Minggu, 24 Mei 2026

Bab 55. Langkah yang Dipertanyakan

 Kedatangan Izack ke Istana Negara seolah membuktikan pada masyarakat luas, bahwa gerakan mahasiswa bukanlah sekedar teriakan jalanan yang menuntut pada perubahan, melainkan kerja nyata di bawah bimbingan dan arahan para akademisi yang tergabung dalam organisasi CAPN, --di saat sebelumnya masyarakat skeptis pada sikap AMN di lapangan.

Bahkan tidak sedikit dari para akademisi yang sinis ketika Izack datang ke Istana negara.

"Heh?!! Gitu aja! Toh akhirnya ikut arus juga, sama seperti gerakan mahasiswa lain yang hanya jadi batu loncatan untuk masuk dalma sistem kekuasaan. Dan jatuhnya sama seperti mereka," gumam seorang dosen senior di salah satu ruangannya, saat mendengar berita di laptopnya.

Ada juga yang menyindir bahwa gerakan ini akan berakhir seperti gerakan yang lainnya: dirangkul penguasa, lalu pelan-pelan kehilangan ruh awalnya.

Dan Izack tahu, langkah itu memang penuh resiko. Dan akan mengundang pro kontra ketika dirinya bersuara maupun tidak dengan panggilan itu.

Itulah mengapa, ia memilih diam.

Rembug Nasional

Malam itu, Izack dan beberapa teman pengurus pusat AMN mengadakan pertemuan digital lintas cabang melalui layar lebar. Ruangan itu seperti menyedot fokus mereka pada langkah apa yang harus mereka ambil ketika gerakannya dilirik istana.

"Kita harus bisa memanfaatkan momentum ini," ucap Izack. "Setidaknya memuluskan kebijakan di lapangan saat nanti terjadi kendala dengan birokrasi pemerintah atau aparat daerah setempat."

"Untuk itu, saya menginginkan fokus kalian pada masalah di hadapan kalian, bukan isyu nasional yang dibawa media massa."

"Bukan kita yang ikut arus, tapi mereka harus ikut arus kita. Dan itu butuh konsentarasi tinggi kalian membangun narasi ke sosial media, agar masalahnya segera tertangani."

"Tapi ingat! Saya hanya butuh isyu yang melibatkan kebutuhan masyarakat banyak, bukan individu, misal soal perceraian, atau nenek meninggal karena disiksa anaknya."

"Itu bukan standar kalian."

"Oke?" kata Izack lagi menatap layar semua yang berkedip.

Beberapa orang tampak diam mencerna, beberapa yang lain hanya mengaangguk kecil.

"Ada pertanyaan atau tanggapan lain?"

"Nggak sih, Bang." jawab seseorang di layar.

"Oke, kalau nggak ada. Silahkan diteruskan dengan pemaparan isyu sosial di daerah kalian masing-masing," ucap Izack.

Saat itu Sang moderator yang tengah duduk di sebelah Izack yang berdiri, mengatur satu persatu dari mereka untuk bicara setelah sekian banyak rise hand di layar.

Beberapa isu yang mereka angkat adalah: Perbaikan infrastruktur daerah terpencil, akses kesehatan hingga masalah stunting, fasilitas pendidikan, hingga anjloknya hasil panenan pertanian yang membuat petani marah dan membuang hasil panenannya.

Sejak awal, Izack menyimak. Sesekali ia mencatat poin-poin penting yang muncul dari presentasi teman-teman AMN cabang. Hingga sesi dialog terbuka suasana pun mulai hangat hingga terjadi kericuhan antar cabang di dua jam pertama.

Izack menghela nafas panjang. Ia menoleh pada tim IT, memberi kode mematikan mic pada layar di balik dinding kaca ruangan sebelah.

Setelah hening, Izack kembali berdiri menatap layar lebar, melihat wajah-wajah yang sudah berbalik tegang. Ia kembali mengatur posisin⁹ya berharap suaranya akan terdengar jelas dan tegas.

"Teman-teman... kita kumpul di sini untuk mencari solusi, memikul tanggung jawab sebagai agent of change. Tolong diingat itu baik-baik."

"Kita tahu, negara ini dengan bermacam kondisi geografis yang sangat berbeda satu sama lain, jadi tolong hargai itu."

"Saya tidak ingin perilaku saling serang ini terbawa ke ruang publik."

"Tolong, atur lagi barisan kita." ujarnya menatap satu persatu wajah yang hadir.

Sejenak ia melangkahkan kaki ke depan. "Saya akan buka mic. Tapi tolong ingat, kita di sini untuk berkolaborasi, bukan untuk menjatuhkan dan menyerang."

"Tolong, teman-teman AMN pusat... atur jadwal untuk lakukan diklat kepemimpinan lagi untuk mengatur ini."

"Silahkan dilanjut." kata Izack, memberi kode pada tim IT di seberang ruangan.

Setelah dua jam penuh diskusi, Izack berdiri dan melangkah ke depan whiteboard yang kini jadi pusat perhatian.

Tangan kanannya sudah menjapit spidol. Tim IT langsung mengarahkan sorotan kamera pada whiteboard.

***

Sejak pertama kali Chika dan tim KKNnya tiba di kantor Badan Konservasi Pantai Barat, hujan mengguyur tiada henti. Bahkan sampai malam mereka akhirnya menunda turun ke lapangan langsung, dan lebih memilih koordinasi tim beserta orang-orang Konservasi lebih dulu di aula nya yang tak begitu luas, namun juga tidak terlalu kecil.

Di pagi berikutnya, Chika dan tim mulai mempersiapkan diri untuk turun ke lapangan sekalipun mendung sudah gelap, dan gerimis masih mengguyur kota itu. Namun semangat mereka tak runtuh. Terutama Danis yang paling getol membicarakan bagaimana seharusnya Pantai Barat ini diperluas hutan mangrove nya.

Tapi melihat kondisi pasang surut ombak yang terus menggerus bibir pantai, suara Danis mulai kendor.

"Seharusnya sejak awal terjadinya abrasi, penanaman pohon baku digerakkan, kok."

"Heh, kenyataan itu sekarang. Bukan kemarin." Protes Chika. "Kalau dari dulu sudah ditanami pohon bakau, ini sudah jadi hutan mangrove. Dan kita nggak perlu lagi kesini."

"Tapi begini kan jadi susah menentukan batas pantainya."

"Dan ini juga nggak mungkin kita langsung tanami pohon bakau, ketika ombaknya begini, tanpa adanya pemecah ombak lebih dulu."

"Padahal pemecah ombak harusnya diletakkan di depan baby-baby pohon, biar nggak langsung dihantam ombak."

"Dan poyek pemecah ombak bukan jutaan lagi, tapi bisa miliaran."

"Mantappp! Terus kita ngapain dong, kesini?"

Obrolan itu terdengar oleh Badan Restorasi dan Konservasi Mangrove.

Pria itu terkekeh melihat wajah lemas Danis.

"Kalau hanya tanam pohon, monyet juga bisa kita latih. Masalah paling berat di sini bukan ombak laut, tapi kegigihan hati warga."

"Mereka sudah putus asa karena seringkali gagal. Kalian kemari dituntut memberikan solusi, bukan mengendorkan semangat mereka."

Mereka pun berjalan semakin mendekati bibir pantai yang bukan lagi cokelat, melainkan kehitaman.

"Ngomong-ngomong, darimana air laut warnanya bisa sekeruh itu?"

Tanpa aba-aba, lelaki berambut ikal, Vino langsung mengeluarkan drone dari dalam ransel dan memprogramnya dengan tiga orang laki-laki lain yang membantu.

Sementara Chika dan Danis masih ngobrol dengan orang Instansi.

"Tanggul ini baru diperbaiki bulan lalu, Mbak Chika. Tapi jebol lagi karena terjangan ombak," lapor salah satu staf dinas setempat.

Chika mendekat ke bibir air. Ia memperhatikan riak air itu. "Ombak ini jauh lebih kecil dibanding Pantai Timur yang berhadapan langsung dengan samudra. Logikanya, tanggul ini tidak seharusnya kalah secepat itu."

Di hadapannya, ribuan sampah plastik mengapung, menari-nari mengikuti arus yang membawa mereka masuk ke saluran-saluran daratan. Suara deru mesin pompa terdengar memekakkan telinga, bekerja keras menyedot air yang menggenangi pemukiman untuk dibuang kembali ke laut.

"Ini solusi konyol," gumam Chika ketus.

"Maksudnya, Mbak?" tanya staf tadi.

"Kita menyedot air keluar, sementara pintunya terbuka lebar di depan sana. Capek doang," jawab Chika tanpa menoleh.

Pantai Barat. Tak ada pasir putih atap pasir hitam legam. Yang ia lihat hanyalah bentangan air laut berwarna cokelat gelap, pekat. Dan sampah plastik yang teronggok terseret ombak di bibir pantai.

Chika yang berdiri di bawah mantol, menatap tanggul pembatas yang tampak jebol tergerus ombak. Sementara pohon mangrove dibelakangnya, seolah dilindungi compang-camping.

Tak lama dari itu Bintang berhasil menerbangkan drone, lalu membiarkannya melayang-layang di atas mereka. Orang Instansi itu memberikan arahan kemana mereka harus melihat sesuatu.

Tak lama kemudian rintik hujan mulai reda, ia menerbangkan alat itu tinggi-tinggi. Melalui layar monitor, petaka itu terlihat jelas: air laut tidak hanya naik, ia seolah-olah "menelan" daratan. Bibir pantai tergerus hebat, dan puluhan kampung di bawah sana sudah menyerupai kolam raksasa.

"Ini memang fenomena Global Warming, Mbak. Suhu bumi naik, es kutub mencair, laut pun pasang," celetuk seorang lelaki yang ikut menonton monitor drone Bintang.

Chika hanya tersenyum, namun senyumnya pahit dan tajam.

Dida yang berdiri di sebelah ngumpat, lirih. "Global warming kepala kau."

"Pak," ucap Chika, menatap warga itu. "Kalau Bapak bilang ini murni global warming, harusnya air di pesisir Pantai Timur dulu yang naik, dan menenggelamkan pantainya. Karena berhadapan langsung dengan samudra, yang seberangnya adalah kawasan kutub yang katanya mencairkan es. Tapi ini realitasnya, kenapa yang tenggelam duluan justru Pantai Barat yang hanya berapa kilometer seberangnya pulau-pulau cantik yang masih bersih."

"Itu kan artinya memang di kawasan ini yang perlu diperbaiki, Pak."

Warga itu terdiam, tak mampu menjawab. Chika tahu, ada masalah lain yang lebih sistematis: penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah dan beban industri, bukan sekadar es di kutub yang mencair.

Chika kemudian memutuskan berjalan kaki, menyusuri kampung pesisir yang sudah terendam banjir setinggi lutut orang dewasa. Pemandangan di depannya membuat perutnya mual, namun juga miris: seorang lelaki bertelanjang dada menyuapkan nasi anaknya di teras rumahnya, tepat di depannya, --anak kecil jongkok buang air besar di depannya. Dan hanya dua meter dari sana, segerombolan anak-anak bersorak kegirangan, berenang dan menyelam di air keruh.

Di sudut lain, ibu-ibu dengan wajah pasrah menjemur pakaian pada seutas tali yang melintang di depan rumah yang sudah terendam separuh dinding.

Kemiskinan dan bencana seakan jadi rutinitas yang dianggap normal.

Chika mematikan ponselnya yang sejak tadi bergetar—mungkin pesan dari Izack yang sudah lama tidak pernah berinteraksi.

Saat ini, amarahnya berubah jadi tekad.

"Jangan salahkan nanti, kalau aku nggak mau pulang. Karena sepertinya potensi bisnis di sini sudah muncul di kepalaku."

Sementara di sudut kota Takata, Izack tersenyum tipis menatap pesan singkat itu yang sudah puluhan kali telepon dan pesan singkatnya tak pernah dibalas.

Lelaki itu menarik nafas lega. Ia kembali menatap monitornya, lalu kembali senyum-senyum membayangkan bagaimana tingkah lakunya yang konyol tapi selalu membuatnya kangen karena keseruan itu.  


Bab 54 Satu Meja dengan Penguasa

 

Sore hari.

Izack berdiri di hadapan pintu kayu besar dan tinggi, berukir ribuan kepulauan yang membentang luas, "Bak serpihan sorga yang jatuh ke bumi."

Dua penjaga berseragam formal hanya mengangguk singkat saat Izack turun dari mobilnya yang langsung disambut oleh seseorang berseragam. Lalu ia langsung dituntun masuk oleh orang tersebut selapis demi selapis dari ruangan ke ruangan lain.

Tanpa suara, pintu terbuka dari dalam.

Ruangan itu sunyi, kedap dan dingin.

Langit-langitnya tinggi, jendela besar dengan gordyn putih tipis membiaskan cahaya luar yang samar. Tak banyak perabotan, hanya meja-meja bundar yang memberi jarak antara satu dengan yang lain. Hanya kursi kayu berpolitur coklat tua yang mengkilat di atas karpet merah, meredam langkah siapapun yang datang.

Presiden duduk tenang di sisi kiri Izack, mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung hingga siku. Pandangannya menghadap deretan kursi yang berjajar memanjang. Di hadapannya, Izack duduk dengan postur tenang namun tak bisa menyembunyikan tatapan gugupnya.

Presiden yang selalu dikenal senyum ramah, --tapi penuh perhitungan itu, menyambutnya dengan hangat namun sorot matanya tetap waspada.

"Selamat sore, Ananda Izack," sapa Presiden ramah. Tapi dengan sorot mata dalam dan tajam.

Izack menunduk sopan. Tak ada senyum, hanya tangan yang terkepal di pangkuan tenang. "Selamat sore, Bapak Presiden. Terima kasih atas undangannya," jawab Izack pendek.

"Gerakan yang kamu rintis bersama Aliansi Mahasiswa Negara... sudah sampai ke telinga saya, bahkan sebelum laporan resmi masuk."

"Dan itu, bukan hal biasa."

"Saya salut itu."

"Anak muda yang baru berusia dua puluh tujuh tahun, tapi sudah punya perusahaan penerbitan besar, sekaligus mampu menggerakkan massa segitu banyak. Bahkan kabarnya kamu mendorong gerakan komunitas CAPN yang isinya para dosen dan penelit?"

Izack berusaha senyum ramah, sekalipun batinnya bergejolak.

"Saya rasa itu prestasi yang luar biasa untuk Jendral Arsyad."

GLEKK...

Izack menegang seketika. Sekilas, senyumnya memudar. Bukan karena malu --tapi karena rasanya... seperti ada yang sedang ditelanjangi dari sisi dirinya.

"Saya salut. Kamu membuka pintumu sendiri. Menggerakkan generasi muda, yang hari ini banyak melarikan diri ke negara lain."

"Padahal kamu lebih dari sekadar bisa, jika mau. Ya?"

Izack hanya senyum, menatap meja sekilas.

Sejenak ruangan Hening.

Izack tetap tenang, menarik nafas perlahan, lalu menghembuskannya lewat hidung. Sehingga reaksinya masih terlihat tenang tanpa tertekan.

"Saya tidak melihat siapa di belakang saya, Bapak Presiden."

"Saya hanya merasa tergerak untuk melakukan sesuatu, yang kebetulan teman-teman di AMN juga punya keresahan hal yang sama."

Izack diam sesaat seperti sedang menata kalimatnya.

"Kami resah dengan masa depan kami."

"Sementara, kami sebagai Mahasiswa --tidak memiliki kendaraan yang cukup untuk melakukan perubahan raksasa di negeri ini, kecuali guru-guru kami di kampus. Bahkan akhir-akhir ini, banyak guru sekolah tingkat sma dan sd yang ingin ikut gabung, karena keresahan sistem pendidikan dan penggajian mereka."

"Banyak di antara mereka yang tulus ingin mengajar, namun kondisi perut anak-anak di rumah menjerit lebih keras daripada yang kita bayangkan."

Klekkk...

Sampai di detik ini Izack terdiam sejenak, merasa ada sesuatu yang salah dengan redaksi kalimatnya. Ia seperti sedang membuka kelemahan organisasi yang ia pimpin. Dan ia tak mau ada kesalahan berikutnya sampai di ujung pertemuan ini.

"Untuk itulah kami coba jadi jembatan --antara aspirasi masyarakat lewat sosial media, lewat jajak pendapat dan data di lapangan, hingga bagaimana harusnya arah kebijakan negara ini berjalan lewat guru-guru kami di CAPN."

Suara Izack terdengar tenang, menekan penuh perhitungan yang dalam. Ia kembali menegakkan punggungnya lalu mengatur nafasnya perlahan lewat hidung.

Ada senyum samar dari tatapan Presiden yang membuat Izack gentar. Tapi ia berusaha pegang kendali, di saat Presiden beranjak dari tempat duduknya.

Beliau berjalan menunduk seolah menghitung langkah kakinya sendiri.

Lalu menghadap pada lukisan sosok founding fathers negara yang menempel di dinding.

Ruangan itu terasa senyap, dingin dan mencekam, sekalipun lengang dan luas. Tapi bagi Izack, itu seperti puncak dimana ia sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri. Di hadapan seorang penguasa, di hadapan semua guru besar di belakangnya, dan dihadapan mahasiswa yang dipimpinnya, serta sebongkah harapan besar masyarakat yang tampak jauh di belakangnya.

Ia menelan ludah dalam diam, mencoba menekan perasaan gentar apa yang bakal Presiden katakan.

"Beberapa hari yang lalu kami menerima laporan dari Badan Intelegen... Ada sekelompok orang yang mencoba menyusupi ke gerakan kalian..."

"Mereka bukan Mahasiswa dan juga bukan dosen maupun peneliti dari manapun. Tapi mereka memang orang-orang cerdas dan hebat."

"Tapi mereka memakai nama kalian, dan menumpang suara kalian, serta membawa agenda lain."

"Oh," jawab Izack setengah ragu terbayang kasus Fendi.

Baginya ini seperti sebuah peringatan keras yang bakal menggiringnya agar masuk ke dalam rengkuhan kuasanya di saat ia merasa bukan siapa-siapa.

Tapi kuasa rakyat lewat sosial media yang sedang ia bangun itu luar biasa kuat.

"Apakah ini sinyal bahwa mereka akan mulai mengintervensi? Atau hanya uji keberanian?" pikir Izack mulai goyah. "Tapi, apapun itu maksudnya. Aku tak akan membiarkan ini jadi titik mundur."

Izack menarik nafanya pelan dan dalam, mencoba se tenang mungkin.

Presiden kembali duduk, ia memberi isyarat pada ajudannya yang masih berdiri di belakang kursi dengan map hitam di tangannya yang kemudian diletakkan di depan meja Izack.

"Saya ingin kamu bergabung dalam Dewan Pemuda Nasional," ucap Presiden.

"Kamu akan duduk di meja --bersama saya dan badan intelegen negara."

"Bukan untuk menjadi anak buah --tapi untuk menjaga arah."

Deggg...

Izack diam membeku. Sesak.

Itu bukan tawaran biasa.

Dan yang tak bisa dipungkiri, denyut jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia menarik nafas dalam dan pelan.

"Jika kamu terima, kamu akan siap kehilangan satu hal: kamu akan kehilangan hak untuk bicara lepas."

"Karena sekali kamu masuk lingkaran ini, kamu bukan lagi milik gerakanmu yang utuh. Tapi juga milik negara ini, sepenuhnya."

"Namun kalau kamu tolak, saya tidak akan marah."

"Kamu akan tetap berjalan di luar, bersuara dan bergerak dengan komunitas yang kamu bawa."

"Tapi suara dari dalam... selalu lebih mudah mempengaruhi arah kapal."

Izack terdiam, ada senyum samar di bibirnya.

Sejak semula, ini sudah terpikirkan. Dan ia tak akan masuk ke dalam gedung ini sampai kapanpun. Karena ia tahu betul konsekuensinya.

Dan itu... tidak akan pernah terjadi.

Ia hanya seorang anak manusia, seorang pemuda yang tengah menggenggam cintanya. Dan sejuta harapan suara dari bawah yang menekannya untuk meyuarakan itu ke atas.

Izack menatap map hitam itu sejenak, lalu mengangkat wajahnya perlahan.

"Terima kasih atas kehormatan yang begitu besar, Bapak Presiden."

"Bagi saya, ini lebih dari sekadar tawaran --ini adalah bentuk kepercayaan Bapak Presiden kepada saya."

Izack menarik nafas panjang, suaranya tetap tenang namun tegas.

"Namun izinkan saya tetap berada di luar lingkaran."

"Saya percaya, suara dari luar itu jauh lebih jernih, karena tak terikat apapun."

"Harapan kami, ini jadi pengingat jika kapal mulai bergeser dari arah tujuan."

"Bukan karena saya menolak tanggung jawab. Tapi karena saya tahu, tanggung jawab saya adalha meneruskan suara-suara kecil yang nyaris tak terdengar."

Lalu, sejenak ia tersenyum kecil.

"Selama Bapak Presiden bersedia mendengar, maka saya akan terus berbicara dari luar. Tentu saja dengan jiwa nasionalis saya yang masih utuh dan murni."

Presiden tak menjawab. Tapi Izack tahu, bahwa diamnya adalah bentuk jawaban.

Di luar sana, dunia tak tahu apa yang sedang terjadi di balik pintu besar itu.

Tapi bagi Izack, keputusan ini bukan sekadar penolakan.

Ini adalah janji, yang diam-diam ia katakan pada orang nomor satu di negeri ini.

***

Saat Izack keluar dari pintu besar istana, kilatan wartawan langsung menyambut, mengelilingi dirinya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

Ia hanya menunduk sebentar, menunggu Ozin yang berusaha menerobos kerumunan.

Mata Izack menatap kaki-kaki di sekitarnya, lelah berdesakan, penuh harap, bahkan mereka ada yang tampak putus asa mengerubungi dirinya.

Namun ia tak menjawab sepatah katapun. Hanya menatap langit sebentar, lalu membiarkan tubuhnya diarahkan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ozin memutar cepat, dan masuk ke dalam kursi kendali.

"Maafkan aku, Bapak Presiden... Aku tahu posisi Bapak, di saat negara kondisi genting seperti ini."

"Tapi saya juga tahu, dimana harusnya saya berdiri." ucapnya dalam.

Ia teringat jelas wajah Presiden saat dirinya menolak tawaran itu. Ada senyum tipis di wajah pemimpin negeri itu --sedikit kecewa, tapi masih menyimpan penghargaan. Senyum yang mungkin tak akan terlihat... jika Izack tak menatapnya dalam diam.

***

Langit di luar perlahan redup. Hingga bayangan wajahnya terlihat di kaca jendela.

Kini, pundaknya terasa berat.

Ia kembali menghidupkan ponsel. Dan notifikasi pesan pun masuk bertubi-tubi.

Izack menurunkan kaca jendela di saat melintasi jalanan yang tenang.

"Mau kemana sekarang, Bang?"

"Ke rumah Papa."

"Tapi teman-teman AMN sudah menunggu di Mabes, Bang"

"Biarkan aja."

"Aku perlu charge energiku sendiri."

Izack menekan kening lalu menyandarkan punggung dan memejamkan mata. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Ozin meliriknya sekilas, ingin bertanya lebih, tapi urung.

Ia tahu batasnya. Selain pekerjaan kantor penerbitan, Izack nyaris tak pernah bicara soal AMN. Sekalipun Ozin dulu anak buahnya di AMN di Kota Pelajar.

Tapi satu hal yang Ozin tahu pasti: kunci dari semua penyelesaiannya adalah -Papa-nya.

Sementara di luar sana. Media sosial mendadak riuh.

Satu persatu, Mahasiswa dari pelosok Tanah air, mulai ber cuitan di sosial media.

Ada langkah apa, Ketua Umum AMN masuk pintu Istana?

Kira-kira apa yang mereka bicarakan?

Halah! Akhirnya, ketua umum AMN bertekuk lutut juga pada sistem yang sempat ia kritik?

Akankah seorang CEO itu akhirnya mencari keuntungan juga, demi memuluskan proyek perusahannya?

Hashtag ramai

#AMNternoda

#PolitikAsalBapakSuka

#AMNMerubahArahIdeologi

#GoAMN&CAPN

Bahkan Diaspora mahasiswa yang tergabung dalam komunitas CAPN pun ikut bersuara:

Sudah saatnya... suara Mahasiswa menggedor pintu kekuasaan.

Seorang Peneliti berkomentar di salah satu sosial media: "Ini baru MAHASISWA"

Lalu seorang dosen dari jurusan Chika yang tergabung dalam CAPN –yang kini tengah menggerakkan konservasi satwa liar pun bercuitan:

Presiden memanggil ketua AMN bukan karena ingin menghentikan langkah. Tapi karena tahu, AMN bukan organisasi politik mahasiswa yang kaleng-kaleng.

Jika pemuda seperti Izack saja diberi tempat di meja negara, maka ia bukan gerakan biasa. Ini sudah menjadi kekuatan.

Dalam sekian jam jutaan cuitan menyebar cepat seperti jamur yang tumbuh subur, seolah bukti bahwa: AMN dan CAPN bukanlah organisasi akar rumput.

Mereka adalah bukti, bahwa generasi muda masih hidup di negeri ini.

Mereka bukan mati, tapi berstrategi. Mengatur barisan cukup rapi, demi memperbaiki sistem yang terus menerus dicurangi.

***

Malam itu Pak Arsyad baru datang. Izack menunggu tak butuh waktu lama di kamarnya sendiri -kamar lamanya semasa SMA dulu.

Ia selesai menelepon beberapa orang temannya sambil mengganti kaos lengan panjang turtle neck, lalu duduk di ruang keluarga menunggu ayahnya selesai makan. Ditemani acara pertandingan sepak bola, ia menyesap secangkir teh hangat di tangannya.

Dan suara tv langsung ia kecilkan saat tahu ayahnya datang.

Lelaki itu duduk di sebelah kiri sofa yang berbeda.

"Kenapa nggak makan dulu, Zack?"

"Masih kenyang, Pa," jawabnya santai.

Lelaki itu memberi kode sekilas pada pembantunya. Tak lama kemudian pembantunya mengeluarkan umbi-umbian dan kacang rebus. Izack tersenyum sekilas seolah memahami makanan kesukaannya di masa kecil dulu.

Ia mencapit potongan ubi ungu dengan jarinya dan mulai mengupasnya perlahan.

"Masih ingat kecilmu dulu, awal datang ke rumah kita di Kompleks Militer?"

Izack hanya tersenyum samar.

"Nggak ingat, hanya sekilas gambaran nggak begitu detil, Pa."

"Waktu itu kamu nangis minta pulang ke panti. Lalu mendengar se kompi prajurit lari pagi sambil bernyanyi lewat depan rumah, kamu mendadak diam."

"Pak Hari datang menawarkan ubi ungu, malu-malu kamu ambil satu, lalu minta satu lagi," Papa tersenyum kecil.

"Saat itu moodmu jadi berubah happy berkat ubi ungu."

"Oh ya??!" Izack terkekeh mengupas ubi.

"Tapi ubi ungu hari ini sama dulu sepertinya lebih nikmat dulu, deh. Pa."

Izack tersenyum lebar seperti membayangkan bagaimana dirinya di masa lalu sambil mengunyah.

"Dulu, waktu kita masih tinggal di rumah dinas. Papa sering kaget bangun di pagi hari, ingat harus mengantarmu ke Panti Asuhan."

"Bahkan saat kamu sudah SMP pun, kadang Papa masih cemas kalau kamu nggak pulang ke rumah."

"Papa tahu kemana Izack pergi saat itu?" tanya Izack sambil tersenyum nakal seorang bocah.

"Tahu, kamu cari informasi orang tuamu."

Izack tersenyum mengambang sambil mengupas ubi lagi.

Namun perlahan ada rasa sakit yang tertahan membuat pandangannya tertunduk seketika, seakan ingin menyembunyikan raut itu.

"Papa percaya. Jika Tuhan ijinkan, kamu akan dipertemukan dengan mereka, Zack..."

"Atau... barangkali jika kamu ingin, kamu bisa buat pertemuan pers. Apalagi hari ini, namamu masih jadi perbincangan hangat di sosial media."

Izack menggeleng kepala diam.

"Kenapa?"

Izack diam, kali ini mulutnya berhenti mengunyah. Ada luka di sana. Dan Papa tahu itu, hingga ia sengaja mengalihkan perhatian.

"Zack..." suara Papa tertahan.

"Papa nggak habis pikir, kenapa kamu menolak tawaran Bapak Presiden?"

"Beliau ini teman se-perjuangan Papa, sejak dulu."

Izack hanya tersenyum sekilas, tapi ia tak menjawab. Ia kembali membungkuk, mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya pelan.

"Justru itu, Pa."

"Diantara sekian banyak alasanku menolak tawaran beliau, karena aku tahu Papa dekat dengan beliau."

"Justru itu, kan Zack..."

"Nggak seperti itu, jalan hidup Izack. Pa," tatapannya mengambang pada layar televisi.

Izack diam seakan memperhitungkan kata-kata yang hendak ia ucapkan. "Izack bisa hadir di Istana karena membawa amanat besar suara akar rumput."

"Bisa dibayangkan ketika sampai di Istana, Izack harus membalikkan badan dari mereka yang mengusung Izack sejak awal..."

"Selain itu, jelas ada perjanjian yang tak bisa ditawar membuatku tak lagi bersuara ketika menerima tawaran beliau."

"Dan itu seperti pengkhianatan terbesar buat orang-orang di belakangku. Pa..." suaranya tajam dan berat

Lelaki tua dengan rambut mulai beruban itu kembali diam, menatap lekat wajah anaknya.

"Izack... aku suka dengan idealismemu. Tapi, hidup itu nggak melulu seperti itu."

"Aku tahu, Pa."

Pak Arsyad kembali diam menatap dalam. "Papa sudah melihat banyak idealis jatuh, Zack... bukan karena mereka salah. Tapi dunia ini tidak menyiapkan tempat untuk orang yang berdiri terlalu tegak. Dunia lebih nyaman dengan mereka yang bisa sedikit menunduk."

Izack meletakkan gelasnya, lalu menatap ayahnya lekat-lekat. Kali ini tatapannya tak lagi datar, tapi mengandung sesuatu --keberanian yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

"Justru karena dunia seperti itu, Pa. Kita nggak boleh menunduk semua."

"Kalau semua orang diam dan mau menunduk, demi kenyamanan. Lalu siapa yang mau memperbaiki arah saat kapal berbelok arah."

Pak Arsyad menghela nafas berat.

"Sepanjang hidup Papa menjadi prajurit, taat pada perintah adalah kunci utama, Zack..."

Izack hanya tersenyum tipis.

"Itu membanggakan sekaligus mengkhawatirkan bagi Papa, Zack."

Spontan Izack tersenyum geli membayangkan posisi dirinya yang sedikit menghkawatirkan bagi keberadaan ayahnya di mata Sang Presiden.

"Tapi, apapun itu. Papa hargai keputusanmu."

Papa kembali menatap tajam.

"Tapi satu pesan Papa: Jangan pernah berhenti belajar."

"Karena keyakinan tanpa pengetahuan itu bisa jadi kesombongan."

Izack mengangguk pelan seolah mengendapkan kata-katanya.

Tak ada kata yang keluar lagi.

Lalu ia kembali menunduk, mengambil potongan ubi ungu di depannya dan mulai mengupasnya perlahan.

"Gimana kabar Chika?" tanya Papa.

Izack tak menjawab, ia hanya tersenyum geli sembari mengupas ubi, terbayang tangis teriaknya di saat ia rapat kantor.

"Gimana usulan tanah 10Ha kemarin?"

"Izack pertimbangkan dulu, Pa."

"Kalau iya, Papa segera konfirmasi ke Pak Aru yang menawarkan itu kemarin," jelas Papa menatap gerak-gerik Izack yang dengan tenang mengunyah ketela, dengan gayanya yang elegan.

Meski begitu, di mata Papa. Izack tak lebih dari sosok pelajar yang kemarin sore bolos ujian sekolah demi menyelamatkan kios kecil foto copyan nya. Beliau bahkan kadang tak sadar, jika anak angkatnya ini sudah jadi boss besar perusahaan.

Lelaki dengan posturnya yang semampai itu diam tak langsung menjawab. Begitu potongan ketela itu habis, ia mengambil botol air mineral sisa tadi. Sambil tersenyum, ia memutar-mutarkan botol itu di depan wajahnya.

"Ini kalau ada Chika, aku dimarahi Pa."

"Kenapa?"

"Dia anti minum air mineral botolan sekali pakai begini."

Papa tertawa. "Oh ya?"

"Bahkan ketika aku belikan dia baju baru aja, ngomel nggak kelar-kelar gara-gara sampah fashion itu sampah terbesar di dunia saat ini."

Tawa itu perlahan reda. Keduanya kembali terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Sejak pertama kali kamu bawa dia kemari. Papa lihat sorot matanya tajam, penuh semangat. Sekalipun masih lemas habis operasi."

Lagi-lagi Izack tersenyum geli terbayang lintasan peristiwa selama dengannya.

Papa kembali menatap dalam.

"Kata Mama, cewek cerdas itu nggak bisa anteng, Zack."

"Kalau nggak pikirannya yang lari kenceng, badannya harus gerak. Kalau kamu tahan suruh istirahat, bisa-bisa dia stres, merasa dikekang."

Spontan Izack tersedak, menyemburkan tawa.

"Lha itu dia, Pa."

"Makanya kamu harus jadi garda terdepan memahami dia. Kalau enggak, bakal ribut terus."

Izack menunduk lelah.

"Iya begitu kurang lebihnya, Pa."

"Makanya, Papa sarankan beli tanah itu. Biat dia punya lahan observasi sendiri, sekaligus tempat berbisnis, jika mau."

"Jadi dia nggak perlu kerja keluar."

"Kalau kamu mau, Papa akan talangi seluruh dananya. Sebagian lagi kamu ambil dari dana tabungan pernikahanmu dulu"

"Nggak perlu, Pa," potong Izack. "Izack masih mampu lah,"

Hening.

Malam itu seperti jeda yang menenangkan.

Ia tak tahu apa yang bakal terjadi esok, lusa atau bulan depan. Ia juga belum siap menghadapi dampak penolakannya pada tawaran presiden –terutama proyek besar perpus digital yang kini baru goal.

Dan di hari-hari berikutnya, ia mulai sering dapat tawaran pertemuan pers. Namun, tak satupun ia terima.

Hingga komentar netizen mulai terus bergulir: "Apa sebenarnya isi tawaran itu, sampai Izack berani menolak."