Minggu, 24 Mei 2026

Bab 38. Makna Pengorbanan

 Melihat Izack terdiam lama sepanjang perjalanan, Chika merasa ada yang janggal. Begitu sebaliknya dengan Izack, sedikit curiga melihat rautnya yang beku.

"Gimana? sudah baikan?" tanyanya, sementara tangan kiri berusaha menyentuh perut.

Chika tak menjawab, tapi rautnya sudah tak enak.

Izack diam cukup lama, namun tangannya dibiarkan menyentuh perut.

"Itu tadi wartawan, atau..."

"Kenapa?"

"Nggak, sepertinya kok seru banget," tawa Chika sinis. "Ternyata kamu bisa tertawa selepas itu."

"Oh... teman sma. Seru aja kalau terbayang dia yang tomboy banget, sekarang bisa setenang itu."

Chika tersenyum ringan. "Ada yang belum selesai ya?"

Izack mengernyit. "Maksudnya?"

"Ya... barangkali ada perasaan yang belum terungkap."

Izack menarik tangannya, jelas tak suka. "Itulah kenapa harusnya tadi kamu ikut, Non..."

Chika mendengus, melengos ke jendela. "Aku nggak mau jadi obat nyamuk,"

Seketika ia menghela nafas. "Sayang... kalau kamu seperti ini terus, gimana aku bisa kerja."

"Itulah! Dunia kita itu beda, Bang!" potongnya cepat.

"Sudah deh! Sebelum KTPku berubah status, baiknya kamu ajukan perceraian ke Pengadilan aja."

Spontan Izack banting stir ke pinggir badan jalan, tubuh Chika tersentak keras ke pintu.

Brukh!!!

"Aakhh!"

Kali ini nggak ada kata maaf. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram kuat di setiran. Kendaraan itu berhenti, lalu diam cukup lama, seakan meredakan keributan pikirannya.

Izack kembali berpaling. "Chika, kamu tahu tadi Rony telepon untuk apa?"

Gadis itu diam tak berkutik.

"Kamu tahu kenapa aku diam?"

"Detik ini juga, aku harus membangun narasi untuk orang Dinas, agar proyek kita bisa goal. Kenapa kamu malah bicara soal Rafika?"

Glekk...

Chika merasa bersalah. Mulutnya diam terkunci. Ia tahu, seharusnya tak menyeret nama perempuan itu, tadi.

Izack meraup wajahnya sendiri.

"Aku lagi di ujung tanduk, Chik. Semua harus aku kerjakan satu persatu dengan tenang dan perhitungan yang teliti." Ucapnya menarik nafas pelan. "Satu kalimat aja salah, bisa runtuh semua."

Suara itu membuat Chika diam, tertunduk.

"Sekarang kamu sudah jadi istriku. Suka atau enggak, kita ini sudah satu perahu. Jatuh bangunnya perusahaan, jatuh bangunnya AMN, ada di tangan kita."

Hening. Hanya suara mesin yang menderu.

Air mata Chika jatuh, diam-diam ia hapus, menelan ludah, perih.

Tapi sesaat tak mau kalah, ia mengangkat dagunya lurus.

"Ya seperti ini, kan... aku hanya jadi bebanmu."

Ponsel Izack kembali bergetar. Itu adalah Rony. Ia segera mengangkat panggilan.

"Ya Ron..." simak Izack tenang mendengarkan suara di ujung ponsel.

"Sebelumnya katakan maafku pada orang Dinas. Pertemuan kita tunda."

"Tapi, Pak. Bapak tadi bilang suruh menunggu, dan mereka sudah menunggu cukup lama."

"Iya, katakan maafku untuk kali ini benar-benar nggak bisa." Jawabnya.

Glekk...

"Baik, Pak Izack."

Klep...

Panggilan terputus.

Chika melotot, menatap Izack kaget.

"Kenapa kamu gagalkan..."

"Sudah, sekarang kita pulang."

Chika melotot bingung. "Tapi kenapa mesti digagalkan?"

"Kalau itu rejeki, nggak akan kemana. Tapi kalau bukan, kamu lebih penting dari itu semua."

Chika meraup wajah kecewa.

Senyap.

"Aku hanya ingin, keluarga kita terbangun dengan baik. Itu saja cukup."

Chika berpalig cukup lama. "Kamu nggak mikir perasaan mereka yang menunggu berjam-jam, Bang?"

"Kamu memikirkan perasaan orang, tapi nggak pernah memikirkan bagaimana perasaan suamimu," ujarnya.

Jlebbb

Mulut Chika terkunci. Ia tak berani berkutik, apalagi berkata.

Jalanan di depan mulai lengang, hanya tersisa beberapa kerumunan mahasiswa yang pulang berjalan kaki menuju kampus dan beberapa memasuki kompleks apartemen.

Sirine memanjang bersahut-sahutan. Entah ambulan, entah mobil aparat.

Ibu kota negara kini belum benar-benar tidur, hanya menahan nafas sejenak. Seolah bakal pecah sesuatu yang lebih besar lagi dalam beberapa hari.

Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 23.10.

Hingga sadar, kendaraan mulai masuk area basement apartemen.

Chika yang sejak tadi menahan wajah cemas dan khawatir, akhirnya bernafas lega.

Ia menyelipkan jarinya ke bawah pantat.

"Aduhh!" desisnya melotot.

Mendengar suara itu, Izack enggan menjawab. Ia hanya melirik sekilas. Sisa kemarahannya jelas terlihat.

Namun begitu roda berhenti, dan mesin mati. Chika sudah tak sabar membuka pintu.

"Kenapa?" tanyanya membuka pintu.

Chika melotot saat ia berhasil turun, dan melihat bercak darah di jok kain. Sementara kemejanya telah basah dan lengket.

"Mati aku!" desisnya, dengan mata terpejam.

Raut Izack masih tampak beku, saat ia berdiri di belakang tubuh Chika di depan pintu. Ia kaget melihat bercak darah di jok.

"Maaf, Bang..."

"Ini gimana bersihkannya..." matanya menyipit takut.

"Perutmu berdarah?!"

Chika tertunduk. "Aku siap dipulangkan kok... aku pulang sendiri juga nggak apa-apa."

Izack menelengkan kepala, aneh. Ia memutar tubuhnya, mengamati kemeja bagian depan yang nggak ada bercak darah sama sekali.

"Tapi kenapa yang basah bagian belakang?"

Chika nyengir makin takut.

"Kamu...??" matanya perlahan melotot.

"Aku datang bulan."

Spontan, Izack menghela nafas.

"Sudah, tinggal. Aku kira selaput daramu yang robek," gumamnya langsung membuka pintu belakang.

"Apa?!!" Chika melotot.

Izack tertawa geli campur takut. Ia langsung merangkul.

"Kamu pikir aku perempuan apaan?!" ucapnya ngedumel.

Tapi Izack justru tertawa kecil, sambil menarik lembut gadis itu berjalan meninggalkan ruangan yang pengap menuju pintu masuk.

Sepanjang jalan menuju koridor lift, Chika diam malas tertawa, tapi Izack berusaha merayu dengan rengkuhan tangannya.

"Gila! pikiranmu benar-benar jorok."

"Maaf-maaf... aku benar-benar buta soal begituan."

"Iya, tapi??!"

Izack terus tertawa geli sembari memohon ampun. Tapi Chika tak terima, Izack kehabisan akal. Hingga terpaksa ia utak-atik ponselnya, dan menunjukkan pembalut dengan bermacam ukuran.

"Ini, yang mana?" tunjuknya pada Chika.

Setengah ragu Chika menoleh layar itu, Izack meliriknya dengan sedikit senyum kemenangan.

Chika menekan dua pilihan.

"Sudah?! Yakin, Ini aja?"

"Hm,"

***

Waktu terus berlalu. Chika yang sejak pertama kali masuk ke unit apartemen, belum juga keluar dari kamar mandi. Ia takut jika darahnya menetes di lantai.

Hingga satu 30menit kemudia terdengar suara pintunya diketuk.

"Sayang... Ini yang kamu butuhkan," Izack menyodorkan sekantong kecil.

Chika melotot saat mendapati underware di dalamnya.

"Tapi ini kenapa...?"

"Aku lihat karet underwaremu banyak yang sudah kendor, kan..." potongnya cepat.

Glekk!! Chika melongo, tertawa senyap membayangkan kemarahan tadi dan kelembutannya saat ini.

***

Malam kembali tiba, Chika masih tertegun –duduk di meja makan—memandang sikap lelaki yang tenang itu kini menyiapkan makan malam untuknya di dapur.

"Sudah mandi?" tanyanya sibuk menghidangkan menu di meja.

"Sudah."

Sepi menyelimuti.

"Bang... Maafkan sikapku tadi, ya."

"Yang mana?"

Chika menarik pipinya ke belakang. Izack tersenyum samar melihat raut itu. Ia mengambilkan sepiring nasi untuknya.

"Kamu yang cemburu, yang kotori jok mobil, atau.."

"Soal proyek dengan pemerintah tadi."

Izack diam. Ada raut kecewa tergambar jelas di sana.

"Sudah, ayo makan dulu."

Sembari mengambil menu makan malam, mereka menikmatinya perlahan.

Chika yang sejak tadi menahan untuk tidak bicara, akhirnya membuka mulut.

"Jujur, sebenarnya aku capek hidup di seputar orang-orangmu, Bang."

Izack diam. Membiarkan hening itu berlangsung.

"Hm, aku paham. Tapi itu perlu dilatih," nadanya datar.

Chika duduk tenang, tangannya ia turunkan ke pangkuan.

"Besok pagi aku pulang ke Tayoga ya, Bang," ucapnya tertunduk. "Setidaknya... Kamu lebih leluasa bekerja."

Izack diam tak merespon. Ia terus menikmati menu di piring dengan tenang dan wajah pahit.

"Kita ini... seperti langit dan bumi yang nggak pernah bisa bersatu."

Izack tersenyum getir. "Kalau pernikahan itu diukur hanya dari hal itu, betapa repotnya dunia ini hanya mencari kecocokan satu sama lain."

Hening.

Entah apa yang Chika pikirkan, air matanya menggenang perlahan sembari mengunyah pelan.

"Sudah, habiskan dulu. Jangan berpikir kemana-mana."

Malam itu, akhirnya keduanya duduk di balkon sekedar melepas lelah. Chika yang awalnya enggan, sedikit dipaksa. Dengan tarikan lembut akhirnya ia mau duduk dalam dekapannya.

Keduanya ngobrol sepanjang malam, membiarkan telepon terus bergetar dari satu orang ke orang lain.

Izack tahu. Malam ini beberapa cabang AMN sudah sibuk melakukan aksi, hingga melakukan dialog-dialog dengan para pemangku kebijakan daerah setempat. Sementara markas AMN sudah mulai beroperasi, meskipun renovasi masih terus dilakukan.

Tapi dalam ketegangan di luar. Ia ingin membangun kedamaian itu dari dirinya, dari orang yang baru saja memasuki kehidupannya. Dan tentu saja ia perlu mendamaikan ketidakyakinan gadis itu akan dirinya yang baginya masih sangat baru.

Awalnya gadis itu canggung duduk bersandar. Namun perlahan ketegangan itu cair, seiring belaian lembut jemarinya menyisir rambut panjangnya yang terhempas angin berulang kali. Hingga akhirnya gadis itu tertidur, bersandar dalam pelukan.

Dengan hati-hati ia menggendongnya masuk, menyelimutkan kain tebal yang cukup hangat. Lalu membubuhkan kecupan kecil di dahi, dan kembali ke ruang kerjanya demi menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda.

***

Pagi itu Chika keluar dari kamar sambil meringis kesakitan menekan perut membungkuk-bungkuk. Ia merasakan suhu tubuhnya lebih hangat dari biasanya, bahkan ia mulai merasakan tulangnya ngilu di sekujur tubuh.

"Masih sakitkah??" tatap Izack iba mengikuti langkahnya.

Gadis itu duduk di sofa.

Izack datang membawa segelas susu yang ia tuang dari kulkas.

"Ini, minum dulu, aku kasih madu biar energimu ketolong."

"Biasanya kalau haid minum obat apa?"

Chika menggeleng.

Lelaki itu duduk di sebelah. Pandangannya lurus seakan tengah menata sesuatu di udara. Lama ia menatap Chika yang tengah menyesap susu di gelas.

"Pagi ini aku harus melihat renovasi Mabes AMN. Kamu gimana?" tanya Izack bimbang.

Melihat mata Chika merah berair, ia menyentuh keningnya.

"Kamu demam?!"

Izack sadar akan tanggung jawabnya. Tapi melihat istrinya yang jatuh sakit, ia mulai gamang.

Seperti ada sesuatu yang nyangkut di pikirannya, ia pergi menjauh, menelpon seseorang.

"Halo Ma, apa cewek kalau datang bulan mesti demam?" suaranya lirih.

Suara itu membuat Chika spontan tersenyum geli.

"Tapi sebentar lagi aku harus pergi, Ma."

"Hm,"

"Aku coba tanya dia dulu deh."

Lelaki itu kembali duduk di sebelah menyentuh keningnya.

"Kalau aku antar kamu ke rumah Mama, gimana?"

"Aku bukan barang yang bisa kamu titip-titipkan, Bang."

Senyum Izack lolos begitu saja,

"Bukan begitu, Non... Setidaknya ada orang yang menjagamu."

Chika meringkuk dalam selimut.

"Sudah, kalau mau pergi, pergi aja."

"Beneran?"

"Hm," jawab Chika. Namun dengan sorot mata enggan ditinggal.

Jemari Izack mengulas kepalanya sebentar, lalu berdiri dan pergi begitu saja.

Hembusan nafas itu terdengar cukup keras membuat lelaki itu kembali menoleh.

"Apa perlu aku panggil Alika?" katanya, berpaling.

"Jangan,"

"Aku hanya butuh kamu," gemuruh batinnya.

Izack menatap iba pada Chika yang berpura-pura meringis kesakitan. Ia bingung bagaimana harus meninggalkannya dalam kondisi seperti itu.

"Apa perlu aku panggilkan temanku dokter kemarin?"

"Mana ada orang menstruasi panggil dokter."

"Tapi kamu kan demam."

Chika menepuk wajahnya kesal.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Dia adalah bapak-bapak juru masak yang membawakan sekeranjang makan pagi. Begitu kembali, Izack mulai menata hidangan itu di atas meja makan.

Melihat Chika senyum-senyum mendatangi meja makan, Izack sedikit aneh.

"Kenapa tertawa."

"Aku merasa seperti kambing,"

"???" Izack meriut tawa.

"Iya, kambing itu kan kerjaannya makan, tidur, lalu siangnya di "angon""

"Angon??"

"Iya digembala pemiliknya."

"Memangnya kamu begitu?" tawa Izack geli.

"Apa nggak merasa, kamu? Dari kemarin aku diperlakukan begitu."

Izack hanya tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala. "Aku nggak pernah merasa perlakukan kamu begitu, Non..."

Belum sempat Chika menjawab, bel pintu kembali berbunyi. Itu adalah Ozin, ia berdiri di depan pintu saat Izack membuka.

"Kamu nggak lupa jadwal pagi ini, kan. Bang?"

"Hm."

"Ayo, Zin makan dulu sini," pinta Chika, ia muncul di belakang tubuh Izack yang lebih tinggi.

Lelaki dengan kacamata bulat frame hitam itu melirik ke arah Izack, seakan meminta izin dibolehkan atau tidaknya. Tapi Izack hanya diam, Chika melirik Izack menebak bagaimana kebiasaan bosnya saat makan.

"Kenapa? Kamu takut sama bosmu?" tanya Chika.

"Oh, tidak Kak..."

"Saya tunggu di luar aja, Bang," pamitnya.

Tapi Chika menahan dengan kata, "Ozin, bang Izack sama kamu, sama-sama manusianya, kan?"

"Ayok sini makan bareng."

Izack hanya menoleh, menarik nafas sesak, menjulurkan alisnya, lelah.

Lelaki berkaca mata itu pun akhirnya nurut, ia duduk di sebelah suaminya. Meskipun awalnya ragu.

Izack menatap tajam perempuan di depannya. Ia curiga, karena baru beberapa menit yang lalu ia demam tertatih-tatih, namun tiba-tiba terlihat bertenaga saat sopir itu datang.

Tapi Izack memilih diam.

Ozin agak canggung saat ia ikut makan bersama.

Selama tiga tahun berturut-turut, ia memang tak pernah diajak makan semeja dengan bosnya. Izack sengaja menjaga jarak privasi dirinya.

Dan kali ini, Izack makan lebih cepat dari biasanya. Ia segera beranjak cuci tangan, kumur dan memanggil Chika di depan kamarnya untuk segera masuk.

Setengah terburu-buru Chika habiskan sisa makannya, matanya sekilas menatap Ozin penuh tanya. Lalu ia cuci tangan dan mengikuti Izack yang sudah menatap dingin.

"Kenapa?" tanyanya polos.

Izack menggandeng masuk, lalu menutup pintu kamar dan mendesak langkahnya ke dinding. Ia menyentuh dahi.

"Aku heran, kenapa demammu mendadak sembuh?"

"Kamu mau aku sakit lagi?"

Izack melirik aneh.

Chika menelisik curiga. Namun perlahan ia tertawa ngikik. "Kamu... cemburu kah?"

Izack mendengus, melengos. "Bukan levelku cemburu sama dia."

Chika tersenyum tipis. "Kalau diamati, sebenarnya kamu sama Ozin tuh jauh lebih keren Ozin, loh?!" perlahan tawa pun pecah

Izack tak menjawab. Tapi lirikannya penuh raut gemas, kesal dan... spontan tangannya menarik punggung, sedikit menunduk, lalu mendesaknya ke dinding dan menciumnya lembut, membuat gadis itu tak berkutik.

Hening.

Kamar makin senyap, nafas keduanya saling memburu. Namun tatapan mata Izack seakan memberi peringatan, dalam.

"Aku tahu jiwa sosialmu tinggi. Tapi aku nggak suka caramu membela lelaki lain di hadapanku," ucapnya, menatap lekat wajah Chika yang mendadak lemas.

"Aku juga nggak suka caramu perintah-perintah ke dia."

Izack langsung meraup wajahnya, rautnya memelas.

"Itulah pekerjaan, dia sayangku..."

"Iya, tapi aku nggak suka kalau kamu bossy banget."

Izack kembali menarik nafas, melengos lelah. "Kamu sadar nggak sih, suamimu ini siapa?"

"Iya, terus?"

"Aku butuh orang membantu pekerjaan sehari-hari nona manis... kalau nggak seperti itu, detik ini aku nggak bisa tinggal di sini. Mengatur ratusan karyawan di luar."

Seperti baru sadar, Chika tertawa lebar tanpa berdosa. Ia mengulas bibir, lalu menggigitnya menahan malu sendiri.

Izack tak tahan menatapnya. Tanpa berkata lagi, ia segera menunduk, mengangkat kedua pahanya, menggendong dan merebahkan perlahan di atas ranjang.

Kini, jarak wajah mereka terlalu dekat, membuat Chika tak lagi bisa cengengesan. Tak bisa dipungkiri, irama nafasnya makin sesak menatap lelaki itu di atasnya. Tapi ia kaget, bingung, begitu lelaki itu melepas kancing kemejanya tak sabar.

Sebelum seluruh tubuhnya terekspos, Chika menghentakkan kaki, berguling cepat ke samping. Dan...

"Bugh!" mereka jatuh bersamaan.

Izack terhempas ke kasur, Chika terhempas ke lantai.

"Akhhh!!" pekiknya.

Izack yang terjatuh di atas kasur, menahan tawa keras. "Ampun... kualat tuh, sama suami."

Chika kembali duduk, menahan nyeri di atas lantai. "Kamu nggak sadar apa? sudah ditunggu Ozin di luar."

"Ingat lah."

"Ya sudah sana!"

Izack menggeleng menahan tawa geli campur gemas. Ia segera bangkit, lalu berdiri dengan tangan bertengger di pinggul. "Jahat benar kamu yah?"

Chika melengos "Heeghh... nggak ditolong malah ketawa."

Izack sedikit menunduk, menjulurkan tangan. "Katanya minta ditolong," godanya tersenyum nakal.

"Enggak! Pertolonganmu, selalu mengandung tipu muslihat," ucapnya bangkit. Ia melengos, menghindari tatapan wajah itu lagi.

Namun rambut panjangnya tergerai, meluncur lembut menyentuh jemari, membuat Izack spontan menarik pinggang dalam pelukan, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.

Chika meronta, tapi tangan Izack justru menekan sambil terkekeh, menjepit dengan dua kaki hingga tak bisa berkutik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar