Minggu, 24 Mei 2026

Bab 7. Langit begitu dekat, Hati terlalu jauh

 Izack segera bangkit.

"Sebentar, Bro. Ada yang perlu aku selesaikan sama dia." Dagunya mengarah ke lantai atas.

Hayes sempat menatap penuh tanya, tetapi Leo justru memberi peringatan keras. "Awas, jangan bikin takut anak buahku, Bro!"

Izack hanya mendelik sambil tertawa. "Tenang, Pak Ketua. Aman."

Beberapa pasang mata mengikuti punggungnya saat menaiki tangga.

"Ada urusan apa sih?" gumam Leo ke Hendrik.

Hendrik tak menjawab. Tapi sorot matanya tetap mengarah pada Izack seolah meninggalkan seribu tanya dalam hatinya.

***

Langit malam itu benar-benar cerah. Taburan bintang di langit membuat cuaca benar-benar dingin. Tak lama kemudian kabut tebal turun menyelimuti udara.

Chika berdiri di pinggir pagar besi, melepas kucir –membiarkan rambutnya tergerai lembut dibelai angin malam di bawah temaramnya neon keemasan.

Tubuhnya jelas menggigil, kedinginan. Tapi justru merentangkan kedua tangannya ke udara, dan...

"AHHH...!!" jeritnya keras, lepas.

Izack yang sudah sampai di ujung tangga hanya tersenyum kecil melihat sosoknya terlihat hidup.

Mendengar langkah seseorang, gadis itu menoleh kaget.

Seorang lelaki yang memiliki senyum hangat itu muncul. Langkahnya tampak makin elegan di balik postur tubuhnya yang tegap semampai dan tenang. Ia mengenakan jaket biru tua kebesaran anggota AMN pusat. Rambutnya yang tersasak rapi, sedikit berantakan saat dihempas angin --membuat parasnya makin memikat.

Yakin, melihat sosoknya yang rupawan --dengan lesung pipit di kedua pipi, perempuan manapun pasti akan jatuh hati. Termasuk Chika, yang merasakan degup jantungnya terasa berat dan hangat saat langkah lelaki itu makin mendekat.

"Kenapa nggak ikut diskusi?" tanya Izack santai.

Ia berdiri tepat di sampingnya. Tangannya bersandar pada pagar besi di depannya.

Chika yang salah tingkah, langsung merapat ke pagar, mencari pegangan tangan, seakan menekan rasa grogi yang makin menjadi. Sorot matanya menatap jauh pada perbukitan yang gelap, dengan di bawahnya kerlap-kerlip lampu perkotaan yang cantik. Ia menarik nafas pelan, berusaha menetralkan suasana batinnya sendiri.

"Dari dulu, gerakan mahasiswa semacam itu kan ujungnya hanya sebagai batu loncatan untuk mengarah pada jabatan yang sama, kan?"

Glekk... Chika kaget dengan kata-katanya sendiri.

Tapi ia tak mau menarik kata-katanya, karena menurutnya... begitulah kenyataan yang terjadi.

"Berarti kamu sering lihat yang seperti itu, dong?" selidik Izack.

Gadis itu berusaha mengacaukan ruang batinnya sendiri dengan menggosok-gosokkan tangannya, saat tubuhnya makin menggigil kedinginan.

Izack segera melepas jaketnya.

"Ini, dipakai."

Chika kaget. "Oh, nggak. Bang. Terimakasih."

"Bajumu tipis, tuh."

Chika menunduk, mengamati kemeja dan kaos dalemannya sendiri yang sebenarnya cukup hangat. Ia hanya nyengir. Izack segera menangkupkan jaket itu ke punggungnya. Chika yang kalap dingin, tak lagi bisa mengelak.

Lelaki itu memperhatikan dirinya, namun Chika justru membiarkan --rambut panjangnya yang baru ia tarik keluar dari jaket, menutupi sebagian wajah. Entah karena angin atau karena malu, ia tak berusaha menyingkirkannya.

Gadis itu memperbaiki sandaran kakinya pada pagar besi di bawahnya. Tapi meleset dari pijakan dan membuatnya hendak terjungkal ke depan. Tangan Izack refleks menahan. Hangat, kuat, tapi segera ia lepaskan –seolah sadar batas yang tak boleh disentuh.

"Haduh, Non... Hati-hati. Itu jurang dalem banget. Buat duduk aja..." ucap Izack tersenyum samar. Ia membaca sikapnya yang grogi.

Chika pun nurut. Ia duduk di bangku panjang di sebelahnya, mengeratkan kedua tangannya di atas meja saat kabut tebal menyelimuti udara di atas ropftop, membuat tubuh gadis itu makin menggigil. Refleks ia mengeratkan jaket milik Izack. Namun sesaat sadar, ia menoleh pada Izack yang kini duduk di sebelahnya. Ia hanya mendenguskan senyumnya ringan.

"Kamu nggak kedinginan?" tanya Chika kembali menawarkan jaket itu. Tapi spontan tubuhnya menggigil, menahan dingin saat ia lepas.

"Sudah... Dipakai aja," senyumnya santai menatap lurus udara di depannya.

Tak bisa dipungkiri, gerak-gerik Chika makin salah tingkah. Namun gadis itu mengemasnya dengan pura-pura cuek.

Wajah Izack kini benar-benar menatap dirinya. Ia mulai bertanya hal remeh: dari sejak kapan ia menulis, mengapa ia suka menulis masalah sosial dibanding pelestarian lingkungan ketika yang diambil bidang kehutanan. Sampai menanyakan kedekatan dirinya dengan Leo yang membuat Chika spontan tertawa geli.

Tawa itu membuat sorot mata Izack makin terpikat --menatap mata kecil yang tajam, hidungnya yang kecil dan pipinya yang lembut, dan satu lagi bibir ranumnya yang selalu basah. Bukan karena make up, tapi karena seringnya memainkan lidahnya.

Tawa pun mereda, sorot matanya yang tajam benar-benar membuat hati Izack berdetak.

"Kamu kah perempuan yang ku cari selama ini?"

"Perempuan yang tak banyak show up, namun dalam diammu kamu tetap anggun dan feminin tanpa banyak kata," batinnya mulai bergejolak.

Entah apa yang ia pikirkan. Lesung pipitnya terlihat jelas, menandakan ada sesuatu yang membuatnya bahagia.

Bukannya mendengarkan obrolan Chika, Izack justru geli sendiri membayangkan itu semua.

"Kenapa, Bang?"

"Oh?!!" Izack kaget.

"Ngomong-ngomong, rumahmu mana?" tanya Izack lagi.

Sebenarnya pertanyaan itu tak penting baginya. Karena ia sudah tahu sedikit banyak informasi itu dari Hendrik di hari sebelumnya. Tapi demi bisa duduk berlama-lama mendengarkannya bicara dan tertawa, ia rela meninggalkan rapat teman-teman AMN yang sebenarnya membahas hal urgent untuk ia bawa kembali ke ibu kota, Takata.

Tahu dirinya sedang menjadi pusat perhatian, Chika membiarkan rambutnya yang panjang dan lembut itu jatuh menutupi sebagian wajahnya.

"Asliku dari Giwana. Tapi aku ikut paman di Tanegam."

Merasa pandangannya tertutupi, Izack menyibakkan sedikit rambutnya. Membuat Chika kaget, berpaling.

"Kamu ngobrol sama orang, seperti ngobrol ke diri sendiri."

"Oh..." ucapnya nyengir. Spontan menyelipkan rambut ke telinga.

"Bapak Ibu masih?" tanya Izack, seolah menyuruhnya terus berbicara.

Sorot mata Chika kembali tertusuk. Ia menelan ludahnya, tampak tercekat, menatap lekat meja yang terbuat dari plat besi di depannya.

"Ehmm... sudah meninggal," suaranya pelan.

Melihat rautnya yang langsung berubah, Izack mulai waspada. "Oh, maaf."

"Ngomong-ngomong... Kenapa nggak ambil Hukum aja, atau Hubungan Internasional?"

Chika nyengir sambil menunduk. Ia tahu lelaki itu menatapnya terus.

"Karena aku lebih suka hidup berdampingan dengan alam dibanding manusia, Bang."

Spontan Izack melotot dan tertawa lebar. "Oh, ya?"

Tiba-tiba pramusaji datang membawakan es teh pesanannya, Chika buru-buru merogoh dompetnya.

"Nanti saja, mbak... jadikan satu bon dengan yang dibawah." jawab Izack cepat.

Pelayan itu hanya mengangguk dan pergi, membuat Chika yang kesulitan mencari dompetnya, terdiam membisu.

"Loh?!"

"Sudah..."

Chika yang sebenarnya sedang menekan detak jantungnya sedari tadi, akhirnya menghela nafas, malu.

"Kata seniormu, kamu nggak pernah mau turun jalan. Kenapa?"

Gadis itu nyengir, menggigit bibir bawahnya.

"Kalian enak, Bang. Kalau ada masalah, orang tua bisa turun tangan."

"Aku?!" tegas Chika.

"Itu pertama," ucapnya semangat bicara.

Ada senyum samar di bibir Izack dengan lesung pipit di pipi, membuat debaran di dada makin tak karuan.

Kini lelaki itu menyangga dagu, memalingkan wajah. Chika risih agak menjauhkan kursinya, membuat Izack terkekeh.

"Sudah... aku nggak akan menggigitmu kok, tenang aja."

Chika tertawa lebar seakan ingin mencairkan suasana batinnya yang bergejolak tak karuan.

"Lalu yang kedua apa nih?" tanya Izack lagi.

"Aku nggak suka merusak tanaman."

Izack mengernyit bingung.

"Iya kan...? tiap kali mahasiswa turun jalan, pasti taman kota rusak," nada suaranya makin meningkat.

Izack manggut-manggut.

"Hm, benar juga sih."

Izack diam, menatap dalam. Seakan ingin menyusun kembali kata-katanya.

"Tahu nggak, apa yang kami bicarakan dari tadi?" ucap Izack, seolah menanyakan pemahaman pembahasan tadi.

"Justru dengan gerakan seperti itulah, kami menghindari demonstrasi ke jalan-jalan."

"Karena selama ini suara kami yang seperti itu justru seperti dicueki. Untuk itulah kami ganti gerakan."

"Lewat data dan riset dari para ahlinya, lalu kami suarakan ke sosial media."

"Kesadaran kolektif seperti inilah yang bakal membawa perubahan, pelan, tapi pasti."

Jlebb

Chika terdiam, seolah ada sesuatu yang menampar sisi logikanya sendiri.

Meskipun tak bisa dipungkiri, ia sempat tersanjung saat ngobrol dengannya. Tapi lagi-lagi kata-katanya seolah jadi bumerang –memantul dan mengenai dirinya sendiri, membuat wajahnya muram dan pikirannya sunyi.

Pelan pikiran Chika mulai bersuara. "Ayolah Chika, bangun! Sadar! Jangan sampai perasaanmu dipermainkan dia."

"Stopp! Oke! diam kamu," pikirnya berkali-kali seakan ingin hentikan kegaduhan ruang dirinya.

Tiba-tiba suara Izack memecah lamunannya.

"Nama panjangmu benar, Luchika Aria?" tanya Izack.

Ia mengetukkan jari ke meja pelan, matanya menatap kosong pada gelas es teh yang setengah mencair, hingga kembali menatap Chika.

Gadis itu mengangguk kecil "Hm, iya."

"Pernah masukkan naskah buku ke tempatnya Bang Awan?"

"Iya, Bang." jawabnya singkat, melongo.

"Kok abang tahu?" tanya Chika curiga.

Izack hanya senyum tipis. Lalu melipat kedua tangannya ke atas meja. Dan kini, tatapannya benar-benar tertuju pada Chika, seakan menimbang sesuatu.

"Boleh tahu, itu sumbermu darimana?"

"Karena dari gaya tuturmu, itu seperti pelaku sejarah,"

Degg...

Kilatan mata Chika salah tingkah. Ada raut cemas, tergambar jelas disana.

"Sebenarnya... itu yang menulis kakek, Bang," jawab Chika gagap.

Tangannya grogi mengangkat gelas, lalu perlahan menenggelamkan bibir dan menyesapnya perlahan es teh, sambil melirik wajah Izack diam-diam.

Akan seberapa jauh lelaki itu bertanya soal naskah yang mendarat ke dirinya.

Chika menggigit bibir bawahnya sebentar --kebiasaan kecil yang tanpa sadar dilakukannya saat gamang. Gerakan itu membuat permukaan bibir basah.

Izack yang awalnya fokus pada naskah, justru tertahan menatap bibirnya yang ranum. Ada sesuatu yang mengusik naluri lelakinya, dan itu tak bisa diabaikan begitu saja.

Ia berdehem pelan, seakan ingin memecahkan pikirannya yang terlalu jauh.

Chika menyendok pecahan es batu, lalu memasukkan ke mulutnya dan mengunyah perlahan.

KRIUKK...

Gemrutuk es batu di mulut seakan mengaburkan kecemasan batinnya, sembari membuat dirinya nyaman menikmati diri.

"Dingin begini kamu makan es batu. Nggak kedinginan, apa?" tanya Izack meringis.

"Enggak," jawabnya nyengir, cuek.

Entah berapa detik berlalu, Izack menunggu Chika menelan semua es batu di mulutnya mencair.

Begitu selesai, Chika menyendoknya kembali seakan ingin mengusir rasa tak nyaman.

Izack diam sesaat, menahan dagunya dengan jemarinya. Ia tengah menata pikirannya sendiri, darimana ia harus bertanya soal naskah itu.

Tapi gadis itu membuat batin Izack kembali kacau dengan permainan bibirnya yang tampak cemas.

"Ini cewek, kenapa sih?" pikirnya gemas campur geli, ketika nalurinya kembali terusik.

Tak ingin terlalu lama berkelit, Izack mengangkat ponsel membuat panggilan.

"Halo, Nas... tolong ambilkan map cokelat di tasku," pinta Izack.

Jemari Chika menggenggam cangkir, seolah berusaha menenangkan diri dari rasa cemas yang terus bertambah –tentang apa yang mungkin terjadi pada naskah itu, dan padadirinya sendiri. Karena ia paham betul, naskah itu bukanlah naskah biasa.

Seorang lelaki muncul dari balik tangga. Ia mendekat, membawa sebuah map cokelat.

Chika menelan ludah.

Itu map milikku.

"Jadi, dia datang untuk ini?" senyumnya samar.

Pyarrr

Perasaannya yang melambung sejak saat pertama kali bertemu, seolah meluncur dari ketinggian gedung ratusan meter. Ia menarik nafas pelan, mencoba menenangkan perasaannya yang pecah berkeping-keping menjalar hingga ujung kaki.

"Ini, Bang." pria itu menyerahkan.

"Oke, sip. Terimakasih."

Izack membuka amplop cokelat, mengeluarkan sebandel naskah ketikan manual. Ia meneliti sebentar, lalu menaruhnya di meja.

"Begini aja," ucap Izack santai. "Ketik ulang yang rapi, lalu kirim lagi ke aku. Soft copy dan hard copy-nya. Lalu kita lihat nanti, bagian mana yang harus disensor demi keamananmu."

Izack meletakkan kartu namanya. "Atau kirim langsung ke sini, atas namaku langsung aja, biar bisa masuk ke mejaku."

Lelaki itu menatap map. "Mungkin kalau itu bukan Awan yang kirim, naskah ini sudah ditolak di meja pertama," lanjutnya menatap Chika tertunduk, pasrah.

Sehelai angin menerbangkan sebagian rambutnya ke udara, menyentuh pipi Izack. Lelaki itu refleks menelan ludah, jakunnya naik turun, menoleh ke arah lain menyembunyikan gelisahnya.

Chika sadar, buru-buru menyelipkan rambutnya ke telinga.

"Maaf..." gumamnya lirih.

Izack hanya mengangguk, tanpa kata. Pandangannya kembali lurus ke depan, meski dadanya belum juga tenang.

Dalam hati, Chika mencaci dirinya sendiri.

Gara-gara kue tart, jadi GR.

Uukhh!!

Izack mencondongkan tubuhnya lebih mendekat membuat gadis itu spontan geser. Izack yang menyadari itu hanya tersenyum samar. Jarinya mulai membuka halaman 37, menunjukkan satu paragraf dengan jari. Ujung kertas itu dilipat sebagai penanda.

Dokumen penyimpanan senjata berlapis emas itu ditandatangani oleh Presiden Sakoto, dan diserahkan ke Presiden Freilik untuk disimpan di Bank Andidia dan Swena.

Tiga bulan kemudian, dua pemimpin negara itu dijebloskan ke penjara oleh lawan politiknya.

Presiden Seinana –pengganti Presiden Sakoto kala itu-- menarik bunga, dari simpanan emas itu untuk mendanai Yayasan PENDABA (Pendidikan Darurat Bangsa), satu-satunya penyokong anak bangsa yang ingin sekolah ke luar negeri.

Izack membuka lagi di halaman 121.

Satu dokumen lagi ada di brangkas 347S sebuah rumah yang nyaman, dengan kehangatan aroma Gaharu di sekitarnya.

"Kamu tahu ini dimana?" tatap Izack.

Tatapan mereka bertemu –terlalu dekat. Chika buru-buru menunduk. Begitu juga dengan Izack yang langsung mengalihkan pandangannya.

Sejenak Chika meraup wajahnya sendiri, menatap map itu dalam dan cukup lama. Tangannya gemetar menahan panas dingin yang sudah ia tekan sejak tadi.

Ada sesuatu yang seharusnya tak ia perlihatkan.

Rumahnya. Rumah dengan aroma pohon Gaharu di sekitarnya.

Cepat-cepat Chika mengingatkan diri –tujuan semula ke Basecamp adalah untuk naskah itu. Setelah selesai, berarti waktunya pulang.

"Tak ada yang perlu disesali, Chik,"

"Tanpa naskah ini pun, aku masih bisa hidup." batinnya gentar.

Air matanya menggenang, hingga jatuh. Lalu diusapnya cepat.

Izack yang melihatnya sekilas, bingung harus mengatakan sesuatu.

Gadis itu masih menunduk, menyembunyikan wajahnya. Lalu meneruskan gerakannya dengan merapikan barang.

Izack terkejut.

"Eh, tunggu tunggu,"

"Mau kemana?" tanyanya setengah panik, merasa bersalah.

Chika hanya tersenyum kecil, namun getir.

Lalu, dengan ragu ia bertanya, "Eee... Maaf Bang, makan-makan tadi habisnya berapa ya?"

Izack mengernyit. "Habis apanya?" Ia tersenyum kecil. "Kenapa? Mau kamu bayar semua?" tanyanya setengah bercanda.

Chika nyengir kecut. "Eee... ya nggak begitulah, Bang. Bagi dua aja."

Izack terkekeh kecil, menatap matanya.

"Nggak usah. Memang niatku sendiri, kok."

"Beneran?!"

"Iya."

Wajah Chika yang semula tegang, langsung cerah. Matanya berbinar di bawah cahaya lampu kuning keemasan. Ia melepas jaket Izack dari bahunya dan menyerahkannya dengan dua tangan.

Izack menerima tanpa berkata apa-apa, hanya helaan nafas panjang.

Chika hanya tersenyum, merasa cukup dengan jawaban-jawabannya barusan. Ia berusaha merapikan tasnya, lalu berdiri pelan.

Gerakan itu membuat Izack kaget. "Loh?" tanpa sadar ia ikut bangkit, kursinya terseret lebih keras.

"Aku pamit dulu, Bang," ucapnya segera memasukkan map cokelat itu ke dalam tas punggungnya.

"Tunggu-tunggu," ucapnya refleks menahan lengan.

Chika melirik tajam. Izack sadar, segera melepaskan.

"Kenapa ini?"

Gadis itu hanya diam, nyengir.

Ada raut cemas di wajah Izack, saat Chika sudah bersiap hendak melangkah.

Izack ragu sejenak, lalu bertanya, "Kamu tahu ya, ruangan itu dimana aslinya?"

Chika nyengir. Ia ingat jelas: ruang bawah tanah rumah orang tuanya di Giwana. Tapi itu rahasia –bahkan penerbit pun tak boleh tahu.

Gadis itu hanya diam membisu.

"Habis dari sini kamu mau kemana?" tanya Izack lagi.

"Waktu adalah uang, Bang..." ucap Chika santai, sambil mengikat rambutnya ke belakang.

Lelaki itu cepat-cepat mengalihkan pandangan, saat leher Chika tersibak dari rambutnya ke belakang.

"Karena kalau nggak kerja keras, pilihannya cuma dua: putus kuliah, atau mati kelaparan," tawanya lepas, menertawakan kepahitannya sendiri.

Izack sempat diam sejenak menatap gerak-geriknya yang tampak gusar.

"Begini aja," ucapnya menahan nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Biar aku ganti fee kerjamu sekarang. Tapi tolong... kita ngobrol tenang dulu, ya?" suaranya terdengar wibawa.

Sekalipun ada rasa takut yang tak bisa disembunyikan. Ketakutan akan ditinggal pergi. Dan dirinya juga tak sadar, mengapa ia bisa demikian pada gadis ini.

Chika hanya tersenyum. Senyum itu sulit diartikan.

"Terimaakasih untuk blackforest dan makan-makannya ya, Bang."

"Baru kali ini aku dapat kue tart di hari ulang tahunku," nadanya terdengar getir.

Izack menarik nafas sesak.

Sebelum Izack menjawab, Chika sudah berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan jejak banyak tanya.

"Jangan lupa, aku tunggu tulisanmu lagi."

Chika menoleh sebentar, nyengir. "Hmm... aku nggak janji, Bang."

"Lalu naskahmu mau kamu apakan?"

Lagi-lagi gadis itu hanya senyum. Senyum itu benar-benar ambigu, sulit ditebak.

Ia melangkah turun, tapi tiba-tiba muncul beberapa senior dari arah tangga.

"Loh, mau kemana, Chika?" tanya Leo.

"Pulang, Bang, ngejar minibus," sahut Chika cepat.

"Bukannya tadi sama Heni?" tanya Hendrik.

"Ada keperluan lain, Bang!" jawabnya sambil terus melangkah turun.

Dari rooftop, terlihat gadis itu berlari kecil di jalanan yang menurun.

"Chika, jalan aja. Nggak usah lari," seru Leo.

Izack menatap Leo sejenak, ada sesuatu di matanya yang membuatnya sedikit bertanya. Lalu kembali memandang kepergian gadis itu.

Chika menoleh sebentar, tersenyum "Siap, Bang."

Izack ikut tersenyum kecil, mengacungkan jempol ke arahnya.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar