Sudah hampir seminggu ketiganya bersama dalam tawa dan tangis.
Tapi sejak dua hari yang lalu, Hendrik mulai sering pulang ke kos, selesaikan urusan tesis dan membawa baju laundry milik Chika.
Dan diam-diam kedekatan emosi Izack dan Chika pun terbangun.
Meski awalnya kikuk dan canggung, saat berdua. Tapi sebagai lelaki berkelas, Izack tak kurang akal. Ia menekan dengan obrolan ringan hingga cair.
"Gimana kabar naskah bukumu dulu? Jadinya kamu kirim kemana?"
"Di kos. Bang,"
"Belum kamu ketik ulang?" tanyanya lagi. Lelaki itu duduk tenang di sofa dekat jendela, melipat satu kaki di atas kaki lainnya.
Chika menggeleng pelan. Gadis itu berusaha duduk, Izack segera tanggap menekan tuas di bawahnya.
Saat ranjang dalam posisi duduk, Chika merasa lega. Ia mengangkat wajah, menatap Izack yang duduk tenang di sofa.
"Ngomong-ngomong, kenapa naskah itu sampai ke tempatmu, Bang?"
Izack mengangguk pelan. "Hm, Awan nggak berani menerbitkan."
Chika mencelos. "Oh,"
Sejenak Izack menatap sorot matanya –cukup lama dan dalam, seolah mencari kata paling lembut untuk gadis itu.
"Kamu tahu kan, naskah itu riskan kalau sampai terbit?"
Chika menunduk, memainkan jari. "Iya, Bang. Aku tahu."
"Terus kenapa kamu kirim ke Awan?"
Butuh beberapa detik Chika buka mulut.
"Karena aku butuh uang banyak, saat itu."
Izack menoleh pelan, menarik nafas.
"Dibanding uang... kamu pilih mana, kalau buku itu terbit dan nyawamu ikut jadi taruhan?"
Chika tersudut.
Suasana hangat serasa retak seketika.
"Untung Awan kirim ke aku," lanjutnya. "Bayangkan kalau jatuh ke tangan penerbit lain."
Chika menunduk, tak berkutik.
Hening cukup lama sebelum akhirnya Chika berbisik. "Waktu itu... aku nggak tahu lagi, bagaimana caranya bayar hutang Bank."
Izack melotot. "Kamu hutang Bank?"
Chika mengangguk pelan.
"Untuk?"
"Masuk kuliah," rautnya makin tenggelam. Matanya mulai berkaca-kaca.
Izack menautkan kedua tangannya ke atas lutut, berusaha tetap tenang. "Berapa?"
Chika tak menjawab –hanya menghapus cepat air mata yang jatuh.
Tepat saat itu pintu diketuk, memecah keheningan. Seorang petugas datang membawa menu sarapan. Izack membantu menata semuanya di meja samping ranjang. Namun ketika Chika menatap makanan itu, ia justru merunduk.
"Kenapa?" tanya Izack.
Chika tertawa hambar sambil mengusap air mata. "Ternyata begini rasanya... orang kelaparan sampai di ujung maut."
Izack tersenyum samar. Mulutnya ingin katakan banyak hal, tapi rasanya tak satupun yang pantas. Hingga ia pun memilih diam.
Hening.
Beberapa menit kemudian Chika menarik selimut turun.
"Sebel banget sama diriku sendiri," ucapnya memaksa senyum.
Izack menatap sayang, namun menjaga jarak.
"Dokter bilang, kamu dibolehkan makan apapun asal yang lembut. Mau aku pesankan apa?"
Chika menggeleng. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Please Bang, aku jadi sedih dengarnya," tawa Chika pahit.
"Loh?!"
Chika diam menarik nafas dalam.
"Aku nggak terbiasa dilayani siapapun. Kalau kamu melayani aku, kesannya aku ini lemah banget."
Izack melongo.
Tak disangka, gadis yang ia kira terlalu lemah, ternyata terlalu lama menahan beban.
"Oh, sory! Aku nggak tahu harus berbuat apa."
Hening.
"Tapi... sebenarnya pintu rejeki itu terbuka, ketika kamu mau menerima pertolongan atau pemberian orang lain, loh."
"Itu artinya seperti..."
"Mmm..." ucap Izack sambil berpikir.
Dari arah samping, Chika sempat terkesima dengan rahangnya yang tegas dengan kulitannya yang halus. Namun saat wajah Izack kembali berpaling, Chika langsung menurunkan pandangannya.
Izack yang membaca itu hanya tersenyum.
"Ibarat ada tamu yang mau masuk membawa tentengan, tapi pintu yang kamu buka sempit banget. Mana bisa tamumu masuk."
Chika mengerjapkan mata kikuk. Ia menatap lelaki itu sekilas.
"Berarti aku harus membuka pintu lebar-lebar?"
"Minimal, tamunya bisa masuk."
"Tapi kalau kamu ingin menerima rejeki lebih lagi, itu artinya kamu harus buka pintu hatimu lebar-lebar," jelas Izack, penuh maksud.
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Chika menarik nafas dalam.
Sorot matanya terlalu polos.
Dan ia tak paham apa maksud kata-kata itu.
Perlahan rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhnya terasa luruh dan pudar. Ada rasa hangat yang perlahan menyelimuti tubuhnya hingga terasa nyaman dan damai.
Bolehkah aku bersandar pada orang lain, sesekali waktu?
Atau... biarkan diriku bersandar padanya selamanya?
Lagi-lagi keheningan itu membuat keduanya kikuk.
Tapi pikiran Izack kembali terusik soal naskah buku itu.
"Boleh aku tanya soal naskah bukumu?"
Chika hanya mengangguk cepat. "Hm,"
"Kalau boleh tahu... Siapa sebenarnya kakek dan ayahmu?"
"Jangan-jangan mereka orang penting dalam sejarah?"
Chika menelan makanan di mulutnya, lalu tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri.
"Bukan siapa-siapa, Bang..." senyumnya tampak getir.
"Cuma orang biasa, yang kebetulan pernah berjuang di masa perang dulu," jawab Chika.
Gadis itu menyendok terakhir bubur sumsum, hingga sepotong pepaya dan susu cokelat hangat.
Izack membantu menyingkirkan mangkuk dan piring di meja, lalu melipat meja itu lagi.
Melihat gerakan Izack yang sigap membantu, membuat dada Chika kembali terusik.
Ah... betapa egoisnya aku, akhir-akhir ini.
Lelaki yang sejak hari pertama sudah mengkhawatirkan kondisiku.
Bahkan di saat aku tak peduli dengan kesehatanku sendiri. Tuhan masih kirimkan malaikat tak bersayap ini untukku. Batin Izack bergumam.
"Boleh aku lanjutkan?"
"Hm," jawab Izack mengangguk pelan.
"Naskah itu pernah jatuh ke tangan orang, selain Awan dan aku?"
Chika menggeleng pelan, "Belum."
Izack diam sejenak seakan kembali menata pikirannya.
"Sebaiknya kamu amankan betul itu bukumu, sebelum jatuh atau dibaca orang lain."
Perlahan namun pasti, raut Chika mulai tegang.
"Jadi, pantas saja kalau keluargamu jadi korban orang nggak dikenal," ucapnya setengah menggumam.
Chika meringis pelan menekan perut dan nafasnya tampak pendek putus-putus.
"Maaf Bang, lain waktu saja bicarakan ini. Nafasku sesak," ucap Chika berusaha merebah.
Izack merasa bersalah. Ia segera menekan tuas di bawah ranjang, menurunkannya hingga posisi datar. "Maaf! maaf!!"
"Aku nggak akan tanya lagi soal buku itu."
Saat itu Hendrik masuk.
Ia kaget melihat Chika kembali memakai selang oksigen.
"Kenapa Zack?" tanya Hendrik melotot,
Izack mendenguskan nafas. Chika mengangkat tangan seolah menyuruhnya diam.
Suasana kembali tegang.
"Perlu aku panggilkan perawat?"
Chika mengangkat tangannya lagi, isyarat untuk tenang.
Gadis itu menarik nafasnya sekali, lalu memejamkan mata.
Izack kembali duduk dengan raut cemas, Hendrik menatap heran keduanya secara bergantian.
"Kamu apakan dia?"
Izack diam tak menjawab. Tapi sorot matanya tampak merasa bersalah.
***
Siang itu, udara di luar terasa dingin dari biasanya.
Chika menyendok bubur sumsum pelan, matanya sesekali menatap Izack di seberang meja, sibuk bicara dalam layar laptop yang memantulkan wajah seriusnya.
Ia dalam pertemuan teleconference dengan teman-teman AMN.
Mereka membahas kerja sama dengan CAPN, menyoroti berbagai isu yang tengah berkembang di masyarakat –mulai dari tercabutnya tanah adat yang berubah menjadi lahan perusahaan swasta, deforestasi hutan demi pembangunan dan tambang yang kian meluas di berbagai wilayah, hingga kerusakan laut yang ditanggul dan dijadikan lahan bisnis, serta kenaikan harga sembako imbas dari kenaikan bahan bakar dan tarif listrik.
Di sisi lain, media sosial panas dengan video Izack menggendong Chika dari depan kos putri masuk ke dalam mobilnya.
"Maaf Bang, sepertinya kamu perlu lakukan pertemuan pers. Atau konfirmasi terkait beritamu yang tersebar itu." cletuk salah satu anggota.
"Mohon tidak membahas isu pribadi di sini," jawab seseorang terdengar dari balik layar.
"Oke, siap," jawabnya.
Izack segera angkat suara,
"Sekian dulu, jika nggak ada bahasan lain. Kita ketemuan besok sore jam tiga,"
"Terimakasih semua," ucap Izack menutup acara.
KLIKK... layar video pun mati seketika.
Izack memperbaiki tulisan sebentar, lalu mematikannya, dan menutup laptop.
Dari seberang tempat Izack duduk, dengan raut wajahnya yang kini tampak terang, Chika kembali memperbaiki posisi duduknya.
"Bang..."
"Hm?!" jawabnya, meletakkan laptop di atas meja kecil.
Izack menatap mata panda gadis itu cukup lama, Chika yang tak tahan langsung mengalihkan pandangan.
"Kira-kira... biaya Rumah Sakit ini habis berapa puluh juta, ya?" tanya Chika yang disambut suara pintu terbuka, itu adalah Hendrik.
Belum sempat Izack menjawab, terdengar suara pintu terbuka. Hendrik muncul dari luar. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan kiri membawa tas loundry. Ia menawarkan senyum samar pada Hendrik.
"Tenang aja, pemilik rumah sakit ini sudah duda beranak dua, masih muda lagi."
"Maksudnya?!" dahi Chika berkerut bingung campur kesal.
"Ya... itung-itung kalau kamu nggak bisa bayar..."
Belum selesai kalimat itu, Hendrik tertawa meledak.
"Kejam kamu, Zack!"
Chika clingukan bingung apa yang sedang mereka tertawakan.
"Kamu itu sadar nggak? Bawa badanmu sendiri aja belum tentu bisa, dsudah mikir biaya Rumah Sakit."
Hendrik terkekeh. "Bahaya kamu, Chika.. terlalu polos begitu."
Izack menggeleng kesal, bergeser dari tempat duduknya memberikan ruang pada Hendrik. Lelaki itu meletakkan tas laundry berisi pakaian Chika.
"Harusnya kamu bersyukur ada lelaki ganteng, tapi nggak paham ilmu biologi masih mau menolongmu."
Antara ingin tertawa dan marah, Chika menatap kesal wajah itu, membuat Izack justru tak tahan dengan tatapan mata beningnya.
"Sudah... tertawa itu nggak dosa kok, bebas."
"Katamu mau jual ginjal?" imbuhnya
Chika melotot, Izack tak peduli.
"Kalau sakit-sakitan, mana ada yang mau terima ginjalmu."
"Kamu jual satu juta pun, mungkin nggak akan ada yang mau," cletuk Izack tersenyum tipis.
Hendrik langsung terkekeh melirik, Chika menunduk, mengusap air matanya yang menggenang.
"Sudah, sudah..."
"Terlalu kamu kalau gurau, Zack," tawa Hendrik kecil.
"Jangan dimasukkan hati, Chika," ucapnya lagi.
Chika mengucek matanya yang basah.
Perlahan suara tangispun akhirnya pecah. "Lalu aku harus gimana, Bang??" tangisnya sedu sedan.
Tapi ia tetap berusaha mengusap air matanya yang jatuh, kesal.
Sementara dua orang seniornya hanya saling pandang, antara geli dan iba. Hingga kembali terkekeh.
"Kamu itu terlalu sombong, Chika." ujar Izack pelan.
"Kalau bisa aja, Bumi sama Tuhan mau kau atur sendiri," imbuhnya terkekeh-kekeh.
Tak berapa lama ponsel Izack bergetar. Jemarinya segera menyentuh, hingga terbuka.
"Sebentar, Bro," ucap Izack segera beranjak keluar, menatap Chika sekilas lalu mengacak rambutnya gemas.
Chika langsung melotot. Hendrik kaget dengan geraknya yang reflek itu. Tapi Izack cuek sambil lalu.
Di depan pintu, Izack membuka video call ibunya.
"Gimana, Ma?" sapa Izack menutup pintu. "Dimana kamu, Nak?"
"Siapa yang sakit?" tanya Mama, melihat seliweran perawat di belakang.
Tapi selang beberapa menit kemudian panggilan datang bertubi-tubi, itu adalah orang-orang AMN, CAPN, teman wartawan hingga kolega perusahaanya.
Termasuk Prof. Sukamta yang selama ini memberikan dukungan moril di saat ia menghadapi banyak tekanan dan tuntutan sebagai ketua cabang hingga ketua umum di ibukota.
"Halo, selamat siang Prof..."
"Sehat, Zack..."
"Alhamdulillah, Prof."
Hening sesaat menyelimuti udara di antara keduanya.
"Zack... hidupmu sekarang kan bukan milikmu sepenuhnya."
"Saya tahu, dulu kamu sempat mengundurkan diri, dan mereka tidak mengijinkan itu. Tapi bukan berarti kamu bisa bertindak sesukamu."
"Masalahnya," Izack mulai membantah
"Bapak tahu, kamu juga manusia biasa yang berhak melindungi seseorang yang kamu cintai. Tapi tolong, jaga keseimbangan keduanya. Karena di luar sana, ribuan anak muda menyandarkan harapan kepadamu. Jangan kecewakan juga mereka."
"Baik, Prof..." ucap Izack tunduk penuh hormat.
Saat panggilan terputus, belum sempat memasukkannya ke kantong, panggilan kembali bergetar.
Itu adalah tim penasehat AMN Pusat.
"Halo, dimana kamu sekarang?"
"Di rumah sakit, Bang."
"Gimana dengan cewekmu?"
"Baru selesai operasi, Bang."
"Oh, operasi apa?"
"Usus bocor,"
"Semoga segera sembuh ya,"
"Terimakasih, Bang..."
"Zack..." suaranya berat tertahan.
"Dalam dunia pergerakan, persepsi itu lebih kuat daripada kenyataan. Harusnya kamu tahu itu."
"Iya Bang, saya tahu itu."
"Kau boleh tidak salah. Tapi jika publik mengira kamu salah –itu sudah cukup untuk menjatuhkanmu loh."
Hening. Suasana perlahan terasa berat.
"Kamu tahu kan, siapa yang sedang kita hadapi,"
"Bukan suara mahasiswa yang kita takuti."
"Tapi jauh daripada itu, suara yang sedang kita jamah."
Izack diam menahan tatapannya lurus, mengangguk.
"Klarifikasi secukupnya, jangan berlebihan."
"Kalau kamu ingin menyelamatkan AMN, CAPN dan nama baikmu, jangan bereaksi pakai hati. Tapi reaksilah pakai strategi."
"Itulah sejatinya seorang pimpinan."
"Jangan lupa, kita semua ada di belakangmu."
"Ya... meskipun kamu tahu sendiri ada sekelompok orang yang tetap saja ingin menjegal posisimu."
"Siap, Bang."
"Oke, begitu aja."
"Siap..."
Panggilan itu terputus,
Tiba-tiba Hendrik keluar, ia menunjukkan layar ponselnya.
"Zack..."
"Hm, ya. Aku sudah tahu itu."
"Siapa yang telepon?"
"Orang-orang AMN."
Hendrik mengangguk tegang.
"Chika sudah tahu?"
"Jangan sampai, aku nggak mau dia jatuh sakit lagi."
"Ini baru saja aku ditanya teman wartawan, katanya sore nanti dia mau datang kemari."
"Tidak, aku nggak ijinkan dia masuk ke ruangan ini."
Hendrik menarik nafas dalam.
"Lalu aku harus jawab gimana?"
"Biar aku yang keluar menemui mereka di ruang loby."
"Oh... oke,"
Hening.
Hendrik menautkan jemarinya ke pinggang. "Nggak menyangka, bisa jadi serumit ini."
Izack mengusap wajah. "Aku sudah menduga sebelumnya Hend," ucapnya mengerjapkan mata "Makanya aku datang ke tempatmu diam-diam."
Hendrik melongo.
"Berarti posisimu sudah beda dari dulu ya?"
"Jauh,"
"Karena kita vokalkan data CAPN ini, kan?"
Izack mengangguk pelan.
"Ini belum permulaan, Hend."
"Makanya aku bingung gimana memposisikan Chika."
"Kenapa emang?"
"Kalau wajah dia sudah beredar seperti itu, sudah otomatis dia juga bakal kena tekanan efek dari aku, Hend..."
"Oh!"
Tak lama, langkah kaki dan suara riuh memecah lamunan keduanya.
Sekelompok anggota AMN terlihat sumringah melihat Izack yang berdiri di depan pintu. Termasuk Heni.
"Kamu kasih tahu mereka kita di sini?" tanya Izack menoleh.
"Enggak. Mungkin Heni. Dia kan sempat tanya ke kamu toh?" kata Hendrik singkat.
"Tapi sepertinya dia juga nggak suka Chika."
"Katanya Chika punya hutang ke dia, dan belum lunas."
Izack melotot, lalu menarik nafas dalam.
Anak ini... hutang dimana-mana, pikir Izack.
"Kita sambung nanti aja," suaranya lirih saat mereka makin mendekat.
Tak butuh waktu lama. Leo yang berjalan paling depan, sudah menjabat tangan Izack dan merangkulnya.
"Wah... lima tahun kita bareng. Baru kali ini, aku lihat seorang Izack al Haque melakukan pengejaran tiada ampun,
Izack hanya tersenyum tipis. Ia membukakan pintu kamar, membiarkan mereka masuk.
Melihat kedatangan para seniornya. Spontan Chika menarik nafas tegang. Ia gugup memperbaiki selimutnya yang tersingkap.
Tapi Izack segera mendekat, gerakannya cepat tapi lembut, menarik selimutnya menutupkan sebagian kaki. Tatapan itu sekilas, tapi cukup dalam dan menenangkan. Seolah ada kata: "Tenang, aku disini."
Meski begitu, raut gelisah dan malu tetap terbaca dari wajah Chika yang masih duduk sendiri, tanpa seorang pun yang menyapa.
Ia sadar, kedatangan mereka bukan untuk menjenguknya, tapi karena ada orang nomor satu AMN di sini.
"Halo Chika," sapa Leo.
"Gimana, sudah baikan?"
"Alhamdulillah, Bang."
"Jarang muncul di Basecamp lagi, kamu?"
"Hehe... iya, Bang."
Tiba-tiba Andreas nyela. Ia sudah tertawa duluan sebelum bercerita.
"Aku lihat kamu itu kok jadi ingat peristiwa dua tahun lalu ya?"
"Apa?" tanya Hayes.
"Niatnya kita mengguyur Izack, eehhh... na'as, kamu yang kena," celoteh Andreas.
"Kita sudah kasih kode dia, Bang... tapi malah mepet pintu," tawa Alam, --teman seangkatan Chika.
"Itu namanya senjata makan tuan," jawab Izack, spontan disambut tawa.
Chika menggumam, wajahnya setengah kesal, setengah menahan tawa.
"Iya, gara-gara itu, Blackforest dari temanku hancur nggak karuan."
"Kan sudah diganti sama Izack, lebih gede lagi," sindir Hendrik.
Alam nyletuk. "Nah! itu. Harusnya kita paham sejak awal. Kalau Bang Izack datang, harusnya kita ajak Chika juga. Biar ditraktir makan enak terus,"
Sponta kata itu disambut sorak kompak.
"Cerdass!!" seru Hayes.
Leo melotot. "Wuaa... nggak beres itu, kamu dijadikan umpan, Chik."
Semua bersorak, Chika kembali tertawa menahan perutnya yang nyeri. Namun tidak dengan Izack. Ia tetap tenang dan diam. Tentu dengan semburat wajah kemerahan.
Lelaki itu melirik Chika yang kelelahan menahan perut, tangan Izack spontan menekan tuas Bed hingga posisi ranjang terangkat separo, membuat gadis itu spontan merebahkan punggung.
"Uuu... ghhh... manisnyo..." lagi-lagi mereka sorak ramai membuat suasana makin gaduh.
Izack benar-benar merasa skak mat, tapi ia justru menikmati sorakan itu.
"Ssstt... Kalian lupa apa, ini Rumah Sakit," ujar Leo mengingatkan.
"Lupa, Bang," tawa Alam. "Bahkan aku lupa kalau Chika ini sakit," ucapnya lagi. "Kita tahunya abang kita lagi nge-date dadakan."
Tawa mereka kembali serempak riuh.
Sekilas, tatapan Izack tertuju pada Chika. Ada senyum samar yang tergambar jelas untuknya.
Melihat tatapan itu, Hayes kembali nyletuk. "Begitu ya, kelakuannya Pak Ketua?"
"Ah... kalian datang-datang bikin rusuh," keluh Izack setengah sebal, setengah lelah.
Tapi itu justru jadi bahan candaan, melihat Izack makin risih rahasianya tertelanjangi.
Tawa perlahan mereda, dan hening pun kembali merayap senyap.
"Jadi, beneran, itu berita?!" cletuk Andreas.
Seperti biasa. Izack hanya diam, tak membantah.
"Ya beneran, lah"
"Berita apa, Bang?" tanya Rino yang baru datang.
Seketika Izack menyela dengan suara sedikit tegas. "Eh, Alam. Kamu lapar nggak?" tanyanya segera bangkit.
"Oakkhh... Modus! Pengalihan perhatian," seru Hayes ngikik.
Suasana kembali gaduh oleh tawa mereka, melihat raut Izack memerah.
"Ayo pesan cumi bakar lagi, Bang," imbuh lelaki kurus berkaca mata tebal itu langsung sigap berdiri menarik lengan Izack.
Penasaran Chika masih tertuju isu. "Maaf Bang, berita soal apa, ya?" tatapnya polos pada seniornya.
Heni yang sedari tadi tak suka dengan gurauan itu, sengaja mengalihkan perhatiannya dengan scroll ponsel. Ia mendekat, lalu menyodorkan ponselnya, memperlihatkan video dirinya dalam gendongan Izack.
Membaca judul artikel itu, Chika melotot, ekspresinya mendadak berubah.
Izack yang sudah mendekati pintu, spontan menoleh.
Langkahnya cepat menarik ponsel dari tangan Heni, membuat keduanya kaget.
"Ayo ngobrol di luar, Hen," tatap Izack tegas.
Keduanya keluar cepat.
Semua mata sekilas tertuju pada Izack, heran. Baru kali ini, seorang Izack bersikap sedikit kasar pada seorang cewek.
Ruangan membeku dan senyap.
Chika hanya menatap punggung keduanya dengan dahi berkerut, bingung.
"Apa mereka pacaran, Bang?" bisik Chika.
Gadis itu menatap polos wajah para seniornya.
Tak ada yang menjawab.
Hanya tatapan satu sama lain yang sulit Chika pahami.
Rani menggeleng sekilas. Perempuan itu berdiri mendekat dengan Chika yang masih duduk lemah di ranjangnya.
Chika mengira perempuan itu akan mengatakan sesuatu, tapi ternyata hanya mengusap lengan, mencoba menenangkan.
"Nggak usah dipikirkan, Chika."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar