Minggu, 24 Mei 2026

Bab 31. Hangat di Antara Dingin Kota

 Tiga malam berikutnya.

Izack nyaris tak henti bergerak, --dari urusan rapat dengan teman-teman Alumni terkait biaya renovasi bangunan, hingga rancangan ke depan dengan teman-teman CAPN yang dirasa sedikit stuck. Hingga menemui beberapa orang berkaitan dengan proyek perusahaannya yang membutuhkan kepastian dan kecepatan kerja.

Dan baru malam itu, ia bisa menarik nafas lega, saat mobilnya mengarah pulang.

Di kursi sebelah, Chika sudah tertidur sejak awal masuk mobil. Terlalu pulas dibanding hari-hari sebelumnya.

Malam-malam hampir selalu tidur di kendaraan, atau di Mabes, atau bahkan di ruang kerja perusahaannya.

Keduanya belum pernah benar-benar tidur brsama dalam keadaan sadar.

Dan kali ini, perjalanan terasa cukup lama menahan kantuk, hingga akhirnya mereka tiba di parkiran Basement apartement.

Mesin dibiarkan tetap menyala untuk mendinginkan kabin, sampai akhirnya ia matikan.

Chika terbangun, saat Izack melepaskan klik sabuk pengaman.

Senyap. Udara terasa berat di sekitar, saat pintu terbuka.

Gadis itu mengucek matanya. Wajahnya benar-benar mirip anak kecil yang baru bangun. Hingga mengedarkan pandangannya keluar.

Ia berdiri menunggu gadis itu mengucek mata.

Izack sedikit menunduk, mengambil tangan dan mengecupnya.

"Terimakasih, sayang..."

Refleks Chika menariknya.

"Turun yuk."

Matanya masih terasa berat, tapi ia sadar lelaki itu jauh lebih letih.

Ia menoleh ke jok belakang, mencari tas ranselnya.

"Sudah... aku bawa, kamu jalan aja."

Setengah terpejam, ia turun. Izack yang berjalan di belakangnya tersenyum samar memperhatikan langkahnya yang gontai. Ia mendekat dan menggamit bahunya pelan, agar tak limbung. Lalu mencubit hidungnya yang kecil.

Mereka jalan sedikit lambat dari biasanya.

Begitu di depan lift, Chika sadar. Ia menarik bahu dari dadanya. Sesaat pintu terbuka, cahaya putih temaram menyambut. Mereka masuk, dan gadis itu sudah menyandarkan kepalanya ke dinding lift, membiarkan matanya kembali terpejam.

Melihat wajah imut dan bibir yang masih basah, ada sesuatu yang tersentak dari dadanya.

Sebagai lelaki normal, bohong bila ia nggak tergoda.

Langkahnya mendekat, sedikit merunduk. Perlahan ia selipkan tangannya ke leher, --di antara rambutnya yang tergerai lurus. Lalu menarik kepalanya lebih dekat, hingga nafasnya terasa hangat di wajah. Sesaat ia terhenti, menunggu matanya terbuka. Namun gadis itu justru mengulas bibirnya yang kering kembali basah, membuat irama jantungnya seakan meledak menatap wajahnya yang bening.

Perlahan ia menempelkan ujung hidungnya sendiri, lalu menyesap bibirnya lembut.

Spontan mata Chika terbelalak, kaget pada sosok itu. Namun ia sadar, itu adalah suaminya. Dua tangannya yang hendak memberontak pun perlahan melunak, menikmati lumatan.

Tak lama suara lift pun berdenting dan terbuka. Keduanya langsung menoleh, menjaga jarak dekat. Keduanya masih menahan nafas, mencoba meredakan sisa panas dan debaran yang tertinggal.

Chika berjalan lebih dulu, malu. Menahan jantungnya sendiri yang seakan meledak, barusan. Begitu sampai di depan pintu, Izack mendesak tubuhnya.

Lelaki itu sedikit merunduk, menarik lembut jemarinya untuk ditempelkan ke jari telunjuknya di kunci otomatis. Sentuhan itu membuat nafas Chika sesak, apalagi saat punggungnya menempel ke dada Izack.

Tanpa sadar, gadis itu kembali menggigit bibir, seolah menahan sesuatu, saat pipi mereka saling bersentuhan.

Kini kesadarannya terbangun penuh. Seolah ada alarm keras di kepalanya saat pintu terbuka.

Izack mendorong lembut Chika yang sempat membeku, membuat lelaki itu tersenyum samar. Ia melangkah lebih dulu, melepas sepatu. Chika mengikutinya.

Ruangan terasa senyap dan nyaman. Seolah ruangan menyambut kehadirannya. Dan pandangannya langsung mendarat pada kerlap-kerlip di balik gordyn tipis di ujung ruangan.

Namun pandangan Izack jatuh ke bawah, melihat kaki Chika mencengkeram dingin. Ia segera melepas sandal dan meletakkannya.

"Pakailah,"

"Nggak usah, tenang aja... aku terbiasa nyeker di sawah,"

Izack mencibir. Ia berjongkok, memakaikannya ke kaki.

"Tapi kakimu nggak bisa bohong, Non..." ucapnya tenang.

Genggaman jari itu terasa hangat, menusuk ke ulu hati.

Ia kembali berdiri, menatap wajah, lalu mencubit hidung kecilnya, gemas. Seperti kebiasaan kecil saat ia harus menahan dari sentuhan berlebih.

Chika diam, menelan ludahnya sendiri, saat lelaki itu menatap lekat dirinya. Tapi ia tak ingin kembali tergoda, dan langsung melangkah cepat mengaburkan rasa grogi. Tapi ujung kakinya tersangkut robot penyedot debu otomatis yang melintas pelan di bawah.

Chika kehilangan keseimbangan, spontan Izack menarik lengan.

"Krakkk!"

"Akhhh!"

Spontan Chika menekuk tubuhnya, menekan perut kesakitan.

Izack hanya mendengus tawa kecil, antara lega, kesal dan... gemas.

Saat Chika kembali berdiri, wajah itu saling bertemu. Keduanya hanya tertawa geli.

"Hati-hati, Non..."

Tanpa menatap lagi, gadis itu segera melangkah pergi, menyibakkan gordyn. Izack membuka pintu kaca, membuat angin malam menghembus lembut menerpa wajah Chika yang berdiri di depan pagar stainless yang dingin.

"Ternyata seperti ini ya, isi gedung-gedung tinggi yang di tv itu," gumamnya terpukau, mirip anak kecil.

Udara hangat kembali terasa, ia menoleh singkat. Ada Izack yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Seolah memberi perlindungan dari terpaan udara yang berat dan dingin.

"Jangan berpikir terjun payung, sekalipun hutangmu banyak, Non," senyum Izack meledek, menggenggam bahu.

Chika yang tengah menunduk ke bawah, spontan memejam erat menggigit bibirnya kuat.

"Kenapa?" tatap Izack seolah menyambut gadis kecilnya.

"Aku takut ketinggian," senyumnya nyengir.

Izack hanya tersenyum sekilas.

Tangannya spontan menghalau pandangan Chika, lalu menekannya ke dalam dada. Awalnya Chika mengelak, tapi saat matanya kembali melirik ke bawah, Chika menyerah dalam dekapan dadanya.

Ada hawa hangat yang bergetar menyelusup, menyelimuti tubuhnya yang dingin.

"Duduk dulu, aku buatkan minum," ucapnya, mendorong ke belakang dan membiarkan duduk di sofa dekat balkon.

Izack pergi ke dapur, dan mulai memakai apron.

Chika yang meliriknya dari balik pintu kaca balkon hanya tersenyum tipis.

"Ah... rasanya seperti mimpi," bisiknya lirih, menarik nafas dalam, membiarkan rambutnya tersibak lembut angin malam.

Entah berapa menit, mata kembali terpejam tanpa ia sadari.

Diam-diam Izack datang, meletakkan nampan berisi camilan dan segelas susu hangat. Lalu menekuk lutut di hadapan layaknya menyambut anak kecil.

"Tidur di dalam aja, yuk," ucapnya.

Gadis itu hanya menggeser tubuhnya sedikit dan kembali terpejam, saat tahu wajah lelaki itu di depannya.

"Sudah lama aku nggak menghirup udara segar, Bang."

Izack bangkit, kembali duduk di sebelah. Lalu mulai membuka laptopnya dan scroll pesan yang masuk.

"Tidur dulu, Bang. Kamu jarang istirahat, akhir-akhir ini," ucapnya dengan mata terpejam.

"Hm," jawabnya, tetap mengayunkan jarinya cepat di atas tuts.

Entah berapa menit berlalu. Chika tertidur tenang di sampingnya, hingga tiba-tiba suara geluduk beriringan dengan suara gemuruh alam hempasan angin.

Izack segera menutup laptop dan membawanya masuk. Ia kembali lagi untuk mengangkat tubuh Chika hingga terangkat pelan.

Chika terbangun, kaget sudah ada dalam gendongannya.

"Aku bisa jalan sendiri, Bang," pekiknya setengah meronta.

Izack tak peduli, ia mendorong pintu kamar pelan dan meletakkannya di ranjang.

***

Tiga puluh menit kemudian

Izack muncul dengan wajah segar dari kamar mandi memakai setelan piyama biru dongker. Ia sadar, Chika tak ada di sana.

Ia keluar dengan membawa setelan piyama krem dari kain satin, membuat Chika nyengir risih saat Izack menyuruhnya ganti baju.

"Kenapa?"

Chika menggelang cepat.

"Nggak apa-apa."

"Sudah ayo tidur," kata Izack menutup pintu kaca balkon, saat hujan mulai deras.

"Aku... tidur di sini aja, Bang"

Izack meriut, penuh tanya. Pikirannya masih nyangkut pada segudang masalah pekerjaannya di luar sana. Hingga ia sadar dengan rautnya.

Ia menghela nafas panjang. Lalu kembali duduk di sebelah.

"Hei, kita ini sudah suami istri, Non."

"Iya, tapi..." jawabnya nyengir.

Gila! aku kira ini pernikahan main-main.

Kenapa harus sejauh ini????

Kenapa aku harus tidur beneran dengan lelaki?? Batin Chika brontak.

"Sudah mandi?" tanya Izack lagi.

"Hm," angguknya cepat.

Hening.

Ponselnya kembali bergetar. Itu adalah nomor Rury. Wakilnya di AMN.

"Zack, terkait obrolanmu dengan Pak Ifat sudah kita tindak lanjuti tadi. Sekarang teman-teman baru menginventarisir barang-barang yang dibutuhkan."

"Mungkin besok pagi bakal kami rapatkan via online dulu biar nggak ribet bolak balik. Lusa kami ketemuan bareng."

"Kalau bisa, kau datanglah."

"Hm, oke."

"Soalnya Pak Ifat bilang segera, mumpung menjelang masa pemilihan calon anggota dewan."

"Oke-oke."

Chika yang duduk di sebelahnya hanya senyum-senyum mendengar arah pembicaraan mereka berdua.

Tak lama kemudian panggilan terputus.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Izack curiga.

Chika garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Kalian teriak apa, yang diminta bantuan siapa?"

Izack hanya mendengus.

"Ya begitulah dilemanya kita, makanya nggak mudah berdiri di atas kaki kami sendiri sebagai mahasiswa."

"Sudah ah, ayo tidur," ucapnya segera bangkit, menarik tangan lembut Chika yang enggak bergerak.

"Aku tidur di sini aja, Bang."

"Sudah... ayo tidur di kamar. Nggak usah berpikir macam-macam."

Meskipun tak bisa dipungkiri, sebenarnya Izack tak kalah grogi. Tapi sebagai lelaki ia tak mau menampakkan itu dengan mengatur sedemikian rupa gerak-geriknya, meski tangannya tak bisa dibohongi, dingin.

Chika yang paham, hanya diam menahan tawa. Ia pasrah mengikuti langkah Izack ke kamar. Sampai keduanya terdiam sejenak menatap ranjang yang lengang.

Izack melenggang tenang mendekati ranjang hingga masuk ke dalam selimut. Namun Chika masih berdiri terpaku. "Kenapa? Kamu takut aku menerkammu?" senyumnya menggoda.

"Enak aja, aku tonjok kemaluanmu," cetusnya dengan semburat kemerahan, melengoskan wajah.

Spontan Izack tertawa meledak. "Ampun... serem banget sama suamimu sendiri."

Tanpa ragu Chika mengikutinya, namun sengaja menjaga jarak. Dan Izack membiarkan itu.

"Biasanya tidur dengan lampu terang atau mati?"

"Mati," jawabnya grogi.

Lampu pun mati saat keduanya sudah dalam satu selimut.

Tak lama kemudian terdengar hembuskan nafas, dan berbisik pelan melantunkan doa. Chika meliriknya ragu. Tapi tangan Izack menutup mata gadis itu.

"Sudah, tidur. Nggak usah mikir lagi."

Spontan Chika tertawa geli, Izack kembali membuka mata.

"Mikir apalagi kamu?"

"Manusia itu kan makhluk sosial ya, tapi kalau hidupnya di dalm kotak-kotak begini, jadi mirip hamster di kandang," katanya terkekeh.

Izack mendenguskan tawa. "Selamat malam, Hamster baru..."

Chika tak berkutik sedikitpun dari tempatnya. Bahkan ia sedikit bergeser ke tepi, saat Izack memalingkan tubuhnya.

"Capek membayangkan kehidupanmu, seperti itu tiap hari. Bang," ucapnya, akhirnya.

"Itulah mengapa aku butuh kamu," katanya, menyelipkan tangan di bawah pipinya sendiri.

Chika grogi, ia menghalau perasaannya. "Capek kamu bagi, mending makanan. bisa dinikmati." cletuknya sambil berputar memunggungi Izack yang seketika itu menggelitiki, hingga terjadi manuver dalam selimut.

"Sakit eh, kena jahitanku," tukas Chika akhirnya menghalau.

"Sory-sory," ucapnya, namun ia langsung memeluk tubuhnya erat ke dalam dada.

Keduanya saling berpelukan dalam selimut.

Diam-diam Chika mulai menikmati hangatnya tubuh itu.

"Welcome my life, Sayang..." ucapnya, tak mau melepaskan dekapannya sedikitpun.

Di balik selimut itu, mungkin keduanya masih sama-sama ragu. Tapi malam itu, ia mencoba memastikan dirinya, --bahwa mereka tidak lagi sendiri.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar