Minggu, 24 Mei 2026

Bab 22. Harga Diri di Atas Kaki

Sejak beberapa menit yang lalu di dalam mobil, Chika lebih banyak diam. Pikirannya terlalu riuh. Karena setiap pilihan seolah jebakan.

Pulang ke rumah paman, resiko paling ngeri. Pulang ke kos. Jelas, biaya hidup menghadang, di saat tubuhnya lemah.

Dan dunia seakan gelap seketika. Rasa nyeri itu kembali menekan perut, membungkuk menekan rasa sakit di ulu hati.

Tangan Izack sigap, terulur melindungi kepala dari benturan.

"Kenapa?" tanyanya berpaling sekilas.

Diam. Tak ada jawaban.

Sesaat gadis itu kembali menarik tubuhnya. Izack menarik tangan perlahan.

"Bang... Jadinya biaya rumah sakit, gimana?"

Alih-alih menjawab, Izack justru tersenyum tipis.

"Ngomong-ngomong, pamanmu kerja di mana?"

"Cuman petani biasa."

Izack manggut-manggut.

"Maaf, sudah banyak merepotkanmu Bang..." ucap Chika ragu. "Mestinya tadi kamu bisa ngobrol lama sama dia."

Izack hanya tersenyum tenang. "Mimpi apa aku semalam, dapat kata ucapan kata maaf."

Chika melengoskan wajah. Antara rasa malu, kesal, geli dan benci.

"Bang, tolong jawab yang sejujurnya. Berapa semua biaya transport, rumah sakit... sampai yang mungkin kamu anggap sepele, mengganti kanopi pecah."

Izack menoleh, lalu tertawa kecil.

"Cara berpikirmu itu terlalu berat, Non," jawab Izack tersenyum santai. "Bayar dengan hatimu aja..."

Degg... nafasnya seperti tersentak, lambat dan menakutkan.

Gadis itu menggigit bibir, lalu mengulasnya hingga basah. Kebiasaan lama saat ia tegang dan khawatir.

"Aku tanya serius, Bang."

Izack berkecap makin gemas. "Memangnya aku nggak serius?"

Mulutnya melongo, gelagepan sekaligus grogi.

"Please, jangan bercanda, Bang."

"Ya sudah, kalau aku ajukan proposal nikah aja, gimana? diterima nggak?" senyumnya melirik nakal.

Tak bisa dihindari, nafasnya terasa sesak menahan degup jantung yang kalah dengan logika berpikirnya.

"Kamu... waras kah, Bang?" liriknya.

Spontan Izack tertawa cekakaan.

"Chika... Chika."

Sekilas Izack melirik dengan ujung matanya, menyisakan tawa geli.

"Aku nggak gurau, Bang. Tolong! Daripada kamu antar kamu ke rumah pamanku, mending kamu turunkan aku di sini, kita buat kesepakatan."

"Kesepakatan apa?"

Sejenak Chika terdiam lama, seolah menghitung dengan pikirannya sendiri.

"Begini... aku kan hutang Bank pakai sertifikat rumah orang tua. Nah, kamu beli aja rumahku, nanti sisanya berapa kasihkan ke aku. Kita lunas."

"Sama pemiliknya ya?"

Chika berpaling, melotot sambil bersungut. Spontan Izack kembali tertawa geli.

"Tolong Bang, aku nggak gurau."

Izack menggeleng geli, mebayangkan bagaimana rumitnya pikiran gadis itu.

"Kalau aku bilang 'aku suka kamu, sejak pertama kali melihatmu'. Apa kamu percaya?"

"Enggak!"

Izack menahan tawa.

Raut Chika makin tegang, merasa disepelekan. "Jika begitu, ini sama halnya kamu membeliku, Bang," protesnya mendadak berkaca-kaca.

Izack kaget saat tahu gadis itu mengusap kesal air matanya. Lalu menarik nafas pelan.

"Ampun Chika... kenapa pikiranmu bisa sejauh itu."

Sesekali pandangan Chika tertunduk, diam. Tapi ia tak mau menarik kata-katanya.

"Jujur, aku nggak punya kalkulasi soal itu semua, Chika..." ucapnya tenang. "Aku juga nggak ada niat membeli perasaanmu."

"Yang ada saat ini hanya satu: aku suka kamu."

Duarr...

Chika kembali menangis, ia kesal kenapa dirinya serapuh itu. Izack menarik tisu di depannya, dan memberikan pada Chika. Gadis itu menyaut kasar, tapi Izack memahami itu.

Saat itu mobil melaju di jalanan lengang, lampu-lampu pinggiran kota menuju pedesaan mulai senyap.

Tahu Chika tak berkutik lagi, Izack menepiskan laju kendaraannya ke pinggir badan jalan dan masuk ke area parkir sebuah Rumah Makan.

"Makan dulu aja ya, kita ngobrol di dalam."

"Jangan dipikir berapa, aku sudah lapar sejak tadi," ucapnya membuat Chika cepat-cepat mengeringkan air mata.

Saat itulah kendaraan berhenti di area parkir.

Menyadari wajah gadis itu sedikit bengkak, Izack berpaling menatap tenang.

"Hei...! Ususmu sudah dipotong 10cm loh. Kurangi overthingking mu, kasihan sama badanmu."

Tak lama kemudian Izack membuka pintu, lalu berputar cepat membuka pintu untuknya.

Lelaki itu menyambutnya di depan.

"Ayo, ngobrol di dalam aja."

Dengan sedikit memaksa, Chika menurunkan kaki kesal, membuat tubuhnya sedikit tersentak.

"Akhh!!" pekiknya membungkuk.

Izack melengos menahan senyum samar. Mencoba memahami bagaimana keras kepalanya perempuan ini yang tak sadar, bahwa tubuhnya butuh gerak lamban.

"Hati-hati..."

"Jangan sok lembut!" tukasnya kesal saat turun.

Ia berjalan lambat memasuki resto. Dan Izack mengiringnya pelan dari belakang. Seolah siap menangkap tubuhnya yang terlalu lemah.

Malam kian terasa pekat, dan Resto itu terlihat lengang juga sepi.

Di bawah temaramnya bohlam kuning keemasan, angin malam menghembus perlahan. Mereka duduk di bawah payung jerami dan meja bundar. Chika sadar, kehadiran lelaki di depannya membuat dirinya canggung.

"Bang... apa susahnya jawab berapa total semuanya. Kira-kiralah, atau... biaya rumah sakit tadi," ucapnya putus asa.

Izack menarik nafas panjang, lalu menatap wajah Chika cukup lama.

"Kalau hutangmu lunas dengan cara aku membeli rumahmu. Lalu... waktu, hati, dan pikiranku selama ini mau kamu bayar berapa?" tatap Izack serius.

Glekk...

Chika glagepan, melongo, bingung. Ia tahu bahwa lelaki di depannya ini bukan lelaki biasa. Dan waktu yang ia pertaruhkan untuknya selama seminggu ini bukanlah gratis. Namun itu semua rasanya konyol. Seperti halnya ia harus membayar gunung.

"Maksudnya?"

Kini Izack meletakkan kedua tangannya ke atas meja bundar, tepat menatap mata Chika di depannya.

Hening.

Bukannya jawaban, namun justru mata Chika kembali berkaca-kaca. Izack hanya tersenyum tipis, namun kali ini tatapannya lebih serius, lebih tenang, dan lebih dewasa.

"Aku ajak kamu nikah, nggak ada kaitannya sama biaya Rumah Sakit. Bagiku, itu tanda bahwa aku serius sama kamu."

"Tapi kalau pikiranmu kemana-mana, itu hakmu,"

Duarrr...

Chika menelan ludah. Ia tak tahu harus berkata apa. Tapi perlahan rasa nyeri itu seolah rontok, lurun, turun hingga ujung kaki berganti hawa hangat yang menyelimuti sekujur tubuhnya terlindungi.

Kali ini Izack menarik nafas pelan, menatapnya dengan tatapan lembut.

"Sudah lama aku ingin datang ke kota Tayoga, sekadar menyapamu."

"Tapi pekerjaan di kantor dan organisasi, membuatku tak bisa berkutik selama dua tahun belakangan."

"Ditambah emailku tak pernah kamu balas satu pun,"

Chika gelagepan, tak tahu harus berkata apa.

"Hari gini mungkin internet bukan barang mahal, Bang," jawab Chika sekenanya, sebagai sisa pertahana selama ini. "Tapi tidak, bagi orang seperti kami."

Tak lama menu pesanan datang se meja penuh.

Tiba-tiba saja sudut mata Chika dikejutkan oleh tiga orang teman kos nya yang masuk Resto. Ia mengamatinya cukup lama, memastikan bahwa itu memang mereka. Izack pun ikut menoleh kilat.

Tiga orang perempuan dengan wajah glowing dan garis tebal lip gloss itu, berjalan makin mendekat. Mereka berjalan melewati jalanan setapak di sisinya, membuat Chika tak lagi bisa menghindarkan wajahnya saat salah satu dari mereka tahu bahwa itu dirinya.

"Halo, Chika."

"Kamu nggak pulang berhari-hari, seperti ini rupanya."

Chika senyum gelagepan sedikit terpaksa. "Aku..."

"Dicari pak kos, loh."

Cewek di sebelahnya berbisik. "Hei... jangan buat malu. Dia lagi kerja."

Izack yang mendengar percakapan itu, spointan mendelik, menarik nafas kesal.

"Ada urusan apa mbak?" suara Izack tenang.

Tapi perempuan itu tak menggubris kata-kata Izack.

"Hahaha..." tawa mereka terkekeh, lalu berbisik, mengecil. "Daripada mencucikan baju kamu, Rin. Mending bekerja seperti ini, fee nya lebih banyak."

"Iya lah?!" jawab cewek satunya keras.

Chika tertunduk malu, menekan air matanya yang menggenang, lalu mengusapnya kesal merasa ditelanjangi.

Sisi lain ia sadar, ia tak bisa marah. Karena dari merekalah penghasilan mencuci baju ia dapatkan, sekedar tambahan untuk membeli buku dan peralatan kebutuhan sehari-hari.

"Maaf, Non... calon istriku ini nggak se-rendah yang kalian pikirkan."

Chika mendelik.

Izack menatap mereka satu persatu. Tatapannya datar, tenang, namun justru itu yang membuatnya terasa tajam.

"Kalau kalian terbiasa menilai orang dari fungsinya, bukan dari martabatnya... jangan bawa itu kemari."

Ia berhenti sejenak, seolah memberi ruang sunyi yang membuat kata-katanya turun perlahan.

"Dan jangan pernah bicara seperti itu lagi dengan perempuan di depanku."

Mulut mereka hanya komat kamit menahan ledakan emosi. Dan salah satu dari mereka spontan mengambil sebilah kayu di sekitar. Tapi seorang lelaki yang kebetulan lewat di belakang mereka, langsung menahan kuat kayu itu.

"Kalau mau buat onar bukan disini tempatnya, mbak... " kata lelaki itu.

Mereka melengos, "Ayolah Rin!" ujarnya kesal, membanting kayu sembari pergi meninggalkan Resto.

Begitu mereka pergi, tatapan Chika tampak nyeri membayangkan sekapan lelaki yang ada di depannya.

"Lelaki seperti apa, sebenarnya dia?" pikir Chika menghela nafas tegang.

"Jangan-jangan bukan temannya, melainkan dia sendiri?"

"Jangan-jangan... beginilah cara dia menggoda perempuan –membuat mereka merasa spesial, lalu ditinggalkan setelah puas?"

Chika meringis ngeri, menatap Izack yang baru sadar dirinya ditatap.

"Ampun, Chika... kamu harus waras!" batinnya berontak.

Izack tersenyum kecil, ia melirik Chika yang ekspresinya seperti orang tersekap.

"Pasti pikiranmu sudah kemana-mana," katanya menyelidik.

"Kamu pikir aku orang sejenis itu?"

Chika hanya tersenyum pias setengah terpaksa dan gugup.

"Omongan cewek-cewek seperti itu tuh harus segera dibungkam, apapun caranya."

Namun Chika tak percaya begitu saja.

"Tapi maksud mereka bilang --Booking hotel?" itu apa?!"

Spontan Izack tertawa geli mendengar kepolosan gadis itu.

"Chika... Chika,"

"Ah, Sudahlah. Bahas yang lain aja."

"Tapi, beneran kamu kadang mencucikan baju mereka?"

Gadis itu mengangguk, "Bukan kadang, hampir tiap hari."

Izack melotot, lalu menghela nafas melengoskan wajah, seakan lelah membayangkan beban berat yang ia pikul.

"Benar aja, kamu sakit-sakitan begitu,"

Chika kembali menatap tenang. "Bang! Hari gini, orang seperti kami kalau ingin mendapatkan pendidikan tinggi harus banting tulang. Kaki buat kepala, kepala buat kaki."

"Mau nangis, mau marah, siapa yang peduli!?"

"Makanya ketawa aja aku dengar kalian ngoceh sepanjang hari soal rakyat," protesnya, membuat Izack spontan geli melihat ekspresinya spontan berubah total, dari lemah dan rapuh, mendadak kuat dan bertaring.

Hening.

Izack menarik nafas dalam dan menghempas lepas. Ia tak ingin meneruskan obrolan yang bakal menjadikan pertengkaran.

"Kenapa nggak bajuku sekalian aja yang kamu cuci?"

"Iya, buat bayar hutang," jawabnya datar.

"Nggak apa-apa, kalau seumur hidup."

Chika melotot. "Maksud??"

"Ya nggak bisa begitulah, harus ada penghitungannya."

Spontan Izack menyemburkan tawa lebar, membuat gadis itu makin kesal atas ketidak pahamannya..

"Jangan terlalu serius lah, Non."

Chika mematung. Menatap diam. Tapi Izack hanya tertawa menunduk.

"Jadi, beneran kamu ikut kerja serabutan kemana-mana?"

"Ya beneran lah, Bang..."

"Lalu waktu belajar, kuliah, menulis, kapan?" ucapnya menarik nafas berat. Ia menatap wajah polos itu, membuat Chika kikuk. Namun sesaat menu pesanan datang.

Chika melongo saat pramusaji meletakkan semua hidangan satu meja penuh.

"Kamu ada janji sama teman-temanmu, Bang?"

"Iya, teman spesial," jawab Izack.

"Siapa? Orang AMN?"

Izack tak menjawab, jemarinya sibuk scroll pesan masuk. Memeriksanya sekilas, lalu menutupnya dan pergi untuk mencuci tangan.

Saat itu sorot mata Chika justru keluar. Pandangannya tertuju pada gerak-gerik sosok pemulung tua dan bocah lelaki berpakaian lusuh, mengais sampah di luar pagar.

Melihat sorot mata Chika yang tak berkedip, Izack menoleh, mengikuti taapan mata Chika.


Chika menggeleng. Sejenak ia menatap menu di depannya. Namun gusar, tak enak pada lelaki di depan. "Maaf, Bang... punyaku yang mana?"

"Itu," tunjuk Izack dengan dagu.

"Semua?!!"

"Serius?"

Izack yang sudah tak sabar menyendok dan mencicipi, tak begitu paham dengan gerak-geriknya.

Chika segera beranjak.

"Mau kemana?"

"Pinjam nampan."

"Buat?"

Chika menunjuk sosok di luar.

"Maksudnya??"

"Aku kasihkan ke mereka."

Spontan Izack menegakkan punggung.

"Terus, kamu?"

Izack menelan sisa makan di mulut, tenang. "Tapi kamu butuh makan, Chika..."

"Iya. Tapi aku nggak perlu mencuri untuk sekedar makan, Bang," baliknya melotot. "Tapi anak itu?!!"

Jarinya lemas meletakkan sendok.

Tegang.

Izack menurunkan pundak, pasrah. "Ya sudah, kamu duduk aja," ucapnya.

Lelaki itu menjentikkan jari memanggil pramusaji. Lelaki muda datang dengan celemek putih, lau Izack berpesan kilat dan pergi lagi.

Chika nyengir tak enak. Ia kembali duduk.

"Maaf..."

Izack tak merespon. Rautnya datar, sulit ditebak lahap menikmati makan malamnya. Tapi mata Chika cemas, khawatir sosok itu keburu pergi.

Izack tetap tenang saat pramusaji datang. Chika segera mengambil nampan dan menatanya, lalu siap berdiri membawa.

Lelaki itu kembali meletakkan sendok.

"Letakkan," ucapnya.

Chika sempat takut mendengar suaranya. Lelaki itu segera berdiri dan membawanya keluar. Sementara Chika berjalan di belakangnya.

"Demi kamu, apapun aku jalani, Non..." ucapnya lirih setengah kesal menahan makan malamnya.

Lelaki itu minta tukang parkir memanggilkan lelaki pemulung itu yang sudah berlalu.

Dalam sekejap mereka berdua datang dengan raut bingung, sekaligus lapar yang tertahan melihat menu di nampan. Mata si bocah langsung bersinar terang.

Tukang parkir datang membawa meja kecil, dan Izack memintanya untuk cuci tangan sebelum sentuh makanan.

Terlihat jelas wajahnya yang kusut, kotor dan berminyak langsung terang menghadap makanan. Sorot mata si bapak spontan berkaca-kaca.

"Mari makan dulu, Pak," ucap Chika.

"Terimakasih, mbak..."

"Terima kasih ke dia, Pak," Ibu jarinya menunjuk Izack, yang ternyata sudah tak di sampingnya lagi.

"Semoga Allah mudahkan semua urusan mbak dan mas nya, ya..."

"Amin... Terima kasih. Pak..."

Chika duduk di belakang si bocah laki sambil mengusap-usap pundaknya.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar