Entah yang ke berapa kali lagi ponsel Izack bergetar. Tapi ia tak mengangkatnya lagi satupun setelah panggilan Roni. Ia hanya melirik nama-nama yang masuk, dan membiarkannya mati sendiri.
Begitu sampai di rumah, mobil terparkir di dalam garasi yang terhubung dengan taman kecil di tengah area ruangan.
Ia melirik gadisnya yang tertidur pulas.
Chika terbangun, kaget melihat sekeliling.
"Dimana ini, Bang?"
"Rumahku," tatapnya berpaling sejenak, lalu membuka pintu dan keluar.
Chika ingin berontak. Tapi rasanya, untuk duduk tegap saja pandangan masih kliyengan.
Lelaki yang kini kemejanya sedikit terkoyak itu berputar cepat, lalu berdiri membukakan pintu untuknya.
"Turun dulu, yuk! Sudah kuat kan?" kata Izack.
Chika menggeleng ragu, lalu meringis kecut, menyapukan pandangannya pada sudut-sudut ruangan di luar kaca.
"Kenapa?" tanya Izack menoleh cepat.
Ia kembali paham dan tersenyum geli. "Tenang aja, aku nggak akan menerkammu kok,"
Tatapan mata itu berkelebat cepat, tak suka.
Izack terkekeh. "Maut sekali, tatapanmu Non,"
"Badanku masih kliyengan, Bang. Aku tidur di sini aja," jawabnya pura-pura.
Tapi Izack masih berdiri di sana. Tatapannya sedikit memaksa, sedikit menggoda.
"Apa perlu aku gendong?"
"Enggak!"
Bukannya takut atau marah, lelaki itu justru tertawa gemas.
"Oke, oke!" kata Izack tiarap.
"Perlu aku nyalakan AC, nona cantik?"
Pipi Chika memerah, ia tak berani angkat wajah.
"Nggak,"
Lagi-lagi Izack hanya terkekeh kecil. "Ampunn... jadi mirip kepiting galak, kamu."
"Oke, aku tinggal dulu yah," katanya sambil membiarkan pintu mobil terbuka.
***
Langit perlahan redup.
Lelaki itu menyalakan lampu satu persatu di tiap sisi ruangan, hingga taman di tengah halaman terasa lembut oleh sinar emasnya.
Siluet tubuh Izack nampak tegap sempurna, terutama saat ia tanggalkan kemeja di sofa. Tubuhnya terbalut kaos lembut yang menampakkan lekuknya yang semampai, membuat Chika kikuk sendiri.
Sesaat ia terbayang senyum dan sorot matanya, yang diam-diam membuat hari-harinya terasa nyaman di dekatnya.
Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru menambah pesona, seakan ada sisi liar yang tersembunyi di balik wajah tampannya.
Saat lelaki itu mendekat dengan selimut abu-abu yang tebal, Chika pura-pura tidur.
Lelaki itu berdiri di sampingnya, lalu diam-diam menenggelamkan tubuhnya dengan selimut, dan menurunkan jok lebih rendah, hingga gadis itu terbaring sempurna dengan sandaran kaki yang semula tertekuk.
Izack tersenyum sekilas, namun tak menyentuhnya sedikitpun, dan pergi begitu saja.
Chika yang sebenarnya belum sepenuhnya tidur, merasakan detak jantungnya seakan terlontar saat merasakan aroma tubuhnya khas.
Dan kini, kehangatan tubuh lelaki itu seakan menyelinap, hingga mengalir ke pori-pori hingga persendiannya yang terasa nyeri, kini luruh perlahan.
Ah... sialan, kenapa nggak menyentuhku, pekik batinnya.
Ia diam terkejut dengan pikirannya sendiri.
"Gawat! Heh! Kenapa kamu Chika?!" batinnya keras, melototi diri sendiri.
***
Malam pun kian dingin dan pekat.
Hanya suara jangkrik yang bersahutan di sela-sela taman.
Entah berapa lama, akhirnya Izack datang kembali membawa sebotol air mineral dan sebutir apel, lalu ia selipkan di samping persneling.
Antara sadar dan mimpi, Chika menangkap siluet tubuh seseorang yang condong di atas wajahnya. Udara hangat dan aroma tubuh menyentuh pipinya sekilas, spontan tangan kanannya yang terkepal.
"Bugh!!"
Kepala Izack membentur kaca mobil cukup keras.
"Akhh!!" Desisnya pecah, menahan pelipis. Ia keluar dari kabin, meringis.
Chika terbelalak, kaget siku kanan tersentuh botol air mineral dan sebutir apel di sana, lalu kembali menatap Izack yang masih meringis kesakitan.
"Maaf!!"
Izack mendengus geli, mengusap pelipis. "Ampun, defensemu kuat banget. Non."
"Siapa suruh," lirihnya setengah kesal, setengah malu.
Izack menegakkan punggungnya dan mengusap-usap kepalanya yang terbentur pelan.
"Ayo, turun dulu. Istirahat di dalam. Kita tunggu kakakku datang."
Karena merasa bersalah, akhirnya Chika nurut. Ia bangkit pelan –tapi tubuhnya goyah. Dalam sekejap pandangannya gelap. Izack sempat menoleh, tangannya sigap menangkap, tapi Chika sudah memposisikan hempasan ke lantai teras.
"Brugghh!"
Tubuhnya melorot perlahan, tergeletak lemah pada lantai teras depan kamar yang cukup tinggi.
Dingin.
Izack tersenyum mengejek. "Begitu mau naik bus sendiri,"
Chika tersenyum pasrah.
"Antar aku ke kos aja, yuk. Bang," pintanya lagi.
"Yakin kamu, dengan badan yang masih lemah begitu?"
Nafas Chika tersenyum pasrah.
"Duduk di sofa aja, yuk."
Chika menggeleng pelan, meringkuk kedinginan.
Izack kembali mengambil selimut tadi dan menenggelamkannya.
Tiba-tiba saja terdengar mobil terhenti di luar. Izack segera beranjak pergi, lalu mencegat kakaknya di depan pintu.
"Mana cewekmu?" lirih perempuan itu, menyingkirkan tubuh adiknya.
"Tolong jangan bicara yang enggak-enggak," pesan Izack tegas.
Perempuan itu menoleh sekilas. "Aman..."
"Aku penasaran sama tipikal adikku yang kata orang anti cewek," tawanya kecil.
Chika yang masih terbaring di teras depan ruang pustaka kaget.
"Loh, kok di sini?" kakaknya melotot.
"Gimana sih, kamu Zack..." cletuk kakaknya sedikit kesal.
"Nggak apa-apa, Kak..." jawab Chika setengah berat, kembali duduk.
Perempuan itu setengah menunduk, menerima uluran jabatan tangan Chika. Gadis itu hendak mencium punggung tangannya, tapi kakaknya langsung duduk di sebelah dan memeluknya erat.
"Tanganmu masih panas begini,"
"Aku tuntun masuk yuk, ah."
Chika menolak.
"Di sana aja, ya Kak..." jawab Chika menunjuk Gazebo kecil di seberang taman.
"Oh... ok, senyamanmu aja, deh," ucapnya menuntun Chika melintasi balok pijakan taman. "Cepat pulih ya..." katanya mengusap-usap punggung.
Sampailah mereka di depan Gazebo. Chika segera melepas sandal dan duduk di sana, bersandar lemah.
"Aku bersih-bersih dulu, deh," katanya.
Perempuan itu pergi meninggalkan keduanya.
Izack kembali duduk di hadapannya. Tapi matanya masih serius memeriksa pesan-pesan yang masuk. Sesekali ia bicara di telepon, sesekali memutus panggilan, lalu menjauh --membuat panggilan beberapa orang sekaligus dalam satu waktu.
Pembicaraan itu terdengar sedikit alot.
Seperti biasa, suara Izack selalu terdengar tenang namun tegas. Entah berapa menit panggilan itu berlalu. Hingga Chika mulai bosan dan bingung, apa yang harus dilakukan.
Sorot matanyanya tajam, ia mengernyit cukup lama.
"Bang," panggil Chika, berusaha menarik perhatian Izack dari ponselnya.
"Hm? ya?!" Izack melirik Chika sekilas.
Merasa panggilannya dicueki, dengan langkah gontai dan lemah ia kembali beranjak pergi memunguti barang bawaannya dari mobil.
Sembari menahan rasa nyeri, ia mengangkatnya perlahan.
Please, Chika! jangan manja, batinnya memekik lirih.
Lebih baik begini... daripada kejebak drama panjang.
Sesaat Izack baru sadar, Chika tak ada di sekitar. Ia baru ingat beberapa menit yang lalu mendengar pintu terbuka.
"Chik, Chika!"
Izack berlari keluar.
Melihat gadis itu tertatih-tatih mengangkat tas bawaannya. Dengan langkah sigap, Izack mencekal lengan dan merebut tas bawaannya.
"Jangan nekat," ucapnya tegas, dengan nafas terengah-engah.
"Sudah dibilang jangan buat angkat-angkat dulu,"
Chika mendongakkan wajah, mengusap air mata kesal. Izack berjalan di samping, seakan memaksa gadis itu masuk.
Saat keduanya masuk, kakaknya sudah muncul lagi dengan baju babydoll krem licin. Wajahnya tampak segar dan cerah sehabis mandi. Tangannya membawa nampan berisi kudapan dan tiga gelas susu.
"Nanti tidur sini, kan?"
Chika nyengir tak enak "Enggak Kak,"
"Loh, terus?"
"Malam ini aku antar dia pulang ke rumah pamannya," jawab Izack.
Chika menoleh, menggeleng cepat.
"Nggak, Kak."
Kakak beradik itu mulai berargumen, dan Chika pasrah.
"Mending besok aja, pagi-pagi."
Chika ingin membantah, tapi Izack tak memberi ruang. Kakaknya malah memusatkan perhatian padanya — menatap tenang, ramah, tapi penuh ukur. Vibes perempuan itu hangat, jauh lebih mudah didekati daripada Izack yang entah kenapa selalu terasa intens.
Ia mulai bertanya hal-hal sederhana: semester berapa, kenal di mana, sudah berapa lama. Chika menjawab seadanya, gugup. Setiap kali ia ragu, Izack yang menjawab — terlalu cepat, terlalu yakin. Seolah ceritanya sudah ia siapkan sejak lama.
Sampai akhirnya pertanyaan itu jatuh juga, pelan tapi menghantam.
"Status kalian apa?"
"Teman."
"Pacar."
Jawaban itu keluar bersamaan — dan saling bertabrakan di udara.
Hening jatuh begitu saja. Angin malam menggeser helaian rambut Chika ke keningnya. Ia menoleh ke Izack, tak percaya. Lelaki itu malah bersandar santai, dengan senyum kecil yang menyebalkan.
Kakaknya menghela napas, setengah geli, setengah menyerah.
"Ya sudah," katanya ringan. "Terserah kalian."
Izack melirik Chika sekilas.
"Maaf. Mungkin aku terlalu jujur," katanya. "Tapi aku memang sudah lama ngejar dia."
Chika terpaku. Ia bahkan belum sempat memahami maksudnya ketika percakapan itu berbelok.
Kakaknya terdiam cukup lama, lalu menatap Izack dengan wajah yang berubah serius.
"Kamu tahu aturan keluarga kita, kan, Zack."
Jantung Chika berdegup tidak nyaman. Ia bahkan belum tahu aturan apa yang dimaksud.
Perempuan itu lalu menoleh padanya.
"Begini, Chika... di keluarga kami, kalau membawa teman lawan jenis pulang ke rumah, itu harus jelas statusnya."
Jelas.
Kata itu terasa berat. Terlalu cepat. Terlalu jauh melampaui apa pun yang Chika bayangkan.
"Ini cuma amanat Papa," lanjutnya. "Zack susah dihubungi. Jadi aku yang disuruh datang."
Sesuatu terasa runtuh pelan di dalam dada Chika. Bukan marah. Lebih ke arah... kaget. Terlalu banyak hal yang bergerak tanpa sempat ia pahami.
Izack berdiri.
"Aku perlu bicara sebentar sama Kakak," katanya.
Lalu ia pergi, meninggalkan Chika sendirian di gazebo kecil itu — dengan angin malam, sisa pertanyaan, dan rasa yang belum sempat ia beri nama.
***
Ruang keluarga
Di sofa dekat dapur, bersekat dinding kaca, di depan tv yang mati. Keduanya duduk tenang.
Kakaknya menyibakkan rambutnya perlahan, menyilangkan lutut. Ia menuang segelas air putih ke gelas dan meneguknya perlahan.
Dari balik taman kecil di tengah rumah, bayangan Chika samar terlihat. Ia tak banyak gerak, hanya membuka-buka majalah di atas meja bulat.
"Kamu tahu kan Zack... Bagaimana sayangnya Mama Papa ke kamu. Bahkan, melebihi anak kandungnya sendiri."
"Iya, aku tahu," jawab Izack, nadanya tanpa ragu.
"Tapi jujur, Kak..." Wajahnya menghadap ke depan, matanya tak menatap siapapun.
"Aku nggak nyaman kalau Mama menjodoh-jodohkan aku. Rasanya seperti lelaki bodoh, tahu nggak sih?!"
Kakaknya tersenyum kecil, tapi tak membantah.
"Kamu tahu kenapa Mama bersikap begitu?"
"Karena dia bangga luar biasa ke kamu, Zack..."
"Itu satu. Kedua, sebenarnya dia cemas dengan kabar kamu nggak suka perempuan."
Spontan Izack memejamkan mata, lalu mengusap wajahnya perlahan dengan kedua tangannya.
"Sudah aku bilang, itu nggak benar, Kak."
"Dan kamu sendiri jarang terbuka, kami cuma menebak-nebak."
Izack menghela nafas. "Dan kalian langsung percaya, daripada tanya langsung ke aku."
Kakaknya hanya diam, seolah menuntut penjelasan.
Izack melengos, namun sorot matanya kembali menghadap dengan pancaran mata yang tajam dan tenang.
"Kamu tahu asalku darimana, kan. Kak?"
Perempuan itu diam tak berkutik.
Izack melanjutkan, suaranya rendah tapi tegas,
"Aku ini bayi yang ditemukan di tempat sampah. Itu bukan sekadar masa lalu, tapi identitasku."
Ia menunduk sejenak.
"Itulah kenapa, aku mengindari hubungan tanpa status jelas seperti pacaran. Pacaran bukan opsi, meskipun aku bisa melakukannya lebih dari itu."
Ia mengarahkan pandangan ke sudut-sudut ruangan, tatapannya kosong tapi sarat luka.
"Berapa kali saja aku dijebak? Bahkan... ada yang terang-terangan menyerahkan diri, di kamar hotel, suatu hari."
Suaranya datar, tapi rahangnya mengeras menahan getir.
"Aku muak," rautnya penuh kebencian.
Kakaknya menarik nafas panjang. Ada rasa bersalah yang mengendap di matanya.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita soal itu, Zack?"
"Buat apa?"
Hening sebentar.
Lalu suaranya merendah, seolah mengungkap keyakinan paling dalam.
"Satu hal yang masih aku percaya, Kak."
"Kalau aku ingin mendapatkan pasangan yang baik, aku pun harus jadi orang baik,"
Ia menghela nafas pelan. "Makanya aku ingin nikah muda. Dan aku rasa, Chika adalah orangnya."
Kakaknya terpaku. Menatap serius ke dalam mata adiknya.
"Dia bukan tipikal cewek yang suka cari atensi. Dan aku suka itu," ucap Izack. "Kadang kesannya tomboy, sederhana, kadang terlalu cuek. Tapi entah kenapa kesannya terlalu berkelas buatku. Entah karena logika berpikirnya atau gimana."
Kakaknya menatap dalam. "Jadi, kamu serius nih?"
"Hm," Izack mengangguk, mantap.
"Oke, aku sampaikan itu ke Papa. Dan malam ini, kamu tidur di sini, kan?"
"Nggak! Aku harus antar dia malam ini juga."
Perlahan senyum nakal Izack muncul. "Di desa dia ada tradisi unik, dan itu permainan seru bagiku."
Kakaknya mengernyit aneh. "Mau kamu apakan dia?"
"Aman... tenang aja," ucapnya tersenyum samar.
"Nakal bener kamu ya,"
"Doakan niatku tersampaikan, Kak."
"Kamu ini loh, nggak ingat apa posisimu sebagai siapa sekarang?"
Izack menegakkan punggung. "Kak... aku ini manusia. Lelaki normal yang berhak menikmati proses perjalanan seperti orang pada umumnya," ujarnya cengingisan.
Hening.
Mata Izack yang bening kembali menerawang jauh, teringat peristiwa dua tahun lalu saat peristiwa terguyur air. Demi bisa ngobrol dan mengenal lebih jauh, ia rela mentraktir makanan istimewa untuk teman-teman Basecamp, tapi ujungnya ditinggal pergi begitu saja.
Tukk!!
Pukulan remote mendarat di kepalanya.
"Heh! Awas kamu macam-macam sama calon adik iparku."
Spontan Izack tertawa lebar.
"Dih! Pede, adik ipar."
"Sudahlah... yang terpenting pasanganmu bukan lelaki aja, cukup kita."
Izack melotot, merengut ketus. "Apa??!"
Kakaknya hanya tertawa ringan.
Tiga puluh menit kemudian.
Langkah Izack mulai melambat, begitu melihat Chika tertidur sambil duduk bersandar di dinding gazebo.
Cahaya keemasan lampu taman menerangi sekeliling, membuat suasana benar-benar mendukung untuk tidur.
Apalagi hembusan angin sepoi datang sesekali, rasanya seperti ditiup kipas alami.
"Tidur sini aja..." suara kakaknya dari belakang.
"Kamu tidur di sofa, biar dia tidur di kamarmu."
Mendengar keributan kecil, Chika terbangun. Sorot matanya bingung melihat kakak beradik itu berdiri menatap dirinya.
Izack tersenyum tipis. "Berangkat sekarang, yuk."
Matanya sempat terpesona dengan tampilan Izack dengan balutan knit vest wool merah hati.
"Zack..." nada kakaknya berat mendongakkan kepala, penuh isyarat.
Chika belum sadar sepenuhnya. Tapi dalam sekian detik baru paham, ia berdiri. Tapi lagi-lagi gerakannya limbung, untung Izack menahannya.
Chika menarik tubuhnya, kakaknya menjulurkan alis penuh kode pada Izack.
"Cepat sehat ya..." ujar kakaknya menjabat tangan Chika dan memeluknya erat, --seolah sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Terima kasih, Kak."
Izack berjalan lebih dulu membukakan pintu mobil, --membuat kakaknya tersenyum, penuh makna.
"Kasih kabar Papa sebelum itu, Zack..." ucap kakak saat berhasil menutup pintu.
"Hm," jawab Izack melangkah cepat, dan masuk. Ia menutup pintu.
Chika membuka jendela dan melambaikan tangan saat mobil bergerak mundur keluar dari garasi dan sekali klakson tanda pamit.
"Hati-hati..." senyum kakaknya yang terakhir kali, melambaikan tangan.
Mobil melaju perlahan, hingga akhirnya meninggalkan halaman rumah sepenuhnya.
Di balik jendela kaca yang perlahan terangkat naik, Chika sempat menatap bayangan kakaknya sekilas. Tatapan matanya terhenti di sana.
Namun roda justru kembali menepi di pinggir badan jalan, yang benar-benar senyap.
Rimbun pepohonan di sepanjang sisi jalan membuat aroma misteri semakin pekat. Tapi keberadaan Izack di sisinya, cukup membuatnya terasa aman.
"Ini alamatnya sudah benar, kan?" tanya Izack.
Chika kaget.
"Darimana kamu tahu alamat rumah pamanku?"
"Hm?" Izack hanya senyum menggeser-geser rute terpendek.
Chika mulai tegang, melirik jam digital sudah menunjukkan pukul sembilan empat lima menit.
"Antar aku ke kos aja, Bang. Sudah jam segini soalnya."
Tapi Izack seakan tak menggubris kata-kata itu, hingga selesai menggeser digital map.
Tatapannya mengeras, jauh, seolah tenggelam pada sesuatu yang tak ia ucapkan.
"Ingat karakter teman kosmu, justru aku nggak tenang kalau malam ini kamu disana," kata Izack mengalihkan.
Glekk!
Ada rasa hangat sekaligus mendebarkan.
"Sejak kapan kamu peduli aku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Izack tersenyum kecil. "Kalau nggak peduli, terus nunggu kamu di rumah sakit seminggu itu untuk apa, Chika..." suaranya tenang.
Perlahan ada sesuatu yang runtuh, bukan karena kata-katanya –melainkan aura ketenangan itu.
Dan ia pun mulai belajar menenangkan diri, meski kecemasan itu sedikit mengganggu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar