Pagi itu, mereka tiba di rumah pribadi kediaman Sang Jendral di pusat kota Takata, ibu kota negara Nidosiana.
Begitu mobil ber plat unik itu berhenti di depan gerbang. Penjaga langsung membukakan pintu besi tinggi.
Adrian dan Chika melongo, menatap lelaki penjaga itu memakai baju khusus.
"Wow!"
Adrian segera memutar setir, membawa mobil masuk. Di depan, rumah berdiri gagah dengan pilar tinggi berwarna putih. Taman tertata rapi melingkar di halaman rumah yang cukup untuk parkir enam hingga tujuh mobil sekaligus.
Nyali Chika spontan ciut.
"Ini... Rumahmu, Bang?" tanya Chika ragu.
"Emmm... Rumah orang tuaku," jawab Izack
Mulut Adrian spontan melongo.
"Wow,"
Cepat-cepat ia mengeluarkan kamera.
"Maaf Adrian, jangan ambil gambar apapun di sini. Kami nggak suka ruang privasi di ekspose."
"Oh... baik, Bang, Maaf," jawab Adrian, nyengir tak enak.
Izack membuka pintu dan keluar. Lalu membukakan pintu untuk Chika.
"Ayo turun,"
Chika nyengir, "Nggak lama, kan?"
Izack menurunkan pundak lalu menatap matanya, dalam. Tatapan itu membuat Chika takut dan pasrah. Ia keluar dengan langkah ragu.
Adrian mulai memarkir kendaraannya. Ia keluar dari mobil, dan melangkah pergi.
"Adrian, mau kemana?" panggil Izack.
"Aku tunggu di ruang satpam, Bang."
"Oh, baiklah."
Saat itu keduanya melangkah masuk.
Di depan, seorang penjaga sudah menyambut.
"Tolong, tasku dibawa turun."
"Baik, Om..." jawab lelaki itu singkat.
"Bossy, kali?" gumam Chika lirih. Nyaris tak terdengar.
Izack yang sempat mendengar, tak menanggapi. Ia hanya meraih tangan Chika, menggenggamnya erat dan hangat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, tapi genggamannya cukup meyakinkan Chika yang sempat ragu.
Saat melangkah di sampingnya, ia baru sadar. Pesona Izack begitu memikat. Dari gaya bicaranya, sikapnya, hingga wibawa yang terpancar begitu alami.
Ia tak percaya, lelaki yang menggenggam erat tangannya itu adalah lelaki yang kemarin ia tendang hingga terpental.
Langkah mereka terhenti saat perempuan paruh baya muncul dari balik sekat kaca.
"Om Izack, diminta Mama langsung ke meja makan aja," katanya sopan.
"Oh, ya mak,"
Chika melotot kaget, jemarinya menegang keras. Izack yang tahu itu hanya tersenyum menoleh sekilas.
"Hei... biasa aja."
"Iya, tapi..."
Genggaman tangan Izack makin erat terasa.
"Apa artinya ini?" gumam Chika lirih.
"Artinya ya makan," ucap Izack memupuk kepalanya lalu mengusap rambut Chika.
Mereka kembali melangkah, melewati lorong utama. Pandangan Chika mulai terpaku pada sekelilingnya.
Langit-langit rumah itu tinggi menjulang, setidaknya lima meter dari lantai marmer yang tampak berkilau seperti cermin. Dindingnya berlapis cat putih gading, dihiasi beberapa lukisan dan foto-foto mereka.
Sementara di atap, lampu kristal menggantung, seakan menguatkan sisi kemewahan ruangan itu.
Chika membayangkan kehidupannya yang kontras dengan kehidupan sehari-hari hanya untuk memperjuangkan selembar uang makan. Pikirannya kembali berputar-putar saat memandang sekeliling.
"Kalau semua ini hasil kerja kerasnya sendiri, aku salut," batinnya lirih.
"Tapi..."
"Ah! pergi sana!" gerutu Chika pada pikirannya sendiri.
Ia menarik nafas pelan.
Saat itu matanya menangkap foto terpampang besar di ruang tamu.
Wajahnya familiar berseragam lengkap. Tegas dan wibawa.
"Jendral Arsyad?" Chika melotot.
"Dia tokoh idolaku sejak SMA," pekiknya lirih, nyaris tak terdengar.
"Tapi... tokoh yang ku kenal paling sederhana dan rendah hati. Ternyata..."
"Ah! please deh, Chika! Aku capek dengar ghibahanmu," batinnya, kembali meraup wajahnya sendiri.
Ia berusaha tersenyum, --meski dengan terpaksa-- saat Izack berpaling kepadanya.
"Jangan banyak mikir," ucap Izack mencubit ujung hidungnya yang kecil.
Melihat anak lelakinya muncul di balik ruangan, --wanita yang kini duduk di salah satu ujung meja makan, melirik Chika sekilas.
Ia menyambutnya dengan senyum yang sedikit sulit dibaca.
"Silakan, Nak."
Tubuh Chika makin dingin. Ia merasa sangat kecil.
Tak lama kemudian seorang lelaki dengan seragam lengkap emblemnya muncul.
Chika setengah kegirangan melihat lelaki itu di hadapannya.
"Beneran dia ayahnya???" batin Chika memekik keras.
"Halo Pa," sapa Izack.
Dua lelaki itu saling memeluk erat. Saat itu sorot matanya menatap Chika di balik tubuh anaknya.
"Selamat pagi, Jendral..." ucap Chika ragu. Chika menyodorkan tangan yang langsung disambut Papa.
Mendengar panggilan "Jendral", Izack hanya tersenyum kecil mengacak kecil ubun-ubunnya.
"Ayo sini, makan dulu," ucap lelaki itu duduk di samping kursi Mama.
Tangan Izack refleks mengambilkan menu untuk Chika.
"Semester berapa kamu, Nak?"
"Semester 6 Pak, Fakultas Kehutanan."
"Oh, bagus..."
"Mohon doanya Pak, semoga segera selesai," ucap Chika menekan kegirangan.
Dan mereka hanya tertawa ringan.
"Apa rencanamu setelah lulus nanti?"
"Mungkin ikut magang kerja di LSM Konservasi atau di Dinas Kehutanan," jawabnya penuh semangat.
Glekkk... semua terdiam, saling menoleh.
"Bagus, bagus!" Papa manggut-manggut tersenyum kecut.
Sementara Mama menoleh Izack.
"Lalu kalian?" tanya Mama, kaget.
Izack nyengir. Tangannya langsung menggenggam erat tangan Chika di balik meja.
"Enggak, Ma... dia butuh istirahat lebih banyak."
"Maka dari itu saya minta dia istirahat di Apartemen beberapa bulan ke depan," jawab Izack.
Chika melotot, protes. Ia menginjak kakinya keras pada Izack. Tapi ia tak menghiraukan itu. Dan Chika tak berani berkutik sedikitpun, di depan kedua orang tuanya.
"Okey," jawab Papanya manggut-manggut.
Saat itu seorang lelaki datang membawakan koper.
"Bawa ke kamarku aja semua," jawab Izack santai.
"Tolong bilang ke Bi Imah, siapkan kemeja biru sama jins biru tua," pesan Izack pada lelaki itu.
Chika melirik sekilas lelaki dan perempuan yang melayani mereka dengan sabar.
Sebelum mereka menyetuh sarapan. Papa menyalakan tv di belakang mejanya paling ujung. Dua wajah kakaknya hadir di sana.
Mereka bertiga mulai ngobrol seru, --video call-- dengan dua orang kakaknya.
"Ah... kalau pulang, sudah nggak ada yang bisa di usilin lagi nih. Ma. Sibuk sama ceweknya," seru kakak lelaki di layar itu.
Mama tertawa.
"Sstt! Ada istrinya di sini."
"Mereka ini menganggap Izack masih seperti anak kecil yang bisa diusili, Nak..." kata Mama pada Chika.
"Wah, nggak percaya aku kemarin lihat Izack se lembut itu sama ceweknya, Ma." tawa kakak perempuannya.
"Izack, kau balik jadi anak SD aja lagi, gih," tawa kakak laki-lakinya.
"Sesekali kasih hadiah kejutan apalah, nggak mbully aku terus," canda Izack.
"Terbang kesini, aku tanggung semua dah!" ucap kakak laki-lakinya.
"Oh, nggak bisa, Bang. AMN lagi kebobolan."
"Apanya?"
"Rekening."
"Dan kamu sebagai pucuk pimpinan masih bisa duduk santai di situ?! Kebangetan itu, mah."
Spontan mereka menatap Izack serius. Izack hanya menelan nafas pelan menjelaskan kronologinya.
"Setelah ditelusur, tenyata dibawa kabur sama orang IT sendiri."
"Wah... ya itu."
Chika tak mendengarkan obrolan itu, perhatiannya justru tertarik pada beberapa pelayan yang riwa-riwi dari dapur menuju lorong belakang. Ada tangis dalam hatinya, yang diam-diam membuat nafasnya sesak perlahan.
Perasaannya nyeri, kembali teringat keluarga pamannya yang hidup bagaikan dasar bumi dari kehidupan keluarga ini. Dan kini... ia telah menjadi bagian dari keluarga itu.
Perlahan rasa letih benar-benar tak lagi bisa ia tahan. Wajahnya makin pucat. Genggamannya makin dingin. Melihat ekspresi tersebut, Izack menggenggam tangan Chika erat di balik meja makan sembari tetap melanjutkan obrolan santainya dengan mereka. Tapi rupanya Mama menangkap raut Chika yang demikian.
"Istrimu pucat banget, Zack..."
"Diajak istirahat aja dulu," ucap Mama.
"Sarapannya biar dibawa naik ke kamarmu," pinta Mama setengah khawatir.
Chika hanya nyengir menahan rasa nyeri makin memanas di perutnya.
Izack segera beranjak dari kursi, membantu menuntun Chika menuju tangga.
Dua orang tua itu hanya memandang kepergian mereka, sambil menarik nafas perlahan.
Mama mendesah pelan. "Lunas sudah tanggung jawabku, Pa..."
"Nggak kebayang bagaimana Izack, dulu."
Hening.
"Lalu gimana dengan isu soal dia?"
"Biar dia atasi sendiri, Ma... Dia sudah dewasa, cukup bijak juga," ucap Papa memperhatikan kepergian mereka.
Sisi lain, Chika yang kini sudah berjalan di pertengahan tangga, langkahnya terhenti setengah membungkuk menahan lembut bagian perutnya.
"Mau kemana kita?" tanyanya lemah.
"Istirahat di kamarku," jawabnya.
Perasaan Chika sedikit asing saat mendengar kata 'istirahat di kamarku'. Bahkan ia nyaris tak percaya, jika dirinya sudah sah, menjadi bagian dari lelaki di sampingnya.
Izack tak sabar menunggu langkahnya yang cukup lama terhenti.
Seketika tubuhnya sedikit membungkuk dengan tangan kiri menahan punggung, lalu mengangkat tubuhnya yang cukup ringan dalam gendongannya.
"Aku bisa jalan sendiri, Bang," pekik Chika dengan suara lemah.
Tapi Izack tak peduli.
Ia membawanya masuk ke kamar.
Ruangan itu ber cat warna biru hangat dan putih tulang.
Perlahan Izack merebahkan punggung Chika di kasur, hingga wajah keduanya saling bertemu dalam sekian senti.
Waktu seakan berhenti. Nafas mereka seakan tertahan.
Tatapan itu membuat detak jantung mereka seakan terguncang perlahan.
Ada denyut lembut dari bawah pusar yang membuat jakun Izack naik turun menatap Chika penuh ampun.
Chika melengoskan wajah, memejamkan mata, seakan ingin menghindari tatapan mata tajam bagai elang yang segera menyambar.
Senyum Izack merekah kecil. Jemarinya menyibakkan sehelai rambut yang jatuh di keningnya. Lalu memainkan jemarinya dari pelipis, turun ke dagu, leher, hingga ke dada. Membuat dada Chika membusung tegang, menekan dada Izack.
Izack menahan nafas sejenak. Jari-jarinya berhenti tepat di dada Chika yang berdegup tak karuan. Sekali lagi Izack menarik nafas perlahan. Namun kini matanya mulai redup, tatapannya tampak sayu. Perlahan ia menggulingkan tubuhnya sendiri ke sebelah, membuat Chika tersentak hendak berguling menghindar. Tapi ia ingat bekas jahitan di tubuhnya, hingga urung.
Kini tubuh lelaki itu terlentang, tepat di sebelah Chika. Matanya terpejam perlahan menahan kantuk tak terbendung.
Dan...
"Hhgzhh..."
Dengkuran lembut terdengar dari mulut Izack membuat Chika tertawa geli.
"Dasar! Nyaris saja ada bom nuklir bikin hancur berantakan."
***
Di balik tirai jendela putih kamarnya yang nyaman, pantulan sinar matahari hangat menyinari suasana di luar.
Chika masih duduk di sampingnya, bersandar pada headboard. Sementara tangannya menggenggam buku. Ia membaca, serius.
Mendengar gumam dari mulut Izack, Chika menatapnya lekat.
Suara itu tak jelas.
Ia kembali menatap wajahnya yang tampak lebih muda. Kulitannya putih cerah, nyaris tanpa setitik noda. Jarinya tergerak ingin menyentuhnya, namun sebelum mendarat ke keningnya –menyibakkan rambut di keningnya, tiba-tiba Izack terbangun dengan nafas tersengal-sengal, membuat Chika tersentak.
"Kenapa, Bang?"
Izack menapuk dadanya sendiri pelan setengah duduk, lalu melirik ke samping menatap Chika dengan sorot mata tertahan. Tanpa ragu, ia kembali menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Chika. Ia meringkuk manja di sana. Merebut pelan buku dalam genggamannya.
Tangan Chika terangkat ragu, hendak menyentuh kepala. Izack yang melihat sekilas, langsung menarik tangan itu. Ia menghirup lembut punggung tangannya yang sedikit hangat oleh suhu tubuhnya yang tampak lemah.
Dan Izack, tak berani berkata apapun.
Tentang mimpinya...
Melihat dirinya, --sebagai seorang bayi— tergeletak di dalam kardus. Di Selokan, di pinggir gunungan sampah, di bibir pantai yang kusam, hingga di pasar yang sunyi.
Bibir Izack hanya diam. Cukup lama termenung. Ia kembali meletakkan tangan Chika ke pipinya. Lalu kembali terpejam.
***
Beberapa menit kemudian.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu pelan.
Refleks tangan Chika menghempas kepala Izack yang masih di pangkuan. Ia lupa dengan bekas luka jahitannya.
"Akkhh!!" rintihnya tertahan.
Izack yang bangun tersentak, bingung.
"Ada yang ketuk pintu," ucap Chika cemas.
Izack mendenguskan tawa.
"Kita ini pasangan sah, Non..."
"Iya, tapi,"
"Itu, cepetan," tunjuk Chika ke arah pintu.
Izack segera bangkit, dan beranjak, membuka pintu, sedikit.
"Iya, Ma?"
Mama berdiri di depan pintu membawa nampan berisi sarapan dan susu.
"Nggak usah repot, Ma. Nanti kita turun sendiri."
"Nggak apa-apa," jawab Mama singkat.
Chika muncul sambil meringis menekan perut.
"Sudah, istirahat saja dulu."
Tak lama, Papa muncul di belakangnya.
"Kami berangkat dulu, Zack..."
"Mama ikut, Pa?"
Mama mengangguk.
"Empat hari."
"Ikut rombongannya Bapak Presiden?"
"Hm."
Papa segera menarik istrinya, "Ayo Ma," ucap lelaki itu penuh isyarat.
Mama segera beranjak. Izack melangkah mengikuti mereka. Tapi Mama menahannya.
"Sudah, lanjutkan lagi."
Chika mengernyit bengong. "Lanjutkan??"
Izack mendenguskan senyumnya paham.
Mama kembali mendekat Chika dan mengusap lengannya.
"Sudah lama Mama menunggu Izack junior, Nak..."
"Mama sudah kangen suara anak-anak."
Chika yang awalnya cengar-cengir, mendadak diam. Shock.
Melihat reaksi istrinya, Izack segera meminta Mama untuk segera beranjak dari tempat itu.
Izack mengantar keduanya sampai depan tangga karena Mama terus menyuruh Izack kembali ke kamar.
Saat Izack kembali ke kamar, Chika sudah duduk bersandar membaca buku.
Tiba-tiba Chika menatap berat pada Izack yang kembali mendekat.
"Bang,"
"Ya?!"
"Boleh minta tanda tangannya Papa, nggak??" pintanya hendak turun.
Izack mengernyit aneh, "Buat?"
Perlahan senyumnya terbit, "Sejak SMA aku kan nge fans sama Jendral Arsyad,"
"Kamu serius, minta tanda tangan mertua?" tawa Izack pecah perlahan.
Chika melorotkan pundak, kecewa.
Melihat rautnya yang muram seketika, Izack hanya tersenyum.
"Ya sudah, mana cepat. Keburu Papa pergi."
"Serius?"
"Hm, demi Izack junior."
"Huh?? Maksud?!"
Spontan Chika mengernyit, aneh.
"Siapa tahu kan," alisnya terangkat, tersenyum nakal, saat Chika memberikan buku tersebut.
Secepat itu Izack keluar dari kamar setengah berlari.
***
Papa terdiam cukup lama memandangi cover tebal dengan cetakan tinta emas.
Bibirnya bergerak, membaca pelan judul buku:
"Aku Sematkan Kemerdekaan itu di Pundakmu, Pemuda."
Papa menarik nafas dalam-dalam, seakan menahan sesuatu yang lama terpendam. Sorot mata yang biasanya tajam kini meredup, seolah ada kenangan lama yang mengusiknya diam-diam.
"Buku ini..."
Izack menatap Papa heran, sementara Chika yang masih berdiri di beberapa anak tangga atas menahan nafas.
"Buku ini sempat menggemparkan tanah air pasca kemerdekaan."
"Karena buku ini yang membangkitkan semangat pemuda saat itu, untuk mempertahankan kemerdekaannya."
Ia membalik halaman pertama, stempel lama:
Lingkar Suara Rakyat – Edisi Terbatas (1927)
"Ini... bukan sembarang buku," lanjutnya perlahan.
"Penjajah sempat memburu dan membakar semua salinannya. Isi buku ini cukup mengkhawatirkan mereka. Karena dari sanalah, pemuda tanah air bangkit dan bersatu."
"Dan entah mengapa, buku ini sempat dilarang sama pemerintah kita sendiri."
Papa mengalihkan pandangan pada Chika yang ternyata sudah berdiri di ujung tangga.
"Kamu dapat darimana, Nak?"
"Almarhum Kakek,"
"Siapa nama Kakekmu?"
Chika menatap Izack penuh isyarat, seakan minta pertolongan. Dan kali ini, ia benar-benar cemas.
Izack berisyarat tenang pada ajudan Papa yang sudah menunggu tak jauh dari tempat Papa berdiri.
"Mari, Bapak..." suara itu seakan memecah perhatian Papa.
Papa menepuk pundak lengan Izack.
"Pantas saja kamu ngejar mati-matian," senyumnya penuh isyarat.
Mereka melambaikan tangan sejenak pada Chika yang masih berdiri di ujung tangga sambil menelungkupkan kedua tangannya ke dada penuh hormat.
***
Chika masih tersenyum cerah saat Izack kembali naik.
"Aku masih belum percaya, bisa ketemu sama Pak Arsyad," ucapnya dengan wajah sumringah menatap tanda tangan di cover depan buku itu.
Izack melipat tangan di dada, lalu dengan santai menyender di pagar besi dekat tangga.
"Aku heran sama kamu."
"Ketemu Papa, seneng banget," gumamnya pura-pura cemburu. "Tapi giliran ketemu fansmu ini... wajah langsung kau tekuk," liriknya tersenyum genit.
Chika mendelik, "Kapan aku nge-fans kamu?"
Izack tak peduli. Ia justru mendesak mundur langkah gadis itu hingga melewati pintu kamar.
"Bukankah kamu mirip truk sampah, ya?" tantang Chika, masih menatap tajam.
Chika mengernyit aneh, setengah geli.
"Huh? Truk sampah?" ucapnya tak peduli, ia terus mendesak mundur makin ke dalam.
Chika membalas dengan tatapan sengit, tapi sudut bibirnya susah menahan tawa.
"Ampunn..."
"Kemarin kamu bilang neraka, sekarang sampah, besok apalagi?"
"Kan truk sampah memang pengambil masalah. Tapi juga penyebar masalah baru," ucapnya pura-pura cool.
Sambil tertawa pelan, Izack terus mendekat.
Chika terdesak ke pintu. Ia celingukan mencari celah, tapi... tak ada.
"Ayok mandi," bisik Izack, sengaja menyrempet suara ke telinganya.
Klekk!
Pintu kamar mandi terbuka.
Tubuh Chika yang lengah, nyaris terhempas ke belakang.
Refleks, tangan Izack menahan pinggangnya –membuat tubuh mereka saling tersentuh, dada ke dada.
Hangat.
Debaran jantung tersentak.
Nafas mereka putus-putus.
Drrrttt
Ponsel Izack bergetar di saku.
Sontak ia kaget, dan tanpa sadar melepas genggamannya.
Dan...
Brugh!!
"Akkhh!"
Chika terhempas ke lantai.
Izack melotot, panik.
"Maaf! Maaf!!"
Ia langsung jongkok, buru-buru mencoba membantunya. Tangannya meraih pinggangnya hati-hati, tangan satunya menahan bekas jahitan yang ketarik.
"Akhh...!"
Chika memejam erat, wajahnya menahan sakit.
"Ampun, Bang."
"Baru sehari di kotamu, badanku sudah ngilu semua. Gimana kalau sebulan? bisa babak belur."
Keduanya saling menatap, Chika meringis menahan sakit. Dan tertawa pelan, antara kesal, gemas dan sayang.
Izack hendak mengangkat tubuh Chika.
"Enggak! Aku pilih jalan sendiri. Daripada kamu jatuhkan lagi," tukasnya, sewot.
Izack tertawa geli. "Enggak, lah..."
"Enggak!!" Chika menjauhkan tangan Izack.
Adu tarik-tarikan pun terjadi.
Dan...
Brughh!
"Ampun... Sudah!" tangannya menghentikan gerakan Izack.
Sekali lagi Izack nyengir tak berdosa.
Mereka sama-sama kembali tertawa, geli, kesal, gemas dan sayang.
Chika berusaha bangkit.
Izack tak sabar, ia langsung menggendongnya. Chika diam seketika saat wajah mereka saling bertemu.
Drrrtt...
Ponsel Izack kembali bergetar.
Perlahan Izack menurunkan Chika di atas ranjang, dan segera mengangkat ponsel.
Melihat nama pada layar itu, ia menarik nafas pelan.
"Halo, ya?"
"Sudah sampai mana kamu, Zack?"
"Baru aja sampai di rumah Papa."
"Secepatnya kita lakukan investigasi, Zack."
"Ternyata itu rekening dibawa kabur Fendi."
"Blokir semua identitasnya."
"Termasuk rekening pribadinya."
"Sudah."
"Terus?"
"Makanya kita tunggu kau secepatnya. Ada hal lain lebih dalam lagi soal rencana CAPN."
"Oke, segera aku meluncur kesitu."
Seketika itu layar mati.
Matanya menatap kosong, lurus. Bibirnya tersenyum sinis.
"Kau kira mudah apa, melarikan diri dari lingkaran AMN?" gumam Izack.
Izack diam cukup lama.
Lalu matanya beralih ke Chika yang tengah mengusap pantatnya. "Kamu..." suaranya tersendat, bingung.
"Mau tinggal di sini, atau ikut Abang ke kantor AMN?"
"Kalau ikut gimana?"
"Nggak apa-apa. Tapi mungkin kurang nyaman buatmu," tatapnya dalam.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung bergegas ke kamar mandi, lalu tak lama muncul dengan wajah segarnya dibalik handuk piyama segarnya.
Pandangan Chika sempat terpaku sekian detik menatap dirinya, tanpa sadar. Namun saat Izack menatap balik, Chika kaget, langsung memalingkan wajah membuat Izack tersenyum. Lalu menggodanya lebih dekat.
Tapi Chika terus memalingkan wajah, mengusir malu.
Namun Izack terus mendesaknya hingga ke dinding. Memaksa Chika menatap wajahnya saat terjepit ke dadanya basah sedikit terbuka, menampakkan rambut halusnya.
"Heh!! Sudah ditunggu anak buahmu, Pak Ketua."
Izack tersenyum memalingkan wajah, lalu segera beranjak pergi meninggalkan jejak basah di lantai.
Chika memandangi punggungnya sesaat lebih lama saat ia pergi di balik ruang ganti.
Chika sempat diam cukup lama, hingga akhirnya lelaki itu muncul kembali dengan setelan kemeja biru dan jam tangan rapi, sementara rambutnya sudah tersisir rapi dan parfum yang ia semprot sedikit ke tubuhnya.
"Uhukkk!!"
"Hoekkk!"
Izack berpaling cepat.
"Kenapa kamu?"
Chika menutup hidung, menekan perut mual.
"Belum juga aku sentuh, kenapa...?"
Chika langsung lari masuk kamar mandi. "Aku mual bau parfummu."
"Aku mual kalau bau parfummu."
Glekk...
"Haduhh... kau ini ada-ada aja," Izack meraup wajah, mencium kemejanya sendiri saat gadis itu lari ke kamar mandi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar