Kabut tipis perlahan kembali menyelimuti ruangan rooftop. Mereka mulai menggigil kedinginan.
"Dingin-dingin begini pendekatan cewek, eh... ditinggal pergi," tawa kecil seseorang menepuk pundak Izack.
Lelaki itu salah tingkah.
"Uuuhh... yang lagi pendekatan," celetuk salah satu dari mereka, menyeringai.
Izack hanya tersenyum tipis, seakan menerima kekalahannya.
"Baru kali ini lihat big bos kita ditinggalkan cewek."
"Biasanya, dia sendiri yang meninggalkan," tawa mereka tanpa ampun.
Izack hanya diam. Wajahnya datar, sulit ditebak.
Hendrik yang berdiri di sebelahnya, ikut menggoda sambil menepuk pelan lengannya.
"Nah, kan? Apa aku bilang? Kalau kamu sudah tertarik, bahaya, Zack..." ucap Hendrik lirih.
Seseorang kembali nyletuk. "Tenang Zack, dia tetangganya Hendrik. Kalau ada apa-apa, tinggal telepon dia aja," tawa seseorang menimpali.
Izack diam melirik sekilas, tapi cukup tajam pada Hendrik.
Langkahnya terhenti sejenak, lalu menarik nafas pelan seakan ingin bangkit dari perasaan yang tak nyaman –antara perasaan nyeri atas kepergian gadis itu, dan godaan teman-temannya. Pandangannya melayang ke jalanan di bawah sana. Berharap gadis itu akan kembali lagi. Tapi sedikitpun tak ada tanda-tanda.
Lalu pandangannya kembali tertuju pada teman-temannya.
"Gimana tadi?" ucap Izack akhirnya, mengalihkan pembicaraan.
"Makanya kita kemari, suruh kau turun," jawab salah satu dari mereka.
"Oke..." balas Izack tenang.
Leo yang diam-diam memperhatikan arah mata Izack, seketika mendekat.
"Sorot matamu nggak bisa bohong, Zack," bisiknya lirih menuruni tangga terlebih dulu.
Izack mendesah, tangannya mengusap wajah. Entah kenapa, kepergian gadis itu meninggalkan sesuatu yang mengganggu –sesuatu yang belum bisa ia pahami.
***
Malam itu, Chika duduk di bus sendirian paling belakang, menatap kaca yang sedikit buram oleh air ac yang menetes dari atap bus. Ranselnya ia dekap erat, seakan benda itu bisa menahan rasa nyeri di dadanya.
Berkali-kali ia tahan air mata yang telah menggenang. Untungnya penumpang hanya tiga orang. Itupun mereka duduk di jok paling depan.
"Kenapa naskah yang aku gadang-gadang keluar duitnya, justru ditolak."
Ia ingin, hari itu adalah hari pertama dan terakhir bertemu dengan lelaki itu --sosok yang sempat membuatnya kagum, grogi, bahkan sedikit harapan yang melayang-layang. Ternyata lelaki itu, tak lebih dari sekedar orang yang hendak mengembalikan naskah yang ditolak secara halus.
"Nggak akan lagi aku ketemu dia," batinnya malu, rendah diri bahkan putus asa.
Meskipun secara logika Chika paham, itu bukanlah kesalahannya. Tapi entah mengapa, dengan dikembalikannya naskah buku garapan kakek dan ayahnya itu seperti sedang diinjak keras, hatinya dalam-dalam.
Dan malam itu, ingin sekali rasanya ia habiskan waktu mengikuti pun bus itu pergi. Tapi keselamatan dirinya adalah yang utama. Karena sebentar lagi malam berubah makin pekat, dan jalanan akan semakin sepi.
***
Beberapa jam kemudian.
Izack baru saja turun dari taksi online. Ia melirik arloji digitalnya menunjukkan pukul 23.10. Dan kini, ia telah sampai lagi rumahnya --dekat Basecamp AMN.
Lelaki itu sejenak terdiam, mematung di depan rumahnya, --begitu mobil itu telah pergi. Pikirannya terbayang pada gadis imut bermata elang tadi yang telah membuat hatinya sakit. Ia memandang seberang jalan yang kini gelap. Terbayang siang tadi, gadis kurus semampai --dengan rambut tergerai disibak angin itu, berjalan tenang di seberang sana seorang diri.
Rasanya... baru kali ini, --ia bisa segila ini, jatuh hati pada seorang gadis.
Entah kapan lagi bisa ia bertemu dengannya. Karena mulai besok pagi, ia harus segera terbang ke ibu kota, dengan membawa sebuah proyek besar di AMN yang bakal menyita hari-harinya menjelang kongres akbar Alumni AMN.
Angin malam berhembus pelan, membawa pergi jejak langkah gadis itu –dan mungkin juga, sebagian perasaan yang tak sempat ia akui.
***
Enam Bulan Kemudian
Sejak pertemuan terakhir di Resto itu, Izack nyaris tak pernah lagi muncul di kota Tayoga.
Hari-harinya kini dipenuhi kesibukan mengurus penerbitannya --Al Haque Books, yang tengah melebarkan sayapnya.
Gudang penyimpanan buku yang dulunya kecil dan sempit, kini berpindah tempat lebih luas.
Di belakang area gudang, dibangun ruang pencacahan buku-buku yang sudah tak layak jual.
Tahu kedatangan mobil bosnya, karyawan gudang yang awalnya santai, kini bergerak cepat. Kepala gudang langsung berlari menyambut Izack di depan pintu, sementara Ozin membawa mobil itu pergi, begitu Izack turun.
"Buku-buku yang mau di donasikan sudah siap?"
"Sudah, pak Izack."
"Sip, langsung dibawa ke kompleks militer aja." Izack memberi komando pada sopir mobil box yang baru saja turun, menyapa Izack dengan sedikit menunduk. "Aku sudah bilang sama Papa, katanya langsung dibawa ke sana. Biar diangkut bareng tentara yang mau berangkat."
Saat semua barang sudah masuk, mobil box pun perlahan meninggalkan area gudang, membawa ratusan buku yang masih layak baca.
Izack masuk ke gudang yang sudah disulap menjadi toko buku diskon. Beberapa pengunjung mulai berdatangan, diantaranya ibu-ibu beserta anak-anak yang memadati rak buku anak.
Ia menatap langit-langit gudang sebentar, lalu berkata:
"Tolong, tambahkan empat blower lagi. Biar pengunjung nyaman."
"Baik pak Izack..." kata kepala gudang yang ditinggalkan begitu saja.
Seseorang datang menghampiri Izack.
"Siang, pak Izack..."
"Ya, mas. Gimana rekrutan animator lulusan anak SMA kemarin?" tanyanya sembari menatap langit-langit gudang.
"Bagus, Pak. Nggak nyangka hasil kerja mereka jauh lebih rapi. Cuman ya gitu, agak lambat."
"Wajar. Mereka butuh adaptasi. Sambil jalan kita evaluasi."
Dua orang karyawannya saling berpandangan sejenak.
Langkah Izack pun makin dalam, menatap tumpukan kardus di antara deretan rak baja. Ia berhenti sejenak, menatap sebuah cover buku Tata Kelola Negara dari sudut Agama, yang ditempel di karton besar.
Buku itu adalah naskah pertama kali penerbitan itu lahir --yang kini masih terus diminta cetak ulang.
Izack sadar, Al Haque Books kini bukan lagi sekadar penerbitan. Melainkan menjelma jadi rumah industri kreatif, dengan mayoritas pekerjanya anak-anak muda.
Semua bermula dari adaptasi Teka Teki Bahasa Semesta—novel sains karya seorang siswa SMP yang diterbitkan Al Haque Books – yang kemudian diangkat menjadi film animasi.
Proyek itu dikerjakan bersama salah satu studio animasi, lewat investor utama, perusahaan ayahnya Alvin.
Dan tak disangka, film tersebut mendapat sambutan luas dari beberapa stasiun tv lokal hingga mancanegara.
Dari sanalah Al Haque Books menjadikannya anak perusahaan, karena belakangan mulai mendapat banyak tawaran menggarap konten edukasi yang memadukan animasi dan dunia nyata.
Namun di balik pencapain itu semua, ada tanggung jawab berat Izack yang tak pernah lepas dari perannya sebagai ketua AMN Pusat.
Beberapa kali ia sempat melayangkan surat pengundurkan diri, tapi dewan penasehat dan pembina menolak surat itu. Bagi mereka, Izack adalah kunci utama berkembangnya kerjasama antara CAPN (Civitas Akademika Peduli Negara, yang isinya para dosen, peneliti dan pengamat) dengan AMN (Aliansi Mahasiswa Negara).
Meskipun gagasan utama terbentuknya CAPN itu dari teman-teman AMN Tayoga. Tapi Izack lah pemegang blueprint-nya –orang yang tahu betul arah dan peta geraknya di Mabes AMN Pusat.
Untuk itulah ia diberi kelonggaran waktu dan kewenangan khusus –tak harus datang ke Mabes AMN setiap saat. Namun tetap bertanggung jawab penuh atas jalannya AMN Pusat yang membawahi puluhan cabang di berbagai tanah air.
Dari jarak jauh, Izack menggerakkan orang-orangnya melalui laporan rutin dari cabang AMN, lewat chat grup hingga rapat telekonferens.
Kerjasama antara AMN dan CAPN pun makin terjalin erat.
Izack mendapat dukungan dari para alumni AMN pasca kongres –terutama mereka yang kini berprofesi sebagai pengajar, aktivis, hingga peneliti. Meski tidak semua alumni, khususnya mereka yang duduk di kursi legislatif maupun eksekutif, karena sikap Izack dan jaringan AMN sering dianggap terlalu berani, dan itu beresiko bagi posisi mereka.
Tapi setidaknya, cita-cita AMN Tayoga --yang pertama menggagas lahirnya CAPN-- tak berhenti sampai di sana.
Dan justru ketika mereka membuka diri dari keanggotaan AMN cabang luar negeri, sambutan besar justru datang. Terutama dari kalangan mahasiswa pasca sarjana hingga dosen.
Basecamp center CAPN kini berada di kota Tayoga, tepatnya di kediaman Prof. Sukamta, penasehat CAPN sekaligus rektor universitas swasta Pena Semesta, --kampus mentereng di kota Tayoga.
Beliau adalah sosok paling senior dari alumni AMN yang tersisa. Nasehat-nasehatnya selalu membawa anggota AMN dalam kendali, meski suara cabang Tayoga sempat turun di tengah kepempinan Leo, di awal masa jabatannya.
Walau Izack jarang datang ke Tayoga, komunikasi Izack dengan Prof. Sukamta tetap kuat via telepon maupun video call.
Dan tak bisa dipungkiri, keberadaan Izack memberi arti besar bagi jaringan AMN di tanah air.
Mereka berani bersuara ketika melihat sesuatu yang tak beres.
CAPN turun tangan dengan kajian dan kebijakan. Terutama saat marak eksplorasi dan eksploitasi alam yang mencabut hak masyarakat lokal –termasuk mineral langka yang konon hanya ada di negara Minensa.
Ketika pemerintah seolah lepas tangan, CAPN tetap lantang.
Lewat buzzer AMN yang piawai di dunia digital, mereka menyuarakan wacana "Bagaimana seharusnya."
Suara mereka lirih, tapi konsisten. Tak membawa nama organisasi ke permukaan, tapi pesan-pesan mereka menyebar ke seluruh penjuru negeri, lewat media sosial.
Dan justru dari situlah kekuatannya.
***
Dua tahun kemudian.
Jumat siang menjelang sore, Chika duduk di sebelah kedai rokok, mengibas-ngibaskan tangannya untuk menahan terik matahari panas yang kian menyengat.
Sembari menunggu lampu merah --kesempatan menyebarkan pamflet restoran baru pada pengguna jalan. Ia melirik sekilas halaman depan koran di tangannya. "Badan Meteorologi Nasional menyatakan musim kemarau akan segera berakhir di pertengahan bulan ini," demikian sepenggal kalimat yang terbaca.
Wajahnya kembali menengadah ke langit yang cerah. Segaris senyum tipis muncul dari bibirnya yang tipis.
"Semoga hasil panen kali ini benar-benar bagus, Pak Lik..." lirihnya, dengan tatapan menerawang jauh.
Ia membayangkan bagaimana pamannya yang di pelosok desa harus selalu berjibaku dengan lumpur dan pengairan di musim kering, demi tumbuhnya tunas-tunas padi yang bagus. Dan semua itu semata-mata demi menyambung hidup keluarganya dari hasil pertanian, yang luasnya hanya dua ribu meter persegi.
Ia sadar rasa haus terasa mencekik tenggorokannya. Namun begitu pandangannya turun, matanya menangkap segelas jus di atas meja bundar depan kafe sudut jalan --milik seorang lelaki yang tengah asyik ngobrol sambil menatap ponsel tipisnya. Dan rasa hausnya terasa kian mencekik.
"Segar benar," gumamnya menelan ludah yang terasa kering.
Tiba-tiba ia sadar, jus itu terangkat tangan orang di depannya.
"Oh, orang kaya... betapa nikmatnya hidup kalian dari hasil jerih payah orang-orang seperti kami." pikirnya getir.
"Jeruk itu dipanen dari para buruh tani yang belum tentu tamat sekolah dasar."
"Gelas cantik itu dibuat oleh buruh pabrik yang bekerja di antara panasnya mesin dan pengapnya ruangan."
"Dan kursi-kursi licin itu? Mungkin dikerjakan oleh pengrajin desa yang cerdas, tapi nasibnya kurang beruntung." Pikirnya sembari menarik nafas.
Begitu sadar, lelaki si pemilik jus berwajah kuning langsat itu juga memperhatikan dirinya. Spontan Chika mengalihkan pandangannya cuek, seolah tak peduli. Ia menyeka keringat yang kini benar-benar menetes dari balik kaosnya yang mulai lengket.
Matanya kembali tertuju pada seorang pemulung yang tengah mengais plastik dan botol-botol di atas tumpukan sampah di pojok kafe itu.
"Andai saja tiap orang punya kesadaran memilah sampah, alangkah ringannya pekerjaan bapak itu." pikirnya lagi.
Sorot matanya masih tertuju pada pemulung yang sibuk memilah sisa-sisa kehidupan dari tumpukan plastik dan kardus. Dan akhirnya, pikirannya melayang jauh --andaikan ia diberi kesempatan memiliki lahan berhektar-hektar, ia tahu betul apa yang akan dilakukannya.
Ia akan menjadikannya tempat hidup flora dan fauna.
Ya. Tidak untuk dibangun, tidak pula untuk dijual. Hanya dijadikan hutan buatan. Sebuah restorasi kecil yang lahir dari rasa tanggung jawab.
Senyumnya mengembang tipis mengikuti khayalannya yang jauh melangit.
"Maliii... ng!!!" teriak seseorang.
Seolah baru saja turun dari khayalannya tingkat tinggi, Chika tersentak saat bocah dekil menabrak keras dirinya. Selebaran di tangannya terbang berhamburan.
Belum sempat memproses apa yang terjadi, suara teriakan pedagang buah menyusul dari belakang. "Tangkap mbak!! Itu maling"
Bocah kurus kering itu berusaha bangun dan meraih apel yang menggelinding dari kaosnya. Tapi pedagang buah berjalan cepat, membuat bocah itu lari, hanya menoleh sekilas dua apel yang menggelinding turun ke jalan raya.
Ia lari terbirit-birit, menghilang di antara keramaian orang depan mall.
Saat itu lampu merah menyala, Chika masih kelimpungan meraih selebaran yang berhamburan di trotoar. Belum selesai ia memunguti itu semua, pedagang buah dan calo tua berkaki buntung mendekat cepat. Suara mereka seolah menembus kepalanya dengan bermacam tuduhan.
"Kenapa nggak dicegat, Mbak?! Sudah jelas-jelas nabrak!"
"Lepas begitu saja, ampun!"
Chika diam. Mulutnya ingin menjawab, tapi tak ada kata yang keluar. Matanya menatap apel yang kini terlindas ban mobil, satunya lagi terlindas ban belakang.
Buah apel yang diperjuangkan dua bocah itu... hancur di bawah mobil sedan mewah.
Chika menarik nafas lelah.
Bukan marah pada dua orang itu ataupun bocah kecil tadi. Tapi... ia marah pada carut marutnya sistem negeri ini yang katanya mandi susu di atas lantai emas. Nyatanya... peristiwa anak kelaparan, masih ada di depan mata.
Chika meraup wajahnya sebelum bangkit. Tapi matanya tetap lurus menatap kecewa pada apel yang sudah tak berupa di bawah ban mobil sedan.
Di dalam mobil sedan itu, ada Izack --si pengemudi. Ia menggigit ibu jarinya, kebiasaan lamanya saat sedang sendiri dan bingung. Siku kirinya menyandar di pintu, matanya tertuju pada gadis menatap ke bawah mobilnya.
Dahi Izack mengernyit lama, seperti sedang membuka memori lama.
"Luchika...??"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar