Di meja oval berlapis kaca bening itu, suasana senyap. Hanya dipenuhi suara kertas yang dibalik-balik, dengan menghadap laptop masing-masing. Cahaya terang dari dinding kaca gedung, menunjukkan padatnya kota metropolitan, berselimut gemuruh suara alam.
Izack duduk di paling ujung mendengarkan laporan karyawannya dari masing-masing bidang. Mereka membahas buku-buku terbitannya yang mangkrak berbulan-bulan di beberapa toko, dibanding buku-bukunya yang terjual di toko online mereka.
"Kenapa nggak kita tarik saja buku-buku itu?"
"Team Pemasaran, tolong atur lagi strategi penjualan kalian,"
"Saya tidak ingin ada agenda mencacah buku lagi besar-besaran seperti tahun kemarin."
Lalu tatapannya tertuju pada tim lain yang duduk di paling ujung.
"Tim redaksi, tolong perbaiki sensor kalian. Kita butuh buku berbobot, sebelum benar-benar masuk cetak."
Tiba-tiba Rony, --sebagai tangan kanannya, menyelipkan selembar kertas kecil. Alis Izack yang tebal mengernyit cukup lama.
Tatapan Izack tak langsung tertuju pada dua orang yang berselisih. Ia mengedarkan pandangannya cukup lama, membuat pandangan mereka tertunduk.
"Kita perlu bergerak tiap minggu, tiap bulan, bahkan tiap tahun. Di luar sana, berapa banyak penerbit dan percetakan buku gulung tikar, di tengah kondisi perubahan besar-besaran media cetak hari ini. Anehnya, di saat kita kebanjiran order, masih bisa-bisanya kalian gap-gapan?"
Izack mengetukkan jari, suaranya tenang tapi tegas.
"Jika itu memang masalah pribadi, selesaikan di luar meja kerja. Tapi kalau ini menyangkut pekerjaan, datang ke ruangan saya. Kita selesaikan baik-baik,"
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap keduanya.
"Aku tidak mau ada masalah sepele mengganggu ritme perusahaan."
"Kalau masih membiarkan berlarut... jangan salahkan kalau saya yang harus ambil keputusan buat kalian berdua."
Dua orang itu saling melirik, diam.
"Lanjut!" ucap Izack mempersilahkan tim lain berbicara.
Seseorang mencondongkan tubuhnya.
"Minggu lalu, Dinas Kearsipan Nasional sudah siap mendengarkan proposal proyek kita. Mereka menunggu kita menjelaskan detailnya."
Serentak beberapa orang melotot.
"Setelah dua tahun???" seru salah satunya.
Izack hanya menanggapinya dengan senyum tipis, lalu memalingkan wajahnya pada lelaki setengah baya yang angkat bicara.
"Begitulah kita... Rakyat disuruh sadar literasi. Tapi subsidi buku dicabut dan pajak terus dinaikkan, disaat budaya baca terus digerus budaya sosial media yang serba cepat."
Seseorang angkat suara.
"Apa bedanya dengan Perpustakaan Digital milik pemerintah yang sudah ada?"
Izack mengedarkan pandangannya, lalu tertuju pada orang itu.
"Beda. Perpustakaan digital milik pemerintah tidak menggandeng semua penerbit tanah air, yang sebenarnya tidak sedikit dari mereka menerbitkan buku-buku berbobot."
"Mereka ini perusahaan-perusahaan kecil yang mampu menaikkan penulis-penulis kecil yang terkadang justru idenya lebih keren."
"Tapi karena masalah dana, mereka mati perlahan karena terabaikan."
"Itulah kenapa proyek Perpustakaan Digital Nasional ini penting. Terobosan baru bagi kita untuk membantu pemerintah mengurangi tingkat rendahnya literasi di tingkat daerah. Selain memberi nilai tambah bagi penerbit maupun penulis."
Ruangan hening sejenak. Semua tertunduk mencatat, sampai salah satu tim berdehem.
Tiba-tiba Rony kaget membaca chat temannya yang baru saja masuk.
"Bang, ternyata ada yang mendahului proyek kita. Katanya, mereka itu orang terdekat dengan Kepala Dinas Kearsipan Pusat. Mereka menawarkan biaya yang jauh lebih kecil dari kita."
Ruangan mendadak tegang.
"Kok bisa?!" cletuk seseorang.
"Bukannya awal mula kita yang mengusulkan, ya?" tanya staf muda yang langsung di stop berbicara, menunggu kelanjutan kata-kata Rony.
Izack diam, namun rahangnya mengeras mengepalkan tangan.
"Oh... baru tahap loby aja sih mereka," jawab Rony akhirnya, serius membaca layar tabletnya.
"Ya jangan bilang baru loby," ucap lainnya.
Akhirnya Izack angkat suara.
"Biaya memang lebih tinggi, tapi kita harus punya ciri khas yang nggak bisa mereka tiru,"
Semua mata tertuju pada Izack.
Lelaki itu melemparkan map berlogo studio animasi ke tengah meja.
"Maksudnya?"
"Kita gabungkan penggarapan film animasi ini sebagai icon perpustakaan digital kita."
"Wuah... apa nggak bengkak biayanya?"
Izack hanya tersenyum tipis.
"Kenapa kamu bingung sendiri? Ini proyek pemerintah. Negara kita ini lebih dari sekedar kata kaya raya."
"Kalau hanya angka 100 milyar, itu kecil," senyum Izack penuh isyarat.
Semua tertunduk senyum-senyum.
Tiba-tiba salah satu dari mereka nyletuk. "Ratusan trilyun aja bisa masuk kantong."
"Nah?!"
"Paham kan, maksudku?"
"Ini demi kualitas manusia negara kita loh,"
"Asalkan pinter-pinternya bunyi proposal dan loby kita aja."
Izack mengacungkan jari ke udara seolah memberi peringatan keras.
"Ingat! Jangan kecewakan saya, kalau sampai benar-benar goal."
"Kerja keras kita di atas segalanya."
"Siap, Pak," suara itu lirih, namun mantap.
"Tolong, Rony... hitung lagi besaran biayanya. Proposal itu akan aku bawa besok pagi menemui dinas Kearsipan Nasional."
Rony mencatat cepat di kertasnya. "Siap, Pak. Malam ini juga akan saya hitung ulang angkanya."
"Maaf Pak... jadi ini nanti yang pegang proyek kita kan? Penerbit dan studio hanya nge sub aja?"
Izack hanya mengangguk mantap, "Hm."
"Dan, ingat... saya nggak mau lagi ada gap di antara kalian."
"Kalau masih ada yang seperti itu, tolong laporkan langsung ke saya."
Semua mengangguk pelan.
"Oke, ada yang lain?"
Semua diam saling memastikan.
"Kalau begitu, rapat kita sudahi di sini."
Seketika itu mereka bubar meninggalkan ruangan yang hanya tersisa pak Andriawan, Editor senior dengan jam kerja lebih dari 20tahun dari satu perusahaan ke perusahaan lain yang hanya senyum-senyum.
"Kenapa Pak?" tanya Izack.
"Baru kali ini saya kerja di Penerbitan, suasananya nyaman dan team nya anak muda kreatif semua."
Izack hanya mengembangkan senyum tipis, menutup laptop.
"Wajah Pak Izack ini tampak letih, tapi auranya kelihatan lebih cerah dibanding sebelum menikah."
"Oh ya??" senyum Izack samar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Ada sesuatu yang ia tahan di sana.
"Buat istirahat saja dulu, Pak."
"Hm," jawab Izack diam menahan, menunggu lelaki tua itu keluar lebih dulu.
Ia tahu, ingin sekali menghabiskan waktu bersama istrinya di awal pernikahannya, tapi itu tak mungkin ia lakukan saat ini, di saat semua menuntut kerja keras, memeras otak dan hati yang sebenarnya sudah lelah.
"Masih pegang AMN, Pak?"
"Masih Pak," jawabnya penuh semangat.
"Ah... keren betul Pak Izack, ini. Sudah ganteng, mapan, aktivis pula. Makanya banyak perempuan tergila-gila," puji pak Ardiawan beranjak, lalu meninggalkan ruangan hingga pintu tertutup.
Izack hanya tersenyum tipis, namun setelah itu ia hanya menarik nafas panjang dan dalam.
***
Entah sudah berapa jam, Chika tertidur begitu saja di sofa ruang kerja Izack. Sayup-sayup ia mendengar suara perempuan berbicara di telepon. Begitu hendak bangun, ia sadar tubuhnya telah terbungkus selimut tebal dan halus dalam ruangan sejuk. Saat ia duduk, seorang perempuan langsung menyambut hangat.
Melihat penampilan perempuan di depannya yang memakai blouse krem dan celana cokelat tua, --dengan sorot mata penuh percaya diri, nyali Chika langsung ciut.
"Wow!" batinnya. Ia meremas ujung kemejanya, kikuk.
"Selamat siang Non, silahkan diminum dulu," sapanya ramah. Ia membawa secangkir minuman hangat dan diletakkan di meja.
Chika melirik laptopnya yang masih terbuka di meja.
"Baru saja Pak Izack masuk," lanjut perempuan itu sambil memeriksa jam di pergelangannya. "Tapi melihat Nona tidur pulas, beliau keluar lagi."
"Ohh..." ucapnya tersenyum risih.
"Oh ya. Kenalkan, saya Alika, dari tim redaksional."
"Oh, saya Luchika Aria."
"Loh???!" Alika refleks mengulang nama itu. Rautnya berkerut mengingat-ingat.
Nama itu tidak asing di telinganya.
Ia menepuk dahi pelan. "Oh... aku ingat sekarang."
Alika mulai bercerita: awal-awal ia kerja di penerbitan itu. Bahwa dirinya pernah berada di bagian informasi, pernah menerima buku yang katanya; isinya penuturan orang-orang eks tahanan politik di balik pintu jeruji besi. Tapi oleh tim redaksi, naskah itu diserahkan ke pak bos, karena dianggap riskan jika terbit.
Menurutnya, buku itu menyimpan banyak hal yang seharusnya digali lagi –dokumen perjanjian antar negara, juga catatan harta kekayaan negara yang dulu dipercayakan pada orang-orang terdekat presiden di luar negeri.
"Waktu itu aku yang pertama menerima naskah buku itu," kata Alika.
Chika terdiam, miris. Teringat dua tahun lalu, saat pertama kali bertemu dengan lelaki itu di Resto. Ia pulang menangis karena naskah yang digadang-gadang uangnya untuk melunasi hutang Bank, ternyata justru dikembalikan.
"Oh..." jawabnya seakan turun dari lamunan panjang.
"Benar, itu punya kakak?"
"Hm," jawab Chika mengangguk.
Alika mulai tersenyum samar, menurunkan pandangannya. Senyum yang mengundang rasa penasaran Chika makin dalam.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa," senyum Alika, masih berdiri di depan Chika. "Akhirnya... misteri Pak Bos terjawab."
"Maksudnya?" Chika menaikkan alis, tapi ia menangkap bahasa itu. Ada senyum malu di pipi yang makin memanas.
"Dulu kami sempat menduga kalau bapak itu... " suaranya mendadak tersendat.
"Gay?!" potong Chika tertawa cekakaan.
Perempuan berwajah tipis itu spontan merah padam tidak enak.
"Bukan begitu maksudku, Non..."
"Karena jarang ada isyu kalau dia sudah punya pacar. Tapi perempuan-perempuan itu kadang datang sendiri silih berganti seperti saling adu kekuatan mendekati Pak Bos."
"Oh??"
Entah berapa menit berlalu, obrolan mengalir begitu lancar tampak akrab.
"Mau makan siang di kantin, Non?"
"Oh... sudah jam istirahat ya?"
"Hm, yuk."
Mereka pun keluar ruangan, diiringi kode sekilas Rony yang memberinya peringatan untuk lebih berhati-hati.
Chika yang tahu itu hanya menoleh sekilas.
"Kenapa, Kak?" ucapnya nyolot.
"Oh, nggak apa-apa."
Mereka berjalan melewati lorong ruang karyawan, membuat semua mata tertuju pada Chika.
Sesekali mereka menyapa Chika yang lebih keren dengan outfit ala anak mahasiswa.
Alika berbisik, "Mereka penasaran sama kamu, Non."
Chika melongo, tersenyum grogi.
"Kenapa?"
"Baru tahu ternyata seleranya Pak Izack anak muda gaul,"
Saat Alika menoleh senyum pada seorang lelaki muda, Chika ikutan menoleh. Ia mengacungkan dua jempol melirik pada Chika. Namun saat kepergok, gadis itu hanya tersenyum tipis sambil lalu.
Tiba-tiba seorang lelaki muda seusia Alika pura-pura melintas di sampingnya.
"Ssstt... kenalin, dong."
"Hust! Sembrono! Istrinya pak Bos."
"Oh?! Maaf Bu... maaf!!"
Saat itu juga, ruangan heboh dengan Chika yang melintasi lorong demi lorong. Gadis itu berjalan tegap, melenggang santai. Sok cuek, meski tak bisa dipungkiri, jantungnya berdetak tak karuan mendengar riuh suara karyawan.
Alika terkekeh geli. Chika berusaha tetap lempeng menahan grogi.
Namun begitu sampai di depan lift, tiba-tiba Izack muncul di balik pintu.
"Mau kemana?"
"Oh... mau makan siang, Pak," jawab Alika kikuk.
Izack memalingkan kecil dagunya penuh isyarat membuat Alika paham.
"Ayo, kita makan bareng aja," sela Chika cepat.
"Lain kali aja, Non..." Alika nyengir tak enak, lalu segera pamitan pergi.
Izack hanya mengangguk singkat.
"Yahh... nggak seru."
Izack hanya melirik Chika yang lebih pendek dari tubuhnya.
"Apanya yang kurang seru, kalau sudah bikin heboh semua karyawan."
"Suruh siapa heboh, sama-sama makan nasi juga," ucapnya datar.
"Sudah aku pesankan makan siang, kita makan di ruanganku aja."
Saat Izack melewati ruangan animasi yang isinya hampir semua anak muda, langsung heboh. Cuitan kecil dan tatapan senyum tertuju pada keduanya. Izack tetap melangkah tegap melintasi ruangan itu.
Ia tak mau kalah, merangkul pundak Chika santai, seolah memberi tanda kepemilikannya.
"Aku nggak mau ada mata usil," bisiknya.
Meskipun awalnya Chika risih dengan dekapannya, tapi ia belajar menahan. Ia tahu, ini adalah harga diri seorang pimpinan muda di antara karyawannya yang hampir 80% anak-anak muda.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar