Minggu, 24 Mei 2026

Bab 15. Sebatas sisi manusiawi

 Di balik bilik tirai putih, Chika terdiam menunggu tetesan infus yang pelan mengurangi rasa nyeri. Tapi keringat dingin masih kuat terasa di tubuhnya yang lemah dan gemetar.

Dokter dan beberapa perawat masuk. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam, mengamati.

"Sudah dikasih obat penenang, kan?" tanyanya pada perawat.

"Sudah, dok."

"Mbaknya datang sendiri?"

Izack muncul, di belakangnya ada Hendrik.

"Saya, dok," jawab Izack.

"Oh..."

"Maaf, saya periksa dulu ya mbak..." kata dokter, mengangkat stetoskop.

Setengah ragu Chika hendak membuka kain hem, ia melirik kedua lelaki di belakang perawat. Izack dan Hendrik langsung paham mengalihkan pandangan.

"Sejak kapan sakitnya, mbak?" tanya dokter meletakkan stetoskop ke sekitar perut.

"Sudah lama, dok," ucapnya mendesis, nyengir. "Tapi biasanya hanya berapa menit sembuh, tapi nggak tahu kenapa sekarang begini," imbuhnya menahan nafas. "Nggak apa-apa kan, dok?"

Izack mendekat. "Tolong cek semua dok," ucapnya mantap.

Hendrik mengernyitkan dahi. "Serius, Zack?" bisiknya.

Chika melotot. Tapi nyeri itu makin menjadi saat dokter itu melangkah pergi.

Setengah mendesak, Izack menjalin komunikasi dengan dokternya di luar bilik.

Ia mendengar obrolan itu, samar.

Samar, suara dokter terdengar.

"Jika dilihat dari gejala, ini bukan maag biasa."

"Jadi, langsung CT-Scan aja," ucap dokter lirih.

Tak bisa dielakkan, Chita makin merintih, dan itu terdengar Izack.

"Ok. Begitu dulu ya, Mas."

"Siap, dok."

Dokter segera pergi. Chika mulai gusar membayangkan biaya.

"Kira-kira, berapa biayanya CT Scan, bu?" bisik Chika pada perawat yang memperbaiki infus. Perempuan itu menoleh pada Izack yang baru masuk.

Izack menatap penuh isyarat, dan perawat hanya senyum.

"Sudah mbak... Yang penting sehat dulu," ucap perawat, mengusap lengan Chika, lalu keluar.

Hening.

Chika melengos.

"Yang ditanyakan apa... jawabannya kemana,"

Perawat itu kembali masuk.

"Mari saya bantu ke kamar dulu, mbak..." katanya.

Perawat mendorong ranjang keluar menuju lift.

Sembari mengikuti kepergian Chika. Hendrik berbisik lirih.

"Serius kamu, Zack?" tanya Hendrik memastikan.

Izack tak menjawab, hanya melangkah ringan. Seakan selesai berperang menunggu babak berikutnya.

Hingga lift itu berhenti, dan pintu pun terbuka.

Ranjang kembali di dorong menuju lorong-lorong ruangan yang senyap.

Di balik ketenangannya, Chika sempat berangan-angan: andai saja bisa, dirinya berguling cepat, turun dari ranjang, lalu meloncat keluar mencari jalan tercepat untuk bisa keluar dari area itu.

Tapi dengan tubuhnya yang lemah dan nyeri datang-pergi, rasanya itu seperti angan kosong.

Perawat itu membuka pintu sebuah ruangan bertuliskan VIP.

Ruangan yang luas dan fasilitas nyaman justru membuat gadis itu makin gelisah.

Ia meraup wajahnya sendiri dan menarik nafas kesal, begitu perawat pergi membantu merapikan dirinya di sana.

Izack menyalakan tv, dengan harapan mengurangi kecemasan.

Hendrik hanya senyum manggut-manggut menatap tiap sudut ruangan. Lalu duduk dengan nyaman di sofa, menatap Chika.

"Pindah hotel kamu, Chik," godanya.

Chika menelan ludah, rahangnya mengeras menahan rasa sakit.

Lalu dengan susah payah berusaha duduk. Tapi Izack sigap, ia membungkuk menekan tuas. Ranjang itupun terangkat dalam posisi duduk.

Izack menegakkan punggung, kembali menatap dirinya.

"Bang... aku nggak main-main, tolong secepatnya keluarkan aku dari sini. Sudah terbiasa aku sakit seperti ini," ucapnya tegang.

Lelaki itu menarik kedua alis, lalu duduk santai di samping Hendrik. Chika makin kesal.

Dengan gerakan kasar, gadis itu menyibakkan selimut, berusaha keras turun dengan bibir tergigit menahan nyeri.

Tangan Izack cekatan mencekal lengannya. Tapi Chika menghempas kesal tangan itu dan membanting tubuhnya sendiri ke samping.

GUBRAK!!

Tubuh Chika terhempas ke lantai. "Akhhh!!!"

"Chika!!" teriak Hendrik.

Izack menarik nafas tenang. Langkahnya sigap memutari ranjang dan jongkok di depan gadis itu sebelum Hendrik sampai.

Gadis itu merintih kesakitan. Ia berusaha bangkit, tapi tiba-tiba ada cengkeraman tangan membantunya bangkit dari lantai.

Nafasnya tersengal kesal, menatap wajah Izack di hadapannya. Ia mengusap kesal air matanya cepat.

Tanpa berkata apapun, Izack menyelipkan tangan di bawah kedua lutut dan punggungnya. Awalnya Chika menolak, tapi cengkeraman Izack terasa kuat, namun penuh kehati-hatian, hingga gadis itu luluh.

Chika menatap tajam dan sengit. Lelaki itu tak membalas.

"Tolong panggil perawat, Hend," ucap Izack tenang, namun tegas. Lelaki berwajah kecoklatan itu segera keluar.

Tatapan Izack kembali pada pergelangannya yang mengucurkan darah segar. Ia segera menyumbatnya dengan tisu. Tapi gadis itu justru menarik tangannya dan memukul dada lelaki itu kesal. Izack tak melawan, hanya menarik nafas panjang dan diam, seakan memberinya ruang untuk marah, hingga tangisnya pun pecah terguncang.

Saking kesalnya, Chika mengumpat sambil menggigit punggung tangannya, membuat Izack hanya meringis, rahangnya mengeras menahan perih. Matanya berkedip pelan kembali menatap matanya.

Chika justru makin jengkel melihatnya begitu tenang. Ia menghempas tangan itu setelah meninggalkan bekas gigitan pada tangan.

"Akhhh!!" pekik Izack lirih.

Hendrik masuk, kaget melihat Izack meringis kesakitan mengibaskan tangan.

"Kamu apakan dia, Chika..." Hendrik melotot melihat tangan Izack kemerahan.

"Ampun... kamu gigit?" semburat senyum tak habis pikir, hingga tertawa geli tanpa kendali.

Chika membuang muka, pipinya memanas. Ia ingin marah, tapi gengsi. Ingin minta maaf, tapi egonya keburu mengunci bibirnya.

"Salah sendiri," gumamnya lirih, menahan tawa.

Sementara Izack justru tersenyum kecil mengusap dan memutar-mutar tangannya.

Saat itu dua orang perawat datang membawa peralatan dan memperbaiki infus.

"Sabar mbak..." katanya, sambil mengusap punggung tangan Chika lembut.

"Tunggu di sini atau ke ruang CT-Scan, Mas?"

"Di sini saja, Sus."

"Oh, baik," jawab perawat, lalu pergi.

Izack terdiam, menarik nafas panjang, matanya menatap lembut tubuh Chika yang kurus terbungkus selimut.

Seperti ada yang tertinggal, Izack segera keluar.

Saat itulah, Chika merengek pada Hendrik untuk segera dibantu keluar dari sana. Namun Hendrik hanya geleng kepala.

"Aku nggak berani sama Izack, Chika."

"Kalaupun bisa, ada prosedur, dan aku nggak punya biaya."

Tangis Chika pun pecah, rautnya terlihat jelas putus asa.

"Please, Bang. Tolong..." tangisnya dalam kian menjadi.

"Kamu tau sendiri, kan. Bang... Aku bisa kuliah aja harus kerja mati-matian. Sekarang masuk rumah sakit internasional di ruang VIP seperti ini. Memangnya aku harus jual ginjal buat bayar hutang?" tangisnya ribut seperti anak kecil.

"Berapa harga ginjalmu, Non," suara berat itu mengejutkan, tapi hangat di ujungnya.

Lelaki itu baru saja menutup pintu.

Seketika tangisnya terhenti mengusap air matanya kesal.

"Biar sehat dulu. Kalau mau jual ginjal, urusan belakangan."

Hendrik yang masih berdiri memandang ekspresi Izack, spontan menahan tawa. Namun lolos juga, hingga suasana pun kembali cair.

"Kamu ini, Zack... ada-ada aja."

Raut Izack jelas menahan tawa. "Lha iya? Sakit, ya ke Rumah Sakit."

"Kalau mau bunuh diri, tak kirim ke barak tentara ikut perang. Biar nyawamu mati nggak sia-sia," kata Izack terdengar kesal, sekaligus gemas.

Lelaki dengan wajah tenang itu melangkah masuk. Ia duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang, lalu menyilangkan kaki menatap Chika.

Melihat gaya santainya, Chika mendengus kesal sambil mengeluarkan sisa ingus disertai isak tangis.

"Dasar bandit!"

Izack mengernyit menahan tawa. "Apa?"

Tawa Hendrik pecah.

"Lihat! Gayamu yang datar, sok cool begitu, sudah mirip banget sama bandit," ucap Chika kesal.

Spontan tawa kembali pecah, geli.

"Sebenarnya ada niat apa kamu mengantarku kemari?" ucapnya blak-blakan.

Glekk...

Spontan tawa itu mereda perlahan. Hendrik tersenyum melirik Izack, lalu bangkit.

"Silahkan selesaikan urusan kalian, aku cari makan dulu," ujarnya segera beranjak.

Pintu itu terbuka, dan kembali ditutup meninggalkan suasana hening.

Lelaki itu menatap wajah Chika yang lama menatap kepergian Hendrik.

"Chika,"

Gadis itu menoleh sekilas, grogi. Lalu pandangannya kembali pada tv.

"Kamu sadar nggak sama organ tubuhmu?"

"Ibarat sebuah perusahaan, organ tubuhmu seperti karyawan yang dipaksa kerja tapi nggak diberi waktu istirahat. Sudah pasti di demo habis-habisan."

Tatapan Izack menusuk. "Ini sudah parah, tubuh fisikmu itu cuma pinjaman."

"Cukup!" potong Chika. "Aku nggak mau dengar ceramahmu."

Izack menarik nafas panjang. "Aku nggak mau apa-apa. Cukup kamu sembuh total, itu saja."

"Soal biaya, aku yang tanggung. Perusahaan kami punya CSR untuk kasus mahasiswa sepertimu,"

Glekk... Chika melongo. Tapi cepat-cepat menutupi ekspresinya, lalu pura-pura berwajah datar.

Ponsel Izack bergetar. Ia segera mengangkat panggilan itu sambil berdiri di sudut ruangan.

Di depan jendela kaca ia menatap bayangannya sendiri, sekaligus bayangan Chika yang samar terpantul menatap dirinya.

"Iya. Gimana, Bang..." sapa Izack.

Izack menoleh ke arah Chika sebentar sambil menyimak suara di ujung ponselnya.

"Eeeh... belum tahu Bang. Ini aku baru menunggu adik di Rumah Sakit," jawab Izack.

Mendengar kata "Adik," mata Chika melotot seketika, dan Izack hanya tersenyum tipis.

Tatapan Chika langsung ia alihkan pada kakinya yang terbungkus selimut, sementara Izack kembali membalikkan pandangannya pada jendela kaca. Ia menatap tajam pada udara di luar gedung.

Udara di ruangan itu terasa hangat, terlalu hangat.

Chika menarik nafas pelan, lalu menghembuskan perlahan, seakan tubuhnya baru sadar bahwa rasa nyeri itu perlahan memang mulai reda. Tapi sesekali rasa ingin kentut membuatnya kesakitan luar biasa.

Pandangan matanya kosong menatap langit-lagit putih yang kosong. Sementara suara Izack terdengar samar, seperti datang dan pergi.

Sebutan "adik" untuknya, masih bergema di kepala.

Tanpa sadar, dadanya terasa lebih ringan.

Dan pikiran yang harusnya ia jaga, justru mengkah lebih dekat.

Andai saja aku jadi pacarnya...

Mungkin tak perlu cemas memikirkan biaya ini semua.

Spontan matanya terbelalak.

Kesadarannya tersentak, seperyi baru saja menampar dirinya sendiri.

Stop Chika!

Jangan main-main.

Sekali jatuh dalam dekapannya, kamu nggak akan sanggup bangkit lagi untuk hidup.

Ia mengalihkan pandangan, menatap kaki sendiri yang terbungkus selimut.

Tapi pikirannya seperti berkhianat, matanya kembali melirik lelaki itu yang masih berdiri di dekat jendela kaca.

Dari samping, rahangnya tampak tirus saat berbicara.

Tenang. Tegas. Terlalu terkendali

Sesaat Izack menoleh.

Refleks, Chika memalingkan wajah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tubuhnya beringsut canggung, mengatur selang infus agar tidak ikut tertarik.

Tangannya meraba tuas di bawah ranjang.

Izack segera mendekat dan menutup mic ponselnya.

"Mau apa?"

"Dikembalikan posisi tidur," jawab Chika lirih.

Izack sedikit membungkuk, lalu menekan tombol tuas ranjang hingga kembali datar.

Saat itu dua orang perawat masuk.

"Mari mbak, ke ruang CT-Scan dulu..." ujar perawat.

Perempuan itu cekatan, namun tetap tersenyum lembut menyiapkan ranjang untuk didorong keluar.

"Oke, kita sambung nanti lagi, Bang."

"Yang jelas, teman-teman AMN sudah siap turun tangan di saat CAPN keluarkan pernyataan sikap," jawabnya. Saementara tangannya cekatan membantu perawat mendorong ranjang Chika menuju lift.

***

Jarum jam menunjukkan pukul lima sore.

Lampu di kamar rawat menyala lembut, memantulkan warna kekuningan di dinding krem. Infus yang menggantung menetes pelan, mengiringi nafas Chika yang teratur tapi berat.

Gadis itu baru saja kembali dari unit Radiologi. Matanya sayu, tampak lelah. Tubuhnya lunglai tergeletak di atas ranjang.

Belum sempat mereka bernafas lega, Dokter bedah masuk dengan langkah tergesa, membawa hasil pemeriksaan.

"Sudah makan, mbak?"

"Belum dok,"

"Oh... oke,"

Dokter itu menatap Chika sejenak, lalu menghela nafas.

"Mbak Chika, saya sudah lihat hasil CT-Scan. Ada bagian usus robek dan ini berbahaya. Kalau tidak segera ditangani, bisa menyebabkan infeksi berat."

Chika menelan ludah, matanya membesar.

Izack langsung mendekat,

"Berarti... harus perlu tindakan, dok?" nadanya cemas.

"Maksudnya tindakan?" Chika menatap dua lelaki itu bergantian.

Dokter itu kembali menarik nafas, "Operasi,"

Duarrr...

Tangan Chika melemah seketika.

"Kapan dok?" tanya Izack tak sabar.

"Kurang lebih tiga puluh menit lagi, Mas."

"Baik dok, siap," jawab Izack mantap.

Dokter menatap keduanya secara bergantian. "Oke, begitu dulu... Semoga operasinya berjalan lancar, dan berhasil ya mbak..." kata dokter.

Dokter pergi diikuti dua orang perawat.

Izack dan Hendrik diam terpasung.

"Oke Sus, terima kasih," ucap Izack yang terakhir kali saat suster menutup pintu.

Hening perlahan mencekam.

Chika meraup wajahnya sendiri tertunduk, lalu menekan rasa nyeri yang datang. Ia meringkuk di atas ranjang, sementara suara tangisnya lirih kembali pecah.

"Sudah... nggak apa-apa. Yakin semua baik-baik saja," ucap Izack menenangkan.

"Tidak apa-apa gimana?!"

"Kamu pikir semuanya gratis?"

Izack menarik nafas panjang, lalu meraup wajahnya sejenak –merasa kecele.

"Ya enggak gratis lah..."

Chika melotot kesal, menatap tajam wajah Izack.

"Memangnya aku bayar pakai daun?" ucapnya kembali berguling kesakitan.

Hendrik mendekat, menatap dalam.

"Chika... Izack sudah membawamu kemari, itu artinya dia sudah siap dengan segalanya. Termasuk biaya,"

"Iya, aku tahu. Tapi kan statusnya tetap hutang!" pekiknya meringis kesakitan dengan air mata tumpah.

Lagi-lagi ia mengerang, menahan perut. "Aakkhhh!"

Izack lebih mendekat, tangannya ingin mengusap. Tapi Chika melotot. Lelaki itu pun menahan, hanya menatap dalam.

"Andaikan uang bukan masalah, kamu nggak takut operasi, kan?" tanya Izack.

"Kenapa takut? Kalau aku mati, kamu rugi sendiri!"

Hendrik tertawa geli.

"Chika... Chika."

"Biasanya orang mau operasi takut mati. Ini kamu..." Hendrik geleng-geleng melirik Izack.

Izack terguguk menahan tawa geli.

Mata kecil Chika yang sembab, bingung menatap keduanya tertawa. Lalu tanpa terkendali, tangis Chika kembali pecah.

Bukannya sedih, dua lelaki itu justru makin keras tertawa geli.

Wajah polos itu terdiam mengusap air matanya, mirip anak kecil yang ditinggal ibunya pergi.

"Kenapa kalian ketawa..." ucapnya di sela-sela tangis.

"Enggak..." jawab Izack.

"Ternyata masih ada makhluk kecil sepertimu. Nyawa di ujung tanduk, masih sempat-sempatnya memikirkan hutang."

Hendrik melangkah maju, tepat di sebelah Izack, samping bed.

"Sudah... yang penting kamu sehat, sembuh."

"Kenapa? Kau pikir aku mau mati?"

"Enggaklah! Aku bakal selamat," protesnya yang kembali disambut tawa gerr...

Saat itu dua perawat masuk, mereka mempersiapkan bed dan segala peralatannya.

"Ayo mbak, tenangkan diri dulu."

"Kita mulai berdoa, semoga operasinya lancar dan berhasil dengan baik," ucap perawat.

Sebelum bed itu didorong keluar. Pandangan Chika kembali tertuju pada dua orang lelaki itu sekilas sambil mengucek matanya sendiri.

Izack dan Hendrik saling berpaling sesaat. Senyum tawa itu masih terlihat jelas. Izack menggeleng geli mengikuti bed itu keluar.

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar