Minggu, 24 Mei 2026

Bab 30. Foto yang Tersisa

 Beberapa jam kemudian.

Semburat merah mulai muncul di balik gedung-gedung tinggi. Dan perjalanan yang biasanya terlalu lama, kini lebih cepat, di saat jalanan masih lengang.

Begitu sampai di depan pintu gerbang rumah Papa, pintu gerbang masih terbuka lebar. Rombongan mobil sudah terparkir di sana lebih dulu. Mereka menyambut kedatangan mobil Izack dengan tatapan lelah, badan kotor dan wajah berminyak.

Seorang penjaga rumah langsung sigap mendatangi Izack.

"Tolong arahkan mereka di ruangan Basement, Pak."

"Baik, mas..."

Beberapa orang langsung sigap, berlarian membongkar muatan berisi barang-barang yang kotor berantakan.

"Ruri, tolong ditata yang rapi. Sementara, kantor kita pindah di sini dulu."

"Iya, Bang," jawab lelaki itu segera pergi mengikuti penjaga rumah.

Izack segera mengangkat ponsel yang bergetar dari dalam sakunya.

"Halo, Pa..."

"Dokumen Papa saya pindah ke ruangan kosong, sebelah kamar Pak Bejo."

"Tolong kamu awasi, Zack. Terkadang itu dokumen penting, jangan sampai ada yang tercecer."

"Siap."

Tiba-tiba Chika mengetukkan jari di punggung Izack.

"Ya?"

"Boleh pinjam uang, Bang?"

Izack mengernyit lama, bingung.

Ia segera pamit, memutus panggilan Papa, setelah menutup mic ponsel cukup lama menatap mata Chika yang beku.

"Uang, buat?"

"Pulang ke Tayoga," jawab Chika cepat.

Izack mengernyitkan alis. "Maksudmu, pulang sekarang, dalam kondisi begini?"

Wajah Chika beku menatap. "Ya,"

Izack menatap diam. Ia menurunkan wajah perlahan, lalu kembali menatap matanya cukup lama.

"Ada apa lagi ini?"

"Apa gara-gara kamu nggak bisa istirahat?"

Chika menggeleng cepat.

"Terus?"

Chika mulai meringis, kecut. "Aku nggak ingin hidupku abu-abu, Bang."

"Maksudnya?"

Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil Izack untuk segera mendekat. Tapi Izack menghentikan panggilan itu dengan tangannya. Mereka pun langsung diam, paham dengan suasana tegang di antara keduanya.

Tatapan Izack seakan mengunci.

"Ada apa sebenarnya??"

Chika diam. Tapi sesaat ia kembali mencoba menatap wajahnya. "Ya sudah, kalau nggak mau kasih. Aku juga bisa nggembel ikut truk, kok," ucapnya ketus segera melangkah.

Tapi sebelum kakinya melangkah, Izack menarik lengannya. "Sory, sekarang kamu sudah jadi tanggung jawabku, Non..."

Chika mendelik, menatap lengannya dalam cengkeraman. "Kamu belum apa-apa sudah main kasar," ketusnya.

Izack berkejap, menurunkan pundak, sedikit melonggarkan genggaman.

"Ayo bicara di dalam," genggamannya erat, sedikit memaksa langkah Chika yang alot.

"Sakit,"

"Iya aku tahu, makanya sesekali nurut apa susahnya?" tatap Izack.

Orang-orang yang awalnya mengamati mereka berdua, seketika berpaling. Lalu pura-pura tak melihat.

"Aku mohon kali ini, Non..." tatapnya setengah mengamba.

Tak menunggu lama, akhirnya mereka melangkah cepat, masuk lewat pintu utama, lalu masuk ruang tamu yang luas, melewati ruang keluarga dan ruang makan, hingga naiki tangga menuju kamarnya.

Sesampai di kamar, lelaki itu langsung mengunci pintu. Seakan tak ingin ada seorang pun yang mengganggu.

Ia menarik kursi untuk Chika. Tapi gadis itu bersikukuh berdiri.

Izack menarik nafasnya lelah, membiarkan Chika begitu. Sementara dirinya duduk di pinggir bed.

"Sory, aku benar-benar lupa tadi tinggalkan kamu sendiri di mobil."

Chika tersenyum sinis, "Iya, demi selembar foto, kamu berani taruhan nyawa,"

Izack mengernyit, "Maksudmu?"

"Apa yang kamu kantongi tadi?" suara Chika keras, tajam dan kaku, menunjuk pada rompinya.

Izack segera merogoh saku rompi, ia kaget mendapati selembar foto perempuan berhijab dengan senyum lembut. Seketika itu ia mendenguskan tawa, meremas foto, melempar kesal ke tempat sampah.

Tapi sesaat ia melotot, menggeragap, merogoh seluruh kantong baju.

"Loh?!"

"Cek???"

Matanya melotot, meraup wajah, menggoreskan kotoran dari tangannya.

Tanpa berkata lagi, tangannya lemas merogoh ponsel dan menekan panggilan.

"Rico... yang masih di lokasi siapa?"

"Tolong cek lagi ruanganku."

"Semalam aku berusaha ambil cek dari Bang Aman, tapi malah kesaut foto karena ditarik tim pemadam."

Spontan suara riuh di ujung telepon.

"Ampun, pak ketua..."

"Gara-gara itukah istrimu marah-marah?!"

Gerr... tawa itu terdengar riuh di ujung ponsel.

Izack tak menjawab, rautnya tampak putus asa.

"Heh!! Serius ini, itu dana patungan dari teman-teman alumni buat projek kita ke depan. Kalau sampai pindah ke tangan orang, selesai sudah riwayat kita."

"Siap, pak ketua!"

Hening.

"Sepertinya Ari masih di sana, baru ditelepon."

"Hm,"

Panggilan terputus, Izack kembali mengangkat wajah, menatap Chika berusaha meraih tangannya. Tapi Chika menangkit tangannya membuat Izack menatap lelah.

"Maaf... aku benar-benar nggak tahu itu."

Tanpa berkata lagi, ia menjatuhkan badannya ke kasur sambil menarik nafas berat.

Perlahan matanya terpejam tenang.

"Badanmu kotor banget, Bang. Mandi dulu sana."

Mendengar kata-katanya, Izack kembali membuka mata.

Ia tersenyum menggoda. "Aku mau, kalau kamu yang mandikan,"

Chika melengos, jelas menahan malu. Tapi ia tak menjawab sepatah katapun.

Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya tenang, memejamkan mata dan mulai mendengkur.

Chika melangkah lemas seakan selesai bertarung, ia mulai membongkar koper dan mengambil baju ganti, lalu masuk kamar mandi.

Ia menatap tiap sudut kamar mandi dengan porslein licin dan kering. Mencuci tangan, menatap wajahnya yang terlihat bening dibanding minggu-minggu lalu.

Ia sadar, semua karena kemudahan hidup yang didapat dari lelaki yang baru saja membuat pikiran dan perasaannya teraduk-aduk.

***

Saat ia keluar, kamar sudah tenggelam dalam sunyi. Nafas Izack terdengar teratur, berat dan lelah. Jam dinding berdetak pelan memecah kesunyian.

Chika duduk sebentar di kursi, memandang wajah Izack yang tertidur pulas.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dua kali. Chika segera beranjak membukakan pintu. Ada anak AMN dan seorang pembantu di depan pintu. Tapi ia tak tega membangunkan Izack yang tampak letih. Hingga akhirnya Chika keluar, mengikuti keduanya turun ke basement.

Chika bingung, ketika diminta saran mengarahkan penataan barang yang terlalu banyak, sementara dirinya baru berapa jam menjadi bagian dari diri Izack dan keluarga itu. Tapi ia terpaksa melakukannya, karena satu-satunya bagian dari keluarga itu adalah dirinya.

Saat selesai, ada perasaan lega yang diam-diam bersemi:

"Inilah makna, bahwa aku bagian dari sebuah keluarga ini," pikirnya kembali tenang ragu.

Sepanjang jalan menuju kamarnya di lantai atas, pikirannya mengganjal teringat foto perempuan berhijab. Tapi terbayang ekspresi Izack meremas foto, peraaannya pun kembali reda.

Saat itu pintu kamar terbuka, tatapannya menyapu seluruh ruangan. Seakan ingin mengenali tiap inchi tanpa terkecuali. Siapa tahu, barangkali ia tak akan pernah kembali lagi ke ruangan itu.

Ia menarik nafas dalam, melangkah perlahan. Namun tiba-tiba matanya tersangkut pada sebuah buku tebal warna hijau di sudut rak kecil.

Konservasi Air dan Tanah.

Ia segera mengambilnya, lalu duduk di sofa sudut kamar, dan mulai tenggelam dalam bacaan.

***

Jarum jam dinding di atas tempat tidur menunjukkan pukul 11.30.

Izack membuka mata perlahan, menoleh ke samping, melirik Chika yang tenggelam dalam buku.

"Kenapa nggak kamu bangunkan aku, Non..." suaranya serak, dan bangkit.

Chika melirik sekilas, lalu kembali serius membaca.

Izack bangkit, lalu berdiri di depannya.

"Masih marah kah..."

Chika tak menjawab, hanya menjilati lidahnya berulangkali hingga basah. Kebiasaan lama saat menikmati sesuatu atau sekedar khawatir.

Izack menatap bibir, dan menyentuh lembut.

"Bibirmu terlalu seksi, Non... jangan lakukan itu di depan lelaki lain."

Chika mendelik, kesal. Izack hanya tersenyum geli.

"Itulah lelaki, dia menyuruh perempuannya menutup semua badannya, tapi matanya sendiri jelalatan."

Glekkk...

Izack merasa tertampar.

"Di luar sana mungkin lelaki seperti itu, Non... tapi mari buktikan, jika aku begitu," suaranya dalam.

Ia segera bangkit, lalu beranjak ke kamar mandi. Sorot mata Chika tertahan sejenak, ada perasaan bersalah dengan ucapannya tadi.

***

Beberapa menit berlalu, suara air mengalir memenuhi kamar. Sementara Chika masih duduk di sofa membaca buku.

Izack keluar dari kamar mandi, tubuhnya segar dibalut handuk piyama yang sedikit terbuka. Chika hanya melirik sekilas.

"Sudah mandi?" tanya Izack.

"Hm," jawabnya tak membalas tatapan itu.

Sambil mengeringkan rambut, Izack berdiri mendekat.

Chika yang sebenarnya tergoda, berusaha menahan matanya agar tak melirik sedikitpun di saat lelaki itu terus menatap dirinya.

"Kamu tahu cewek itu siapa?"

"Aslinya dia nggak pakai hijab dan anggun seperti itu."

"Dia kirim foto itu karena kesal, semua chatnya nggak pernah aku balas. Lalu ketika ke kantor selalu ditahan masuk. Akhirnya ia janji nggak akan datang lagi dengan catatan menyampaikan foto itu ke aku."

Chika mendengus.

"Dan itu kamu simpan,"

Izack menggaruk kepalanya.

"Banyak pekerjaan di kantor, dan aku nggak pernah menghiraukan foto itu."

"Apapun alasanmu,"

Izack diam sejenak, menatap mata dengan senyuman tipis.

"Syukurlah... cemburu tanda sayang,"

Chika mencibir.

"Tepatnya bukan cemburu, tapi salah pilih. Makanya aku mau pulang, biar nggak berlarut."

"Kalau kamu salah orang, berarti aku juga salah orang dong. Soalnya aku pilih kamu, dan belum pernah merasa benar sepenuhnya."

Spontan ia berpaling, merasa tersodok.

"Kalau mau pulang, pulang aja," katanya sambil cengengasan.

Chika diam, menghentikan bacaan.

"Paling nanti aku jemput lagi ke Tayoga." ucapnya terkekeh, melirik rautnya yang sudah tegang.

"Repot kan?"

Gadis itu diam, malas menjawab. Tapi bibirnya tak bisa menahan senyum yang segera pecah. Ia menutup bukunya. Antara gemas dan kesal bercampur, Chika mengangkat bantal sofa ke udara, --berniat melemparkan ke arah Izack.

Tapi tiba-tiba luka jahitannya ketarik, membuatnya menjerit kesakitan.

"Akhh!!"

Spontan Izack mendekat, menjatuhkan lututnya ke lantai.

"Hwkwk... kualat itu, namanya," tawanya cekikikan menekan pelan perutnya.

Saat mengusap perut, piyama handuknya sedikit terbuka, membuat rambut halus di dada Izack terlihat jelas.

Glekkk...

Pandangan Chika spontan dialihkan. Ada hawa panas yang tiba-tiba menjalar.

Tapi tiba-tiba ketukan pintu terdengar.

Izack menatap sejenak dan tersenyum tipis. Ia segera bangkit sambil menepuk kepalanya. Tanpa disangka-sangka, kecupan kecil mendarat di pipi, membuat nafasnya terhenti, melotot kaget. Matanya kembali menatap sejenak, lalu tersenyum kecil dan pergi begitu saja.

"Jangan pernah berpikir yang enggak-enggak, Non... musuhku nggak kalah banyak dari yang kamu duga. Bahkan termasuk kebobolan keuangan Mabes dan kebakaran tadi."

"Kalau kamu yang jadi pertahanan terakhirku saja menyerangku, lalu pada siapa lagi aku harus bersandar..."

Glek...

Raut Chika spontan merasa bersalah.

Tapi sebelum Izack membaca raut itu, ia sudah bangkit dan beranjak pergi.

***

Beberapa saat kemudian.

Di ruang Basement semua orang sudah duduk-duduk santai menahan letih.

Izack yang baru saja menuruni tangga, membuat semua mata tertuju kepadanya. Ia tampak segar dengan balutan kaos lengan panjang turtle neck warna krem dan celana cokelat.

"Wow!! Akhirnya Pangeran kita bangun juga,"

"Segar nih, dapat layanan istri seharian," canda mereka.

Izack tak menimpali, ia hanya senyum.

Tatapan Izack kembali menyapu pada mereka satu persatu.

"Gimana? kalian sudah makan belum?"

"Sory, aku capek banget. Ketiduran tadi,"

"Iya, kata Kak Chika kamu tidur dengan badan masih kotor."

Tiba-tiba Dido menghela nafas, menatap Izack lurus.

"Zack... istrimu kesini, tadi."

Alis Izack terangkat sebelah, "Oh, ya?"

"Tanya soal foto."

Izack tersenyum samar. "Oh... Shaika?"

"Hm,"

"Kami bingung menjelaskan."

Yang lain nyletuk. "Akhirnya ya cuma bilang, kalau Bang Izack tuh emang banyak yang suka. Berapa banyak perempuan yang datang dan pergi ke Mabes mencari dia dengan alasan yang dibuat-buat."

"Hm..." senyumnya lelah.

"Terus dia sempat tanya, siapa pacarmu."

"Kita jawab aja, Bang Alvin," sahut lainnya cekikikan.

Izack tertawa samar. "Sembrono kalian."

Tawa yang tergelak pun perlahan mereda. Izack menatap lama.

"Kalian sudah makan belum," tanya Izack lagi.

"Sudah dua kali lah, Bang."

Lagi-lagi mereka nyletuk. "Pokoknya kalau di bawah pimpinan dia, nggak akan kelaparan kita."

Gerrr...

"Jadinya untuk ke depan, gimana nih Bang. Masa kita harus keluar masuk sini terus, mana satpamnya ngeri lagi?"

Hening.

Izack terdiam sejenak.

"Agak siang nanti, mungkin aku loby pak Ifat lah. Gimana jalan keluarnya."

"Nanti kalau misal deal harus gimana. Tolong wakil ketua dan ketua harian koordinasikan teman-teman secepatnya,"

"Siap," jawab Rury dan Dodi bersamaan.

"Perlu investigasi nggak sih ini."

"Perlu lah,"

Seseorang nyletuk. "Aku baca, ini ada unsur kesengajaan sih, Zack..."

"Masalahnya waktu kita pulang, yang tersisa ya anak-anak IT aja,"

Izack menarik nafas pelan.

Suasana mendadak tegang. Ia tahu, meskipun yang berkumpul adalah pengurus inti. Tapi Izack tak ingin mengumbar strategi mendeteksi di balik peristiwa kebakaran.

Izack diam, menundukkan pandangannya. Lalu kembali mengangkat wajah.

"Oke. Sekarang kalian pulanglah... wajah kalian nggak bisa dibohongi."

"Kita butuh pikiran yang fresh untuk mendapatkan jalan keluar," ucapnya tenang. "Bagaimanapun, kita butuh tim IT."

"Gimana kalau ternyata mereka sampai sekongkol sama Fendi?"

Izack menatap kosong. "Stop! Kepikiran boleh, tapi selalu arahkan pada hal-hal baik."

"Termasuk perbaikan gedung itu nanti," ucapnya.

Wajahnya kembali terangkat menatap satu persatu wajah anak buahnya.

"Kalian nggak mandi?"

"Ah, apa itu mandi."

"Hahaha..." tawa riuh

Tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka bergetar.

"Ya? Gimana? ketemu?"

Semua menatap serius ke arah orang tersebut.

"Robek dikit nggak apa-apa, Bang?"

"Pokoknya bawa kemari aja dulu."

"Segera!" suara Izack keras tertuju pada mic ponsel yang sengaja diarahkan pada Izack.

"Siap, Bang," jawab suara lelaki di ponsel itu, terdengar nyaring.

Satu persatu mereka mulai menenteng tas dan jaket bawaan mereka.

"Gimana loby dengan orang CAPN, Bang."

"Biar aku yang urus. Kita koordinasi terus lewat chat grup."

"Kabarkan setiap detil yang kalian ketahui dengan peristiwa semalam. Jangan sampai kita kebobolan lagi."

"Urusan gedung, aku sudah konfirmasi sama abang-abang senior kita. Mereka siap membantu renovasi."

Mereka terbelalak. "Serius?!"

"Hm, makanya kalian istirahatlah... sambil pikirkan langkah kita berikutnya lewat chat grup tim inti dulu aja."

"Oke, Bang."

Sambil menaiki tangga, seseorang nyletuk. "Aku justru khawatir kalau kamu sudah punya anak nanti, apakah masih bisa segesit ini langkahmu, Bang."

Gerrrr...

"Jauh kali, mikirmu. Dan," ucap seseorang begitu sampai di halaman luar.

Tawa pun kembali riuh, seolah menyambut terik udara siang menjelang sore itu.

"Ya makanya, mulai sekarang kamu harus mulai belajar loby-loby."

"Ah, saingannya Izack jelas berat lah."

"Dia punya perusahaan, ayahnya jendral. Lha kita?"

Izack menapuk keningnya, meletakkan tangan di pinggang setengah dramatis membuat semua orang tertawa.

"Terus, selama ini kita adakan acara training mind set itu gunanya apa coba, kalau mikirmu begitu?"

Orang-orang mulai cekikikan.

"Nah, lho... marahin aja tuh, Zack." ucap Dido, yang disambut tawa lainnya.

"Mampus!!"

Riuh tawa pun menyebar, hingga perlahan lenyap seiring langkah kaki mereka masuk mobil.

Tiga mobil itu iring-iringan seperti konvoi keluar dari pintu gerbang. Tak lama satpam kembali menutup pintu gerbang besi yang tinggi.

Izack berbalik arah, menundukkan pandangannya yang tampak berat. Dua tangannya dimasukkan ke kantong celana.

Namun saat mengangkat wajah, ia dikejutkan sosok di depannya.

Chika berdiri di ambang pintu dengan tas ransel di punggung.

Tatapannya tajam, tapi tak sepenuhnya marah, membuat Izack menghela nafas. Ia berjalan mendekat, tapi ponselnya kembali bergetar.

Itu adalah Rony. Sekretaris perusahaannya.

Izack sengaja mengeraskan suara, membiarkan Chika mendengar.

"Bang, ada utusan perusahaan yang mau datang. Mereka ajak kerjasama pembuatan film animasi 2D dan 3D dari novel sejarah kita. Kapan kamu datang ke perusahaan?" suara Rony terdengar di seberang. "Lalu terkait proyek Perpustakaan Digital, Dinas Pendidikan sudah menanyakan lagi, Bang."

Izack menatap lembut mata Chika yang dingin.

"Sip! Momen yang pas banget."

"Kamu bilang ke Ozin kita atur waktunya, ini aku baru urusi kebakaran Mabes AMN."

"Baik, Bang."

Klekk... sambungan terputus.

Langkah Izack pun terhenti di depan gadis itu. Ia sedikit menunduk, menatap lama. Merebut paksa tas yang ia gendong.

"Kamu sadar nggak si dengan perutmu? Nggak boleh buat angkat-angkat dulu."

Saat tas direbut, Chika melepas nafas nyengir kesakitan menekuk punggungnya, menekan perut.

"Nah, kan?!"

"Aku paling nggak suka, kamu yang seperti ini," ucap Izack meletakkan tas, lalu membungkukkan tubuhnya menggendongnya penuh tenaga.

Awalnya Chika berontak.

"Sekali kamu teriak, aku bakal menciummu."

"Iya, tapi nggak baik dilihat orang," ucapnya risih saat sekelebat pembantu datang.

Seorang ibu juru masak senyum-senyum mendekat.

"Mas Izack, makan siangnya mau dibawa ke kamar atau biar di meja makan aja?"

"Bawa ke kamarku aja, Mak," jawabnya.

Saat ibu itu pergi, Izack kembali mengeratkan gendongannya.

Hingga sampai mereka di kamar, Izack mengunci pintu. Menatap teduh wajah Chika yang masih muram.

Lelaki itu menarik kursi setelah mendudukkan gadis itu ke ranjang.

"Aku cuman butuh penjelasanmu soal cewek itu, Bang."

Izack terdiam, nafasnya tertahan. "Aku nggak tahu harus ngomong apalagi."

"Aku memilihmu, karena aku percaya."

"Dan kepercayaan itu nggak cukup kalau hanya dikatakan."

Jlebb...

Chika terdiam.

Suasana hening.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar