Pukul 00.30.
Sejak memasuki area apartemen, beberapa orang sempat menyapa Izack ramah. Bahkan dengan satpam pun, ia sempat berbasa basi sejenak, lalu melanjutkan laju rodanya ke area basement.
Sepanjang jalan, Chika merasa lelaki itu jauh lebih ramah dari biasanya. Tapi ia memilih diam, hanya mengikuti langkahnya hingga mereka masuk lift.
Tak lama orang ikut masuk, memenuhi ruangan sempit itu.
Spontan Izack berdiri menghadap tubuh Chika, melindungi bekas jahitannya agar tak tertekan. Tubuh mereka nyaris bersentuhan, hanya terhalang kain tipis. Wajah Chika yang hanya setinggi pangkal leher Izack, grogi sekaligus malu, membuatnya cepat-cepat memalingkan pandangan.
Sementara, orang mulai berdesas-desus tentang kemacetan beberapa titik jalanan ibu kota terkait demo mahasiswa, membuat suasana dalam lift terasa sumpek. Chika berharap pintunya segera terbuka. Hingga satu persatu mereka keluar di masing-masing lantai, sampai suasana benar-benar senyap di lantai terakhir.
Di depan unit, Izack mulai mengutak-atik tombol pintu otomatis dan meminta Chika menempelkan jarinya.
"Nanti jika sewaktu-waktu aku tinggal kamu sendiri di Apartemen, cukup tempelkan jarimu di sini untuk buka pintu," katanya.
"Oh..." jawab Chika canggung.
Pintu pun terbuka.
Ruangan terasa kedap dan senyap.
Entah mengapa wajah Chika tiba-tiba mendadak tegang. Dan diam-diam Izack memperhatikan raut itu sambil melepas sepatu.
"Ada apa?"
Chika nyengir tipis, "Nggak apa-apa,"
Tapi tiba-tiba saja ponsel Izack bergetar. Itu adalah nomor Dido, ketua harian AMN Pusat.
"Ya, Do. Ada apa?"
Suara sirine terdengar nyaring di ujung ponsel.
"Balik Bang!! Mabes kebakaran."
"Tapi, bukannya baru aja,"
"Iya! aku sendiri nggak tahu, sumber pusat api ada di lantai dua. Sepertinya korslet. Tapi..."
Pettt... suara itu mati.
Izack melotot pada Chika yang berdiri dua langkah di depannya.
"Kenapa?"
"Mabes kebakaran," jawab Izack bengong sekian detik.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik pergelangan Chika keluar, lalu mengunci otomatis pintu. Langkahnya cepat menuju lift, seolah lupa kalau Chika masih harus hati-hati untuk berjalan.
Chika tertinggal beberapa meter di belakang. Nafasnya berat, wajahnya pucat. Begitu Izack menoleh di depan lift, kaget.
"Kamu..." suaranya menurun, khawatir. "Apa baiknya kamu di Apartemen aja? Biar aku panggilkan teman."
"Enggak, Bang," potong Chika cepat, sambil membungkuk menahan sakit, nyengir.
"Tapi..."
"Sudah. Ayo jalan," tunjuk Chika pada pintu lift yang terbuka.
Keduanya masuk. Suasana lift benar-benar senyap.
Izack melirik. Tangannya ragu meraih jemari Chika yang panas.
"Maaf... Begini ini yang membuatku merasa bersalah,"
Chika hanya diam. Tapi jelas, wajah Izack merasa bersalah menatap matanya.
Gadis itu tetap tegar menahan perih di perutnya. Namun dari gerak-geriknya, ia sadar betul ada tanggung jawab besar yang sedang dipanggul lelaki di sebelahnya.
Lift pun berdenting. Pintu terbuka. Izack melangkah cepat, dan Chika menyusul di belakangnya menuju mobil.
***
Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 02.30 saat mobil tiba-tiba dihentikan petugas keamanan.
Belum sempat berpikir bagaimana dengan Chika, Izack sudah membuka pintu mobil. Ia berlari menerobos garis polisi dan barisan pemadam kebakaran yang sibuk bekerja.
Chika menatap punggungnya yang menghilang di balik kerumunan.
Tiba-tiba seseorang mengetuk jendela kacanya. Itu adalah salah satu anggota AMN yang Chika kenal. Gadis itu segera menurunkan jendela kaca.
"Oh kamu, Kak..." ucap pemuda itu, paham.
"Bang Izack kemana, Kak?" pemuda itu melongok ke dalam.
"Bisa minta tolong parkirkan?" pinta Chika.
"Oh, iya Kak..."
Lelaki itu sigap. Masuk ke mobil, dan memarkirkan mobil ke pinggiran badan jalan.
"Bang Izack tuh kadang seperti nggak doyan duit, Kak..."
"Untung ini mobil ada kakak di dalam. Kalau enggak, entah nih."
Chika mendenguskan senyum.
"Sudah kenal lama sama Bang Izack, ya Kak?"
Chika menggeleng.
"Loh, kabar yang beredar di kami. Ketemu kakak sudah dua tahun yang lalu?"
Lagi-lagi Chika hanya nyengir. Ia tak berani menjawab panjang lebar, mengingat posisi Izack yang sebenarnya jauh dari kata aman, sebagai seorang pucuk pimpinan.
Mobil itu pun berhenti. Lelaki itu mencabut kunci dan memberikan pada Chika.
"Kakak habis operasi, kan?"
"Baiknya buat istirahat di mobil aja deh."
Lelaki itu keluar dan kembali menghilang di balik kerumunan membawa barang.
Chika hanya mengangguk tenang, menurunkan joknya sendiri pelan dan mulai merebah tenang di sana. Berharap bisa memejamkan mata, menahan kantuk yang tertahan setelah sekian jam.
***
Di sudut lain, Izack yang sempat dihentikan tim pemadam kebakaran, dilawan begitu saja menerobos masuk gedung. Di sana, beberapa orang sedang berusaha menyelamatkan barang. Namun Izack justru memaksa naik ke lantai tiga, di mana ruangannya berada.
Sesaat langkahnya terhenti di depan ruang IT, ia menatap ruangan yang penuh kobaran api, tak bersisa. Ia masih ingat betul, baru berapa jam yang lalu ruangan itu dijadikan tempat pengawasan aliran dana.
Tubuhnya tergetar, rautnya layu.
"Bang! turun Bang!!" teriak seseorang, serak.
Lelaki itu menarik pergelangan Izack. Tapi lelaki itu justru membanting kesal tangannya. Lelaki itu buru-buru pergi begitu saja meninggalkan Izack yang masih terpaku di depan ruang IT yang berkobar.
Seperti tersadar, seketika ia lari menuju ruangannya.
Di sana, ia berusaha menyelamatkan barang-barangnya yang terpenting.
"Keluar Bang!!"
"Keluar!!" teriak seorang pemadam kebakaran di depan pintu.
"Tolong selamatkan ini, Bang," suara Izack penuh harap.
"Sudah Bang! Sudah!!" teriak lelaki dengan helm orange itu berusaha menarik Izack dari semburan api, ledakan pusat instalasi listrik.
Raut Izack memanas. Ia pasrah begitu saja melihat dokumen sebagian ludes terlalap api.
Sebuah foto perempuan berhijab terjatuh dari meja. Namun matanya memburu kotak kecil yang terbuat dari besi, berisi cek –dana bantuan dari seorang senior. Tapi belum sempat pasti membuka kotak tersebut tangannya ditarik tim pemadam kebakaran. Ia meraih foto itu, --merasa bahwa cek itu di tangannya.
Izack tak bisa berkutik saat dua orang pemadam menyeret paksa langkahnya menuju kaca yang sengaja dipecahkan sebagai jalur evakuasi lewat tali seluncur yang dengan sigap diikatkan ke paha dan punggungnya.
Sorot mata Izack seperti orang linglung terbayang kotak tersebut.
Melihat Izack turun dengan menggenggam selembar foto, seorang lelaki hanya tersenyum.
"Weww!! Demi selembar foto kamu berani bertaruh nyawa, Bang," celetuknya.
"Maksud!?" Izack menoleh tak suka.
Lelaki itu hanya terkekeh, pergi meninggalkan Izack.
Sisi lain Chika yang sejak tadi berkali-kali gagal memejamkan mata, akhirnya keluar lebih cepat.
Ia berdiri syok melihat tubuh Izack yang terkoyak dan gosong tak rupa dengan sorot mata putus asa. Namun melihat foto dalam genggamannya, tubuhnya layu seketika.
Izack tak paham, tangannya refleks memasukkan foto ke dalam kantongnya. Melihat Chika berubah muka tak sudi, ia bingung menelan ludah. Ada rasa perih yang susah dijelaskan.
Gadis itu segera pergi meninggalkan Izack yang diajak ngobrol seseorang dengan raut tergesa-gesa. Wajahnya sempat menoleh, mencari kepergian Chika. Tapi Izack segera didorong untuk mengangkut barang masuk ke beberapa mobil.
Chika duduk lemas di pinggir trotoar, menghindari keberadaan Izack yang mondar-mandir mengangkat barang-barang. Tak ada seorang pun yang menyapa dirinya. Ia bahkan merasa seperti orang asing.
Dan...
Entah berapa jam berlalu. Chika tertidur dalam lututnya yang tertekuk, di pinggir jalan.
Api mulai reda menjelang pukul lima, dini hari. Namun asap masih mengepul dari jendela lantai dua dan tiga. Tim pemadam sibuk melakukan pendinginan.
Seorang wartawan datang mengambil beberapa foto.
"Bawa semua dokumen ke rumah orang tuaku aja, di kawasan Cemara Residence," komando Izack pada pengurus yang mulai tampak letih.
Saat mobil itu pergi beriringan meninggalkan kawasan, Izack memberi komando pada anggota yang tersisa untuk berkumpul.
Entah berapa menit berlalu, kumpulan orang-orang itu pun segera bubar meninggalkan lokasi.
Sorot mata Izack seperti baru sadar mencari sosok yang ia bawa.
Chika.
Setengah malas gadis itu bangkit, dadah-dadah pada Izack yang berdiri di antara wartawan yang yang mulai berdatangan. Tapi Izack memotong pertanyaan mereka, dan segera berlari menuju Chika. Kamera pun berkejap, menyorot dirinya melenggang lelah.
"Kenapa nggak istirahat di dalam aja, tadi?"
Chika hanya menggeleng, malas menjawab. Ia menatap baju Izack yang kotor berdebu, gosong dan robek sebagian. Sementara tangannya berlumuran arang hitam, sebagian berdarah. Namun entah mengapa wajah tampannya makin keren dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
"Kamu nggak apa-apa, Bang?" tanyanya, enggan melangkah.
"Nggak apa-apa."
"Ayo pulang."
Saat mendekati mobil, Izack berjalan mendahului. Ada robekan di bahunya, segaris luka berdarah menganga. Tapi Izack cuek, hanya meraba sebentar.
Saat keduanya masuk mobil, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
"Zack... luka di bahumu itu sebaiknya diobati di ambulance aja dulu."
"Nggak usah, ada istriku yang mau mengobati," senyumnya melirik Chika di sebelah.
Lelaki itu melirik keduanya. "Hmmm... ya.. ya,"
Izack mulai menyalakan mesin. "Yuk, duluan, Bang,"
Lelaki itu segera menghindar, Izack mengangguk, senyum. Kendaraan mulai bergerak. "Ya, hati-hati."
Hening.
Chika menelan nafas pelan, menoleh Izack yang tampak buru-buru.
"Daripada infeksi, mending dibawa ke Rumah Sakit aja dulu deh, Bang," kata Chika khawatir.
"Nggak usah," ucapnya, langsung tancap gas meninggalkan lokasi.
Tak lama ponselnya kembali bergetar, ia menekan tombol angkat di layar dashboard.
"Bang, beneran ini dibawa ke rumah ortumu?!"
"Hm, ya. Rico. Aku ingin memastikan data kita selamat dulu."
"Untungnya, sih. Bang."
"Tolong begitu sampai, segera pasang PC kalian, dan cek semuanya."
"Ok, begitu dulu."
"Siap, Bang."
Klekkk...
Izack menoleh Chika yang kembali merebah. "Maaf, mungkin hari ini aku harus mengkondisikan dokumen di rumah Papa. Jadi, kita nggak bisa ke Apartemen."
Chika diam, mengangguk paham.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar