Dua hari kemudian, Izack mulai meninggalkan Chika di apartemen bersama seorang karyawati yang ditugaskan menjaga. Namun hari ini, ia menurunkan dua pegawai laki-lakinya untuk menjaga istrinya, demi keamanan. Ini karena gelombang panas demonstrasi mahasiswa mulai pecah di berbagai belahan sudut kota, yang kemudian disusul kota besar lainnya di tanah air.
Tapi sebagai gadis yang terbiasa mandiri, Chika justru terbebani. Apalagi ketika semua kebutuhannya selalu dilayani bak bos besar.
Siang itu ketiga pegawainya disuruh kembali ke kantor. Itu membuat mereka bingung campur takut saat dirinya harus menghadapi bos yang terkenal dingin. Namun saat mereka tiba di kantor, ternyata Izack masih rapat online AMN di ruang kerjanya. Itu membuat mereka senang bukan main, menandakan mereka tak perlu menghadap.
"Nanti aku cukup laporkan aja ke beliau," ucap Rony membuat mereka melangkah pergi.
Sementara, di balik pintu ruang kerja itu, Izack menatap layar monitor dengan wajah serius.
"Saya nggak ingin setelah kejadian kebakaran dan kebobolan rekening kemarin, langkah kita justru berhenti atau mundur," ucapnya tegas.
"Justru di situ kita harus makin kuat."
Beberapa wajah di layar tampak mengangguk.
"Kemarin aku sudah ngobrol sama Pak Ifat, ketua Alumni kita. Beliau dan beberapa abang kita siap gotong royong bantu renovasi gedung."
"Target kita satu bulan. Setelah itu, kita kembali kerja penuh."
Izack menarik napas sejenak, lalu melanjutkan.
"Tugas teman-teman di daerah tetap sama. Laporkan setiap persoalan, terutama kebijakan yang jelas-jelas nggak berpihak pada rakyat."
"Di pusat, kami akan memilah," lanjut Izack.
"Mana yang cukup kita suarakan ke publik, dan mana yang harus dikaji lebih dalam."
"Kalau sudah masuk tahap kebijakan, kita dorong bersama—ke wakil rakyat, ke media, dan ke publik."
"Tekanan itu harus datang dari banyak arah. Biar suara kita nggak gampang dipadamkan."
Tiba-tiba layar monitor menunjukkan banyak rise hand.
Seorang koordinator langsung mute suara dari layarnya, membuat suasana kembali hening.
"Dari kepulauan Panima, silahkan."
"Maaf, Bang... tapi untuk melangkah, kita butuh dana."
Izack mengernyit. "Dana untuk apa?"
"Wilayah kami sebagian ditutupi hutan belantara. Kami butuh drone. Tanpa itu, mustahil mengawasi aktivitas penebangan liar dari kelompok korporasi yang kita curigai."
Ruangan hening sejenak. Tatapannya menajam, lalu melunak.
"Kalian ini mahasiswa," katanya akhirnya. "Kekuatan kalian itu ada pada jaringan, potensi dan kreativitas yang kalian miliki. Kembangkan itu untuk memecahkan kesulitan yang ada."
"Tidak selamanya uang."
"Coba diubah mind set itu."
"Soal drone, kita punya alumni AMN yang punya usaha di bidang teknologi. Saya sempat ketemu beliau waktu pameran teknologi kemarin. Katanya, asalkan itu digunakan untuk kebaikan negara, mereka siap."
"Kalian loby sendiri, nanti aku hubungkan ke beliau."
Spontan sorak riuh, membuat Izack senyum haru.
"Huu... keren dah! Abang kita satu ini."
"Butuh berapa, dan spek yang seperti apa."
"Tapi yang jelas, mereka minta pertanggung jawaban laporan aktivitas kalian di lapangan. Termasuk video, dan laporan tertulis beserta gambar. Karena tentu saja donor ingin melihat dampak nyata dari bantuan mereka."
"Atau... kalian bisa lakukan kerjasama dengan fakultas kehutanan di masing-masing daerah. Kita akan fasilitasi dengan drone yang ada. Lalu suarakan fakta itu ke lapangan, sambil komunikasikan itu ke teman-teman CAPN agar melakukan kajian demi kajian jika sebuah perusahaan sudah melakukan kerusakan parah di tiap hutan."
"Harapannya itu tersampaikan, selain ke publik juga ke tingkat pembuat kebijakan."
"Kalian yang bermain sosial media, kawal terus suara mereka –teman-teman dari lapangan."
"Jangan sampai isu kita ditenggelamkan buzzer bayaran," tegasnya.
"Kalau suara kita kabur, kerjaan kalian di lapangan sia-sia."
"Siap, Bang," jawab mereka kompak terdengar dari layar monitor.
"Oke, begitu saja?"
Spontan rise hand bermunculan satu peratu. Pertanda suara-suara mereka bermunculan.
Izack menyimak satu persatu tanggapan mereka.
Sesekali ketukan pintu datang dari ruangannya, Izack hanya memberi isyarat untuk meletakkan laporan mereka.
***
Hingga di siang menjelang sore, Chika yang masih di kamar menjawab panggilan Izack. Tapi ia menolak video call.
"Sudah makan?"
"Hm," suaranya terdengar diseret.
"Kenapa anak-anak kantor disuruh pulang? Mereka ini biar jaga kamu. Kondisi di luar lagi panas, Non."
"Hm, aku tahu."
Karena video nggak segera dibuka, izack protes.
"Hei, kenapa nggak kamu buka layarnya?"
Chika yang tengah nungging di atas kasur, terpaksa menerima video call.
"Kenapa kamu?"
"Perutku sakit," jawabnya nyengir, menenggelamkan wajah.
"Siang sudah makan belum?"
Chika kembali angkat wajah, dan meringis.
"Ck! Nah, kan... cari penyakit, kamu," ucapnya menghentikan tangannya membuka lembaran kertas. Ia menatap dalam. Rautnya datar, namun terlihat sayang.
"Ayo, aku tunggu kamu makan sampai selesai, setelah itu minum obatmu."
Chika mendengus. Perlahan bangkit, dan meninggalkan ponsel yang tertutup begitu saja di atas kasur.
Izack tak kurang akal, ia menyalakan cctv setiap ruangannya. Dan lega saat melihat gadis itu berjalan, --meskipun sambil membungku kesakitan menuju meja makan.
Gadis itu tak langung makan, hanya memandangnya cukup lama. Lalu kembali menelungkupkan wajahnya ke meja.
Melihat gerak-gerik istrinya yang lemah dari layar cctv. Ia segera mematikan monitor dan menyaut jaketnya. Rencana melihat proses renovasi gedung Mabes AMN malam itu pun terpaksa ia gagalkan.
***
Malam itu, Izack pulang lebih awal.
Ia berjalan cepat, tak sabar melewati lorong-lorong unit apartemen. Hingga jantungnya berdegup cepat saat buka pintu
Hening.
Televisi menyala lirih. Laptop terbuka. Tapi tak ada istrinya di sana.
Ia bergerak cepat, mengecek satu per satu ruangan. Lalu berhenti di depan pintu kamar mandi, dan mengetuk pelan.
Tak ada jawaban.
"Sayang?" panggilnya, --meski dengan nada asing di telinganya.
Dari balik pintu kamar mandi, suara gadis itu terdengar lemah.
Izack membuka paksa pintu itu. Chika kaget, --dari awalnya tertunduk, spontan mendongakkan wajah, menutup sebagian perutnya yang ia tekan.
"Kenapa?" wajah Izack panik.
Lelaki itu berlutut di depannya.
"Nggak apa-apa, kan?"
"Perutku sakit..."
Tanpa aba-aba lagi, Izack bangkit, lalu setengah menunduk menyelipkan tangannya ke bawah lutut dan menggendong perlahan menuju ke kamar.
Chika sempat meronta minta turun, tapi izack tak peduli. Justru ia mendekapnya makin erat tanpa kata.
"Aku malas makan karena takut perutku membesar, jahitan ini makin menusuk ke kulit, dan tambah sakit."
"Maaf-maaf..."
"Kenapa kamu nggak ngomong dari kemarin?"
"Kamu sibuk terus dari kemarin."
"Iya sesibuk apapun, kamu harus ngomong. Sayang..."
Sampai di kamar, ia membaringkannya perlahan, lalu mengecup kecil dahinya yang berkeringat dingin.
Chika langsung menghapusnya, Izack hanya mendenguskan tawa.
"Ampuuun..." kekehnya.
Ia kembali membuka ponsel dan mulai scroll nama.
"Aku panggilkan dokter, biar dicabut jahitan itu di sini," ucapnya sekilas.
"Istirahat dulu, aku bersihkan badan," katanya sambil melepas kancing kemeja.
Chika hanya mengamati lelaki itu dari belakang. Dengan tubuhnya yang ramping, nyaris sempurna bagi seorang lelaki idaman.
Hening.
Kamar terasa senyap, saat lelaki itu menanggalkan kemejanya dan masuk kamar mandi.
Sementara Chika masih menahan rasa nyeri yang menusuk, hingga akhirnya ia kembali tertidur meringkuk.
***
Lima belas menit kemudian.
Izack kembali dengan wajah segar berbalut handuk piyama. Chika terbangun, kaget saat lelaki itu di sampingnya mengelus perutnya di balik selimut.
"Masih nyeri?"
Gadis itu hanya mengangguk.
Ponsel Izack kembali bergetar, seolah memutus momen itu. Ia menarik nafas, berdiri, dan meraih ponselnya jeda singkat barusan.
Sebelum gadis itu beranjak pergi, Izack menahannya, lalu mencium kecil bibirnya dan tersenyum sembari mendengarkan suara di ujung sana.
"Halo," sapanya pada seseorang di ujung ponsel.
"Ya, Dido?"
"Kamu ke Mabes jam berapa, Bang?"
"Sory banget, Dido. Istriku sakit. Besok aja mungkin," ucapnya.
Ia melangkah keluar, mendapati Chika sudah duduk di sofa memegang buku. Ia datang mendekat, menawarkan segelas air minum untuknya. Chika hanya diam dan berhenti memandang isi gelas tersebut. Ia bingung.
"Buat apa?"
"Diminum,"
Chika mengangguk pelan. Ia mulai sadar, suaminya lebih sering melayani dirinya tinimbang dirinya melayaninya.
Ia segera meraih gelas dan menghabiskan dengan sekali tegukan.
Lelaki itu duduk tepat di sebelahnya, sengaja menyentuhkan bahunya pada bahu Chika. Ia tahu, itu membuat istrinya risih. Tapi sengaja menggodanya, menjadikan Chika terus bergeser hingga terdesak di sudut sofa, hingga senyum keduanya pecah saat gadis itu tak lagi bisa berkutik.
Izack meliriknya nakal, lalu bersandar begitu saja.
"Tolong, sebentar saja aku butuh tenangkan pikiranku," ucap Izack memejamkan mata.
"Lanjutkan aja bacamu,"
Chika melirik kepala Izack yang telah bersandar menekan galau.
Hening.
"Ada masalah apa, Bang?"
Lelaki itu masih memejamkan mata, namun tak menjawab sepatah katapun.
"Sebentar lagi temanku, dokter cewek datang."
"Ditanya apa, jawabnya kemana..." cetus Chika setengah kesal.
Izack menarik nafas sejenak membuka matanya.
"Proyek pembuatan film animasi anggarannya gede banget. Aku ingin ambil bagian investor, minimal 10% lah dari total 70%."
"Tapi tanggung jawabku di AMN, nggak bisa lari dari kondisi Mabes yang dalam tahap renovasi pasca kebakaran."
"Oohh..." Chika bengong campur nyengir.
Chika hanya senyum menundukkan pandangan. Lalu sorot matanya lurus.
"Nggak terbayang bagaimana hidupku yang kemarin berkutat masalah bagaimana besok aku bisa makan apa, dan bagaimana biaya semesteran."
Izack melirik sejenak, ia menepuk kecil dahinya. "Bangun!"
"Kamu sekarang, bukanlah kamu yang kemarin,"
Chika tersenyum hingga lolos terkekeh.
"Iya Bang, tapi pikiranku belum sampai segitu."
Izack menelan ludah. "Ya sudah, lanjutkan bacamu," ucapnya kembali memejamkan mata.
Tapi Chika justru menutup buku.
"Bang," ucapnya tersendat. "Meskipun aku nggak tahu apa yang kamu hadapi, tapi cerita aja."
"Toh lama-lama aku bakal belajar mempelajari itu."
Mendengar kata itu, Izack kembali membuka mata.
Sorot mata Chika keluar jauh.
"Jujur aja, aku belum percaya sama pernikahan ini."
Izack tak menjawab. Ia menarik tubuhnya, kembali duduk.
Ia bangkit, menarik jemari istrinya.
"Duduk di luar, yuk, ah," ucapnya.
Chika bangkit, mengikuti langkah Izack dan duduk di balkon. Langit gelap. Udara dingin menembus tubuh mereka. Izack membungkus tubuhnya dengan selimut yang tergeletak di sana, dan duduk tepat di sebelahnya.
"Mau dengar cerita?"
Chika menoleh, sedikit menjaga jarak. Izack hanya meliriknya sekilas, paham dengan bahasa canggungnya.
Izack berhenti sejenak sebelum akhirnya ia mulai berkata.
"Konon... Ada sepasang suami-istri yang lengkap dengan dua orang anak laki dan perempuan. Tapi, suaminya menginginkan satu anak lagi di saat karir istrinya naik."
"Namun si istri menolak hamil lagi, dengan alasan repot. Akhirnya mereka adopsi anak dari sebuah panti asuhan."
"Dia lah bocah lelaki usia 2 tahun yang selalu minta pulang."
"Dengan sabar suaminya mengantar tiap pagi, sebelum kerja ke panti. Hingga satu ketika, keluarga itu harus pindah keluar pulau karena tuntutan kerja suami. Si anak laki pun mulai tumbuh dan lupa pada keluarganya di panti."
Chika diam, menyimak.
"Hingga satu ketika, di saat ia harus mendaftar sekolah SMP, kaget melihat blangko yang tertulis: bahwa dirinya adalah anak angkat."
Chika mulai mengernyit, menatap senyum Izack yang pahit.
"Remaja itu mulai mencari informasi siapa dirinya dari keterangan pembantu di rumah, di saat ia kembali ke kota itu." lanjutnya "Lalu ia mulai mendatangi panti asuhan, dimana ia diadopsi. Tapi sayangnya pemilik panti menolak cerita."
"Tapi nggak kurang akal, si remaja itu mencari informasi tentang dirinya dari seorang mantan anak panti yang sudah berkeluarga."
Izack menarik nafas tipis.
"Anak remaja itu syok mendengar pengakuan, bahwa dirinya adalah bayi buangan di tempat pembuangan sampah akhir," ucapnya tersenyum pahit.
Chika mendelik, berpaling menatap Izack. Tapi lelaki itu hanya tersenyum, getir.
"Yang menemukan bayi itu adalah pemulung nenek tua yang mulai pikun."
"Hampir satu semester penuh, sepulang sekolah si anak remaja itu mendatangi nenek itu. dengan sabar mendengar cerita-ceritanya."
"Hingga satu ketika, si nenek pemulung bercerita bagaimana dirinya pernah menemukan bayi tampan terbungkus kardus di atas gunungan sampah, setelah melihat kepergian sepasang muda-mudi meletakkan kardus itu, sementara si perempuannya menangis."
"Sejak itu, remaja tersebut tak pernah datang lagi ke lokasi itu. Hingga mendengar kabar, si nenek telah meninggal."
Izack menoleh, menatap wajah Chika yang basah.
"Hei, kenapa nangis."
"Nggak apa, terus??"
"Sejak itu, remaja tersebut mulai limbung."
"Ia tak lagi menginginkan hidup. Bahkan beberapa kali mencoba melarikan diri dari kehidupan."
Suara Izack tercekat. Ia menunduk sebentar. Chika meraih tangannya.
Izack kaget dengan ekspresi itu. ia membalas mengeratkannya.
"Jangan bilang kalau itu kamu, Bang?" suaranya tersendat.
Izack hanya senyum.
"Beneran?" tanyanya dengan air mata yang berjatuhan tanpa ia minta.
"Hei... aku cerita tentang seseorang. Kenapa kamu yang nangis?"
"Oke, lanjut."
"Untung dua orang kakaknya support."
"Mereka membawanya ke psikolog. Lalu perlahan pulih, meskipun belum sepenuhnya." Izack menarik nafas tipis.
Udara malam semakin dingin.
Dengan sedikit gerakan ragu, tanpa ragu Izack memeluknya erat.
"Hingga satu hari ia dipertemukan abang pemilik kios foto copy, --tempat dimana ia nongkrong selepas pulang sekolah."
Izack tersenyum samar. "Abang foto copy itu orangnya baik, dia sering menasehati si anak remaja untuk tetap melanjutkan hidup,"
"Tahu remaja itu bisa dipercaya, abang fotokopi itu menawarkan dirinya untuk bekerja dengannya."
"Berkat kerja kerasnya, si abang fotokopi memberikan kepercayaan untuk mengambil alih bisnisnya dengan sistem bagi hasil di saat ia harus pulang kampung."
"Lalu saat kuliah, bisnisnya ia kembangkan di kota itu. Mendirikan toko buku kecil-kecilan, lalu mengembangkannya jadi penerbitan buku."
"Lambat namun pasti, bisnis itu berjalan lancar dan menjadi perusahaan yang dipercaya banyak orang."
"Dan sekarang... perusahaan itu ada di sana,"
Chika menatap lama gedung itu, lalu menoleh pada Izack, mengusap air matanya yang jatuh bergulir.
"Aku... Jadi penasaran, seperti apa orangnya," ucap Chika setengah menyelidik.
"Orangnya masih berdiri di sebelah cewek yang hidupnya merasa paling menderita sedunia," jawab Izack tersenyum nyengir.
"Jadi beneran itu kamu?" tanyanya melotot.
Ia pun menghambur dalam pelukannya, dan menangis sedu sedan.
Izack menyambutnya dengan senyuman lebar.
Ia menarik nafas panjang di udara saat gadis itu dalam dekapannya.
"Kenapa jadi kamu yang nangis?"
"Maaf... selama ini aku selalu berpikiran buruk tentangmu," ucapnya dalam dada.
Izack menarik tubuhnya, menatap lebih dekat dan mengusap air matanya.
"Itulah mengapa, aku langsung menikahi perempuan yang aku sukai."
"Jangan lagi merasa paling menderita, sayang... karena memang begitulah perjalanan hidup. Tidak ada yang sempurna dari awal hingga akhir."
Perlahan Chika sadar, siapa yang dia peluk. Ia berusaha melepas, tapi Izack justru mengeratkan pelukannya.
"Kita ini sama-sama terlahir dari keadaan yang kurang beruntung."
Chika menggeleng, mengusap air mata yang tersisa.
"Jauh mendingan aku tinimbang kamu, Bang."
Izack menyibakkan rambutnya yang basah air dari pipinya, dan menatap dalam.
"Berapa lama aku menunggumu, sampai akhirnya aku melihatmu di perempatan jalan depan kampus."
Lagi-lagi pelukan Chika mengendur dan ingin melepaskan. Tapi Izack tak mengijinkan, dan justru menatapnya lebih dekat.
"Aku benar-benar ingin hidup bahagia denganmu, sayang," bisiknya. "Jadi, tolong. Jaga kata-katamu." ucap Izack menyentuh bibirnya ke bibir Chika. Pelan, tapi lembut, membuat Chika memejamkan mata perlahan saat Izack mulai melumat bibirnya yang tipis dan ranum.
Tanpa berkata lagi, Izack bangkit, menyelipkan kedua tangannya dan menggendongnya masuk. Dan Chika mulai terbiasa dengan gendongannya, merasakan hangat tubuhnya begitu nyaman.
Langkah Izack pelan, menuju kamar. Masih menatap dengan lembut sambil menggelitiki dengan ciuman layaknya anak kecil, membuat ketawa mereka pecah saat masuk kamar yang hangat dan sepi
"Sudah, ayo tidur. Sudah larut," ucapnya.
Ia letakkan tubuh itu ke dalam selimut, lalu ia menyusul hingga keduanya tidur dalam pelukan.
Malam itu...
Untuk pertama kalinya Chika merasa aman dalam peluknya.
Perlahan ia menghapus kenangan buruk dalam dekapnya yang begitu damai.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar