Minggu, 24 Mei 2026

Bab 16. Harapan dalam Infus

 Lorong Depan Ruang Operasi

Nyaris saja Izack tak sadar, jika dirinya sudah duduk di depan ruang operasi berjam-jam lamanya.

Lorong itu benar-benar senyap.

Ia masih mengenakan rompi biru tua, bertuliskan AMN di dada sebelah kiri. Wajahnya pucat penuh harap.

Rasa bersalah makin menekan.

Selama ini, ia hanya menilai Chika sebagai gadis yang keras kepala dan tak tersentuh. Lalu ingatannya melayang pada peristiwa siang kemarin, saat dirinya membantu memunguti buku-bukunya. Ia bertaruh dengan semua uang tunai yang ada demi membantu menyelamatkan wajah gadis itu. Tapi yang ia terima justru tatapan muak.

Sorot matanya kembali menatap pintu ruang operasi. Ada nafas yang tertahan di sana. Saat itulah Hendrik datang, ia duduk di sebelahnya. Melihat tatapan kosong itu, Hendrik diam seolah siap berkata.

"Zack... aku tanya sekali lagi."

"Ini kamu serius?" tanya Hendrik berpaling.

"Serius apanya?" Izack bingung.

"Serius sama dia," jawab Hendrik. "Jujur aku kasihan sama dia, kalau sampai suka sama kamu."

Izack tak menjawab. Tapi kini punggungnya kembali membungkuk, meletakkan dua sikunya ke atas paha.

Dalam hatinya ia berteriak keras:

Justru itu yang aku harapkan dari dia, Bro!

Gila apa?? Mau bertaruh pada cewek yang nggak aku cintai.

"Aku tahu dia lebih banyak daripada kamu, Bro. Tenang aja." ucap Izack akhirnya, pelan.

Hendrik mengernyit "Darimana?"

"Ada lah."

Senyum Hendrik pun pecah. "Ya... ya... ya, anak jendral mah beda. Bahkan info soal cewek yang lagi ditaksir pun bisa dikorek sampai detil."

Hening.

Hendrik kembali berpaling,seolah ingat sesuatu. Matanya membulat, lalu senyum mulai menggoda.

"Jangan bilang, kamu naksir dia sejak ulang tahunmu dua tahun lalu?"

Izack tak menjawab, hanya raut senyum, samar.

"Serius?" Hendrik mencelos

Plakk! Hendrik memukul keras pahanya.

"Aduh! apaan sih, sakit lah," protes Izack.

Izack tersenyum kecil, mengingat kembali moment itu.

"Ya masak dari dulu kamu nggak paham juga?" katanya.

"Serius?!!" Hendrik melotot, tawanya pecah tak percaya.

Izack menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan.

Diam, tapi jelas tak membantah.

Hendrik menarik nafas dalam, tersenyum tipis, seolah baru terjawab teka-teki pikirannya tentang temannya.

"Ternyata begini ya, cara kerja orang elit naksir cewek."

"Kalau itu cewek lain, sudah auto melambung tuh," lanjut Hendrik.

"Tapi itu Luchika Aria," jawab Izack. "Paham kan?"

Hendrik hanya manggut-manggut.

"Masih ingat peristiwa dua tahun lalu?" tanya Izack lagi.

"Ingatlah, waktu di Resto."

"Hm,"

"Kamu tahu? Tanya apa coba, sebelum dia pergi?"

Hendrik menatap penasaran.

"Berapa totalan bon makan-makannya, Bang?"

Hendrik mengernyit, tawanya pecah meledak perlahan.

"Seorang Chika? tanya bon makan-makan sama pimpinan perusahaan?"

Izack mengangguk cepat.

"Waktu itu bingung aku, mau jawab apa."

"Terus kamu jawab apa?"

"Ya emang niat syukuran."

Hendrik melirik penuh ejekan. "Dalam hati, sialan! Cuman ngobrol berapa menit, setelah itu ditinggal pergi,"

Keduanya tertawa, lalu mereda cepat.

Izack menelan nafas, merebahkan punggung.

Ia tahu informasi tentang siapa Chika justru dari tim IT AMN, Fendi. Ia adalah satu-satunya anak AMN yang mendapatkan beasiswa fully funded dari CSR Al Haque Books, perusahaan penerbitan milik Izack.

Hendrik membuka ponsel, lalu scroll berita yang memunculkan foto-foto Chika dalam gendongan Izack.

"Jadi artis, kamu," ledeknya memberikan ponselnya.

Izack melirik, ia sudah paham berita itu lebih dulu.

"Gara-gara itu, aku dibilang teman-teman AMN pusat, CAPN hanya alasan untuk balik ke Tayoga."

Hendrik terkekeh.

Perlahan tawa itu reda.

"Kalau itu aku, Bro! tak manfaatkan sekalian."

"Kita kan punya agenda besar, toh?"

Izack terdiam cukup lama. Ada hal-hal besar yang seharusnya sedang ia urus. Tapi saat ini, semuanya terasa menjauh. Sangat jauh.

Hendrik menatap sudut-sudut lorong yang senyap.

"Bicara soal Chika, aku jadi ingat sanksi nikah adat."

Izack tahu itu, tapi ia tak suka membicarakan hal konyol itu. Dan ia hanya tersenyum samar.

Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari sana. Izack kaget, ia langsung bangkit mendekat.

"Gimana dok?"

"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, Mas."

"Sekarang ada di ruang sadar dulu, nanti setelah bangun, dipindah ke unit perawatan."

"Ok, dok. Terima kasih."

Izack menarik nafas lega. Hendrik hanya meliriknya sekilas dan tersenyum kecil.

"Rautmu mirip suami menunggu istri sakit aja, Bro," ledek Hendrik.

"Mulut kau," desis Izack, bukan marah. Ada raut lega campur bahagia tergambar di wajah.

***

Ruang Perawatan VIP

Saat adzan subuh menggema dari kejauhan, saat itu pula ranjang Chika perlahan didorong masuk ke ruang inap.

Pintu terbuka, suara roda berderit halus memecah kesunyian.

Izack yang masih terjaga di sofa, langsung sigap berdiri.

Hendrik yang baru saja pulas, kaget mendengar keributan kecil.

Gadis yang selama ini mereka kenal sebagai sosok keras kepala, kini tergolek lemah.

Tubuhnya dipenuhi selang dan kabel medis. Ada oksigen yang masih menutup mulutnya.

Izack menarik nafas panjang, perih melihat kondisinya seperti itu.

Diam-diam Hendrik mengambil foto dari belakang Izack.

"Ini puasa dulu ya, Mas. Boleh makan dan minum, nanti setelah ada perintah dokter," ujar perawat sambil membenahi selang.

"Siap, Suster..." jawab Izack, berdiri di sisi.

Dengan mata kriyepan menahan kantuk, akhirnya Hendrik memasukkan ponselnya lagi.

Ia ikut berdiri dan mendekat di sebelah ranjang, menatap Chika membuka mata perlahan.

Dengan suara lirih dan pandangan sayu, Chika menarik cungkup tabung oksigen.

"Aku tidur dulu, ya Bang... mataku berat," kata Chika menatap Hendrik di belakang Izack.

Hendrik sempat terdiam. Ada rasa tidak enak menjalar. Ia melirik lelaki di depannya yang sudah banyak berkorban, namun kenapa justru dirinya yang mendapat sapaan lebih dulu.

"Iya Chik. Istirahat dulu,"

Sekilas Izack menunduk, tapi bibirnya tetap menahan senyum. Nyeri.

***

Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam.

Gadis dengan rambut panjang hitam kemerahan itu, hanya membuka mata sesekali dan kembali terlelap, begitu terus menerus membuat Izack mulai khawatir.

"Itu reaksi morfin, Mas. Jadi, biar saja istirahat," jelas perawat saat mengganti kantong drain.

"Tapi nggak apa-apa kan, Sus?"

"Nggak apa-apa,"

Izack menghela nafas tenang saat perawat itu kembali pergi.

Hendrik yang berdiri di belakangnya hanya senyum-senyum menepuk pundaknya yang lebih tinggi dari tubuhnya.

"Selama lima tahun berteman denganmu, baru kali ini aku lihat kamu secemas ini."

"Saudara bukan, adik bukan, pacar juga belum. Tapi cemasmu melebihi seorang suami," senyum Hendrik lagi-lagi mengejek.

Izack diam tak menanggapi. Ponselnya kembali bergetar. Dan ia segera keluar, dikuti Hendrik.

"Kenapa nggak diangkat?" tanya Hendrik.

Itu adalah panggilan dari kantor pusat AMN.

Izack diam menarik nafas dalam.

"Mereka tanya soal berita viral aku dan Chika."

"Seserius itu kah?"

Izack tak menjawab.

"Jawablah apa adanya."

"Tidak semudah itu menjelaskan berita ini, Hen."

"Iya, tapi kan tetap menyeret nama baik AMN."

"Aku tahu. Sempat tanya ke dewan pembina: kata mereka, nggak perlu ditanggapi terlalu jauh,"

Hendrik hanya mengangguk pelan.

"Tolong bantu aku, besok pagi... sekitar jam sepuluh mau ada rapat dengan teman AMN Pusat dan CAPN."

"Oke,"

Hendrik kembali masuk, "Aku tidur dulu, Zack... ngantuk banget," ucapnya sambil menguap.

"Hm, ya."

Hening.

Izack kembali menoleh Chika sebelum pintu benar-benar ditutup.

***

Kondisi di luar makin memanas.

Dan harusnya Izack sudah sampai ke ibu kota besok pagi --untuk kembali merapatkan barisan kepengurusan AMN, --di antara puluhan organisasi mahasiswa lain yang vokal-- yang kini sama-sama dihadang krisis kepercayaan publik pada pemerintah yang makin tak berpihak pada rakyat menengah ke bawah.

Sementara CAPN, yang digadang-gadang sebagai corong akademisi, pun masih butuh penguatan internal lewat forum-forum komunikasi yang telah mereka bangun.

Izack masih berdiri di depan dinding kaca, menatap lampu kota yang berpendar dingin di kejauhan.

Aku tahu, AMN tak seperti dulu lagi.

Tapi untuk malam ini, ijinkan aku mementingkan satu orang, dibanding ribuan massa.

Rasanya, tak mungkin aku meninggalkanmu sendiri dengan lelaki lain.

Ia menarik nafas dalam, menekan keningnya sendiri.

Di tengah hiruk pikuk itu, pikirannya tertuju pada bayangan sosok gadis yang terbaring lemah di balik selimut putih, dengan selang medis menjuntai di sekeliling tubuhnya.

Ah... sialan

Kenapa aku telat menyadari perasaanku, justru disaat dia kritis seperti ini.

Langkahnya kembali menuju unit perawatan.

Senyap.

Dan malam kian pekat. Lorong-lorong rumah sakit benar-benar sepi.

Saat pintu terbuka, Hendrik tertidur pulas di sofa.

Izack melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada Chika yang terbaring lemah, oksigen menutup mulutnya.

Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wajah pucat itu –bibirnya pecah kering, nafasnya tersendat, seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

Izack tak menyentuhnya.

Tak membangunkannya.

Ia hanya berdiri cukup lama di sana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar