Tiba-tiba seseorang yang tengah berdiri, nyletuk.
"Itu orang... Gila! Kenal juga enggak,"
Seseorang berkata lirih, "Begitu ya... Bos muda yang sudah nggak butuh uang."
"Ada udang di balik bakwan, itu mah..." lirih Leo, teringat tatapan Izack kemarin di kantin.
Chika mendekat, ia berusaha merebut tumpukan buku yang dibawa Izack.
Tapi melihat ekspresinya yang sesekali membungkuk, menahan perutnya nyengir kesakitan, Izack menahan buku tersebut.
"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan, kamu Bang," tatapnya tajam.
Hendrik yang hendak melangkah pergi kaget, menoleh.
"Kamu ini aneh, Chik. Harusnya berterima kasih sama Izack, bukannya memarahi dia."
"Siapa suruh kamu ambil puing-puing itu, Bang?" ujarnya lagi dengan nafas tersengal.
Hendrik menelan ludah, meletakkan kedua tangannya ke pinggang.
"Kamu ini keras kepala ya. Itu pak kosmu, kalau nggak disumbat uang sama Izack. Bakal habis jadi tontonan mereka. Ngerti kamu?!" bentak Hendrik.
"Biarin! Aku sudah biasa," tantangnya menahan nafas, sejenak menekan perut, sedikit nyengir.
Izack melengoskan senyum, kehabisan akal.
"Daripada mengganti kanopi yang jelas-jelas sudah rusak dengan uang sebanyak itu," ujarnya gemetar campur marah.
"Gila!" cletuknya lirih.
"Sekarang kan aku hutang ke dia, Bang?" suaranya menekan lirih.
Hendrik mendesis dengan lirikan kesal,
"Pantas nggak punya teman, kalau watakmu keras begitu," pupus Hendrik malas berdebat.
Ia sadar, dirinya sedang menjadi tontonan orang-orang.
Izack hanya tersenyum samar, menatap kakinya sendiri.
"Kapan aku minta ganti uang itu, Non...?" suaranya tenang, tapi dalam.
Chika diam menarik nafas panjang, seakan tak ingin terbawa dalam suasana tenang yang Izack bangun.
Tapi... ada sesuatu yang jauh lebih menyita perhatiannya lebih.
Perutnya makin melilit. Ia membungkuk, menahan perut.
"Sudah, tolong kasih nomor rekeningmu aja, Bang," Chika tak mau bertele-tele.
Membaca gerak-gerik Chika, Izack mulai janggal. Tapi melihat sikapnya yang keras kepala, ia hanya diam mengikuti apa yang gadis itu mau.
"Okey," Izack menjulurkan alis.
Ia keluarkan ponsel.
"Kasih nomor teleponmu, aku kirim via chat," pinta Izack tersenyum samar.
"Aku nggak punya nomor chat, Bang."
Izack menarik nafas sambil melengos.
"Jangan bohong... mana ada penulis freelance nggak punya nomor chat," ucap Izack tenang.
"Nggak percaya ya sudah, itu hakmu."
Lagi-lagi Izack tersenyum. "Ya sudah, minta nomor teleponmu aja."
"Aku nggak ingat nomorku, karena sering ganti nomor," jawab Chika.
Di detik rasa nyeri makin menjadi, Chika tak mau berpikir panjang.
"Oke, aku ambil kertas dulu sama bolpen," katanya, langsung berbalik pergi. Sesekali lari, sesekali membungkuk menekan perut.
Melihat pemandangan itu, Izack menatap miris. Namun dengan sikapnya yang benar-benar tak bersahabat, membuatnya berpikir dua kali untuk menolong lebih jauh.
Ia menunduk pada buku yang ada dalam gendongannya.
"Terus gimana ini?" tanya Izack, menoleh Hendrik.
Seorang penghuni kos cewek yang kebetulan keluar membuang sampah, melihat Izack.
"Naik aja nggak apa-apa, Bang."
"Serius??!"
Izack sempat ragu. Seumur-umur jadi mahasiswa, rasanya baru kali ini ia bakal masuk ke kost perempuan. Dan teringat wajah gadis itu menahan sakit, niatnya makin kuat.
"Hm, ya. Nggak apa-apa kok," jawab Hendrik.
"Ayo, bareng sama kau lah,"
Hendrik yang sudah paham maksud temannya, langsung mengikuti langkah Izack masuk ke dalam, dan mulai menaiki tangga.
"Mantappp...! Trikmu memang joss."
"Dari kemarin aku tahu kamu mau dekati dia, tapi nggak bisa kan?" ujar Hendrik berbisik lirih di belakangnya.
"Jangan salah, aku cuman mengikuti kehendak dia aja," wajah Izack menyimpan tawa.
Begitu sampai di lantai dua, terlihat diujung Chika sedang jongkok, menenggelamkan wajah.
Melihat kedatangan dua orang seniornya yang tiba-tiba, ia kaget langsung berdiri.
Tapi Izack yang sudah membaca gelagatnya, hanya diam. Sementara langkahnya semakin mendekat.
Dan Chika yang tak mau terbaca kelemahannya, segera berdiri, mendesak pintu kamar dan masuk dengan keringat bercucuran di sela-sela rambutnya yang tergerai.
"Di sini kamarmu?" tanya Hendrik berdiri di depan kamar.
"Hm, iya Bang," jawabnya terdengar lemah.
Dan kini wajah gadis itu mulai tampak pucat, ia berdiri –menoleh bingung melihat pemandangan kamar yang masih berantakan.
Lalu dengan cekatan ia memunguti barang-barangnya yang tercecer di kamar.
Sebuah celana dalam ikut terjepit di tangannya. Izack dan Hendrik yang masih berdiri di depan kamar, spontan melengos menahan tawa, melihat Chika kelimpungan.
Sesaat ia sadar dengan senyum dua lelaki itu, melorot pada tangannya. Spontan ia jejalkan ke lemari, dengan wajah dingin pura-pura tak mengerti.
"Berat ini," ujar Izack menggoda, menggendong.
"Oh, letakkan situ aja, Bang," tunjuknya pada bibir pembatas teras yang hanya setinggi perut orang dewasa.
Izack melirik tempat yang dimaksud, lalu menggeleng pelan.
"Nanti jatuh lagi kena kepala temanmu," gumamnya santai.
Chika hanya menanggapi dengan senyum pasrah.
"Ya sudah di situ aja," tunjuk Chika pada ambang pintu.
Hendrik langsung merebut buku dari tangan Izack. "Repot amat, kamu," katanya.
"Cowok boleh masuk, kan?" tanyanya.
Tanpa menunggu jawaban, Hendrik langsung melangkah masuk dan meletakkan tumpukan buku di sebelah pintu.
Matanya langsung tertuju pada tulisan tangan yang tertempel di dinding.
Kita adalah pemilik masa depan, kencangkan ikat pinggang untuk menang.
Kita sejajar dengan yang lain, mengapa mesti takut?
Tegapkan punggung untuk melihat segalanya lebih luas dan dalam.
Katakan: Aku Pasti Bisa!
"Kamarnya anak cerdas tuh emang beda, ya..." gumam Hendrik setengah kagum, ia menoleh pada Izack yang masih berdiri di depan kamar.
Chika tak bisa berkutik. Ia gugup melirik sekitarnya yang masih berantakan. Tapi Hendrik terlanjur masuk.
Di luar, beberapa penghuni kost berlalu-lalang, sesekali melirik penasaran ke arah mereka. Kamarnya yang sempit membuat Izack --yang masih berdiri terpaku di depan pintu—menahan diri tidak masuk.
Ia melirik Chika.
"Mana nomor teleponmu, Non?" tanya Izack buru-buru mengeluarkan ponselnya.
Perhatian penghuni kos tertuju pada Izack, lelaki itu masih berdiri tenang di depan kamar.
Wajahnya yang bening, rambut yang tersisir rapi, dan postur tinggi tegap membuat beberapa orang sengaja lalu-lalang di sampingnya.
Beberapa kali senyum itu dilemparkan ke arahnya, tapi Izack sengaja tak membalas, dan pura-pura tak melihat. Sementara pandangan itu justru tertahan pada Chika yang mulai meringkuk diam di lantai.
"Chika, boleh dong... kenalkan seniormu," celetuk seorang cewek memakai tank top genit.
Gadis itu mengangkat punggung sebentar, lalu menoleh dengan wajah pucat.
Izack yang sudah tak nyaman, hanya menarik nafas pelan, lalu mendesak masuk ke kamar.
"Temanmu kok serem-serem, Non," gumamnya menunduk, menatap Chika.
Hendrik menoleh sejenak, tersenyum kecil. "Makanya, kalau punya wajah jangan ganteng-ganteng. Repot kalau ketemu cewek seperti itu,"
Chika menghela nafas, mengangkat wajahnya sekilas pada Izack yang berdiri di depannya.
"Tulis nomor rekeningmu disini, Bang," katanya dengan tangan gemetar.
Izack menatap cukup lama, alisnya berkerut curiga.
"Sudah... mana Hpmu, aku catat sendiri aja."
Dengan tenaga yang tersisa, Chika memaksa tubuhnya meraih tas, lalu keluarkan Hp batangan dan diberikan pada Izack.
"Aku nggak hafal, Bang," suaranya serak.
Dan kini, Izack jongkok tepat di depannya. Sementara gadis itu terus mengusap wajahnya, menatahn nyeri.
"Kenapa orang ini nggak pulang-pulang?" pikirnya kesal.
Hendrik yang masih berdiri, pura-pura cuek menunggu interaksi keduanya, iseng membuka-buka buku.
Kini Izack duduk bersila di depan gadis itu.
Untuk yang terakhir kali, gadis itu masih bisa menegakkan punggungnya. Dengan nafas tersengal, ia menunggu Izack mencatat nomor ponsel pada layar kecilnya.
"Terima kasih," gumam Izack mengembalikan.
Izack terdiam cukup lama menatap Chika yang kembali menenggelamkan wajah.
"Lalu... tugas kuliahmu gimana?" tanyanya lagi.
Senyap...
Izack mengerutkan alis, was. "Kamu sakit?"
Chika masih berusaha senyum, tapi senyumnya makin terpaksa.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya menekuk ke pangkuan. Tangan kirinya mencengkeram jari kaki yang kini telah membeku, seakan tengah menekan sesuatu yang keras dari dalam.
Tatapan curiga dua lelaki itu sempat bertemu, keduanya tegang.
Mata Hendrik tertuju pada Chika yang sudah tak berkutik, ia meringkuk kaku dan dingin.
"Kenapa dia, Bro?"
Hendrik langsung jongkok di depan Chika, mencoba menyentuh pundaknya.
"Chik! Chika!!"
Tak ada jawaban. Hanya tubuh yang gemetar halus dan nafas tak beraturan.
Hendrik menyibakkan rambutnya yang menenggelamkan seluruh wajahnya. Ia ikut menunduk, mencoba mendengarkan suara kecil dari dalam.
Melihat reaksi Hendrik, tatapan Izack tak berkedip, makin was.
"Chik! Chika!!" suara Hendrik pelan.
Refleks tangan Izack menyentuh jari kaki.
"Dingin banget, Hend,"
Ia langsung beranjak.
"Sudah! Ayo bawa ke Rumah Sakit."
Tanpa berpikir panjang, Izack kembali membungkuk, mengangkat tubuh itu. Ia kaget saat merasakan tubuhnya terlalu ringan dari perkiraan.
Bibirnya menggigit keras, menahan nyeri yang menusuk, saat tubuhnya terguncang dalam dekapan.
"Akhh!!"
"Sory, sory!" ucap Izack merapatkan gendongan, setenang mungkin.
Tapi jantungnya berpacu cepat. Antara takut, grogi sekaligus panik.
Sebelum menyambar tas milik Chika, Hendrik sempat menahan tatapan Izack sejenak. Seolah ada sesuatu yang membuatnya berat.
"Biaya, aku yang tanggung," ucap Izack tegas, membuat Hendrik melotot.
"Serius?! Tapi..."
Langkah Izack tegap, tapi penuh kewaspadaan di ruangan yang sempit melewati teras menuju tangga.
"Apa kamu nggak pernah makan, huh?!" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Setengah sadar Chika mendengar kata itu, tapi sudah tak mampu ia tanggapi, bahkan sekilas hanya melihat dagu Izack yang mengeras dan jakunnya naik turun.
Itulah pandangannya yang terakhir.
***
Izack berjalan cepat menuju tangga yang hanya cukup dilewati dua orang saat berpapasan.
"Sialan. Kenapa aku baru sadar?" pikirnya. Ia mendekap lebih erat.
Chika tersentak. "Akhh!!"
"Sory! Sory!!" ucap Izack panik.
Sesaat dua mata saling menatap. Sekilas, namun hangat.
Dan Chika mulai cemas saat kaki menuruni tangga. Ia khawatir jatuh. Refleks, tangannya mencengkeram bahu.
Tapi tatapan itu membuat dirinya merasa...
"Kamu aman, dalam dekapanku."
Sepanjang langkahnya yang ekstra hati-hati, pikiran melayang dimana naskah buku itu masuk ke penerbitannya.
Ternyata... inilah alasannya.
Izack menarik nafas dalam dan pelan.
Di lantai bawah, tampak Heni baru keluar dari kamar temannya, menatap mereka dengan wajah datar.
"Kenapa, Bang?!" tanyanya.
"Tolong bantu Hendrik, siapkan baju dia," suaranya tegas setengah memerintah.
"Hm?!" Heni menatap bingung.
"Mau aku bawa ke rumah sakit, tolong cepat!"
Langkah Izack tinggal dua anak tangga, tapi rasanya ingin segera lari...
"Oke," jawab Heni cepat.
Ia langsung berlari menaiki tangga, saat Izack sudah berjalan menuju pintu.
Hendrik yang berdiri di ujung tangga seketika minggir, memberi jalan.
Tiba-tiba saja terdengar cletukan sumbang dari lantai bawah.
"Haduh... lebay amat. Baru aja dimarahi, langsung sakit,"
Langkah Hendrik mendadak terhenti. Matanya melotot, menuruni tangga lebih cepat.
"Hei Non! Tahan kata-katamu, atau aku sobek mulutmu!" bentak Hendrik.
Gadis itu langsung beringsut masuk kamar, pura-pura tak mendengar.
Sementara tatapan cewek di sekitar, cuek saat Hendrik turun dari tangga.
Izack yang sudah berdiri di depan pintu, menoleh pada Hendrik yang masih melotot kesal.
"Hei... Tolong bukakan pintu mobil aja, cepat," tukas Izack tetap tenang, tapi dengan rahang mengeras.
Tatapan sinis beberapa orang benar-benar menusuk mata, tapi Izack mengabaikannya. Hendrik berjalan cepat menuju parkiran depan kamarnya. Ia segera memundurkan mobil, lalu segera keluar dari kursi kemudi dan berlari membukakan pintu belakang.
Izack yang tiba beberapa detik, langsung membungkuk dan meletakkan tubuh Chika ke jok belakang. Saat itulah wajah mereka nyaris bersentuhan, lebih dari sekedar kebetulan.
Begitu punggungnya menyentuh permukaan jok, tangannya mencengkeram, menjerit.
"Aaaakkkhhhh!!!"
Lelaki itu terkejut, panik.
"Maaf-maaf..."
"Oke-oke, secepatnya," ucapnya cemas.
Saat itu Izack menarik tubuhnya, dan menutup pintu pelan. Dan segera berlari menuju pintu kemudi.
Di seberang, teman-teman AMN hanya melongo melihat dua lelaki itu panik.
"Kemana, Bang?" tanya seseorang.
Izack tak sempat menjawab. Alisnya nyaris menyatu menekan langkahnya secepat mungkin.
"Rumah Sakit," jawab Hendrik sambil membuka pintu.
Dua orang lelaki itu akhirnya masuk bersamaan dan menutup pintu cepat.
Di sela-sela nafasnya yang terputus, rintihan kecil terdengar.
"Bang... ke puskesmas aja, ya. Aku... maag,"
Hendrik menoleh dari kursi depan. "Apa Chik?"
"Pus. kes. mas..." suaranya lirih.
"Apa katanya?" tanya Izack, tanpa menoleh.
"Puskesmas," ulang Hendrik, menarik nafas.
Izack menggeleng, wajahnya mengeras. "Nggak! Rumah Sakit." tatapnya lurus ke depan.
"Bang... tolong," ujarnya. Ia berusaha bangkit, tapi injakan rem membuat tubuhnya tersentak
"Akhhh!!"
Chika kembali rebah menekan perut.
"Sory-sory!!" Izack gugup, matanya tegas melirik spion.
Izack menekan tombol lampu hazard, lalu injak gas dalam-dalam. Mobil melesat cepat menerobos jalanan yang cukup lengang.
Beberapa kali Izack menekan klakson kesal pada kendaraan di depan, samping dan belakang, seolah tak boleh ada yang menghalangi.
"Sabar Zack! Tambah runyam ntar urusannya," pekik Hendrik panik.
Tapi wajah Izack menggelap, tak peduli dengan kata-kata itu.
Bahkan sesaat polisi menyemprit kendaraannya, membuat laju rodanya langsung minggir. Wajah Izack dingin membuka kaca jendela.
"Selamat siang, mas. Boleh lihat sim nya?"
"Pak! Lihat di belakangku! Itu orang sekarat. Kalau sampai terjadi apa-apa, bapak saya tuntut."
"Oh... nggak bisa begitu, mas."
Izack langsung mengeluarkan kartu hijau, sebagai penanda ia anggota keluarga kesatuan.
Melihat kartu itu, polisi langsung diam dan memberi jalan.
"Oh, silahkan, Mas."
"Hati-hati."
Perlahan Hendrik tertawa lebar.
"Anak jendral, dilawan!"
"Bukan begitu, Hen. Malas debat aja, aku."
"Tapi kamu salah, kok. Melawan lampu merah."
"Iya, aku paham."
"Kartu begini ini, cuman jurus terakhir, dari yang paling akhir," jawab Izack akhirnya.
Obrolan ringan itu membuatnya tenang sebentar.
Tapi begitu melihat jalanan lengang, mulutnya langsung diam, tangannya mencengkeram kuat, menekan gas pelan namun pasti. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, seakan tak peduli pada siapapun.
Tiap kali mobil menikung tajam atau mengerem mendadak, Hendrik refleks menahan nafas. Sesekali ia melemparkan tatapan paniknya ke jok belakang, melihat Chika yang berkali-kali mengerang kesakitan.
"Akhhh!!"
"Pelan, Bro!" seru Hendrik, tegang.
"Kamu nggak tahu. Kalau terjadi apa-apa, kita bisa kesalahan," ucap Izack tak menoleh sedikitpun.
Lelaki itu langsung diam.
Ia tahu, temannya ini sedang tidak main-main dengan keselamatan nyawa seseorang.
Sepanjang lima tahun bersama, baru kali ini ia melihat lelaki setenang ini begitu panik.
Di depan, tulisan besar "IGD RUMAH SAKIT" terpampang jelas, hanya tinggal beberapa meter. Tapi alih-alih menepi, Izack justru melaju, roda depan tak juga membelok.
Hendrik mengerutkan dahi. "Loh, Zack... kenapa nggak belok?"
"Aku nggak mau dia diurus asal-asalan."
"Iya, tapi kan," Hendrik mengernyit heran.
Mulutnya terhenti, pikirannya melayang peristiwa dua tahun lalu, bagaimana pertemuan dengannya. Lalu reaksi-reaksi kecil, tapi manis dalam acara ulang tahun.
Dan terakhir, kemarin malam meminta Heni untuk memanggilkan Chika menemui dirinya dengan alasan menanyakan naskah.
Hendrik melengos, menurunkan pundak, dan tersenyum mengangguk kecil.
Namun sorot matanya terhenti, menatap ruang kosong.
Tapi... Izack?!
Naksir Chika?!!!
Tiba-tiba saja laju kendaraan melambat, merapat ke kiri, lalu mengambil lajur lambat dan ikut mengantri di belakang dua kendaraan di depannya.
Hendrik segera melongok keluar, memastikan apakah rumah sakit atau hotel, karena halamannya terlalu luas dan elegan.
Ia melotot saat melihat bangunan familiar yang mencolok di kota Tayoga. Rumah Sakit Internasional itu terkenal prima dalam pelayanan.
Hendrik tercengang.
"Wuekhh... cinta berkelas, ini mah," batin Hendrik bergumam.
"Tapi... dengan karakter Chika. Apa dia nggak akan berontak?" pikirnya teringat peristiwa beberapa menit yang lalu.
Sesaat kendaraan terparkir di depan ruang lobi. Beberapa perawat telah siaga di sana. Izack keluar setengah berlari mendahului Hendrik sekedar untuk membukakan pintu gadis itu.
Melihat reaksi itu, Hendrik segera keluar. Tapi hanya siaga di belakang mereka, menunggu aba-aba jika dibutuhkan.
Beberapa perawat yang berjaga, sigap membawakan tandu dorong.
Melihat Chika kesulitan bangkit dari jok. Izack segera membungkuk, "Ayo aku bantu," katanya dengan tatapan dalam.
Tatapan mata Chika sayu, letih dan kesakitan. Namun benteng pertahananya terlalu kuat untuk runtuh.
"Aku bisa sendiri, Bang," ucap Chika pelan dengan mata terpejam.
Ia bangkit menarik nafas pelan. Perlahan membuka mata, berusaha mengambil penuh kesadarannya dengan duduk tenang.
Hendrik yang menyaksikan semuanya, akhirnya mengerti.
Kepanikan Izack sejak awal, bukanlah sekadar empati biasa. Itu adalah naluri pelindung, kasih yang datang dari hati yang terdalam.
Gadis itu duduk di pinggir jok, menundukkan wajah, seakan selesai berperang. Bahu kirinya bersandar lemah. Bibirnya meringis menahan sakit.
Izack tak sanggup diam menunggu.
"Perlu aku bantu?" suaranya lembut, nyaris berbisik.
Chika tak mampu menjawab, jelas ia menahan nafas dengan bibir kering dan pucat. Ia hanya mengangkat tangan isyarat menolak.
"Jangan memaksakan diri," ujar Izack, was.
Gadis itu menurunkan kedua kaki, lalu menahan tubuh di atas dua kakinya.
Izack makin was, saat Chika melangkah.
Dan baru selangkah, tubuh Chika limbung. Refleks, Izack menangkapnya. Dan kali ini, tak peduli lagi pada penolakannya yang terlalu lemah.
Ia langsung menggendongnya dengan kuat dan sedikit hati-hati.
Gadis itu terkulai lemah dalam pelukannya, menggigit bibir, menahan nyeri dengan nafas tersengal-sengal.
Izack bisa merasakan gemetar tubuhnya begitu dekat dengan dadanya sendiri.
Perawat sigap membantu, mengarahkan tubuhnya ke atas tandu.
"Serahkan ke kami," kata perawat akhirnya.
Izack mengangguk, tangannya terkepal cemas di samping, matanya tak lepas dari Chika yang terbaring lemah.
Di balik rasa sakit dan lelahnya, Chika masih bisa menangkap sorot matanya. Tatapan itu bukan sekadar khawatir atau cemas. Itu bukan pertolongan biasa. Melainkan seperti seseorang yang telah lama mengenal dirinya.
Izack menarik nafas pelan.
"Tolong parkirkan mobil, Hend," ucap Izack lemas.
Perawat menoleh sekali lagi,
"Tolong salah satu mas-nya, urus administrasi, ya."
Izack mengangguk pelan, lalu dengan berat melepas kepergian Chika yang terus didorong masuk.
Sepanjang langkahnya yang berat, Izack menatap kedua tangannya yang terangkat, masih gemetar. Masih terasa hangat sisa tubuh Chika tadi.
Ia menarik nafas pelan dan dalam. Namun dahinya mengernyit.
"Kenapa aku bisa melangkah sejauh ini?" pikirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar