Minggu, 24 Mei 2026

Bab 17. Itu Aku

 Matahari kembali tenggelam, dan lampu pun mulai kembali menyala.

Dari waktu ke waktu, Chika mulai sering terjaga dibanding dua hari sebelumnya, pasca operasi.

Dan ia mulai menahan rasa haus yang luar biasa di saat mulutnya benar-benar kering, tanpa ludah sedikitpun. Ditambah ac ruangan yang begitu dingin, lengkap sudah makin tersiksa.

Sementara dokter hanya mengizinkan minum seperempat gelas kecil air dalam waktu sehari penuh.

Lambat laun, Chika yang awalnya patuh. Diam-diam ia mulai colongan meneguk air mineral –entah milik Izack atau Hendrik --di nakas, seberang bed-- saat dua lelaki itu lengah atau keluar ruangan.

Dan ia tak peduli lagi dengan air minum sisa siapa itu. Yang terpenting, ia bisa kembali bernapas lega, mengeluarkan dahak yang menyumbat tenggorokannya, gatal.

Awalnya Izack curiga, botol mineral yang baru ia buka, habis perlahan. Ia kira itu Hendrik, dibiarkan saja. Tapi lambat laun mulai curiga di saat Hendrik harus pulang ke kos, air mineral di botol miliknya habis perlahan.

Di situ ia mulai curiga, Chika yang meminumnya.

Hingga satu hari, Izack lebih banyak terjaga di ruangan, ketimbang keluar. Ia sengaja menunggu apa yang terjadi, dengan berdiam di ruangan seharian.

Dan gadis itu mulai gelisah, karena ia harus menahan nyeri setiap kali harus batuk harus disentak keras agar dahak keluar.

Tapi lambat laun mulut benar-benar kering, sampai tak bisa lagi mengeluarkan dahak. Sementara perutnya makin nyeri karena mesti menahan batuk keras berulangkali.

Gadis itu benar-benar menunggu malam tiba, namun sialnya Hendrik datang. Dan dua lelaki itu ngobrol seru soal CAPN dan AMN --yang entah bagaimana, ia mulai muak mendengarnya, dibanding mempertahankan nafasnya yang makin tercekik, oleh AC ruangan yang membuatnya kesulitan bernafas.

Hingga tibalah jarum dinding di atas ruangan menunjukkan pukul 00.30.

Diam-diam Chika menurunkan kedua kaki dengan pandangannya yang masih berputar-putar. Tapi dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, akhirnya ia berhasil menyentuh lantai. Lalu menyeret langkahnya perlahan.

Dengan tubuhnya yang masih limbung, tangannya menggeragap mencari pegangan. Tapi ia lupa dengan selang infus, tiang itu tersentak keras mengenai kepala Izack.

GUBRAK!

"Akkhhh!!" pekik Izack. Kepalanya terhantam tiang infus.

Spontan Chika mematung, menggigit bibirnya keras merasa bersalah melihat Izack yang terbangun kesakitan mengusap-usap kepala.

"Maaf..." suara Chika lirih.

"Mau kemana?" tanya Izack mengerang kesakitan.

Lelaki itu berdiri membenahi tiang.

Chika meringis merasa bersalah.

"Hehe... kamar mandi."

"Perlu aku tuntun?"

"Nggak usah. Aku bisa sendiri," suaranya tegang.

"Beneran?"

"Hm." Chika mengangguk yakin, menahan nafas.

Perlahan Chika melangkah setapak demi setapak, sementara dengan kesabarannya Izack menurunkan infus dan melepaskan kantong drain dari bawah ranjang untuk ia bawa.

Lalu mengangkat infus agar tetap lebih tinggi dari badannya.

"Ayo, aku bawakan infusnya. Kamu jalan duluan."

Tapi tubuh Chika yang masih lemah, ingin segera masuk ke kamar mandi. Hingga jalannya pun sedikit agak limbung.

"Pelan, Non... pelan..." ucap Izack.

"Kenapa kateternya kamu minta lepas sih, kalau jalanmu masih seperti itu."

Chika menghentakkan nafas kesal, lalu bergumam lirih. "Nggak tahu kamu, rasanya pakai kateter itu seperti apa."

Izack hanya menarik nafas panjang, tetap mengikutinya sampai depan kamar mandi.

"Ampun, ribet benar ini selang," ucap Chika menahan diri, saat Izack memberikan dua kantung itu bersamaan.

"Apa perlu aku tuntun sampai di dalam?"

"Nggak!"

"Aku nggak akan lihat kamu,"

"No," ucapnya tegas.

Lagi-lagi Izack hanya menarik nafas pelan.

Sebenarnya lelaki itu miris melihatnya membawa dua kantung itu bersamaan, di saat tubuhnya masih lemah.

"Beneran bisa sendiri?"

"Iya," jawab Chika cepat.

Izack tetap mengawasinya, dan membantu menutupkan pintu kamar.

Entah berapa menit berlalu. Sampai Izack pun kembali tertidur pulas.

Chika menahan diri agar tidak batuk, di saat terdengar dengkuran halus dari dua mulut bersamaan.

Saat itulah ia keluar mengendap-endap tanpa alas kaki dan...

"Ssett!!"

Sebotol air mineral sudah ada dalam genggaman tangannya.

Tapi sialnya, Izack terbangun oleh hembusan udara dari gerak Chika yang cekatan.

Keduanya sama-sama melotot.

Tegang.

Tapi Chika langsung mendekap erat air mineral, yang sudah ada dalam genggaman tangannya.

Izack baru sadar.

"Oh... jadi selama ini kamu yang minum air minumku?" ucap Izack lirih.

Chika diam tak menjawab.

"Tolong, jangan!" pekik Izack cemas.

"Sayang banget kalau terjadi sesuatu, kamu harus operasi lagi," suara Izack serak setengah sadar.

Chika melotot tegang, saat Izack berdiri mendekat.

Mata Chika sudah waspada, bahkan ia merosotkan tubuhnya pada dinding sebelah ranjan, hingga kedua lututnya tertekuk ke dada melindungi air mineral dalam dekapannya.

Awalnya Izack ragu.

Tapi melihat gadis itu sudah membuka tutup botol, gerak Izack sigap merebut paksa botol yang ada dalam dekapan Chika, hingga terjadi tarik-tarikan.

Mulut Chika yang sudah siap terbuka, jarinya menekan keras botol. Dan..

KRAKK... botol terpencet.

Air muncrat ke wajah, dan mulutnya spontan menangkap air curahan.

"Glekkk!!"

Wajah Chika basah oleh semburan air yang sebagian masuk ke tenggorokan.

"Chika!!" pelotot Izack kaget.

"Akhhh!! Segar..."

"Uhukkk!!" batuknya keras, ia mengulum isi muntahannya.

Tangan Izack langsung menyaut wadah kecil berisi tisu dan muntahan dahaknya.

Seketika Chika mengeluarkan dahak berisi lendir hijau pekat bercampur darah.

Izack kembali melotot kesal.

Hendrik yang terbangun, bingung melihat dua orang itu saling menjepit.

"Tolong panggilkan dokter jaga, Hend!!" seru Izack.

"Uhukk!!" batuk itu keras, terdengar menyakitkan.

Tapi raut Chika justru tampak cerah. Karena akhirnya lendir itu berhasil keluar, dan nafasnya kembali lega.

"Ah...!"

"Kamu nggak kasihan apa, sama ususmu?" Izack melotot kesal.

"Sia-sia aja operasi."

"Mau sembuh, apa enggak," bentak Izack seperti pada adiknya.

"Itu ususmu tidak boleh dilewati makanan dulu."

"Ini bukan makanan, Bang. Tapi air... Hanya air putih."

"Itupun nggak akan sampai ke usus, tapi hanya tenggorokan."

"Iya! tapi itu bikin kamu muntah."

Chika menurunkan pundak, menatap kesal. "Bang, organ pencernaanku itu bukan hanya usus."

"Iya, tapi?!!"

"Kamu belum tahu kan, rasanya mulut kering?" potong Chika. "Tenggorokan gatal karena dahak nyumbat. Sementara nggak boleh ada air masuk, padahal dahak bisa keluar dengan bantuan air putih,"

Melihat kedatangan dokter jaga --yang tampaknya baru bangun tidur. Izack langsung berdiri.

Dokter itu mulai memberikan saran.

Spontan Chika nyletuk. "Aku nggak butuh ceramahmu, Dok."

"Pergi sana!!"

Hendrik melotot, mendengarnya.

Izack menarik nafas sesak dan meminta maaf pada dokter muda yang diiringi dua perawat cantik.

"Kalian tahu kan, air itu sumber kehidupan?!" tukas Chika berpaling. "Mungkin ususku bisa sembuh, tapi nafasku bisa bablas, Dok. Nggak ada cairan masuk sama sekali. Bahkan... ludah pun sudah nggak ada," suaranya serak, kering dan retak.

Dokter muda itu mencoba tetap tenang.

"Kan ada bantuan oksigen, mbak..."

Spontan langkah Chika terhenti, matanya spontan melotot.

"Oksigen sama air beda, Dok!" cletuknya lagi.

"Iya, tapi usus mbaknya tidak boleh dilewati makanan dan minuman dulu," jawab dokter pelan.

"Organ tubuhku itu bukan cuma usus, Dok. Masih ada rongga mulut, faring, esofagus, lambung, setelah itu barulah usus!" nadanya ketus.

Dokter itu menatap Izack, lelaki itu langsung medekat. Entah apa yang dokter jaga itu katakan, Izack pun mengikutinya hingga di ambang pintu.

Tapi mendengar Chika batuk keras, --dahak pekat terdengar terseret keluar, langkah Izack pun terhenti. Ia menoleh pada Chika yang berusaha meraih tisu. Ia melangkah cepat, sigap menyaut tisu, membuat Chika menahan nafas putus asa.

Sesaat mata mereka saling bertemu.

Hening.

Hanya suara nafas berat yang terdengar.

Saat itu ia kembali batuk.

GROKK!

Spontan ia meludahkan lendir hijau pekat bercampur darah pada mangkuk kecil berisi tisu.

Raut Izack tegang, tapi tubuhnya sigap membantu Chika yang sudah tampak lemah, bibir pucat dan matanya berair.

"Chika," Izack menarik nafas siap berkata.

"Stop! Tahu apa kamu orang humaniora soal organ tubuh. Nggak usah ceramah," nadanya ketus.

Hendrik di belakang mereka langsung tertawa geli.

"Tahu nggak, darah ini berasal dari tenggorokanku karena luka selang oksigen kemarin. Dan lendir hijau ini dari paru-paruku,"

"Sok tahu!!" cletuk Izack bersungut.

"Bang, ini badanku. Jadi yang tahu kondisi tubuhku itu aku, bukan dokter apalagi kamu."

Izack melirik Hendrik yang tersenyum geli, tapi lelaki itu tak membalasnya. Justru memijit keningnya perlahan, seakan menekan kecemasannya melihat wajah gadis itu tampak pucat.

"Sesekali nurut perintah dokter apa susahnya sih?"

"Bang, aku minum air cuman sebatas basah di tenggorokan. Itupun untuk keluarkan dahak. Sudah pasti air itu keluar lagi bersama dahak."

"Nggak boleh makan, aku sudah terbiasa lapar berhari-hari. Tapi kalau melarangku minum, nafasku bisa tercekik."

"Kamu kan masih bisa pakai selang oksigenmu," tukas Izack.

Chika menatap tajam mata Izack, lalu melengoskan wajah kembali. Ia melangkah pelan ke arah ranjang.

"Sudah, percuma ngomong sama orang nggak paham ilmu Biologi. Pergi sana!" usir Chika.

Spontan Hendrik menahan tawa geli sembunyikan wajah.

Ia tak tega melihat lelaki nomor satu di pucuk pimpinan AMN, diusir gadis yang sudah ditolong dan ditunggunya berhari-hari dengan sayang dan kelembutan.

Namun Izack adalah sosok lelaki yang pendiam dan tenang.

Dengan raut kesal, ia keluar dan membanting pintu agak keras meninggalkan ruangan yang diikuti Hendrik.

"Sabar, Bro!" ucap Hendrik menepuk punggungnya.

"Aku kesal benar, sama keras kepalanya."

"Andai itu laki, sudah aku ajak gelut."

"Gelut dengan ciuman kah?" tawa Hendrik terkikik membuat Izack melirik sekilas tak suka.

Hendrik kembali senyum-senyum. Lalu berdiri di belakang Izack. "Dan sayangnya itu orang yang kamu cintai?"

"Coba kalau bukan. Sudah kamu tinggal dari kemarin-kemarin."

Izack melengos kesal.

"Apa dia nggak punya teman akrab disini?"

"Kan sudah aku bilang. Dia itu anaknya seriusan, dan jarang ngobrol."

"Setahuku ada satu teman dekatnya, laki. Anak Hukum, juga. Dia sering datang ke kos."

Mendengar keterangan Hendrik. Raut Izack langsung muram.

Ia kembali menoleh. Tatapan matanya tertuju pada kaca pintu.

Ia memperhatikan gadis itu nampak kesakitan menahan dada, lalu kembali batuk dan meludah pada wadah kecil yang ia letakkan di sampingnya.

Ponsel Izack kembali bergetar. Itu adalah Ozin, tangan kanannya.

"Sebentar, Hen..." ucapnya melangkah pergi.

Hendrik menatap punggung Izack --yang tegap melangkah cepat sambil berbicara dengan nada suara tegas dan penuh instruksi.

"Wuekkhh... hampir nggak percaya. Orang sepertimu bisa jatuh cinta pada cewek seperti Chika." ujarnya lirih kembali menoleh pada Chika yang kembali membuka buku.

***

Pagi pun datang.

Saatnya kunjungan dokter pun tiba, diiringi perawat yang mengikutinya dari belakang.

Entah bagaimana, dokter itu masuk dengan senyum sumringah menyambut Chika yang masih terbawa rasa kesal.

"Gimana mbak? sudah tidak muntah lagi kan?"

"Tidak dok,"

Izack melengos tak suka dengan bohongnya.

Tapi Chika hanya memberi kode untuk diam.

"Bersyukurlah mbak, pacarmu ini sabar dan perhatian sekali."

Dua orang itu spontan melotot.

"Bukan pacar, dok," protes Chika.

"Nggak bakal aku punya pacar kejem begitu," cletuk Chika melirik Izack yang melotot.

Hendrik yang berdiri di belakang mereka hanya tersenyum geli.

Begitu juga dengan dokter tersebut, ia hanya senyum-senyum.

"Dok, ini selang drain kapan dilepas?"

"Sabar mbak ya... Itu masih ada sisa kotoran dari perut yang harus dikeluarkan," tunjuk Dokter pada kantong cairan darah kotor yang digantung di bawah bed.

"Sudah bisa kentut?"

"Dari hari pertama selesai operasi, Dok," tukas Chika kesal.

"Buang air besar?"

"Selesai operasi, malamnya saya bisa BAB, Dok,"

"Berarti ini hari ke kelima ya?"

"Ya sudah. Kenapa nggak boleh makan dan minum?"

"Tolong Sus, beri bubur dan susu."

"Kasihan amat nggak dikasih makan dan minum," canda dokter itu senyum sumringah meninggalkan ruangan.

"Yes!" lirik Chika, seolah mengejek Izack.

Merasa tak puas dengan pernyataan dokter, Izack segera keluar mengejar dokter tersebut.

Di sana ia bertanya cukup detil, hingga dokter tersebut senyum-senyum.

"Adeknya atau pacarnya, mas?"

"Calon istri, dok," jawab Izack yakin.

"Oh..." ucap dokter.

Ia segera pamit pergi sambil menahan senyum.

Izack kembali masuk ruangan.

Mendengar ucapan terima kasih Chika pada Hendrik, membuat dirinya seakan-akan tak terima jika ucapan itu ditujukan pada kawannya. Lelaki itu datang dengan mulut seakan terkunci rapat membuat Chika diam tak berkutik merasa bersalah.

Ia menyebelahi Hendrik yang duduk di sofa sebelah bed. Pandangan matanya lurus menatap Chika yang tak berani menatap dirinya.

"Aku yang capek membawamu kemari. Kenapa berterima kasihnya ke dia, bukan aku?" ujar Izack, kini lebih berani.

"Kalau aku berterima kasih ke kamu Bang... Bakal kamu ejek."

"Ouchhh! Hmmm... Chika..." Hendrik penuh isyarat, khawatir jika Izack marah.

"Lagipula statusku kan hutang, bukan gratis. Iya kalau hutang tanpa bunga, lha kalau dengan bunga. Itu sama saja kamu mencekikku perlahan."

"Jadi buat apa aku terima kasih ke kamu?"

"Weeiik...?!" ucap Hendrik melotot, lalu terkekeh.

"Kamu mau bunga dariku?" ucap Izack akhirnya memecah tawa.

"Bilang,"

Spontan Hendrik tertawa ngikik "Hmmm... hh!!"

"Ternyata seorang Izack bisa nge-gombal juga ya?" lirik Hendrik.

Raut Chika spontan merah merona, menahan malu campur bingung dan kikuk.

"Lagipula kalau bukan karena berisiknya anak buahmu, ini tidak akan pernah terjadi."

"Buku jatuh, karena aku kaget dengan suara kalian..." protes Chika, tak mau disalahkan.

Izack ngakak "Bukan karena berisik, kalii... tapi karena kamu memperhatikan aku, kan?" goda Izack.

Spontan Hendrik menoleh, ia melotot nyaris tak percaya mendengar kata-kata lebay dari mulut seorang Izack.

"Czihh?!!" Chika merasa terpojok, tapi tak bisa dipungkiri rona merah terlihat di wajahnya.

Dan tak bisa dipungiri, sebenarnya keduanya sudah mulai menyemai bibit-bibit cinta sejak pertama kali datang ke Rumah Sakit, bahkan mungkin sejak di kos.

Tapi keduanya sama-sama menjaga pertahanan yang sama-sama kuat.

Dan Chika sebagai cewek, tak ingin merasa dirinya dianggap mudah runtuh oleh godaan lelaki. Meski dirinya orang tak punya.

Namun menjaga harga diri adalah pertahanannya yang terakhir sebagaia seorang cewek yang dianggap lemah, baik secara fisik maupun materi.

"Ah... akui aja," goda Izack senyum-senyum.

Hendrik ikut mendekat pada Izack yang berdiri di samping bed.

"Kamu tahu nggak, Chika? Apa yang dia lakukan saat di depan kosku?"

"Diam-diam dia mencuri-curi fotomu dari bawah."

Spontan Izack membungkam mulut Hendrik. Tapi Hendrik menangkis tangannya.

"Kata siapa?!" teriak Izack tak mau kalah.

"Lihat aja itu ponselnya."

"Paling masih tersimpan di galerinya, tuh," riuh suara Hendrik, yang terus berusaha dibungkam Izack, membuat suasana gaduh.

Tak bisa dihindari, senyum malu pun tampak dari wajah Chika yang kini dalam posisi duduk, sementara Izack masih terus berusaha membungkam mulut Hendrik.

Dan Chika geli menekan perut dari rasa nyeri untuk tertawa.

Ruangan yang sejak pertama kali terasa mencekam dan membosankan.

Kini berubah lebih seru, saat terang-terangan Hendrik membongkar fakta Izack yang diam-diam galau menunggu masa operasi dirinya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar