Minggu, 24 Mei 2026

Bab 37. Suara Mahasiswa dan Suara Rumah

 


Suasana kabin mulai tegang.

Izack akhirnya menoleh sekilas.

Ia menahan nafas sejenak. "Kita ini mau ketemuan wartawan, Non. Kalau pakaianmu seperti tadi, kesannya kurang baik buat kita."

"Kita apa kamu?"

Izack menghela nafas. Ia malas berdebat.

"Aku paling nggak suka disuruh dan diatur-atur."

Izack menarik nafas. "Oke, oke..."

Ia kembali menoleh, sekilas. "Tapi serius, kamu cantik kok pakai baju itu."

"Nah, kan... selera siapa coba?" gerutunya, mulai menekan perut, meringis.

Izack menoleh, kaget dengan wajahnya yang berkeringat.

"Kamu kenapa?"

"Perutku sakit, Bang. Jalanmu cepat banget, tadi. Mana motoran jauh juga," suaranya tersengal-sengal.

Izack diam mengeratkan genggaman setiran, ia tak mau berdebat.

Melihat ekspresi Izack yang diam membisu, raut Chika pun kembali tertunduk. Namun tak bisa dipungkiri, ia tak nyaman dengan posisinya, hingga klesotan mencari posisi nyaman.

Kendaraan mulai melambat, terjebak macet. Izack menoleh sekilas, menekan tombol tuas otomatis, hingga posisi jok tertidur.

"Segini cukup?" tanyanya tenang.

"Hm," Chika meringkuk ke samping, menutup telinga dari hiruk pikuk di luar.

Izack meraih tisyu di dashboard, dan mengelap kening. Namun tak lama ponselnya kembali bergetar, memecah ketegangan.

Rony, muncul di layar.

Izack menggeser jawab, suaranya berubah datar.

"Pak Izack... dari tadi bapak susah dihubungi."

"Orang Dinas Kearsipan Pusat sudah menunggu. Mereka memajukan jadwal sore tadi. Katanya, besok kemungkinan akan ada demo besar-besaran mahasiswa."

Izack meraup wajahnya sendiri, lalu menghela nafas kesal. "Gimana sih."

Cukup lama ia diam, lalu mendesis.

Suara itu kembali terdengar. "Kata salah satu teman, mereka sih takut juga kalau anggaran bakal dicabut kalau nggak terserap, Bang."

"Oh ya?! Bagus lah, peluang bagi kita"

"Mereka tertarik dengan proposal kita, karena ada program film animasi dari buku sains juga, sebagai icon, Bang."

Izack mengangguk-angguk optimis, namun matanya tetap waspada mencari celah jalanan di depan.

"Kalau mereka mau menunggu, nggak apa-apa. Ini saya sudah kadung janji sama wartawan," ucapnya menoleh sesaat, menatap Chika yang masih meringkuk.

"Sebentar..."

Chika menatap Izack. "Jangan pikirkan aku,"

"Aku tunggu di mobil nggak apa-apa," ucapnya lirih, masih menekan perut.

Izack menutup mic. "Beneran nggak apa-apa?"

"Daripada perusahaan nggak dapat proyek?!"

Spontan Izack tertawa kecil. "Tahu aja kamu."

"Hm, oke," jawab Izack menyudahi panggilan.

"Ini aku perjalanan menuju kesana, semoga aja nggak parah macetnya," jawab Izack cepat mematikan panggilan dan mulai menarik setiran saat ada space luang di depannya.

***

Dua jam berlalu, mereka terjebak kemacetan, hingga akhirnya kendaraan berhenti di depan halaman parkir. Saat itulah Izack berpaling, menyibakkan rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian wajah.

"Bangun, yuk. Kita ketemuan sama orang majalah, sebentar."

Chika menggeleng lemah, raut Izack menatap pasrah.

"Sakit banget kah?" jarinya mengelap kening dengan satu sapu tangan kecil.

Gadis itu menatap diam.

"Tinggal aja, Bang..."

Izack tak langsung pergi, namun justru memberanikan diri sentuh bagian perutnya.

Chika menarik nafas dalam, saat akhirnya lelaki itu melangkah keluar, menatap sekilas di balik kaca depan.

Di café itu, Izack sudah ditunggu seorang perempuan cantik dengan rambut pendek lurus memakai hem krem. Dari balik dinding kaca, ia kaget melihat sosok wanita yang wajahnya tak asing menyapa dengan segaris senyuman, hingga ia masuk dan berdiri menahan tawa di depannya.

"Kamu?? Rafika kan?"

"Anak SMPN 6?"

"Hm, kaget?!" tawa Rafika pecah, ringan.

Izack ikut tertawa kecil, membayangkan sosok gadis yang dulu tomboy dan terkenal heboh, suka melompat pagar saat jam kosong, suka nyontek dirinya saat ujian matematika. Kini justru menjadi sosok wanita anggun dan elegan.

"Gimana, gimana?"

"Training, Bro..." jawab Rafika sedikit memelas.

"Selesai S2mu kan?"

"Hei! ini aku yang wawancara kamu. Kok malah tanya balik?"

Izack nyengir. "Oke-oke,"

"Pesan apa?" tanya Rafika lagi. "Masih suka jus kah?"

"Kok tahu?"

"Tahu lah, nggak ingat kamu? Kalau dulu aku sering nyogok kamu tak suruh kerjakan PR matematika ku?" tawa Rafika.

Izack tertawa mengingat-ingat.

"Sepertinya itu masa depresimu ya? Kita semua sempat mengkhawatirkanmu loh," kata perempuan itu lagi.

Izack hanya tersenyum kecil menjulurkan alis menarik nafas dalam.

Saat itu pelayan datang membawakan segelas jus alpukat. Izack mengambilnya dan menyruput sedikit, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.

"Sory, istriku nunggu di mobil. Bisa agak dipercepat?"

"Oh, sory! Tapi... kenapa nggak diajak kesini aja?"

"Lagi nggak enak badan."

Rafika mengangguk, lalu buru-buru menyalakan perekam. Pertanyaan awalnya ringan: masa-masa awal membangun usaha. Perlahan nadanya mulai berubah jadi serius nyrempet dunia organisasi yang ia pimpin.

"Kabarnya, kemarin Mabes AMN kebakaran? Menurut kamu, apakah itu memang kelalaian, atau memang ada unsur kesengajaan?"

Izack tersenyum, "Jauh sebelum itu, kami sempat kebobolan rekening."

"Oh ya?!"

"Sebenarnya seberapa bahaya AMN bagi sebagian kalangan, terutama pemerintah."

"Maaf, maksudku... AMN ini kan anak-anak mahasiswa."

Izack mendenguskan tawa kecil.

"Aduh, pertanyaanmu dari dulu masih sama ya. To the point."

Izack menyandarkan punggung, menghela nafas pelan. Wajahnya tenang, tapi kedua matanya menyimpan kehati-hatian. Ia tahu betul setiap satu kalimat salah, bisa jadi bumerang.

"Aku jawab sebagai ketua, ya. Bukan sebagai pengusaha."

Rafika mengangguk.

"Mungkin kamu bisa lihat perbedaan AMN sekarang, dengan AMN sebelumnya. Atau... organisasi politik mahasiswa lainnya, --yang keberadaannya kembali diberi ruang bersuara."

"Kami serius, tidak main-main. Oke?"

"Hm,"

"Kami juga tidak sedang melawan siapapun."

"Kami berdiri, karena terpanggil sebagai anak bangsa yang peduli dengan kondisi negara –yang sedang tidak baik-baik saja."

"Oke?!"

"Terutama berkaitan dengan tanah, air, udara, bahkan hak untuk hidup sebagaimana warga negara lainnya di belahan dunia, ketika kami sudah membayarkan kewajiban kami lewat pajak."

"Karena suara kami di jalanan selama ini, seperti anjing yang tak pernah terdengar."

"Untuk itulah kami rubah strategi."

"Itu saja."

"Kedua, kami sadar... mahasiswa itu tak punya kekuatan ke atas. Namun kami sadar, kami tak bisa diam selamanya, dan pura-pura tak melihat."

"Itulah mengapa, kami menggandeng para civitas akademika untuk bersuara lewat kajian, penelitian bahkan data yang mereka miliki keluar."

"Bukannya itu sudah banyak dilakukan?"

"Ya, tapi mereka berjalan sendiri-sendiri."

"Itulah mengapa dua tahun yang lalu kegelisahan kami mendorong keras, agar mereka mau bersatu dalam sebuah wadah, hingga terwujudlah CAPN, atau Civitas Akademika Peduli negara. Hingga hari ini kembali terwujud."

"Oh... begitu ceritanya,"

"Hm,"

"Mereka tidak sekedar idealis, tapi pijakan mereka jelas."

Rafika mencondongkan tubuh, menangkap jelas nada serius Izack.

"Kedua, soal bahaya," Izack meneruskan. "Apapun yang berhubungan dengan sumber daya alam, selalu ada resikonya."

"Mau aktivis senior, jurnalis, atau mahasiswa sekalipun, resikonya sama."

"Dan kalian tetap jalan?"

"Karena itu harus kami lakukan."

"Bukan karena idealis, tapi... siapa lagi yang mau peduli dengan negeri ini selain kami, --para Mahasiswa, yang jadi agent of change, yang menjembatani problem rakyat dan pemerintah."

Rafika mengangguk-angguk.

"Kami nggak sedang cari musuh," Izack tersenyum kecil. "Kami cuma cari kebenaran. Dan... ruang dialog."

"Hm..." Rafika mengetik cepat di laptopnya.

"Lalu, soal kebakaran itu. Kamu yakin kalau itu sabotase?"

Izack menarik alis. Matanya memutar cepat, ia tahu pertanyaan itu seperti jebakan yang bakal bisa dipelintir publik.

"Begini," ucapnya menatap kamera, "Aku nggak mau menyimpulkan sesuatu tanpa bukti. Yang jelas, sehari sebelum kebakaran, rekening kami dibobol. Itu fakta. Dan setelahnya, semua dokumen cetak hangus, komputer, nyaris habis dalam kebakaran itu."

"Jadi, sekarang kalian mulai dari nol?"

"Tidak," jawabnya tersenyum tipis.

"Meskipun sempat kebobolan, tapi keamanan data kami adalah yang utama. Itulah kekuatan AMN yang mungkin tidak dimiliki organisasi mahasiswa lainnya."

"Ada perasaan takut kah menghadapi ini semua?"

Izack tertawa kecil. "Kalau aku takut, mending fokus di perusahaan saja, Fik."

Rafika ikut tersenyum.

"Ngomong-ngomong... di usia semuda ini, kamu sudah memiliki perusahaan besar, lalu memimpin organisasi mahasiswa yang sangat berpengaruh. Kira-kira, bagaimana kamu menjalani dua aktivitas itu secara bersamaan ketika menjalani kehidupan berkeluarga kelak?"

"Kenapa tidak ada acara pernikahan besar untuk pernikahan orang sepertimu? Bukankah biasanya bos besar selalu merayakan pernikahan dengan pesta,"

"Istriku itu orang cerdas, sederhana, tapi juga pekerja keras. Dia tidak suka dengan perayaan yang dianggapnya foya-foya."

"Oh... oke, keren itu mah."

"Adakah rencana masuk ke anggota dewan?"

"Mmm... aku rasa tidak," jawab Izack kalem.

"Yakin? Bagaimana kalau lingkungan mendukungmu?"

Izack menyilangkan kaki, ia duduk tenang. Senyumnya samar.

"Dibanding aktivis, aku lebih memilih mengembangkan usahaku, Fik. Kau tahu sendiri bagaimana itu aku bangun sejak sma."

"Hmm... benar juga sih,"

"Lalu bagaimana perannya sebagai ketua AMN Pusat? Bukankah itu menjurus ke ranah politik praktis?"

"Oh, beda."

"Peran saya di sana sebagai suara mahasiswa."

"Dan peran Mahasiswa adalah sebagai filter bagi kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan konstitusi."

"Ow?!"

"Kampus itu memproduksi pengetahuan, yang harusnya bisa diterapkan oleh ranah publik dan disupport total oleh pemerintah."

"Tapi hari ini, kesannya dua instansi ini berjalan sendiri-sendiri."

"Makanya, kami sebagai Mahasiswa yang menjembatani suara rakyat mesti bersuara ketika pemerintah berjalan sudah terlalu jauh melenceng dari amanat konstitusi."

"Harapannya negara tetap maju, tapi dalam keadaan stabil," tegas Izack

Ponselnya kembali bergetar. Sekilas ia membaca pesan, wajahnya sedikit tegang. Tapi sejenak menarik nafas dalam.

"Ngomong-ngomong... hari ini kenapa kamu tidak ikut turun?"Izack diam sejenak, seolah menyusun kata. Ia menarik napas pelan.

"Bagi kami, turun ke jalan bukan lagi alat utama perubahan," ucapnya tenang.

Rafika berhenti mengetik.

"Maksudmu?"

"Demo itu penting sebagai simbol," lanjut Izack. "Tapi AMN tidak ingin berhenti di simbol."

Ia sedikit mencondongkan tubuh.

"Hari ini kami mengarahkan mahasiswa untuk turun langsung ke masyarakat. Menggunakan ilmu, riset, dan jejaring yang kami punya. Bukan hanya berteriak, tapi ikut menyelesaikan."

Rafika mengangguk pelan.

"Jadi kalian tidak melarang turun jalan?"

Izack tersenyum tipis.

"Tidak. Kami hanya memilih turun ke lapangan, bukan ke aspal."

"Apakah itu tidak terkesan egois?"

"Kami sudah menyusun strategi sebelum hari ini terjadi."

"Bagaimana dengan wacana yang disuarakan para peneliti di CAPN."

"Maaf... ada banyak hal sensitif yang tidak bisa saya katakan di sini."

"Ow?!"

Melihat gelagat Izack yang melirik jam tangannya, Rafika segera menutup wawancaranya dengan meminta closing beberapa patah kata hingga akhirnya mereka ngobrol santai sejenak dan Izack pun segera pamit.

"Nggak ku sangka, hidupmu kini benar-benarseperti melayang di atas awan," ucap Rafika pelan melepas kepergian Izack di balikkaca mobil yang perlahan meninggalkan jalanan yang mulai lengang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar