Kedatangan Izack ke Istana Negara seolah membuktikan pada masyarakat luas, bahwa gerakan mahasiswa bukanlah sekedar teriakan jalanan yang menuntut pada perubahan, melainkan kerja nyata di bawah bimbingan dan arahan para akademisi yang tergabung dalam organisasi CAPN, --di saat sebelumnya masyarakat skeptis pada sikap AMN di lapangan.
Bahkan tidak sedikit dari para akademisi yang sinis ketika Izack datang ke Istana negara.
"Heh?!! Gitu aja! Toh akhirnya ikut arus juga, sama seperti gerakan mahasiswa lain yang hanya jadi batu loncatan untuk masuk dalma sistem kekuasaan. Dan jatuhnya sama seperti mereka," gumam seorang dosen senior di salah satu ruangannya, saat mendengar berita di laptopnya.
Ada juga yang menyindir bahwa gerakan ini akan berakhir seperti gerakan yang lainnya: dirangkul penguasa, lalu pelan-pelan kehilangan ruh awalnya.
Dan Izack tahu, langkah itu memang penuh resiko. Dan akan mengundang pro kontra ketika dirinya bersuara maupun tidak dengan panggilan itu.
Itulah mengapa, ia memilih diam.
Rembug Nasional
Malam itu, Izack dan beberapa teman pengurus pusat AMN mengadakan pertemuan digital lintas cabang melalui layar lebar. Ruangan itu seperti menyedot fokus mereka pada langkah apa yang harus mereka ambil ketika gerakannya dilirik istana.
"Kita harus bisa memanfaatkan momentum ini," ucap Izack. "Setidaknya memuluskan kebijakan di lapangan saat nanti terjadi kendala dengan birokrasi pemerintah atau aparat daerah setempat."
"Untuk itu, saya menginginkan fokus kalian pada masalah di hadapan kalian, bukan isyu nasional yang dibawa media massa."
"Bukan kita yang ikut arus, tapi mereka harus ikut arus kita. Dan itu butuh konsentarasi tinggi kalian membangun narasi ke sosial media, agar masalahnya segera tertangani."
"Tapi ingat! Saya hanya butuh isyu yang melibatkan kebutuhan masyarakat banyak, bukan individu, misal soal perceraian, atau nenek meninggal karena disiksa anaknya."
"Itu bukan standar kalian."
"Oke?" kata Izack lagi menatap layar semua yang berkedip.
Beberapa orang tampak diam mencerna, beberapa yang lain hanya mengaangguk kecil.
"Ada pertanyaan atau tanggapan lain?"
"Nggak sih, Bang." jawab seseorang di layar.
"Oke, kalau nggak ada. Silahkan diteruskan dengan pemaparan isyu sosial di daerah kalian masing-masing," ucap Izack.
Saat itu Sang moderator yang tengah duduk di sebelah Izack yang berdiri, mengatur satu persatu dari mereka untuk bicara setelah sekian banyak rise hand di layar.
Beberapa isu yang mereka angkat adalah: Perbaikan infrastruktur daerah terpencil, akses kesehatan hingga masalah stunting, fasilitas pendidikan, hingga anjloknya hasil panenan pertanian yang membuat petani marah dan membuang hasil panenannya.
Sejak awal, Izack menyimak. Sesekali ia mencatat poin-poin penting yang muncul dari presentasi teman-teman AMN cabang. Hingga sesi dialog terbuka suasana pun mulai hangat hingga terjadi kericuhan antar cabang di dua jam pertama.
Izack menghela nafas panjang. Ia menoleh pada tim IT, memberi kode mematikan mic pada layar di balik dinding kaca ruangan sebelah.
Setelah hening, Izack kembali berdiri menatap layar lebar, melihat wajah-wajah yang sudah berbalik tegang. Ia kembali mengatur posisin⁹ya berharap suaranya akan terdengar jelas dan tegas.
"Teman-teman... kita kumpul di sini untuk mencari solusi, memikul tanggung jawab sebagai agent of change. Tolong diingat itu baik-baik."
"Kita tahu, negara ini dengan bermacam kondisi geografis yang sangat berbeda satu sama lain, jadi tolong hargai itu."
"Saya tidak ingin perilaku saling serang ini terbawa ke ruang publik."
"Tolong, atur lagi barisan kita." ujarnya menatap satu persatu wajah yang hadir.
Sejenak ia melangkahkan kaki ke depan. "Saya akan buka mic. Tapi tolong ingat, kita di sini untuk berkolaborasi, bukan untuk menjatuhkan dan menyerang."
"Tolong, teman-teman AMN pusat... atur jadwal untuk lakukan diklat kepemimpinan lagi untuk mengatur ini."
"Silahkan dilanjut." kata Izack, memberi kode pada tim IT di seberang ruangan.
Setelah dua jam penuh diskusi, Izack berdiri dan melangkah ke depan whiteboard yang kini jadi pusat perhatian.
Tangan kanannya sudah menjapit spidol. Tim IT langsung mengarahkan sorotan kamera pada whiteboard.
***
Sejak pertama kali Chika dan tim KKNnya tiba di kantor Badan Konservasi Pantai Barat, hujan mengguyur tiada henti. Bahkan sampai malam mereka akhirnya menunda turun ke lapangan langsung, dan lebih memilih koordinasi tim beserta orang-orang Konservasi lebih dulu di aula nya yang tak begitu luas, namun juga tidak terlalu kecil.
Di pagi berikutnya, Chika dan tim mulai mempersiapkan diri untuk turun ke lapangan sekalipun mendung sudah gelap, dan gerimis masih mengguyur kota itu. Namun semangat mereka tak runtuh. Terutama Danis yang paling getol membicarakan bagaimana seharusnya Pantai Barat ini diperluas hutan mangrove nya.
Tapi melihat kondisi pasang surut ombak yang terus menggerus bibir pantai, suara Danis mulai kendor.
"Seharusnya sejak awal terjadinya abrasi, penanaman pohon baku digerakkan, kok."
"Heh, kenyataan itu sekarang. Bukan kemarin." Protes Chika. "Kalau dari dulu sudah ditanami pohon bakau, ini sudah jadi hutan mangrove. Dan kita nggak perlu lagi kesini."
"Tapi begini kan jadi susah menentukan batas pantainya."
"Dan ini juga nggak mungkin kita langsung tanami pohon bakau, ketika ombaknya begini, tanpa adanya pemecah ombak lebih dulu."
"Padahal pemecah ombak harusnya diletakkan di depan baby-baby pohon, biar nggak langsung dihantam ombak."
"Dan poyek pemecah ombak bukan jutaan lagi, tapi bisa miliaran."
"Mantappp! Terus kita ngapain dong, kesini?"
Obrolan itu terdengar oleh Badan Restorasi dan Konservasi Mangrove.
Pria itu terkekeh melihat wajah lemas Danis.
"Kalau hanya tanam pohon, monyet juga bisa kita latih. Masalah paling berat di sini bukan ombak laut, tapi kegigihan hati warga."
"Mereka sudah putus asa karena seringkali gagal. Kalian kemari dituntut memberikan solusi, bukan mengendorkan semangat mereka."
Mereka pun berjalan semakin mendekati bibir pantai yang bukan lagi cokelat, melainkan kehitaman.
"Ngomong-ngomong, darimana air laut warnanya bisa sekeruh itu?"
Tanpa aba-aba, lelaki berambut ikal, Vino langsung mengeluarkan drone dari dalam ransel dan memprogramnya dengan tiga orang laki-laki lain yang membantu.
Sementara Chika dan Danis masih ngobrol dengan orang Instansi.
"Tanggul ini baru diperbaiki bulan lalu, Mbak Chika. Tapi jebol lagi karena terjangan ombak," lapor salah satu staf dinas setempat.
Chika mendekat ke bibir air. Ia memperhatikan riak air itu. "Ombak ini jauh lebih kecil dibanding Pantai Timur yang berhadapan langsung dengan samudra. Logikanya, tanggul ini tidak seharusnya kalah secepat itu."
Di hadapannya, ribuan sampah plastik mengapung, menari-nari mengikuti arus yang membawa mereka masuk ke saluran-saluran daratan. Suara deru mesin pompa terdengar memekakkan telinga, bekerja keras menyedot air yang menggenangi pemukiman untuk dibuang kembali ke laut.
"Ini solusi konyol," gumam Chika ketus.
"Maksudnya, Mbak?" tanya staf tadi.
"Kita menyedot air keluar, sementara pintunya terbuka lebar di depan sana. Capek doang," jawab Chika tanpa menoleh.
Pantai Barat. Tak ada pasir putih atap pasir hitam legam. Yang ia lihat hanyalah bentangan air laut berwarna cokelat gelap, pekat. Dan sampah plastik yang teronggok terseret ombak di bibir pantai.
Chika yang berdiri di bawah mantol, menatap tanggul pembatas yang tampak jebol tergerus ombak. Sementara pohon mangrove dibelakangnya, seolah dilindungi compang-camping.
Tak lama dari itu Bintang berhasil menerbangkan drone, lalu membiarkannya melayang-layang di atas mereka. Orang Instansi itu memberikan arahan kemana mereka harus melihat sesuatu.
Tak lama kemudian rintik hujan mulai reda, ia menerbangkan alat itu tinggi-tinggi. Melalui layar monitor, petaka itu terlihat jelas: air laut tidak hanya naik, ia seolah-olah "menelan" daratan. Bibir pantai tergerus hebat, dan puluhan kampung di bawah sana sudah menyerupai kolam raksasa.
"Ini memang fenomena Global Warming, Mbak. Suhu bumi naik, es kutub mencair, laut pun pasang," celetuk seorang lelaki yang ikut menonton monitor drone Bintang.
Chika hanya tersenyum, namun senyumnya pahit dan tajam.
Dida yang berdiri di sebelah ngumpat, lirih. "Global warming kepala kau."
"Pak," ucap Chika, menatap warga itu. "Kalau Bapak bilang ini murni global warming, harusnya air di pesisir Pantai Timur dulu yang naik, dan menenggelamkan pantainya. Karena berhadapan langsung dengan samudra, yang seberangnya adalah kawasan kutub yang katanya mencairkan es. Tapi ini realitasnya, kenapa yang tenggelam duluan justru Pantai Barat yang hanya berapa kilometer seberangnya pulau-pulau cantik yang masih bersih."
"Itu kan artinya memang di kawasan ini yang perlu diperbaiki, Pak."
Warga itu terdiam, tak mampu menjawab. Chika tahu, ada masalah lain yang lebih sistematis: penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah dan beban industri, bukan sekadar es di kutub yang mencair.
Chika kemudian memutuskan berjalan kaki, menyusuri kampung pesisir yang sudah terendam banjir setinggi lutut orang dewasa. Pemandangan di depannya membuat perutnya mual, namun juga miris: seorang lelaki bertelanjang dada menyuapkan nasi anaknya di teras rumahnya, tepat di depannya, --anak kecil jongkok buang air besar di depannya. Dan hanya dua meter dari sana, segerombolan anak-anak bersorak kegirangan, berenang dan menyelam di air keruh.
Di sudut lain, ibu-ibu dengan wajah pasrah menjemur pakaian pada seutas tali yang melintang di depan rumah yang sudah terendam separuh dinding.
Kemiskinan dan bencana seakan jadi rutinitas yang dianggap normal.
Chika mematikan ponselnya yang sejak tadi bergetar—mungkin pesan dari Izack yang sudah lama tidak pernah berinteraksi.
Saat ini, amarahnya berubah jadi tekad.
"Jangan salahkan nanti, kalau aku nggak mau pulang. Karena sepertinya potensi bisnis di sini sudah muncul di kepalaku."
Sementara di sudut kota Takata, Izack tersenyum tipis menatap pesan singkat itu yang sudah puluhan kali telepon dan pesan singkatnya tak pernah dibalas.
Lelaki itu menarik nafas lega. Ia kembali menatap monitornya, lalu kembali senyum-senyum membayangkan bagaimana tingkah lakunya yang konyol tapi selalu membuatnya kangen karena keseruan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar