Sejak koran dinding ditempel pagi ini, halaman kampus mendadak ramai. Mahasiswa bergerombol, berbisik-bisik.
Dian, --teman akrab Heni di kelas, panggil-panggil menunjuk satu judul tercetak besar.
"Hen, Hen!! Lihat!"
AMN, Gerakan Politik Mahasiswa yang Kehilangan ruh .
"Hah?! Sialan, siapa yang nulis begitu?" Heni bersungut, memicingkan mata.
"Ini kalau abang-abang AMN baca, bisa ngamuk tuh."
Dian si cewek berambut pendek itu hanya tersenyum, "Siapa lagi kalau bukan Chika."
"Oh... dasar itu anak! Tunggu aja nanti, sampai kost aku damprat," seloroh Heni.
"Memangnya kamu berani? Damprat orang seserius itu?" kata Dian melongo, tak percaya. "Yang ada, ntar kamu ditinggal pergi tanpa ekspresi," tawanya meremehkan.
Chika --yang berdiri di belakang papan mereka-- hanya mengembangkan senyum kecil, melenggang pergi tanpa ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya.
"Hmm... nggak sia-sia kau pinjami aku laptopmu, Ren," gumamnya pelan, menatap langit, memasukkan tangannya ke saku jas almamater.
Udara pagi menerpa rambutnya yang hitam kemerahan, seakan membasuh kepenatannya beberapa hari belakangan.
Ia duduk di bangku panjang, setelah tahu kelas hari itu kosong. Hanya pesan tugas yang disampaikan lewat grup medsos, dan itupun harus lihat dari ponsel teman sekelasnya.
Merasakan perutnya mulai melilit, dibukanya dompet. Hanya tersisa dua mata koin. Dan itu, jelas tak cukup untuk makan.
Plukkk!! gulungan kertas itu menepuk pundak.
"Woi! di sini kau rupanya?"
Lelaki gondrong itu meloncati bangku panjang, lalu duduk di sebelahnya.
"Tulisanmu dimuat lagi tuh!"
"Hm! Lumayan lah. Berkat laptopmu."
Chika segera mengeluarkan laptop dari tasnya.
"Pakai aja dulu,"
"Beneran ini, nggak kamu pakai?"
"Ya aku pakai lah,"
"Tapi demi tetanggaku yang cerdas dan kritis ini aku ikhlas kok, daripada pinjemi duit," candanya.
Chika terkekeh. "Alhamdulillah... aku cerdas," wajahnya berubah beku. "Kalau aku cerdas, sekali baca buku langsung paham. Lha ini... sekali baca pikiran loncat kesana kemari, mempertanyakan ulang apa yang tak baca."
"Kesel kan?"
Rendra merapikan poni, menatap geli.
"Itu menyiksa, tahu nggak sih? Makanya aku tulis."
"Lumayan lah? Kalau menulis menghasilkan duit."
"Lha iya kan? Daripada ikut turun jalan."
"Iya, tapi yang kamu tulis itu, nadanya ajak gelud orang," katanya datar. "Katanya kemarin mau nulis artikel penghijauan dan sampah, kenapa berubah jadi kritik anak AMN?"
Chika nyengir. "Begitulah pikiranku, Ren."
"Banyak anak AMN pada tersinggung tuh,"
"Iya, aku dengar. Tapi kenyataannya memang begitu."
"Pantes aja nggak punya teman."
"Mending nggak punya teman, tapi masih bisa makan. Daripada punya teman tapi nggak bisa makan."
Rendra kepalkan tangan, gemas hendak menjitak. Chika menutupi kepala sambil cengingisan.
"Ya nggak begitulah?!"
"Iya! iya!! aku paham. Makanya aku kesel sama diriku sendiri."
Chika kembali berpaling. "Tahu nggak, kenapa aku menulis seperti itu?"
"Sebagian dari mereka itu suka grubyak-grubyuk kesana kemari nggak jelas. Tahu-tahu ikutan turun jalan."
"Giliran ada pejabat yang pernah mereka demo, tetap ikutan menyambut. Itu kan nggak lucu."
"Sudah ah, berisik. Aku paling malas bicara soal politik sama kau," kata Rendra menggaruk telinga.
"Katamu siap jadi tong sampahku..."
"Iya, tapi bukan yang itu."
Melihat raut wajah Rendra yang perlahan kaku, Chika pun mengalihkan pandangannya pada langit yang masih biru di balik rindang pepohonan.
Hening.
"Kira-kira berapa ya, harga smartphone paling murah?" tanyanya menggigit jari.
"Kenapa?"
"Semua tugas sekarang lewat medsos. Aku nggak enak lihat punya teman terus."
Belum sempat Rendra menjawab, Chika sudah menyimpang lagi.
"Ngomong-ngomong, sudah ada kabar adik dan ayahmu, belum?" alisnya mengernyit, berpaling.
Plukkk!! Gulungan kertas mendarat di kepala kedua kali.
"Heh! Selesaikan urusanmu sendiri dulu."
Chika tak peduli. Matanya justru menerawang jauh pada lalu lalang orang di depan fakultas.
"Kamu mau kerja serabutan nggak?" tanya Rendra.
"Apa?"
"Jadi pekerja sosial di LSM tempat temanku."
"Berapa rewardnya?"
"Yah... baru juga ditawari, sudah tanya reward."
Chika nyolot. "Ya iyalah?! Tenaga sama pikiran itu berbanding lurus sama isi perut."
"Ah, kamu. Apa-apa ujungnya masalah perut." Lirik Rendra, membiarkan poninya menutupi sebagian kedua matanya, lalu menatapnya kembali.
"Makanmu itu banyak, tapi kenapa dari dulu badanmu kurus segini. Kemana coba yang kau makan?" ejeknya.
"Diam kau, aku nggak suka dikomentari badanku,"
Rendra justru tertawa lepas. Tapi tidak dengan Chika yang bermuka serius.
"Eh, serius aku tanya. Adek sama ayahmu sudah ada kabar belum?"
Ia menggeleng, lalu menunduk, menarik nafas berat menadahkan wajahnya. Segaris kepahitan tergambar jelas di sana. "Huu...ft, begini ya, rasanya hidup tanpa kehidupan?"
Chika kecap. "Halah! Baru kehilangan orang tua berapa tahun sudah ngeluh. Lihat aku!"
Rendra menurunkan pundak, menoleh.
"Iya sih, kalau aku di posisimu mungkin nggak kuat, Chik."
"Lha iya kan?!"
Rendra kembali menatap diam wajah Chika yang pucat.
"Sudah makan belum?"
Chika langsung meringis. "Kalau mau kau traktir, ya ayok!"
Rendra tertawa melengos. "Kok ada cewek sepertimu, hidup lagi?!" katanya sambil beranjak. Chika langsung berjingkat, mengikuti langkahnya.
"Nhaa... gitu dong, namanya setia kawan," tawa Chika lebar.
"Dasar! Buat perut sendiri aja pelit," sembari tangannya refleks, hendak menimpuk punggungnya, langsung dilirik Chika.
"Hnggh!! Lagi?!"
Spontan tawa Rendra pecah.
Pagi menjelang siang itu mereka jalan santai melewati lorong kampus menuju kantin. "Gajimu buat apa, kalau nggak buat makan?"
"Beli buku lah," potongnya cepat.
"Masa buat beli buku semua?"
Chika diam tak mau menjawab. Ia tak ingin Rendra tahu, kalau sebenarnya ia menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya demi bisa masuk ke kampus ini.
Mereka kembali melangkah beriringan, sesekali mendongakkan wajahnya pada langit biru di balik pepohonan yang menjulang di sekitar koridor kampus.
"Aku bisa bertahan sampai tiga tahun saja sudah syukur, Ren. Nggak tahu bisa sampai lulus, enggak," gumamnya lirih.
"Lulus lah. Masa enggak?! Bukan Luchika kalau belum apa-apa sudah nyerah."
Chika menarik nafas berat. "Doakan ya, Ren,"
"Hm." Rendra hanya mengangguk. Namun tatapannya lekat pada gadis itu yang menunduk murung. Ia tahu betul bagaiamana karakternya. Gadis itu bisa menangis, sekaligus tertawa dalam satu waktu, saat bercerita tentang kehidupannya yang tak mudah.
Di sepanjang jalan utama menuju kantin, teman-teman AMN tampak berduyun-duyun menuju jalan raya. Mereka membawa spanduk. Sebagian di luar kampus, sudah terdengar riuh menyebarkan selebaran kepada para pengemudi yang melintas, diiringi orasi lewat corong pengeras suara yang begitu memekakkan telinga.
Tiba-tiba seseorang memanggil namanya keras dari arah kerumunan itu.
"Chika, ayo turun!!" teriak beberapa wajah yang sempat ia kenali.
"Aku nggak punya energi lebih seperti kalian, Bang!" ucap Chika meringis pahit.
"Halah! kau ini. Bilang aja nggak punya nyali,"
Chika tak marah, ia mengakui itu. Ia mengangkat dua jempolnya ke udara.
"Sip!! Aku dukung dari belakang."
Lagi-lagi seseorang menyapa dari jauh. Chika hanya tersenyum.
"Siapa lagi, mirip artis bener dirimu?" gumam Rendra.
"Nggak tahu."
Keduanya mulai ngobrol seputar isu yang diangkat mereka --para demonstran. Dari tingginya biaya pendidikan hingga kualitas sekolah negeri dan swasta yang terasa njomplang.
"Ada pepatah bilang... Kalau kau mau merusak sebuah negeri, rusaklah dulu pendidikannya," tuturnya, hingga tak sadar keduanya sudah berada di depan halaman kantin.
"Aku bisa merasakan mereka yang ingin kuliah, tapi terhalang biaya. Sementara akses untuk mendapatkan beasiswa, mereka harus punya prestasi. Padahal yang namanya prestasi itu butuh modal dan kerja keras."
"Padahal ketika urusan perut saja masih jadi masalah, rasanya terlalu jauh untuk memenuhi isi otak," jelas Chika. "Sementara lihat mahasiswa di sini yang kadang suka hura-hura itu rasanya pingin banget tak tonjok."
Refleks Rendra menoleh, nyengir aneh.
"Kenapa jadi kamu yang emosi?!"
"Gimana nggak emosi? Kadang orang tua mereka itu susah payah demi menghidupi dirinya kuliah, sementara anaknya di sini leha-leha."
"Aku tahu satu dua orang dari mereka yang anaknya kuli bangunan, petani, kadang juga buruh. Tapi anaknya di sini kerjaannya cuman pacaran pagi siang sore malam."
Rendra menghela nafas, melotot. "Heh! Jadi makan nggak?"
Chika mengunci mulut, meringis.
Suasana ramai sesak mulai terasa, saat mereka berdiri di depan pintu kantin. Rendra melangkah santai di depan Chika.
Dari seberang deretan meja-meja, tampak tiga orang senior AMN tengah menikmati camilan sambil ngobrol. Chika yang melihatnya kaget. Ia ingin putar balik, tapi perutnya terlalu lapar untuk menahan.
Hanya sepersekian detik tatapan itu bertemu, seolah bicara. Namun Chika segera berlindung di balik tubuh Rendra yang lebih tinggi, mengikuti langkahnya.
Saat berdiri di depan etalase menu, tubuh Chika sedikit merapat dengan Rendra. Ia sengaja menghindarkan tatapan lelaki itu ke dirinya.
"Kenapa sih?" Rendra menunduk bingung.
Chika meringis, lalu menatap ayam di depannya.
"Boleh ambil ayam, nggak?"
"Boleh... ambil dua juga nggak apa-apa."
"Serius?!"
"Hm!"
***
Sementara Izack yang masih terus ngobrol, matanya mengikuti gerak-gerik Chika yang gugup, bingung mencari tempat duduk –tempat yang bisa membuatnya membelakangi dirinya. Tapi tak ada satu pun. Satu-satunya kursi kosong justru berada tepat di hadapannya, tanpa terhalang kepala siapapun.
Izack hanya tersenyum samar, santai menyesap jus alpukat miliknya. Namun sesaat fokusnya pecah oleh suara Leo di hadapnya.
"Kau ikut kan?" tanya Hayes pada Leo.
"Ikut lah, dia yang punya gagasan juga," jawab Izack.
"Ngomong-ngomong, gimana tesismu?" tanya Leo.
Izack hanya tersenyum tipis.
"Mau jadi donatur tetap dia, di kampusnya," kata Hayes.
"Ampun, kau ini. Selesaikan lah," kata Leo.
"Pastilah,"
Mata Izack masih saja tertuju pada Chika yang membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajahnya yang tertunduk.
Mereka duduk berhadapan. Gadis itu tampak canggung saat posisinya menghadap ke arahnya. Izack hanya tersenyum samar menikmati kebingungan gadis itu yang mencari posisi menghalangi tatapan dirinya.
Saat itulah Leo menoleh. Matanya sejurus pandangan Izack, mengikuti kemana gadis itu mengambil tempat duduk yang diikuti seorang lelaki di depannya.
"Oh, itu gebetanmu dulu, kan." sindir Leo.
"Masih ingat, Yes?"
"Ingat lah..."
Keduanya tertawa.
"Seorang Izack yang biasanya jadi pujaan para cewek, kini ditinggal pergi begitu saja sama cewek... nginjek harga diri banget nggak, sih?" tawa keduanya lepas.
"Iya kan?" kata Leo lagi.
Izack langsung mengetukkan tangannya ke meja.
"Sudah. Jadi, gimana tadi?"
"Kalian sudah konfirmasi ke dosen-dosen lagi belum?" tanya Izack lagi.
Hayes melipat tangannya ke meja, menarik nafas pelan, menatap Leo.
Tapi Leo yang sudah paham betul bagaimana Izack sejak dulu, hanya tertawa.
"Beginilah lihainya Big Bos kita, pinter banget kontrol pikiran orang,"
Keduanya tertawa lepas tanpa ampun.
"Kalau nggak gitu, nggak bakalan dia jadi ketua umum," kata Hayes meredakan tawanya.
***
Sementara di hadapannya, Chika dan lelaki itu mulai menikmati sarapannya sambil bercerita akrab.
"Tahu nggak. Kasusnya si Fendi, kakak senior kita?" Chika membuka obrolan baru.
"Eh, disini aku lihat: pagi, siang, sore, malam, lengket aja sama ceweknya." kata Chika seakan protes.
"Mending kalau pinter."
"O'on pula."
"Tugas dia, aku juga yang kerjakan," cibir dia sambil menyendok makanannya.
"Pluk!" sumpit Rendra yang masih terbungkus, mendarat di kepalanya.
"Aduh! Sakit!!" cletuknya manyun, mengusap kepalanya.
"Yang penting kan kau dapat fee dari dia!"
"Ya iyalah! Kalau enggak, sudi banget kerjakan tugasnya."
"Nha ya sudah, ambil baiknya aja. Nanti kalau semua orang sepertimu, dunia nggak seru," kritik Rendra.
"Halah! Itu karena kau punya pacar."
"Coba kalau belum, pasti setuju sama pendapatku."
"Ssshhhtt...!" Rendra berpaling, ia melotot kesal.
Chika hanya nyengir,
"Iya, iya!" ucapnya seketika cemberut.
Hening.
Chika menikmati sepiring nasi dengan tenang hingga habis. Wajahnya tampak lega mengelus perut, setelah meneguk segelas es teh di depannya.
***
Melihat keduanya –Chika dan Rendra, tampak larut dalam obrolan sambil tertawa ringan. Sorot mata Izack terlihat lebih tajam, menusuk. Tapi wajahnya tetap tenang seperti biasa, hanya sedikit rahangnya yang mengeras, tapi nyaris tak kelihatan.
Saat itulah Chika baru sadar, Izack masih menatapnya dalam diam.
Chika berbisik, sedikit menunduk. "Itu senior AMN nyebeli banget."
"Mana?" tanya Rendra.
"Itu, mas-mas tiga orang di belakangmu yang pakai kemeja biru tua," kata Chika.
Spontan Rendra menoleh sekilas.
"Bukannya orang itu yang pernah buat kamu grogi ya?"
Chika yang kembali menyesap es teh di depannya, spontan tersedak.
"Uhukk! Sialan. Masih ingat ternyata,"
"Masih lah,"
Rendra menahan sumpitnya sejenak di mangkuk. Ia kembali menoleh singkat pada pandangan Izack yang masih tertuju pada sahabatnya.
"Ya, gara-gara itu. Blackforest darimu penyok."
Rendra tertawa kecil, seolah paham.
"Oh..."
"Sepertinya dia perhatikan kamu terus."
"Nggak!"
"Kamu nggak tertarik apa? Ganteng loh,"
"Sory ya, aku nggak sudi sama lelaki yang menolak naskah buku kakekku."
"Mana tanya letak dokumen, lagi."
Rendra kembali menatap Chika dengan senyum samar.
"Itu tandanya dia sengaja ingin ketemu lagi sama kamu..."
"Paham dikit lah,"
Rendra menoleh, lalu menatap makanan Chika tajam. "Heh! Jadi cewek jangan terlalu keras kepala."
"Sory ya, aku bukan tipikal cewek yang lemah lembut. Hidupku ini sudah penuh drama, nggak perlu jadi sinetron berjilid. Lagipula aku juga nggak butuh cowok."
Spontan Rendra kembali tersedak.
"Terus kamu anggap aku apa, coba?"
"Kamu kan tempat sampahku!" Chika terkekeh.
Rendra hanya menggeleng dingin.
***
Dari seberang meja, Izack menghela nafas kecil --nyaris tak terlihat. Karena saking seringnya mata Izack ke belakang mereka, dua orang itu pun menoleh.
Leo yang membaca gelagat Izack hanya tersenyum samar, cukup paham.
"Dia nulis artikel di koran tentang AMN, ngawur benar," kata Hayes.
"Apa?" tanya Izack.
"Ini lihat," kata Hayes menunjukkan ponsel.
Izack hanya tersenyum, melipat dua tangannya ke meja.
Leo yang merasa tahu bagaimana karakter anak buahnya, kembali mengalihkan obrolan.
"Kamu masih lama di sini, Zack?"
"Nggak tahu nih," ucapnya, dengan sorot mata kembali tertuju pada gadis di seberang meja.
"Oh ya, terus... anggota AMN yang berdiaspora gimana jadinya?" tanya Leo, sebelum Hayes kembali mengkritik Chika.
"Mereka juga kita libatkan, tapi sepertinya akan kita pisah."
"Kenapa?"
"Mayoritas anggota AMN yang berdiaspora itu rata-rata jago IT. Tak pikir, biar mereka jadi garda depan keamanan data kita aja."
"Dan pembahasan nanti terpisah dari mereka –pengurus AMN lokal."
"Kalau begitu, sistem keamanan data harus kita prioritaskan dulu sebelum turun ke publik," tanya Hayes ragu.
"Betul," Izack mengangguk. "Kamu hubungi Andi, anak komputer sains dari negara sebelah."
"Oh, yang orangnya kecil itu."
"Hm,"
"Dia orangnya paling detil, tahu banget medan kita."
Izack menoleh ke Leo, "Kamu bisa bantu urus daftar diaspora yang aktif, nggak? Kita butuh data lengkap: lokasi, bidang keahlian, sama afiliasi organisasinya."
"Bukannya data lengkap justru ada di AMN Pusat ya?"
"Iya, bener. Tapi secara emosional kan justru kalian yang lebih dekat."
"Ya sudah, nanti aku kirim datanya aja," pinta Leo pada Izack.
"Ya enggaklah, kita langsung jalan aja."
Leo menekan panggilan pada ponselnya.
Mata Izack kembali mencari dua sosok itu, yang ternyata sudah jalan menuju halaman parkir. Keduanya tampak akrab ngobrol seru.
Ada rasa sepi yang perlahan menyelinap ke dalam hatinya. Hingga sadar, Leo menatap matanya sambil menyimak suara di sudut ponsel itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar