Minggu, 24 Mei 2026

Bab 50. Marah dalam Diam

 Sore itu Tayoga gempar. Sosial media mempertanyakan; Kemana Negara hadir?

Bapak dan anak pekerja Sosial, mati kelaparan di tengah gegap gempita kota pendidikan yang berbudaya.

Izack yang baru selesai rapat dengan ketua aktivis mahasiswa beberapa daerah, kaget melihat kiriman foto istrinya digotong dari kolong jembatan jalan raya.

Tubuhnya lemas seperti orang hilang kesadaran.

Ia masih berdiri di ruang parkir, tapi pikirannya macet. Hingga dua orang lelaki datang menyapa. Termasuk Ozin, sopirnya.

"Ga, aku minta tolong, kamu kondisikan acara nanti malam, bisa?" ucapnya lemas.

"Ada apa, wajahmu lemas begitu?"

"Istriku darurat."

Lelaki itu melengos. Tapi ia tak sudi.

"Zack... Sadar nggak sih?" sudut matanya tajam melirik Izack. "Kamu ini wajah nasional AMN loh. Pergerakan kita ini soal martabat bangsa, bukan soal drama keluarga."

Sambil melangkah kecil mendahului, lelaki itu menggumam. "Istri macam apa yang nggak bisa diajak kerja sama dan selalu bikin ulah,"

"Kalu aku jadi kamu, sudah aku ceraikan dia sejak awal, tuh."

Glekkk...

Beberapa orang melotot kaget mendengar ucapan itu. Termasuk Ozin, yang tak bisa berkutik lagi.

Sorot mata Izack tajam. Ia melengoskan wajah dengan rahang mengeras.

"Kamu bisa bicara soal martabat bangsa, tapi ada rakyat mati kelaparan, kamu masih bisa sibuk rapat di ruangan ber-AC," ucapnya lirih.

Suasana mendadak kaku, tegang.

Lelaki itu menoleh, tak paham.

Tapi Izack tak mau buka suara.

Mendengar keributan kecil itu, seorang senior alumni AMN mendekat, menatap wajah Izack yang cemas.

Tiba-tiba datang lagi alumni AMN, dia adalah anggota CAPN, --professor muda. Ia langsung mempersilahkan Izack pergi, membuat semua terbungkam diam.

"Terimakasih banyak, Bang," ucap Izack setengah mengangguk, lemas.

Tanpa berkata apapun, Ozin langsung bergerak cepat membukakan pintu mobil. Izack duduk tenang, tapi tatapan kosong.

Sementara sang Professor yang masih berdiri di antara banyak orang kembali nyletuk, menatap orang-orang.

"Kalian semua belum pernah merasakan bagaimana rasanya istri digotong keluar dari kolong jembatan kan??"

"Maksudnya?!"

"Lihatlah berita. Kalian akan paham, jika kelak sudah berkeluarga," ujarnya pergi begitu saja.

Semua terdiam, memandang kepergian profesor muda yang berjalan cepat menuju kendaraannya sendiri.

Sementara kendaraan Izack telah melesat jauh.

***

Sepanjang jalan menuju bandara internasional Takata, Izack berusaha menghubungi teman-teman kos Hendrik, bahkan ia minta nomor teman kelasnya pada mereka. Tapi tak ada satupun yang tahu keberadaan Chika dibawa kemana, bagaimana kondisinya.

Sementara teman-teman cabang masih sibuk dengan narasi yang siap digelontorkan ke mass media, lewat teman-teman AMN se tanah air.

Izack berharap, dengan kepastian itu ia cukup tahu. Mengingat banyak agenda penting dengan orang-orang CAPN malam ini.

Tapi hingga matahari tenggelam, ia belum mendapatkan kabar kepastian istrinya dimana, bagaimana keadaannya. Hingga jelang masuk koridor pesawat, telepon baru bergetar.

Itu nomor tak dikenal.

"Selamat malam, Bang Izack... aku Rendra teman Chika."

Duarrr...

Izack menarik nafas dalam, menghentikan langkah sejenak, mendengarkan penjelasan singkat. Lalu mematikan dan berjalan cepat menuju badan pesawat.

***

Sekitar jam delapan malam, Izack baru keluar dari Bandara kota Tayoga. Ia tak sabar melewati perjalanan malam yang panjang dan lama. Perasaan galau tergambar jelas di wajahnya saat turun dari mobil di ruang loby rumah sakit.

Setelah mendapatkan informasi di ruang pelayanan, langkahnya cepat, mondar mandir di antara koridor rumah sakit. Hingga ia berhenti di depan bilik ruangan bertirai yang sedikit terbuka.

Melihat memar wajah Chika, dengan infus yang tertanam di tangan, dadanya sesak.

Rendra langsung minggir, saat lelaki itu masuk.

Udara langsung berubah, begitu Izack mendekat, dan menatap wajahnya yang pucat dan lemah.

Ia memeluknya erat.

Ciuman mendarat di kening, lembut.

Tubuh Chika seakan pasrah.

Di sudut ruangan, Rendra menatap pemandangan itu dalam diam. Ia baru paham, sosok lelaki yang tenang dan dingin saat disorot media itu bisa panik dan cemas saat perempuannya terganggu.

"Ya sudah Chik, aku pamit dulu."

"Mohon maaf sebelumnya, Bang," ucap Rendra menyodorkan tangan.

Tapi jangankan menatap, menoleh pun tak sudi.

"Kamu pikir dengan ucapan maaf, cukup. Bung?"

"Bang..." desis Chika, menggenggam pergelangannya yang mengeras.

Chika memberi isyarat Rendra segera keluar.

"Kuat ya, Ren," ucapnya, sebelum akhirnya lelaki itu menutup tirai, pelan.

Izack tak peduli dengan kepergiannya.

Dan untuk yang kedua kalinya, Chika melihat suaminya marah dengan diam. Dan itu, sama sekali tak enak dilihat.

Tak lama dari itu, dua orang perawat datang melepas infus dan mengatakan kondisi Chika yang sudah dibolehkan pulang.

Seorang perawat datang membawakan kursi roda.

"Perlu aku dorong, Kak?"

"Oh, nggak perlu, Sus. Aku bisa jalan sendiri."

Izack langsung menatap tajam matanya. Raut Chika pun mengkeret, nurut. Ia duduk di kursi roda.

Sampai di lorong, mereka bertemu Rendra lagi. Wajah Izack tak sudi menatap.

"Aku pulang dulu, Ren. Kamu nggak apa-apa, kan?"

"Aman, Chika. Aku sudah ikhlas kok."

"Oke."

"Kalau ada apa-apa, telepon aja."

Spontan Izack melotot. Rendra yang paham, tersenyum samar.

"Sudah... kamu istirahat aja dulu," ucapnya. "Balik kos, atau ikut suami ke Takata?"

"Kos, lah. Seminggu lagi kan berangkat KKN," jawabnya penuh percaya diri. "Nggak sabar aku bisa pergi ke hutan Pulau Terluar," ucapnya yang terakhir kali.

Izack yang berhasil memindahkan ekpedisi Chika, hanya tersenyum samar. Hingga akhirnya ia menuntun turun dari kursi roda.

"Aku bisa jalan sendiri, Bang."

"Sudah... Kamu itu cuma punya dua kekuatan --lari kencang atau pingsan. Makanya, kalau sudah tahu seperti itu. jangan berulah."

Dengan matanya yang kecil, Chika melotot tajam. Membuat Izack hanya tersenyum mencubit pipi.

Melihat adegan itu, Rendra hanya senyum-senyum. Sampai kendaraan itu melaju meninggalkan area rumah sakit kecil..

Hening.

Tak ada kata, kecuali dialog singkat Izack dan driver mengarahkan tujuan.

Tiba-tiba Izack berkata: "Besok ulangi lagi. Jangan tanggung-tanggung, panjat itu gedung anggota dewan sambil orasi," cletuknya gemas.

Izack mengeluarkan ponsel, membuka beberapa foto gadisnya meloncat ke pagar, hingga menjatuhkan diri ke trotoar.

"Ternyata istriku bermental preman, eh!" cletuk Izack.

Chika melotot kaget, berusaha merebut. Tapi ia sudah menaikkan ponselnya ke atas, membuat Chika refleks mengangkat tubuh, dan wajah mereka saling bertemu. Izack mengecup bibirnya singkat. Tapi gadis itu mengusapnya cepat.

"Ampunn..." tawa Izack menggeleng.

Dengan mata berbinar, Chika mulai semangat bercerita.

"Yang buat aku deg-degan, gemeteran itu waktu Satpam ngejar kita," ujarnya terkekeh.

"Belum makan?"

"Belum" jawabnya, meringis.

"Nah, kan?!"

"Niatku keluar dari Perpustakaan itu mau makan, Bang..." protesnya.

"Ya sudah, nikmati," jawab Izack datar.

Sambil memutar ulang video itu, Izack kembali berbicara dengan nada menggoda. Matanya menatap dalam, seakan membaca sesuatu dari rekaman tersebut.

"Tapi dari caramu memanjat, sepertinya ini bukan yang pertama kali, ya?"

Chika menahan tawa geli, membayangkan kebiasaannya memanjat pagar demi menghemat waktu,

Izack tak menjawab, ia hanya menikmati senyum tawa istrinya yang jauh lebih hidup dibanding awal-awal mereka menikah di kota Takata.

Sesaat ia menoleh, tatapannya tajam memperhatikan bibirnya yang basah oleh jilatan lidah berulang kali.

"Kapan-kapan pakai pelembab bibir, biar nggak kering," goda Izack menyentuh bibirnya.

Chika menoleh tajam, matanya menyipit kesal. Tapi bukannya merasa bersalah, Izack justru terkekeh menikmati ekspresinya.

"Kalau mau wanita seksi yang glowing. Tuh! banyak di luar sana!" tunjuknya pada perempuan yang melewati depan mall.

Izack tersenyum lebar, tapi tak membalas.

"Aku paling benci jadi bahan tontonan bangsa kalian," lanjutnya

"Ah... kenapa sih. Cuman saran aja. Kalau nggak mau ya sudah, nggak usah kemana-mana."

"Ingat," bisiknya lirih. "Sekalipun orang bilang istri itu nomor dua di belakang lelaki, tapi aku nggak suka kamu atur-atur."

Izack tertawa samar. "Oke-oke, Nona cantik."

Ia kembali melirik, meraih jemarinya yang kecil tapi sedikit berurat kebiruan karena kulitannya yang pucat. Ia mengecupnya hangat.

"Nggak salah aku pilih istri kamu," pandangannya menatap lurus.

"Kamu tahu?" tatapnya. "Tanpa make up pun, kamu sudah terlihat seksi kok, dan aku suka itu."

Chika langsung menarik bibir, kesal. "Aku paling benci dengar perempuan seolah jadi manekin yang diperbincangan lelaki."

Spontan Izack dan driver tertawa.

"Ampun, Sayangku..." Ia mengusap wajahnya dan tertawa kecil.

"Sepertinya semua lelaki itu seperti itu deh, Non..." kata Driver meredakan tawa.

Chika bingung, mengapa mereka tertawa.

"Begini lho, aku ini laki-laki dan aku ini suamimu. Sesekali bisa nggak terima pujian, tanpa kamu bedah lebih jauh."

Chika garuk-garuk. "Aku itu paling nggak bisa dapat pujian, Bang. Karena maknanya bisa berubah di kepalaku."

Driver yang awalnya hanya senyam-senyum, kini tak bisa menahan tawa, pecah terkekeh.

"Aku nggak bisa membayangkan kalau kalian punya anak, Mas," sahut Driver.

"Jangan-jangan begitu lahir, si bayi bisa langsung ajak debat Mamanya, gara-gara dilahirkan. Apalagi kalau anaknya kembar, bisa debat rebutan keluar duluan."

Izack terkekeh membayangkan. Meskipun sebenarnya ia tak suka sama si Driver yang terlalu banyak ikut ngomong.

Mulut Chika yang hendak menjawab, langsung dicium bibirnya singkat.

"Masih mau ajak debat lagi?" tatapannya tajam, seakan memintanya diam.

Dan itu membuat Chika nyengir paham.

Driver yang merasa suasananya mendadak hening, sejenak memastikan keduanya dari spion yang masih saling menatap dalam diam.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar