dia habis opname," suara Izack khawatir, campur nyengir kesakitan.

"Biarin aja Mas, ini anak nggak tahu diuntung!" nadanya sengit ditinggal pergi.

"Sini diobati dulu Nak," pinta Pak Lek mengajak Izack masuk.

"Dasar! Pak Lek gila!! keponakannya sendiri ditampar, orang lain yang ditolong," desisnya gregetan.

Lelaki itu spontan menoleh, melotot. Tapi Izack langsung merangkulnya.

Sudut mata Izack sempat menoleh, tatapan gadis itu kosong dan limbung. Ia was, terhenti. Pak Lek langsung dituntun masuk Bu Lek.

Dalam beberapa detik...

"Brugghhh!!"

"Chika!!!" teriak Bu Lek, menoleh Chika pingsan.

Untung langkah Izack lebih sigap kali ini. Tubuh itu sudah dalam dekapannya. Dengan cekatan, lelaki itu sigap menggendongnya masuk.

Pagi itu suara tangis pun pecah.

"Sudah Bu Lek, nggak apa-apa,"

"Mungkin Chika shock aja, saya maklumi itu," suara Izack tenang.

Dalam kesadarnya yang perlahan pulih, Chika hanya tersenyum menang. Berharap dengan pingsannya, upacara pernikahan itu gagal.

Tapi rasa nyeri, tak bisa dihindari. Refleks ia menggigit bibirnya sendiri, hingga meringkuk, dengan nafas tersengal-sengal.

"Kenapa Chik," Bu lek nya mengelus perut.

Chika kembali menjatuhkan tangannya lunglai. Pura-pura tak sadar. Tapi Izack paham itu, ia hanya tersenyum sekilas, samar.

"Bekas luka jahitan, mungkin Bu."

Perlahan, namun pasti. Darah itu merembes mengenai kain bajunya yang tipis membuat Izack melotot, kaget.

"Ya Allah, Nak. Gimana ini?" seru Bu Leknya.

Perempuan itu segera menyaut obat yang telah digantung di dinding papan triplek. Lalu menyingkap kain bajunya, hingga terlihat balutan perban memanjang di bagian perut.

Izack langsung berbalik hendak keluar.

"Jangan pergi dulu, Nak... Bu Lek nggak tahu caranya,"

"Tapi,"

"Sudah, nggak apa-apa. Darurat."

Izack mulai melepas perban pelan, dan membersihkannya dengan alkohol. Lalu menutupkan luka kembali dengan kain kasa.

Nafas itu terhembus kecil, membuat Izack tersenyum samar, menahan geli.

"Tendanganmu kurang keras, Non..." ucapnya lirih, sengaja hanya didengarkan Chika.

Tubuhnya langsung bereaksi keras membuat Chika kesal, tapi Izack hanya membiarkannya dengan seyum geli yang tertahan.

Di belakangnya, Bu Lek mondar-mandir mengambilkan kain dan air minum. Lalu berhenti, menatap Izack yang menutupkan kain kemejanya.

"Gusti, Nduk..."

"Hmmm... kok bisa-bisanya."

Pamannya kembali masuk memastikan keponakannya.

Melihat bercak darah di perban bekas, Pak Lek kaget.

"Itu kenapa, Nak?"

"Bekas sayatan Operasi kemarin, Pak Lek..."

Lelaki itu menarik nafas panjang.

"Lha iya to, orang baru operasi itu biasanya jalannya pelan dihati-hati. Ini... masih kuat-kuatnya tendang kamu sampai kepental," ujar Pak Lek, kecap setengah geli.

Bu Lek dan Izack hanya mendenguskan tawa kecil.

"Padahal badannya kurus, lebih kecil daripada kamu."

"Lha iya," sanggah Bu Lek menatap Chika yang masih terbaring.

Degg... "Itulah menariknya dia, Pak Lek," batin Izack menahan tawa.

Lelaki itu kembali berpaling. "Ya Allah Nak... untungnya kamu sabar."

Melihat wajah dan tangan Izack yang lecet berdarah, pamannya seperti baru sadar.

"Ayo, dibersihkan dulu aja badanmu. Setelah itu dikasih obat merah, biar nggak infeksi," ucap pak lek perhatian.

"Lecet-lecet biasa, Pak Lek... nanti juga sembuh sendiri."

Melihat kelopak mata Chika yang bergerak, Izack paham. Tapi ia cukup tahu.

"Aku tahu kamu sudah bangun, Chika," kata Pak Lek.

Chika membuka mata perlahan.

Helaan nafas terdengar dari mulut mereka.

"Ayo ditata bareng-bareng..." ucap Pak Lek akhirnya.

"Bu Lek dan Pak Lek nggak bisa ngomong apa-apa kecuali mohon maafff... dan terima kasih, untuk semuanya, Nak Izack..."

"Pak Lek titip jaga Chika, ya..."

"Kalau sudah nggak jodoh, kembalikan Chika baik-baik ke kami."

Spontan Chika mendelik.

Izack menggeleng. "Saya akan tanggung jawab seutuhnya pada Chika, pak Lek..."

Tiba-tiba panggilan terdengar dari luar.

"Pak Syainuri, monggo dimulai."

Pak Lek pun keluar diikuti Izack, Chika, lalu Bu Lek yang spontan jadi sorotan warga yang berkumpul di ruang depan.

Akad pernikahan pun akhirnya berlangsung, dengan mahar: selembar cek. Yang nominalnya lebih dari kata cukup untuk melunasi hutang-hutangnya.

Bu Lek memberi kode, mencolek untuk menerima salam Izack. Namun gadis itu kikuk, ia menyambutnya singkat, segera menarik tangannya membuat warga tersenyum geli.

"Kok seperti kesengat listrik aja, Mbak."

GERRR... spontan suara tawa menyebar.

"Ulangi lagi coba, saya ambil foto," ucap seorang tetua, separuh bercanda.

"Dicium dong, Mbak!" sahut bapak-bapak muda tersenyum, menggoda.

Izack kikuk menyodorkan tangannya lagi. Dengan ragu Chika menyambut dan mencium tangan itu.

Senyum lebar mewarnai suasana pagi itu.

"Alhamdulillah..."

"Ketahuan kalau nggak pernah pacaran," canda tetua, disambut tawa dan celoteh bapak-bapak lainnya.

Spontan Chika mau menjawab, tapi tangan Izack langsung membungkam.

Pak Lek kecap, geleng-geleng. "Ampun... Chika."

Spontan tawa pecah, gerr...

Hening, suara-suara itu perlahan mereda saat tetua mulai mengucapkan pesan untuk keduanya. Hingga upacara itu berakhir dan mereka mulai ngobrol biasa.

Chika menarik nafas, tertunduk.

Beginikah akhirnya...

Uang sebesar itu, seperti penjara bagiku.

Setelah sekian puluh tahun aku perjuangkan, dan pertahankan...

Tiba-tiba dingin menjalar dari ujung kaki, naik ke sekujur tubuh.

Suara-suara di sekitarnya menjauh seperti ditarik kabut.

Telinganya mendenging lama,

Hingga akhirnya --

"Blughhh!!"

"Chika!!" teriak Bu Lek kaget.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar