Minggu, 24 Mei 2026

Bab 52.Dua dunia dalam satu malam

 Malam itu Chika tak lagi keluar dari kamarnya setelah selesai mandi. Ia mengenakan baju tidur krem kain satin.

Di luar, teman-teman AMN Cabang tengah serius membahas langkah-langkah apa saja yang sedang mereka susun. Terutama poin-poin tuntutan mereka ke anggota dewan daerah berkaitan dengan segala sesuatunya yang menjadi agenda teman-teman AMN pusat.

Hingga pukul 01.36 rapat baru selesai. Semua pulang, tanpa terkecuali Mak Yah beserta satu orang temannya yang selesai beres-beres seisi rumah.

Hening.

Izack masuk kamar mendapati Chika tertidur di atas laptopnya --yang telah gelap. Seperti hari-hari yang lalu, beberapa buku selalu ditumpuk di sebelahnya, --ambisi besar yang selalu kalah oleh fisiknya yang lelah.

Energinya terkuras oleh kebiasaan yang tak bisa diam. Selalu bergerak, ingin melakukan sesuatu dan selalu ingin protes, disaat ada hal yang tidak sesuai dengan pola pikirnya.

Melihat pemandangan itu, Izack hanya tersenyum memandanginya dari dekat.

Ia bersandar di sudut meja, tepat di sebelah wajah Chika. Tangannya terlipat ke dada, dalam balutan kaos turtle neck abu-abu lengan panjang yang tampak manis.

Dan malam ini, ia lebih terlihat seksi dari biasanya.

Sesekali tangannya bergerak, jemarinya ingin menyentuh wajah gadis itu. Tapi terhenti saat kelopak matanya bergerak-gerak.

Wajah gadis itu terlihat lebih tirus dan sedikit agak gelap dibanding waktu di Takata kemarin. Jemarinya yang halus, kini tampak sedikit kasar, seolah menyimpan jejak perjuangannya yang harus ia lalui.

Ia menarik nafas pelan. Seolah ada rasa pedih, bersalah, rindu dan cinta yang membaur jadi satu. Tapi yang jelas, akhirnya ia kembali tenang. Karena gadis itu ada di depannya, meskipun dalam sekian jam harus kembali berpisah.

Tanpa sadar, jarinya terangkat. Ia menyelipkan rambut Chika yang menutupi sebagian wajahnya. Sentuhan itu ringan, membuat tubuh gadis itu menggeliat kecil, tapi tak juga bangun.

Kelopak matanya bergerak cepat sebelum terbuka. Perlahan terbuka sedikit, lalu kembali terpejam, hingga beberapa kali membuat Izack tersenyum kecil menjepit ujung hidungnya yang kecil.

Gadis itu menguap kecil, lalu matanya kembali terpejam.

Tapi menyadari keberadaan lelaki di depannya, mata Chika tertahan sejenak, mencoba mengumpulkan kesadarannya, lalu kembali meletakkan kepalanya.

"Sudah selesai rapatnya, Bang?" tanyanya dengan mata sesekali terpejam.

"Hm,"

"Kamu nggak jadi pulang malam ini?"

Izack tersenyum kecil. "Ngusir, kamu?"

Gadis itu berkedip, sedikit gelagepan. "Aku mau balik ke kos."

Izack masih terpaku menikmati ekspresi kantuk istrinya dengan wajah imut. Namun, tiba-tiba saja telepon kembali bergetar dari ponselnya.

Dari sorot matanya, ingin sekali mengabaikan panggilan itu. Ia tak ingin melewatkan malam itu, sekalipun hanya sekali bersama istrinya. Tapi saat matanya tertuju pada layar, ia menarik nafas dalam.

Ia adalah salah satu seniornya, tim penasehat di AMN.

"Halo, iya Bang?" sapa Izack, tenang.

Chika diam, menegakkan punggungnya, lalu mengucek matanya. Mirip anak kecil yang polos, --membuat Izack tak tahan hanya sekadar mencubit kecil hidungnya.

Percakapan pun mengalir begitu saja. ia tahu, obrolan itu pasti akan lama. Izack menarik jemari Chika, menuntunnya sampai di depan tempat tidur. Lalu menyingkap selimut dan memberi kode untuk masuk terlebih dulu.

Chika tak berani bersuara, apalagi protes seperti sebelum-sebelumnya. Ia tahu, dirinya hanya ingin memastikan istrinya tidur dengan baik, di saat pikirannya tetap bekerja keras.

Lelaki itu masih tetap menyimak suara seniornya, sambil mengusap tengkuknya sendiri, di saat Chika menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.

"Iya. aku tahu, Zack."

"Tapi kamu ini pucuk pimpinan. Harusnya kamu punya kuasa untuk menindak tegas anakmu yang turun jalan."

"Karena bagaimanapun juga, itu menyedot energi kita untuk melakukan strategi kita sejak awal dengan teman-teman di CAPN."

Izack menghela napas pelan.

"Sekarang bayangkan. Di saat kita sedang panas-panasnya rapat kumpulkan pendapat dan data di lapangan. Itu anak-anakmu banyak yang absen untuk ikut turun jalan."

"Kesel, tahu nggak?"

"Sudah aku perintahkan sejak awal fase keributan kenaikan pajak kemarin, Bang. AMN tidak akan turun jalan lagi, fokus pembenahan internal, apalagi pasca Fendi."

"Tapi faktanya?" potong suara itu. "Masih ada anak-anakmu turun. Pakai jaket AMN. Teriak-teriak di jalan. Itu citra siapa yang kena?"

Izack terdiam beberapa detik.

"Kita sudah sepakat, kan? Membangun dari dalam. Lewat dialog, lewat data, lewat jaringan. Bukan lagi orasi liar," lanjut seniornya.

"Iya, Bang. Tapi," jawab Izack pendek.

"Jangan lupa, Zack. Perbaikan Markas Pusat AMN kemarin bisa selesai dalam hitungan minggu itu berkat siapa?"

Izack menarik nafas panjang. Ttaapannya seolah tak sudi melengos ke samping. Ia melihat istrinya sudah terpejam di samping, tenang.

"Karena ada yang membantu dari atas. Karena ada yang percaya sama arah baru kita."

Izack tahu pasti arah pembicaraan ini.

"Kalau sekarang anak-anakmu masih ikut turun jalan, orang atas bisa ngomong apa coba?" suaranya merendah. "Itu artinya kamu nggak bisa mempertanggung jawabkan, komitmen kita sejak awal. Mengendalikan barisan."

Izack menelan ludah, tapi suaranya tetap stabil.

"Bang, saya sudah beri komando sejak hari pertama demo pecah. AMN tidak turun. Kita fokus kerja struktur. Diskusi publik. Policy brief. Pendampingan lapangan."

"Tapi mereka tetap turun."

"Karena mereka mahasiswa, Bang." kali ini nada Izack sedikit mengeras. "Emosi mereka belum stabil."

"Coba Abang bayangkan, jika Abang di posisi mereka; ketika tahu kondisi rakyat menikmati cekikan leher tiap detik dengan kenaikan pajak, kenaikan bahan pokok untuk perut mereka yang bermula dari penarikan subsidi sektor strategis seperti BBM, ujungnya? PHK besar-besaran. Sementara mereka dipertontonkan anggota dewan yang euphoria dengan kenaikan tunjangan perjalanan dinas, pengadaan mobil dinas yang ekstra mewah."

"Wajar kalau mereka marah, Bang," balas Izack tenang. "Dan fakta itu, nggak bisa saya bendung hanya dengan selembar surat edaran."

Suara di seberang terdiam sesaat.

"Kamu terlalu lembek, Izack."

Izack tersenyum tipis. Namun tangannya mengeras di atas seprei.

"Kalau saya paksa mereka diam, mereka akan pecah jadi dua kubu, Bang."

"Kalau saya larang keras, mereka bakal gerak tanpa kendali. Itu jauh lebih berbahaya," ucapnya menekan.

"Terus mau kamu ikuti sampai mana, kalau begini?"

"Saya arahkan energinya, Bang."

"Saya tarik, apa yang masih bisa saya tarik. Sambil tetap lakukan dialog."

"Sisanya, kita dampingi mereka dari belakang."

"Kamu bermain dua kaki?"

"Demi menjaga idealisme mereka, Bang," jawabnya optimis.

"Tapi aku juga nggak ingin membakar jembatan yang sudah kita bangun."

Hening beberapa detik.

"Kamu yakin cara ini tidak membuat orang atas meragukan kita?"

Izack menarik nafas tenang. Menelan ludahnya sendiri.

"Kalau orang atas menginginkan kita patuh tanpa hati, Bang. Berarti sejak awal mereka salah pilih." jawabnya pelan.

Suara di seberang mendengus.

"Kamu ini idealis atau politisi, Izack?"

"Saya belajar jadi keduanya, Bang," ucapnya dengan rahang mengeras. Matanya menatap keluar jendela, tajam.

Hening.

"Oke,"

"Pastikan nggak ada atribut resmi AMN di jalanan, besok."

"Sudah saya instruksikan."

"Rapikan pula, barisanmu."

"Iya."

Telepon terputus.

Izack menurunkan ponsel perlahan. Tangannya terkulai lemas seolah selesai bertarung.

Ia duduk lama, memandangi istrinya yang sudah pulas.

Di luar sana, ia dituntut menjadi seorang pemimpin. Namun di ruangan ini, ia hanya ingin menjadi lelaki biasa. Lelaki yang bisa menikmati malam-malam bersama pasangan, seperti pada umumnya.

Lampu dimatikan. Dan ia segera menenggelamkan diri ke dalam selimut yang sama dengan istrinya.

Dan tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.

Ketua harian Mabes AMN, Dido.

Ia mengecup kening Chika sebelum kembali duduk.

"Halo, ya Do?"

"Sory, malam-malam."

"Hm, nggak apa."

"Gimana kabar istri?"

"Alhamdulillah, sudah pulang."

"Kamu kapan balik?"

"Mungkin dua hari lagi, Do."

"Aduh... gimana ini?"

"Kenapa?"

"Pak Ifat dan teman-teman alumni tadi datang ke Mabes, tanya. Kenapa AMN sekarang nggak ada suaranya?"

Izack menarik nafas dalam. Menatap langit-langit kamar yang terasa penat.

"Bukannya sudah aku sampaikan sejak awal, langkah kepemimpinanku nanti gimana ya?"

"Iya, mereka juga tahu."

"Tapi kalau seperti ini, kata beliau; Kita ini seperti menutup mata, Zack."

"Sedikitpun kita nggak pernah niat menutup mata, kalau mereka paham betul bagaimana mekanisme kerja kita dengan orang-orang akademisi di CAPN."

"Harusnya, kan?"

"Kenapa itu dipertanyakan lagi."

"Karena kondisi memang parah, Do."

"Mungkin kalau nggak kebangetan, anak-anak juga nggak akan melakukan aksi turun jalan, di saat mereka disibukkan dengan rapat mingguan, sembari menyusun narasi buat sosial media mereka dengan data valid di lapangan."

Dido terdiam.

"Jadi kamu biarkan mereka?" suaranya rendah.

Izack menggeleng pelan. "Nggak, Do."

Sebelum bangkit, ia sempat mencium kening Chika yang kini terdengar dengkuran halus. Ia berdiri, berjalan pelan dekat jendela. Memandang jalanan di luar sana tampak senyap.

"Aku tahu beberapa dari mereka memang punya agenda sendiri besok."

"Apa maksudmu?"

"Mereka bukan cuma mau teriak," jawab Izack tenang. "Tapi mendengar langsung suara massa. Mencatat dan merekam. Lihat siapa yang bermain di sana."

"Dan kamu tahu itu?"

"Aku yang arahkan," jawabnya pendek.

Sunyi.

"Kamu ini..." Dido menarik napas panjang. "Berarti kamu tetap mengikuti arus mereka?"

"Aku hanya mengikuti mereka dari belakang."

Izack menatap jalanan trotoar depan rumahnya yang lebih tinggi dari badan jalan.

"Mirip penggembala,"

Dido tertawa kecil, tapi terdengar tegang.
"Keren kali, istilahmu."

"Aku nggak bisa mematikan naluri mereka sebagai mahasiswa, Do. Kau tahu sendiri kan? bagaimana mereka ketika debat adu data."

"Dan orang atas?"

"Asal posisinya nggak tersentuh aja,"

"Tapi aku punya cara jitu, jika mereka terbukti salah dan curang,"

"Kamu ganggu singa tidur, Zack."

"Ya, aku tahu itu."

"Tapi sudah siapkan formula terakhir."

"Apa itu?"

"Nanti aja, kalau kita ketemu," jawabnya tersenyum tipis.

Chika bergerak sedikit dalam tidurnya.

"Ngomong-ngomong, biasanya orang sepertimu pasca pernikahan ada acara honeymoon atau pesta kecil di kebun."

Izack mendengus kecil. Ia hanya teringat bagaimana Chika saat membicarakan pesta pernikahan atau acara honeymoon.

Telepon pun terputus

Izack menurunkan ponsel perlahan. Memejamkan matanya yang merah menahan kantuk.

Ia segera kembali ke ranjang. Menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut, dan memandang wajah Chika yang miring menghadap dirinya.

Ia menarik nafas dalam. Lalu mendekatkan wajah, menyentuhkan ujung hidungnya ke hidungnya sendiri, dan mengecup bibirnya cukup lama membuat Chika sedikit menggeliat merasakan hawa hangat di tubuhnya.

Tangan Izack terulur, mengusap wajahnya sekilas, lalu tersenyum tipis menatap wajahnya.

"Untuk kali ini saja, ijinkan aku tidur tenang tanpa berpikir apapun di saat melihat wajahmu dari dekat," ucapnya memejamkan mata perlahan.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar