Minggu, 24 Mei 2026

Bab 33. Jarak yang Harus Dijaga

 Pagi itu Izack bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan yang sudah dibawakan pak Efans.

Mencium aroma lezat yang masuk ke kamar, Chika segera bangun dan keluar dari kamarnya.

Ia merasa malu melihat lelaki itu sudah segar.

"Sudah mandi, Bang?"

"Hm."

Saat Chika berdiri di depan meja, Izack mendorongnya duduk. Lalu membubuhkan ciuman di pipinya lembut dan hangat. Membuat Chika membeku sejenak.

Izack hanya tersenyum dengan ekpresi itu, dan kembali beranjak. Duduk di kursi, tepat depannya.

Sambil mengambil piring, ia mulai berkata: "Ini nanti mau ada teman dokter yang mau kesini, biar ambil jahitan di perutmu. Semalam katanya sudah terlalu malam, nggak bisa."

"Lalu teman-teman AMN mungkin."

"Nggak ke perusahaan?"

"Kenapa?" tanyanya lagi.

Chika menggeleng.

"Setelah kejadian kemarin, aku suruh mereka rapatkan barisan beneran," ucapnya sambil menyedok ikan asap kuah di kuali.
"Menguatkan langkah demi langkah jadi garda depan perubahan di lapangan, daripada sekadar turun ke jalan."

Ia berhenti sebentar.

"Karena kalau urusannya seperti sekarang—aku ini sudah terlanjur jadi pengemis senior yang duduk bareng pejabat dan konglomerat," katanya lirih.
"Repot kalau cuma teriak perubahan sistem."

"Makanya, aksi nyata di lapangan lebih kena. Lebih tepat sasaran."

Chika tersenyum tipis.
"Akhirnya kalian pro pejabat nakal juga, kan?"

Izack diam. Matanya seperti mencari kata yang tepat.
"Nggak juga."

"Baru kemarin kami mendorong keras orang-orang CAPN untuk mengawal kasus penebangan hutan secara masif," lanjutnya.
"Tentu saja bareng senior-senior di lembaga hukum. Kita kawal sampai menang. Akhirnya tanah kembali ke warga. Sertifikat hak kelola tetap di bawah negara, lewat pemerintah daerah."

Chika hanya tersenyum, tetap menikmati sarapan.

"Kenapa? Kok senyum gitu?"

"Jadi... benar kan, kalau AMN itu organisasi yang nggak punya nyali."

Izack kembali diam.

"Kau tahu kita dapat dana darimana kan, selama ini. Meskipun banyak juga dari senior yang jadi pengusaha?"

"Jangan dikira itu dana cuma-cuma. Itu ada imbal balik politik. Dan itu berat, Non..."

Glekkk...

"Nggak semudah yang aku bayangkan ternyata," pikir Chika.

"Dulu kamu selalu bilang AMN itu berisik."

"Ketahuilah, itu yang terjadi di medan tempur negeri ini."

Angin kembali bertiup sedikit kencang menerobos masuk lewat pintu kaca yang sedikit terbuka. Izack mulai menyendok sarapannya, kini ganti Chika baru mengambil nasi dan lauk.

Sembari menikmati makan pagi, Izack mulai bercerita bagaimana dirinya sering dihadapkan kondisi yang sulit, antara idealisme organisasi dan fakta di lapangan. Hingga akhirnya ia harus memilih melakukan perubahan lewat gerakan mahasiswa turun ke lapangan. Sementara yang berkaitan dengan urusan pemerintah, Izack lebih menyerahkan pada senior mereka di CAPN.

Seperti kasus kekeringan yang akhirnya menurunkan mahasiswa ke goa-goa dan membuat aliran air naik ke perkampungan di atasnya. Lalu sebuah desa yang terisolir, karena sulit membuat jaringan dari gardu listrik, yang akhirnya melakukan kerjasama dengan pihak kampus, perusahaan dan pemerintah untuk membuat listrik dari panel surya. Lalu seperti baru kemarin petani yang ditahan membuang hasil panenan tomat karena harga tomat njeblok, kita bantu melakukan pengawetan, dan dibantu pemasarannya ke pasar-pasar.

Chika yang awalnya skeptis, perlahan diam. Hingga tak terasa semua hidangan habis tanpa sisa.

Saat itu bel pintu berbunyi, suasana tegang mendadak buyar.

Izack segera beranjak, Chika membawa piring-piring itu ke dapur

Lelaki itu pergi, membukakan pintu. Seorang perempuan cantik muncul di balik pintu menawarkan senyum.

"Halo," sapanya ramah.

Tak lama dari itu Chika muncul, ragu, di balik tubuh Izack yang lebih tinggi.

"Halo Kak..." sapa Chika menjabat tangan mereka.

Sementara Izack, tak ada jabatan tangan, langsung mempersilahkannya masuk.

Dari sana Chika mulai tahu bagaimana ia berinteraksi dengan teman perempuan.

"Pantesan, dibela-belain menunggu di Rumah Sakit berhari-hari," ujarnya melirik Izack yang melangkah di belakangnya.

"Imut banget."

Izack hanya tersenyum samar.

Ia menyarankan keduanya masuk kamar. Tapi pikiran Chika selangkah lebih cepat, ia ingin diperiksa di sofa depan tv saja. Tapi Izack agak bersikeras dengan alasan sebentar lagi, mau ada teman AMN yang akan datang.

"Tenang aja Zack, aku nggak lama kok. Satu jam lagi aku harus masuk kuliah soalnya." katanya cekatan.

Ia mencuci tangan dan mulai memakai sarung tangan karet dan membuka peralatan. Tahu Chika ragu membuka ujung kain kaosnya, Izack pun segera pergi menerima telepon.

"Sory, aku tinggal dulu Tan."

"Oke, aman."

Chika kembali merebah dan membuka ujung kain kaosnya.

"Ah... sudah cukup bagus ini, kering jahitannya. Dijaga betul pola makan dan geraknya ya, Kak," ucapnya sambil mengaburkan suasana Chika yang mulai tegang ketakutan.

"Operasi apa, Non?" tanyanya lagi.

"Usus robek," jawab Chika.

"Oh?!!" perempuan itu melongo, terdiam sejenak.

Tapi sesaat tangannya mulai cekatan mengambil peralatan.

Melihat wajah Chika yang tegang, Tania mulai mengalihkan perhatiannya: ngobrol soal dirinya sebagai teman SMA Izack.

"Waktu SMA dia punya cewek, Kak?" selidik Chika setengah bercanda.

"Siapa? Izack?!"

"Boro-boro pacaran,"

"Anaknya mirip kulkas lima pintu, seriusan lagi," katanya mendengus.

"Orderan fotokopinya laku keras gara-gara dia yang menawarkan," tawanya ngakak.

"Nggak banyak yang tahu juga bagaimana kehidupannya. Soalnya kalau istirahat, suka mangkal di kios fotokopi, meskipun sering ditegur guru."

"Tapi dasarnya anak jendral. Melanggar juga nggak begitu masalah bagi dia. Coba kalau kami?"

"Oh..."

Belum sempat Chika menarik nafas lega, untuk benang terakhir. Tiba-tiba saja bel pintu kembali terdengar.

"Kalian sudah selesai??" tanya Izack menoleh.

"Atau pindah ke kamarku aja?"

"Tepat sekali," jawab Tania, melepas sarung tangan karetnya.

"Sudah, Bang," ucap Chika kembali duduk.

Sambil mengemasi peralatannya, perempuan itu berpesan pada kondisi Chika agar lebih berhati-hati lagi.

"Ingat ya Non, jangan buat angkat-angkat beban dulu."

"Hm," Chika mengangguk cepat.

Perempuan itu segera berdiri dan siap pergi.

"Sory, aku cepetan. Zack... sudah ditunggu temanku di bawah."

Saat itulah dua orang lelaki muncul di balik punggung Izack yang tinggi. Mereka saling berjabat tangan sejenak.

Izack mengikuti kepergian Tania ke depan pintu, sambil berbicara bagaimana sebaiknya perawatan pasca operasi.

"Matamu jeli sekali pilih istri, mana bening lagi?" candanya di depan pintu.

"Ah... panjang ceritanya," jawab Izack, melengoskan wajah. Ia memasukkan kedua tangannya ke kantong celana jinsnya.

Izack kembali menutup pintu saat Tania telah pergi. Ia melihat Chika duduk di sofa menemani dua tamunya. Ia bingung mencari cara, menghindarkan Chika dalam obrolan seputar rahasia AMN yang dalam kondisi darurat.

"Sayang," panggil Izack memberi isyarat untuk mendekat di ruang baca.

Chika segera mendekat. Izack memintanya selesaikan pekerjaan di ruang sebelah.

"Kenapa emang?"

"Nggak apa-apa, aku nggak mau kamu ikut kepikiran lagi. Jadi, istirahat saja dulu."

Tak lama kemudian suara bel pintu kembali berbunyi. Chika mulai mengambil buku dan mebaca. Tapi telinganya awas mendengarkan obrolan mereka di ruang tv.

Dua orang lelaki dan seorang perempuan datang dengan nada panik.

"Gimana kita, Zack?!" suara lelaki itu cemas.

"Sudah, tenang dulu. Jangan sampai kita terpancing suasana di luar."

"Tapi teman-teman sudah ada yang turun ke jalan, loh."

"Iya. Tadi kita juga sempat lihat bendera AMN di antara mahasiswa pendemo."

Glekkk...

"Sudah aku peringatkan dari kemarin," suaranya setengah menggumam.

"Kata mereka, itu alasan Izack aja karena dekat sama pejabat."

Izack tak menjawab, ia masih berdiri, tangannya masih bertengger di pinggang.

"Mabes gimana?"

"Halah, baru selesai di bersih-bersihkan."

"Tolong secepatnya, kita butuh banget basecamp di sana."

"Kalau begitu, bilang ke humas, nanti malam kita rapat. Sebentar lagi Arina mau datang bahas soal data keamanan kita di dunia maya, juga kaitannya kebakaran kemarin yang sedikit ada kebocoran."

Mereka ngobrol cukup lama di sana, dan suara mereka mulai samar. Chika tak lagi menyimak pembicaraan mereka yang tak lagi terdengar.

Tak lama kemudian, mereka pergi tampak tergesa-gesa.

Saat itulah Arina datang. Ia langsung duduk, siap membuka laptopnya. Saat itulah Izack menawarkan minuman. Melihat gerak gerik perempuan itu, Chika sedikit curiga. Ia pergi ke dapur, tapi Izack sudah terlanjur keluar dari sana, membawa minuman.

Chika pura-pura keluar untuk mengambil minuman, --sembari mengamati perilaku perempuan itu yang sedikit manja, lalu ikut duduk di sofa, --menatap keduanya asyik ngobrol duduk bersebelahan.

Perempuan itu menatap Chika sekilas.

Melihat gelagat kemenangan di wajah perempuan itu, --karena Izack serius menatap monitor laptopnya sambil berbicara di telepon. Chika dehem.

Izack kaget, seperti baru sadar.

"Kenalkan, ini istriku."

"Oh... halo." jawab perempuan singkat tak menatap matanya.

Chika mengeratkan kedua bibirnya, kesal. Melihat suaminya duduk berdempetan dengan perempuan lain di depan matanya, jelas itu sebuah penghinaan.

Chika segera pergi, lalu masuk ke kamar dengan pintu dibanting keras, membuat benda di sebelah jatuh dan pecah.

Keduanya menoleh kaget.

Izack segera bangkit, mengikuti Chika ke kamar. Dan menutup pintu rapat.

"Tolong kembalikan aku ke Tayoga malam ini juga. Silahkan ajukan gugat cerai," nadanya datar tapi tegas.

Izack mengernyit heran.

"Tunggu, ada apa ini?"

Chika tak menjawab. Tangannya cekatan mengambil ransel dan menjejalkan baju-bajunya. Izack menahan ransel, tapi tangannya dihempas kasar.

Izack diam menahan nafas.

"Ada apa sebenarnya?"

Chika meneruskan kata dengan nada getar.

"Aku ini siapa sih, Bang... Gadis miskin yang hanya kebetulan kamu tolong."

"Di sini, aku nggak jauh beda dari budak tawananmu yang bisa kamu kesampingkan tiap waktu," protesnya sejenak, menatap muak.

Izack langsung membungkam lembut dengan telapak tangannya.

Sekali lagi Chika hendak angkat suara, tapi tangannya makin keras membungkam.

"Oke, aku paham. Kamu cemburu, titik. Aku minta maaf karena kurang peka, nggak perlu kemana-mana."

Chika mendengus kesal.

"Dari gerak-gerik kalian, aku paham kalian ada rasa suka."

Izack hanya mendenguskan tawa sekilas, ia tak mau terseret dalam kemarahan itu.

"Dibanding kamu, jauh. Non..."

"Nggak ada apa-apanya, aku juga nggak tertarik sama sekali sama dia."

"Kebetulan saja dia anak IT satu-satunya yang jago dan bisa kami andalkan setelah Fendi menghilang."

Chika hanya tersenyum, jijik.

"Tapi apakah harus dengan duduk berdekatan seperti itu?"

Izack meraup wajah, tersenyum tipis.

"Okey, silahkan lanjut dan aku pulang ke Tayoga," tegasnya, merebut paksa ranselnya. "Aku nggak sudi hidup dengan orang yang suka memelintir perasaanku."

Izack membekap erat.

"Okey, tolong jelaskan. Aku harus gimana?"

"Aku benar-benar nggak tahu bagaimana cara memposisikan diriku sebagai suami dan pimpinan di mata mereka, Chika..."

Chika berbalik, matanya setengah mendelik.

"Kamu lebih memilih aku duluan atau mereka di matamu."

Sampai di detik itu Izack terdiam.

"Tentu saja kamu, karena kamu istriku. Tapi aku nggak tahu bagaimana caranya memposisikan diriku sebagai pimpinan mereka."

"Oke," Chika langsung berbalik arah membuka paksa lemari.

"Tolong jelaskan, aku harus gimana di posisi ini."

"Jaga jarak saat duduk."

"Hanya itu?"

"Ya!"

"Kenapa dari tadi nggak ngomong langsung?"

"Bang! Kamu sebagai pimpinan organisasi, harusnya paham gimana perilaku perempuan saat tertarik dengan lelaki di depannya."

"Okey, baik-baik." jawab Izack akhirnya menghambur dalam pelukan.

Izack sedikit menunduk, menyibak rambutnya yang lembut terurai. Lalu meletakkan dagu ke pundaknya dan tersenyum.

"Bagi sebagian perempuan, bisa merebut hati suami orang itu kebanggan loh," tatap Chika tegas.

"Tapi aku nggak ada perasaan apa-apa ke dia."

Chika menghentak dagu Izack, kesal. "Kenapa sih, dari tadi selalu membela?"

"Oke-oke, baik. Kalau aku salah lagi, tolong ingatkan aku." jawab Izack.

Begitu terdengar suara perempuan itu memanggil, spontan Izack menggenggamnya erat.

"Kalau begitu, duduklah di sebelahku."

Mereka keluar dari kamar seolah tak terjadi apa-apa. Namun Izack telah merangkul pundak Chika, mesra.

"Gimana tadi?" ucap Izack.

Perempuan itu menatap Chika tajam. Tapi Chika cuek, menatapnya dengan tatapan rendah.

Batin Chika bergetar, tapi ia berusaha kuat.

"Ampun, ternyata perempuan seperti ini ada di dunia nyata."

"Ini kurang sedikit lagi sih, Bang," jawab perempuan itu.

Seolah ada magnet, perempuan itu langsung bergeser, mendekat Izack saat keduanya duduk.

"Sory, kamu tetap di situ aja."

"Oh, kenapa emang?" tatapan mata perempuan itu, melirik aneh pada Chika.

"Nggak apa-apa, nggak nyaman aja," jawab Izack.

"Oh, baik," jawab perempuan itu melirik Chika.

Izack meletakkan bantal kecil di pangkuannya, sebelum akhirnya membiarkan kepala Chika bertumpu di sana.

Sementara gerakan tangan perempuan itu jelas, nggak suka.

Saat Izack mulai bicara dan memberi komentar gadis itu, tangan kirinya reflek gerak memberi aba-aba. Dan tangan kanan refleks membelai rambut Chika, membuat pandangannya tertunduk sesekali pada Chika.

Pekerjaan selesai jelang pukul tiga sore.

"Ah... akhirnya selesai juga," ucap perempuan itu.

Ia mulai berkemas dan segera pamit.

"Maaf ya, aku nggak bisa antar kamu sampai bawah," ucap Izack.

"Nggak apa-apa, Bang. Sudah ada Reno di bawah, kok."

"Oh... okey."

Izack kembali membelai wajah Chika dan memberanikan diri mencium bibir. Saat itu, perempuan tersebut menoleh sekilas.

Tapi rupanya Chika benar-benar pulas tertidur.

"Cepat sekali kamu tidur?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar