Minggu, 24 Mei 2026

Bab 46. Masih ada Aku, di belakangmu

 Malam datang, dan pagi pun kembali.

Izack masih duduk di sana –di sofa yang sama. Tubuhnya tegak, matanya tak lepas dari layar laptop. Rambutnya rapi seperti biasa, kulitnya tampak mulus di bawah lampu ruang perawatan.

Bahkan saat perawat dan dokter datang bergantian sejak pagi, ia hanya menjawab seperlunya.

Memang. Sejak pagi ia tampak sibuk mengurusi rapat demi rapat online yang datang silih berganti, mengkoordinir aksi dan gerakan massa di luar sana. Namun kali ini, ia benar-benar lebih terlihat cueknya dibanding hari pertama masuk.

Sementara telinganya terpasang earphone –memberi keterangan panjang lebar, lalu menjawab, lalu tangannya menari cepat di atas tuts.

Beberapa kali Chika mencoba membuka percakapan, tapi lelaki itu seperti telah menutup komunikasi.

Namun kali ini, Chika makin tak peduli. Bahkan andai suaranya tak terdengar sedikitpun.

"Bang," suaranya hati-hati.

Tak ada jawaban.

"Aku... minta maaf dengan kata-kataku kemarin," nadanya berat, tercekat di tenggorokan.

Hening.

Chika menarik nafas. "Toh akhirnya seperti ini, kan?" meringisnya kecut diiringi segelintir air mata yang jatuh. Tapi ia mengusap cepat.

Ia pikir, lelaki itu tak mendengar, ketika telinganya tersumbat dua earphone.

"Mumpung belum terlambat, ktp ku juga belum diubah. Kamu bisa ajukan gugat cerai aja langsung ke pengadilan, Bang," ucapnya pasrah kembali menjatuhkan air mata, diusapnya lagi.

"Kalau satu saat kita bertemu di jalan, anggap saja kita nggak pernah kenal. Daripada kamu malu kenal cewek sepertiku," ucapnya meringis, mengucek matanya yang basah.

"Sekarang... Aku harus melanjutkan perjuanganku, mengangkat harga diriku sendiri sebagai perempuan miskin yang tak punya siapa-siapa."

Izack tetap diam. Ia segera melepas earphone, menutup laptop, lalu meletakkan memo kecil di bed, --tanpa menatap sedikitpun, dan pergi meninggalkan ruangan. Pintu itu ditutup pelan, namun terdengar menyakitkan.

Saat itulah ia merasa seperti terjun bebas dari tebing yang tinggi.

Tangannya lemas meraih kertas.

Jika hanya itu yang perlu aku dengarkan di sini, aku pamit pulang ke ibu kota. Masih banyak urusan yang perlu aku selesaikan.

Jaga diri baik-baik.

Jangan sakit lagi.

Glekkk!!

Tangannya lunglai, kertas pun melayang, jatuh ke lantai.

***

Sore menjelang malam, Izack tak kunjung datang.

Kecemasannya makin meningkat saat dokter menyatakan boleh pulang. Ia panik memikirkan tagihan kamar VIPnya, namun perawat datang lagi mengatakan bahwa semua administrasi sudah beres. Itu membuatnya antara kaget, lega, bingung dan galau.

"Suaminya kemana mbak?" tanya perawat.

"Oh..." Chika kaget campur bingung.

"Nanti mbaknya pulang sama siapa?"

"Sendiri," jawabnya ragu. "Dia sedang ada urusan sama pekerjaannya," imbuhnya cepat.

"Oh..." sorot mata perawat penuh tanya. "Baik. Nggak pusing, kan?" tanyanya lagi penuh empati.

Chika menggeleng.

"Jangan angkat berat-berat dulu, ya," pesannya singkat.

Chika mengangguk.

***

Sore itu langit mulai redup. Chika berdiri termenung memandang langit. Pandangannya masih terasa berat dan pusing. Ia duduk bersandar di depan jalanan menuju ruang lobby.

Dari jauh, Izack tetap mengawasinya diam-diam, menahan nafas.

Lalu dengan sisa tenaganya, gadis itu melangkah lemah menyusuri pinggiran jalanan menuju halte di luar area rumah sakit.

Mata Izack yang tajam, tetap waspada mengikuti. Tapi kemudian ponselnya bergetar.

"Zack, pertemuan dengan orang inti CAPN gimana?"

"Sorry, Ron. Nanti aku telepon lagi."

Ia memutus panggilan begitu melihat Chika masuk ke dalam mini bus.

"Tolong ikuti bus itu, Pak," katanya pada pengemudi ojek.

Bus melaju, berhenti di setiap halte. Tapi Chika tak pernah turun. Sampai akhirnya kendaraan itu masuk ke terminal.

Izack mengikutinya saat gadis itu naik bus antar kota antar provinsi. Sementara langkahnya gontai sedikit dipaksakan, membuat Izack selalu was, takut jatuh.

Seperti apa sebenarnya kehidupanmu, Non?

Ia meminta kondektur menanyakan tujuan Chika lebih dulu dan berjanji membayar tiketnya tanpa sepengetahuan gadis itu.

Kondektur pun sepakat. Itu membuat Chika pun bingung.

Malam semakin pekat, saat bus tiba di kota Giwana.

"Mas, mbaknya sudah mau turun." Kata kondektur membangunkan Izack.

Izack berdiri lebih dulu. begitu Chika turun, ia menyusul dari jarak beberapa meter.

Begitu Chika turun, Izack pun ikut turun beberapa meter darinya.

Chika berhenti sebentar, lalu masuk ke toko kecil di jalanan yang sepi dan gelap. Sementara Izack sengaja berhenti di bawah lampu jalanan, sembari memeriksa pesan grup AMN, yang masuk.

Tapi rupanya ia lengah dengan kondisi yang sepi.

Saat Chika keluar, gadis itu kaget melihat sosok tinggi yang tak asing dengan blazernya.

Mata itu saling menatap dari jarak yang cukup jauh.

"Kamu, Bang..." Chika melongo.

Izack menelan ludah, gugup. Wajahnya yang tirus, tampak makin tampan di bawah lampu kuning keemasan. Sementara jarinya belum selesai menekan ponsel dalam genggaman.

Waktu seakan terhenti.

Izack bingung mencari alasan. Chika masih belum percaya, lelaki itu ada di sana. Ia bahkan menganggap dirinya seperti sedang berhalusinasi, atau melihat bayangan hantu di malam hari.

Chika berjalan ragu mendekat. Sekedar ingin memastikan bahwa itu Izack.

Bibir lelaki itu terkatup, bingung mencari alasan.

"Kenapa kamu sampai sini?" tanya Chika akhirnya.

"Eh..."

"Janjian sama teman," jawabnya cepat.

"Hm?" Chika mengernyit heran. "Punya teman di sini?"

"Hm," angguknya cepat. "Kamu sendiri kenapa sampai sini?" tanya Izack tak mau kalah.

"Nggak punya kos, pulang lah," ucapnya sambil berjalan lebih dulu.

Izack baru sadar. "Ke rumah orang tua?"

"Ya,"

"Terus, naik apa?" tanya Izack heran melihat sekeliling area perkebunan dan persawahan yang gelap.

"Jalan kaki."

"Nggak takut?"

Gadis itu hanya tersenyum kecut, ingat ketemu om-om dan pemabuk di pinggir jalan.

"Sudah, ayo jalan," langkah Izack mendahului.

Chika melirik heran. "Terus temanmu?"

"Gampang, nanti," jawab santai, melangkah.

Chika mengejar, berjalan di sampingnya. Namun tatapannya tak lepas menatap Izack, bingung menebak-nebak.

"Bukannya tadi kamu bilang mau pulang ke ibu kota?"

"Hm." Angguknya cepat "Tapi aku tahu, bakal ada yang nangis lagi, nanti," senyum Izack samar, lalu merangkul pundak.

"Jangan pergi lagi, sayang..." ucap Izack tenang.

Keduanya melangkah bersama berbalut udara malam yang makin dingin.

Chika mulai menceritakan peristiwa malam itu, bertemu pemabok dan om-om mesum.

Izack tertawa kecil. "Itu kualat, namanya."

"Pulang nggak pamit, tahu-tahu diusir pak kos."

Chika tertawa, antara kesal dan sedih.

Izack kembali membubuhkan ciumannya di ujung kepala, --seakan mengalirkan rasa aman, di antara

"Andaikan aku nggak menjemputmu malam itu, mau kemana kamu?" tatap Izack penuh cinta.

"Pulang," jawabnya mendongakkan wajah.

Langkah mereka perlahan terhenti di pertigaan pintu masuk perkampungan. Chika melepas gamitan tubuh lelaki itu, lalu mendekati pintu gerbang kayu, --yang tingginya di atas kepala orang dewasa.

Saat pintu terbuka, semak belukar telah menyambut. Izack tak yakin, langsung keluarkan ponsel dan menghidupkan senter --sekadar menerangi langkah kaki Chika.

"Nggak salah, kamu?" bisiknya.

Chika tak menjawab. Ia terus berjalan menerabas ranting pohon yang menjuntai menutupi pandangan.

Namun di antara rimbun pepohonan, matanya dikejutkan oleh bangunan rumah tua yang cukup gagah. Rumah itu hanya diterangi sinar bulan yang lembut.

Dengan cekatan, tangannya mengarahkan senter ponsel ke pondasi kokoh di depannya dari bebatuan kali yang sengaja dibuat lekukan simetris dengan tinggi hampir se dada Chika.

Izack sempat terpanah, bangunan tua itu tampak megah dan kokoh ala bangunan kolonial. Ia tak menyangka, gadis yang mengaku dirinya miskin, ternyata punya rumah tua semegah ini.

"Siapa kamu sebenarnya?" batin Izack menatap punggung istrinya.

Chika tampak kesulitan membuka pintu, Izack pun menyusul, menaiki tiga anak tangga menuju pintu masuk utama, --yang dindingnya menyatu dengan jendela kayu tinggi dan lebar kotak-kotak. Jendela kaca itu memantulkan cahaya bulan –membuat rumah itu seolah hidup dalam diam.

Pintu pun terbuka, Chika melangkah tenang dalam kegelapan.

Cahaya senter ponsel Izack, mengikuti langkah gadis itu meraih saklar. Cahaya bohlam kuning keemasan itu menggantung lembut di atapnya yang tinggi.

"Wow?!!" Izack tertegun menyapu pandangannya pada sisi-sisi ruangan yang terasa luas.

Di sebelah kanan dan kiri ruangan, ada dua pintu kamar yang sangat, sementara lebarnya tiga langkah kaki. Di tengah ruangan terdapat sepaket meja kursi kayu anyaman dari rotan yang kayu-kayunya masih kokoh menghadap ke jendela kotak raksasa.

Tepat di belakang meja kursi, terdapat dua daun pintu kayu selebar empat langkah kaki orang dewasa, dengan tingga sama pintu-pintu sebelumnya.

Chika menarik kursi, tersenyum ringan menatap Izack yang masih berdiri terpaku menatap langit-langit.

"Kenapa, Bang?"

Izack menarik alis. "Heran. Ada cewek punya rumah sebesar ini mengaku dirinya miskin," sindirnya melirik Chika yang hanya tersenyum kecil menundukkan wajah sejenak. Ia malas menjawab.

"Biasanya rumah yang ditinggalkan lama, bakal banyak kotoran. Tapi ini..." ucapnya menurunkan pandangan pada Chika.

"Aku masih sering kemari, bang," jawabnya santai.

"Tapi, biasanya aku datang saat malam begini."

"Huh?!" Izack melotot, mengernyit aneh. "Kenapa?!"

"Kapan-kapan aja ceritanya," jawabnya membuka bungkusan roti dan air mineral. Sesekali tangannya menekan perut, nyengir kesakitan.

"Kenapa perutmu?" tanya Izack khawatir.

Lelaki itu masih berdiri, menatap tiap sisi ruangan yang masih tampak kokoh dan kuat, baik dinding maupun kayu-kayunya.

Tak lama Chika kembali bangkit dan beranjak membuka pintu belakang.

Ruangan itu gelap, hanya seberkas cahaya dari ruang tamu yang memantul tipis menerangi sebagian sisi.

Tampak tv tabung dan radio tua di atas lemari bifet tua berwarna cokelat tua.

Sesaat lampu menyala terang, menerangi sisi-sisi ruangan itu.

"Kamu nggak takut masuk sendiri malam-malam?" tanya Izack heran.

Chika hanya tersenyum kecil. "Dibanding takut hantu, aku lebih takut kelaparan dan bodoh, Bang."

"Oakhh..." Izack melotot, mendenguskan tawa. "Nggak salah aku, pilih kamu."

Chika kembali membuka pintu. Pintu itu jauh lebih kecil dan pendek dibanding ukuran pintu utama dan kedua. Namun kali ini, Izack tak lagi berani beranjak dari tempat duduknya, melihat pekatnya ruang terbuka itu, jika tidak diterangi sinar bulan.

Gadis itu menuruni anak tangga yang gelap. Hingga tak lama, ruangan kembali terang melihat gadis itu meraih saklar tua yang tergantung di dinding depan kamar-kamar yang berderet memanjang ke belakang menghadap ruang terbuka yang cukup luas.

Chika kembali naik, ia masuk lagi. Melihat raut Izack beku mengamati langkahnya kemana-mana, Chika hanya tersenyum.

"Kenapa Bang," tanyanya memperhatikan kakinya sendiri, --membuka kemasan mie instan. "Kamu pikir aku hantu, apa?" tawanya geli.

Izack tak menjawab, tapi sorot matanya jelas kesal menatap bungkus mie instan di tangannya.

"Nggak ada makanan lain yang lebih buruk dari mie instan, kah?"

"Sudah... nggak usah ceramah lagi."

"Kalau aku tahu kamu ikuti aku kemari, mending beli nasi."

Izack melengos, menahan tawa, bangkit dan mendekat dari belakang, lalu memeluknya hangat.

Hening.

"Kenapa kamu selalu membuatku cemas, Non..." ucapnya membisik nakal di telinga.

Chika geli, menyodok tubuhnya. "Awas, aku mau masak dulu."

"Akhh!" Izack meringis, terkekeh melepaskan tubuhnya.

Ia hanya memandang kepergian gadis itu di kegelapan malam. Saat ia menoleh, matanya tertuju pada foto yang menempel di dinding belakang.

Izack kembali menyalakan senter kecil, menajamkan pandangannya pada foto-foto itu. Foto sosok lelaki tua yang tinggi, dengan baju coklat khaki muda dan seorang lelaki di sebelahnya yang wajah dan kulitannya mirip sekali dengan istrinya.

Tak lama Chika datang.

"Siapa?" tunjuk Izack.

"Bapak dan kakekku."

"Oh..."

Izack hanya manggut-manggut. "Veteran, kah?"

"Hm, iya," jawabnya, mengambil serbet lalu pergi lagi ke dapur.

Suasana kembali sunyi saat Chika kembali pergi.

Ia agak merinding merasakan suasana ruangan yang kembali hening, ditambah foto-foto tua di depannya seakan hidup dan bergerak dari framenya.

Tak mau terbawa halusinasi pikirannya yang jauh, diam-diam Izack turun tangga, memastikan istrinya ada di ruangan yang tampak jauh lebih tua dan senyap.

Ada sekitar empat pintu ruangan yang berjajar ke belakang menghadap ruang terbuka.

Ruang pertama adalah tempat dimana istrinya memasak di bawah temaram lampu bohlam kuning yang sesekali berkedip.

Tiap ruangan terdapat dua buah ventilasi semacam jendela tanpa pintu, hanya teralis batangan kayu.

Tapi perhatiannya agak gatal, melihat bungkus mie instan di hadapannya. Ia menghela nafas, berkecap kesal.

"Baru berapa jam yang lalu kamu keluar dari rumah sakit, masih bisa-bisanya makan mie instan."

Chika nyengir, tapi ia tak menjawab sepatah katapun. Ia tak ingin merusak suasana seperti kemarin.

Aura ruangan itu benar-benar pekat, mungkin karena selain usia bangunan, juga jarang dijamah.

Di meja makan yang tua, Chika membagi mie instan menjadi dua mangkok. Tapi Izack tak mempedulikannya, justru memperhatikan tiga kamar di ruang depan.

"Itu ruangan apa?" tanyanya.

"Kamar tidur."

"Oh..."

Hening. Chika mendekatkan sepiring mie instan di depan Izack.

"Ayo makan, Bang. Aku lapar banget," ucapnya tak sabar mengaduk untalan mie. Ia meniupnya perlahan, sementara tangan kiri menahan rambutnya yang nyaris menyentuh mie.

Melihat itu, Izack bangkit, berdiri di belakang dan mulai menyibakkan rambutnya perlahan, melepas karet dari pergelangan tangan gadis itu, lalu membelai rambut panjangnya –yang lembut-- ke belakang, dan mulai mengikat.

Ada getaran halus yang membuatnya merinding, saat jemari itu tersentuh ke leher. Tapi Chika berusaha mengaburkan batinnya sendiri, tak sabar melahap mie di depannya.

"Pelan-pelan..." ucap Izack, lalu kembali duduk. Matanya tak lepas menatap, seakan ingin mengukir dalam diam.

Chika tahu itu, tapi ia menyingkirkan perasaanya yang grogi, sambil mengangkat wajah. Ia mengalihkan pandangannya pada kamar di ruang depan.

"Sejak meninggalkan rumah ini, aku nggak pernah berani buka pintu kamar itu."

"Kenapa?" tanyanya menatap dalam.

Tangan Chika terhenti, sorot matanya menatap pintu.

"Di situ almarhum ibu dan dua kakakku tewas," nadanya tertahan. Ia membenarkan posisi duduk dan menekan suaranya agar tak runtuh.

Wajahnya tertunduk, menancapkan garpu pada mie. Tapi air matanya terlanjur jatuh, dan mulai mengusap kesal.

Izack bangkit, berdiri di sampingnya, menarik bahu ke dalam pelukan.

Tapi Chika menolak keras, berusaha mendatarkan suaranya yang hendak runtuh.

"Sudah lama aku kangen, ingin lihat ruangan itu."

"Tapi..." suaranya retak. "... aku nggak kuat," tangis pun pecah, luruh tak terbendung.

Malam semakin sunyi. Hanya suara serangga yang bersahut-sahutan terdengar dari luar dinding rumah.

Izack membiarkan tangisnya sedu sedan, hingga tubuh gadis itu lemas, membuat Izack langsung menarik kursi, dan menyandarkan kepala Chika ke dada.

Ia membelai rambut dan ujung kepalanya penuh kasih. Seolah ada kata terucap.

"Menangislah, selagi kamu bisa. Aku temanimu kamu di sini."

Hening.

Tangis perlahan reda, hingga suara itu tak lagi terdengar.

Suara ayam berkokok di ujung malam.

Izack mengangkat tubuh Chika yang lelap tertidur, lalu menurunkannya pelan ke kursi ruang tamu yang lebih panjang. Membiarkan pahanya sebagai bantalan kepala Chika yang tak terganggu sedikitpun. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar