Minggu, 24 Mei 2026

Bab 41. Pelukan yang Mendamaikan

 Malam itu ia kaget mendapati dirinya sudah berada di kamar, terbungkus selimut tebal nan lembut.

Suasana kamar senyap. Tak ada suara gaduh seperti sebelumnya. Hanya sayup-sayup suara perempuan lembut yang tak asing di telinga.

Tapi kepala terasa berat hanya untuk mengingat siapa pemilik suara tersebut.

"Masih tidur."

"Hm, oke."

Tak lama kemudian, muncul sosok perempuan tua dari balik pintu kamar. Chika kaget campur gugup berusaha duduk. Tapi tubuhnya terasa berat menopang, hingga...

"Blugh!!" kepalanya terbentur keras headboard.

Setengah berlari perempuan itu mendekat. Tapi Chika berusaha kuat untuk bangkit, sebelum akhirnya kembali terhempas. Untung Mama sudah di sisi, menahan tubuhnya yang kurus.

"Sudah, istirahat aja dulu. Nggak usah bangun."

Wanita itu menatap dalam dengan mata bersinar. "Mama dikabari Izack, katanya kamu pingsan."

"Teman-teman Mahasiswa pada kemana, Bu?" tanyanya melongok celah pintu yang belum tertutup sempurna.

Perempuan itu menarik nafas dalam. "Sudah dijemput orang tua mereka. Katanya ada pengaduan dari tetanggamu yang terganggu, karena terlalu berisik."

"Mama kesal juga sama Izack, kenapa juga diijinkan masuk ke rumah di saat istrinya sendiri di rumah. Kan bahaya..." ucapnya kesal.

Chika cuman nyengir, duduk menahan perut.

Berulang kali Chika mengusap-usap wajahnya seakan menarik nafas kesadaran dari halusinasi tragedi berdarah keluarganya beberapa tahun lalu yang menjadikan tubuhnya nyaris seperti handuk basah.

"Gimana, sudah baikan?" tanya Mama lagi.

Chika mengangguk pelan.

"Malam ini kamu tidur di rumah Mama aja ya, Nak?"

"Keadaan belum aman."

"Apalagi Izack juga belum tahu kapan pulangnya."

"Bang Izack kemana, Bu?" tanyanya.

Perempuan itu hanya tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan.

Namun tiba-tiba, dari luar pintu terdengar suara lelaki sedang bernegosiasi.

"Okey, aku nggak mau tahu. Pokoknya anakku harus keluar malam ini juga. Aku nggak mau ada luka sedikitpun di tubuhnya. Pastikan dia kembali ke apartemen dengan selamat, atau kalian tanggung sendiri akibatnya."

"Siap!"

Glekkk...

Nafasnya sesak seketika.

"Besok pagi, Chika boleh pulang ke Tayoga, Bu?"

"Loh?"

"Kenapa?"

"Chika harus segera konfirmasi KKN semester depan."

"Oh..."

Hening.

Mama tertunduk cukup lama. Lalu mengangkat wajah, sementara mulutnya menata kalimat yang hendak keluar.

"Nak, boleh Mama minta satu permintaan saja?"

Chika tak langsung mengiyakan, tapi cukup mendongakkan wajah.

"Tinggallah di sini, temani Izack. Minimal sampai kondisi mulai reda," tatapnya penuh harap.

"Biar dia bisa fokus dengan aksi-aksinya."

"Semua juga ujungnya untuk kesuksesan keluarga kalian, kelak. Kan.."

Glekk!!

"Mama tahu, keinginanmu kuat kerja di hutan."

"Tapi melihat gelombang panas kondisi tanah air masih seperti ini. Izack bakal nggak tenang melepasmu di tempat jauh. Apalagi kamu masa recovery pasca operasi."

Melihat gerak-gerik Chika yang berat. Mama kembali berkata,

"Kenapa nggak transfer kuliah di sini aja. Biar Izack yang melobi. Koneksi dia di bebebrapa kampus lumayan Nak."

"Gimana?"

Tak bisa dipungkiri, wajah Chika spontan tegang, menyimpan raut kesal, kecewa, dan marah. Tapi ia berhasil menekan rasa itu.

Tak terasa obrolan mengalir begitu seru antara menantu dan mertua. Mereka tampak akrab ngobrol sekalipun baru bertemu yang kedua kalinya, hingga akhirnya perempuan itu harus pamitan pulang.

Kata "menemani suami" itu tertinggal di kepala.

Seperti palu yang memukul keras.

Seolah memporak porandakan mimpi-mimpinya.

Hanya menjadi ibu rumah tangga.

Begitu Mama pergi, ia melangkah keluar. Berdiri di balkon, dan mulai menjerit sekeras-kerasnya. Tetangga sebelah yang kebetulan tengah duduk di sudut balkon, sempat melongok ke arahnya dengan wajah tak suka.

Tapi ia tak peduli.

Air matapun tumpah dan duduk lemas di sudut balkon.

***

Dua malam kemudian.

Jarum jam digital menunjukkan pukul 22.30. Akhirnya Izack pun pulang, di saat Chika terdiam di depan tv. Pandangannya kosong. Tak ada sambutan kecil apapun dari mulutnya. Raut Izack yang datar membuat Chika makin tak respek.

Meski begitu, ia mulai riwa-riwi ke dapur. Berusaha menyajikan masakan Mama yang sengaja ia masukkan ke kulkas.

Ia tak peduli saat Izack mengikutinya dari belakang. Ia tahu, lelaki itu mendekat hanya ingin memeluknya dari belakang. Tapi teringat kata-kata Mama, rasanya kepala benar-benar mendidih, harus mempertaruhkan mimpinya demi lelaki itu.

Chika sengaja menghindar terus menerus. Menghalau setiap sentuhan Chika, hingga akhirnya lelaki itu paham ada sesuatu yang terjadi.

"Mama kesini kah?"

"Hm," ucapnya singkat.

Chika mulai menghangatkan menu bawaan dari Mama, lalu menghidangkannya di meja, layaknya seorang istri.

Izack yang belum sepenuhnya on dengan suasana rumah, akhirnya duduk diam.

Matanya melotot saat Chika meletakkan gurita asam manis, ikan kering balado, dan beberapa kue.

Izack menoleh, menatap Chika sekilas. Merasa ada sesuatu yang berubah dari dirinya. Lebih tenang, lebih dewasa, tapi seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ia ketahui.

"Baunya harum, mirip masakan Mama," ucapnya sengaja melirik, bagaimana reaksi gadis itu.

Ia langsung menancapkan garpu pada tentakel gurita, lalu menciumnya sebentar dan membuka mulut.

"Iya emang," jawab Chika duduk, tepat di hadapannya dengan wajah datar.

"Oh,"

"Ngobrol apa aja?" tanyanya sambil mengunyah.

"Gimana rasanya?" Chika mengalihkan.

"Loh, kamu belum coba?" katanya sambil menyodorkan sepotong.

"Coba aja, aku paling suka bagian ini."

"Enggak,"

"Kenapa? nggak suka?"

"Nggak begitu. Barangkali itu dibuat khusus untuk anak lakinya."

Glekkk... Izack meletakkan garpu, menarik nafas kesal, tapi ia hanya diam mencoba menahan emosinya sesaat.

"Sudah makan belum?"

"Sudah."

"Beneran?"

"Hm," jawab Chika datar.

Chika kembali memainkan jarinya seakan menata ulang pikiran dan kata-kata yang harus ia keluarkan, sambil menunggu Izack menghabiskan semua hidangan di meja.

Izack masih terbawa suasana beberapa hari di luar yang kacau, dan ia merasa sangat lelah. Ia tak ingin bicara apapun kecuali hanya ingin menikmati suasana berdua dengan gadis yang dicintainya.

"Besok aku mau pulang ke Tayoga ya, Bang?"

Izack diam, tapi wajahnya seperti tertusuk. Lalu ia melanjutkan makan malamnya dengan tenang.

"Kenapa? Capek ya?"

Chika menggeleng.

"Persiapan KKN."

"Kalau kamu transfer kampus sini aja gimana? nanti aku carikan mau dimana?"

"Nggak lah,"

"Kenapa?"

"Mahal."

"Lebih mahalan kalau kita berjauhan, sayang..." nada Izack berat.

Chika menarik nafas seakan menata ulang niatnya.

"Wali kelasmu Pak Dede kan?"

Chika mendelik kaget.

"Hm,"

"Itu senior kami di AMN, sekaligus anggota CAPN."

"Waktu kamu masih di Rumah Sakit, sudah aku ijinkan sampai benar-benar pulih."

Chika melongo, ia merasa selalu kalah langkah, hingga negosiasinya selalu gagal.

"Tapi Bang, aku harus harus konfirmasi persiapan KKN. Daftarnya sudah keluar semua."

"Aku ijinkan, tapi ditunda semester depan."

Glekk...

Chika meraup wajah kesal.

"Kamu ini," cletuknya setengah kesal, setengah sayang. "Belum genap satu bulan kamu operasi bedah perut. Dan baru kemarin kamu pingsan, ngadepi kekacauan. Ini mau ikut KKN."

Lelaki itu hanya melirik, tersenyum samar sekilas penuh kemenangan. Melihat raut Chika sudah muram.

Tanpa berkata apapun lagi, ia beranjak membawa piring-piring kotornya ke dapur, sekalipun Chika melarang.

Dan langkahnya sempat terhenti melihat bungkusan mie instan di tempat sampah. Namun ia tak bereaksi apapun. Justru kembali ke meja dengan membawa bungkusan obat milik Chika.

Sementara Chika melirik khawatir dengan diam dan wajah datarnya.

Jarum jam menunjukkan pukul 00.30.

"Obatnya belum kamu minum," tanya Izack tenang, menuangkan segelas air putih.

Gadis itu menggigit bibir di saat lelaki itu membukakan bungkus obat satu persatu. Chika tak berkutik, terpaksa ia menurut, meminumnya satu persatu.

"Sudah makan?"

"Sudah."

"Makan mie instan?" sudut matanya melirik.

Chika nyengir.

"Bang... mie instan itu seperti makanan penghibur di saat aku boring."

"Lagipula apa salahnya sih, toh beli nggak pakai uangmu?"

Glekk...

Tangan Izack terhenti di atas meja, menatap lurus wajahnya. Chika melengos, meski merasa keterlaluan dengan ucapannya.

"Kalau mau, aku antar langsung ke kedai mie yang dibuat langsung penjualnya."

Wajahnya langsung berpaling, menatap dengan mata bersinar membuat Izack mendenguskan tawa samar. Tapi lelaki itu tak mau melepas tawanya, dan kembali berwajah datar.

"Aku tebak, selama aku nggak di rumah kamu jarang makan."

Dan Chika kembali berkejap, kesal.

"Kalau jarang makan, aku nggak bakal bisa melayani anak buahmu yang berjatuhan, Bang." protesnya setengah menggumam. Tapi melihat raut Chika yang kesal, ia kembali tersenyum.

"Kamu kalau marah, mirip tikus kecil nyemplung di got."

"Enak aja!" tawanya tertahan.

Tapi Izack justru melepas tawa geli membayangkan sosok tikus.

Izack kembali diam, menarik nafas dalam. "Aku paham, kamu kangen setelah beberapa hari aku nggak pulang," rayunya

"Begini ini nikah sama orang narsis."

Spontan Izack tertawa "Tapi benar, kan... kamu kangen?" tawa Izack mendekat.

Tanpa berkata lagi, Izack sedikit menunduk, lalu mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan. Chika meronta ingin turun, namun dekapan itu justru makin erat. Ia membawanya ke kamar.

"Baru kali ini dalam seumur hidup, aku dimuliakan seseorang," pikir Chika.

Tak terasa air matanya menggenag tak tertahan. Ia mengusapnya cepat, sebelum tubuhnya diturunkan ke atas ranjang.

Izack hanya melirik kopernya yang sudah siap di sudut kamar.

"Bang... serius nih, besok aku harus pulang."

Izack menahan nafas dalam. Ia duduk di samping.

"Apa kamu nggak dengar gimana kondisi di luar benar-benar nggak aman?"

"Iya, tapi gimana dengan KKNku, Bang..."

Izack menatapnya dalam.

Tanpa berkata lagi ia merebahkan diri di samping, lalu memeluk Chika dalam dekapannya.

"Tidur dulu, aku benar-benar capek. Non manis..."

"Kita bicarakan itu besok pagi," ucapnya.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 01.20 dini hari.

Izack mematikan lampu kamar, lalu mulai menghembuskan nafasnya.

***

Pagi itu, udara terasa kosong.

Izack meraih sisi ranjang –dingin. Tak ada Chika di sana.

"Sayang," suaranya menggema di ruang yang tak terlalu besar.

Ia berlari ke kamar mandi, mengetuk –tak ada jawaban. Pintu dibuka, kosong.

Dadanya mulai terasa berat. Ia menyisir seluruh ruangan dengan langkah kacau: balkon, sudut dapur, hingga yang terakhir meja makan.

Seperti teringat sesuatu, langkahnya cepat kembali ke kamar. Koper yang ia lihat semalam --setengah sadar di sudut kamarnya-- kini tak ada lagi di sana.

Ia mencari ponsel dan menelepon, tapi panggilan tak terhubung. Ia menelan ludah tegang. Perhatiannya terseret pada secarik kertas di atas meja makan yang ia lihat tadi. Langkahnya cepat menuju meja makan. Tapi simpul ingatannya seperti teringat pada kata-kata gadis itu semalam tentang cerita Mama nya. Tanpa berpikir panjang ia segera menekan panggilan.

"Pagi, Ma..."

"Ya, Zack..."

"Mama cerita apa sama Chika."

"Cerita apa?? Banyak,"

"Soal anaknya Pak Menhan?"

"Hm... iya sedikit."

"Ampun, Ma... kenapa yang seperti itu mesti keluar?"

"Besok lagi yang seperti itu jangan sampai Chika tahu," nada Izack mulai menukik.

"Zack... dia berencana mau ikut pamannya Transmigrasi selesai wisuda nanti. Makanya Mama cerita soal perempuan di sekelilingmu, dengan harapan dia nggak akan pergi."

"Mama minta dia tinggal di sini, karena kamu butuh dia."

"Apa yang begitu salah?"

Izack hanya menarik nafas dalam, lalu segera pamit mengakhiri telepon.

Hening...

Ia baru sadar dengan selembar kertas di tangannya.

Maaf Bang, aku pulang ke Tayoga nggak pamit baik-baik.

Bagaimanapun, aku harus meneruskan perjuanganku di Tayoga. Meraih mimpi yang membuatku bisa bertahan hidup hingga detik ini.

Aku takut bergantung pada siapapun, termasuk kamu.

Aku takut, saat kamu meninggalkanku... aku jadi perempuan lemah.

Dan mungkin... barangkali pilihan Mama bisa menjadi pertimbanganmu saat ini, sebelum kita terlalu jauh.

Sekalipun sebagai perempuan, aku berhak sakit hati.

Tapi dibanding sakit hati,

Siapa sih aku???

Untuk itulah aku harus memikirkan hidupku sendiri, dibanding memikirkan nasib orang yang belum tentu memperbaiki nasibku.

Ini Kartu Debit yang kamu kasih, aku pinjam untuk bekal selama di Tayoga.

Kalau nggak ikhlas, nanti aku kembalikan, Bang.

Maaf, sudah banyak merepotkan.

Sekian

Sambil menutup lembaran kertas, Izack meringis perih dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa ada perempuan se bodoh kamu. Sayang?!" ucapnya lirih, merasakan denyut jantungnya berdegup nyeri.

Matanya melirik ke pintu, berharap keajaiban kecil datang. Perempuan itu tiba-tiba mengetuk pintu.

Tapi itu tak terjadi.

Rasa hangat pelukan di dadanya masih membekas. Ia berharap bisa memeluk dan menciumnya seperti semalam dan tak kan melepaskannya.

Tapi yang ada justru rasa nyeri dan nafas sesak yang makin menjadi-jadi.

Tangannya segera meraih segelas air putih yang Chika sediakan, namun baru sekali ia meneguk, nafasnya makin tercekik. Ia lari ke kamar mencari obat. Tapi pandangannya justru kabur dan tubuhnya lemas.

Dan... jatuh tersungkur di lantai kamar.

Ia sadar sendiri di kamar. Tapi telinganya terasa kuat mendengar suara gaduh dan gemuruh buldoser serta lalu lalang orang memungut sampah. Izack mungil ada dalam kardus, menatap orang yang berdatangan, di antara timbunan bau menyengat.

Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Nafasnya makin sesak hingga terasa mencekik tenggorokan.

"Halo, Pak Izack,"

"Masuk, pak." suaranya lirih dan berat.

"Iya, Pak."

"Pak dimana?"

"Masuk, Pak."

"Baik baik!" suara di ujung ponselnya gugup segera terputus.

Entah berapa lama Izack menahan nafasnya sesak. Ia makin sulit membendung halusinasi.

Hingga sadar kepala mendenging lama dan hilang kesadaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar