Suasana mendadak beku saat Izack menatap gadis di sebelahnya. Mereka tahu, ada sesuatu yang tak lazim di balik tatapan seniornya yang dikenal 'anti godaan perempuan' itu.
Seseorang mengangkat tangan, seolah memecah suasana. "Tunggu, Bang..."
"Rasanya kok agak aneh ya, kita mendirikan organisasi yang isinya para dosen. Secara hierarki saja sudah melewati batas aturan loh,"
Spontan, lelaki dengan tubuh gempal, nyolot. "Pertemuan terakhir minggu kemarin kamu nggak ikut ya?"
Izack menaruh sedotannya, menoleh ke arah Leo yang segera mengambil alih.
"Bukan kita yang mendirikan," jelas Leo.
"Para dosen sendiri yang bentuk itu. Cuma... atas inisiatif kita. Kita cuma mendorong biar mereka tergerak buat wadah non-formal. Untuk mengawal setiap kebijakan pemerintah, yang akhir-akhir ini sudah meresahkan rakyat."
"Harapannya begini... selama ini suara mahasiswa kan dianggap lemah nih."
"Sudahlah sering memakan banyak korban, fasilitas jelas banyak yang rusak."
"Dalam masalah mengatasi negeri kita, kita ini terjebak pada sistem yang kacau. Tapi sisi lain, kita punya masyarakat yang suka gotong royong."
"Nah, itulah yang kita manfaatkan."
"Mahasiswa hanya sebagai pelaksana, penjembatan di antara sekian banyak masalah yang tak mungkin diselesaikan semua oleh negara. Masih ada mahasiswa lintas keilmuan."
"Kita punya alumni, banyak dari mereka sudah menjadi orang sukses."
"Pejabat, pengusaha dan pebisnis"
"Nah, kita petakan lagi."
"Ada masayarakat yang suka gotong royong, ada mahasiswa yang butuh praktek kerja lapangan dan belajar problem solving, ada senior kita yang sudah menjadi dosen, peneliti, pejabat, hingga pengusaha sukses."
"Nah, kebetulan tidak semua alumni masuk dalam jaringan alumni AMN. Makanya kita bentuk CAPN. Fungsinya untuk mewadahi mereka, menjadi penyokong sekaligus pendorong kita dalam melakukan gerakan perubahan."
"Melakukan aksi nyata, misalkan soal listrik dan internet di daerah pedalaman yang belum terjamah instalasi listrik. Kita kerahkan teman-teman mahasiswa dari berbagai jurusan untuk membuat panel surya atau pembangkit listrik tenaga air atau angin untuk menciptakan listrik."
"Dananya darimana, Bang?"
"Nah, itulah."
"Kemampuan mahasiswa adalah membuat lobi, aksi, sementara alat kalian bisa usahakan dari hasil lobi-lobi yang nanti akan kita bantu itu ke CAPN."
"Sementara masalah yang berkaitan dengan kebijakan, kita serahkan pada para dosen dan peneliti di CAPN untuk mengolah, sembari kita suarakan lewat media sosial."
"Daripada di medsos kalian bahas soal film atau sekedar joged-joged yang nggak jelas, demi konten. Kita manfaatkan ruang itu untuk menyuarakan data mereka. Apa yang seharusnya pemerintah lakukan untuk rakyatnya."
"Ingat... tujuannnya untuk mengedukasi. Bukan provokasi, loh ya..."
Izack menambahi. "Seperti permasalahan tanah adat kemarin tuh..."
"Secara hukum, yang punya memang negara. Tapi yang menjaga hutan selama puluhan tahun siapa?"
"Rakyat adat, kan?" suara Izack terdengar kalem.
"Tapi terkadang rakyat nggak mampu bersuara membela dirinya sendiri."
"Nah, dari laporan teman-teman AMN di berbagai cabang itu, kita sampaikan ke teman-teman Dosen, mereka bahas dan kaji dengan berbagai sudut keilmuan. Lalu kajian itu kita suarakan lagi ke ke masyarakat."
"Jika perlu, kita dampingi mereka untuk memperjuangkan hak-haknya."
"Dan aku kira persoalan di lapangan tidak melulu soal itu."
"Bisa aja nanti berkembang ke persoalan lain. Misalnya, listrik di daerah pelosok yang masih jadi kendala."
"Nah, ini bisa jadi bahan kajian menarik bagi teman-teman teknik, juga ilmu geografi dan topologi daerah."
"Atau internet," ucap Izack mengedarkan pandangannya.
"Dari sanalah, pekerjaan-pekerjaan baru akan muncul."
"Jadi, calon-calon sarjana seperti kalian nggak perlu bingung lagi mau kerja apa."
Beberapa kepala mengangguk pelan, menatap Izack serius.
"Tapi itu kan bisa dipolitisir, Bang," sela seseorang.
"Yes. Bisa banget," jawab Leo. "Tapi anggota CAPN ini kan bukan hanya satu dua orang. Mereka ini lintas keilmuan."
Boni bersandar, menghela nafas. "Oke, masuk akal."
"Berarti kita harus presentasi, Bang?" tanya seorang junior.
"Ya iyalah..." jawab Izack lagi. Lalu ia melirik dua orang di deretan kanan kirinya. "Hayes, Hendrik -- aku minta kalian kawal wacana ini sampai matang."
Hendrik nyengir. "Ada potongan biaya nggak nih, buat ikut kongres? Kalau nggak ada, ogah aku." sambung Hendrik dengan tawa kecil. "Seperti tahun yang lalu, aku kebobolan banyak."
"Doakan aja," jawab Izack. "Sementara masih nunggu donatur dari para senior, nih."
Izack baru sadar, sisi kirinya kosong. Ternyata gadis itu sudah geser duduk di belakang, bersandar pagar bambu gazebo. Ia makin tenggelam dalam bacaannya.
Hendrik yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum samar melihat reaksi Izack. Lelaki itu menggeleng pelan. Ada senyum samar di bibirnya, lalu kembali fokus pada diskusi.
Seseorang tiba-tiba nyletuk.
"Aku kok pesimis ya? Organisasi akademisi yang seperti ini bisa aja ditunggangi kepentingan."
Ruangan seketika hening.
Semua saling diam seakan mencerna.
"Aku juga sempat mikir begitu sih..." ucap yang lain.
Hendrik nyletuk. "Nggak juga, kalau aturan dibuat jelas sejak awal."
Izack menoleh pada Leo –pimpinan mereka. "Okey, Leo. Aku tunggu laporanmu," kata Izack.
Leo menoleh pada Hayes dan Andreas penuh isyarat.
"Siap..."
"Kalau sudah, kita bicarakan bareng-bareng lagi."
Seorang junior kembali nyletuk. "Kapan, Bang? aku mau, kalau di rumahnya Bang Izack,"
"Biar ada makan-makan lagi," cletuk lirih seorang junior, dilirik Leo.
"Kau ini, makan mulu," tawa kecil Leo.
"Lha yang buat seru itu ada camilannya kok, Bang."
Senyum geli pun menyebar.
Seorang perempuan di seberang meja terdiam cukup lama --di saat mereka mulai sibuk menata piring-piring ke tengah meja.
"Apa yang seperti ini nggak akan bikin geger, ya Bang?"
"Pilih mana? Kita geger di media sosial atau geger di dunia nyata yang bakal merusak ekonomi rakyat."
"Iya sih..." jawabnya ragu.
"Tujuan kita adalah menggerakkan masyarakat biar lebih melek," sambung Leo. "Nggak kecolongan lagi, terutama sumber daya alam yang kita punya."
"Tapi kan, akan selalu ada buzzer, Bang." sanggah seorang lelaki.
"Jelas..."
"Tapi kita tidak akan menanggapi buzzer. Kita hanya penyambung data dan fakta."
"Bukannya itu sudah banyak dilakukan juga para akademisi, ya Bang?"
"Iya, memang sudah banyak," jawab Izack tenang. "Tapi kita ingin mengorganisir itu dengan baik. Karena semakin terorganisir, akan semakin kuat argumen massa untuk mencabut sebuah keputusan yang tidak berpihak pada rakyat kecil."
Izack menarik nafas sejenak, seakan kembali menata kalimatnya ulang.
"Seperti misal, ketika terjadi rencana pembabatan lahan hutan sekian ribu hektar seperti akhir-akhir ini. Apa yang perlu mereka lakukan?"
"CAPN akan menunjuk ahli Hukum Lingkungan, yang bakal menggugat dan merekomendasikan pencabutan izin, Ahli Kehutanan dan Ekologi: yang bakal menilai dampak pada keanekaragaman hayati, AMDAL: yang akan menilai seberapa pengaruh pada perubahan iklim, terutama daerah sekitar. Dan masih ada ahli tata ruang dan geospasial, ekonomi lingkungan, hidrologi dan bencana, satwa liar, serta audit kepatuhan yang bakal memeriksa konflik kepentingan, proses pemberian izin yang meragukan, dugaan pelanggaran prosedur."
"Artinya, ini bukan sekadar organisasi atau komunitas akademis yang dianggap elite."
"Tapi dari mereka, ada penyelesaian persoalan yang dihadapi rakyat dengan kebijakan yang pemerintah buat."
"Terus peran kita apa?" tanya Abin bingung.
"Huuuu... makanya dengarkan!"
Izack tertawa. "Nggak apa-apa, Abin."
Izack kembali serius.
"Peran kalian di AMN adalah sebagai penggerak. Kalian kan punya sosial media, punya jaringan. Manfaatkan itu untuk menyuarakan suara CAPN. Tujuannya untuk menggerakkan kesadaran kolektif bahwa kita nggak bisa terus diam."
Hening.
Tiba-tiba Andreas bersuara lirih. "Tapi melihat karakter pejabat kita... seberapa efektif."
"Ya... kita lihat aja nanti, kalau kita berpikir begitu terus. Kapan kita mau bangkitnya. Apa ya menunggu kita terusir dari negeri sendiri," jawab Hayes.
Beerapa orang kembali mengangguk, diam.
Izack kembali bersuara. "Jangan kaget, kalau satu saat suara kita bakal pecah."
Semua terdiam berpikir. Seseorang menarik nafas berat.
"Atau barangkali satu diantara kita bakal terancam," ucap Izack mengingatan.
"Yang bisa kita lakukan saat aksi berjalan adalah saling terkoordinasi satu sama lain."
Seseorang nyletuk.
"Sampai kapan aksi seperti itu berjalan, Bang?"
Leo angkat suara. "Ya... sampai sistem benar-benar bisa berjalan dengan baik."
Hayes meneruskan. "Kedengarannya idealis ya?"
Izack menimpali. "Iya emang. Tapi nggak ada hal yang mustahil di dunia ini, sekalipun kemungkinannya hanya 0,0001%."
Di tengah diskusi yang makin serius, tiba-tiba pramusaji datang dengan membawa nampan-nampan besar yang berisi beraneka hidangan.
Aroma menggoda langsung menyebar, mencuri perhatian sebagian besar dari mereka.
Saat itu pelayan berdatangan, meletakkan piring-piring penuh ke meja. Suasana pecah seketika, mata mereka sudah tertuju pada makanan.
Hening.
Hanya suara piring dan sendok yang berdenting di meja.
"Sudahlah, Bang... ayo makan," cletuk junior tak sabar.
Spontan tawa terkekeh bersahutan.
"Iya, sok. Makan aja." kata Izack mempersilahkan.
Saat itu seseorang memekik lirih. "Wuaaa.. cumi bakar!"
"Ada sop iga," seru yang lain, nyaris menjatuhkan sendok saat melihat kuali besar diletakkan di tengah meja.
"Coba kalau setiap bulan kamu datang, Bang. Gizi kita selalu terpenuhi." celetuk seorang junior yang ditoyor Hayes --sekertaris AMN Cabang.
"Kamu ini, makan melulu."
"Loh, isi perut berbanding lurus dengan isi otak, Bang. Kalau lapar, mikir pun susah," balas pemuda itu membuat para senior terkekeh.
"Iya-iya. Ayo makan dulu," sela Izack.
Di tengah keriangan itu, seorang junior masih tampak serius "Tapi tetap ada resiko benturan dengan kepentingan politik, Bang," tanyanya dengan nada khawatir.
Leo dan Hendrik hanya tersenyum "Ya, pasti." jawab mereka bersamaan.
Dari ujung meja, seseorang berbisik sambil menyendok nasi, "Sudah, biarkan mereka mikir terus. giliran menu sudah habis, dia kelaparan."
Tawa kecil terdengar menyebar.
Izack hanya menggelengkan kepala pelan, sambil tersenyum tipis. Matanya mengamati teman-temannya yang terlihat menikmati makan dengan lahap, seakan ingin melupakan beban berat yang harus ia pikirkan di perusahaannya.
Izack menarik nafas dalam sejenak.
Sebagai Ketua Umum AMN Pusat, Izack sadar. Makan-makan seperti ini seperti memberi jeda perasaannya yang lelah dan penat, dengan perjuannya selama di ibu kota. Namun di balik itu, ada itikad kuat demi mendekati seorang gadis.
Izack terdiam. Ia kembali menoleh pada gadis kini kembali asyik membaca –bersandar pada pagar gazebo.
Melihat pemandangan itu, Hendrik langsung menoleh.
"Chika, kamu nggak makan?"
Chika mengangkat wajah seketika, dan pandangan mereka justru saling bertemu. Hendrik hanya tersenyum, kembali bergeser, memberi ruang di antara dirinya dan Izack.
"Ayo sini, Chika!" ajak Leo dari sebelah kanan Izack.
Hendrik, yang sudah paham sejak awal maksud kawannya, sengaja menyediakan satu-satunya tempat kosong di sebelahnya.
"Sini!" seru Hendrik dengan nada santai, sambil menahan senyum geli ke arah Izack.
Chika pun maju. Tapi berhenti di belakang keduanya.
"Bang, boleh geser ke kanan?" kata Chika pada Hendrik.
"Ya sini," jawab Hendrik santai menahan tawa.
"Maksudku... kamu geser ke sebelah dia, aku duduk di sebelah kirimu."
Spontan Hendrik tertawa geli.
Izack tak menoleh sama sekali, tapi ada senyum lebar di wajahnya.
"Kenapa sih?! Takut banget sama Izack."
"Kamu apakan tadi, Zack?" goda Hendrik.
Raut Chika langsung memelas, melorotkan punggung kecewa. Izack tak menoleh, tapi bibirnya jelas tersenyum lebar.
"Sudah, sini," nada Hendrik sedikit menekan.
Beberapa senior langsung tersenyum melirik Izack, --sambil menikmati makan malam mereka.
Dengan wajah penuh pasrah, Chika pun akhirnya nyelip di antara dua lelaki itu.
"Dika, ambil fotoku sama jurnalis di sebelahku dong?!" lirik Izack pada Chika yang masih membeku.
"Dia?"
Chika pura-pura fokus ke meja, tapi wajahnya memanas.
"Hm!"
"Chika!" panggil Dika, memastikan kameranya siap.
Klik.
Belum sempat menyembunyikan wajah, ia tertangkap kamera saat gadis itu melirik Izack.
Dika terkikik melihat hasilnya dan langsung mengirim fotonya.
Suara-suara di sekitar langsung pecah. "Bang! Aku mau dong, ikutan foto bareng."
Dalam sekian detik, beberapa orang langsung berdiri mendekat.
"Aku mau, Bang," pekik mereka heboh.
Dalam sekian detik semua mendesak untuk foto bersama. Otomatis Chika mundur, menjauh dari mereka.
"Sudah, sudah!! Ganggu orang makan aja," cletuk Hendrik risih tubuhnya terhimpit.
Semua bubar. Dan mata Izack kembali tertuju pada Chika, memberi ruang untuknya.
Sepanjang makan, sesekali Izack mengambilkan menu untuknya. Pemandangan itu membuat beberapa orang saling pandang sambil menyembunyikan senyum.
Bagi orang seperti Izack, itu jelas bukan kebiasaan. Ia terkenal menjaga jarak dengan perempuan. Tapi malam ini, tingkahnya membuat satu meja heran dalam diam.
Ketika piring dan gelas menyisakan sedikit sisa makanan, diskusi kembali mengalir. Mereka berkumpul lebih rapat, kembali menyinggung topik-topik serius, sementara Hendrik memberi isyarat pada pelayan untuk mengangkat piring-piring kotor dalam sekejap, meja bersih kembali dan harum.
Beberapa orang mulai mengeluarkan buku catatan, laptop atau sekedar ponsel untuk mencatat hal-hal penting.
Sementara Chika yang sudah selesai makan, diam-diam menyelinap pergi. Ia menaiki tangga menuju rooftop, --dengan membawa tas punggungnya.
Mata Izack seketika tertuju pada sosoknya.
Ia segera bangkit.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar