Minggu, 24 Mei 2026

Bab 11. Antara Luka dan tak Terduga

 Chika dan Rendra kini terpisah di pertigaan jalan. Dan kini, gejolak di kepalanya semakin komplek berputar-putar.

Entah berapa lama ia mengayunkan langkah, --seakan tak melihat siapapun di sekitarnya, meskipun lalu lalang orang ramai di sekitarnya. Telinga yang biasanya sakit dan gatel mendengarkan orang demo, kini nampak kosong. Ia sudah tak menganggap itu semua ada.

Ayunan langkahnya seperti sudah di remote otomatis melewati lorong-lorong bangunan tua yang sudah lama tak berpenghuni, hingga akhirnya semburat matahari menembus lorong bangunan yang gelap dan sunyi.

Itu adalah kawasan hutan kampus yang jarang dijamah orang.

Bagi Chika, itu adalah ruang paling private untuk menyembuhkan diri di saat beban hidup makin berat.

Kakinya melangkah di atas tanah kecoklatan muda yang kering, wajahnya mendongak ke langit, --menatap pepohonan yang menjulang menyentuh awan putih. Chika memejam cukup lama, menghirup udara sedalam mungkin.

Namun bukannya tenang, bayangan akan kebutuhan SPP, Cicilan Bank, kebutuhan ponsel dan laptop, numpuk, gatal di kepala.

"Aaaargh!!!"

Suaranya menggema, memecah keheningan hutan.

Sunyi. Tak ada suara apapun di saat air matanya jatuh perlahan.

Di sela-sela semak liar, telinganya mendengar berisik. Tapi pikirannya jauh lebih riuh mengalahkan suara-suara itu.

Ia berdiri tegap, mata menajam, senyum getir terangkat—seolah ingin membuang seluruh beban hidup bersama batu-batu yang ia pungut kemudian.

"Pertama, buat SPP semester kemarin."

Ctaakk! Batu menghantam batang pohon jati.

"Kedua, buat smartphone dan laptop."

Ttakkk! Batu memantul ke pohon trembesi.

"Ah? Cuma segitu?" gumamnya.

"Ketiga, buat tagihan bank bulan ini."

Napasnya memburu. "Yang ini harus lebih jauh."

Ia memungut batu sebesar kepalan tangan, mundur sedikit, mengayunkan tinggi-tinggi.

"AAAARGH!!"

Lemparan dramatis dengan emosi meledak—namun...

Krssk!!

Batu itu meluncur menembus semak-semak.

"Akh!" suara itu terdengar jelas.

Ia terdiam, mata mengernyit, radar pendengarannya memburu suara.

Tiba-tiba, tiga orang lelaki muncul dari balik rimbunan.

Chika terkejut, wajahnya pias. Ingat batu terakhir yang ia lempar cukup besar membuat perasaannya mencelos dalam. Ia ingin lari, tapi kakinya justru tak bisa gerak.

Seorang lelaki mendekat lebih cepat, wajahnya garang tak terkira.

"Maaf... ada apa ya?" suara Chika tercekat.

"Kamu harus tanggung jawab, Mbak!" bentaknya.

Pyarrr!!

Tubuhnya spontan memanas.

"Ayo ikut kami."

Gadis itu ditarik ujung kain hemnya. Ia diseret layaknya seorang tahanan menuju kerumunan di balik semak-semak.

Chika terbelalak melihat banyak mahasiswa di sana.

Di antara itu, ia kenal seorang kakak tingkatan anak S2 Konservasi Hutan.

Dan di tengah mereka, seorang lelaki berdiri sambil menekan pelipisnya yang mengucur darah.

"Oh, sialan!" batinnya ciut.

"Maaf! Kak, maaf... aku nggak sengaja!"

Tatapan mereka seakan menguliti dirinya. Mereka mengumpat, kesal, panik. Dua orang menekan luka sang lelaki dengan tisu.

"Bawa ke rumah sakit! Biar dia yang tanggung jawab, Dhan!" seru seseorang.

Chika mematung. Mulutnya ingin membantah, tapi suaranya tak keluar.

Tiga orang lelaki itu pergi, satu dari mereka menyeret balik ujung kain hemnya. Tapi lelaki yang terluka kembali menoleh, menatap wajah Chika yang basah mengusap air mata berulangkali yang jatuh menahan tangis.

"Lepas Vin, dia bukan tawanan," katanya.

Tatapan lelaki itu menusuk, hingga akhirnya melepaskan ujung kain hemnya.

Dua lelaki itu berjalan lebih dulu menggiring lelaki yang terluka menuju lorong gedung, menuju ruang parkir yang cukup jauh.

Sepanjang mereka jalan. Chika berjalan di belakangnya menyeka air matanya berulangkali, menahan suara tangisnya yang ia tekan dalam-dalam.

Saat sampai di depan mobil, dua orang lelaki itu masuk lebih dulu. Lelaki yang terluka membuka pintu untuknya, sementara Chika mematung cukup lama, hingga ia membuka jendela kacanya.

"Ayo masuk!" suaranya tajam.

Chika mengusap wajah yang terakhir kalinya sebelum membuka pintu.

Ia duduk di sudut jok, menjauh sejauh mungkin dari lelaki yang tengah menekan pelipis dengan tisu basah darah.

"Namamu siapa?" tanya lelaki itu datar meringis menahan perih.

"Chika, Bang."

"Semester?"

"Enam."

"Fakultas?"

"Kehutanan."

Dua teman di depannya kembali mengomel tanpa henti. Lelaki itu mendesis, memberi isyarat diam, meski jelas ia menahan sakit.

Perjalanan terasa panjang dan tegang.

Hening dan sepi.

Chika tak bisa menahan air mata yang terus saja jatuh, meskipun ia tahan lebih kuat, namun justru isak tangisnya yang keluar.

"Sudah... nggak apa-apa," sahut lelaki di sebelahnya.

"Maaf Bang... aku nggak tahu kalau ada orang di sana," suaranya parau. "Pikiranku galau saat itu."

Lelaki di depannya langsung nyolot memuntahkan kemarahannya. Dan itu mebuat lelaki yang terluka kembali mendesis, menyuruhnya diam.

Sesampainya di rumah sakit Internasional, perawat datang membawa kursi roda. Lelaki itu langsung didorong masuk. Chika menyusul di belakang, mengusap mata berkali-kali menahan tangis.

***

Udara IGD siang itu dingin menusuk.

Beberapa kali tubuhnya limbung. Ia menahan dengan jongkok agar tak jatuh. Namun saat hendak kembali berdiri, pandangannya menggelap. Ia menggeragap cari pegangan pada dinding.

Tak ada yang melihatnya, kecuali seorang perawat yang akhirnya menuntunnya di ruang tunggu.

Lelaki itu menyerahkan kartu pada temannya, lalu dibawa ke ruang tindakan. Chika menunggu, gelisah di ruang tunggu.

Seberapa besar biaya pengobatannya?
Seberapa banyak yang bakal ia tanggung?

Hingga lelaki itu keluar, dan Chika pun segera bangkit.

"Maaf, Bang... berapa habisnya biaya tadi?" suaranya pelan, sedikit memohon.

Lelaki itu menatap sekilas Chika, lalu menoleh pada temannya.

"Kalian pulang dulu. Biar aku selesaikan sama dia."

"Kunci mobilmu, Dhan!"

"Nggak usah. Bawa aja."

"Serius?!"

"Hm."

Dua orang itu keluar sambil mencibir.

"Kalau kamu cowok, sudah kujotos dari tadi, Mbak!" ketusnya.

Chika menunduk makin dalam.

Beberapa menit setelah mereka pergi, lelaki menatap wajah Chika yang sembab.

"Aku minta maaf, Kak... benar-benar nggak sengaja." suaranya bergetar menahan tangis.

"Sudah... nggak apa-apa. Ayo keluar."

Lelaki itu melangkah lebih dulu, Chika mengikutinya dengan tenang.

"Sudah makan?" tanyanya santai.

Chika kaget mendongakkan wajah.

"Ayo makan dulu."

"Tapi Kak..."

"Sudah... Ayo."

Chika mengikutinya ke sudut food corner. Ia ragu ketika hendak masuk, namun lelaki itu menoleh dan mengulang,

"Ayo makan dulu."

Dhani menarik kursi, duduk. Chika masih canggung.

"Aku beneran minta maaf, Kak," ujarnya hampir menangis. "Aku lempar batu karena pusing masalah uang..."

"Duduk dulu," jawabnya lembut, kali ini.

Chika duduk. Dhani tak bicara, malah sibuk scrolling tablet. Chika, merasa dicueki, makin kalut.

Beberapa menit kemudian, pesanan datang: sepiring nasi goreng seafood.

"Kapan Kakak pesannya?" tanyanya antara menahan tangis dan bingung.

Dhani hanya menunjukkan tablet dan tersenyum kecil.

"Ayo makan."

Chika menghela napas, ia mulai menyentuh sendoknya dan menikmatinya dengan tenggorokan tercekat.

"Masih jualan koran?" tanya Dhani tiba-tiba.

Glek.

Raut kesedihan perlahan pudar, meski ia menekan suaranya yang tercekat parau di tenggorokan.

"Kakak... yang kemarin di kafe seberang kampus?"

"Hm," angguknya.

Wajah Chika langsung merah setengah malu.

"Lumayan kuat ingatanmu," ujar Dhani.

"Hm... ngomong-ngomong, kenapa ambil Kehutanan?" tanyanya lagi.

"Karena aku suka dunia tumbuhan,"

Dhani mengangguk sembari menyendok. "Aku sering lihat kamu duduk melamun di lorong gedung depan hutan."

Chika refleks terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang lebih penting dari itu.

"Maaf Kak... biaya pengobatannya gimana?"

Senyumnya menyipit. "Oh, tenang aja. Aku pakai asuransi, kok. Sayang, kalau nggak dipakai."

"Beneran?!"

"Hm," Dhani membesarkan mata, lalu terkekeh santai.

"Kalau masih merasa bersalah, bayarin iuran asuransiku tahun depan juga boleh."

Chika pura-pura menangis kecil.

"Aduh Kak... aku bisa makan sehari sekali aja sudah syukur."

Spontan genggaman Dhani mengendur, matanya kembali menatap Chika yang tertunduk menikmati makanan. Candaan itu terdengar ringan, tapi jujur. Polos, tapi dalam.

Seperti ada yang diperhitungkan, Dhani menghenikan sendokannya.

"Kamu tertarik kerja di Hutan nggak?"

Chika mendongak.

"Oh, sangat!" matanya kembali berbinar.

Dhani diam seolah menata kalimatnya.

"Saat ini aku sedang mengerjakan proyek penghijauan lahan bekas tambang di luar pulau. Kerja sama dengan salah satu NGO."

"Kalau kamu tertarik..."

Chika mengangguk spontan, matanya kembali berbinar terang.

"Iya aku mau, Kak."

"Kamu bisa bantu sebagai asisten lapangan. Obervasi vegetasi, dokumentasi harian, kadang bantu wawancara warga juga. Nggak berat kok, asal tahan panasan aja," ucap Dhani.

Raut itu mendadak bersemangat. Chika meneguk air putihnya cepat.

"Tapi... gimana ijinnya? Teoriku kan belum selesai, Kak."

"Bisa banget. Nanti aku uruskan ijinnya kalau kamu memang berniat."

Dhani ikut meneguk air putihnya. "Bulan depan, kamu ada libur panjang kan?"

Chika mengangguk cepat.

"Kalau begitu, siapkan CV, surat ijin fakultas, dan surat pernyataan dari orang tua atau wali. Aku akan masukkan kamu sebagai volunteer."

"Nanti transport, akomodasi, dan makan ditanggung. Fee nya sih nggak seberapa, tapi pengalaman lapangan itu yang mahal."

"Oke, Kak. Hari ini nanti aku selesaikan tugas-tugas mata kuliah aja dulu lah ya, kalau sudah selesai aku kasih kabar."

"Hm,"

Keduanya sempat bertukar nomor ponsel.

Chika yang terkenal pelit memberikan kontak nomor, ini dengan mudahnya memberikan kontak person pada orang lain yang baru ia kenal.

Semua itu demi satu, pekerjaan.

Demi menyambung kehidupannya...

Demi selembar ijazahnya...

Dhani sempat terdiam. Ia tak menyangka, respons Chika secepat dan se-semangat itu.

Gadis ini... beda.

Sambil tersenyum tipis, Dhani melirik sorot mata Chika yang antusias.

Saat seperti ini, gadis ini terlalu imut. Mirip anak kecil menunggu kejutan. Dan aku, ingin sekali mencubit pipinya, sekadar melihat reaksinya.

Sejenak Dhani mengalihkan pandangannya, ia berusaha fokus pada tablet. Tapi pikirannya masih terbayang senyum Chika yang menarik.

Gadis ini unik, Langka.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya --mungkin, suatu saat, ia bisa menjadi lebih dari sekadar partner proyek. Lebih dari sekadar adik tingkat yang ia bantu. Atau mungkin lebih dari sekadar junior yang perlu ia jaga.

Dhani mengerjap cepat, berusaha mengalihkan fokusnya pada tablet.

Tapi sialnya, bayangan senyum Chika dengan bibir tipisnya yang basah terpatri jelas, dan itu benar-benar mengganggu, menyebabkan jarinya terhenti mendadak.

Otakku benar-benar hang, kali ini...

Dan sekali lagi sorot mata polos itu tertuju pada Dhani yang terdiam.

"Halo, Kak!" suara Chika terdengar khas dengan kepolosannya. Ia bingung, mengapa lelaki di depannya mendadak aneh.

Chika melotot, sedikit panik.

"Kepalamu... nggak apa-apa kan, Kak?" sorotnya menelisik.

"Jangan-jangan... kamu gegar otak..?" suaranya lirih mencelos.

Spontan Dani mendenguskan tawa menatap kepolosan gadis di depannya.

Mereka segera menghabiskan sisa nasi goreng dan menyesap minumannya lewat sedotan hingga wadah itu kosong.

Tanpa terasa, dua jam telah berlalu. Mereka duduk di sana dan kembali ngobrol seru seputar bagaimana nasih hutan negaranya yang tiap hari makin habis. Namun dirinya bersama beberapa LSM internasional terus melakukan penghijauan demi masyarakat adat, sekalipun tak sedikit mereka harus bertaruh nyawa saat menghadapi aparat.

"Aneh, ya... negeri ini."

"Di saat negara lain melakukan penghijauan dan mengurangi emisi karbon. Kita di sini gempur hutan sampai habis."

Keduanya menarik nafas panjang seolah melakukan petualangan dengan pikirannya sendiri-sendiri.

Dhani kembali memandang wajah Chika yang tampak lusuh.

"Setelah ini mau kemana?"

"Kursusi anak SMP, Kak."

"Oh, dimana?"

"Di Blok perumahan dosen."

"Naik?"

"Jalan kaki."

"Oh, jauh lho."

"Iya,"

"Naik angkotan umum aja. Yuk!"

"Aku bayari deh."

Chika nyengir merasa tidak enak.

"Nggak usah Kak, kamu bebaskan biaya pengobatanmu aja sudah syukur alhamdulillah, masih kamu traktir makan," jawabnya, meneguk sisa air mineral.

"Dah, ayok..." ucapnya sambil beranjak.

Keduanya berjalan beriringan, meski gerak Chika masih sedikit canggung.

"Santai aja, dulu aku juga sepertimu,"

Dhani mulai bercerita, bagaimana dirinya --waktu jadi mahasiswa S1, belajar dan berjuang keras untuk bisa melanjutkan studinya ke tingkat Magister, tanpa membebani biaya orang tua, sekalipun mereka mampu.

***

Siang menjelang sore, mereka berdua naik mini bus bersama hingga keduanya terpisah di halte bus depan kompleks perumahan dosen. Dhani yang sebenarnya arahnya berlawanan dari tujuan Chika, terpaksa berhenti di Halte Bus setelahnya, demi bisa ngobrol lebih lama lagi di kendaraan.

Dan itu adalah pengalaman konyol yang menggelikan selama menjadi Mahasiswa. Senyumnya melambaikan tangan dari balik kaca bus mengiringi kepergian Chika yang meninggalkan halte.

***

Selesai pulang dari les, hari sudah larut. Chika keluar dari komplek perumahan menjelang malam dengan senyum lebar mengantongi selembar uang yang mampu untuk bertahan hidup dua hingga tiga hari ke depan.

Sepanjang perjalanannya dalam bus, lamunannya seakan mengurutkan lintasan peristiwa sejak pagi tadi.

Dari keributan Heni di depan majalah dinding, pertemuannya dengan Rendra dan bertemu dengan lelaki sialan, lemparan batu yang bersitegang berujung manis.

Ia menarik nafas dalam. Melayangkan pandangannya keluar jendela, menatap kerlap-kerlip lampu yang berkelebatan di sepanjang kota. Penumpang bus mini mulai sepi. Hanya ada dua sampai tiga orang.

Lalu ia kembali membayangkan mahasiswa pasca sarjana tadi. Yang anehnya, bisa duduk bersama ngobrol santai, menjadi teman.

Itu semua membuat hari ini rasanya sungguh melelahkan.

Pikirannya berkelebat membayangkan matanyayang sipit. Tapi entah mengapa, wajah Izack –si lelaki beralis tebal bermata besar dengan lesung pipit itu kembali muncul menggantikan.

"Huuu...ft!" desahnya, menelan nafas. "Kenapa wajah orang itu lagi yang muncul."

Batin dan pikirannya kembali saling beradu:

"Memang sih... dibanding Kak Dhani, Bang Izack jauh lebih ganteng."

"Tapi..."

"Aaahhhh...!"

"Dua-duanya kan sama-sama baik!" Teriak batinnya tersenyum merah.

Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu yang jauh dari akal sehatnya.

"Huemm?" lagi-lagi ia kembali terkekeh geli sendiri.

"Oh, Chika... Jangan banyak halunya deh, kamu!"

Saat sadar, halte di depannya harus turun, perhatiannya teralihkan pada tubuhnya yang ngilu saat harus bangkit.

Ia tapakkan kakinya kuat-kuat menahan beban yang terasa berat, hingga turun.

Sepanjang jalan menuju kost, ia senyum-senyum sendiri membayangkan lintasan peristiwa dengan Dhani tadi.

Pasti seru, kalau punya pacar seperti dia. Bakal sering berpetualang ke hutan-hutan di pelosok.

"Haha... Sah-sah aja kan?" pikirnya senyum-senyum sendiri.

Namun sesaat pikirannya sadar akan kata-kata seniornya itu, bahwa lahan hutan di negaranya makin hari makin terkikis. Menyedihkan.

Bayangan hidup di hutan yang tenang, perlahan pupus seiring langkah kakinya membayangkan berita yang muncul akhir-akhir ini ketika banjir bandang melanda daerah-daerah yang dulu ia gadang-gadang bisa ia datangi.

Ia sadar langkah kakinya makin dekat menuju kost. Di depan kos-kosannya, kamar Hendrik terlihat beberapa seniornya masih berkumpul di sana dengan membawa sebagian poster dan spanduk yang tergeletak di sana. Tapi ia tak mempedulikan itu.

Pikirannya melayang cepat.

"Mungkin... memang begitulah, mereka harus selamatkan negeri ini."

"Jangankan mengurus hutan, biaya pendidikan mahal di depan mata saja mereka harus bersuara lantang saja tak didengar." Batinnya menarik nafas dalam, hingga akhirnya ia berdiri di depan pintu.

Beberapa mata menatap dirinya, tapi Chika tak peduli. Ia tahu, ada Izack di sana. Tapi pikiran dan batinnya jauh lebih riuh membayangkan bagaimana nasib dirinya jauh ke depan di tengah kondisi negara yang tak menjamin apapun.

Ia melepas sepatu di depan pintu, seseorang memanggil dirinya. Tapi ia tak mau dengar itu, dan hanya meletakkan sepatu lalu menghilang di balik dinding ruangan hingga menuju tangga.

Ia berjalan di depan kamarnya yang sudah sepi. Udara malam berhembus cukup dingin, namun terasa lengket dan berat.

Begitu sampai di depan kamar, tumpukan baju kotor sudah menghadang di depan pintu dengan sticky notes merah dan biru pertanda dari dua orang yang berbeda.

"Tolong ya Chika, aku pakai untuk lusa,"

"Halo, say! Jangan lupa untuk hari minggu ya?!"

Ia kembali menarik nafas panjang. Badannya nyaris remuk, tapi tetap saja, pekerjaan ini harus diselesaikan. Predikat "mpok laundry" yang disandangkan pada teman-teman kos, harus tetap ia jaga baik-baik demi selembar uang demi menyambung hidup.

Selesai meletakkan tas dan ganti baju, ia sudah membopong dua keranjang penuh ke kamar mandi. Saat tangannya mulai merendam baju ke dalam ember, kepalanya masih dipenuhi bayangan siang tadi. Antara bahagia, takut, dan harap-harap cemas campur jadi satu.

Terbayang project yang disodorkan seniornya siang hari itu, seperti sebuah harapan baru dari pekerjaan kasarnya selama ini. Hingga sadar tangannya masih mengucek baju-baju kotor milik teman kosnya.

Tiba-tiba saja lamunannya buyar oleh colekan jari tangan yang lentik.

Itu adalah Heni.

"Hei Non, ada yang ingin ketemu sama kamu tuh."

"Siapa?"

"Orang lah, masa kucing."

"Ada perlu apa?"

"Nggak tahu."

"Sory, nggak bisa."

"Kapan kamu punya waktu longgar?" tanya gadis itu lagi.

Gadis itu menoleh diam, sejenak menatap temannya lama.

"Lihatlah ini." isyaratnya pada tumpukan cucian di depannya.

"Kamu mau uangmu balik kan,"

"Ya iyalah,"

"Ya sudah, sana."

Heni menarik nafas kesal "Ngusir kamu?!"

"Terima kasih kalau paham," senyumnya lebar sekilas.

Dengan wajah kecewa, Heni pun pergi. Ia menuruni anak tangga, lalu menemui Izack di kostan Hendrik.

Di sana, Izack dan Hendrik sudah siap menunggu kabar Heni yang berjalan cepat menuju ke tempatnya.

Heni hanya menggeleng lemah.

Hendrik hanya tertawa lebar, menertawakan. "Sudah aku bilang, kan?"

"Dia tanya ada urusan apa, aku bingung jawab," kata Heni.

"Malah ditanya balik, kamu pingin uangmu balik kan?" ucap Heni.

Spontan Hendrik tertawa cekakaan.

Izack menoleh bingung. "Maksudnya apa?"

"Dia kan punya hutang ke aku, sekarang ini dia sedang kerjakan sesuatu untuk menghasilkan uang," jawab Heni.

"Oh..." Izack mengangguk paham.

Hendrik masih terkekeh "Bahasa dia ya seperti itu, Bro!"

"Emangnya kerjaan apa? Menulis?!"

"Mencuci baju,"

Izack mengernyit tajam "Maksudnya?"

Heni gagap, bingung. Ia melirik Hendrik seolah minta dijelaskan.

Hendrik diam sesaat menoleh Izack.

"Begitulah, dia Bro!"

"Pekerjaan apa sih yang nggak mau, bahkan ditantang mencucikan baju teman kos aja mau."

Keduanya terdiam lama, saling melirik satu sama lain.

Izack menarik nafas dalam dan lama. Seakan ada beban sakit yang bisa ia rasakan.

"Pantesan..."

Ia teringat peristiwa pertemuannya dua tahun lalu.

Orang sepertiku, kalau nggak kerja keras akan ada dua kemungkinan; Putus kuliah, atau mati kelaparan.

Izack diam menarik nafas dalam menatap lurus ke lantai dua seberang kos

***

Jarum jam menunjukkan pukul 00.35.

Dari depan kamar Hendrik, samar Izack melihat sosok gadis berwajah imut itu sibuk menjemur baju di lantai dua.

Begitu selesai, ia kembali merentangkan kedua tangannya ke atas hingga segaris senyuman Izack pun muncul. Di depan laptopnya, diam-diam ia mengarahkan ponselnya pada sosoknya itu dan mengambil gambar tanpa pencahayaan.

Sorot mata gadis itu lepas menatap angkasa yang gelap. Sesekali ia menguap puas sembari merentangkan kedua tangannnya.

"Hah!!" teriaknya keras membuat Izack senyum-senyum mencuri pandang gadis tipis dengan rambut panjang lurus tergerai sebahu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar