Minggu, 24 Mei 2026

Bab 44.Satu Malam tanpa Rumah

 Sore itu matahari makin condong ke Barat.

Dan Chika telah meninggalkan halaman kos sejak tiga jam yang lalu.

Sepanjang perjalanan, ia bingung harus tidur di mana malam ini. Selain tak punya teman akrab, ia juga kurang aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa.

Hingga suara adzan maghrib pun terdengar begitu keras, seolah meluluhkan rasa nyeri yang berhasil ia tahan sejak pagi tadi.

Ia sadar, langit pun mulai gelap saat keluar dari masjid. Lalu sengaja membaringkan tubuhnya di atas rerumputan depan halaman Masjid yang terasa dingin.

Hari itu adalah akhir pekan. Hari dimana kota Tayoga seperti menyandarkan kepala setelah lima hari bergelut dengan pilar-pilar pengetahuan yang menjadi jargon kota, --yang kini bersaing dengan Mall dan hotel.

Masihkah pendidikan bagus milik semua anak negeri tanpa terkecuali, atau hanya segelintir orang yang berkantong tebal seperti Izack yang menganggap kuliah tak lagi penting.

"Ahhh... benar-benar melelahkan," pikirnya. Ia meraup wajah, menutup mulutnya yang menguap lelah.

Ingin rasanya ia menghempaskan ocehan pikirannya yang terus menggedor-gedor otaknya sepanjang hari ini hingga matanya terpejam tanpa terasa.

Tenang, nyaman dan damai...

Entah berapa lama ia tertidur, sadar-sadar terbangun oleh suara adzan isya. Chika pun bergegas ke kamar mandi meninggalkan dua ranselnya begitu saja.

***

Di sudut lain kota Tayoga, Heni sengaja menunggu seniornya di depan teras kamar Hendrik. Ia mulai bergosip ini itu tentang Chika, --begitu ada kabar seniornya dari Jakarta hendak datang malam itu. Tapi Hendrik tak peduli, bahkan terlihat nggak suka mendengar gunjingan Heni tentang juniornya.

Saat terdengar mobil diparkir di depan kamar Hendrik, Heni langsung keluar menunjukkan wajah paniknya.

"Kemana Chika, Hen?" tanya Izack.

Heni mulai cerita kejadian siang tadi, tapi Izack tak sabar. Hendrik muncul dari kamar, Izack langsung memberikan komando pada lelaki itu untuk segera lapor ke kantor polisi dan minta bantuan para teman-teman di kantor Cabang AMN untuk mencari.

"Apa nggak terlalu berlebihan sih, Zack?"

"Kita cari sama-sama aja dulu,"

"Ya sudah, terserah."

Izack diam sejenak, menyisir wajah mereka satu persatu.

"Kalian tahu, kira-kira kemana?"

Seseorang nyletuk. "Kalau dia suntuk, biasanya jalan kaki pulang pergi melintasi jalanan menuju pusat kota, Bambuna, Bang."

Bambuna adalah pusat keramaian kota Tayoga, --daerah yang menjadi ikon pagelaran seni budaya, dan tempat diskusi seru para mahasiswa, yang jaraknya kurang lebih 15km dari kos.

"What?!" semua menoleh kaget. Termasuk Izack yang mendelik.

"Tapi, sepertinya kok nggak mungkin ya..."

"Kata teman-teman tadi, dia bawa dua atau tiga tas ransel sekaligus," ujar teman kos Hendrik.

Glekkk!!!

Izack meraup wajah putus asa.

"Padahal belum sepenuhnya pulih, itu..." gumam Izack khawatir.

"Lagipula bukannya kerugian kanopy sudah kamu bayar, ya?"

Heni kembali nyletuk. "Setahuku, kata pak kos tadi, masanya Chika sudah habis. Malah telat dua minggu,"

"Memangnya dia nggak cerita ke kamu?" tanya Hendrik ke Izack.

"Kalau dia cerita, sudah aku lunasi satu tahun ke depan, Hend!" suara Izack lemas.

Izack mengernyit, menekan keningnya sendiri.

"Itulah hebatnya Chika, Zack... sekalipun tahu suaminya kaya, tapi nggak mudah menggantungkan hidupnya pada siapapun," jelas Hendrik, membuat Heni melengos tak suka.

Izack menarik nafas dalam. Ada rasa bersalah yang terlalu dalam di sana.

"Ternyata itu alasan dia kemarin ngotot mau pulang," gumamnya sendiri.

Alis mata Izack mengernyit lama seakan memikirkan keberadaan kemana istrinya pergi. Ia memilih pergi setelah Hendrik memberikan kunci motornya, --yang diiringi beberapa orang untuk berpencar.

Sejenak langkah Izack terhenti.

"Apa ada teman yang sering dikunjungi?"

"Rendra," jawab mereka serempak.

"Siapa itu?"

"Teman dekat," jawab seseorang, membuat beberapa orang melirik penuh tanya.

"Hm,"

"Cowok berambut gondrong?" tanya Izack lagi.

"Ya," jawab Hendrik.

"Mantan pacar?" tanya seseorang polos.

Semua menatap orang itu, seolah menghakimi mentah-mentah.

"Sepertinya sih bukan. Orang... dia juga sudah punya cewek."

"Oh," ucap Izack samar.

"Dimana kosnya?" tanya Izack lagi.

"Aduh, nggak tahu Bang..."

"Carikan info lagi, Hen..." kata Izack sambil lalu. Tapi langkahnya terhenti, kembali menatap Heni.

"Kalau sudah dapat, segera kirim ke aku."

Bibir Heni mengerucut, nyinyir. Begitu mereka meninggalkan halaman kos, menyisakan suara knalpot yang berisik.

Tiba-tiba seorang perempuan nyletuk. "Haaawww... keren."

"Sejak kapan dia peduli sama cewek, Bang?" ucapnya, membuat Heni mencibir.

Dan Hendrik tak melihat wajah itu.

Hendrik menarik nafas dalam. "Mana ada lelaki yang nggak peduli sama istrinya, kecuali lelaki bodoh."

Seseorang melotot kaget. "Loh?! Beneran itu pernikahan adat?"

"Terus, kenapa sampai uang kos aja nggak bisa bayar?" ujar Heni sinis.

Hendrik yang sudah nangkring di atas motor, seketika berpaling. Tapi ia melengos, tersenyum kecut mendengar kata-kata Heni. "Chika itu orangnya nggak sepertimu, Hen..."

"Dia nggak bakal ngomong soal itu, dan nggak mudah menerima bantuan," cletuk Hendrik.

Hendrik segera menyalakan mesin, lalu tanpa berkata-kata, ia langsung menggeber motornya.

***

Malam semakin larut, dan suasana pun makin senyap, seiring ditutupnya pintu-pintu besi mall dan pertokoan di sepanjang jalan.

Ia tak henti menggosok-gosokkan telapak tangan, sekadar menghangatkan tubuhnya di balik jaket parasutnya yang tipis.

Sesaat langkahnya mulai lambat dan terhenti di depan halaman parkir toserba yang gelap, --di saat pandangannya mulai berputar-putar lemas, mual dan pusing.

"Please, Chika. Kuat!!" pekiknya lirih.

Gadis itu bersandar lemah, memejamkan mata bersandar pada batang besi baliho.

"Mau kemana, mbak..."

Suara itu memecah kesadarannya.

Spontan ia melotot, menoleh kaget pada suara perempuan tadi. Ia memastikan, dengan pandangannya yang buram, --jika perempuan itu ada di sana.

Di sudut emper pertokoan yang gelap, seonggok tubuh terbungkus kain di antara gunungan keranjang rongsok plastik dan kardus.

Chika memaksakan senyum letih.

"Oh..."

"Nggak tahu, Bu..."

"Mbaknya darimana?" tanyanya lagi.

Akhirnya ia duduk mendekati perempuan itu, tepat di bawah kaki bocah kecil yang terbungkus kain. Ia meringkuk dalam dekapan si ibu.

"Saya... dikeluarkan dari kos, Bu," ucap Chika jujur.

Ia bahkan tak peduli dengan sandang mahasiswa. Yang ia tahu, nyawanya di ujung tombak. Bertahan atau mati kelaparan di pinggiran jalan.

Matanya bahkan tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah si ibu, kecuali mata dan giginya dalam kegelapan.

"Oh..." jawab si ibu, paham.

Sambil menyelonjorkan dua kakinya, si ibu pemulung menata nafasnya menatap kerlingan mata Chika yang terlihat cekung dan letih.

"Mau minum, mbak?"

"Aku punya air putih, ini..." ucapnya. Si ibu itu menyodorkan sebotol air mineral yang sepertinya sudah diisi ulang.

"Ibu masih punya yang lain?"

"Sudah... diminum saja, nggak apa-apa."

Chika nyengir terbayang bekas luka jahitnya "Tidak bu, terimakasih banyak."

"Nggak apa-apa mbak..."

Setengah hati, akhirnya Chika membuka botol mineral dan pura-pura menenggaknya sedikit, demi membasahi tenggorokannya yang kering.

Hening...

Hanya suara kendaraan yang sesekali melintas, memekakkan telinga dan mengaburkan suara si ibu.

"Sekarang apa-apa serba mahal, tapi harga rongsok dari dulu sampai sekarang ya segitu-segitu aja."

Chika menoleh, mencoba mengelus kaki si anak kecil yang tertutup kain.

"Rumah ibu dimana?"

"Jauh mbak..." ujarnya sambil mengurut-urut kaki.

"Ibu nggak pulang?"

"Nggak cukup buat naik bus, mending disimpen dulu. Kalau sudah dapat banyak baru bisa buat pulang."

Glekk...

Wajahnya tertampar keras mendengar penuturan si ibu.

"Oh..."

Malam semakin pekat, dan dingin pun mulai kian terasa.

Sambil menyangga dagu, pandangan si ibu pemulung menerawang jauh.

"Katanya, kalau presidennya ganti yang ini, bakal bela wong cilik. Tapi nyatanya, sama aja. Apa-apa tambah mahal."

"Kita orang kecil, makin hari makin sulit hidup di negeri ini," keluh si ibu.

Suara itu seakan menancap kuat dalam benaknya, tapi tubuhnya terkalahkan oleh rasa kantuk, lapar, pusing dan mual tak karuan.

Perlahan keringat panas dingin mengucur dari punggung, merasakan tubuhnya gemetar tak berdaya. Tapi melihat sekelebat bayangan gerobak pedagang kaki lima, matanya terbelalak. Dengan bibirnya yang kering, nafasnya yang putus-putus, nyaris tak sanggup mengangkat dua ransel berat.

Ia hanya menoleh sekilas dan mengangguk pada si ibu, mulutnya sudah tak sanggup lagi berucap pamit.

"Oalah, cah ayu... semoga diterangkan jalan hidupmu, nak..." gerutu si ibu mencoba paham. Lalu kembali meletakkan tumpukan kardus sebagai bantalan kepala.

Mobil sedan mendadak berhenti, tepat di samping Chika yang berjalan di atas trotoar, --menahan beban berat dua tas ranselnya yang sedikit robek.

Ia kira itu Izack, langkahnya terhenti menunggu kaca jendela hitam terbuka otomatis. Namun wajah om-om muncul di baliknya, ia menawarkan tumpangan dengan senyum mengerikan.

Spontan keringat panas dingin makin mengucur, nafasnya berat tertahan di dada. Tapi ia berusaha mengerahkan sisa tenaganya agar tak limbung.

Dengan suaranya yang serak kering, cepat-cepat ia berkata: "Oh, maaf Om... kamu salah orang!" senyumnya dingin tak bersahabat.

Tapi lelaki di balik pintu itu masih saja merayunya dengan kata-kata yang menjijikkan hingga ia berteriak.

"Hei belang!! mau aku potong kemaluanmu apa?" teriaknya melotot, siap melemparkan tas nya.

"Plash!!!" sedan itu melaju cepat.

Dua orang lelaki yang mengendarai motor pelan pun, mendadak berhenti.

"Ada apa mbak??" sapa lelaki itu.

"Oh, nggak apa-apa mas," jawab Chika menggeleng keras.

"Hati-hati mbak, sudah malam. Cepat pulang, jangan jalan sendirian di sini. Jalanan ini agak rawan kalau malam," pesan lelaki itu dan pergi.

Chika hanya nyengir menahan ngilu. Ia menepuk dada keras, menahan deg-degan serta gemetar panas dingin.

"Bagaimanapun, ternyata perempuan itu butuh tempat bersandar," pikirnya menggeser persepsi Aku nggak butuh lelaki, yang selama ini ia yakini.

Ia bahkan lupa, maagnya makin melilit. Dan bekas luka di perut makin nyeri tak tertahan.

Pandangannya tersangkut gerobak di sudut jalan yang tak jauh dari sana.

Tapi sialnya, tiga orang lelaki berpawakan tinggi besar berjalan sempoyongan membawa botol berjalan menuju ke arahnya.

Jantungnya berpacu cepat.

Ingin rasanya ia menjerit atau lari sekeras mungkin. Tapi tubuhnya justru makin berat.

Ia ingat kata Rendra; orang mabuk itu tubuhnya lemah.

Dengan sisa tenaganya yang nyaris tumbang, ia berjalan cepat dan tegap, memaksa dirinya sadar dan siaga, saat melintasi ketiga pemabuk itu yang melirik ke arahnya dengan tawanya terkekeh.

Begitu agak jauh dari mereka, Chika menghela nafas sembari menahan bekas luka jahitannya mendengarkan pikirannya yang riuh dan gaduh.

"Jangan buat angkat berat-berat dulu ya mbak," suara perawat itu masih terngiang betul.

"Oh... Apa baiknya aku tinggal di kost Rendra dulu aja, ya?" pikirnya seakan sadar, terlalu jauh untuk ke terminal.

"Tapi gimana kalau ketahuan Bang Izack?" pikirnya.

"Ah!" helaan nafasnya lepas.

Kecuali air kran masjid dan setenguk air dari ibu pemulung, belum ada lagi makanan yang masuk ke perutnya sejak pagi tadi.

"Dimana kamu sekarang, Ren?" keluhnya, melihat lelaki gondrong yang duduk di warung tenda pinggir jalan.

Di kota ini, entah sejak kapan warung pinggir jalan berubah jadi kedai kopi, cafetaria, bahkan resto mahal karena tampilan ruang yang menarik.

"Teh hangat satu, Mas," pinta Chika segera duduk di bangku panjang.

Ia melongok keranjang gorengan yang telah ditumpuk, habis.

Dua orang lelaki yang tengah asyik ngobrol, tiba-tiba saja berhenti begitu kedatangan Chika. Keduanya berbisik lirih seperti tengah membincangkan dirinya, yang sesekali curi-curi pandang memastikan wajah di layar ponselnya.

"Malam-malam begini mau kemana, mbak?" tanya si pemilik warung, mengaduk teh.

Lelaki itu melirik dua tas ransel yang terlihat penuh bertengger di sebelah Chika.

"Istrinya Bang Izack, ketua umum AMN kan?" potong dua pemuda di sebelahnya.

"Hmm?!" Chika mengangkat alis, pura-pura bingung.

Chika langsung tertawa seolah ingin mengaburkan suasana. "Salah orang, kamu mas," jawab Chika.

"Mau kemana mbak?" tanya salah satu dari mereka.

Teman di sebelahnya tampak sigap mengetik pesan di ponsel.

"Baru datang dari rumah," jawab Chika sekenanya.

"Oh..." jawab mereka tak percaya.

Segelas teh itu segera diterima, Chika meneguknya berkali-kali hingga habis.

Sesaat pemuda itu keluar, dan menelpon dengan suara lirih tergesa-gesa.

Awalnya Chika cuek, namun melihat gelagat mencurigakan dua orang pemuda itu, Chika segera membayar dan meninggalkan warung.

Ia baru sadar, tubuhnya gemetar saat dipaksa jalan cepat.

"Darimana juga mereka tahu aku ini istrinya Bang Izack?"

"Haduh?!! Benar-benar memalukan," gerutunya.

Ia ingin mempercepat langkah. Tapi kakinya justru makin sulit digerakkan.

Sejak itu pikirannya kian berkecamuk kemana-mana, terpikir berbagai kemungkinan terburuk dari dua orang lelaki itu. Bahkan kini dengan sisa-sisa tenaganya, ia mulai menggertakkan otot-ototnya seakan siap beradu.

"Beem-beem!!"

Spontan Chika meloncat, menoleh ke samping. Tapi ia malas memastikan wajah lelaki itu.

"Beem-beem!!" bunyi klakson itu berkali-kali, membuat Chika makin kesal.

Tapi ia diam, malas menoleh, mengira itu adalah lelaki belang seperti sebelumnya. Bahkan pikirannya yang riuh semakin gaduh mendengar suara klakson motor yang nyaris memekakkan telinga.

Saking tak tahannya dengan suara klakson, spontan dibantingnya tas ransel dengan sekuat tenaga. Ia melotot kesal seakan menantang pengendara di sampinnya.

"Hei Bung!" teriak Chika bersungut, nafasnya putus-putus.

Lelaki itu membuka helm, tubuh Chika mendadak terbius. Berkali-kali ia membenjatkan mata, tapi senyum itu justru mengembang dengan dua lesung pipitnya.

"Ayo pulang," ucap Izack tenang.

Saat itulah mata Chika berkaca-kaca, seitik air jatuh, hingga tubuhnya melorot, menekuk kedua lututnya ke dada. Ia mulai menangis diam-diam dengan wajah tertunduk.

Chika masih belum percaya sampai lelaki dengan celana jins biru gelap dan sweater merah hati itu turun, memungut ransel yang dibanting.

Izack jongkok, persis di depan gadis itu. Mengembangkan senyum, lalu memeluknya tenang.

"Syukurlah... cewekku yang strong ini masih bisa menangis," canda Izack, menyibakkan rambut yang kini terlepas dari karet kucir.

"Siapa yang nangis?" elaknya menghapus kasar air mata.

Izack hanya tersenyum geli melihat ekspresinya. Tapi ia tak mau membalas.

"Sudah makan?"

Chika menggeleng.

"Makan dulu, yuk."

Izack bangkit, lalu berusaha mengangkat dua tasnya. Tapi begitu diangkat,

"Breee...ttt!!" resleting jebol memuntahkan isi tas gembung yang memperlihatkan semua baju dan pakaian dalamnya yang usang, dan buku yang tertekuk.

Bukan main wajah Chika seperti dicambuk malu. Ia meraup semua barang-barangnya, lalu merebut paksa ransel itu.

Lelaki itu menahan, tapi Chika merebutnya dengan sekuat tenaga.

Izack pasrah.

Chika kembali jongkok, lalu menjejalkan paksa semua barangnya ke dalam tas.

Izack diam, ia ikut jongkok di depannya, mengusap wajahnya yang berpeluh campur air mata. Perlahan ia menarik nafas panjang. Tatapannya tenang.

"Apa sebenarnya yang dia pikirkan?" batin Izack bergejolak.

Izack melengoskan wajah tak habis pikir melihat semua barang-barangnya yang usang. Sementara Chika frustasi menekan paksa dan meresletingkan tas. Tapi yang ada, robekan justru semakin lebar.

Izack menarik tangannya. Tapi Chika meronta, menghempas kesal.

Makin keras menolak, makin keras pula Izack merengkuh dan mendekapnya erat membuat Chika pasrah menangis sejadi-jadinya.

Dengan gerakan ragu, ia memberanikan diri melingkarkan tangannya ke tubuh lelaki itu, membuatnya menarik nafas lega.

Izack mengeluarkan ponsel dan menekan panggilan.

"Hendrik, tolong bawakan tas."

"Hm."

"Ya, sudah."

"Aku kirim maps aja."

"Oke, aku tunggu," ujarnya segera memutus panggilan.

Izack menekan tubuh Chika yang hendak melepas dekapannya.

"Nggak enak dilihat orang, Bang," suaranya terdengar melemah.

"Tapi enak jadi gelandangan?" gurau Izack membuat Chika sempat senyum.

Izack melepas rengkuhannya perlahan menatap penuh cinta wajah gadisnya yang terlihat kurus dan dekil. Tapi Chika mulai merasakan pandangannya berkunang-kunang, perut mual disertai keringat dingin yang mengucur, hingga keseimbangannya perlahan limbung.

Sayup-sayup terdengar suara motor dari jauh yang digeber dengan kencangnya, dan perlahan berhenti tepat di samping mereka.

Chika yang tak kuat menahan beban tubuhnya, seketika terpekur lemas mendekap dua ranselnya dan...

"Brukkk!!!" tubuhnya meringkuk jatuh.

"Chika?! Chik," Izack menepuk pelan.

Nyaris Hendrik meloncat turun dari motor, kaget.

Izack sempat mendongak. "Tolong beresi itu."

Ia segera membuka ponsel dan membuat panggilan.

"Hm, iya Pak. Tolong sesegera. Saya kirim mapsnya."

Hening menyelimuti keduanya.

Dengan cekatan, tangan Izack mengangkat tubuh Chika dalam dekapan.

"Maafkan Abang, sayang..."

Izack memeluknya erat, seperti pelukan ibu pada anaknya.

Tak berapa lama datang mobil ambulans dengan sirine memekakkan telinga.

"Oke Bang, siap."

Dua orang pemuda di warung tadi segera datang, ia menjelaskan dengan cepat. Dan Izack menyalaminya dengan selembar uang, membuat dua pemuda itu tersenyum lebar.

"Terimakasih, Bang."

Dan kini, Chika yang terbaring tak berdaya di atas tandu, sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans.

"Terimakasih informasinya dek," ucap Izack.

"Sama-sama Bang,"

Saat itulah ambulans pergi meninggalkan motor dan beberapa orang yang berkerumun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar