Kabut putih perlahan memudar menjadi gambaran jelas hingga tampak orang-orang berjalan kesana kemari dengan baju serba putih bersekat gordyn putih, sementara seorang lelaki paruh baya duduk di sebelahnya.
"Pak... Pak Izack!" panggilnya pelan.
Izack melepas cungkup oksigen, memejamkan mata sejenak, lalu menatap sekitar. Alvin muncul di samping ranjang, wajahnya cemas.
Lelaki putih bermata sipit itu menatap lama.
"Gimana Zack?!"
Lelaki itu menatap langit-langit, memastikan nafasnya sudah mulai normal.
"Saya keluar dulu, Mas. Panggil saya kalau butuh sesuatu," ucap Pak Efan pada Alvin sebelum pergi.
Alvin mengangguk singkat, lalu duduk di tepi ranjang.
"Untung aku datang duluan. Coba nunggu Pak Efan, entah apa jadinya kamu..." gumamnya.
Izack menarik nafas panjang.
"Gimana nafasmu?"
"Nggak apa-apa," jawabnya lemah.
"Zack... kenapa nggak konsultasi ke psikolog aja sih?"
"Aku tahu perasaanmu dibuang terlalu kuat, tapi..."
Izack mengangkat tangan –gestur berhenti—tanpa menatap Alvin.
"Bicara yang lain saja, Vin,"
Alvin mendesah, tapi menurut. Ia mengeluarkan selembar kertas.
"Ini. Nggak sengaja kebaca."
Izack meremas surat itu spontan, membuat Alvin cekikikan puas.
"Apanya yang lucu?" Izack menyipitkan mata.
"Seumur hidup, baru kali ini Izack yang jadi rebutan cewek-cewek malah ditinggal sama gadis yang mengaku dirinya miskin, lagi," Alvin tergelak.
"Aku juga mau tuh, kalau ada tipikal satu lagi cewek seperti itu, Zack."
"Sembrono. Barang apa?" gerutunya.
"Menurut kau??" Alvin tertawa makin keras.
Izack mengalihkan.
"Gimana kabar Hera?"
"Hei! Fokus ke dirimu. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi. Kamu mesti ketemu dia, dan ngomong baik-baik tuh."
"Sudah, sudah aku jelaskan ke dia."
"Terus, apa tanggapannya?"
Izack menggeleng, malas membahas.
"Pusing aku atasi dia."
"Padahal, baru tadi malam aku berusaha meredakan galaunya dengan menemaninya tidur sepanjang malam dalam pelukanku. Aku pikir, itu cukup. Tapi ternyata..."
Alvin tertawa ringan, dan sepertinya hanya dia yang berani begitu saat lelaki nomor satu itu jatuh.
Hening.
"Dari cerita-ceritamu, sepertinya memang bukan cewek biasa sih, pantes aja kamu tergila-gila. Sampai berani tanggung biaya operasi segala."
"Lagipula buat apa AMN kamu pegang?"
"Menghasilkan enggak, menambah masalah, iya."
"Toh kamu juga nggak tertarik masuk ke dunia politik praktis."
"Untuk apa coba?"
"Hidup enak, kamu persulit."
Izack memelototinya.
"Ya sudah. Aku paham itu duniamu," pekiknya.
Ponsel Izack bergetar. Nama Papa, di layar. Dan ia mengangkatnya.
"Dimana kamu sekarang, Zack?"
Alvin nyletuk. "Rumah Sakit, Om."
"Oh, siapa itu? Alvin ya?"
"Iya, Om."
"Izack pingsan tadi pagi."
"Loh, Chika kemana?"
"Ada keperluan ke Tayoga, Pa," potong Izack.
"Jangan bohong, kalian berantem?"
Izack menelan ludah, lalu duduk bersandar. Lemas.
Suara kecap terdengar diiringi desahan nafas kesal. "Zack... bagi lelaki seperti kita, perempuan itu di atas segalanya."
"Kamu nggak salah pilih dia?"
Lagi-lagi Izack hanya menarik nafas.
"Pa... izinkan Izack berproses, kali ini."
"Kalau Izack salah, biarlah Izack yang menanggung."
Tak lama dokter masuk, ia segera mengakhir panggilan. Dan meletakkannya perlahan.
"Selamat siang, mas Izack..."
"Siang, dok..." jawabnya lemah.
"Mas Izack ini, kali ini kamu harus tunggu benar-benar pulih dulu."
"Hindari stres, sementara waktu."
"Nah, marahi aja tuh, dok. Dia paling nggak respek sama kesehatan dia sendiri," cletuk Alvin akrab pada dokter.
Tak lama wajah Ozin muncul yang disusul beerapa teman dari Mabes AMN. Dokter mulai menjalin obrolan dengan Alvin yang tampak sudah kenal lama. Ia mulai menjelaskan posisi Izack di AMN sebagai leader. Dokter pun mengangguk-angguk paham.
Dokter pun mulai menyimak obrolan Izack dan tiga orang AMN.
"Gimana Zack?" raut mereka cemas.
Mata Izack berpaling pada dokter. "Tolong dok... malam ini juga aku harus negoisasi, biar teman-teman mahasiswa bisa keluar."
Lelaki itu menarik nafas dalam. Ia tak bisa berkutik.
"Ya sudah, tapi jangan lupa. Kalau sudah ada gejala nyeri, langsung berhenti ya mas..."
"Baik, dok,"
"Kesehatan mas Izack ini di atas segalanya loh, buat aktivis mahasiwa lainnya."
"Iya Zack..."
Seseorang nyletuk. "Baiknya kamu istirahat saja dulu, Zack... biar kita yang lakukan loby dengan aparat."
"Kalau kamu bisa menjamin mereka keluar, nggak apa-apa. Tapi kalau tidak, kamu mau... ada korban lagi?"
Semua terdiam, menunduk.
Dokter segera keluar, sambil memberi komando pemberian multivitamin pada suster yang mengikuti.
"Siap dok," ucapnya.
Tak lama perempuan itu kembali masuk.
"Mas Izack, dokter membolehkan pulang. Tapi dengan catatan ya..."
"Iya, Sus," jawabnya cepat.
***
Menjelang malam, sedan hitam berplat unik itu sudah mendarat di depan parkiran Mabes AMN. Saat kakinya turun, beberapa orang sudah menyambut di depan.
Tiga orang lelaki mendekat lebih cepat, diantaranya ada Dido –lelaki dengan kaca mata frame bening yang punya senyum positif.
Ozin segera menutupkan pintu. Izack bersandar di depan pintu mendongak ke atas –pusat kebakaran terjadi. Ia menatap para pekerja yang baru melepas tali-temali yang mengikat di tubuhnya dengan helm pengaman.
Sebagian dinding kaca itu sudah tampak mengkilat, sebagian belum dibersihkan.
"Kualitas kaca super premium, yang lumayan tahan api, mas." ucap salah seorang tukang bangunan mendekati Izack.
"Gimana? sudah berapa persen?"
"Enam puluh persen lah, mas."
"Hm, bagus."
Salah satu pengurus AMN lari mendekat Izack, ia menyodorkan sebandel lembaran berisi laporan keuangan saat Izack melangkah masuk.
"Jangan! nanti aja. Bang Izack butuh istirahat."
"Nggak apa-apa." jawabnya meminta lembaran, dan kembali berjalan sedikit agak lambat dari biasanya.
"Lobymu dengan aparat, gimana. Zack?"
"Berhasil nggak tuh?" tanya seseorang dengan nada tidak enak.
Yang lain langsung kaget, menoleh. Namun Izack hanya menghentikan langkahnya sejenak dan menarik nafas dalam.
"Tunggu 12jam lagi, dari jam 11 tadi," ucapnya tanpa menoleh. Lalu kembali melangkah masuk dengan tenang.
Sekilas matanya tertuju pada ruang bawah tangga yang masih tampak utuh. Hanya barang yang belum sepenuhnya dirapikan.
"Barang-barang sudah dibawa kesini semua?"
"Dari rumah Bapak?" tanya mereka lagi.
"Kurang sedikit, Bang."
"Hm, Ok."
Ia meneruskan langkah. Sorot matanya menyisir ke setiap sudut. Lalu membuka tiga pintu ruangan yang sudah tertata bersih.
Sebagian ruangan baru di cat ulang.
"Bang, teman pengurus sudah kumpul di ruang rapat. Kemarin kita mau kasih kabar Abang, tapi Bang Ozin stop kami, katanya Bang Izack sakit."
"Beneran sudah sehat, Zack?" tanya orang itu lagi.
Izack diam, tak menoleh juga. Ia tahu betul siapa lelaki itu. Tapi membiarkannya, dan langsung menaiki tangga yang sebagian masih ada goresan kehitaman bekas api.
***
Di lantai tiga, Izack membuka pintu ruangannya. Menyapu tatapan sekilas ruangannya yang tak terlalu luas, namun juga tak sempit. Buku-buku itu sudah tak ada lagi di sana. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat. Aroma cat baru bercampur dengan hawa dingin AC menyambutnya. Di dalam, dua puluh orang lebih sudah duduk di atas gelaran karpet merah.
Lelaki itu menatap sekeliling ruangan. "Terimakasih kerja sama teman semua."
"Sama-sama, Zack... tanpa lobi-mu, mungkin kita cuma bisa menangis lihat bangunan ini hancur berantakan seperti kemarin."
Izack duduk di depan mereka --meletakkan kedua tangannya di atas meja, membuka lembar laporan keuangan.
Ia mulai mempertanyakan laporan satu persatu terkait barang, upah pekerja, hingga transportasi mereka.
"Bagus, terimakasih sudah memaksimalkan uang yang tersisa."
"Siapa yang ngecat, tadi?" tanyanya mengedarkan pandangan.
"Kita semua bergantian, Bro. Selesai rapat, mungkin kita kerjakan lagi nanti malam."
"Oke, aku tunggu lah."
"Nggak usah... tunggu yayangmu aja."
"Nggak, dia lagi ke Tayoga kok."
"Ooohh... lagi nge jomblo ini ceritanya?"
Spontan mereka sorak, riuh.
Izack hanya tersenyum, samar. Dengan bibirnya yang masih tampak pucat. Lalu mengangkat wajah --menatap serius, membuat tawa mereka pun langsung mereda.
"Oke, silahkan dimulai," ucapnya lemah, namun terlihat dikuatkan.
Ia melirik seseorang di sampingnya, --yang sibuk menyalakan laptop dan proyektor, hingga cahaya putih memenuhi layar.
Slide pertama laporan AMN daerah; dari keributan warga lokal terkait perampasan tanah adat oleh perusahaan asing, pembakaran taman hutan nasional yang disengaja --yang menyebabkan tewasnya beberapa binatang langka dan tumbuhan konservasi, hingga penebangan hutan di sekitar pegunungan untuk keperluan tambang uranium dengan mengerahkan aparat.
"Oke, kalian kirim ini bagian timmu, Dido. Buatlah narasi seperti yang diberitakan teman-teman AMN daerah beserta foto dan video, lalu besok pagi. atau kalau bisa nanti malam kamu kirim ke teman-teman CAPN."
"Lalu soal terputusnya jembatan dan saluran listrik karena tanah longsor di desa terpencil kepulauan terluar. Tolong buat narasi sebaik mungkin."
"Kita berharap negara tahu itu semua."
"Andaikan sudah tahu, namun tidak ada tanggapan. Kita gerak sendiri dengan bantuan CAPN dan CSR perusahaan daerah setempat, terutama yang menggunakan jalanan itu."
"Isu sekarang kita alihkan pada lingkungan, karena menurut kami inilah yang paling penting dan gawat. Bang."
Izack hanya mengangguk kecil.
"Semua data yang kita bawa di sini murni dari tim peneliti dan dosen di CAPN. Yang mana, data itu bermula dari pengaduan masyarakat ke kita, Bang."
"Pengaduan itu kami sampaikan ke tim CAPN seberapa benar berita itu."
"Dan inilah data dari mereka," tunjuk seseorang pada tampilan foto-foto di layar.
"Kita di sini hanya peduli pada apa yang terjadi, dan kami ingin masyarakat lebih peduli, bahwa perbuatan itu tidak bisa dibenarkan, karena sudah menyangkut hajat hidup warga lokal."
Izack mengamati layar itu lebih lama dari yang lain.
Foto-foto, grafik, dan peta kerusakan hutan berganti perlahan, seolah menuntutnya memberi jawaban.
Ia menarik napas pendek.
"Baik," katanya. Suaranya datar, tapi cukup membuat ruangan jadi hening.
"Kita nggak menyebut nama siapa pun."
Beberapa kepala terangkat.
"Kita tidak menyerang institusi," lanjutnya. "Kita bicara soal dampak. Soal data. Soal korban. Biar publik yang menilai sendiri."
Ia menutup map di depannya.
"Semua narasi disusun rapi. Jangan emosional. Jangan provokatif."
"Kalau ada tekanan... kita hadapi dengan kepala dingin."
Tak ada yang menyela. Mereka tahu, itu bukan sekadar arahan, tapi batas dimana mereka harus bersuara dan bertindak.
"Rapat kita cukupkan di sini," ujarnya singkat.
"Lanjutkan sesuai pembagian. Aku tunggu laporan awal besok pagi."
Satu per satu mereka berdiri. Beberapa menepuk pundaknya pelan sebelum keluar.
Ruangan kembali lengang.
Izack tetap berdiri di tempatnya.
Tatapannya jatuh pada layar yang kini sudah gelap.
Selesai sudah urusan hari ini, tinggal menunggu jemputan orang tua masing-masing ke kantor kepolisian untuk mengembalikan anak-anaknya. Terutama anggota AMN yang tertahan oleh pecahnya demo kemarin.
Dan kini, justru wajah Chika yang muncul.
Harusnya di saat semua urusan selesai, ia segera pulang untuk bisa memeluknya –mencari kedamaian di sisinya.
Tapi...
Beberapa orang mulai keluar masuk mengganti pakaian mereka dengan baju harian. Mereka siap mengecat ulang sebagian dinding yang belum selesai.
Izack berdiri menatap mereka.
"Mau makan apa, kalian?" tanyanya.
"Yuhuiiii...! begini nih, kalau kerja ditunggu big bos kita."
"Terserah, yang penting kenyang aja, Bang,"
"Oke," jawabnya. Ia mulai scrolling di ponselnya memesan makanan.
Sejenak ia duduk. Ada rasa yang hilang dan benar-benar menyakitkan.
Ia tak menyangka, pernikahannya yang belum genap satu bulan itu membuat dirinya rapuh di saat ia harus ditinggalkan.
Ia kembali menatap layar ponselnya.
Tak ada pesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar