Minggu, 24 Mei 2026

Bab 25. Suara yang Tak Terdengar

 Entah sudah berapa lama waktu berlalu.

Chika masih terbujur lemas dalam sehelai kain yang dingin dan ruangan yang lembab dan gelap. Itu adalah kamarnya.

Samar matanya menangkap sosok di samping, suara lelaki itu lembut dan tenang. Itu adalah Izack.

"Papa mau bicara langsung sama, Pak Lek?"

"Hm, okey."

Glekk...

"Benarkah ia sesantun itu?" batin Chika merasa bersalah. Ia mengira kesantunan itu hanya dibuat-buat, karena berhadapan dengan dirinya.

Sekilas mata Izack menangkap kelopak mata Chika bergerak-gerak. Izack tersenyum kecil.

"Gimana? masih sakit?" tanyanya ragu, mengelus perut.

Sentuhan itu... benar-benar membuatnya tenang.

Namun bukannya damai, justru badannya terguncang menahan tangis, kesal.

"Sory, sebentar. Papa mau ngobrol sama Pak Lek," katanya segera pergi.

Chika menarik nafas kesal, karena ditinggal pergi.

Di ruang depan, Pak Lek masih ngobrol dengan beberapa orang lelaki. Namun lelaki itu segera beranjak menerima telepon dengan suara ekstra hati-hati.

Izack kembali masuk, mendapati Chika meringkuk menekan perut. Lelaki itu duduk di bibir ranjang. Tangannya terulur, ragu mengusap perut. Namun kali ini Chika tak menghempas, apalagi melotot seperti sebelum-sebelumnya.

Tiba-tiba ponsel satunya milik Izack bergetar. Itu adalah nomor kantor AMN Pusat.

Kali ini Chika jelas melengos menahan sesuatu yang belum bisa ia namai. Namun jelas, Izack menangkap itu. Ia hanya mengusap lengannya lembut sambil mendengarkan suara di ujung ponsel.

"Bang, setelah semalam situs AMN berhasil kita amankan. Kini ganti giliran rekening kebobolan."

"Maksud??"

"Rekening utama," suara itu samar terdengar Chika.

"BODOH!! Tarik lagi, cepat!" bentaknya, membuat Chika terperanjat. Namun ia tak peduli, lelaki beralis mata tebal itu segera keluar, menerobos beberapa orang yang masih duduk-duduk di sana.

"Kalian digaji untuk mengamankan itu, Fen. Kok enteng kamu bisa bilang begitu."

"Kalau sampai nggak kembali 70% saja, aku tagih beasiswa S2mu ke orang tuamu," suara Izack geram, membuat Pak Lek dan Bu Lek menoleh seketika ke arah Izack di luar rumah.

Rahang lelaki itu mengeras, wajahnya benar-benar murka. Seolah tak peduli lagi itu di rumah siapa. Ia segera mematikan ponsel, lalu membuat panggilan baru lagi pada orang yang sepertinya lebih senior.

"Selamat pagi, Bang..."

Lelaki itu menyimak suaranya, matanya sesekali melirik ke pintu kamar Chika.

"Iya, aku tahu. Ini Fendi sendiri yang kasih tahu kalau rekening utama pusat kebobolan."

"Bisa bantu aku secepatnya orang-orang ITmu di sana, Bang?" pintanya menunggu jawaban.

"Ok, siap."

"Aku tunggu secepatnya, Bang." jawabnya memutus ponsel.

Dengan langkah gontai Chika berjalan keluar, di saat para tamu sudah pergi. Ia duduk di bangku panjang teras rumah yang masih berlantaikan tanah.

Izack menoleh sekilas. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Sementara jemarinya cepat menjawab pesan, lalu membuka panggilan masuk.

Ia menarik nafas dalam, lalu melepasnya pelan.

"Halo. Ben."

"Tolong carikan driver anak AMN, kota Giwana."

"Hm, oke aku tunggu," jawab Izack memutus panggilan.

Lelaki itu membalikkan tubuh, menatap teduh pada Chika yang duduk sendiri di bangku panjang.

"Kenapa nggak buat istirahat aja?"

Chika diam, lalu menarik nafas dalam.

"Mabes AMN ada masalah kah?"

Izack tak menjawab. Ia hanya mendekat, lalu sedikit menunduk menghindari atap teras yang terlalu rendah.

Sementara perhatian Chika teralihkan pada bangku kayu yang mereka duduki, kaki-kakinya mulai keropos.

"Awas!" pekiknya saat Izack hendak duduk di sebelahnya.

Tawa keduanya pecah. Namun tetap saja Izack duduk dengan hati-hati.

Hening.

Suara angin menyentuh daun bambu yang saling bergesekan, mereda perlahan, seolah memberi ruang bagi keduanya yang sama-sama lelah.

"Maaf ya, kalau suaraku keras banget," ucap Izack pendek.

Chika hanya menggeleng.

"Aku kira kamu nggak bisa marah,"

Izack tak menjawab. Namun sorot matanya menerawang jauh, seolah sedang melihat strategi dalam benaknya.

***

Pagi menjelang siang, suasana desa benar-benar hening. Sebagian warga telah pergi ke ladang dan sawah. Bahkan saking tenangnya, suara orang berbicara di ujung jalanan pun terdengar jelas.

Gulungan awan putih berlatar langit biru, tampak cerah di depan rumah. Rumah itu masih terbuat dari anyaman bambu, dengan sebagian papan kayu. Atap teras terlalu rendah, membuat Izack sedikit menunduk saat hendak bangkit.

Matanya masih terkesima dengan hamparan rumput hijau melapisi halaman. Sementara kanan-kiri adalah kebun bambu dan pohon jambu, dengan buah cukup lebat.

Mereka duduk dalam diam.

"Kamu kecewa, Bang?!"

"Bukannya kamu yang kecewa, ya?"

Lelaki itu mendengus sekilas.

Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.

Alvin.

"Halo Big Bos! Selamat ya!"

"Akhirnya... mengakhiri masa lajang juga, nih."

"Mantap! Keren! Keren!!"

"Darimana kamu tahu?"

"Ozin."

Izack hanya melengos, tak sepenuhnya kecewa.

"Salut aku sama dirimu, pantang pacaran langsung nikah."

"Gimana rasanya??"

"Kapan pulang Ibu Kota? AMN sudah geger kehilangan kau beberapa hari."

"Bukan organisasi politik mahasiswa, kalau anteng-antengan di saat negara nggak kacau."

"Suara rakyat, apa kepentingan kalian?" sayup-sayup suara Chika terdengar Alvin.

"Suara siapa itu?"

"Istriku lah," jawab Izack percaya diri.

"Mana lihat. Aku curiga, jangan-jangan istrimu laki-laki. Bro!" suaranya membuat Chika tertawa geli.

"Sembrono!"

Izack memperlihatkan sekilas wajah Chika yang tengah mengayunkan kaki. Ia menoleh sesaat, sambil dadah dadah.

"Halo Non. Kenalkan, aku Alvin teman gila dia," sapa lelaki itu ramai dengan latar belakang café.

Perlahan Alvin mengernyit pelan. "Oh... lho?! Dia bukannya cewek yang...???" suaranya tersendat mengingat-ingat.

"Lagi dimana kau?" potong Izack cepat, seakan tahu apa yang akan dikatakan Alvin.

"Dimana lagi kalau bukan warung."

"Begitu dibilang warung?" cletuk Chika, membuat Izack hanya tersenyum.

Mereka mulai ngobrol kesana-kemari. Sesekali Chika diikutkan ke dalam obrolan itu, sekalipun awalnya Chika canggung. Bukan karena mereka lebih tua, melainkan ada sesuatu yang rasanya itu terlalu jauh bagi kehidupannya. Tapi perlahan ia paham, begitulah dunia suaminya, dunia relasi, dunia kuasa namun tak silau. Mereka tetap bisa jalan dengan orang-orang di bawahnya, tapi orang dengan vibes positif. Hingga akhirnya Izack memutus telepon itu.

Izack meletakkan ponsel di sebelahnya. Tatapan matanya jauh lurus ke depan.

"Teman SMA, ya Bang?"

"Hm, papanya investor pertamaku sampai bisa setahap ini," ucapnya tenang.

"Oh," senyum Chika nyengir.

Lagi-lagi ia merasakan lelaki di sebelahnya terasa asing dan sangat jauh dari kehidupannya.

Izack kembali berpaling, bangkit dari tempat duduknya yang mulai goyah, khawatir jatuh.

Pamannya menyambut di atas gelaran tikar, dengan menu makan malam: ikan asin, tahu, tempe, serta telor dadar penuh sayuran. Lalu, lalapan timun, kubis dan sambal.

Izack duduk bertumpu di atas pahanya yang terlipat. Ia mulai menjelaskan niatnya, memboyong Chika ke kota Takata untuk memperkenalkannya pada orang tuanya.

Pamannya yang selalu merasa bersalah karena pertolongan Izack yang dibalas dengan peristiwa tak enak, membuat Izack akhirnya membuka mulut.

"Sebenarnya... saya sudah kenal dia sejak dua tahun lalu, Pak Lek,"

"Entah dia lupa, atau pura-pura lupa saya kurang tahu," ucap Izack melirik Chika sekilas.

"Peristiwa dia pingsan di kos, barangkali memang rencana yang di atas untuk mempertemukanku dengannya lagi."

"Dari situ, saya memberanikan diri mengenal dia lebih jauh saat di Rumah Sakit."

"Karena kebetulan, saat itu hanya ada saya, dan teman saya."

Spontan udara terasa seperti berhenti sejenak, Chika merasa kagum luar biasa dengan pernyataan gilanya. Tak ada kata-kata yang bisa diungkapkan kecuali bahasa diam.

"Kebetulan, sebelumnya pernah dengar sanksi pernikahan adat itu."

"Jadi?!" Pak Lek-nya kaget.

Izack tersenyum lebar berisyarat, "Mohon maaf sebelumnya, Pak Lek..."

"Oh, Ya Allah. Nak..." serempak lega dari Pak Lek dan Bu Lek nya, menatap bahagia.

"Jadi pernikahan ini bukan karena keterpaksaan kan?"

"Enggak, Pak Lek..."

"Alhamdulillah Nak, kita lega mendengarnya."

"Jauh sebelum kami sampai di sini, saya juga sempat mengajaknya menikah. Tapi sepertinya dia belum siap."

"Tapi..." Izack melirik Chika yang cuek.

"Ya begitu itu, keponakan Bapak, Nak..."

"Soal pesta pernikahan, akan kami bicarakan dulu baik-baik sama Mama Papa di Takata."

Spontan Chika mendelik, "Noooo!! Aku paling nggak suka acara begituan. Berasa jadi orang bodoh yang dipajang depan etalase panggung."

Gerrr....

Spontan semua tertawa terpingkal-pingkal.

Pamannya menepuk dahi. "Haduhh..."

Hening.

"Ayo, makan dulu, Nak."

Bu Lek melirik Chika yang sudah sigap menyendok nasi. Ia berbisik lirih. "Ayo, suamimu diambilkan dulu."

Chika langsung mrengut.

"Sudah Bu Lek. Nggak usah..." Izack melirik Chika. Mata keduanya saling bertemu.

"Tanganmu masih bisa digerakkan, kan. Bang?"

Tukk! Sendok Pak Lek mendarat pelan di kepala Chika.

"Loh, nggak salah kan aku? Dia punya tangan sendiri bisa untuk digerakkan, kenapa mesti aku yang ambilkan?"

Pamannya mendesis kesal yang hanya membuat Izack tertawa.

"Ini anak, nggak ada sopan-sopannya."

Rahang Chika mengeras. "Begini kan? Yang kalian sebut pernikahan??"

Sendok dan piring Chika langsung diletakkan kasar.

Pak lek kecap. "Cewek kok nggak ada lembut-lembutnya sama sekali," cletuk Pak Lek, kesal.

"Sabar, Pak..." ucap istrinya menoleh ke arah Chika.

Suasana beku. Izack segera bangkit mengejar Chika yang keluar rumah.

Hening.

Izack berdiri di belakang Chika yang sudah berdiri, kesal.

"Sudah... aku nggak permasalahkan itu, tenang aja."

"Begitu itu yang membuatku muak dengan pernikahan," ucap Chika kesal.

"Jalan, yuk," ajak Izack menjulurkan tangan.

Chika hanya melirik tangan itu sekilas.

Tanpa ragu Izack menarik lembut jari Chika yang grogi.

"Aku belum kuat jalan jauh, Bang..." ucap Chika malas.

"Iya, tapi kuat tendang calon suami sampai ambruk," tawa Izack mendenguskan tawa.

Raut Chika tampak sebal, tapi sorot matanya gemas. Tawanya pun perlahan pecah.

"Bukan aku yang kuat, tapi kamu yang terlalu lemah."

"Iya sudah. Anggap saja begitu," ucapnya tak mau debat.

Tanpa berkomando lagi, Izack menarik kedua tangannya kuat-kuat.

"Ayook... Pernikahan bukan akhir dari segalanya, Non," ucap Izack membuat Chika pun akhirnya bergerak.

Untuk kedua kalinya, Chika merasakan genggaman tangan itu terasa lebih halus, hangat dan berat.

Sambil melangkah, Izack tersenyum memandang punggung telapak tangannya yang jauh lebih kecil dan kurus. Begitu sampai di depan mobil, Izack membukakan pintu. Membuat pipi Chika yang putih pucat, sedikit memerah.

"Katanya jalan-jalan?"

Izack hanya mendenguskan tawa, menggelengkan kepala.

Begitu keduanya sudah berada di dalam mobil, Chika melirik Izack dengan senyum tipisnya penuh curiga.

"Kenapa aku melihatmu seperti neraka dan pangeran berkuda, ya Bang?!" ucapnya saat Izack memutar kendali setir.

Spontan Izack tertawa lebar. "Ampun... suaminya sendiri dikata neraka."

"Yak?! Bayangkan aja. Perempuan itu kalau menikah, rasanya berasa masuk neraka."

"Dari soal masak, beres-beres, basa-basi dengan orang, sekalipun dirinya terluka. Aku benci itu semua,"

"Andaikan adat nggak menyudutkan lajang. Aku pilih sendiri, daripada hidup dalam ketiak lelaki," gerutu Chika lirih.

Spontan Izack melongo. Namun ia tak langsung menjawab, hingga laju roda menuju keluar dari area perkampungan.

Sesaat Izack teringat interaksi gadis itu dengan anak-anak jalanan di rumah singgah dekat Basecamp AMN, ditambah lagi peristiwa kemarin malam --saat dirinya kekeh memberikan menu hidangannya pada bocah gelandangan di depan resto.

"Tapi nggak benci dunia anak, kan?" selidik Izack.

"Nggak lah, kalaupun bisa aku mau punya anak. Tanpa perlu punya suami."

"Adopsi?"

"Nggak lah,"

Raut Izack bingung, tapi perlahan tawanya pecah, kecil. Sulit menebak bagaimana arah berpikirnya gadis imut di sebelahnya.

"Terus, gimana caranya?"

"Mau jadi seperti Bunda Maryam?" godanya.

"Enggaklah, aku nggak mau melahirkan."

"Terus?"

Chika terkekeh, suaranya pelan. "Melahirkan via teleportasi yang nggak menyakitkan."

Spontan tawa Izack pecah, terkekeh geli.

"Kok bisa?"

"Loh, siapa tahu kan... satu saat ada teknologi semacam itu. Memindahkan partikel materi, tanpa menyentuh materi."

Gelak tawa Izack makin lebar.

"Membayangkan aja sudah ngeri, kepala segede itu keluar dari..." raut gadis itu mengerut takut.

Izack hanya geleng-geleng kepala bingung.

Hening.

Sesaat mobil melintas jalanan tengah sawah. Sekumpulan petani sedang istirahat di sana.

Chika membuka kaca jendela, Izack pun mengikuti.

"Monggo, Pak..." "Mari, Pak..." sapa ramah keduanya.

"Njih, mas...!" seru mereka, serempak.

Kendaraan berjalan pelan meninggalkan kerumunan para petani. Jalanan desa kembali terasa sepi, hanya gemrutuk roda melintasi jalanan yang rusak. Hingga akhirnya Chika memalingkan wajahnya keluar.

"Tahu nggak, Bang? Kenapa petani di negeri kita susah kaya?"

Izack berpaling sekilas.

"Karena petani kita masih minim penggunaan teknologi, apalagi berbasis ramah lingkungan."

"Nyatanya kerusakan tanah erat kaitannya dengan penggunaan pupuk kimia yang harganya mahal, ditambah pendistribusiannya nggak merata."

Hening.

Chika diam, menatap perbukitan yang membentang panjang di ujung mata.

"Belum lagi akses jalan yang sulit ditempuh."

"Jatuhnya nasib mereka ada di tangan tengkulak. Karena petani butuh modal cepat untuk memutar hasil, dibanding mereka jual sendiri ke pasaran."

"Lihat aja Pak Lek. Punya lahan nggak lebih dari 2000 meter. Itu buat apa coba? Kecuali habis untuk makan dalam waktu sekali panen. Bisa nabung dikit."

"Aku? Nggak bakalan berani minta uang ke mereka untuk kuliah."

"Makanya satu-satunya jalan yang aku punya, gadaikan surat rumahku ke Bank."

Izack menarik nafas dalam. "Pak Lek tahu?" tanya Izack lagi.

"Ya tahulah, tapi mau gimana lagi."

"Makanya, tolonglah... jangan jadikan rakyat sebagai alat retorika. Kita yang tahu bagaimana di bawah, rasanya nyesek dengar kalian berorasi kemana-mana bawa bendera rakyat." nada Chika sedikit nyolot.

"Kalian selesai turun jalan, masih bisa kembali ke meja rapat, minimal nongkrong di kampus. Mereka?? tetap tinggal di ladang. Kadang menanak beras dari pasar yang harganya jauh lebih mahal. Dan belum tentu tahu, besok anaknya bisa kuliah atau nggak. Kecuali... jual tanah satu-satunya."

Izack tak langsung menjawab. Ada hawa sesak yang menyerang dadanya seketika. Namun sorot matanya terlihat optimis.

"Itulah mengapa, dua tahun lalu aku mendukung keras usulan AMN Tayoga melahirkan gagasan tumbuhnya CAPN yang isinya orang-orang Akademi dan para peneliti. Non..."

"Fungsinya membuat jalur suara dari bawah, hingga naik ke kebijakan pusat, lewat kekuatan suara para akademisi dan peneliti."

"Meski jujur, aku sendiri takut, kalau ini hanya untuk menenangkan diri sendiri."

"Tapi apapun itu, hanya itulah yang bisa kita kerjakan daripada diam, apalagi marah."

Klekk...

Mulut Chika terkunci rapat. Sorot matanya tajam, namun seolah terjawab dalam satu baris kalimat.

Hening.

Di ujung mata. Jalanan hotmix mulai tampak menanjak, terasa nyaman di kaki-kaki kendaraan. Dan tanjakan tajam mulai membuat Chika was-was. Tak lama dari itu, kawasan hutan lindung mulai menyambut. Pepohonan tinggi menjulang, belukar menjalar di ranting tua, menciptakan suasana penuh misteri.

Mata Chika kembali terbelalak. Membiarkan kabut tipis masuk ke dalam kabin, menyelimuti wajahnya yang diterpa angin siang itu.

Tak panas, juga tak mendung.

Sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas, melaju dengan kecepatan yang cukup keras.

Chika menengadahkan telapak tangan ke udara, menikmati helaian angin yang menerpa wajahnya.

"Boleh berhenti di tikungan depan nggak, Bang?"

"Mau apa?"

"Ingin memastikan pohon yang aku tanam,"

"Memangnya boleh, menanam pohon di hutan lindung?"

"Waktu SMA dulu, aku sempat ikut program Konservasi Pemerintah Provinsi."

"Wow, keren."

"Biasa aja, ini daerahku."

Izack hanya tersenyum ringan.

"Orang desa sepertimu bisa ikut kegiatan semacam itu, keren lah," ucapnya menepiskan laju roda, hingga kendaraan pun turun dari badan jalan. Lalu mesin pun mati.

Hening.

Chika menatap jauh, lurus ke depan.

"Inilah satu-satunya hutan lindung yang tersisa. Karena lereng gunung sebaliknya sudah habis, jadi lahan komersil. Dari Resto, Penginapan, bahkan yang katanya 'wanawisata', —nyatanya membabat banyak pohon, lalu melumurinya dengan cat warna-warni."

"Sementara tanah dan akarnya dibungkam paving. Demi satu kata, rapi."

Chika mendengus,

"Aku muak dengan semua itu."

"Keindahan alam itu, ya... keutuhan alam."

Hening.

"Aku punya mimpi. Andai punya lahan luas, bakal aku jadikan lahan restorasi,"

Izack menarik nafas, menjulurkan alis. Lelah.

Chika melirik curiga.

"Kenapa?"

"Enggak..." senyum Izack pun lepas.

"Aku cuman sedang membayangkan: andai kita punya anak nanti. Betapa melelahkannya hari-hari, kalau ibunya aja se-cerdas ini."

"Semuanya dikritik, semuanya diprotes"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar