Malam di Kota Tayoga
Rumah Izack yang berada di kawasan elit, kini sudah dipenuhi anak-anak AMN. Mereka tengah menyiapkan spanduk dan selebaran di sebelah dapur, --sofa depan tv. Sementara yang lain sibuk berdiskusi menyiapkan narasi dengan seorang notulen yang sigap mengetik di laptopnya.
Tampak para senior tengah asyik ngobrol di depan gazebo, sebagian ada yang berdiri dengan membawa piring di tangan. Sementara di sudut dapur, --depan ruang sofa, yang bersekat dinding kaca, dua orang ibu-ibu sibuk menyajikan makan malam dan aneka kue di dapur.
Izack yang baru saja turun dari mobil, menunggu langkah Chika yang enggan masuk rumah, begitu tahu ada pertemuan malam itu di rumahnya.
"Basecamp kan dekat dari sini, kenapa rapatnya nggak di sana?"
"Aku yang minta mereka."
Chika melengos kesal. "Tahu gitu, aku balik ke kos."
"Oke aku antar, tapi masuk dulu."
"Aku paling nggak suka dengar mereka berisik."
Izack akhirnya mendekat, menggamit pundaknya, dan menarik langkah bersamaan.
"Banyak hal yang perlu kamu ketahui dibanding mengkhawatirkan kepentinganmu sendiri, Non."
Chika menarik nafas kesal. "Bang, apa yang aku kerjakan kemarin bukan bagian dari kepentingan rakyat?"
Izack menghela nafas, kedua tangannya bertengger pada bahu Chika. Lelaki itu paham, lirikan itu menandakan dirinya tak suka diperlakukan demikian, tapi Izack mempertahankan posisi itu.
"Kamu nggak bisa melawan Oligarki hanya dengan tanganmu sendiri, Non. Kita butuh kekuatan massa. Dan massa terbaik adalah mahasiswa."
"Itulah mengapa aku berani bertaruh mengorbankan waktu, pikiran dan uang, saat ini." tatapnya, meletakkan kedua tangan di atas pundaknya.
Ia tahu, Chika tak suka diperlakukan seperti itu. Tapi Izack menunggu mata itu menatap dirinya.
"Tahu nggak sih, tiap kali dengar kalian mau demo, otakku berasa mau meledak ingin protes," kecapnya tak suka.
Izack mendesah lelah.
"Ya sudah, kalau nggak mau dengar. Kamu bisa masuk ke ruang baca, atau istirahat di kamar."
"Tetap saja dengar," suaranya parau.
Izack menegakkan punggung, mendongakkan wajah ke langit, lalu kembali menatap.
"Aku tahu ini nggak nyaman buatmu, tapi kamu harus belajar," ucapnya menatap lembut. "Karena aku ada di belakang mereka, dan harus mengawal."
"Meskipun Mabes AMN sudah mengeluarkan surat perintah larangan turun jalan, dan lebih on the track pada gerakan yang kita pilih."
Raut Chika yang mendung, perlahan berkaca-kaca.
"Tapi aku masih ingat anak kecil itu, Bang."
Glekk...
Izack merasa kecele. Ada senyum samar di bibirnya.
"Andaikan tahu sejak awal. Sekalipun nggak punya uang, mungkin akan aku ikuti dia lari kemana, biar nggak kelaparan sampai mati begitu," tangis pun pecah, pelan.
Izack menarik tubuhnya, mendekapnya erat. Senyumnya mengembang di balik wajah Chika berurai air mata.
"Aku nggak tahu bagaimana jalan pikiranmu, Sayang," batinnya, menarik nafas dalam.
Sesaat Chika menarik tubuhnya, menatap lekat pintu garasi rumah.
Tanpa menunggu ajakan, Chika menggerakkan kaki, melangkah masuk. Namun Izack mendahuluinya.
Dan dalam sekian detik, suara riuh mulai terdengar dari balik pintu garasi. Hingga terdengar langkah kaki mendekat, disertai gelak tawa mereka yang makin jelas.
"Ini kalau Abang kita tahu besok turun gimana?" tanya seorang lelaki yang ikut duduk melingkar dalam ruang diskusi.
"Yang penting kita turun bawa data," ujar seseorang, menoleh.
Ia kaget melihat kedatangan Izack.
Izack yang mendengar kalimat itu, menutup pintu tanpa ekspresi. Chika mendongakkan wajah, melirik ekspresi Izack yang sulit diterjemahkan.
"Halo, Bang...!!"
Spontan sambutan berdatangan begitu tahu senior mereka datang berdua, dengan seorang cewek di belakangnya.
"Ehm!!"
"Ciee... yang sudah beristri. Kapan undangannya, Bang?"
"Ayolah... kita diajak ke rumahnya Pak Jendral kapan-kapan."
"Hush! Sembrono," desis seseorang.
Tiba-tiba saja seorang perempuan –satu angkatan Izack, muncul. Ia senyum-senyum melirik Izack dan teman lelaki di sampingnya bergantian.
"Baru kali ini lihat Pak Ketua yang kokoh, se-kokoh batu karang di tengah ombak, tiba-tiba muncul mesra bareng istri," candanya, membuat beberapa orang langsung berceloteh meledek.
"Bang! jangan bikin iri kami di sini lah,"
"Makan dulu, Bro," ajak Leo, membawa piring penuh.
"Makan dulu Mas Izack, Mbak Chika," Mak Yah menawarkan.
Perempaun tua bertubuh kurus itu adalah pembantu Izack di saat lelaki itu di rumah.
Izack pergi di balik ruang dapur saat Chika duduk bersama dua orang perempuan. Mereka menyapa dengan penuh kehangatan. Percakapan ringan mengalir diantara ketiganya, membuat Chika sedikit nyaman dengan suasana baru.
Tak lama kemudian Izack muncul, dengan segaris senyuman dua piring nasi beserta lauk di piring.
Dua perempuan di samping Chika langsung bangkit, memberi tempat duduk Izack. Tak ada yang berani duduk di sofa lagi, saat itu.
"Loh, kak. Duduk sini aja nggak apa-apa," Chika menawarkan, mengambil piring dari tangan Izack.
"Ayo, makan dulu."
Melihat gerak-gerik Izack yang jauh lebih lembut dan cair dari biasanya, semua saling berceluit. Terutama cewek-cewek.
"Ehmmm... So sweeeetttt..." ucap mereka senyum-senyum. "Sejak kapan, Abang kita jadi lembut dan romantis begini?"
Chika senyum-senyum, melirik Izack. Namun lelaki itu seperti biasanya, datar. Ia terus menikmati santapan makannya, tanpa terganggu sedikitpun.
"Coba dari dulu begini, Bang."
"Heh! Izack dingin aja, cewek-cewek pada datang. Apalagi lembut begini."
Gerrr... tawa pun pecah memenuhi rumah yang penuh sesak.
Saat Izack selesai, ia bangkit membawa piring kotornya, mencuci tangan di wastafel. Lalu kembali duduk di sofa, menatap tv, yang menayangkan berita kematian dua gelandangan di kolong jembatan.
Di antara mereka, hanya Izack yang masih tetap diam.
Tak ada orang yang berani komentar. Seolah paham, bahwa gadis yang muncul di tv itu adalah gadis yang duduk bersama seniornya.
Namun di tengah kesunyian itu, tiba-tiba seseorang datang. Ia tak begitu peduli dengan kehadiran istri si ketua umum.
"Namanya saja keren, Social worker... ujung-ujungnya menjual kemiskinan demi penghidupan mereka."
Seseorang lagi datang di belakang mereka.
"Iya, mereka bisa hidup justru dari proyek kemiskinan dan ketidak berdayaan."
Orang-orang spontan tegang menatap dua lelaki itu. seseorang melotot penuh isyarat.
Chika yang menggenggam sendok tiba-tiba lemas, meletakkan piring kasar.
"PRAKK!"
Bahkan orang yang baru saja bicara pun mendadak terdiam.
Chika berdiri, mengangkat wajah, menatap tajam pada dua lelaki itu.
"Hati-hati kalau bicara, Bung."
"Kalian ini akademisi, sekaligus aktivis mahasiswa ternama."
"Percuma otakmu nggak digunakan. "
Izack meraup wajah seketika. Lelaki itu diam menarik nafas dalam.
Ia tahu, Chika akan sulit dihentikan jika sudah begini.
Kedua tangannya terkepal keras di samping."Bukankah malam ini kalian berkumpul untuk menyuarakan orang-orang seperti mereka, ya?"
"Kalau benar Social Worker menjual kemiskinan, mau apa?"
Tak ada yang menjawab.
"Setidaknya pelayanan mereka jelas, dibanding kalian yang tiap hari cuma cuap-cuap dan kongkow-kongkow nggak jelas."
Chika mengulurkan tangan, meraih dan mencengkeram spanduk --yang bertebaran di atas meja depan sofa-- dengan raut merah menahan marah.
"Lihat! kalau kalian benar-benar orang terdidik, harusnya nggak buat spanduk sebodoh ini,"
"Ini menunjukkan betapa rendahnya literasi dan narasi kalian."
"Jujur saja kalau itu aku yang jadi ketua, malu punya anak buah seperti kalian." teriaknya lantang mengangkat spanduk ke udara.
Izack menarik nafas dalam, menundukkan tatapannya.
"Hei goblok! Tahu nggak, kata-kata itu adalah sindiran?"
Tawa Chika sekilas sinis. "Harusnya aku yang mengataimu goblok."
"Pejabat kita sudah kebal dengan kata-katamu yang begini."
Suasana yang riuh perlahan mendadak senyap. Semua mata tertuju pada ketiga orang itu. Lagi-lagi lelaki itu mengumpat dengan kata-kata kasar.
"Hei! lonte, kamu pikir setelah menikahi Bang Izack kamu bisa bicara seenaknya?"
Spontan semua wajah tegang, termasuk Izack yang siap maju melindungi tubuh istrinya yang dianggapnya masih lemah.
Raut Chika berurat merah menekan amarah, matanya berkaca-kaca menatap tajam, tangannya terkepal erat siap meninju wajahnya.
Lelaki tersebut terpancing emosi, melangkah maju. Tapi sebelum meledak, Izack berdiri di depan Chika. Beberapa orang di belakang langsung mencekal tubuh lelaki itu, menyeretnya keluar.
Suasana mendadak kosong. Seolah energi di ruangan itu tersedot keluar seiring diseretnya dua orang lelaki itu.
Izack menghela nafas panjang. Ia mengusap tengkuknya dengan ekspresi lelah. Ia membalikkan tubuh, tepat menghadap Chika.
Semua mata memandang itu.
Izack menggandeng istrinya masuk kamar, dan menutup pelan.
Chika yang merasa bakal disidang panjang olehnya, langsung pasang badan.
Tanpa banyak kata, Izack mengangkat tubuh Chika di meja kerjanya. Dan dirinya duduk di kursi, menariknya sedikit ke belakang.
Chika melengos, membuang muka saat lelaki itu menatap dirinya.
Izack menarik nafas, menyandarkan punggung dengan tangan terlipat ke dada.
Melihat gadis itu tetap melengos, akhirnya ia berdiri. Menangkap wajahnya dan menatap lama.
"Lihat aku,"
"Bukankah waktu di Apartemen sudah pernah aku ingatkan?" suaranya lembut dan dalam.
Chika diam, tapi ia sadar dirinya masih kesal.
"Tarik nafas," pintanya, saat sadar degup jantung Chika masih keras.
Hening.
"Kemarin-kemarin, kamu mau berkata semaumu nggak masalah," tatapnya lurus. "Tapi sekarang, kamu sudah jadi bagianku, efeknya bisa kemana-mana."
Raut Chika tak sudi membalas tatapan itu. "Aku heran, kenapa kamu bela orang lain?" emosinya bergetar.
Izack menghela nafas pelan. "Aku nggak bela dia, tapi juga nggak membenarkan sikapmu."
"Tolong perhatikan sekali lagi..."
"Ke depan, kamu akan banyak belajar mendengar daripada bicara. Dan akan banyak mengamati daripada menghakimi."
"Hanya itu," tegas Izack.
"Tapi dia sudah keterlaluan, Bang!" pekiknya, menekan.
"Iya, aku paham."
"Aku tahu perasaanmu. Apalagi posisimu sebagai objek pembicaraan tadi. Dan kamu tahu betul situasinya."
"Tapi ya itulah hakikatnya pimpinan," tatapnya tajam.
"Dia bicara seperti itu, ya hak dia," tambah Izack.
Spontan Chika menatap tajam matanya seakan ingin mencoloknya.
"Dasar aneh!" umpatnya kehabisan kata-kata.
Izack menurunkan pundak.
Suasana mendadak hening. Sehelai udara dingin tiba-tiba menyelusup masuk.
"Berapa kali saja aku difitnah media?" lanjut Izack tenang.
"Dan apa jadinya jika aku membalas?"
"Pekerjaanku nggak ada selesainya."
Jlebb!
Chika terdiam, nafasnya mulai teratur.
Tapi lagi-lagi bayangan wajah bocah kecil berpeluh, ia belum terima dengan kata-kata lelaki itu.
"Kamu tahu nggak sih, Bang..." tangispun akhirnya pecah lagi. "mereka itu bapak dan anak kecil yang aku kasih makan tempo lalu, setelah kita keluar dari rumah sakit."
Izack diam.
"Yang di Resto itu?"
"Iya," tangis pecah tak terbendung.
Tangannya kembali mendekap istrinya erat-erat, dan mencium ubun-ubun. Membiarkan suaranya tenggelam di dada.
"Aku nggak suka cara berpikir mereka yang menyebalkan."
Izack diam, menahan nafas. "Ya, aku paham apa yang kamu rasakan."
"Hari ini, mahasiswa kadang memang kurang respek dengan kondisi masyarakat kita yang seperti itu," kata Izack akhirnya,
Tangan Chika perlahan membalas dekapan itu, mengeratkan tangisnya makin dalam.
"Aku tahu kamu sering turun lapangan dan tahu betul kondisi di luar sana. Tapi setidaknya untuk saat ini... mulai detik ini, kamu cukup jadi pengamat saja. Jangan masukkan emosimu." ujarnya mengecup ubun-ubun.
"Negara ini nggak hanya butuh orang cerdas, sayang... Tapi juga butuh orang bermental waras," lanjutnya tenang.
"Kamu dengar kasus akhir-akhir ini kan? Nenek tua yang dijatuhi hukuman penjara 2tahun hanya gara-gara mencuri pisang untuk makan?"
"Itulah kita hari ini, Sayang..."
"Dan hari ini, kami beserta teman-teman CAPN sedang merubah itu pelan-pelan dari dalam."
"Tidak lagi dengan orasi di jalanan,"
"Aku nggak bisa melarang mereka sepenuhnya, meskipun sudah dikoordinasikan nggak ikut turun jalan."
"Tapi ya... itulah mereka. Emosinya kadang masih labil, sama sepertimu," tatapnya dalam.
"Tapi jangankan mahasiswa. Pejabat yang katanya pembuat kebijakan pun, nyatanya belum bisa dikata bijak."
"Adu mulut sampai berkata kasar, mencaci lawan bicara dengan emosi."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan, perhatian mereka tertuju pada pintu.
"Masuk," kata Izack keras, masih berdiri mendekap Chika.
Gadis itu hendak melepaskan, tapi Izack justru mengeratkan dekapannya.
Mak Yah muncul dengan nampan berisi sarapan dan susu hangat yang tadi sempat Chika tinggalkan. Saat meletakkan sepiring nasi dan susu di meja sebelah Chika, Mak Yah tak berani menatap wajah mereka.
"Oh iya, Mak. Terima Kasih," ucap Izack sopan.
Setelah Mak Yah menutup pintu, keriuhan di luar pintu terdengar jauh.
Malam itu, Chika sadar. Menjadi istri pemimpin, artinya belajar menelan kata-kata pahit yang terkadang tidak semestinya yang ia pikirkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa rumah itu bukan lagi ruang aman, melainkan panggung.
Di luar, mereka menyiapkan revolusi.
Namun di dalam, mereka belajar menahan diri.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar