Rapat Internal CAPN –Kediaman Pak Sukamta.
Pagi itu, udara di kediaman elite Pak Sukamta begitu sejuk, nyaris membuat kelopak mata berat. Tapi ruangan penuh dan tegang.
Belasan akademisi dari berbagai universitas di Tayoga –kota Pelajar-- duduk melingkar di atas karpet hijau yang lembut dan nyaman. Bangku panjang mengitari ruangan, dipenuhi map tebal berisi data ekonomi nasional, grafik inflasi dan peristiwa lapangan yang harus diuraikan satu persatu.
Izack duduk bersila, jemarinya menyentuh map di pangkuannya. Ia melirik Prof. Sukamta di depan, yang menyimak dengan dahi berkerut.
"Sebagai akademisi, kita harus tetap di jalur konstitusi dan akal sehat ilmiah," ujar Prof. Arya mantap.
Izack hanya menahan senyum tipis. Di sebelahnya, Dr. Dadang --Pembantu rektor termuda— mendekat, suaranya nyaris berbisik.
"Beliau memang senior, tapi kalau kita terus menerus mengalah. Buat apa kita mendirikan CAPN?"
Izack hanya mengangguk.
"Maaf, Prof," potong Dr. Dadang. Kali ini suaranya memecah suasana, "Rakyat kita sudah nggak pakai akal sehat lagi, kalau sekedar untuk makan."
"Kenaikan harga sembako sudah dua ratus persen kali lipat dari harga sebelumnya."
Suara-suara kecil perlahan mulai terdengar.
"Kita nggak akan turun jalan," ucap Dr. Dadang menegaskan.
"Tugas kita hanya menyusun rekomendasi secepatnya, dengan alat kajian ilmiah yang kita miliki."
"Anak-anak muda inilah yang akan jadi corong utama kita," tunjuk Dr. Dadang pada Izack yang duduk di sebelahnya. "Mereka akan bergerak di ruang diskusi kampus, di media sosial, atau tempat-tempat umum untuk membangun opini publik."
"Dengan begitu, kita bisa mendesak pemerintah untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih pro dengan kebutuhan rakyat."
"Keberadaan pemerintah bukan untuk memeras rakyat, melainkan untuk melayani."
"Dan posisi kita adalah sebagai pengingat jalur mereka ketika sudah tidak masuk akal lagi,"
"Tapi kita harus bergerak secepatnya, Bang... di saat sindiran media sosial sudah tidak lagi berpengaruh."
Suasana mulai tegang.
Beberapa dosen mulai saling pandang. Ada kegamangan –bukan hanya soal pendapat, tapi soal keselamatan.
"Di sini kita tidak sedang melawan konstitusi,"
"Justru itu mengembalikan arah tujuan bangsa ini berdiri."
"Sumber daya alam dijual, rakyat terusir dari tempat hidup dan penghidupannya."
Hening.
Suasana makin berat.
Beberapa dosen makin menunduk, sebagian saling pandang dalam diam, ragu antara idealisme dan kenyamanan hidup.
"Dan ketika mereka sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah, siapa lagi yang bisa mereka harapkan?"
"Buat apa kita membangun teori yang melangit, kalau masalah di depan mata saja tidak berani kita selesaikan?"
Seorang Dosen Hukum kembali bersuara, "Tunggu dulu, saudara Dadang..."
"Maksud Prof. Arya ini benar. Keberadaan kita hari ini masih disupport oleh pemerintah."
"Sisi lain ada keluarga yang perlu kita selamatkan."
"Seperti yang sudah-sudah. Gara-gara kita terlalu vokal, teman kita dipanggil pengadilan."
Kesabaran Izack sudah tak terbendung, namun ia berhasil meremas tangannya sendiri di saat tiba-tiba seoang lelaki langusng angkat suara.
"Sejak awal, tujuan berdirinya CAPN kan jelas. Mengedukasi masyarakat luas; apa yang seharusnya mereka perbuat tanpa rasa takut."
"Jadi, menurut hemat saya. Jika saudara di sini masih ada yang takut untuk bersuara: silahkan tinggalkan ruangan saat ini juga," ucap Prof. Rida, selaku Ketua umum CAPN.
Hening.
Prof. Arya berdiri.
Wajahnya tampak kaku, matanya hanya menyapu ruangan sebentar, lalu meraih map. Tiga sampai empat dosen lainnya ikut beranjak meninggalkan tempat duduk.
Izack tak menahan kepergian mereka, hanya menatap punggung hingga terakhir pintu ditutup rapat.
Kemudian mereka memandang wajah-wajah yang masih bertahan, dan bersuara.
"Baik, terimakasih kepada para senior kami yang masih bersikukuh di sini," ucap Prof. Rida yang masih muda.
"Sedikit lebih baik, daripada ramai tapi tak mampu memberi kami kekuatan, dan justru memaksa diam."
"Karena kebenaran tidak menunggu jumlah, tapi keberanian."
Dr. Seo dari jurusan teknik, bersuara. "Saya tidak takut CAPN ini dibubarkan. Tapi justru sebaliknya, takut generasi kita tak akan percaya pada kita lagi."
"Banyak anak lulusan SMA berkata "Buat apa kuliah, kalau hanya pintar berteori. Toh, setelah lulus, akan bingung cari kerja."
"Belum lagi biaya pendidikan perguruan tinggi hari ini, benar-benar nggak masuk akal."
Suara terakhir itu seakan memberi peringatan keras seisi ruangan yang selama ini seakan tak tersentuh dengan realita di luar gedung berpilar.
"Bagaimanapun, kita sebagai kaum akademisi tidak bisa lepas dari kepercayaan masyarakat."
"Ketika mereka tidak percaya pada kita lagi, mau dibawa kemana keilmuan yang kita miliki selama ini."
Ucapan itu seakan membekas di udara.
Tak ada yang membalas.
Hanya suara kertas yang bergeser pelan.
Di luar jendela, cahaya pagi menjelang siang benar-benar menyilaukan mata, membuat seseorang di seberang ruangannya meminta agar menutup gordyn.
Izack menatap jam di pergelangan tangannya. Rapat sudah melewati dua jam. Kepala penuh angka, data, dan perdebatan.
Ia tahu, siang ini ia butuh udara yang lebih segar –atau setidaknya suara tawa lepas tanpa beban. Dan seperti biasa, tempat yang paling mudah ditemuinya adalah di kos Hendrik.
Di sana, ia tahu akan ada anak-anak AMN yang entah sedang bercanda, entah sedang membicarakan negara dengan gaya mereka sendiri. Kadang lebih panas, kadang lebih nyleneh.
Tapi yang jelas lebih hidup, daripada tempat ini.
Hingga dua jam kemudian, rapat pun berakhir.
Izack keluar dari rumah besar itu dengan dada yang sesak.
Suara debat masih berputar di kepalanya saat ia masuk mobil, hingga memutar kendali setiran keluar dari area parkiran rumah.
Tapi yang jelas, angin di kota Tayoga siang itu terasa sedikit berbeda.
Ia tahu, hanya kos Hendrik lah yang selalu dinanti, tempat dimana ia ingin kembali.
***
Siang itu langit tampak mendung, udara terlalu pengap dan gerah. Chika yang baru saja datang, masih senyum-senyum setelah mendapatkan ijin dari kampus untuk mengikuti proyek Kehutanan milik Dhani di sebuah NGO.
Dan kini, ia membawa setumpuk buku yang diberikan Dhani dari perpustakaan untuk dipelajari.
Ia meletakkan buku itu di bibir pagar lantai dua depan kamarnya, lalu mengambil kursi dan mulai membaca. Tak lama ia mulai mengambil block note dan mulai mencatat.
Tapi suasana yang awalnya tenang, berubah gaduh saat Hendrik dan teman-teman AMN datang dan mulai nongkrong di bawah sana.
Mereka mulai gurau dan ngobrol kesana kemari. Beberapa ada yang mengeluarkan gitar dan mulai bernyanyi.
Hendrik keluar dengan membawa gitar. Ia duduk menyebelahi Izack di kursi depan kamarnya. Beberapa teman sudah mulai nimbrung, beberapa ada yang masih sibuk memantau berita di ponsel.
"Gimana rapatnya pagi tadi, Bro?" tanya Hendrik.
Izack hanya menghela nafas, "Seperti biasa, mereka takut bahkan ragu untuk melangkah."
"Lah, gimana? buat apa mereka masuk ke CAPN kalau takut?"
"Mending kita gerak sendiri."
"Ya nggak bisa begitu, Bro."
"Bagaimanapun kita tetap butuh orang-orang CAPN. Mereka yang punya akses, punya data," jawab Hendrik.
"Punya data, iya. Punya akses, iya. Tapi kalau tiap rapat cuman ribut berdiri soal itu, kapan ilmunya bisa buat menyelesaikan masalah di lapangan?"
"Ya... itu dia. Mereka selalu mencari posisi aman. Keluarga, posisi, gelar..."
"Masalahnya sindiran yang dilangsungkan teman-teman AMN di mass media juga sudah nggak ngaruh. Makanya kita butuh orang-orang seperti CAPN."
"Tapi ketika orang CAPN sendiri nggak berani bersuara, ya sudah."
"Ya! Kebijakan yang dikeluarkan, jalan ya jalan aja. Nggak peduli rakyat mau kecekik, mau mati masa bodoh."
Izack menarik nafas dalam, "Sudah... itu kan hanya satu dua orang CAPN. Nyatanya Prof. Rida masih berani bersuara."
"Di belakang beliau masih ada Prof. Sukamta dan kawan-kawannya yang seleting, yang bahkan dengan terang-terangan berani taruhan nyawa menyuarakan suara dan datanya ke AMN."
Sementara sayup-sayup suara itu terdengar samar ke telinga Chika, membuatnya diam-diam menyimak obrolan mereka dari lantai dua. Lalu ia melirik dengan ujung matanya pada sekawanan Izack yang duduk di bawah.
Di atas tembok pagar, ia letakkan setumpuk buku. Sementara pikirannya masih tertinggal pada halaman buku yang baru saja dibacanya.
Tentang hutan yang rusak, tentang tanah yang dirampas dan rakyat yang kehilangan hak hidupnya, karena hutan –sumber kehidupannya—berubah menjadi lahan tambang yang kini terbengkalai.
Semua yang diimpikannya hidup di tengah hutan yang damai, perlahan pupus.
Hendrik yang masih duduk di sebelah Izack, berbisik lirih sambil tersenyum menggoda.
"Zack, gebetanmu di atas tuh," ucap Hendrik.
Izack hanya melirik sekilas, lalu kembali menekuri ponselnya, menjawab pesan-pesan yang masuk.
Gitar di tangan Hendrik langsung diambil alih juniornya. Lelaki itu langsung duduk dan mulai memetik gitar, dan bernyanyi.
Chika yang merasa terusik, kembali menoleh sumber suara gitar. Tatapannya tajam seakan ingin membungkam.
Hendrik kembali serius menatap Izack.
"Terus gimana?"
"Ya sudah, jalan terus lah. Ngapain takut?"
"Tapi ya tetaplah... kita harus mengemas bahasa kita sebaik mungkin, menghindari provokasi."
Dari sudut teras lantai dua, mata Chika masih menyisir wajah-wajah mereka yang di bawah.
Namun tiba-tiba ia dikagetkan dengan sosok wajah paling mencolok dengan ketampanannya. Dan wajah itu sangat familiar.
"Ah...! lagi-lagi orang itu."
"Kenapa akhir-akhir ini jadi mirip hantu, kamu?"
"Gantengnya, ganteng. Tapi kalau songong, berhadapan lagi denganku, tak injek genti kamu," pikirnya kesal gara-gara teringat peristiwa naskah bukunya ditolak.
Chika, gadis berambut pirang yang terkucir sebahu itu mulai kesal mendengar kegaduhan yang makin menjadi. Wajahnya dingin, mulutnya terkatup kesal saat dua orang datang dengan motor yang knalpotnya benar-benar memekakkan telinga.
Gadis di sudut teras itu berkali-kali mengusap wajahnya frustasi.
Merasa ada yang menatap dirinya, Izack langsung mendongakkan wajah.
Tatapan mereka saling bertemu.
Hendrik yang menyadari pandangan Izack, tiba-tiba dehem menundukkan pandangannya, pura-pura cuek.
"Dia kalau di kos ya begitu, serius," kata Hendrik lagi.
Tak bisa dipungkiri, penasaran Izack membuat pandangannya kembali tertuju pada Chika, sekalipun sekilas. Tapi rupanya gadis itu sudah siap membaca di antara setumpuk buku di meja kecil yang nempel dengan pagar teras setinggi perut orang dewasa.
Ia sadar, ada yang tertambat dalam hatinya. Diam-diam Izack mengarahkan kamera ponselnya ke atas. Lalu memotretnya beberapa kali, dan ia zoom hasilnya.
Ada senyum samar di matanya.
Layar ponselnya tak bisa dilihat dari arah tempat Hendrik duduk. Tapi lelaki itu tahu, siapa yang membuat wajah itu sedikit merona.
Di tengah suasana yang setengah riuh –oleh suara gitar, tiga orang duduk sendiri, --mereka tak jauh dari Izack beserta anak pasca lainnya.
Mereka ngobrol sendiri, jauh terpisah dari topik obrolan Izack, seolah menanggapi obrolan mereka.
Tapi bagaimanapun suara Acit terdengar lebih jelas, mengundang perhatian mereka tertuju ke mereka.
"Lihat kondisi negara seperti ini, jauh-jauh hari aku sudah siap-siap loncat keluar negeri," ujarnya sambil memainkan topi.
"Makanya aku ambil jurusan IT."
Hendrik menyandarkan kedua tangannya. "Jiwa Nasionalismu payah, Cit."
"Lah! Manusia kan emang begitu toh? Kalau dihadapkan dengan kondisi kepepet. Melawan atau lari," jawab Acit tak mau kalah.
Spontan suasana membeku, hening. Seakan perhatian tersedot, menyimak dua orang itu.
"Kalau aku, mending lari. Buat apa habiskan waktu percuma di negara yang tak bisa memberiku harapan cerah."
Izack menurunkan ponselnya. Ia menarik nafas pelan, seakan menahan pikirannya.
"Terus, buat apa kita disini, kalau berpikirmu seperti itu," tanya Hendrik tak suka.
Acit tertawa kecil, ekspresinya santai. "Nggak perlu nasionalis buta lah, perubahan itu terus berjalan Bro."
Dony, si mahasiswa Fisika yang sejak tadi duduk sambil memandang awan, tiba-tiba angkat suara. "Aku pikir... jangan-jangan memang beginilah semesta berjalan."
"Maksudnya?" tanya Acit.
"Masyarakat dunia akan kembali seperti dulu. Menjadi klan-klan kecil, di saat sistem besar akan runtuh dengan sendirinya," ucapnya seolah membaca pikirannya sendiri.
"Bukankah algoritma semesta akan selalu berulang?" katanya lagi.
Izack mengangguk kecil seakan menyetujui imajinasi berpikir Dony.
Hendrik tertawa kecil. "Oh iya, jadi ingat skripsinya Reza tentang masyarakat dunia."
"Gimana?" tanya Izack lagi.
"Kesimpulannya: di masa depan, mungkin dunia tak ada lagi negara yang dipimpin oleh pemerintahan."
"Terus?"
"Karena negara di bawah sistem pemerintah formal, justru yang menyebabkan meledaknya konflik antar bangsa. Termasuk perang dunia."
Klik Izack menyilangkan jari. "Bisa jadi,"
"Lihat fenomena diaspora yang terjadi sekarang. Bisa jadi akan seperti itu."
"Orang bermigrasi bukan karena kebutuhan, tapi cari kenyamanan, kehidupan yang layak, stabil, bahkan suaka."
"Dan ketika itu terjadi secara massif," jelas Izack seakan mengambil alih diskusi, "Identitas kebangsaan makin cair. Warga dari luar masuk, berasimilasi, lalu membentuk pengaruh kebijakan pemerintahan negara tersebut. Perlahan namun pasti, otoritas negara jadi lemah."
Tiba-tiba Acit menimpali "Yes!! itulah yang aku maksud dengan Perubahan."
"Lalu siapa yang menggerakkan tatanan dunia?" tanya salah seorang junior menurunkan gitarnya.
Hening,
"Korporasi." jawab Izack mengangguk singkat, tenang tapi mantap.
Perhatian mereka kini tersedot pada Izack, si lelaki berwajah putih bersih, yang memiliki senyum fresh.
"Lihat aja sekarang. Banyak keputusan strategis negara yang nggak lepas dari pengaruh besar kuasa perusahaan."
"Bahkan kebijakan lingkungan pun, nggak lepas dari kepentingan mereka," ujar Izack tenang menyapu pandangannya pada semua mata.
Ia jeda sejenak, lalu menoleh ke arah Acit, seolah ada sesuatu yang belum selesai.
"Sory, aku balik lagi ke komentarmu soal loncat keluar negeri," katanya pelan, tapi serius.
"Menurutku, seperti itulah fenomena hari ini."
"Bukan masalah benar dan salahnya, kita meloncat keluar negeri."
"Tapi begitulah faktanya."
"Mungkin di negara luar juga sama gejolaknya, hanya saja beda kasus."
Hayes menyahut. "Aku justru berpikir terbalik, Zack."
Semua mata tertuju pada Hayes.
"Siapa tahu, suatu saat nanti, warga kita yang terdidik di luar negeri memutuskan untuk pulang setelah merasa cukup."
"Mereka akan membawa pemikiran yang lebih matang dan akhirnya menjadi agen perubahan disini."
"Tapi sifatnya massif loh ya," imbuhnya lagi.
"Karena sebenarnya ada banyak orang yang seperti itu. Tapi gaungnya tenggelam. Karena jumlahnya
terlalu sedikit."
"Dan itu sebenarnya tidak terjadi di negara kita saja, melainkan negara dari berbagai belahan dunia manapun." Lanjut Hayes membetulkan letak kacamatanya.
"Misal negara dengan etika minim, akan pergi ke negara yang kaya unggah ungguh. Lalu pulang ke negaranya lagi akan membawa budaya itu. Dan membawa perubahan masyarakatnya di sana yang cenderung kaku."
Beberapa dari mereka mengangguk pelan, ada yang hanya diam berpikir.
"Yah... semoga saja begitu," jawab Acit.
"Aminnnn...!" seru seorang junior memecah keheningan.
Chika yang tengah serius membaca buku, reflek tersentak. Sikunya menyenggol tumpukan buku bibir pembatas tembok teras.
"Bruakkk!!!"
Spontan semua menoleh pada buku yang berhamburan. Mata mereka menyusur ke atas. Di sana, Chika menundukkan wajah dan lari dari tatapan mata orang-orang di bawah.
Yang paling mengherankan mereka adalah kanopi lantai bawah yang jebol.
Chika segera keluar dari pintu bawah, ia mulai memunguti puing-puing dan buku yang berhamburan. Di saat itulah, ia melepas karet kucirnya, membiarkan rambutnya yang lurus tergerai menutupi sebagian wajah.
Gerak gerik Chika cukup dingin dan tenang, kali ini. Ia tak peduli menjadi bahan tontonan bagi semua orang yang ada di sana. Termasuk teman ceweknya yang menatap sinis dan ketus.
Tanpa berpikir panjang, Hendrik langsung berdiri. Ia mulai membantu memunguti puing-puing kanopi.
Melihat langkah temannya, hati Izack terketuk. Ia merasa tersaingi, seketika ikut berdiri dan melangkah ke tengah gelanggang, seolah ikut menjadi pemain. Membiarkan semua mata menatap dirinya dengan penuh curiga.
Izack ikut bergerak memunguti buku dan kertas yang berhamburan. Lalu setengah membungkuk, memberikannya pada Chika yang seakan tenggelam dalam dunianya.
"Ini." suara Izack mengagetkan Chika.
Chika mendongak saat melihat sepasang sepatu di depannya.
"Halo, apa kabar." Sapa Izack santai, seakan membuka lembaran memori pertemuannya dua tahun lalu.
"Jangan terlalu serius baca buku," canda Izack tersenyum tipis, ia menyodorkan buku itu ke tangannya yang gemetar.
Izack menyadari wajahnya yang berkeringat, lalu berusaha menarik kembali bukunya.
Chika masih berusaha keras mengangkat tumpukan buku dalam dekapannya. Tapi tiba-tiba pandangannya kabur, tubuhnya nyaris limbung dan hampir terhuyung jatuh. Dan ia langsung menarik kesadarannya penuh, kembali jongkok.
"Butuh bantuan?" suara Izack terdengar tenang.
"Enggak," jawab Chika menahan nafas cepat. Sikapnya defensif. Ia merebut buku dari tangan Izack.
"Kalau saja kalian nggak berisik di sini, insiden ini nggak bakal terjadi," gumamnya melengos, separuh marah, separuh malu.
Izack kembali menegakkan punggungnya. "Bukan karena grogi kah?" senyumnya lebar menggoda.
Dari kejauhan, teman-teman yang duduk di depan kos Hendrik memperhatikan gerak-gerik Izack yang tidak seperti biasanya pada cewek yang ia temui.
"Uhuiii... sejak kapan dia peduli sama cewek?" seru Hayes.
"Mantap...! si Bos kita ini memang mata elang," Beny tertawa ngikik.
"Tapi serius, aslinya cantik loh,"
"Iya seh... tapi,"
"Itulah maknanya cantik natural, Bro!" sahut seseorang, setengah tertahan.
Hayes melirik Leo sekilas sambil tersenyum menyeringai. "Rupanya begitu ya selera pak Bos?"
Leo yang sudah cukup kenal dekat dengan Chika sejak dulu, hanya mengembangkan senyumnya.
"Dia mah bukan cewek biasa, dan Izack tahu itu," jawab Leo lirih.
Selesai memunguti serpihan, Hendrik baru sadar, bahwa dirinya jadi bahan tontonan teman-teman cewek yang tak seorang pun turun tangan.
"Lihat apa kalian!!" gertaknya membuyarkan pandangan mereka yang tajam.
Spontan ditertawakan teman-teman lelaki yang tengah duduk di depan kos Hendrik.
"Wuekhh... hati-hati kalau emaknya marah," tawa Leo, teringat pembelaan Hendrik ketika Chika dikejar laporan pertanggung jawaban akhir tahun kemarin di AMN Cabang.
Dengan sekuat tenaga Chika kembali berdiri. Tapi lagi-lagi tubuhnya limbung, namun ia bersikeras menolak uluran tangan Izack.
Izack menoleh pada Hendrik yang selesai meletakkan serpihan puing-puing kanopi di sudut kos cewek. Izack tersenyum samar seakan menerima kekalahannya lagi setelah dua tahun yang lalu.
"Terima kasih, Bang," ujarnya pada Hendrik.
"Ya, Chika. Lain kali hati-hati kalau menumpuk buku seperti itu."
"Hehe... iya, Bang," senyumnya lepas, membuat Izack kembali mendekat seolah menatap lekat wajah lembutnya.
"Oh, dia bukan cewek biasa," pikir Izack.
Ada sesuatu dari caranya diamnya, sorot matanya dingin, tapi hidup.
"Dia terlalu anggun sekalipun sedikit galak. Tapi... menggemaskan," pikir Izack, tersenyum samar.
Tiba-tiba terdengar suara berat dan familiar membuyarkan lamunan semua orang, termasuk Izack dan Chika yang menoleh seketika.
"Bayar kost-kostan selalu telat, listrik selalu nunggak, sekarang ganti pecahkan kanopi."
"Kalau besok nggak bisa ganti, kamu tak usir dari sini, Mbak!"
Suara itu meledak, membuat udara di sekitar terasa kaku.
Pak kos, si lelaki tua yang selalu memakai celana kolor pendek, dengan perut bergelambir itu melotot ke arah Chika.
Tak bisa menahan lagi, Izack spontan maju, berdiri di depannya.
Hendrik ikut menahan langkah pak kos, mencoba menenangkan. Tapi tudingan jari lelaki tua itu tetap mengarah ke Chika.
Tanpa banyak kata, Izack mengeluarkan selembar cek, lalu menandatangani dan memberinya pada lelaki tua. "Harusnya ini cukup untuk mengganti kanopi bapak," ujarnya tegas, namun sopan.
Semua mata tertuju pada Izack dan pak kos yang perlahan pergi dengan tatapan tajam tertuju pada Chika.
Leo dan Hayes yang awalnya senyum-senyum geli, wajahnya mendadak tegang.
Namun di antara ketegangan, ada satu junior yang berhasil merekam peristiwa itu dengan kamera DSLR yang tergeletak, milik Izack.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar