Minggu, 24 Mei 2026

Bab 43. Welcome, Kota Peradaban

 Seminggu kemudian


Siang itu, udara terasa berat dan lembab dari biasanya. Entah kapan hujan segera turun.

Tak ada suara kendaraan satupun yang melintas di depan pos ronda, --yang tak jauh dari area persawahan dekat kos-kosan Chika.

Sudah lima belas menit Chika membuka notebooknya, tapi kata-katanya seperti nyangkut di kepala. Tak bisa dipungkiri, selama ini ia terlalu dimanjakan keadaan sampai lupa bagaimana caranya berjuang dan berpikir kritis.

Dan itu terjadi saat ini. Dimana ia merasa harus berdiri di atas kakinya sendiri.

Izack?

Ia menutup layar notebook sejenak.
Kali ini, ia sadar: bersandar terlalu lama hanya akan membuatnya lupa bagaimana caranya berdiri.

Ia menatap layar kosong sejenak, membiarkan pikirannya menembus jauh ke arah persawahan yang sebagian telah menguning.

Tanpa sadar, tangannya mulai menari cepat di atas tuts.

Keanekaragaman hayati adalah kunci swasembada pangan.
Bicara soal karbohidrat, negara Minensa seharusnya tidak perlu mengimpor beras ketika hutan dibiarkan tumbuh dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Hutan adalah ladang kehidupan bagi jutaan masyarakat lokal, hingga kota-kota yang bergantung padanya.

Dari sagu, madu, getah, akar, hingga air bersih—semuanya merupakan sumber pangan, obat, dan penghidupan yang nilainya jauh melampaui tambang yang suatu hari akan habis.

Dengan mengembalikan pemahaman bahwa pangan pokok di Minensa bukan hanya nasi, petani dapat kembali merdeka di lahannya—menanam sesuai struktur geografis dan karakter masing-masing wilayah.

Inilah yang seharusnya dikembangkan negara: mengembalikan masyarakat pada kebutuhan perut mereka sesuai geografis masing-masing daerah.

Demikian salah satu petikan proposal yang bakal ia ajukan sebagai prasyarat KKN.

Sembari menatap layar, Chika teringat perjalanan panjang dari kota Takata menuju kota Tayoga. Hamparan sawah menguning, dan sebagian panen raya telah berlangsung. Sementara truk-truk tebu mengular sepanjang pintu pabrik-pabrik gula yang sudah tua.

"Sebenarnya negeri ini tidak pernah kekurangan bahan pangan. Tapi mengapa..."

Tiba-tiba angin mendesir sepoi di bawah rindang pohon mangga dan kersen, menggugurkan daunnya.

Perlahan senyumnya surut, berubah datar teringat peristiwa dua hari lalu saat ibu mertuanya menjenguk dirinya.

Lamunannya buyar saat seseorang datang, itu adalah Hendrik.

"Loh? kamu??" sorot mata Hendrik penuh tanya.

"Kenapa di sini?"

"Bukannya ikut Izack di Takata?"

"Hehe... iya, Bang."

"Selamat ya! Kapan ini pestanya?!"

"Ssssttt!!!" jarinya melintang di bibir mengerjapkan mata, khawatir.

"Lah?! beritanya sudah heboh di kampus, loh," kata Hendrik, membuat Chika melongo.

Chika bingung menatap lama wajah Hendrik kosong seakan mencari sumber, darimana berita itu sampai bocor.

"Ini kan?" Hendrik menunjukkan foto Chika berhadapan mencium tangan Izack di depan penghulu.

Hendrik geleng-geleng tersenyum lebar "Luar biasa kamu, bisa menaklukkan orang se dingin."

Chika tak terima, ingin protes. Tapi, percuma saja, ketika narasi sosial media mengatakan sebaliknya. Apalagi jelas-jelas pernikahan itu karena paksaan adat daerahnya.

Gadis itu menatap lama seniornya, seakan mencari kata di sana.

"Ah! Ya Sudahlah! Terserah apa katamu."

Hendrik tertawa kecil. Paham apa yang terjadi.

"Sudah... aku paham Izack, dia naksir kamu sejak dua tahun lalu," jawabnya geli.

Chika menahan nafas, diam. Lalu memasukkan laptop ke dalam tasnya.

"Wuisss... suami baru, laptop baru," canda Hendrik.

"Darimana saja kamu? sudah sembuh beneran?" tanya Hendrik lagi.

"Sembuh nggak sembuh, harus sembuh Bang." tawanya nyengir menarik resleting, dan siap menggendong ke punggung.

"Iyalah, bukan Luchika kalau lama sembuhnya," canda Hendrik.

Hening.

"Pulang sama siapa?"

"Sendiri lah,"

Hendrik mengernyit penuh tanya, tapi sekilas ia menyingkirkan kecurigaannya.

"Bukannya kondisi di sana masih rawan demo ya?"

"Hehe... jurus preman dipakai lah,"

"Oh iya, lupa aku... kamu kan pemanjat pro pagar hutan kampus." Hendrik ngikik.

"Capek Bang, kalau lewat pintu keluar."

Melihat sekelebat sosok lelaki tua dengan wajah dan perut bergelambir lemak itu semakin mendekat, raut Hendrik mulai waspada. Tatapan lelaki itu jelas, tertuju Chika. Dari rautnya, tampak terkesumat.

"Chik," iyarat Hendrik cemas.

"Ya?" Chika menoleh, mengikuti mata Hendrik.

Ia melotot begitu melihat lelaki berkumis tebal itu menatap geram.

"Mbak Chika, kapan kamu mau bayar kos-kosan," suaranya lantang tanpa basa-basi.

"Bukannya beritanya kamu menikah sama pengusaha kaya, ya?"

"Sudah telat tiga minggu lho! Ayo cepat bayar!!"

Dar!!

Hendrik mengernyit cemas, ia langsung mendekati lelaki tua itu.

"Pak, sebaiknya bapak ngobrol di dalam kos aja, nggak baik dilihat orang, kalau bapak marah-marah terus begini," bujuk Hendrik.

Saat itu juga Chika berjalan lebih dulu, menuju kos dan duduk di ruang tamu menunggu lelaki tua itu datang.

***

Tiga jam kemudian.

Diam-diam Hendrik mengintip dari balik jendela kamarnya, memastikan keadaan Chika. Ia mendesah kesal, lalu menekan panggilan ke nomor Izack yang tak kunjung diangkat.

"Izack, kasihan banget istrimu. Kena marah pak kos melulu," gumamnya lirih, sebelum voice note itu terkirim.

Di sisi lain, di ruang kerja penerbitan Izack --ponsel tipis itu tergeletak begitu saja di atas meja. Layar menyala sebentar, menampilkan pesan masuk, sebelum kembali padam. Ruangan sunyi. Tak seorang pun di sana sejak dua jam yang lalu.

***

Kost Putri

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 10.30 WIB.

Chika duduk di kursi ruang tamu, tak bergeming. Pandangannya kosong menatap sudut-sudut ruangan.

Beberapa jam yang lalu, kata-kata lelaki tua itu seperti bergetar –kasar, mengerikan, dan akhirnya menyisakan diam, dan hening.

Sapaan teman-temannya yang dulu tak pernah menganggap keberadaannya, kini berubah seketika. Saat mereka tahu, Chika sekarang bukanlah gadis miskin seperti yang mereka kenal kemarin.

Namun ia tak lagi peduli dengan pandangan itu.

Langkahnya gontai menaiki tangga. Beberapa orang di kamar sebelah berbisik lirih.

"Apa susahnya coba, bilang ke suami. Minta uang kost."

"Oh, yang katanya punya perusahaan itu ya?"

"Bangkrut kali, makanya pulang."

"Bukan! Jangan-jangan pisah ranjang."

"Nah!"

Mendengar gunjingan itu, Chika hanya tersenyum samar. Hingga akhirnya berdiri di depan kamar tanpa menoleh mereka sedikitpun. Jarinya lemah, seakan tak sanggup menarik gagang pintu.

Saat pintu terbuka, selembar tulisan panjang menyambut tatapan matanya:

Selamat Datang di Kota Peradaban,

Jalanan masih panjang,

Hari masih terlalu pagi,

Tak ada kata menyerah apalagi pulang kampung,

sebelum aku memenangkan diriku di kota ini

Katakan; "Aku pasti bisa!"

Ia tersenyum pasrah memandang tulisan yang baru saja ia tempel di dinding. Sorot matanya menyusuri tiap sudut kamar dengan senyuman pahit, sembari mengusap air matanya yang jatuh tanpa kendali.

Semua ini demi selembar kertas yang bernama ijazah.

Bagi sebagian orang –seperti Rendra—mungkin itu tak lagi penting. Tapi baginya, itu adalah satu-satunya jalan menebus nama yang telah dikotori: anak komunis. Sebuah fitnah yang membayanginya seumur hidup.

"Bapak... aku sudah nggak kuat...!" pekiknya dalam.

Tiba-tiba saja terdengar suara pak Kost dari luar seakan menyentak lamunan.

"Cepat beresi mbak, kamarnya mau aku bersihkan. Besok anaknya sudah datang kesini!"

Tanpa berpikir panjang, Chika menjejalkan pakaian ke dalam ransel parasut yang kulitnya mulai terkelupas dan robek termakan usia.

Memang. Tak banyak yang ia punya selama kuliah tiga tahun di Tayoga, selain beberapa potong baju dan tumpukan buku.

Baju bagus yang ia bawa dari Takata hanya sepotong yang ia pakai, selebihnya milik dia sendiri dari Tayoga. Meskipun baju itu adalah pemberian kakak-kakak seniornya yang sudah lulus, dan kebetulan dekat dengannya. Begitu juga dengan kasur, bantal, dan lemari. Hampir semuanya adalah pemberian.

Ia masih ingat betul, begaimana dulu menawar harga kamar agar lebih murah dari yang lain –dengan catatan tanpa perabot apapun. Pak kos pun mengijinkan. Ia berterimakasih sekali saat itu, karena akhirnya di bulan-bulan berikutnya tak ada kenaikan tarif dibanding teman-temannya.

Sementara teman-teman AMN yang tahu kondisinya, tak tega. Hendrik, Leo, dan beberapa yang lainnya sempat menggalang dana kecil untuk membelikan kasur dan lemari sederhana, ketika melihat potensi jurnalisnya yang cukup bagus. Dengan harapan, bisa menjadi corong suara AMN ke depannya.

Mungkin itulah alasan mengapa Heni kesal dengannya –karena Chika yang selama ini digadang-gadang menjadi corong suara AMN, justru menulis kritikan tajam ke organisasi tersebut. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar