Pagi itu Chika terbangun dari mimpi yang perlahan menghilang.
Ia kaget mendapati wajah lelaki di hadapannya. Jantungnya berdegup keras. Ia sadar, dialah suaminya.
Untuk yang ke sekian kalinya, bisa menatap wajah yang nyaris tanpa noda dari dekat di saat terlelap.
Mereka masih duduk di kursi ruang tamu yang warnanya telah memudar.
Saat itu, matahari memantulkan sinar keemasan, menerobos masuk lewat celah rimbun pepohonan di balik pintu kaca jendela kotak raksasa di hadapannya. Kaca itu tebal berdebu, seolah tak berpenghuni.
Izack yang baru saja membuka mata, menawarkan segaris senyum manis.
Udara pagi menyelusup lewat ventilasi di atas dinding, membawa aroma gaharu.
Chika menghela nafas, menyingkirkan helaian rambut yang mengenai wajah Izack. Lelaki itu mengecup punggung tangannya, membuat nafasnya mendadak terhenti. Ia menatap matanya yang masih setengah terpejam.
"Sudah pagi. Ayo bangun."
Izack menyeringai, setengah malas terbangun. "Kamu nggak ingin menatap wajah tampanku lebih lama lagi, kah?"
Chika tertawa mengejek. "Nggak ada lelaki keren yang bilang bahwa dirinya itu keren."
"Bahkan baru bangun tidur pun, kamu tetap cantik Non..." matanya berbinar menggoda.
Chika mendengus, menggigit punggung tangannya cukup keras.
"Akh, sakit."
Gadis itu tertawa kecil, membasahi bibirnya.
Izack menatapnya dengan ekspresi gemas.
"Ahhh... kenapa sih, kamu selalu memainkan lidahmu yang seksi begitu?" keluhnya meronta.
Chika menutup mata lelaki itu dengan telapaknya.
"Bilas wajahmu sana, biar nggak horney!"
Izack kembali menatap. "Aku ini lelaki normal, sayang..."
"Siapa yang tahan melihat wajah cantik dan seksimu di pagi hari."
Chika mengerutkan wajah, jijik. Ia membalikkan badan, tapi Izack menarik pergelangannya. Chika yang tangkas, langsung memutar tangan, menangkis genggamannya hingga lolos meluncur.
"Nggak semudah itu, Bung!" tawanya menang.
"Ck ck ck Ampun...!" Izack geli campur gemas.
Gadis itu membuka dua daun pintu kayu besar. Udara segar menerobos masuk, membawa aroma gaharu yang kian terasa. Ia berdiri di ambang pintu sambil merentangkan tangannya ke atas, tiba-tiba sepasang lengan hangat melingkari pinggangnya dari belakang.
"Bang," nadanya membeku.
Awalnya ia hendak menghentak, tapi tubuh Izack bergelayut manja, meletakkan dagu di pundak, hingga pipinya saling menyentuh. Membuat Chika tak bisa berkutik saat lelaki itu mendesak leher di sela-sela rambutnya yang ia singkirkan. Belum sempat protes, bibirnya yang hangat mengecupnya berulang kali.
"Jangan pergi lagi, sayang... aku nggak bisa lepas darimu sekarang," bisiknya hangat.
Tubuh Chika membeku.
"Hei, kenapa kamu," ucap Izack tersenyum geli. "Aku ini suamimu, sayang..."
Raut Chika semu merah menahan malu.
Tiba-tiba saja suara kucing mengeong membuyarkan suasana. Chika tersentak, Izack hanya terkekeh, namun tak mengendurkan dekapannya sedikitpun.
Chika yang awalnya risih, perlahan belajar menikmati sentuhannya yang nyaman. Sekalipun dalam hati kecil, ia masih ingin berontak. Sesaat pikirannya melayang, membayangkan fenomena perempuan yang telah beristri tubuhnya jadi melebar tak berbentuk.
"Stop!!!" pekiknya, mendorong kuat dada Izack.
Izack yang awalnya tegang hendak marah, sadar. Melihat sorot matanya yang tegang, ia menahan tawa membayangkan apa lagi yang ada di kepala istrinya.
"Aku nggak mau badanku jelek gara-gara sentuhanmu," ucap Chika tegang.
Izack mengangkat satu alis, separuh geli, separuh tak percaya.
"Huh?!! teori dari mana lagi itu?"
"Lihat tuh, perempuan yang sudah bersuami, badan mereka jadi jelek," protes Chika.
Plakk
Izack menepuk wajahnya sendiri. "Ampunn..." ucapnya terkekeh, menaikkan kedua tangannya ke pinggang.
"Hei, aku nggak peduli badanmu mau berubah atau enggak. Aku hanya melihatmu, itu saja."
Namun tatapan Chika penuh pertahanan, seakan siap berdebat panjang lebar.
"Aku nggak bicara soal kamu peduli atau enggak, aku cuma nggak mau badanku jadi jelek."
Izack mendesah, pasrah.
"Terus, aku harus gimana sayang..."
"Nggak boleh sentuh-sentuh!" ujarnya, melotot.
Izack makin geli. "Nikah tapi nggak boleh bersentuhan? Yakin, kamu?"
Chika diam, berpikir keras. "Pokoknya nggak boleh."
"Okey, Nona cantik. Siap!" Izack tersenyum, lesung pipitnya dalam menahan geli.
Ujung mata Izack melirik, menahan senyum. "Lalu, kenapa kemarin aku boleh menyentuhmu?" tanyanya menggoda.
Chika diam, canggung, "Itu... aku masih toleran."
Izack mengangguk, pura-pura bodoh. Tapi jelas, menahan tawa, menikmati reaksi istrinya.
"Oh... Oke! Berarti aku tunggu toleransimu lagi, dong. Ya?" tawanya lebar tak tahan.
Tapi gadis itu memalingkan wajah, malu.
Ia kembali beranjak, duduk di anak tangga, menatap semak-semak yang hampir saja menutupi halaman rumah. Izack mengikutinya, duduk tepat di sebelan.
Chika tak berani menatap. Jelas, aura kehangatan tubuh Izack terpancar, membuatnya menoleh sekilas.
Lelaki itu sengaja menjaga jarak, lalu berpaling sekilas.
Melihat Izack jaga jarak dan berwajah datar, Chika runtuh. Jarinya terkepal di sebelah kaki tanpa sadar. Ada keinginan menarik tangan Izack agar kembali memeluknya, tapi ia tak berani.
Melihat genggaman tangan istrinya, Izack hanya tersenyum. Ia mengulurkan tangan, dan menyentuhnya perlahan. Keduanya tertunduk melihat tangan mereka menggenggam satu sama lain.
Izack menatap lama, ia hanya tersenyum melihat Chika yang tak berani menatap balik. Lalu perlahan ia menggeser tubuhnya lebih dekat dan melingkarkan tangannya ke bahu.
Tubuh Chika perlahan rapuh saat tenggelam dalam pelukan. Izack menahan senyum, tapi getaran dadanya justru terbaca, membuat gadis itu mendongak curiga.
"Kenapa?"
"Enggak..." jawabnya mengeratkan pelukan.
Chika berusaha brontak.
"Pasti kamu berpikir, Nah! akhirnya mau bersentuhan juga?!"
"Iyakan?!"
Izack lolos, tertawa lepas.
"Enggak... itu kan pikiranmu aja, sayang..." ucap Izack berusaha menenangkan.
Chika masih tegang, waspada. Tapi sentuhan lembut Izack membuatnya kembali jatuh perlahan. Izack pun kembali menepuk puncak kepala dan mendekapnya erat.
"Hadeh... nggak bisa membayangkan betapa galaknya ntar kalau punya anak cewek. Persis sama mamanya,"
Chika hanya melirik.
"Membayangkan aja sudah ngeri."
Izack menatap kaget.
"Coba bayangkan," ceritanya. "Lubang sekecil itu bakal dilewati kepala sebesar itu."
Izack terkekeh geli, "Apa lagi, Non..."
Izack menggelitikinya dengan ciuman di leher, membuat Chika tertawa geli tak tahan.
Tawa itu perlahan reda.
Hening...
Gadis itu menarik nafas perlahan.
"Mau dengar ceritaku, Bang?" ucapnya menoleh.
Izack menoleh sekilas, namun ia tak mengendurkan dekapannya sedikitpun.
Sunyi.
"Sudah lama aku ingin cerita, tapi takut bakal jatuh lagi," suaranya tenggelam.
Jemari Izack lembut menyibakkan rambutnya yang jatuh menutupi sebagian wajah
"Sehari sebelum dijebloskan ke penjara. Kakek buyut sempat memberikan amanat pada ayah untuk menyimpankan dokumen negara, --yang kabarnya, itu dokumen penting terkait harta para raja jaman dulu yang disimpan di bank dunia."
Spontan Izack menoleh. Menatap sekilas, namun ia kembali meredam egonya untuk bertanya lebih. Ia ingat peristiwa dua tahun lalu, dimana naskah buku tua yang masuk ke penerbitannya tak lagi kembali.
"Hingga kabarnya, kakek buyut meninggal di penjara, jauh sebelum ayah menikahi ibu," suaranya tertahan.
"Sampai bapak ibu menikah, dan kami bertiga lahir. Semuanya terasa biasa. Bahkan kami tergolong keluarga terhormat di kampung ini."
"Sampai suatu ketika bapak ibu bertengkar hebat karena fitnah tetangga yang mengatakan bahwa bapak adalah orang komunis."
"Itu membuat kami akhirnya dikucilkan dari pergaulan orang-orang kampung."
"Hingga satu malam, rumah digrebek sekelompok orang tak dikenal satu truk," suara Chika tercekat. Ia menahan matanya berkaca-kaca.
Izack menunduk, mengusap lembut kepalanya.
"Bapak diseret keluar dan dipaksa naik ke atas truk. Sementara ibu yang berusaha melawan ditembak di tempat," suaranya retak, tangis pun pecah. Air mata tumpah berjatuhan.
Chika menarik nafas pelan.
"Begitu juga dua orang kakakku, yang berusaha melawan."
Izack mengeratkan pelukan, lalu menunduk. "Terimakasih sudah mau jujur. Aku lebih suka mendengar itu darimu langsung," bisiknya mengusap air matanya pelan.
Chika tersenyum kecut, menggigit bibirnya yang basah. "Aku nggak yakin, setelah ini kamu masih baik ke aku, Bang."
Tangan Izack langsung membungkam lembut. "Bahkan terlintas pun tidak."
"Justru aku bangga punya sosok sepertimu," tatapnya.
Hening.
Keduanya memandang awan kosong, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Mau aku temani buka pintu kamarmu?" ucap Izack, tiba-tiba.
Keduanya saling menatap.
Chika segera bangkit dari pangkuan, Izack mengikuti.
Saat di depan pintu, gadis itu sempat menoleh ragu. Tapi Izack menggenggam tangan Chika, memberi kekuatan membukakan engsel pintu yang berat berkarat.
Suasana senyap langsung menyeruak dari kamar yang gelap. Chika melangkah pelan, Izack membiarkan jemarinya lepas.
Senyap.
Suara tonggeret bersahut-sahutan di balik rimbun pepohonan menjulang di sekeliling rumah yang sudah mirip hutan mini.
Chika membuka pintu jendela, engselnya berderit pelan saat daun jendela terdorong lebar, --seakan melepas udara pengap yang terjebak bertahun-tahun.
"Ini kamarku," katanya.
Ruangan pun terang seketika.
Izack masih berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling kamar, melihat ruangan dengan boneka dan pita-pita berenda.
"Kecilmu dulu lebih feminim dibanding sekarang," ucap Izack. Tangannya merogoh ponsel yang bergetar dari kantong celana.
Itu adalah panggilan AMN.
"Bang," suara di seberang terdengar berat.
"Iya?"
"Jujur kita kewalahan mencegah anak-anak AMN ikut turun jalan."
"Masih terkait isu kenaikan pajak kemarin?"
"Ya,"
Izack diam sejenak, menghembuskan nafas tenang.
"Wajar Dido, di saat harga barang naik, pajak naik gila-gilaan, masih ada anggota dewan euphoria menaikkan tunjangan tempat tinggal sehari, setara dengan gaji buruh pabrik sebulan. Itu kan menyakitkan."
"Nggak heran kalau mereka marah."
Izack menyandarkan bahu, lalu beranjak mengikuti Chika membuka pintu kamar sebelah yang tak kalah besar luasnya.
"Kamar siapa?" ucapnya lirih penuh isyarat, --sembari mendengarkan penjelasan di ujung ponsel.
"Dua kakak laki-lakiku," jawab Chika.
Ia melangkah tenang, membuka dua daun jendela kayu yang lebar, hingga ruangan terang.
"Berapa daerah sudah turun?"
"Tiga kota sudah konsolidasi. Dua lagi menunggu instruksi. Kalau kita nggak ambil sikap, mereka akan pecah bergerak sendiri."
Izack diam beberapa detik.
"Dengar baik-baik," suaranya tetap rendah, tapi tegas.
"AMN bukan organisasi yang lahir untuk ikut terbakar."
"Jadi, kita tahan mereka?" balas mereka di ujung sana.
"Kita arahkan. Bukan tahan."
"Hari ini kumpulkan koordinator wilayah. Minta semua data kongkret, dari harga-harga barang, terutama sembako, sampai pajak yang diduga meloncak 200 kali lipat, tunjangan kenaikan anggota dewan, sampai subsidi yang dicabut. Jangan cuma emosi."
"Siap, Bang."
"Kalau mau turun, turun dengan konsep. Bawa tuntutan tertulis. Bukan sekadar teriak."
"Tapi tekanan publik sudah tinggi, Bang."
"Justru itu. Kalau kita ikut liar, yang rugi rakyat. Merusak fasilitas umum dan menghambat laju ekonomi."
"Mogok pajak tanpa arah juga bisa melumpuhkan layanan publik."
Hening sesaat.
"Bang... kalau pemerintah tetap tutup telinga?"
Izack menatap Chika yang berdiri ragu di depan pintu kamar lain.
"Seperti kontrak awal kita dengan CAPN, kita buka mata publik. Tapi tetap lewat jalur cerdas."
"Baik, Bang. Kami tunggu arahan resmi."
"Rilis sikap sore ini. Jangan ada anggota bertindak atas nama AMN tanpa koordinasi."
"Siap."
Izack mengangguk, "Oke, nanti aku hubungi lagi kalau sudah sampai," jawabnya menutup panggilan.
Telepon terputus. Izack diam sejenak, seakan baru turun dari lamunan panjang bagaimana ia menyusun stategi yang mesti dijalankan.
Melihat dua pasang layang-layang kain yang tergantung di dinding, Izack tersenyum tenang.
"Satu saat, kita akan ramaikan lagi suasana rumah ini dengan anak-anak kita," ujarnya.
Mendengar kata "anak-anak," Chika meringis kecut membayangkan dirinya menjadi seorang ibu. Ia tak menjawab, hanya keluar. Lalu melangkah tenang di depan kamar seberang. Ia mematung cukup lama seolah meyakinkan diri.
Tiba-tiba Izack menepuk pundaknya, lalu menggenggam erat tangan Chika yang memegang engsel pintu, hingga pintu pun terbuka lebar.
Raut Chika mengernyit cukup lama, saat mencium aroma bunga melati memenuhi ruangan.
"Ini kamar bapak ibu."
"Oh,"
"Aku baru ingat. Dulu, almarhum ibu paling suka bunga melati, dan bapak meletakkan tanaman itu tepat di bawah jendela kamar," ucapnya membuka jendela.
Tanaman bunga melati itu merambat, menjalar masuk sebagian.
Sejenak langkah Chika terdiam, berputar menatap sekeliling. "Seingatku ada ruang bawah tanah di sini, tapi lupa di sebelah mana."
Izack melotot kaget, namun ia tak ingin menampakkan itu.
"Hm," angguknya kecil.
Ia ingat betul, kode-kode rumit di naskah buku tua --yang dikirim istrinya dua tahun lalu. Ia tahu, naskah itu seperti kunci utama untuk mendapatkan surat perjanjian penyimpanan harta kekayaan para raja yang ditanda tangani pendiri bangsa ini, --kala itu.
Chika jongkok, ia mulai menggeser semua barang-barang tua penuh debu di bawah ranjang besi tua. Izack yang ikut jongkok, hanya membantu saat gadis itu mulai menggeser-geser posisi ranjang yang berat.
Izack diam seribu kata, ia hanya mengikuti gerak istrinya menarik karpet tua di bawah ranjang. Lalu membantu membersihkan debu di lantai kayu, hingga tampak irisan lantai kayu penuh debu.
Saat Chika kesulitan mencongkel lantai kayu persegi itu, Izack sigap membantunya. Kaget saat melihat lubang besar, yang lebih mirip ruang bawah tanah.
Mata Izack menatap penuh tanya, tapi Chika tak menjawab. Langkah Chika cepat menuruni tangga yang gelap. Hingga ruangan sedikit terang oleh lampu senter yang ia sorotkan ke anak tangga.
Izack mengikutinya dari belakang, saat Chika memberi kode.
"Wow?!" seru Izack terpanah, saat matanya menangkap ruangan yang nyaman, --mirip seperti ruang kerja yang hening.
Saat Chika mulai menyentuh bawah papan piringan hitam yang berdebu dan lengket, Izack hanya diam saat melihat lubang hitam berisi kotak persegi panjang berwarna dob.
Namun entah mengapa, tiba-tiba tangan Chika lemah, kotak persegi dalam genggaman pun jatuh meluncur ke kaki Izack. Bukan hanya itu, tubuhnya mendadak limbung.
Izack sigap menahan tubuhnya, dan kembali memasukkan kotak itu ke lubangnya, lalu menutup kembali piringan musik tua.
Izack menarik tubuh istrinya pelan, pada kursi kayu di sebelahnya.
"Aku nggak kuat ingat kenangan itu, Bang," suaranya putus-putus, menahan nafas.
Izack menangkup wajahnya, menciumnya hangat.
"Kamu aman, sayang... ada aku di sini."
"Ayo, kita keluar. Bang."
"Auranya pekat banget di sini, dan aku nggak kuat," pintanya.
Izack bangkit, lalu sedikit menunduk, mengangkat tubuh Chika dalam gendongan, menaiki tangga, hingga mereka berada di luar –dalam kamar.
Tangis pun pecah seketika saat Izack berhasil menutup pintu lantai dan menggeser kembali ranjang tua. Ia menuntunnya keluar dari kamar, menutup beberapa jendela yang telah terbuka, lalu duduk di sebelah istrinya.
"Oke, ayo kita pulang. Masih banyak yang perlu aku selesaikan di Takata," ucapnya tenang, sembari membersihkan wajah istrinya yang telah sembab air mata.
Tiba-tiba aroma wangi khas gaharu menguar dari luar.
"Aroma apa ini?" tanyanya melangkah di depan pintu.
Chika mengikutinya dari belakang, membiarkan Izack lebih dulu menuruni tangga, sementara dirinya mengunci pintu dan siap pergi.
Sesaat langkah Chika mendahului Izack, menerobos pepohonan yang rimbun. Izack yang lebih tinggi terpaksa harus merunduk, mengikutinya dari belakang. Hingga langkah mereka terhenti di depan batang pohon yang kokoh menjulang.
Kulit kayunya sedikit retak berwarna abu-abu kecokelatan, seakan menjelaskan usianya. Daun-daunnya yang menjulang tampak hijau gelap di antara ranting-ranting.
"Wow?! Pohon apa ini?"
"Gaharu," jawab Chika.
Izack melotot, tak percaya menyentuh batang kasar dan sedikit lengket oleh getah.
"Jadi, begini rupanya aroma gaharu yang mahal itu?" suaranya pelan, seakan lenyap.
"Andai kamu tahu... hanya dengan menjual resin gaharu ini saja, kamu nggak perlu menggadaikan sertifikat tanah, yang nilainya tak terhitung."
"Besok kita ambil sertifikat rumah. Di Bank mana kamu pinjam?" ucapnya tegas.
"Serius??" Chika melotot, melonjak girang, memeluk erat. Membuat lelaki itu kaget, menyambut pelukan.
"Terimakasih banyak, Bang..."
Sesaat ia sadar, siapa yang ia peluk. Spontan menarik tubuhnya, tapi Izack justru mengeratkannya lagi. Sedikit menundukkan tatapan, lalu memburu wajah yang makin tertunduk.
Suara tonggeret saling bersahutan, seakan menambah suasana hening khas hutan rimbun. Saat Izack mulai menyentuh bibirnya. Ia mengulasnya lembut penuh gairah, lalu menyesap perlahan, hingga nafas mereka tak beraturan.
Mata mereka saling bertemu sesaat, jemari Izack menyisir lembut rambutnya yang jatuh menutupi sebagian matanya.
Mereka akhirnya meninggalkan halaman rumah, dan menutup pintu kayu yang dikelilingi pagar batu kali.
Tiba-tiba seorang kakek datang menyapa, tapi Chika tampak tak suka.
"Nak... kamu siapanya keluarga pak Haroso?"
"Saya suaminya dia, Kek. Luchika Aria, anaknya yang bungsu," jawab Izack.
"Oh... ya Allah," matanya terbelalak, spontan berkaca-kaca.
Izack menyenggol siku Chika untuk menjabat tangan si kakek, tapi raut Chika beku.
Ia pergi begitu saja meninggalkan mereka yang tengah ngobrol.
"Nak... sering ada orang yang berusaha masuk kesitu."
Tahu kebiasaan Chika di kampus, Izack menoleh.
"Bukan aku,"
Si kakek tetap melanjutkan ceritanya.
"Nggak tahu mau apa, tapi sepertinya niatnya nggak baik."
"Dijaga istrimu, Nak," pesan si kakek. "Jangan dibiarkan keluar masuk rumah itu malam-malam sendiri."
"Aku paham perasaannya, mungkin masih benci sama warga sini."
"Oh??" Izack kaget mendengar penjelasan singkat si kakek.
"Ayok, Bang." seru Chika tak sabar, rautnya sudah tak enak.
Dua lelaki itu saling berjabat tangan, Izack pun sedikit pamit pergi.
Si kakek hanya menatap kepergiannya dari jauh. Asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar