Satu hari telah berlalu sejak kedatangan teman-teman AMN. Selain mereka, tak ada seorang pun yang datang menjenguknya. Dan Chika mulai bosan setengah mati menunggu tetesan demi tetesan infus, serta obat-obatan membuat tangannya nyeri kesakitan.
Melihat wajahnya yang tampak tirus dan pucat, akhirnya ia menghempas lelah melihat Izack dan Hendrik yang mulai sibuk dengan pekerjaannya di laptop mereka masing-masing.
Sejak kemarin, selang drain sudah dilepas, dan kini yang terakhir infus.
Chika duduk di dekat jendela.
Cahaya matahari menyelinap masuk. Dokter bedah datang, memberi kabar dibolehkan pulang.
Ruangan kembali sepi, saat mereka pergi. Chika menghela nafas panjang, menurunkan pundak, lalu angkat tangan ke atas memutar pergelangan yang masih lemas.
"Ayo keluar, Bang," ucapnya.
Perlahan ia menggeliat cerah ke atas. "Aaahhh...!!"
"Akhh!" jeritnya, reflek menahan perut.
Izack hanya senyum. "Jangan banyak tingkah, itu perutmu masih ada bekas jahitan," ujarnya lembut setengah geli.
"Tunggu disini dulu, aku urus administrasi," ucap Izack sebelum beranjak keluar.
"Boleh ikut, Bang?" tanya Chika cepat, sudah setengah bangkit. Tapi baru selangkah, tubuhnya limbung. Tangan Izack sigap menangkap, nyaris membentur tiang infus dan ranjang. Dalam sekian detik kesadarannya melayang. Ia tak sadar sudah dalam pelukan Izack.
Ia menarik diri, mencari pegangan. Peluh dingin membasahi punggung dan kepalanya yang berat. Ia kembali duduk.
Diam.
Keduanya sama-sama kikuk, namun Izack memecahkannya dengan segera beranjak.
"Istirahat dulu,"
Chika menghempas nafas lelah. "Capek istirahat terus, Bang,"
Izack menoleh, menatap tajam sambil menarik gagang pintu. Chika yang membalasnya hanya nyengir, merasa tak enak.
Sesaat suasana hening saat lelaki itu keluar.
Kilatan mata Chika menyapu cepat seisi ruangan. Pikirannya sudah sibuk menata: apa yang harus dikerjakan lebih dulu.
Sisi lain.
Di balik pintu ruangan yang telah tertutup, langkah Izack terhenti sejenak.
Tangannya refleks menepuk pelan dadanya sendiri.
Degup itu terlalu cepat. Ia menunduk, menarik nafas.
"Ah... sadar Zack," gumamnya, lalu tersenyum samar sambil melangkah.
Selama seminggu ini, ia memang tak pernah benar-benar menyentuhnya, kecuali dalam posisi darurat seperti kemarin-kemarin.
Tapi ini... Seolah tubuhnya refleks harus melindunginya erat-erat.
***
Dua jam berlalu.
Saat Izack kembali bersama Hendrik, barang-barang sudah tertata rapi di depan pintu kamar. Izack langsung menyipitkan mata curiga.
"Siapa yang beresi?" tanyanya, menatap lurus ke arah Chika.
"Aku," jawabnya.
Izack menghempas nafas kesal.
"Tadi kan sudah dibilang jangan buat angkat barang berat, itu jahitanmu belum kering."
Chika nyengir. "Aku khawatir kena charge lagi."
Hendrik tersenyum geli. Ia menatap keduaanya yang membeku sejenak. Lalu dari belakang ia berbisik. "Amboyy... polos banget, kamu Chika."
Sambil berlalu, ia mulai memunguti sebagian barang. Membiarkan keduanya sedikit bersitegang.
Hingga akhirnya Izack kembali berucap. "Sudah, buat duduk aja dulu."
Perawat muncul membawa kursi roda.
"Mari saya antar, Mbak..." ucapnya ramah.
Sorot mata Chika langsung tertuju ke Izack.
"Bang," panggilnya lirih.
Izack mendekat, sedikit merunduk, menyamakan posisi tinggi badannya yang berdiri di sisi ranjang.
"Apa yang seperti ini juga kena charge?" bisiknya.
Izack melengos, mengusap rambutnya sendiri sambil tersenyum geli.
"Sudah. Itu urusanku," potongnya cepat.
"Tapi kan,"
Izack mendelik. "Ini nih, yang bikin ususmu bermasalah," ucapnya noyor pelan dahinya, gemas.
Ibu perawat yang melihatnya senyum-senyum sendiri.
Chika pasrah, ia pun nurut duduk di kursi roda. Dan perawat mulai mendorongnya dengan hati-hati.
"Mobilnya sudah siap, Mas?" tanya perawat mendorong keluar.
"Sudah Bu. Ada teman saya di luar," ucap Izack berjalan cepat, meninggalkan Chika yang masih didorong pelan.
Saat kursi roda di dorong pelan melewati lorong-lorong, Perawat itu mulai bertanya.
"Itu kakak, pacar atau... "
"Bukan semua, Bu." potong Chika cepat.
"Oh... aku kira kakaknya. Wajahnya kok mirip," ucapnya senyum-senyum.
Chika mengernyit, tersenyum samar. "Mirip darimananya, bu..."
Perawat itu kembali berkata. "Tapi... dibanding adik, lebih mirip sama pacarnya sih."
Gadis itu mendenguskan nafas, meraup wajah. "Takut yang ngutang kabur, kali. Makanya diawasi terus,"
Ibu perawat mendenguskan tawa, geli. "Maksudnya?"
"Dia yang talangi semua biaya rumah sakit, Bu. Makanya aku dijaga ketat biar nggak kabur," jawabnya polos.
Spontan perawat itu melotot, lalu tertawa geli.
"Wau?! Segitunya?"
Perawat itu akhirnya terkekeh, saat di depan lift. "Waduh mbak, polos banget kamu ini. Itu dia naksir habis-habisan sama kamu tuh. Kalau sampai dilamar, terima aja."
Mereka pun masuk lift.
Suasana kembali senyap.
Chika malas berkata banyak, sekalipun ibu perawat terus berbicara.
Begitu pintu lift terbuka, ruang lobi terbentang luas. Membuat dirinya seperti seorang ratu yang baru keluar dari singgahsana.
Dari jauh, Izack sudah menunggu di samping mobil, siaga membuka pintu depan.
"Tuh, kan... tatapan matanya sayang, begitu. Bukan seperti orang yang lagi dihutangi," tawa si perawat.
"Ah, ibu ini nggak tahu anak muda aja."
Perawat itu kembali tersenyum lebar, tapi ia enggan menimpali.
Kursi roda berhenti tepat di depan tangga kecil.
"Mau saya tuntun mbak?"
"Nggak usah bu, cuma kesitu aja saya sanggup."
Pelan Chika melangkah sembari menahan perut. Mata Izack waspada khawatir limbung. Tapi ia tak berani menuntunnya, hanya tangan yang sigap di belakang sewaktu-waktu langkahnya limbung hingga gadis itu duduk di jok, dan pintu pun ditutup dengan lembut.
"Mari, bu..." pamit Izack segera pergi.
Ibu perawat hanya mengangguk, senyumnya lebar terbayang kekonyolan Chika beberapa hari membersamai.
***
Suasana mobil terasa senyap saat meninggalkan area rumah sakit. Hanya deru AC dan suara kendaraan luar yang teredam.
"Loh, Bang Hendrik kemana?" tanya Chika, menoleh.
"Ada janji sama temannya," jawab Izack menatap lurus ke depan. Tapi jarinya menggesekkan hidung, menutup senyum samarnya.
Ia ingat kata lelaki itu. "Sudah... aku mah gampang. Aku paham kamu dalam mode pengejaran tanpa ampun."
Senyap.
Kabin mobil terlalu kedap, membuat dunia luar terasa jauh.
"Terima kasih banyak sebelumnya, Bang..." ucap Chika akhirnya, ragu.
Seperti biasa, Izack tak menjawab. Ia hanya fokus nyetir di tengah kemacetan. Tapi senyumnya jelas tergambar di sana. Sesekali matanya menatap rambu, sesekali melihat spion.
Dan kali satu pertanyaan menyelinap, mulai mengusik benaknya:
Aku antar kemana, dia?
Tapi sinyal itu seolah tersambung, Chika berkata.
"Boleh minta tolong antar ke terminal, Bang?"
"Terminal," Izack melotot tak percaya.
"Aku belum kuat kalau naik turun tangga kos sendiri. Jadi, aku mau pulang ke rumah saudara aja," jawabnya.
"Oh..."
Lelaki itu diam sejenak.
"Begini aja deh," jawabnya tenang. "Aku antar kamu ke rumah saudaramu, tapi aku harus pulang dulu. Kakakku mau datang."
Chika menggeleng tegang. "Jangan! Jauh banget."
"Kota Giwana, kan?"
"Nggak! Jangan! Nggak usah!" Chika menggeleng cepat.
Izack bingung.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan,"
"Turunkan aku di halte depan aja,"
Izack menarik nafas tenang.
"Jalanmu itu masih limbung, Chika. Kalau ada apa-apa di jalan, gimana?"
"Pokoknya jangan," suaranya tegas.
Chika beringsut pelan, menegakkan punggung dari sandaran jok. Giginya menggigit bibir keras menahan cemas.
"Tolong ya Bang, antar ke terminal aja..."
Laju roda menepis ke pinggir badan jalan. Izack diam sejenak, lalu menatap wajahnya yang tegang.
"Sekarang aku tanya, apa alasanmu nggak mau aku antar?" tatapnya dalam dan hangat.
Chika diam, melirik takut.
"Pokoknya aku nggak mau diantar."
Izack menarik nafas lelah, tapi Chika menangkapnya sebagai sinyal mau lari dari hutang.
"Emm... nanti soal biaya Rumah Sakit, aku pastikan lunas deh! janji, Bang," jawabnya yakin.
"Atau... sekalian kamu beli rumah orang tuaku aja, nanti dikurangi sama hutangku sejauh ini."
Sejenak alisnya mengernyit aneh, tapi senyum itu perlahan lepas. "Hei... kita ini sedang bahas kamu pulang kemana, kenapa tiba-tiba bahas soal biaya rumah sakit?"
Entah apa yang Chika pikirkan, wajahnya tampak tegang. Dan mulai nyengir menekan lembut perutnya.
"Kenapa perutmu?"
Chika nyengir. "Kram,"
Tangan Izack sigap menekan tombol tua jok hingga posisi rebah. Lalu menyelipkan bantal kecil di lehernya, membiarkan Chika meringkuk menghadap pintu.
"Sudah... kita ngobrol yang lain aja, sambil muter-muter ya?" katanya sambil memutar kendali mobil hingga melaju tenang.
Sesaat ia teringat kata-kata Hendrik tentang tradisi desa paman Chika. Ia menarik nafas dalam, melengoskan wajah, lalu kembali menatap tajam jauh ke depan. Tapi tiba-tiba saja ponsel Izack bergetar. Itu adalah panggilan kakaknya.
Ia segera memakai earphone, dan mendengarkan suara yang sengaja ia senyapkan. Hingga panggilan terputus.
Tangannya kembali menggenggam erat setiran, dan kakinya menekan keras pedal perlahan.
"Kita bicarakan baik-baik di rumah ya, ini kakakku mau datang." ucapnya berpaling sekilas.
Gadis itu tak merespon sedikitpun.
Izack menarik nafas dalam, lalu berpaling sejenak.
"Sudah... tenang dulu, semua bisa diselesaikan dengan baik, kan?!" suara Izack tenang.
Chika tak merespon. Ia masih meringkuk menghadap pintu.
Ponsel Izack kembali bergetar. Ia memasang earphone dan menekan tombol di layar dashboard.
"Hm, gimana?"
"Zack. Kita akan rapatkan soal namamu di media sosial."
Izack menghela nafas panjang, sedikit tampak kesal.
"Aku kan sudah bilang ke dirimu, nggak usah ditanggapi. Alihkan aja isu yang lain."
"Misalkan isu tambang Uranium kemarin. Cerdas dikit kenapa sih?" nadanya terdengar keras dan kesal.
"Zack... kita nggak main-main. Anggota CAPN merasa terganggu dengan isu dirimu."
"Aku paham," ucapnya sambil melirik Chika yang terlihat meringis kesakitan.
Tanpa berpikir panjang, Izack banting setir ke kiri, membuat Chika tersentak.
Spontan tangan kirinya mengulur, menahan kepala Chika agar tak terbentur.
Ia segera keluar dengan genggaman tangan yang tampak mengeras, tapi lagi-lagi ia menarik kesabarannya.
Chika yang meliriknya sekilas, mulai takut. Lelaki itu berbicara dengan rahang mengeras dan suaranya tegas.
Chika menurunkan egonya, dan pasrah pada kehendak Izack.
Saat lelaki itu masuk, Chika menegakkan punggungnya. "Maaf, Bang... gara-gara aku, nama baikmu jadi jelek."
Izack tak langsung menjawab. Ia hanya melirik, namun rautnya melunak perlahan.
"Ini bukan soal kamu, tapi soal diriku yang sedang dalam sorotan, karena teman-teman AMN sudah mulai bergerak Chika..."
Tak lama kemudian teleponnya kembali bergetar. Itu adalah Rony, sekretaris penerbit. Izack tak bisa mengelak, ia langsung mengangkatnya.
"Hm, ya Ron. Gimana?"
"Sory aku belum bisa balik ke ke sana malam ini. Tolong dipending semua rapat sampai aku tiba."
"Hm, baik."
"Ngomong-ngomong sudah dengar proyek literasi pemerintah belum, Bang?"
"Hm, sudah."
"Oh..."
"Kalau begitu, kenapa nggak coba ajukan lagi proposal proyek perpustakaan digital kita, Bang? Apalagi, sepertinya Mama dekat sama orang-orang itu, kan?"
Izack tersenyum samar.
"Aku tahu, Ron. Tapi ada harga yang harus dijual mahal."
Izack berpaling pada Chika yang ternyata sudah kembali terpejam, mendengkur halus.
"Kenapa?"
"Anaknya mau dijodohkan."
"Oh..."
"Sama?" tanya suara itu. "Abang?" tawa itu lepas di earphone.
"Mantap! ambil aja, cantik enggak anaknya?"
"Enak, aja!"
"Oh, maaf. Aku baru ingat si kakak cantik yang baru viral kemarin," tawanya meledek di ujung ponsel.
Izack melirik Chika dengan rambut panjangnya yang terurai menutupi sebagian wajah. Namun sesaat itu menggaruk leher, menyibakkan sebagian rambutnya, memperlihatkan lehernya yang lembut dan bening. Spontan ia menarik pandangannya dari sana.
"Sudah, gitu aja dulu,"
"Oke,"
Klik suara itu terputus seketika.
Suasana kembali hening.
Ada hawa tenang dan nyaman yang diam-diam menyelinap perlahan. Ia tak tahu, mengapa perasaan itu mulai ia rasakan betul akhir-akhir ini.
Sekalipun badai di luar terasa kejam dan keras.
Tapi berada di dekat gadis itu, rasanya benar-benar membuatnya nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar