Di luar, Izack menahan helaan nafasnya. Dua tangannya terlipat ke dada, tubuhnya tegap, wajahnya datar --cukup membuat Heni otomatis tertunduk.
"Kamu tahu kan, dia sakit karena apa?" suaranya pelan tapi berat.
Heni menggeleng bingung. "Tapi aku nggak berniat apa-apa kok, Bang..."
"Oke." Izack mencondongkan kepala sedikit. "Terus untuk apa kamu perlihatkan berita itu?"
Heni gugup. "Ya, karena dia nanya, Bang."
"Sekarang aku yang tanya," ucap Izack tenang. "Menurutmu wajar nggak? orang pasca operasi, masih rapuh, kamu perlihatkan berita dirinya di medsos?"
Heni terdiam, jelas antara rasa kesal, takut dan bingung.
"Oke, terus aku harus gimana?" wajah Heni sedikit terangkat penuh harap. "Kalau disuruh minta maaf, aku minta maaf sekarang."
"Nggak perlu," jawab Izack datar, tegas.
Izack menundukkan sorot mata. "Kamu bisa pulang sekarang."
Heni melongo.
Izack segera masuk, lalu keluar dengan membawa tas miliknya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan wajah tampannya pun tampak muram saat memberikan tasnya.
Tanpa berkata apapun, Heni berbalik pergi dengan mata berkaca-kaca.
Izack kembali masuk, semua mata tertuju pada sosoknya. Begitu juga dengan Chika. Ia menatap wajahnya cukup lama.
"Bang... tahu nggak? Sejak dulu, Heni itu paling heboh kalau cerita soal dirimu, sampai aku muak mendengarnya."
"Tapi hari ini, hanya gara-gara memperlihatkan berita semacam itu ke aku, kamu usir dia. Kejam, tahu nggak sih?" tatap Chika tajam.
Semua terdiam. Mereka saling melirik satu sama lain.
"Jangan-jangan seperti inilah perilaku aslimu pada semua perempuan yang datang ke kamu."
Izack mengernyit cukup lama.
Tiba-tiba Hendrik tersenyum lepas seolah memecahkan suasana.
"Emang ya, cewek itu ahli sejarah."
Gerrr...
Tawa itu spontan memecahkan ruangan yang sempat membeku.
"Rani... tolong carikan kos putri tuh," kata Izack santai, setengah perintah.
Chika menoleh bergantian pada Rani dan Izack. "Buat siapa?"
"Dia." Isyarat Izack tertuju pada Chika yang menyesap air mineral pelan.
Spontan Chika tersedak.
"Aku?!!" tanyanya menunjuk hidungnya sendiri.
Chika kembali menegakkan punggung kesal. "Bang, kamu itu siapaku emang?"
"Nggak usah, Kak." raut Chika kesal.
"Kan seniormu,"
Chika menarik nafas kesal, sementara mereka hanya jadi penonton sambil senyum-senyum.
"Ehm!" Leo sengaja dehem.
"Beneran ini... hanya sekadar senior dan junior?" selidik Leo.
Spontan suara tawa menghujani ruangan.
"Hati-hati loh ya... kalau cowoknya datang," cletuk Hayes, Izack mencibir samar, spontan kembali ditertawakan.
"Ayo, siapa yang mau makan, ikut aku," kata Izack kembali melangkah.
"Baru kali ini, aku lihat Big Bos malu," lirik Hayes dengan sudut matanya.
Alam melompat sigap di belakang Izack. Namun langkah Izack tersendat di depan pintu. Tangannya memeriksa pesan yang masuk bertubi-tubi.
Lelaki berkacamata itu masih berdiri di belakangnya, memberi kode para seniornya. "Mumpung Big Bos datang, perbaikan gizi," ujarnya lirih.
Mereka senyum-senyum.
"Food corner rumah sakit internasional, boo... mahal," jari Alam menjentik metal. Namun mereka hanya senyum-senyum menatap Alam sekilas. Tatapan kakak pada adiknya.
Entah berapa menit Izack terhenti, serius membaca pesan.
"Ayo, Bang... katanya mau makan."
Izack menoleh sekilas, lalu membuka pintu.
"Oh, ayo!"
Sambil melangkah keluar, mata Izack masih memeriksa pesan yang masuk di ponsel.
Pesan itu datang dari Alumni AMN, dosen, peneliti, bahkan staf kementrian. Tapi ia lebih memilih chat Ozin terlebih dulu.
Bang, tolong segera pulang ke Ibu kota. Urgent.
Ia menarik nafas dalam, mematikannya lalu berjalan pelan.
***
Sepanjang jalan menuju kantin, Izack kembali sibuk membuka ponsel. Kerutan di dahinya jelas tengah menahan sesuatu. Dan Alam yang berdiri di sebelahnya, tak berani bertanya sepatah katapun. Hingga akhirnya, kaki mereka melangkah masuk kantin.
"Sudah, sana. Nanti aku yang bayar," logat Izack mirip kakak.
Alam berjalan lebih dulu menimbang setiap menu yang tertempel di dinding. Dan Izack mengikutinya dari belakang, hingga Ia berpaling cepat, lalu mengikuti Alam memesan menu. Begitu Izack selesai melakukan pembayaran, ia langsung pamit angkat telepon.
"Iya, Bang. Siap," jawabnya sigap.
Lelaki dengan kacamata tebal itu mengambil tempat duduk, menatap seniornya tampak serius berbicara.
Sebagai anak design interior, sorot mata Alam terkagum-kagum melihat sudut-sudut ruangan yang luas dan elegan, --selain banyak ventilasi udara, ruangan tetap sejuk tanpa AC. Ia mulai mengambil kamera dan mengambil gambar tiap sisi.
Sementara Izack sudah berdiri di satu sisi ruangan yang menghadap keluar.
"Halo, Zack... ada apa denganmu? Tolong jangan mengacaukan suasana di saat teman AMN sedang kerja keras di media sosial. Kau ini pucuk pimpinan, loh!" nadanya penuh ancaman.
Izack diam tak berkutik.
Namun genggaman tangannya jelas tengah menahan beban.
***
Melihat Izack kembali duduk di depannya, Alam memandang sesaat. Lalu bertanya pelan. "Bang, kenapa nggak klarifikasi aja?"
Izack menyentuh gelasnya tenang.
"Makin kita klarifikasi, makin mereka cari celah baru. Alam..."
Alam menahan sendoknya di piring. "Tapi kan, nama abang bisa hancur."
"Nama bisa dibangun lagi, Alam... Tapi orang yang sudah jatuh, belum tentu bisa diselamatkan kalau sibuk membela diri."
Glekkk... mulut Alam terkatup, diam.
"Tapi kan Abang punya ruang privasi juga."
"Itulah... pendeknya cara berpikir mereka yang hanya melihat keuntungan cepat, sementara tidak melihat kerusakan yang nilainya jauh lebih mahal daripada yang dihasilkan."
"Dan yang paling jarang dihitung kerusakannya justru yang tinggal dekat dengan pusat kerusakan itu."
Izack diam. Tangannya terangkat pelan melihat arloji. Rautnya nampak tenang, tapi jakunnya bergerak menahan sesuatu yang berat, lalu kembali memandang piring Alam yang sudah ia singkirkan.
"Kadang, satu-satunya cara mempertahankan gerakan besar itu tidak dengan menjadikan diri sendiri sebagai pusatnya."
"Kalau perlu, aku mundur. Biar gerakan itu tetap hidup."
"Jangan, Bang," tatap Alam khawatir. "Abang ini sebagai jembatan kami, kalau abang mundur. Bagaimana gerakan CAPN nanti?"
Izack diam menatap lurus keluar space yang terbuka ke langit.
***
Sementara di sisi ruang VIP, mereka --para seniornya-- masih duduk di sofa sambil ngobrol kesana kemari seputar perkembangan CAPN.
"Nah, kalau sampai skandal Bang Izack nyrempet AMN, gimana coba?" kata junior mereka.
"Ya sudah jelas nyrempet, gimana kamu."
Semua mata langsung tertuju keras pada dua orang itu, seolah memaksanya diam.
Dua orang itu langsung menatap Chika yang merasa bersalah.
Hening.
"Izack kelihatan kurus ya, dibanding beberapa hari yang lalu?" ucap Rani langsung mengalihkan.
"Kurang tidur, Sis! Ada yang dijagain," cletuk Hendrik melirik Chika senyum-senyum.
Leo langsung menoleh, "Salut aku, sama kamu, Chika. Orang sedingin Izack bisa kamu taklukkan."
"Kamu kasih ramuan apa, coba?" lirik Leo nakal.
Chika nyengir. "Ramuan apalagi maksudnya nih, Bang." jawabnya yang disambut tawa beberapa orang.
"Padahal kita semua tahu. Di saat kondisi panas seperti ini, Izack ini paling marah kalau diganggu waktunya."
"Ini, emhh...!" ujar Hayes.
Hendrik langsung bersuara. "Jangan salah, justru dia yang kesal dibawa kemari, Bro! Berantem terus dia sama Izack."
"Oh ya??" semua melongo.
Perlahan senyum mereka pecah.
"Bahkan kalau masih ada tenanganya, mungkin Izack bakal ditendang sama dia," ujar Hendrik.
"Serius??" Rani melotot, disusul tawa semua orang.
"Akhirnya ada yang berani sama Izack," spontan tawa Leo pecah, riuh.
"Kok bisa?!"
Hendrik cerita panjang lebar sejak hari itu yang mereka lihat, hingga detik-detik terakhir jelang operasi.
"Dibayar pakai hati, aja sudah..." cletuk Leo tersenyum nakal.
"Maksudnya, Bang?"
Spontan Hayes nyletuk lirih. "Bisa-bisa dilamar sekalian."
"Ya! Itu yang paling aman bagi dia sekarang, emang," lirih Hendrik melirik Chika.
Raut Chika langsung tegang, melengos kesal. Sementara mereka hanya senyum-senyum.
Seolah semua paham, apa yang terjadi dengan kondisi di luar sana. Bagaimana Izack tengah dihujat massa terkait hubungannya dengan Chika, yang tak tahu apa-apa.
Hening menyelinap cukup lama.
Tiba-tiba seseorang kembali angkat suara.
"Jadinya rencana tambang uranium di pulau Tanepan gimana?" tanya Hayes.
Semua menoleh ke Andreas, salah satu tim perwakilan AMN yang ikut rapat CAPN online.
"Di forum kemarin sempat ramai membicarakan pendekatan energinya."
"Dari pihak konservasi dan lingkungan hidup jelas pilih nuklir, lebih ramah lingkungan. Tapi dari peneliti langsung bersuara, mereka cenderung ambil jalan tengah."
"Mereka justru berpikir setiap daerah memiliki sumber daya dan geologi yang berbeda."
"Misal di kepulauan yang tanahnya gerak terus dan banyak gunung api — ya nekat kalau maksa tambang. Panas bumi justru lebih masuk akal."
"Lalu yang daerahnya banyak sungai-sungai besar, bisa memakai energi air. atau daerah kepulauan yang memang dikepung samudra, bisa menggunakan energi ombak dan angin."
"Nah, emang harusnya kan begitu."
"Iya... tapi kan banyak pengusaha tambang batu bara yang nggak mau rugi dan ditutup usahanya juga, Bro."
"Ah... ya itu masalahnya."
"Jadi Tanepan sekarang di persimpangan jalan nih," lanjut Andreas. "Antara dilihat sebagai cadangan sumber daya energi, atau sebagai habitat bagi keanekaragaman flora dan fauna. Karena kalau sampai tambang dibuka, sudahlah..."
Chika yang diam-diam menyimak, akhirnya menurunkan pundak. "Eman banget, Bang. Banyak pohon yang nilainya tak terhitung di sana — seperti ulin sama gaharu."
Ruangan mendadak hening.
"Maksudku..." imbuh Chika, akhirnya menarik napas. "Kalau sampai kawasan itu dibuka tambang, yang hilang bukan cuman satu-dua pohon dan satwa liarnya, tapi ekosistem bagi banyak makhluk hidup. Dan itu nggak bisa diganti dengan angka kompensasi."
Andreas mengangguk pelan. "Yess! Makanya di forum kemarin ramai. Ini bukan cuma soal energi, tapi soal cara kita memandang wilayah itu — sebagai sumber daya, atau sebagai ruang hidup."
"Dan masalahnya," sambung Rani, "kalau sudah memakai kacamata 'sumber daya', yang lain jadi kelihatan kecil."
Rani menatap mereka satu per satu. "Padahal justru yang paling mahal itu yang kelihatan sepele. Hutan yang utuh, air yang bersih dan tanah yang stabil. Kalau itu rusak, kita nggak cuma kehilangan hari ini, tapi kehilangan masa depan."
Tak ada yang langsung menjawab.
Leo menghela napas pelan. "Masalahnya... yang mikir masa depan biasanya kalah sama yang ngejar target tahun ini."
Hening kembali menyelinap.
Chika menarik napas pelan.
"Padahal... niatku pengin banget bisa kerja sama sama balai kehutanan di sana."
Leo langsung menoleh. "Sudah... yang penting kamu itu sehat dulu."
Rani tersenyum kecil. "Kayaknya kalau sudah masuk dalam orbit seorang Izack, nggak bakalan deh kamu bisa lepas."
Deg.
Semua senyum-senyum.
Napas Chika mendadak tertahan, ada degup jantung yang sedikit menakutkan, tapi entah kenapa, rasanya lebih hangat dan aman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar