Minggu, 24 Mei 2026

Bab 49. Saat Negara Absen

 Siang itu Chika dan Rendra berdiri di lantai dua gedung perpustakaan. Rendra bersandar pada pagar stainless, memandang sudut-sudut jendela kaca ruang perpustakaan yang tampak dari luar. Sementara Chika berpegang pada pagar besi yang dingin memandang serentetan awan putih berlatar awan biru di balik rimbun pepohonan. Angin siang itu menyapu wajah mereka yang tengah asyik ngobrol setelah sekian lama terpisah.

Lalu lalang mahasiswa terlihat semakin cepat bergerak begitu terdengar bel pertanda pelayanan segera ditutup.

Rendra melipat tangan ke dada sembari tersenyum melirik Chika penuh makna.

"Wooo... akhirnya kamu tersandung pernikahan adat di desamu juga."

Chika hanya tertawa teringat peristiwa itu.

"Masih ingat, artikel yang kamu tulis dua tahun lalu?"

"Itu mirip boomerang buatmu, sih."

"Untungnya dia kecenganmu, manjur doaku kan?" sindir Rendra.

Chika mengernyit "Kapan?"

"Waktu ulang tahunmu di Basecamp AMN."

Spontan Chika tertawa geli mebayangkan betapa tegangnya kala itu.

"Nasibmu memang top banget, Nak."

"Andai orang desa tahu, Chika tinggal di Apartemen. Auto gempar."

Mulut Chika mendadak terkatup. Ada sesuatu yang ingin ia sangkal.

"Tapi menurutku, tinggal di rumah desa dengan halaman luas berlatar rumput hijau yang segar itu jauh lebih damai dibanding hidup di sekotak bangunan bertingkat, Ren."

Spontan Rendra cekakaan "Dasar, ndeso!"

Chika menoleh tenang tak sudi.

"Lhooo... tanpa orang desa, mereka nggak bisa makan."

"Iya lah, iya!" jawab Rendra, membuat Chika tertawa menang.

"Lha emang benar, kan?" Chika ngotot.

"Mana ada padi, tebu, ikan, daging yang keluar dari gedung-gedung bertingkat seperti itu." protesnya tak mau kalah.

"Heh!! Paling sebel kalau ngomong sama kamu."

Lagi-lagi Chika hanya tertawa lebar.

Orang yang berlalu-lalang melihat keduanya, terutama Chika dengan tatapan curiga. Sayup-sayup ia mendengar suara.

"Dia istrinya ketua umum AMN kan?"

"Hm, Bang Izack," dua gadis yang melintas itu melirik singkat.

"Tapi mereka ini memang sering berdua kemana-mana sejak dulu, kan?"

"Aneh aja, sudah punya suami keren masih mau sama lelaki seperti itu." desisnya.

Glekkk!

Perasaan Chika seperti tersaduk.

Ia kembali menegakkan punggung, menjaga sikap dari slengekannya.

Sadar bahwa dirinya sudah milik orang lain, dan canda tawa seperti itu dianggap menggoda lelaki lain. Sementara Izack dikenal sebagai sosok kharismatik berkelas yang anti dengan godaan wanita.

Rendra berpaling, menatap Chika sejenak.

"Hari gini, orang seperti kita ketemu jodoh seperti Kak Izack itu nggak mudah."

"Maksudnya?"

"Sudahlah berwajah ganteng, kaya, cerdas, berkelas, anak jendral bintang empat. Apa kurangnya coba?"

"Justru beban berat, Ren."

"Kok bisa?"

"Bayangkan aja! Setiap jengkal langkah kita harus tertata, disuruh sempurna. Tahan emosi meski rasanya ingin meledak."

"Sekarang coba pikir, siapa sih yang nggak tersinggung? Hanya gara-gara mau ketemu sama wartawan, aku disuruh beli baju baru."

Spontan Rendra melongo "Itu yang bodoh kamu, bukan dia," ledeknya tertawa tanpa ampun.

Dua tangan Chika sudah bertengger di pinggang, pertanda ingin protes. Tapi Rendra menertawakan dari ujung kaki hingga kepala.

Lalu kembali terdiam, menggelengkan kepala.

"Hei! Lihat!" isyarat Rendra tertuju pada Dhani, --si anak Pasca Sarjana Kehutanan yang paling ganteng dan putih di antara sekian banyak senior-- berjalan keluar dari ruang kelas.

"Kamu kenal dia?" tanya Chika.

"Nggak,"

"Soalnya aku pernah lihat kalian jalan berdua keluar dari hutan belakang kampus," kata Rendra seakan mengingatkan, -membuat Chika spontan meringis kecut teringat kegalauannya saat itu, bahwa dirinya melempar batu dan tak sengaja mengenai kepala senior itu.

Sebelum lelaki itu berjalan melewati depan mereka, Rendra memberi kode Chika dengan dagunya cepat.

"Hai!" sapa lelaki itu santai.

"Gimana? sudah ada yang goal belum proyeknya?" tanyanya spontan.

Chika meringis "Baru buat proposal, Kak."

"Oh..." Dhani mengangguk kecil.

"Perlu bantuan?" tawarnya lagi.

Rendra yang berdiri di depan Chika senyum senyum memberi kode, membuat Chika makin bingung.

"Nggak apa-apa, Kak?" tanya Chika ragu.

Dhani tersenyum tipis "Emm... jam 4 nanti ya? Aku tunggu di Perpus bagian rak kehutanan," jawabnya.

Chika mengangguk "Ok, baik Kak."

"Bye!" Dhani melambaikan tangan, santai.

Begitu Dhani menghilang di balik tangga ujung bangunan, Rendra tertawa.

"Kenapa sih?!" ucap Chika sewot.

Rendra terkekeh. "Enggak... menarik aja? Kenapa harus bagian rak kehutanan."

Chika melengos "Dasar, pikiranmu tuh yang kemana-mana."

"Barangkali aja ada tugas juga, kan?"

Rendra hanya tersenyum, tapi mulutnya siap-siap menimpali.

"Chika, aku ini lelaki."

"Aku tahu bagaimana lelaki suka atau tidak sama perempuan."

Chika terdiam, ia tak langsung menangkap apa maksud Rendra. Sebelum ia bertanya, Rendra sudah melanjutkan kata-katanya.

"Kalau mau aku nasehati, sebaiknya lebih berhati-hati deh, dalam berteman."

"Apalagi dua minggu ke depan bakal ada demo besar-besaran anak mahasiswa dan elemen masyarakat."

Chika mengernyit, seakan mencerna semua yang Izack lakukan akhir-akhir ini. Dan memang leaki itu jarang menceritakan detil kejadian di luar kepada dirinya.

"Nah! aku malah khawatir, kalau kalian jadi ketemuan di Perpustakaan, bakal ada kabar nggak enak lagi. Gosip tentang kalian."

"Halah!!" protes Chika.

"Loh, Chik. Izack itu memang tokoh kharismatik. Tapi ingat, netizen kita itu omongannya pedas loh. Aku yakin, orang seperti dia pun banyak musuhnya."

"Jadi, baiknya kamu hati-hati dalam bergaul, terutama teman lelaki."

Chika terkekeh. "Termasuk kamu,"

"Bisa jadi,"

"Dan dari tatapan Kak Dhani, sepertinya dia tertarik kamu tuh."

"Nah, coba bayangkan seandainya kalian ketemuan dan gosip itu menyebar cepat sampai ke Izack. Bakal jadi masalah besar buat kalian tuh."

"Kita itu ketemuan hanya untuk membahas proposal proyek, Ren."

"Pikiranmu yang terlalu jauh kemana-mana" Chika kecap, menggeleng kesal. "Ahhsyy!! Nggak asyik kamu, orangnya."

"Terlalu serius!"

"Aku kenal baik Bang Izack, seperti apa orangnya."

Tanpa menunggu tanggapan Rendra lagi, Chika berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Rendra.

Namun tiba-tiba saja sorot matanya yang tajam seakan kesedot pada bocah lelaki kecil yang tengah mengais sampah dari luar pagar Gedung Perpustakaan di mana mereka berdiri.

Melihat reaksi Rendra yang tiba-tiba tegang berjalan cepat mendahuluinya, Chika penasaran.

"Kenapa Woi!?"

"Mirip adikku yang kabur dari rumah," tatap Rendra bagai elang siap menyambar mangsa.

"??!!"

Chika menatap sejurus pandangan matanya.

Bocah lelaki dengan baju lusuh itu tengah mengais tumpukan sampah di pinggir jalan, luar pagar halaman.

"Bantu aku, yuk!" suaranya tegang, menatap lurus si bocah di bawah sana.

"Kenapa?"

"Ayo turun," refleknya menarik pergelangan.

"Hei, tangan!" Chika melotot.

"Oh, Sory," ucapnya, lepas.

Setengah lari ia menuruni anak tangga. Chika kewalahan mengikuti.

Tak ada kata, hanya langkah yang bergema di antara lorong sempit.

Wajah keduanya tegang, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Chika tertatih-tatih menggamit perut, sementara Rendra lari lebih dulu begitu turun dari tangga.

"Kamu yakin dia adekmu?" pekiknya, ngap-ngap.

Rendra menoleh, menatap wajah pucat Chika.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya.

"Nggak apa-apa," jawabnya menegakkan punggung.

"Hei! Mau kemana kamu?" teriaknya lagi.

Lagkah Rendra mendadak terhenti, menoleh.

"Lewat situ aja!" tunjuknya pada pagar.

Rendra melotot. "Manjat pagar?! Serius kamu."

Chika menatap tegang.

"Aku nggak kuat kalau suruh jalan jauh."

Rendra pasrah, ia berbalik arah, lalu mendekat tembok pagar.

"Serius lukamu nggak apa-apa?"

"Ya... mau gimana lagi?" ucap Chika.

Dengan satu kaki pijakan, ia melompat ke atas pembatas taman, satu kaki lagi naik ke atas pot besar, lalu memijak punggung Rendra.

"Sory, jaketmu kotor."

"Jaket kotor masih bisa dicuci, perutmu luka lagi? "

"Yang penting hutangku lunas, Ren," tawanya lebar, siap meloncat.

Dan...

Bug!!

Perutnya menghantam keras, sisi tembok

"Akhh!!" lengkingnya kecil, merintih. Matanya berkaca-kaca menahan nyeri yang menggores, menusuk kulit bekas jahitan. Lalu ia kembali meloncat turun.

Brugh!!

"Akhhh!!!" pekiknya, nyengir menekan perut.

"Kamu nggak apa-apa?" serunya di balik teralis besi.

Giliran Rendra berusaha naik pagar, dari ujung halaman Satpam berteriak. Tapi lelaki gondrong itu sudah terlanjut naik, ia meloncat turun saat Satpam itu lari mendekat.

Keduanya tertawa ngakak begitu sampai di luar pagar. Mereka mulai lari, sementara satpam di dalam sudah ngomel membawa stik kayu.

Sesaat langkah Chika terhenti, menjepit perut.

"Sana kejar Ren, sory aku sudah nggak kuat lagi."

Rendra menoleh, khawatir. "Gimana?"

"Yang penting adikmu, bodoh!" usir Chika.

Tatapan Rendra makin bersalah. Tapi saat ia lari, si bocah tahu, menjadikan anak lelaki dekil itu lari gesit menuju lorong jembatan.

Siang itu terik matahari benar-benar menyengat. Ditambah kepulan asap mini bus yang salip-salipan depan perempatan kampus, membuat suasana benar-benar terasa pengap.

"Andai aku tahu itu adikmu..." pikir Chika.

Ia kembali berjalan dengan langkah tertatih-tatih mengikuti Rendra menuruni lorong jembatan.

Sunyi.

Desiran suara arus sungai perlahan mencekam. Bau bangkai mayat menyeruak pekat. Ia berdiri di pertengahan anak tangga yang cukup curam.

Suasana itu seperti memanggil-manggil memorinya.

Tragedi berdarah keluarganya dulu.

Nafasnya mulai sesak.

Sampai di detik itu, tubuhnya mulai limbung. Tapi ia bersikeras, menuntaskan anak tangga.

Ia melihat Rendra membuka tirai gubuk gelap berdinding papan reklame yang nempel di dinding beton jembatan, spontan bau bangkai menguar teramat pekat, membuat Rendra menutup hidung.

Entah apa yang terjadi dengan lelaki itu, tiba-tiba saja tubuhnya lunglai, ia roboh seiring guncangan punggungnya yang kuat. Ia menjerit keras layaknya anak kecil ditinggal ibunya.

"Bapakkk...!!!"

Tubuh Chika mulai gemetar melihat sosok lelaki yang ia kenal ketangguhannya menjerit keras. Dengan susah payah ia menyeret keluar sosok mayat dari gubuk papan reklame. Sementara di sebelah bocah lelaki itu terkulai lemas.

Ia tak henti-hentinya menepuk pipi bocah itu agar bangun. Berulang kali ia menekan dadanya, membuat nafas buatan dari mulut. Wajah Rendra putus asa. Tapi bocah lelaki bertubuh dekil itu tak lagi bergerak, dan ia pun menjerit keras.

"Adiiii...!!!"

Saat itu nafas Chika benar-benar sesak, ia tak tahan melihat dua sosok mayat dan bau anyir menyengat bercampur lalat yang berdengung di sekitar tubuh yang terbujur kaku.

Andai saja aku tahu itu adikmu. Batin Chika remuk.

Sesaat dinding waktu seperti runtuh, tersedot dalam tragedi berdarah keluarganya malam itu...

Dini hari, merayap seperti misteri.

Suara truk berhenti di ujung jalan.

Sepatu boot.

Pelan. Berat. Mendekat.

Chika kecil membeku di bawah ranjang. Bau kayu, debu, dan kardus menempel di hidungnya. Tangannya menggenggam gunting kecil, gemetar tak terkendali.

Dubrakkkk!!

Suara kayu pecah.

Jeritan kakaknya—terpotong.

Sepatu boot itu berputar-putar di kamar. Berhenti. Bergerak lagi.

Ia menahan napas hingga dada terasa sesak.

Lalu suara ibunya.

Pendek.

Habis.

Peluit melengking dari luar pagar.

Semua langkah menjauh.

Sunyi.

Chika kecil mengintip dari celah tirai. Remang cahaya bulan memantul di ujung sepatu boot yang menyeret tubuh ayahnya keluar halaman.

Hanya sekelebat.

Lalu hilang di balik pintu pagar kayu.

Ia berlari. Ingin memanggil. Tak ada suara keluar.

Selimut merah muda itu masih ada di sana.

Terbujur.

Tak bergerak.

Dan malam itu berhenti selamanya

Saat itulah telinganya berdenging. Ia mencoba mempertahankan tubuhnya yang mulai lemas saat kakinya menyentuh tanah.

Sejak itu, ia tahu. Dunia tak pernah kekurangan orang pintar, tapi selalu kekurangan orang yang benar-benar peduli.

Kesadarannya melayang, suara Rendra seperti datang dari sumur yang dalam.

Pelan, dan...

"Brughh!!"

***


Bab 50

Marah dalam Diam

Sore itu Tayoga gempar. Sosial media mempertanyakan; Kemana Negara hadir?

Bapak dan anak pekerja Sosial, mati kelaparan di tengah gegap gempita kota pendidikan yang berbudaya.

Izack yang baru selesai rapat dengan ketua aktivis mahasiswa beberapa daerah, kaget melihat kiriman foto istrinya digotong dari kolong jembatan jalan raya.

Tubuhnya lemas seperti orang hilang kesadaran.

Ia masih berdiri di ruang parkir, tapi pikirannya macet. Hingga dua orang lelaki datang menyapa. Termasuk Ozin, sopirnya.

"Ga, aku minta tolong, kamu kondisikan acara nanti malam, bisa?" ucapnya lemas.

"Ada apa, wajahmu lemas begitu?"

"Istriku darurat."

Lelaki itu melengos. Tapi ia tak sudi.

"Zack, kau ini sadar nggak sih?"

"Kamu ini ketua umum nasional, loh!"

"Istri macam apa yang nggak bisa diajak kerja sama dan selalu bikin ulah,"

"Kalu aku jadi kamu, sudah aku ceraikan dia sejak awal, tuh."

Glekkk...

Beberapa orang melotot kaget mendengar ucapan itu. Termasuk Ozin, yang tak bisa berkutik lagi.

Izack mengusap wajahnya, frustasi.

Suasana mendadak kaku.

"Kamu anggap AMN main-main, apa?"

Mendengar keributan kecil itu, seorang senior alumni AMN mendekat, menatap wajah Izack yang kalut.

Tiba-tiba datang lagi alumni AMN, dia adalah anggota CAPN, --professor muda. Ia langsung mempersilahkan Izack pergi, membuat semua terbungkam diam.

"Terimakasih banyak, Bang," ucap Izack setengah mengangguk, lemas.

Tanpa berkata apapun, Ozin langsung bergerak cepat membukakan pintu mobil. Izack duduk tenang, tapi tatapan kosong.

Sementara sang Professor yang masih berdiri di antara banyak orang kembali nyletuk, menatap orang-orang.

"Kalian semua belum pernah merasakan bagaimana rasanya istri digotong keluar dari kolong jembatan kan??"

"Maksudnya?!"

"Lihatlah berita. Kalian akan paham, jika kelak sudah berkeluarga," ujarnya pergi begitu saja.

Semua terdiam, memandang kepergian profesor muda yang berjalan cepat menuju kendaraannya sendiri.

Sementara kendaraan Izack telah melesat jauh.

***

Sepanjang jalan menuju bandara internasional Takata, Izack berusaha menghubungi teman-teman kos Hendrik, bahkan ia minta nomor teman kelasnya pada mereka. Tapi tak ada satupun yang tahu keberadaan Chika dibawa kemana, bagaimana kondisinya.

Sementara teman-teman cabang masih sibuk dengan narasi yang siap digelontorkan ke mass media, lewat teman-teman AMN se tanah air.

Izack berharap, dengan kepastian itu ia cukup tahu. Mengingat banyak agenda penting dengan orang-orang CAPN malam ini.

Tapi hingga matahari tenggelam, ia belum mendapatkan kabar kepastian istrinya dimana, bagaimana keadaannya. Hingga jelang masuk koridor pesawat, telepon baru bergetar.

Itu nomor tak dikenal.

"Selamat malam, Bang Izack... aku Rendra teman Chika."

Duarrr...

Izack menarik nafas dalam, menghentikan langkah sejenak, mendengarkan penjelasan singkat. Lalu mematikan dan berjalan cepat menuju badan pesawat.

***

Sekitar jam delapan malam, Izack baru keluar dari Bandara kota Tayoga. Ia tak sabar melewati perjalanan malam yang panjang dan lama. Perasaan galau tergambar jelas di wajahnya begitu kakinya turun dari mobil di ruang loby rumah sakit.

Setelah mendapatkan informasi di ruang pelayanan, langkahnya sigap nyaris berlari. Ia mondar mandir tanya ruangan pada petugas. Hingga sampailah ia di depan bilik ruangan bertirai yang sedikit terbuka.

Melihat sekelebat bayangan wajah Chika, tangannya terkepal. Nafasnya tertahan, hingga dua mata itu saling bertemu.

Melihat luka memar di sekitar wajah dan infus yang tertanam di tangannya, dada Izack terasa sesak.

Rendra memilih minggir saat Izack masuk ke bilik kecil itu. Ia bisa merasakan udara di sekitar langsung berubah.

Tanpa ragu Izack mendekat, menatap wajah Chika yang pucat dan lemah. Lalu memeluknya erat.

Ciuman mendarat di kening, lembut dan penuh makna.

Tubuh Chika yang lemah seakan pasrah menerima pelukannya.

Di sudut ruangan, Rendra menatap pemandangan itu dalam diam. Ia baru paham, sosok lelaki yang tenang dan dingin saat disorot media itu bisa panik dan cemas saat perempuannya terganggu.

"Ya sudah Chik, aku pamit dulu."

"Mohon maaf sebelumnya, Bang," ucap Rendra menyodorkan tangan.

Tapi, jangankan menatap, menoleh pun tak sudi.

"Kalau sampai terjadi sesuatu yang serius, aku tuntut kamu, Bung!" ucap Izack, dengan rahang mengeras.

"Baik, Bang."

"Mohon maaf, sekali lagi," ucap Rendra setengah mengangguk pada Izack.

"Kamu pikir dengan ucapan maaf, cukup?"

"Bang..." desis Chika, menggenggam pergelangan Izack.

Chika memberi isyarat Rendra segera keluar.

"Kuat ya, Ren," ucap Chika, sebelum lelaki itu menutup tirai, pelan.

Izack tak peduli dengan kepergiannya.

Untuk yang kedua kalinya, Chika melihat suaminya marah dengan diam. Dan itu, sama sekali tak enak dilihat.

Dua orang perawat datang melepas infus dan mengatakan kondisi Chika yang sudah dibolehkan pulang.

Seorang perawat datang membawakan kursi roda.

"Perlu aku dorong, Kak?"

"Oh, nggak perlu, Sus. Aku bisa jalan sendiri aja."

Izack langsung menatap tajam matanya. Chika pun nurut, dudk di kursi roda. Izack mengambil alih gagang dorong.

Sampai di lorong mereka bertemu Rendra. Wajah Izack tak sudi menatap.

"Aku pulang dulu, Ren. Kamu nggak apa-apa, kan?"

"Aman, Chika. Aku sudah ikhlas kok."

"Oke."

"Kalau ada apa-apa, telepon aja."

Spontan Izack melotot. Rendra yang paham, tersenyum samar.

"Sudah... kamu istirahat aja dulu,"

Rendra mengikuti kepergian pasangan itu hingga sampai depan ruang loby.

"Okey, maaf banget sebelumnya," ucap Rendra.

Izack mulai sibuk memegang ponsel. Sesekali matanya mencari kendaraan pesanan.

"Balik kos, atau ikut suami ke Takata?"

"Kos, lah. Lusa aku kan berangkat KKN," jawab Chika.

"Ikut aku," sahut Izack tegas, seperti perintah.

"Lah?!!" Chika melotot.

Izack tak langsung jawab, ia langsung menggamit pundaknya begitu berdiri dari kursi roda.

"Aku cuma ingin kamu istirahat lebih baik. Di sana ada dokter pribadi, ada orang yang siap antar," ucapnya lembut seakan sedang meyakinkan.

"Ogah, nggak bebas," wajah Chika bersungut, bergitu sampai depan pintu mobil.

Melihat adegan itu, Rendra hanya senyum-senyum. Alih-alih ikut campur, ia hanya memperhatikan gontok-gontokan namun manis, hingga keduanya masuk ke dalam mobil, hingga kendaraan melaju meninggalkan tempat itu.

Hening.

Tak ada kata, kecuali dialog singkat Izack dan driver mengarahkan tujuan.

Tiba-tiba Izack berkata, setengah menggumam.

"Kamu itu cuma punya dua kekuatan --lari kencang atau pingsan. Makanya, kalau sudah tahu seperti itu. jangan berulah."

Chika langsung menatap tajam, tak suka.

Tapi bukannya jengkel, izack tersenyum samar.

"Besok ulangi lagi. Jangan tanggung-tanggung, panjat itu gedung anggota dewan sambil orasi," cletuk Izack gemas.

Izack mengeluarkan ponsel, membuka beberapa foto saat gadis itu berusaha meloncat naik ke pagar, hingga loncat ke trotoar.

"Ternyata istriku bermental preman, eh!" cletuk Izack.

Chika melotot kaget, berusaha merebut. Tapi Izack menaikkan ponsel itu ke atas, membuat Chika mengangkat tubuhnya. Saat itulah dua wajah saling bertemu, Izack mengecup bibirnya singkat. Tapi Chika reflek mengusap bibirnya.

"Ampunn..." tawa Izack menggeleng.

"Yang buat aku deg-degan, gemeteran itu waktu Satpam ngejar kita," ujarnya terkekeh.

"Belum makan?"

Chika meringis "Belum"

Izack mendengus pelan, "Nah, kan?!"

"Niatku keluar dari Perpustakaan mau makan, Bang..." protesnya.

"Ya sudah, nikmati," jawabnya datar.

Sambil memutar ulang video itu, Izack kembali berbicara dengan nada menggoda. Matanya menatap dalam, seakan membaca sesuatu dari rekaman tersebut.

"Tapi dari caramu memanjat, sepertinya ini bukan yang pertama kali, ya?"

Chika menahan tawa geli, membayangkan kebiasaannya memanjat pagar demi menghemat waktu,

Raut Chika mulai cemas, menggigit bibirnya berulangkali hingga merah, basah. "Please, Bang. Aku balik ke kost aja."

Izack tak menjawab, ia hanya menikmati rengekan manja istrinya yang tak pernah ia dengar sebelumnya.

Sesaat ia menoleh, tatapannya tajam memperhatikan bibirnya yang basah oleh jilatan lidah berulang kali.

"Kapan-kapan pakai pelembab bibir, biar nggak kering," goda Izack menyentuh bibirnya.

Chika menoleh tajam, matanya menyipit kesal. Tapi bukannya merasa bersalah, Izack justru terkekeh menikmati ekspresinya.

"Kalau mau wanita seksi yang glowing. Tuh! banyak di luar sana!" tunjuknya pada perempuan yang melewati depan mall.

Izack tersenyum lebar, tapi tak membalas.

"Aku paling benci jadi bahan tontonan bangsa kalian," lanjutnya

"Ah... kenapa sih. Cuman saran aja. Kalau nggak mau ya sudah, nggak usah kemana-mana."

Chika mendengus kesal. "Ingat," bisiknya lirih. "Sekalipun orang bilang istri itu nomor dua di belakang lelaki, tapi aku nggak suka kamu atur-atur."

Izack tertawa samar. "Oke-oke, Nona cantik."

Ia kembali melirik, meraih jemarinya yang kecil tapi sedikit berurat kebiruan karena kulitannya yang pucat. Ia mengecupnya hangat.

"Nggak salah aku pilih istri kamu," pandangannya lurus, menatap pemandangan di luar.

"Kamu tahu?" tatapnya, berpaling. "Tanpa make up pun, kamu sudah terlihat seksi kok, dan aku suka itu."

"Aku paling benci dengar perempuan seolah jadi manekin yang diperbincangan lelaki."

Spontan Izack dan driver tertawa.

"Ampun, Sayangku..." Ia mengusap wajahnya dan tertawa kecil.

"Sepertinya semua lelaki itu seperti itu deh, Non..." kata Driver meredakan tawa.

Chika bingung, mengapa mereka tertawa.

"Begini lho, aku ini laki-laki dan aku ini suamimu. Sesekali bisa nggak terima pujian, tanpa kamu bedah lebih jauh."

Chika garuk-garuk kepala. "Aku itu paling nggak bisa dapat pujian, Bang. Karena maknanya bisa berubah di kepalaku."

Driver yang awalnya hanya senyam-senyum, kini tak bisa menahan tawa, pecah terkekeh.

"Aku nggak bisa membayangkan kalau kalian punya anak, Mas," sahut Driver.

"Jangan-jangan begitu lahir, si bayi bisa langsung ajak debat Mamanya, gara-gara dilahirkan. Apalagi kalau anaknya kembar, bisa debat rebutan keluar duluan."

Izack terkekeh membayangkan. Meskipun sebenarnya ia tak begitu suka, si Driver terlalu banyak ikut campur.

Mulut Chika yang hendak menjawab, langsung dicium bibirnya singkat.

"Masih mau ajak debat lagi?" tatapannya tajam, seakan memintanya diam.

Dan itu membuat Chika nyengir paham.

Driver yang merasa suasananya mendadak hening, sejenak memastikan keduanya dari spion yang masih saling menatap dalam diam.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar