Izack kembali ke meja. Geraknya jelas, menunjukkan rasa lapar yang sudah ia tahan sejak keluar dari rumah sakit. Ia kembali mencuci tangan dan melanjutkan makan malamnya perlahan.
Tapi, belum sepuluh menit ia menikmati makannya, ponselnya kembali bergetar. Nama Firda muncul di layar. Ia menghela nafas –perempuan itu adalah ketua AMN Pulau Polebo. Cewek cerdas yang selalu lantang menyuarakan hak masyarakatnya di sana.
Ponsel itu dibiarkan bergetar. Sekali... dua kali... tiga kali. Sampai akhirnya panggilan itu berhenti.
Begitu, lagi dan lagi.
Izack memilih menghabiskan makannya dulu. Baru setelah piringnya benar-benar bersih, ia bangkit, kembali mencuci tangan, lalu meneguk air mineral pelan.
Saat itulah ponselnya kembali bergetar.
Kali ini, ia mengangkatnya.
"Halo, Bang," suara Firda terdengar tegas di seberang.
"Ya, Fir... maaf, aku belum sempat konfirmasi ke ketua CAPN. Aku masih di perjalanan," ucap Izack, mencoba terdengar tenang.
Dari ujung telepon terdengar tarikan nafas ringan, seperti sedang menahan emosi.
"Bang, beberapa hari ini kamu sering mangkir. Mana sosok Izack yang kukenal dulu dengan idealitasmu dulu?"
Izack terdiam, menunggu Firda kembali bicara.
"Masyarakat di sini sudah gerah, Bang. Lahan kami digusur, hutan kami dibabat, dan anak-anak kami terpaksa jalan kaki untuk pergi ke sekolah, dengan telanjang kaki lebih jauh lagi untuk memutari lahan yang sekarang sudah dijaga ketat aparat."
"Kami di sini bukan binatang yang bisa diusir begitu saja."
"Tanah kami ini, tanah adat, yang puluhan tahun kami tinggali. Kenapa tiba-tiba bisa diambil paksa."
Izack menelan ludah, matanya menatap tablet yang tergeletak di depannya.
"Kau sendiri bilang, CAPN bakal segera menyuarakan ini lewat kajian resmi mereka. Lalu lewat kajian itu bakal disuarakan ke pemerintah pusat."
"Tapi sampai kapan, Bang?!"
"Menunggu kami mati satu persatu, baru kalian gerak? Begitu?"
Izack menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan diri.
"Fir..." suaranya pelan. Tapi Firda langsung memotong cepat.
"Foto-foto yang ku kirim sudah kamu terima, kan?"
"Begitulah cara kami diusir, Bang... digusur paksa."
Izack hanya bisa menggeser-geser tabletnya, membuka kiriman foto darinya.
Suaranya memekik. "Bayangkan Bang!"
"Kalian enak, hidup di kota. Sumber daya yang kalian nikmati itu hasil dari kerukan tanah kami!"
"Tapi kami di sini, Bang."
"Jangankan internet, listrik aja susah."
"Ini aku berhari-hari menunggu sinyal mesti pergi ke kota untuk bisa telepon kamu."
Saat itu Chika datang.
Ia duduk perlahan di seberang Izack, khawatir mengganggu percakapan.
Firda kembali melanjutkan bicaranya.
"Sementara kamu di situ... enak-enakan bareng perempuan."
"Uhukkk!" Izack tersedak, ia langsung meneguk minumannya. Lalu menarik nafas panjang.
Izack mencoba memperbaiki tenggorokannya yang tersedak oleh rasa pedas di mulut dan hidung.
"Oke, baik, Fir."
"Aku komunikasikan itu dengan pimpinan CAPN, langsung."
"Saat ini, kami memang menghindari turun jalan."
"Sampai kapan, Bang?!"
"Tiap hari kami di sini menangis,"
"Ta..." klekk... panggilan itu terputus.
Suara itu hilang seketika.
Izack terdiam cukup lama, memastikan panggilan itu kembali berbunyi. Tapi, tak ada.
Ia meletakkan ponselnya, lalu kembali menatap wajah Chika.
Chika diam tak berkutik, menatap menu yang baru saja datang.
"Ini buat siapa, Bang?" tanya Chika hati-hati.
Izack menarik nafas pelan,
"Makan dulu... aku tunggu," jawabnya sekilas, matanya sudah kembali menatap tablet. Ia mengirimkan foto-foto itu lewat email, jemarinya bergerak cepat.
Di seberang meja, tangan Chika ragu mengambil sendok. Ada rasa bersalah di wajahnya.
"Kamu mungkin sudah terbiasa lapar," kata Izack akhirnya, suaranya datar, "tapi organ tubuhmu baru saja di repair."
"Maaf..." ucap Chika pelan..
"Niatku memang mau kasih makananku ke mereka, sebagai rasa syukur perutku bisa sembuh," ucapnya sambil nyengir kecil, menggaruk kepala.
"Tapi karena aku nggak punya uang... ya mumpung ada yang traktir, aku kasih aja ke mereka."
"Terus kamu biarkan perutmu kosong, begitu?" ucap Izack terdengar beku.
Hening.
Chika menunduk, tak berani mengangkat wajah. Sesekali ia melirik takut pada Izack, lalu mulai menyendok makanan itu ke mulut dengan gamang.
"Aku pernah lihat bocah kecil itu nyolong apel, di depan lampu traffic light depan kampus," katanya pelan.
"Tapi gara-gara dia nabrak aku, apel yang dia sembunyikan di kaosnya jatuh... dan lari ketakutan karena diteriaki orang-orang."
"Dan akhirnya kamu yang dimarahi, kan?" sahut Izack cepat, masih menatap tablet serius.
Chika melotot "Darimana kau tahu?"
Izack hanya menatapnya tenang. Gadis itu mendengus, pura-pura kesal sambil memotong ikan di piringnya. "Lama-lama kok kamu mirip hantu, Bang?" nadanya protes.
Izack tersenyum ringan, lalu terkekeh.
"Ampun Non... ada kata selain hantu, kah?"
"Misalnya pangeran berkuda atau malaikat tak bersayap, gitu?"
"Lebay!" jawab Chika menahan senyum.
Izack tertawa lepas. "Ampun..."
Mata Izack melirik ponselnya yang kembali bergetar. Tapi ia biarkan itu terjadi berulang kali hingga mati sendiri.
Sekilas notifikasi berita muncul di layar:
"AMN di ambang Krisis kepercayaan"
Judul itu seperti alarm di kepalanya.
"Makan dulu, aku angkat telepon," katanya, sembari bangkit dari bantalan tipis alas duduknya, lalu pergi.
"Hm,"
Sebelum benar-benar keluar dari gazebo, Izack sempat menoleh, menatap Chika tajam.
"Ingat! kali ini aku nggak ikhlas kalau ada pengamen, kamu kasihkan lagi."
"Hehehe... aman," Chika mengangkat dua jarinya.
***
Dari balik gazebo kecil, diam-diam Chika memperhatikan Izack sambil menikmati makan malamnya. Ia menarik nafas pelan, seakan tak percaya dengan perubahan hidupnya secepat ini.
Izack berdiri tak jauh, ponselnya menempel ke telinga. Angin malam berhembus memainkan rambutnya sedikit berantakan, memberikan kesan maskulin yang makin memikat. Terlalu sulit untuk diabaikan bagi perempuan yang ada di sekitar.
Bahkan dua perempuan yang melintas di depannya, meliriknya, lalu melemparkan senyum.
Tapi Izack tak peduli.
Chika sempat cemburu, meski enggan mengakui.
Saat itu Izack melirik ke arahnya, tapi Chika cepat-cepat menunduk, pura-pura fokus pada piringnya.
"Menurut Papa, baiknya aku harus gimana?"
"Tinggal hatimu, Zack..."
"Kalau kamu sayang, kenapa enggak?"
"Masalahnya, aku belum siap, Pa."
"Lagipula, aku juga belum tahu bagaimana isi hatinya."
Hening.
"Kamu sudah ngomong suka ke dia, belum?"
"Sudah, Pa... tapi dia terus mempermasalahkan hutangnya."
"Dia nggak mau, hutangnya jadi sandra."
"Kata dia, ini sama halnya kamu membeli aku. Makanya dia ngotot tawarkan rumahnya untuk dibeli sekalian. Karena dia juga menggadaikan ke Bank."
"Sampai segitunya?"
"Ehmm... Ini kalau Papa jadi kamu, Zack..."
"Terus maju,"
"Hari gini, cari perempuan yang tahu malu, tahu diri, dan punya kehormatan seperti itu, nggak mudah."
Izack memejamkan mata sejenak. Matanya kembali tertuju pada Chika yang terlihat tenang menikmati makan malamnya.
"Tapi... semua tinggal hatimu,"
Izack menarik nafas panjang, lalu pamitan menyudahi panggilan.
Ia kembali ke gazebo, berdiri menunggu Chika yang telah selesai makan.
"Sudah?" tanya Izack tenang.
"Hm," Chika mengangguk pelan.
"Yuk, berangkat," kata Izack menatap dengan senyuman kecil.
Saat itu Izack bangkit dari tempat duduk, lalu pergi terlebih dulu ke kasir. Sementara Chika berjalan pelan menahan nyeri jahitan di perut.
***
Perjalanan malam terasa begitu menenangkan.
Tak ada suara apapun, kecuali ponsel Izack yang dibiarkan bergetar sejak pertama kali kendaraan itu melaju.
Malam kian larut, dan jalanan pun makin senyap saat pemandangan di luar jendela gelap oleh hamparan persawahan yang membentang luas.
Perlahan Chika menurunkan kaca jendela mobil, membiarkan udara dingin menghembus wajahnya yang lelah.
Izack melirik sekilas gadis itu yang kini menyandarkan kepalanya, membiarkan rambutnya yang panjang dibelai angin.
"Meskipun berkali-kali melewati jalanan ini... tapi baru kali ini aku bisa melihat malam di sini begitu tenang dan damai," ucapnya menyibakkan helaian rambut.
"Biasanya pulang jam berapa?"
"Dari Tayoga, paling lambat jam tiga sore. Lebih dari itu, aku nggak berani pulang, karena nggak ada angkutan umum menuju ke desa pak lek,"
"Oh..."
Perlahan Izack sengaja melambatkan laju kendaraannya, membiarkan gadis itu menikmati redupnya cahaya bulan sabit dengan irama bintang gemintang yang berhamburan di langit yang pekat.
Dari gerak-geriknya, terihat jelas Chika tak tenang sepenuhnya.
Berkali-kali ia mengusap wajah seolah ingin menghapus pikirannya yang tampak kacau.
Tanpa berkata apapun, Izack menyalakan musik relaksasi dari dashboardnya.
Dan hembusan angin yang masuk, seolah memaksa matanya kembali terpejam.
Seolah sudah hafal dengan kebiasaannya yang seperti ini semenjak pasca operasi, ia menghitung dengan jemarinya sambil mencengkeram setiran.
"... 20, 21, 22," ucapnya pelan
Ada senyum sekilas yang tergambar di wajahnya saat mendengar dengkuran lembut dari mulut Chika. Ia kembali menaikkan kaca jendelanya otomatis, lalu kembali memutar pendingin dan perlahan menekan pedal gas lebih kencang dari sebelumnya.
Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.
Nama Prof. Rida --Ketua Umum CAPN-- muncul di layar monitor dashboard. Tak ingin mengganggu tidur gadis di sebelahnya, Izack menepiskan laju rodanya ke pinggiran badan jalan, dan menekan lampu hazard.
Dengan langkah sigap, ia menyaut air mineral dan segera keluar dan menutup pintu perlahan.
Ia selipkan earphone nirkabel ke telinganya, lalu menekan tombol angkat, hingga suara itu terhubung.
"Halo, Bang."
"Sudah terkirim kan, foto-foto dariku?"
"Hm, sudah."
"Kapan kamu longgar? Aku bakal katakan banyak soal tambang di pulau Polebo."
"Oh... oke."
"Kalau sudah sampai aja deh, Bang."
"Ini aku masih dalam perjalanan soalnya."
"Oke."
"Begitu dulu ya Zack..."
"Jangan berasumsi terlalu jauh dulu. Kita di sini tidak berdiri sendiri."
"Aku paham itu, Bang."
"Tapi setidaknya kalian masuk ke CAPN itu paham tujuannya lah,"
"Yesss... kami tahu itu, Zack," jawab Prof. Rida nadanya siap membantah.
KLEKK... tiba-tiba sinyal hilang.
"Haduh..." Izack menarik nafas dalam.
Lelaki itu meneguk air mineral dengan sekali tegukan hingga berkurang separuh, lalu meletakkannya di atas kap mobil.
Chika keluar mengucek mata kecilnya kriyepan. Wajahnya yang lembut, makin terlihat imut menggemaskan saat tersentuh cahaya lampu pinggir jalan.
"Sudah sampai mana, Bang?!!" suaranya terdengar khas.
"Mobilnya nggak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.
Tubuhnya berputar, memandang sekeliling. Area pegunungan yang tampak gelap di ujung mata.
Sudut mata Izack tak bisa berpaling dari kilatan bening mata Chika, yang membuat bibirnya tersenyum sekilas. Ada debaran halus di dada yang membuat tangannya menggenggam lebih erat.
Sorot matanya ia alihkan pada langit yang bertabur bintang. "Nggak apa-apa," jawab Izack tenang.
"Tidurlah dulu, masih jauh," ucapnya melirik sekilas.
Sebagai lelaki yang cukup umur, tak bisa dipungkiri, ada ledakan hormonalnya yang kembali bergetar. Ia mulai merasakan tubuhnya memanas, meskipun udara dingin di sekitar cukup menggigit hingga ke tulang.
Dan Chika, benar-benar cuek. Ia tampak cemas sibuk dengan pikirannya sendiri.
Gadis itu menjilati lidahnya sendiri hingga mengkilat basah. Kebiasaan saat ia menekan rasa khawatir dan cemasnya.
"Ah! Sialan!!" pekik batin Izack terpeleset senyum kecil.
Izack sadar, Chika bukanlah gadis --yang sekalipun lemah-- akan mudah jatuh dalam pelukan. Apalagi pada lelaki yang bukan siapa-siapanya.
"Ah... dasar kau iblis!" umpat batin Izack menekan nafasnya yang kian sesak.
Ia menurunkan pandangan, lalu pergi.
Izack membuka pintu mobil, dan masuk. Ia menarik sabuk pengaman ke dada, lalu menunggu Chika yang masih berputar bingung mencari dirinya di sekitar.
Dari balik kaca, lelaki itu hanya tersenyum datar menatap dirinya. Saat itu mata mereka saling menatap tanpa sengaja, membuat raut Chika malu sendiri.
Gadis itu segera masuk dan menyelipkan klip sabuk pengaman. Kendaraan pun kembali melaju perlahan.
Senyap.
Seakan ada kebekuan menggantung di sana.
Chika berpaling, mulutnya ragu.
"Bang... Nanti kalau sudah sampai depan pintu gerbang desa, turunkan aku ya," nadanya cemas.
"Maksudnya??" Izack mengernyit lama.
Chika tersenyum kecut. "Kamu nggak usah masuk ke desaku,"
"Terus, kamu?"
"Ya, pulang lah. Jalan kaki,"
"Nggak apa-apa kan? Lagipula kamu harus segera balik ke ibu kota, kan?"
"Yakin..."
"Hm," Chika mengangguk mantap.
"Nanti kalau kamu hilang, heboh lagi berita di medsos: ketua AMN sembunyikan cewek misterius."
Chika terkekeh.
"Ya enggaklah..."
"Terus?"
"Haduh, gawat lah. Pokoknya."
"Bakal digebuki warga?!"
Chika kembali terkekeh. Kali ini tawanya mulai terdengar lunak.
"Ya enggaklah. Gila apa?"
Mendengar suaranya yang datar dan lembut, --beda dari sebelum-sebelumnya, Izack makin kuat mencengkeram setirannya. Ada sesuatu yang ia tahan, erat-erat.
"Terus??"
"Sudah. Pokoknya begitu aja."
Kali ini Izack tak lagi bisa menahan pura-pura ketidaktahuannya.
"Disuruh menikahi lelaki yang mengantar gadisnya pulang malam-malam?" cletuk Izack.
Mulut Chika spontan melongo.
"Baguslah kalau begitu," jawab Izack mantap.
"Darimana kau tahu?" Chika melotot berpaling.
"Kamu nggak ingat tulisanmu, --yang ditempel dengan bangganya sama fakultasmu?"
Chika gelagapan mengatur pikirannya yang berantakan.
"Sebelum melangkah sejauh ini, ada banyak hal yang sudah aku pertimbangkan, Chika..."
"Maksud??!"
Tak bisa dipungkiri, perasaan itu tak sepenuhnya kecewa dan marah. Ada sebagian rasa yang sulit ia namai, dan itu membuatnya justru lebih tenang meski menakutkan.
"Kan kamu yang minta diantar. Itu sama halnya..."
Chika kembali meraup wajah dengan kedua tangannya.
"Aku kan cuma minta diantar ke terminal atau kos."
"Tapi kamu diam saja waktu kendaraan jalan terus,"
Chika menggigit kesal tampak frustasi, "Karena badanku lemas, Bang."
Izack tertawa santai. "Nah, sadar."
Perlahan namun pasti, matanya mulai berkaca-kaca.
"Bang, please..."
Izack hanya tertawa kecil.
Satu sisi ia mulai paham kebiasaan overthinkingnya.
"Hei, Non... hari gini, adat semacam itu tuh mungkin dulu ada, tapi hari gini..." protes Izack, seakan menyangkal kegamangan pikirannya sendiri sejak tadi.
"Nggak bisa, Bang. Pokoknya aku pulang sendiri, begitu masuk area desa."
Izack menarik nafas pelan.
"Ya sudah, kita lihat dulu. Desamu seperti apa."
Hening sejenak.
Tiba-tiba Chika memekik riang.
"Apa kita tunggu aja sampai pagi di mobil?"
"Terus?"
"Kalau kamu capek ya tidur,"
Izack mendesah, setengah tersenyum nakal.
"Kamu mau buat isu baru lagi di media sosial?"
Spontan Chika tertawa mengejek.
"Kita ini di kota kecil, Bang. Mana ada yang kenal kamu?"
"Bilang aja kamu mau tidur denganku," tukas Izack, tersenyum nakal.
Chika mencibir jijik, tak suka.
"Kamu tidur di mobil, aku naik ojek pulang. Di pojok sana, biasanya ada bapak ojek offline."
Izack menggeleng tak sudi, membayangkannya.
"Kita ngobrol di rumah, minimal sama pamanmu," ucap Izack serius.
Mendengar nada suara Izack yang yakin, Chika makin tegang.
"Nggak! Aku bilang enggak, ya enggak."
Izack gelagapan. Suaranya tertahan di tenggorokan, merasa kalah.
"Terus??"
Spontan Chika mengancam mencoba buka handle pintu. Izack menoleh cepat, tangannya sigap menarik keras punggungnya. Ia langsung menepiskan laju kendaraannya.
Chika mencoba menghempas keras tangan itu.
"Sakit," tariknya.
Izack tak menjawab, ia menekan keras kedua tangannya.
"Dengar baik-baik!" ucapnya tegas membuat Chika tetap melotot tak suka.
"Chika, aku hanya ingin memastikan kamu sampai rumah dengan aman dan selamat. Itu saja."
"Nanti begitu sampai, aku langsung cabut pulang."
Chika melirik jam digital di dashboard --02.30 dini hari.
Tangan Izack menutup cepat layar jam dengan telapak tangannya, membuat Chika menoleh kesal.
"Serahkan penyelesainnya ke aku, oke?!"
"Oke?" ucapnya yang terakhir kali.
Izack menarik nafas pelan, lalu kembali memutar setiran dan berjalan tenang.
***
Satu jam berlalu, titik tujuan pun hampir sampai.
Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 03.30. Saat itulah roda kendaraan terparkir di jalanan depan halaman rumah –dengan pelataran rumput yang cukup luas.
"Bener ini rumahnya?" tanya Izack berpaling.
Saat itu dirinya sadar, mata Chika telah basah.
"Hei... Semuanya kan bisa dibicarakan baik-baik..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar