Chika, ya! Orang memanggilnya begitu.
Luchika Aria.
Tinggi badannya sekitar 160cm. Entah berapa berat badannya, namun yang jelas tubuhnya tampak ramping. Matanya kecil, tatapannya tajam saat diam. Kata-katanya seolah terukur dengan realitas yang ada.
Meski begitu, jarang sekali ia bicara, apalagi dengan orang yang baru dikenalinya.
Bibirnya yang tipis, ranum dan selalu basah saat cemas, karena sering menjulurkan lidah, membuatnya tampak seperti memakai lip gloss.
Kulitannya putih pucat, rambutnya lurus, hitam kemerahan. Hidungnya lancip tapi kecil.
Dan semua itu bukan karena perawatan, tapi karena pembawaan dari sananya.
Banyak teman lelaki ingin mengenalnya, tapi itu bukan perkara mudah. Karena ia tipikal cewek pendiam dan dingin.
Kata-katanya selalu serius penuh penekanan, seolah ia rinci tiap kalimat. Namun saat bercanda, ia nyeplos semaunya seakan tak peduli, siapa di depannya. Dan saat senyum, dunia seakan runtuh, lebur dalam kerenyahan tawanya.
Namun itu jarang sekali.
Mungkin hanya sekali dalam sepekan, dan itu pun jika dianggapnya benar-benar lucu. Namun jika tidak, ia hanya akan tersenyum samar, atau malah kadang hanya berwajah datar.
Waktu senggangnya, habis untuk membaca buku-buku tebal dengan wajah serius.
Di kos, orang menyebutnya si kutu buku. Tapi julukan itu sering dibarengi cemooh.
"Apa nggak capek kamu tiap hari serius, begitu?" tawa lebar teman-temannya.
"Kebayang ngggak sih, kalau dia nikah? Malam pertama yang dia pegang pasti buku," celetuk teman kelas lelaki yang langsung disambut ledakan tawa sekelas.
Tapi Chika, hanya menoleh sebentar. Pandangannya datar, tenang, bahkan nyaris kosong. Seolah semua yang ia dengar adalah sekedar angin lewat.
Namun tidak begitu dengan Rendra, tetangga kampung, sekaligus teman SMA.
Ia bakal bereaksi tajam saat mendengar ejekan itu terjadi. Dan sayangnya Rendra bukanlah teman kelasnya, jadi ia hampir saja tak pernah dengar ejekan itu. Kecuali tatapan mata sinis para gadis, terutama yang sempat naksir Rendra.
***
Sore itu, mereka berjalan kaki keluar dari area kampus yang sangat luas. Jalan setapak di trotoar sisi kanan kampus terasa teduh. Dipayungi pohon-pohon trembesi yang daunnya berguguran. Sementara cahaya matahari telah condong ke barat, --di balik bangunan tua gedung kampus utama.
Dari kejauhan, suara burung terdengar riuh di balik pepohonan, bersaing dengan suara lalu lalang kendaraan.
Karena jauhnya jarak ke pintu gerbang, jarang ada mahasiswa yang memilih jalan kaki seperti mereka berdua.
Ya, Chika dan Rendra.
"Sudah... yang dikatai itu aku, bukan kamu. Kenapa kamu yang marah-marah?" ucapnya mendengar Rendra ngomel sepanjang jalan.
"Gurauan seperti itu tuh menyebalkan, tahu nggak sih? Nggak lucu!"
"Biarin... toh nggak menyakiti."
"Nggak nyakitin? Itu tuh merendahkan harga dirimu, tahu nggak?"
"Sudah, sudah!" potong Chika cepat.
"Tahu gitu tadi aku nggak usah cerita ke kamu."
"Kamu itu, bodoh! Dikata seperti itu kok diam aja."
"Malas ribut, Ren..."
Mulut Rendra masih menggerutu, meski tetap melangkah.
Keduanya berjalan menuju pintu keluar kampus, udara jalanan terasa kotor dan pengap.
Mereka duduk berdua di halte bus, --depan pintu utama masuk area kampus yang ramai oleh kendaraan roda dua dan sepeda.
Chika mulai cerita, kalau dirinya pernah sempat diikuti dua orang lelaki tak dikenal berturut-turut, dari tengah jalanan kampus hingga halte.
"Tahu nggak, apa yang aku lakukan?"
"Hm,"
"Aku langsung balik langkah dan mendekati cowok itu," jawab Chika datar.
"Terus?" tanya Rendra mendelik aneh, sekaligus penasaran.
"Ya aku bilang aja, 'Ada urusan apa kamu ikuti aku?'"
"Bukan cuma itu. Aku juga sempat ancam kemaluan mereka, kalau berani macam-macam."
Rendra mendenguskan tawa, geli campur aneh.
"Ampun... hati-hati, Chika..."
"Terus??"
"Ya sudah, tak tinggal pergi."
Rendra masih geleng-geleng kepala, heran campur takjub.
"Biarin aja aku dianggap aneh, yang penting aku aman dan waras dengan diriku sendiri."
Namun sesaat ia menekan perut sambil nyengir.
"Kenapa lagi perutmu?"
"Maag lagi?"
"Hm, sepertinya," jawab Chika menunduk menekan perut.
Rendra menarik nafas terdiam. Ingatannya melayang pada beberapa puluh tahun yang lalu.
Ia ingat betul, pertama kali Chika datang ke desa pamannya. Gadis itu masih sangat kecil, rambutnya panjang, lurus, hitam kemerahan. Meskipun sebenarnya wajahnya cantik dan putih, tapi rautnya selalu murung.
Gadis kecil itu sangat pendiam, meskipun ia tetap ikut main bersama teman-teman kampung. Dan saat itu dirinya memang sempat naksir dengannya, tapi lambat laun --seiring berjalannya waktu karena seringnya bersama-- perasaan itu pun mulai pudar. Berubah menjadi perasaan seorang teman, kakak, kadang juga saudara.
Tapi untuk memilikinya... ia berpikir berkali-kali lipat ketika tahu bagaimana kehidupan dirinya dan kehidupan gadis itu.
Dan, begitulah kehidupan mereka sehari-hari di tanah rantau. Berjalan di sela-sela kelas, kerja paruh waktu, dan lelah yang dipahami bersama.
Mereka bukanlah sepasang kekasih, meskipun gosip menyebar begitu. Tapi bagi keduanya, anggapan itu justru jadi bahan tawaan yang tak perlu ditanggapi serius.
"Ah... kalau kita pacaran, nggak ada peningkatan kualitas hidup dong," kata Chika sekenanya.
Rendra mendenguskan tawa.
"Dasar!!"
"Lha iya kan? sama-sama miskin," jawab Chika santai.
Melihat mereka bercerita seru sepanjang jalan, mata-mata selalu tertuju kepadanya. Tapi keduanya tetap santai, sambil cekikikan.
"Bodo amat apa kata mereka, Ren," ucap Chika kibaskan rambut lelah.
"Mereka, jalan bareng pacar aja dibiayain orang tua."
"Kita? Boro-boro, beli bakso aja mikir dua kali," tawa mereka cekikikan.
"Sory ya, itu kamu. Buat makan sendiri aja pelit," ucap Rendra.
Chika nyengir.
Sebenarnya, meskipun Chika sering dicemooh, tapi bukan berarti ia tak pernah mendapat sambutan hati dari seseorang.
Berapa kali saja ia mendapat surat cinta yang langsung masuk tong sampah sebelum dibaca, lalu bingkisan dikembalikan begitu saja pada lelaki yang memberi.
Chika melanjutkan, "Pernah, ada dua cowok datang ke kos... Aku kenal dia, gara-gara kartu perpus. Tahu-tahu langsung nembak aku."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Rendra, menaikkan alis.
"Ya aku jawablah, 'pacaran itu buat apa?'"
Rendra hanya nyengir menggeleng.
"Ampun Chika... kamu itu berasa Alien, tahu nggak sih?"
"Lah, ya coba aku tanya balik: pacaran itu buat apa?"
Rendra mengacak rambutnya gondrongnya yang lembut, lalu menyibakkan poninya ke belakang. "Yak?!"
"Hubungan tanpa status itu merugikan cewek. Bro," jawab Chika.
"Kok bisa?"
"Ya iyalah!"
"Coba, bayangkan."
"Dari yang semula hanya jalan bareng, terus pegang tangan, pelukan, lalu... tahu sendirilah."
"Kalau ada apa-apa, siapa yang tanggung. Cewek kan?"
"Ah, pikiranmu terlalu jauh."
"Ya bener kan?"
"Cewek itu kalau sudah kesentuh, berasa buah sudah dipegang banyak orang."
"Apalagi lebih dari itu."
Rendra menarik nafas dalam. "Ya... nggak salah sih, tapi nggak sebegitu juga kali ah,"
"Ya... itu kamu, Ren."
Sunyi.
Chika kembali menoleh. "Dan... tahu nggak? Apa kata temannya saat mereka keluar dari kos ku?"
"Itu cewek nggak butuh lelaki, Bro."
Spontan Rendra tertawa. "Ya bener itu!"
"Kesel banget, serius." jawab Chika.
"Lha terus maumu gimana coba?"
"Jujur aja ya, kamu itu aneh kok," kata Rendra protes.
Chika menoleh cepat. "Maksud?"
"Sebenarnya kamu itu normal nggak sih?" Rendra berpaling, mengernyit, separuh tersenyum, separuh aneh.
Deru kendaraan di depan, sesekali menerbangkan dedaunan di sekitar halte.
"Kriteria cowok idealmu itu seperti apa coba," tanyanya.
"Yang mapan, syukur-syukur punya perusahaan, ganteng, dan yang terpenting sayang aku," tangannya menengadah ke langit.
"Itu mah cowok berkepribadian multi-sempurna, dan hanya ada di dunia fiksi," Rendra menimpali.
"Ada!" jawab Chika mantap.
Mendengar penuturan Chika, Rendra hanya mencibir.
Chika menoleh, mendongakkan wajah melihat Rendra yang masih menanti bus tak kunjung tiba.
Gadis itu masih mendongakkan wajah, seolah menangkap bayangan Izack yang saat tersenyum begitu manis dengan kedua lesung pipitnya di pipi.
Tapi teringat bagaimana dulu naskahnya ditolak, perasaannya mencelos. Ia kembali tertunduk.
Ternyata...
Demi mendapatkan informasi dokumen yang aku punya,
Segitunya lakukan pendekatan.
Nyaris saja membuatku terlena.
Chika menarik nafas sesak.
Ah... siapa sih aku.
Semua karena latar belakang keluarganya yang sama-sama nggak jelas.
Ayahnya Rendra dan ayahnya Chika sama-sama hilang entah kemana, sementara keluarganya berantakan.
"Sampai sekarang nggak ada kabar sama sekali?" tanya Rendra berpaling.
"Nggak ada,"
"Terus?"
"Stopp!! Bicara yang lain aja," potong Chika tegas.
"Ah, se-rumit itukah hidupmu, Chik," gumam Rendra, separuh bercanda, separuh menggerutu.
"Emang hidupmu nggak rumit?" ucapnya menahan senyum hingga tawa itu lepas terbahak-bahak. Namun berujung air mata yang menggenang. Chika kembali menarik nafas diam.
Chika terdiam sejenak, pandangannya lurus ke depan, seakan menimbang sesuatu yang tak perlu ia perlihatkan pada siapapun.
"Kadang aku suka membayangkan, andai tiba-tiba ketemu nenek kaya raya yang memungutku jadi cucunya."
Lagi-lagi Rendra tertawa, nyeri. Dan Chika mengusap air mata di sudut matanya.
"Kemarin berkhayal ketemu lelaki mapan, sekarang berkhayal lagi ketemu nenek kaya raya. Nanti berkhayal lagi dinikahi om-om kaya raya. Begitu?" ucap Rendra tertawa mengejek.
Sponton Chika melengos, jijik.
"Jujur aja, aku nggak suka lihat perempuan menikah."
Uhukkk!! Rendra tersedak, ia melotot separuh tertawa separuh aneh. "Kok bisa?"
"Perempuan itu kalau sudah nikah, bakal jadi seperti pembantu."
Alisnya mengernyit lama sambil melotot. "Lama-lama tambah aneh berteman sama kau."
Chika menoleh, melirik Rendra dengan sudut matanya. Tapi Rendra hanya menoyor kepalanya.
"Sudah aku bilang berapa kali, tidak semua lelaki itu seperti itu."
"Iya, tapi hampir semuanya sama." jawabnya ngotot.
"Nah, kan? Siapa yang ngotot kalau pendapatnya nggak dibenarkan?"
Chika hanya meringis sesaat, lalu menghembuskan nafas pendek.
"Aku nggak ngotot, Ren. Cuman fakta senyatanya begitu."
Ia memalingkan wajah, menatap aspal di depan halte yang sedikit retak-retak oleh akar pohon besar di sekelilingnya.
"Kalau aku dekat sama cowok dibilang tebar pesona, akrab sama cewek dibilang lesbi. Terus gimana coba?"
Rendra mendenguskan tawa, melirik Chika melorotkan pundak ngenes.
"Siapa emang yang ngatain kamu seperti itu?"
"Adalah..."
"Siapa?" desak Rendra.
"Nggak! Nanti kamu amuk lagi malah aku nggak punya teman cewek sama sekali."
"Siapa..." desak Rendra.
"Janji, nggak kamu samperin anaknya."
"Ya,"
"Heni."
Seketika Rendra menarik nafas dalam.
"Makanya, kemana-mana sekarang aku mending sendiri," ucapnya menghembukan nafas kesal.
Sejenak ia menoleh, menatap Rendra. "Kalau sewaktu-waktu cewekmu cemburu lagi ke aku, nggak tahu lah," geleng Chika putus asa.
"Tenang, aku bilang ke dia kalau kamu itu lelaki kok,"
Chika melotot, "Sembarangan aja mulutmu."
Rendra tertawa geli. "Lha iya kan?"
Tawa itu perlahan reda, menoleh Chika "Heni bisa ngomong begitu tuh, atas dasar apa coba?"
Saat itu mini bus terdengar mendekat ke arahnya, spontan mereka berpaling sejenak. Tapi melihat kode, bukanlah bus yang ditunggu. Chika meneruskan ceritanya.
"Aku nggak ingat pasti, tapi kira-kira gara-gara dua hal."
"Pertama gara-gara aku hutang ke dia, dan belum lunas sampai sekarang. Atau gara-gara senior AMN yang dia elu-elukan itu kasih aku kue tart."
"Masih ingat betul kalau dia cerita tentang Bang Izack, seru banget. Sampai aku muak mendengar siapa lelaki ideal itu."
"Hmm... yang mana orangnya? Aku kenal, nggak?"
"Masih ingat kemarin waktu kita makan di kantin?"
"Cowok yang pakai kemeja biru tua," katanya seakan mengingatkan Rendra.
Rendra melotot, teringat sesuatu.
"Nha, gara-gara bajuku basah, dia pinjami aku baju punya kakaknya kan... Sejak itu raut Heni benar-benar nggak enak."
"Tunggu-tunggu!! Jangan-jangan waktu aku pinjami kamu laptop baruku itu?"
"Yes! Yang aku cerita kue blackforestmu penyok, masih ingat?" tatap Chika. "Aku pikir setelah tak bersihkan mau aku makan. Eh, sama dia nggak dibolehkan. Katanya sudah kotor."
"Emang... sebagai gantinya, aku dikasih kue blacforest lebih gede dari punyamu."
"Wajar, kan?"
Rendra hanya senyum-senyum.
"Kenapa kau?"
"Haduh... punya tetangga satu gini, O'onnya bukan main."
"Itu cowok, kayaknya naksir kamu tuh."
"Cuman, caranya aja yang sedikit elegan."
"Terus Heni kenapa ngatai aku begitu?"
"Cemburu lah?!"
"Lah??"
Chika mengernyit alis bingung.
Kini ia menatap wajah Rendra dari samping sambil senyum-senyum. "Aku heran sama cewekmu. Kok mau-maunya sama kamu, hanya dengan modal ganteng doang," ucapnya datar.
Rendra langsung melotot.
"Heh! Tanpa pertolonganku, belum tentu kau bertahan hidup di kota ini, Nak."
Chika menarik wajah. "Iya deh... iya, daripada ajak gelut,"
Rendra menegakkan punggung, siap menjitak. "Siapa yang ajak gelut, kalau pendapatnya nggak dibenarkan?"
Chika cekikikan menutup kepala.
"Masih ingat nggak, sama Edwin teman SMA kita?"
Tiba-tiba saja Chika tertawa ringan. "Hm,"
"Tahu nggak? Setelah dia capek ngejar kamu, akhirnya dia buat strategi mendekati Zaskia, teman akrabmu," kata Rendra.
"Nah, ya begitu itu. Kenapa aku nggak punya teman cewek... Itu sudah yang kelima kalinya. Ren..."
"Sebel kan?"
Rendra menoleh sekilas. "Pikirnya Edwin, biar kamu cemburu."
Chika melengos, lelah.
"Pacaran itu cuman buang-buang waktu percuma. Ujungnya nikah sama siapa, juga belum tentu."
Gadis itu kembali membungkukkan punggungnya ke depan. "Kalau aku jadi mereka yang punya orang tua lengkap. Mending aku kejar kemampuanku, terus aku bangun jejaring seluas mungkin, bangun personal brandingku. Nanti giliran tiba saatnya harus menikah, tinggal pilih. Mana yang terbaik buat kita. Simple kan?"
Rendra mendenguskan tawa. "Enak aja, berasa milih sayur di pasar."
Chika terkekeh.
"Dan kenyataannya kamu nggak punya orang tua, nggak ikut organisasi pula,"
Chika meringis getir, menatap ke langit. "Makanya aku pilih bangun karir dari sekarang."
"Karir apaan? Cuci piring di warung makan?" ledek Rendra terkekeh. "Sory-sory,"
Bukannya tersinggung, Chika hanya tersenyum, mengenaskan.
"Ini bahayamu, bisa-bisa menjomblo seumur hidup dengan khayalan demi khayalan."
"Enggaklah. Aku sudah dapat tawaran jadi volunternya anak S2, kok."
"Weishh... apa?"
"Yang jelas di kehutanan."
"Siapa? Aku kenal nggak? Mengkhawatirkan kamu tuh."
"Kak Dhani."
Rendra berpikir keras, tapi ia tak menemukan.
Suasana kosong kembali lewat di antara keduanya.
"Jadi perempuan itu harus kuat, Ren," nadanya dalam. "Makanya harus mandiri," ucapnya sambil menekan perut.
Rendra menoleh tangan itu. "Kenapa lagi perutmu?"
Chika tak peduli. Matanya justru tertuju pada tiga mahasiswa yang melintas di depannya sambil senyum-senyum melirik Rendra.
Lelaki itu hanya menunduk, pura-pura menatap ujung sepatunya.
Chika menoleh, berbisik. "Cantik nggak?"
"Enggak, standart" ujarnya lirih.
"Yakin? Yang baju putih cantik, loh," lirihnya menggoda.
Rendra menarik nafas pendek, lalu membiarkan poninya kembali menutupi sebagian matanya. Gerak tubuhnya cukup membuat tiga cewek itu makin salah tingkah. Entah karena Rendra, atau karena obrolan mereka sendiri.
Memang, dengan rambut gondrongnya sebahu, wajah tirus, dan hidung kecil yang tegas –lelaki itu terlihat lebih kalem. Meskipun saat marah, wajahnya bakal terlihat garang. Terutama saat mendengar ledekan teman-temannya soal Chika.
Meski berwajah tampan, ia bukanlah lelaki yang suka jadi pusat perhatian.
Latar belakang hidupnya jauh lebih ribut dibanding wajahnya yang tenang.
"Tapi tetap cantikan cewekmu lah..." cletuk Chika, masih mengamati tiga cewek itu.
Rendra mengangkat wajahnya, menyilakan poninya saat mendengar suara bus mendekat. Seorang cewek melayangkan senyumnya sebelum naik. Membuat Chika cekikikan menatap Rendra, dan lelaki itu hanya menggelengkan senyum kecil.
"Heh..."
Suasana kembali tenang saat bus itu pergi.
Dan Chika kembali menekan keras perutnya.
"Sudah periksa ke dokter belum?"
Chika hanya nyengir menundukkan wajahnya menjepit makin keras.
"Sudah. Tapi kata dokternya, suruh periksa lebih lanjut ke rumah sakit."
"Terus?? Sudah?"
"Belum."
"Lah, gimana sih?"
"Duit, Ren... duit!" suaranya serak mendesis.
Rendra memandang getir.
"Tadi nggak bawa bekal?"
"Nggak,"
Sesaat mini bus yang ditunggunya datang. Rendra segera bangkit, menoleh Chika yang masih menjepit perutnya.
"Nggak bawa obatmu?"
Gadis itu berdiri tak peduli. Ia mendekat lebih dulu ke bibir halte. Lalu saat bus berhenti, ia masuk lebih dulu yang diikuti Rendra dari belakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar