Minggu, 24 Mei 2026

Bab 36.Di ruang kerja Izack.

 Baru saja mereka masuk, tiba-tiba ada suara pintu diketuk.

"Masuk," ucap Izack, meletakkan blazernya.

Rony muncul dari balik pintu, mendekat ke meja.

"Maaf Pak, ada dua orang wartawan dari Majalah Online The Youngers mau mewawancarai bapak terkait AMN," ucap Rony.

"Hm,"

"Ada jadwal apa aku besok pagi?"

Rony membuka buku agenda kecil di tangannya. "Pertemuan dengan Dinas Kearsipan Nasional jam sembilan pagi, Pak. Lalu pihak Studio jam satu. Dan kata Bang Ozin, agenda di AMN sudah menunggu."

"Oke. Kalau begitu, nanti malam jam tujuh saja."

"Siap, Pak." Rony pun pergi.

Ruangan kembali hening. Izack langsung tenggelam dalam tablet dan monitor PC. Jarinya lincah scrolling, sesekali merekam voice note, lalu menarik nafas panjang.

Ia diam sejenak seakan mengatur emosinya sendiri. Lalu menekan suaranya agar terdengar santai.

"Bang Tata... masak orang se tajir Abang cuman kasih dua puluh juta buat AMN yang sudah mengangkat Abang ke level itu, bang," ucap Izack menahan senyum, setengah gelisah.

Chika memperhatikan cukup lama. Rasanya seperti duduk mengamati Izack beserta keriuhannya makin menjauh dari dirinya, hingga ia pun sendiri.

Akhirnya ia mendekat.

"Bang, ayo makan," suaranya pelan.

"Hm, ya," jawab Izack cuek, mata tetap di layar.

Chika mendengus lirih. "Tahu gitu tadi aku makan bareng Kak Alika di kantin."

Izack tetap cuek. Ia mulai mondar mandir, merespons voice note yang masuk.

"Instalasi listrik dulu yang paling penting, Bang."

Telepon masuk, ia segera menerima panggilan.

"Meja kursi sebagian sudah ludes, tapi masih tersisa yang besi."

"Sekarang teman-teman masih dalam tahap pembenahan mandiri, dengan uang yang tersisa, Bang."

"Hmmm... Oke."

"Aku kirim nomor rekening AMN yang baru aja, Bang."

"Oke, siap."

Panggilan itu terputus.

Chika meradang, tangannya gemetaran menahan lapar, kesal dan marah yang tertahan.

"Kamu kenapa?" tatapnya tak berdosa.

"Aku lapar, Bang!!" pekik Chika kesal.

Izack melongo, "Oh?!"

"Sory, sory!"

"Terus, gimana?" ucapnya bingung dengan pikiran masih tertambat pada urusan AMN.

Chika mendengus kesal, menggembungkan pipi.

Izack tersenyum samar, mendekat, lalu tawa itu pecah memeluk Chika yang sudah tegang.

"Hwkwk... maaf, sayang. Ayo! Kita keluar."

"Lah, terus... itu makanan gimana?"

"Sudah, kita keluar aja. Aku tahu, kamu boring."

Chika menghela nafas kesal. Ia tahu, bukan dirinya banget yang menyia-nyiakan makanan. Tapi kali ini, ia tak lagi bisa protes di saat tubuhnya lemas.

***

Siang menjelang sore, keduanya baru bisa keluar setelah beberapa urusan tuntas.

Jalanan ibukota macet parah. Beberapa ruas sudah ditutup polisi karena gelombang panas demo mahasiswa makin meluas. Sirene meraung-raung, bendera tampak berkelebat dari kejauhan.

Terpaksa Izack menuruti kata Chika, mengendarai roda dua. Ia mulai jengah dengan kepadatan yang mengular setiap hari.

Izack fokus menembus padatnya kendaraan, sementara Chika panik menatap ponsel.

"Belok kanan, Bang, jangan lurus, penuh massa di situ," suaranya panik setengah berbisik.

Izack hanya mengangguk singkat, fokus menerobos keacetan roda empat dan roda dua yang mengular.

Digital maps berkali-kali merubah arah, seolah bingung mencari jalan yang telah terkepung.

Setelah berputar-putar, akhirnya Chika senyum sumringah begitu sampai di lokasi.

Izack melotot kesal, melihat warung makan sederhana. "Ampun! Ini?!"

Chika hanya tertawa nyengir, merapikan rambutnya yang berantakan.

Setengah enggan Izack melepas helm.

"Sudah... ayo," Chika menyuruh turun dari motor.

Akhirnya Izack memarkir motor, dan mengikutinya masuk.

Chika mendekat Izack yang sudah muram. Tapi gadis itu tak peduli, ia sudah sumringah mengambil dua ayam goreng beserta sayuran hijau.

Dengan wajah muram, Izack setengah malas mengambil menu yang tersaji di etalase kaca.

"Lebih bersahabat di kantong, Bang," ucapnya lirih.

"Bersahabat di kantong, nggak bersahabat di tenaga," ucapnya muram.

Matanya melirik empat orang bapak-bapak yang menyesap kretek.

Izack mulai duduk di meja sebelah, asap rokok mulai mengepul. Spontan Izack mengibaskan tangan kesal.

Melihat lirikan mata Izack yang tak suka, Chika hanya tersenyum.

"Orang-orang seperti mereka kan... yang sedang kamu perjuangkan?" bisiknya sedikit menunduk.

"Iya, tapi nggak seperti ini juga kali," jawabnya kesal.

Chika mendelik, Izack berkecap. "Iya..."

Gadis itu merasa menang, ia hanya menahan tawanya, samar.

Ibu owner membawakan dua minuman untuk Izack dan Chika yang duduk di sebelah mereka.

"Tumben jam segini masakan masih penuh, Bu," cletuk salah satu dari mereka.

"Iya, Pak. Beberapa hari ini sepi."

Si bapak menimpali. "Sekarang apa-apa naik semua, Bu,"

Ibu owner kembali ngeluh. "Lagi berat-beratnya keadaan, listrik malah naik, pak..."

"Bukan cuman itu bu... pajak motor juga dinaikkan 200%."

"Oh, iya Pak?"

"Iya,"

"Sialan, makin kesini ada-ada aja," cletuk kasar si bapak dengan wajah muram.

Sendok Izack terhenti di udara, mendengar percakapan itu.

Tiba-tiba datang seorang ibu –dengan tubuhnya yang kurus ceking dan wajah legam. Ia menggendong anak kecil yang berkulit kering dan legam.

"Bu... beli nasi sayur sedikit aja lima ribu, boleh?"

"Nasi apa lima ribu, Bu?!" ujar si bapak kasar, sambil menoleh. Tapi matanya kaget saat melihat perempuan itu.

Chika menoleh, lalu menatap Izack di depannya. Tak ada kata, hanya isyarat lewat mata. Izack menarik nafas panjang, jelas tak nyaman. Ia tersentuh, tapi tak tahu bagaimana caranya membantu. Chika langsung bangkit. Mendekat ke ibu owner dan berbisik.

Semua orang melirik keduanya bergantian, seolah ikut menunggu apa yang bakal dilakukan pasangan itu.

"Hm, iya bu," ucap Chika datar seolah tak terjadi sesuatu.

Ibu owner kembali mendekat pada ibu si kurus ceking.

"Bu, ibu makan di sini aja gratis. Mau ambil apa terserah, sudah dibayar sama kakaknya itu."

Spontan si ibu kurus menoleh pada Chika.

"Oh..."

Izack menyelipkan beberapa lembar uang pada Chika. Gadis itu kembali bangkit, lalu menyambut jabatan tangan si ibu kurus ceking yang hendak dicium. Chika kaget, ditariknya sambil memeluk. Saat itulah lembaran uang diselipkan ke dalam gendongannya membuat air mata si ibu spontan pecah seketika.

"Ya ampun, Non... Terimakasih banyak, semoga Tuhan membalas kebaikan, Non..." pecah tangis perempuan itu dalam pelukan Chika.

"Semoga Tuhan lancarkan rejeki Non, sama Abangnya, ya..."

"Amin... amin. Terimakasih doanya, Bu... ibu sehat-sehat ya, sama adiknya."

Hening.

Suasana makan sedikit kurang nyaman, karena keduanya kini jadi pusat perhatian. Sementara si ibu menikmati makan dengan lahap beserta bocah kurus dalam gendongannya.

Kurang lebih tiga puluh menit kemudian keduanya selesai makan. Izack mendekat untuk membayar tagihan, hingga akhirnya keduanya keluar dari warung makan.

Sekilas Chika mendengar celotehan bapak tukang parkir saat di ambang pintu keluar.

"Bukannya itu Mahasiswa yang sering keluar di tv ya?"

"Ohh... pantes, wajahnya nggak asing," jawab si bapak lainnya mendesis.

Sebelum Chika naik ke atas motor, cepat-cepat Izack mengangkat ponselnya yang bergetar.

"Ya, Zin..."

"Toko baju biasanya, aku tunggu."

"Hm," jawabnya singkat. Dan mulai tancap gas meninggalkan kepulan asap tipis di udara.

***

Sore menjelang malam, motor itu berhenti tepat di outlet pakaian branded.

Chika mengernyit bingung saat turun dari motor.

"Kamu nggak balik ke kantor?" tanyanya mengikuti langkah cepat Izack.

"Enggak,"

"Katanya ada wawancara?"

"Hm, maka dari itu."

"Aku nggak mau dikata om-om, bawa mahasiswa kencan," kata Izack yang spontan ditertawakan.

Sekilas mereka seperti bukan suami istri, melainkan kakak beradik, atau bahkan masih pacaran.

Langkah Chika gamang, --tak bisa dipungkiri, ini adalah pertama kalinya masuk outlet baju mewah. Tapi tak ingin memperlihatkan itu. Ia tetap menegakkan punggung dengan tatapan mata wajar, meski dalam hati gejolak luar biasa hebat melihat kain dan model yang elegan namun warna tak mencolok sama sekali.

Seketika mata Chika langsung tertuju pada deretan pakaian pria.

"Woowww... keren!!" pikirnya. Langkahnya terhenti melirik label harga.

Tapi Izack mendorongnya pelan, menuju deretan pakaian wanita. Melihat rok dan dres yang cantik-cantik dihadapannya, membuat Chika nyengir.

"Terlalu jauh dari karakterku, ini mah..." ucapnya lirih. Langkahnya terhenti membayangkan Izack menggandeng perempuan cantik nan elegan dengan gaun tersebut dengan wajah glowing.

Izack menoleh, menatap Chika. "Kenapa kamu?"

"Salah besar pilih istri, kalau kamu ajak aku kemari, Bang."

"Maksudnya?"

"Aku nggak suka pakai dress begituan," cletuk Chika kesal, melihat baju perempuan dengan warna-warni lembut di depannya.

Izack tak banyak bicara, ia hanya memberi kode pada pramuniaga untuk mendekat. Mereka bicara sebentar, lalu perempuan itu mengangguk paham dan pergi.

"Lihatlah, Bang. Di antara sekian banyak baju bagus dengan harga fantastis. Pemakainya hanya ingin menjadikan dirinya pemandangan cantik bagi kaum lelaki."

"Dan aku, benci itu."

"Dianggapnya aku ikan di mata kucing, apa?" cletuk Chika balik kanan.

Tapi tangan Izack langsung menahan.

Pramuniaga datang membawa tiga potong baju; long vest outer selutut, manset putih lembut dan ringan, serta celana panjang straight leg putih dengan kain melar.

Diam-diam Izack tersenyum samar melirik raut Chika yang langsung berubah berseri-seri. Namun begitu melihat label harga, ia melotot.

"Ayo! Cari di luar aja,"

Izack menahan ujung kain kemejanya dengan tatapan dalam.

"Tolong, waktuku nggak banyak,"

Dengan genggaman tangannya yang erat, Izack menarik tegas menuju kamar pas. Sementara Chika lemas membawa potongan baju.

***

Beberapa menit kemudian.

Chika keluar dengan ragu dan malu memakai baju tersebut yang sudah disambut Izack dan pramuniaga.

"Gimana, nyaman?"

"Hm," Chika mengangguk kecil.

Izack langsung memberikan kartu pada pramuniaga. Lalu perempuan itu langsung berjalan cepat menuju kasir, sementara Izack mengikutinya tenang dari belakang.

Chika yang muncul di balik punggungnya yang jenjang, melotot melihat billing harga.

"Duit segitu bisa buat hidup anak kos satu semester, Bang," bisiknya.

Izack hanya menoleh, memasukkan kembali kartu di balik blazernya, lalu berjalan cepat meninggalkan outlet.

Chika yang baru hendak melangkah, mendadak nyengir.

"Aukhhh!!" pekiknya lirih, menahan nyeri.

Izack sudah keluar lebih dulu, sementara langkah Chika tertatih-tatih menuju pintu keluar.

Tak terasa langit telah gelap saat keduanya keluar.

Di depan, Ozin sudah menyambut. Mereka bertukar kunci saat Chika muncul. Lalu dengan sigap Ozin membuka bagasi dan meletakkan dua tas dari tangan Izack di sana.

Chika mengira, Ozin akan membawakan pakaian itu. Tapi ternyata Izack masuk mobil dan membuka pintu jendela melihat Chika bingung, mematung.

"Kamu mau jadi pegawai Outlet?" seru Izack setengah bercanda.

Ozin tersenyum samar.

"Silahkan Non," kata Ozin membukakan pintu.

"Oh??!"

Chika nyengir sekilas.

Suasana kabin hening, tenang, hingga akhirnya meninggalkan parkiran outlet. Chika tahu, lelaki itu buru-buru. Tapi melihat caranya, ia kesal.

"Begini ini, kenapa aku nggak suka dengan pernikahan," bisiknya.

"Jadi budaknya lelaki. Seolah punya kuasa segalanya,"

"Kalau bukan karena hutang, aku sudah melarikan diri dari kemarin-kemarin," bisiknya pelan.

Izack diam, fokus nyetir. Matanya tajam mencari celah di kepadatan demonstran pulang.

Chika melirik keluar jendela, bibirnya merapat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar