Minggu, 24 Mei 2026

Bab 28. Diam Bukan berarti Selesai

 Menjelang sore, Izack tiba di Markas AMN Pusat.

Di depan, ia sudah disambut beberapa orang pengurus. Wajahnya penuh harap-harap cemas saat Izack turun dan membukakan pintu mobil untuk Chika.

Raut Chika yang biasanya tampak dingin, perlahan surut dan lunak. Ia hanya bisa menatap punggungnya yang berjalan cepat diikuti langkah anak buahnya tanpa pedulikan dirinya yang berjalan di baris paling belakang.

Di antara langkah-langkah itu, Chika merasa sangat kecil. Dan baru kali ini ia sadar betul, bahwa dunia Izack terlalu luas dari yang ia kira.

"Andai aku tahu hari itu juga, pasti aku kejar, Bang," kata seseorang berjalan cepat mengikuti langkah Izack di belakangnya.

Spontan langkahnya terhenti.

"Terus, selama ini ngapain aja, kalian?"

Mereka terdiam membeku. Izack mengedarkan pandangan pada pengurus inti yang berdiri tepat di belakangnya.

"Jangan-jangan kalian juga skongkol sama Fendi."

"Jawab jujur!!" Izack meledak.

Semua terdiam.

"Enggaklah, Bang..."

Di sela ketegangan, pandangan Izack tertuju pada sosok Chika yang berdiri paling belakang. Seperti biasa, ia menggigit bibir bawah tegang campur takut.

Izack menarik nafas, kesal sendiri. Ia berbalik. Melangkah lebih cepat, mereka pun mengikuti lelaki itu menaiki tangga.

Sementara Chika berdiri mematung, masih di ruang bawah. Orang-orang berlalu begitu saja –cepat dan sibuk seperti angin.

Tak satupun orang menyapa, apalagi memintanya ikut serta.

Cemas pun menjalar, ia menekuk punggungnya sesekali, menahan kram perut yang makin menjadi-jadi.

Seorang lelaki datang, "Maaf Kak, saya diminta Bang Izack jemput kakak untuk istirahat di ruangannya, lantai tiga."

"Ya?!" Chika kaget.

Semua rasa tadi seolah pudar seketika.

Tapi rasa nyeri di ulu hati membuat langkahnya terhenti di pertengahan tangga. Tubuhnya melemah, dan nafasnya mulai sesak tersengal. Karena pandangan mulai limbung, ia bersandar pada dinding, lalu merosot perlahan...

"Kak!" pekik lelaki itu panik.

Itulah suara terakhir yang Chika dengar setelah tubuhnya terjatuh. Tangan itu langsung menahan tubuhnya. Tapi gadis itu sudah tak sadar.

***

Entah berapa lama kesadarannya hilang. Ia melirik sekitar, menatap jendela kaca sudah gelap.

Ia baru sadar mendapati dirinya terbaring di sofa lembut berselimut selimut empuk dalam ruangan yang cukup kedap, namun dingin.

Suara orang diskusi menggema di ruang sebelah. Seorang perempuan di seberang sofa mengetik cepat, serius menatap layar laptopnya.

Ia mencium aroma ketegangan di sana. Bukan hanya di ruangan itu, namun seisi gedung seolah bekerja cepat dalam senyap.

Chika bangun, menatap sudut-sudut ruangan sekitar. Perempuan itu menghentikan jemarinya, lalu meletakkan laptopnya ke meja. Ia tersenyum hangat menyambut dirinya, lalu menawarkan segelas minuman hangat di depan meja.

"Diminum dulu, Kak... Bang Izack masih rapat di ruang sebelah."

"Oh," Chika mengangguk, mengambil alih gelas dengan tangan gemetar.

Perempuan itu kaget.

Karena takut tumpah, Chika menarik tangannya lagi.

"Kakak masih pusing?"

Chika tersenyum pias.

"Mau aku panggilkan Bang Izack?"

"Nggak usah, Kak. Aku tunggu di sini aja," jawabnya, menekan suaranya yang sedikit gemetar.

***

Sementara di ruang sebelah, tepat dengan ruang kerja Izack. Suasana rapat terdengar tegang hingga akhirnya ketegangan itu pecah oleh suara seseorang.

"Kalau yang aku baca sih, ada sekelompok orang yang memang nggak ingin suara CAPN ini naik, Bang."

"Nah! Itulah yang aku tunggu dari kalian, sejak kemarin."

"Lalu apa hubungannya sama keuangan kita?" tanya seseorang.

"Keuangan kita adalah jantung kehidupan AMN, Bro."

"Tanpa pendanaan yang kuat, program kita beberapa bulan ke depan nggak bisa jalan."

"Kalian tahu sendiri, berapa besar biaya listrik kita dalam satu bulan. Terutama tim IT kita yang segede itu untuk taraf organisasi mahasiswa seperti kita."

"Kalau dia nggak gila-gilaan cari donatur, nggak jalan sudah," ucapnya menunjuk Izack.

Izack kembali angkat suara.

"Itulah mengapa... seleksi untuk masuk kemari begitu ketat."

"Kalau hanya untuk mencari penghasilan tambahan, sudah jelas kita tolak di seleksi pertama."

"Jelas, ini bukan perusahaan yang menghasilkan keuntungan finansial kalian."

"Tapi setidaknya kebutuhan kalian sehari-hari sudah tercukupi. Karena yang kita butuhkan di sini adalah kekuatan berpikir, idealitas dan loyalitas."

"Karena jelas, orang-orang seperti itulah yang tak bisa dibeli dan ditakuti."

"Jadi... aku menduga Fendi memang diiming-iming fee lebih besar dari kita."

Helaan nafas terdengar seolah menghela suasana yang tegang.

"Karena selama ini kita berjalan sendiri-sendiri. itulah yang membuat sistem kita kacau."

"Pemerintah jalan tanpa kendali dari dunia akademik, dunia akademik merasa tinggi dengan pengetahuannya, sementara kita di sini berteriak lantang menyuarakan ketidak seimbangan yang terjadi di lapangan. Dan rakyat, hanya menjadi penonton panggung sandiwara itu semua."

"Itu yang menjadikan negara ini terasa pincang."
"Sekalipun kampus dibangun sedemikian megah, dan gedung-gedung pemerintah berdiri makin kokoh. Rasanya itu semua hambar..."

"Kitalah yang menjembatani itu semua. Mengubah bahasa rumit dunia akademik menjadi bahasa publik."

"Makanya kita duluan yang dilumpuhkan, bukan mereka."

"Strategi klasik: lumpuhkan dari hulu. Bobol jaringan keuangan, ganggu infrastruktur data, rusak nama baik. Kalaupun bisa, jebloskan ke penjara sekalian."

"Tapi lagi-lagi rakyat yang hanya menjadi penonton --lewat sosial media, yang bisa dibuat sedemikian rupa, sayangnya nggak tahu permainan itu semua."

"Yang mereka tahu hanyalah, siapa yang bagi-bagi bantuan, merekalah yang di elu-elukan."

Rudy –anggota baru di AMN-- bertanya lirih, "Berarti kita benar-benar diawasi, Bang?"

Izack mengangguk.

"Bukan cuma diawasi Rud. Kita sedang digerogoti pelan-pelan."

"Makanya jangan heran kalau tiba-tiba satu persatu dari kita mulai digoda, atau malah dilumpuhkan dari dalam."

Hening. Suasana makin mencekam.

Tiba-tiba terdengar pintu terketuk.

"Masuk," jawab Izack.

Semua terdiam menatap salah satu tim IT yang berwajah sumringah.

"Diplomasi kita dengan Kedubes Saxana berhasil, Bang."

"Dan untungnya mereka lengah, uang belum mereka dicairkan."

"Serius?!"

Lelaki dengan kemeja biru tua itu beranjak cepat, menuju ruang server yang dipenuhi dengan layar CCTV dan layar-layar monitor. Di sana, ia langsung disambut.

Lelaki yang wajahnya paling mencolok di antara lainnya itu menarik nafas pelan dan berat. Tatapannya tajam ke arah titik-titik merah yang berkedip di layar monitor, menggambarkan alur dana yang mengalir secara berlapis-lapis –dari satu akun ke akun lainnya—melesat antar negara dalam hitungan menit.

Seseorang menarik kursi untuk Izack duduki. Tapi Izack menolak halus.

"Hubungi Alumni senior kita di kedubes Dagita, juga."

"Baik, Bang."

"Berapa banyak yang hilang?"

"Tujuh ratus juta, Bang," jawab seorang staf sambil mengetik cepat di keyboard.

Izack meraup wajah, lalu menyangga dagu dengan tangan satunya yang terlipat.

"Aku yakin ini lebih dari 'seorang Fendi'," ucap seseorang, di samping Izack.

"Padahal biaya S2, kamu yang tanggung, ya?"

Izack hanya menarik nafas berat, melengoskan wajah.

"Ah, sudahlah,"

Lelaki itu semampai itu berdiri enam langkah di belakang layar monitor besar. Sesekali melirik arlojinya yang melingkar di pergelangan. Dua orang lelaki tepat di belakangnya berbisik lirih.

"Kalau Izack selesai masa jabatannya, apakah tim IT kita masih ada?"

Tiba-tiba Izack nyletuk. "Masih ada, dan harus. Tanpa ini, mau jadi apa organisasi sebesar ini?"

Dua lelaki itu langsung menutup mulut saling melirik.

Sementara dari lorong depan ruangan --diikuti perempuan tadi, Chika berjalan pelan. Perempuan itu sigap membukakan pintu ruang IT.

Mendengar pintu dibuka, beberapa orang menoleh. Termasuk Izack.

"Buat istirahat aja dulu," ucapnya pelan, penuh isyarat.

Orang-orang masih tegang menatap layar-layar, seolah tak peduli dengan kedatangan Chika di sana.

Chika hanya mengangguk, seakan memberi isyarat untuk dibiarkan ia di sana.

Izack masih berdiri, menyimak obrolan tegang tim IT melacak, mongkonfirmasi dan menghubungi satu persatu para pihak terkait di luar negeri. Sementara Izack terus memberi kode untuk setiap jawaban.

Chika yang masih duduk dibelakang mereka, depan dinding tertunduk malu. Ia malu pada dirinya sendiri selama ini yang terlalu meremehkan lelaki yang dianggapnya lemah. Lalu mencibir, bahwa AMN hanyalah organisasi politik mahasiswa seperti biasanya, --yang cuma pintar berargumen di publik, berisik demo dengan spanduk nggak jelas, yang terkadang cuman ikut grubyak-grubyuk arus merusak fasilitas umum.

Tapi ternyata di balik itu, AMN bukan sekedar gerakan biasa.

Dalam diamnya, seorang Izack yang sekilas suka nongkrong, memiliki strategi tajam yang nyaris tak terbaca publik. Berani berkorban, bahkan bertaruh, yang justru jarang ditayangkan di layar TV atau sosial media.

Mereka melawan. Tapi musuh mereka bukan hanya aparat lagi –saat di jalanan. Tapi ada sistem kekuasaan yang terlalu lihai menyamar jadi kenormalan.

Dan Izack, orang yang dulu ia kira hanya pintar ber-retorika, ternyata bertarung sampai di garis terluar antar logika dan kepercayaan.

Hening.

Entah apa yang terjadi dari bergaining alot di telepon seluler itu. Hingga akhirnya mereka menghela nafas.

"Tim inti, tolong masuk ke ruanganku," ucap Izack.

"Tolong tim IT. Jangan sampai lolos, kejar bagaimanapun caranya, berapapun nominalnya."

"Tunggu, Bang!" seru salah satu dari mereka.

Semua melongok ke layarnya. Termasuk Izack.

Spontan ia teriak menjerit.

"Yeehhhh!!"

"Gimana?"

"Selamat, Bang!"

"Sistem kita bisa mengheck salah satu Bank mereka, dan uang itu berhasil kita tarik balik."

"Serius?!"

Mereka langsung menatap layar monitor built in lelaki berkaca mata tebal itu.

"Beneran, Bang!!" matanya terbelalak.

Semua langsung tertuju ke monitornya. "Gimana bisa?"

"Rico, dilawan!"

Spontan orang yang dihadapan layar itu tegang, dan teriak.

"Alhamdulillah...!!"

Spontan Rico sujud ke lantai, membuat Izack terharu.

Seseorang nyletuk, "Jangan tuding kami bersekongkol lagi dengan Fendi, deh. Bang."

"Bagi kami, itu menyakitkan."

"Oke, aku pegang janji kalian."

Izack terdiam sesaat, lalu menoleh pada Chika yang masih berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ada senyum samar yang ia tawarkan kepadanya, tapi ia hanya mengangguk kecil membuat Izack tersenyum lega.

"Maaf... kalau aku terlalu keras," ucap Izack akhirnya.

Orang-orang kembali menatap layar monitor seseorang dengan penuh was.

Sejenak kembali mencekam.

"Hanya 300juta. Bang," ucap lelaki itu tegang.

"Nggak apa-apa," ucap Izack terbawa.

Beberapa orang mengangguk, sebagian lainnya menatap Izack dengan mata mulai berkaca.

Izack menatap jam tangannya, lalu menghela nafas panjang.

"Ayo, Tim inti," ucap Izack.

Beberapa orang mulai mundur dari hadapan layar menuju pintu keluar yang sebagian menawarkan senyum pada Chika. Tapi mereka tak banyak berkutik, hanya melangkahkan kaki hingga ruangan kembali sepi kecuali tim IT yang masih serius menatap layar, dengan sesekali melakukan panggilan cepat dari microphone yang terpakai.

Saat semua telah berlalu, lorong mulai lengang, Izack makin mendekat. Ia memeluknya hangat, dan Chika pasrah dalam dekapan.

"Maafkan aku, ya Bang..."

Izack menarik tubuhnya, sedikit menunduk, menatap matanya dalam.

"Mimpi apa aku semalam dapat ucapan kata maaf dari istriku?"

Chika tersenyum getir, matanya berkaca-kaca. "Tanpa ulahku, mungkin kamu nggak akan dapat masalah sebesar ini."

Izack menarik nafas dalam.

"Tanpa kamu, hari-hariku akan semakin keras. Non..."

"Terimakasih, ya. Sudah mau menunggu," jarinya menyelipkan rambutnya yang tergerai panjang ke telinga.

Tanpa ragu ia mencium punggung tangannya, lalu menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut dan mendekatkan hidungnya. Ia menatap bibir kecil itu yang masih basah, lau menyesapnya pelan namun cukup mendebarkan jantung.

Spontan Chika mendorong dadanya. "Nggak baik dilihat orang," bisiknya lirih.

Izack menoleh singkat. Tim IT itu seakan tak peduli.

"Oh, berarti nanti di kamar, kah?" godanya nakal.

Chika melotot, Izack tersenyum gemas.

Sambil merangkul, Izack menarik langkahnya agar beriringan. "Istirahatlah di ruanganku," ucapnya. Wajah mereka saling menatap sejenak, dan langkah merekapun meninggalkan ruangan itu.

Senyap.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar