Sore itu matahari makin condong ke Barat.
Dan Chika telah meninggalkan halaman kos sejak tiga jam yang lalu.
Sepanjang perjalanan, ia bingung harus tidur di mana malam ini. Selain tak punya teman akrab, ia juga kurang aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa.
Hingga suara adzan maghrib pun terdengar begitu keras, seolah meluluhkan rasa nyeri yang berhasil ia tahan sejak pagi tadi.
Ia sadar, langit pun mulai gelap saat keluar dari masjid. Lalu sengaja membaringkan tubuhnya di atas rerumputan depan halaman Masjid yang terasa dingin.
Hari itu adalah akhir pekan. Hari dimana kota Tayoga seperti menyandarkan kepala setelah lima hari bergelut dengan pilar-pilar pengetahuan yang menjadi jargon kota, --yang kini bersaing dengan Mall dan hotel.
Masihkah pendidikan bagus milik semua anak negeri tanpa terkecuali, atau hanya segelintir orang yang berkantong tebal seperti Izack yang menganggap kuliah tak lagi penting.
"Ahhh... benar-benar melelahkan," pikirnya. Ia meraup wajah, menutup mulutnya yang menguap lelah.
Ingin rasanya ia menghempaskan ocehan pikirannya yang terus menggedor-gedor otaknya sepanjang hari ini hingga matanya terpejam tanpa terasa.
Tenang, nyaman dan damai...
Entah berapa lama ia tertidur, sadar-sadar terbangun oleh suara adzan isya. Chika pun bergegas ke kamar mandi meninggalkan dua ranselnya begitu saja.
***
Di sudut lain kota Tayoga, Heni sengaja menunggu seniornya di depan teras kamar Hendrik. Ia mulai bergosip ini itu tentang Chika, --begitu ada kabar seniornya dari Jakarta hendak datang malam itu. Tapi Hendrik tak peduli, bahkan terlihat nggak suka mendengar gunjingan Heni tentang juniornya.
Saat terdengar mobil diparkir di depan kamar Hendrik, Heni langsung keluar menunjukkan wajah paniknya.
"Kemana Chika, Hen?" tanya Izack.
Heni mulai cerita kejadian siang tadi, tapi Izack tak sabar. Hendrik muncul dari kamar, Izack langsung memberikan komando pada lelaki itu untuk segera lapor ke kantor polisi dan minta bantuan para teman-teman di kantor Cabang AMN untuk mencari.
"Apa nggak terlalu berlebihan sih, Zack?"
"Kita cari sama-sama aja dulu,"
"Ya sudah, terserah."
Izack diam sejenak, menyisir wajah mereka satu persatu.
"Kalian tahu, kira-kira kemana?"
Seseorang nyletuk. "Kalau dia suntuk, biasanya jalan kaki pulang pergi melintasi jalanan menuju pusat kota, Bambuna, Bang."
Bambuna adalah pusat keramaian kota Tayoga, --daerah yang menjadi ikon pagelaran seni budaya, dan tempat diskusi seru para mahasiswa, yang jaraknya kurang lebih 15km dari kos.
"What?!" semua menoleh kaget. Termasuk Izack yang mendelik.
"Tapi, sepertinya kok nggak mungkin ya..."
"Kata teman-teman tadi, dia bawa dua atau tiga tas ransel sekaligus," ujar teman kos Hendrik.
Glekkk!!!
Izack meraup wajah putus asa.
"Padahal belum sepenuhnya pulih, itu..." gumam Izack khawatir.
"Lagipula bukannya kerugian kanopy sudah kamu bayar, ya?"
Heni kembali nyletuk. "Setahuku, kata pak kos tadi, masanya Chika sudah habis. Malah telat dua minggu,"
"Memangnya dia nggak cerita ke kamu?" tanya Hendrik ke Izack.
"Kalau dia cerita, sudah aku lunasi satu tahun ke depan, Hend!" suara Izack lemas.
Izack mengernyit, menekan keningnya sendiri.
"Itulah hebatnya Chika, Zack... sekalipun tahu suaminya kaya, tapi nggak mudah menggantungkan hidupnya pada siapapun," jelas Hendrik, membuat Heni melengos tak suka.
Izack menarik nafas dalam. Ada rasa bersalah yang terlalu dalam di sana.
"Ternyata itu alasan dia kemarin ngotot mau pulang," gumamnya sendiri.
Alis mata Izack mengernyit lama seakan memikirkan keberadaan kemana istrinya pergi. Ia memilih pergi setelah Hendrik memberikan kunci motornya, --yang diiringi beberapa orang untuk berpencar.
Sejenak langkah Izack terhenti.
"Apa ada teman yang sering dikunjungi?"
"Rendra," jawab mereka serempak.
"Siapa itu?"
"Teman dekat," jawab seseorang, membuat beberapa orang melirik penuh tanya.
"Hm,"
"Cowok berambut gondrong?" tanya Izack lagi.
"Ya," jawab Hendrik.
"Mantan pacar?" tanya seseorang polos.
Semua menatap orang itu, seolah menghakimi mentah-mentah.
"Sepertinya sih bukan. Orang... dia juga sudah punya cewek."
"Oh," ucap Izack samar.
"Dimana kosnya?" tanya Izack lagi.
"Aduh, nggak tahu Bang..."
"Carikan info lagi, Hen..." kata Izack sambil lalu. Tapi langkahnya terhenti, kembali menatap Heni.
"Kalau sudah dapat, segera kirim ke aku."
Bibir Heni mengerucut, nyinyir. Begitu mereka meninggalkan halaman kos, menyisakan suara knalpot yang berisik.
Tiba-tiba seorang perempuan nyletuk. "Haaawww... keren."
"Sejak kapan dia peduli sama cewek, Bang?" ucapnya, membuat Heni mencibir.
Dan Hendrik tak melihat wajah itu.
Hendrik menarik nafas dalam. "Mana ada lelaki yang nggak peduli sama istrinya, kecuali lelaki bodoh."
Seseorang melotot kaget. "Loh?! Beneran itu pernikahan adat?"
"Terus, kenapa sampai uang kos aja nggak bisa bayar?" ujar Heni sinis.
Hendrik yang sudah nangkring di atas motor, seketika berpaling. Tapi ia melengos, tersenyum kecut mendengar kata-kata Heni. "Chika itu orangnya nggak sepertimu, Hen..."
"Dia nggak bakal ngomong soal itu, dan nggak mudah menerima bantuan," cletuk Hendrik.
Hendrik segera menyalakan mesin, lalu tanpa berkata-kata, ia langsung menggeber motornya.
***
Malam semakin larut, dan suasana pun makin senyap, seiring ditutupnya pintu-pintu besi mall dan pertokoan di sepanjang jalan.
Ia tak henti menggosok-gosokkan telapak tangan, sekadar menghangatkan tubuhnya di balik jaket parasutnya yang tipis.
Sesaat langkahnya mulai lambat dan terhenti di depan halaman parkir toserba yang gelap, --di saat pandangannya mulai berputar-putar lemas, mual dan pusing.
"Please, Chika. Kuat!!" pekiknya lirih.
Gadis itu bersandar lemah, memejamkan mata bersandar pada batang besi baliho.
"Mau kemana, mbak..."
Suara itu memecah kesadarannya.
Spontan ia melotot, menoleh kaget pada suara perempuan tadi. Ia memastikan, dengan pandangannya yang buram, --jika perempuan itu ada di sana.
Di sudut emper pertokoan yang gelap, seonggok tubuh terbungkus kain di antara gunungan keranjang rongsok plastik dan kardus.
Chika memaksakan senyum letih.
"Oh..."
"Nggak tahu, Bu..."
"Mbaknya darimana?" tanyanya lagi.
Akhirnya ia duduk mendekati perempuan itu, tepat di bawah kaki bocah kecil yang terbungkus kain. Ia meringkuk dalam dekapan si ibu.
"Saya... dikeluarkan dari kos, Bu," ucap Chika jujur.
Ia bahkan tak peduli dengan sandang mahasiswa. Yang ia tahu, nyawanya di ujung tombak. Bertahan atau mati kelaparan di pinggiran jalan.
Matanya bahkan tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah si ibu, kecuali mata dan giginya dalam kegelapan.
"Oh..." jawab si ibu, paham.
Sambil menyelonjorkan dua kakinya, si ibu pemulung menata nafasnya menatap kerlingan mata Chika yang terlihat cekung dan letih.
"Mau minum, mbak?"
"Aku punya air putih, ini..." ucapnya. Si ibu itu menyodorkan sebotol air mineral yang sepertinya sudah diisi ulang.
"Ibu masih punya yang lain?"
"Sudah... diminum saja, nggak apa-apa."
Chika nyengir terbayang bekas luka jahitnya "Tidak bu, terimakasih banyak."
"Nggak apa-apa mbak..."
Setengah hati, akhirnya Chika membuka botol mineral dan pura-pura menenggaknya sedikit, demi membasahi tenggorokannya yang kering.
Hening...
Hanya suara kendaraan yang sesekali melintas, memekakkan telinga dan mengaburkan suara si ibu.
"Sekarang apa-apa serba mahal, tapi harga rongsok dari dulu sampai sekarang ya segitu-segitu aja."
Chika menoleh, mencoba mengelus kaki si anak kecil yang tertutup kain.
"Rumah ibu dimana?"
"Jauh mbak..." ujarnya sambil mengurut-urut kaki.
"Ibu nggak pulang?"
"Nggak cukup buat naik bus, mending disimpen dulu. Kalau sudah dapat banyak baru bisa buat pulang."
Glekk...
Wajahnya tertampar keras mendengar penuturan si ibu.
"Oh..."
Malam semakin pekat, dan dingin pun mulai kian terasa.
Sambil menyangga dagu, pandangan si ibu pemulung menerawang jauh.
"Katanya, kalau presidennya ganti yang ini, bakal bela wong cilik. Tapi nyatanya, sama aja. Apa-apa tambah mahal."
"Kita orang kecil, makin hari makin sulit hidup di negeri ini," keluh si ibu.
Suara itu seakan menancap kuat dalam benaknya, tapi tubuhnya terkalahkan oleh rasa kantuk, lapar, pusing dan mual tak karuan.
Perlahan keringat panas dingin mengucur dari punggung, merasakan tubuhnya gemetar tak berdaya. Tapi melihat sekelebat bayangan gerobak pedagang kaki lima, matanya terbelalak. Dengan bibirnya yang kering, nafasnya yang putus-putus, nyaris tak sanggup mengangkat dua ransel berat.
Ia hanya menoleh sekilas dan mengangguk pada si ibu, mulutnya sudah tak sanggup lagi berucap pamit.
"Oalah, cah ayu... semoga diterangkan jalan hidupmu, nak..." gerutu si ibu mencoba paham. Lalu kembali meletakkan tumpukan kardus sebagai bantalan kepala.
***
Mobil sedan mendadak berhenti, tepat di samping Chika yang berjalan di atas trotoar, --menahan beban berat dua tas ranselnya yang sedikit robek.
Ia kira itu Izack, langkahnya terhenti menunggu kaca jendela hitam terbuka otomatis. Namun wajah om-om muncul di baliknya, ia menawarkan tumpangan dengan senyum mengerikan.
Spontan keringat panas dingin makin mengucur, nafasnya berat tertahan di dada. Tapi ia berusaha mengerahkan sisa tenaganya agar tak limbung.
Dengan suaranya yang serak kering, cepat-cepat ia berkata: "Oh, maaf Om... kamu salah orang!" senyumnya dingin tak bersahabat.
Tapi lelaki di balik pintu itu masih saja merayunya dengan kata-kata yang menjijikkan hingga ia berteriak.
"Hei belang!! mau aku potong kemaluanmu apa?" teriaknya melotot, siap melemparkan tas nya.
"Plash!!!" sedan itu melaju cepat.
Dua orang lelaki yang mengendarai motor pelan pun, mendadak berhenti.
"Ada apa mbak??" sapa lelaki itu.
"Oh, nggak apa-apa mas," jawab Chika menggeleng keras.
"Hati-hati mbak, sudah malam. Cepat pulang, jangan jalan sendirian di sini. Jalanan ini agak rawan kalau malam," pesan lelaki itu dan pergi.
Chika hanya nyengir menahan ngilu. Ia menepuk dada keras, menahan deg-degan serta gemetar panas dingin.
"Bagaimanapun, ternyata perempuan itu butuh tempat bersandar," pikirnya menggeser persepsi Aku nggak butuh lelaki, yang selama ini ia yakini.
Ia bahkan lupa, maagnya makin melilit. Dan bekas luka di perut makin nyeri tak tertahan.
Pandangannya tersangkut gerobak di sudut jalan yang tak jauh dari sana.
Tapi sialnya, tiga orang lelaki berpawakan tinggi besar berjalan sempoyongan membawa botol berjalan menuju ke arahnya.
Jantungnya berpacu cepat.
Ingin rasanya ia menjerit atau lari sekeras mungkin. Tapi tubuhnya justru makin berat.
Ia ingat kata Rendra; orang mabuk itu tubuhnya lemah.
Dengan sisa tenaganya yang nyaris tumbang, ia berjalan cepat dan tegap, memaksa dirinya sadar dan siaga, saat melintasi ketiga pemabuk itu yang melirik ke arahnya dengan tawanya terkekeh.
Begitu agak jauh dari mereka, Chika menghela nafas sembari menahan bekas luka jahitannya mendengarkan pikirannya yang riuh dan gaduh.
"Jangan buat angkat berat-berat dulu ya mbak," suara perawat itu masih terngiang betul.
"Oh... Apa baiknya aku tinggal di kost Rendra dulu aja, ya?" pikirnya seakan sadar, terlalu jauh untuk ke terminal.
"Tapi gimana kalau ketahuan Bang Izack?" pikirnya.
"Ah!" helaan nafasnya lepas.
Kecuali air kran masjid dan setenguk air dari ibu pemulung, belum ada lagi makanan yang masuk ke perutnya sejak pagi tadi.
"Dimana kamu sekarang, Ren?" keluhnya, melihat lelaki gondrong yang duduk di warung tenda pinggir jalan.
Di kota ini, entah sejak kapan warung pinggir jalan berubah jadi kedai kopi, cafetaria, bahkan resto mahal karena tampilan ruang yang menarik.
"Teh hangat satu, Mas," pinta Chika segera duduk di bangku panjang.
Ia melongok keranjang gorengan yang telah ditumpuk, habis.
Dua orang lelaki yang tengah asyik ngobrol, tiba-tiba saja berhenti begitu kedatangan Chika. Keduanya berbisik lirih seperti tengah membincangkan dirinya, yang sesekali curi-curi pandang memastikan wajah di layar ponselnya.
"Malam-malam begini mau kemana, mbak?" tanya si pemilik warung, mengaduk teh.
Lelaki itu melirik dua tas ransel yang terlihat penuh bertengger di sebelah Chika.
"Istrinya Bang Izack, ketua umum AMN kan?" potong dua pemuda di sebelahnya.
"Hmm?!" Chika mengangkat alis, pura-pura bingung.
Chika langsung tertawa seolah ingin mengaburkan suasana. "Salah orang, kamu mas," jawab Chika.
"Mau kemana mbak?" tanya salah satu dari mereka.
Teman di sebelahnya tampak sigap mengetik pesan di ponsel.
"Baru datang dari rumah," jawab Chika sekenanya.
"Oh..." jawab mereka tak percaya.
Segelas teh itu segera diterima, Chika meneguknya berkali-kali hingga habis.
Sesaat pemuda itu keluar, dan menelpon dengan suara lirih tergesa-gesa.
Awalnya Chika cuek, namun melihat gelagat mencurigakan dua orang pemuda itu, Chika segera membayar dan meninggalkan warung.
Ia baru sadar, tubuhnya gemetar saat dipaksa jalan cepat.
"Darimana juga mereka tahu aku ini istrinya Bang Izack?"
"Haduh?!! Benar-benar memalukan," gerutunya.
Ia ingin mempercepat langkah. Tapi kakinya justru makin sulit digerakkan.
Sejak itu pikirannya kian berkecamuk kemana-mana, terpikir berbagai kemungkinan terburuk dari dua orang lelaki itu. Bahkan kini dengan sisa-sisa tenaganya, ia mulai menggertakkan otot-ototnya seakan siap beradu.
"Beem-beem!!"
Spontan Chika meloncat, menoleh ke samping. Tapi ia malas memastikan wajah lelaki itu.
"Beem-beem!!" bunyi klakson itu berkali-kali, membuat Chika makin kesal.
Tapi ia diam, malas menoleh, mengira itu adalah lelaki belang seperti sebelumnya. Bahkan pikirannya yang riuh semakin gaduh mendengar suara klakson motor yang nyaris memekakkan telinga.
Saking tak tahannya dengan suara klakson, spontan dibantingnya tas ransel dengan sekuat tenaga. Ia melotot kesal seakan menantang pengendara di sampinnya.
"Hei Bung!" teriak Chika bersungut, nafasnya putus-putus.
Lelaki itu membuka helm, tubuh Chika mendadak terbius. Berkali-kali ia membenjatkan mata, tapi senyum itu justru mengembang dengan dua lesung pipitnya.
"Ayo pulang," ucap Izack tenang.
Saat itulah mata Chika berkaca-kaca, setitik air mata jatuh, hingga tubuhnya melorot, menekuk kedua lututnya ke dada. Ia mulai menangis diam-diam dengan wajah tertunduk.
Chika masih belum percaya sampai lelaki dengan celana jins biru gelap dan sweater merah hati itu turun, memungut ransel yang dibanting.
Izack jongkok, persis di depan gadis itu. Mengembangkan senyum, lalu memeluknya tenang.
"Syukurlah... cewekku yang strong ini masih bisa menangis," canda Izack, menyibakkan rambut yang kini terlepas dari karet kucir.
"Siapa yang nangis?" elaknya menghapus kasar air mata.
Izack hanya tersenyum geli melihat ekspresinya. Tapi ia tak mau membalas.
"Sudah makan?"
Chika menggeleng.
"Makan dulu, yuk."
Izack bangkit, lalu berusaha mengangkat dua tasnya. Tapi begitu diangkat,
"Breee...ttt!!" resleting jebol memuntahkan isi tas gembung yang memperlihatkan semua baju dan pakaian dalamnya yang usang, dan buku yang tertekuk.
Bukan main wajah Chika seperti dicambuk malu. Ia meraup semua barang-barangnya, lalu merebut paksa ransel itu.
Lelaki itu menahan, tapi Chika merebutnya dengan sekuat tenaga.
Izack pasrah.
Chika kembali jongkok, lalu menjejalkan paksa semua barangnya ke dalam tas.
Izack diam, ia ikut jongkok di depannya, mengusap wajahnya yang berpeluh campur air mata. Perlahan ia menarik nafas panjang. Tatapannya tenang.
"Apa sebenarnya yang dia pikirkan?" batin Izack bergejolak.
Izack melengoskan wajah tak habis pikir melihat semua barang-barangnya yang usang. Sementara Chika frustasi menekan paksa dan meresletingkan tas. Tapi yang ada, robekan justru semakin lebar.
Izack menarik tangannya. Tapi Chika meronta, menghempas kesal.
Makin keras menolak, makin keras pula Izack merengkuh dan mendekapnya erat membuat Chika pasrah menangis sejadi-jadinya.
Dengan gerakan ragu, ia memberanikan diri melingkarkan tangannya ke tubuh lelaki itu, membuatnya menarik nafas lega.
Izack mengeluarkan ponsel dan menekan panggilan.
"Hendrik, tolong bawakan tas."
"Hm."
"Ya, sudah."
"Aku kirim maps aja."
"Oke, aku tunggu," ujarnya segera memutus panggilan.
Izack menekan tubuh Chika yang hendak melepas dekapannya.
"Nggak enak dilihat orang, Bang," suaranya terdengar melemah.
"Tapi enak jadi gelandangan?" gurau Izack membuat Chika sempat senyum.
Izack melepas rengkuhannya perlahan menatap penuh cinta wajah gadisnya yang terlihat kurus dan dekil. Tapi Chika mulai merasakan pandangannya berkunang-kunang, perut mual disertai keringat dingin yang mengucur, hingga keseimbangannya perlahan limbung.
Sayup-sayup terdengar suara motor dari jauh yang digeber dengan kencangnya, dan perlahan berhenti tepat di samping mereka.
Chika yang tak kuat menahan beban tubuhnya, seketika terpekur lemas mendekap dua ranselnya dan...
"Brukkk!!!" tubuhnya meringkuk jatuh.
"Chika?! Chik," Izack menepuk pelan.
Nyaris Hendrik meloncat turun dari motor, kaget.
Izack sempat mendongak. "Tolong beresi itu."
Ia segera membuka ponsel dan membuat panggilan.
"Hm, iya Pak. Tolong sesegera. Saya kirim mapsnya."
Hening menyelimuti keduanya.
Dengan cekatan, tangan Izack mengangkat tubuh Chika dalam dekapan.
"Maafkan Abang, sayang..."
Izack memeluknya erat, seperti pelukan ibu pada anaknya.
Tak berapa lama datang mobil ambulans dengan sirine memekakkan telinga.
"Oke Bang, siap."
Dua orang pemuda di warung tadi segera datang, ia menjelaskan dengan cepat. Dan Izack menyalaminya dengan selembar uang, membuat dua pemuda itu tersenyum lebar.
"Terimakasih, Bang."
Dan kini, Chika yang terbaring tak berdaya di atas tandu, sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
"Terimakasih informasinya dek," ucap Izack.
"Sama-sama Bang,"
Saat itulah ambulans pergi meninggalkan motor dan beberapa orang yang berkerumun.
***
Bab 45
Harga sebuah Perhatian
Pagi Hari,
Saat mata Chika kembali terbuka, sadar mendapati dirinya dalam ruangan yang tak begitu luas, tapi tenang dan hening. Botol infus menggantung, terhubung ke tangannya.
Matanya menoleh, kaget. Lelaki dengan potongan rambut undercut rapi itu tertidur di sampingnya.
Sinar matahari terang terpantul dari gordyn putih, tembus dari kaca jendela sebelah sofa. Jam dinding di atas tv menunjukkan pukul 12.30.
Pandangannya kembali tertuju pada lelaki berwajah licin dan hidung mancung di sebelahnya. Alis matanya yang tebal dan rapi, nyaris seperti dibentuk.
Ia tak percaya, mengapa lelaki se tampan ini dibuang ibunya di tempat sampah.
Perlahan tangan kirinya melepas cungkup oksigen yang menutup mulut. Merasakan tarikan nafasnya jauh terasa ringan, dan dingin oleh udara penyejuk ruangan.
Izack terbangun, kaget melihat Chika menarik tubuhnya, berusaha duduk.
Ia sedikit menunduk, menekan tuas bed hingga posisi terangkat duduk. Lalu mengucek matanya.
"Gimana? Mau minum?" suara Izack serak, khas bangun tidur.
Chika menggeleng, menarik nafas tenang.
"Kenapa nggak tidur di sofa, Bang," tuturnya lemah.
Lelaki itu bangkit, mengambilkan segelas air putih. Chika meneguknya hingga gelas kembali kosong.
Sejenak mata Izack terpaku, menatap wajahnya lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Chika polos.
Bibir Izack tersenyum samar. Tapi enggan berkata.
"Masih nggak merasa?" tanya Izack.
"Merasa apanya?"
Izack tertawa kecil mengacak poni Chika. Lalu menegakkan punggungnya.
"Apa handponenya kamu jual buat bayar hutang juga?" ejek Izack menahan senyum.
Chika ikut tertawa. Menertawakan dirinya. "Nggak lah, gila apa?"
"Terus, kenapa masalah seperti ini nggak ngomong?"
Raut Chika mengkeret, matanya melirik takut.
"Nggak enak, Bang."
"Kemarin aku sudah ambil uang banyak di ATM untuk bayar KKN."
"Terus? kamu senang jadi gelandangan, begitu?"
Izack masih menahan tatapannya.
"Itu tandanya kamu kualat. Pergi nggak bilang-bilang, sampai Tayoga diusir pak kos," candanya.
Tawa pun pecah, tapi air matanya sudah menggenang di mata. Ia tak sanggup ingat lintasan peristiwa kemarin, hingga tangis pun pecah. Izack tertawa geli, memeluknya erat.
"Hadeeh... nggak percaya aku. Cewek seimut kamu bisa menggelandang di jalanan kota Tayoga malam-malam," ucapnya mengusap lembut kepala dan menciumnya berkali-kali.
Chika mengusap cepat air matanya.
"Biarin, yang penting lobyku berhasil."
"Loby apa?"
"Lokasi KKN."
Glekkk...
Izack menarik nafas lelah. "Serius, mau ikut KKN?"
"Hm, iya." senyum Chika menyeringai.
"Dimana?"
"Pulau terluar."
"Seru aja, akhirnya mimpiku terwujud..." matanya berbinar.
Izack langsung berwajah datar, tak enak.
"Kamu ini mikir nggak sih?"
"Kenapa?"
"Kamu ini habis operasi."
"Belum juga genap tiga bulan, masih masa pemulihan juga."
"Tenang Bang, aku sudah sembuh kok."
"Ganti lokasi," ucapnya tegas, namun bernada sayang. "Nggak ikhlas aku, lepas kamu ke pulau terluar."
Chika cemberut.
"Daripada di area pesisir pantai utara, aku paling nggak suka daerah daerah berisik."
"Tapi itu lebih baik, daripada harus keluar pulau. Sayang..."
Chika melirik, mendongakkan wajah, menatap Izack di hadapannya.
"Bang... aku ini anak kehutanan. Konsentrasi yang aku pilih itu konservasi flora dan fauna."
"Pas, kan?"
"Konservasi hutan mangrove. Itu penting juga, loh."
"Iya, tapi aku nggak suka."
"Tapi itu baik buat tubuh kamu."
Gadis itu melengos kesal.
"Tahu gitu tadi aku nggak perlu ngomong."
"Ganti,"
"Apa perlu Abang sendiri yang nomong ke kampus?"
Raut Chika berubah memelas.
"Bang... sudah lama sekali aku ingin lihat hutan-hutan pulau terluar."
"Iya, tapi badan kamu, Non..."
Chika mengejapkan bibir, melengos.
"Aku sudah sehat, Bang..."
"Ini apa?" tunjuknya pada infus.
"Itu karena aku kemarin belum makan, jalan jauh juga."
"Nah! Apalagi di hutan, kamu jalan bisa berpuluh-puluh kilometer tanpa makanan."
"Tapi kan?"
Izack mendekat, mengecup bibir manisnya.
Spontan pikiran Chika buyar, buntu. Ia lupa, apa yang perlu ia pertahankan, tadi.
Izack masih menjaga jarak wajahnya hanya sekian senti, menatap penuh cinta.
"Aku cuman ingin memastikan kamu aman, sayang," bisiknya, suaranya rendah. Nyaris tenggelam dalam ruangan yang hening.
Izack mengambil jarak, menatap ekspresi istrinya.
"Sudah berapa puluh gadis yang berhasil kamu cium, untuk membungkam mulutnya, Bang?" ucapnya tersenyum sinis.
"Aku dengar, ada gadis cantik anak menteri lulusan luar negeri yang bakal jadi istrimu."
Spontan ekspresi Izack seperti tertusuk. Ia diam menelan ludahnya sendiri, lalu kembali duduk di sofa.
Izack membuka ponsel, lalu mengirim pesan singkat. Lalu kembali menatap matanya yang kecil itu menatap kosong. Membiarkannya sendiri.
Namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa khawatir: membayangkan gadis sekurus dan selemah itu akan melakukan ekspedisi ke hutan pulau terluar, yang jauh dari jangkauannya.
Satu pesan masuk.
Itu adalah nomor telepon dekan fakultas Chika.
Tanpa berkata-kata lagi, ia bangkit dan meninggalkan seribu tanya di benak Chika yang mengikuti kepergiannya.
Pintu itu tertutup pelan, meninggalkan nyeri di hati hingga bergetar ngilu di sekujur tubuhnya.
Sampai di depan pintu, Izack menarik nafas lelah.
Tangannya kembali membuka ponsel dan mengangkat ponsel yang bergetar.
Sambil melangkah ia menelpon mulai bicara.
"Sudah sampai, Bro?"
Sesaat matanya menangkap tiga sosok lelaki dan perempuan yang berjalan ke arahnya. Mereka saling senyum, hingga akhirnya menjabat tangan.
"Habis darimana, kok cepet banget," tanya Izack.
"Basecamp. Kebetulan waktu kamu kirim pesan tadi, posisi sudah di dekat sini."
"Oh..."
"Mau kemana?"
"Kampus, sebentar."
"Buat apa?" tanya Hendrik curiga.
"Biasa... urusan Chika."
Tanpa bertanya lagi, Hendrik tersenyum samar.
"Oh... okelah."
"Nggak lama kan?"
"Urusan apa, Bang?" tanya Heni di belakang Hendrik.
Izack tak menjawab, dua lelaki itu hanya tersenyum paham. Keduanya segera berpisah.
***
Sisi lain Chika yang masih di bangsal perawatan, terdiam.
Bingung.
Kenapa hanya dengan kata seperti itu sudah marah beneran?
Ia menggigit bibir keras, tertunduk. Seakan sadar bagiamana perilakunya terhadap lelaki itu selama ini. Sementara ia luar biasa sabar mengatasi dirinya.
Dan ia mulai merasakan nyeri hebat terbayang hari-hari keras dulu akan ia lalui lagi. Andai perceraian itu terjadi.
Air matanya menetes pelan, tapi ia hapus cepat. Seakan tak membiarkan dirinya runtuh sedikitpun.
Dengan sisa tenaga, ia menyibakkan selimut berusaha bangkit. Namun mendengar pintu diketuk, perasaannya lega.
Tapi begitu yang dilihatnya Hendrik dan Heni, rautnya kembali mencelos.
"Halo..." sapa Hendrik ramah. "Gimana kamu..."
"Tahu kamu mau pergi ke jalanan, mending aku antar kamu ke Basecamp, Chik."
"Hehe..."
"Nggak ketemu Bang Izack di luar kah?"
"Hm, ketemu."
"Ada acara apa ke kampus?" tanya Hendrik.
"Kampus?"
Melihat raut Chika, Hendrik tak meneruskan pertanyaannya.
"Ketemu seniornya, apa?"
"Mungkin," jawabnya singkat. Enggan meneruskan.
Hendrik cukup paham dari raut wajah kedua orang itu.
Chika diam, memainkan jemarinya.
Hendrik meminta dua orang temannya keluar.
Hening.
Heni menutup pintu pelan.
"Kenapa?"
"Lagi ada masalah?"
Chika diam tak menjawab. Hendrik paham, ia menarik nafas cepat.
"Chika... Chika."
"Aku tahu kamu itu cewek mandiri."
"Tapi tolonglah... empati sedikit dengan suamimu yang sedang berjuang keras di luar sana," ucapnya menatap diam.
"Berapa kali aja dia dihujat anak-anak AMN se-tanah, air gara-gara dia absen, demi menunggumu di rumah sakit." suaranya turun,
"Tapi atas perintah dia, berita itu bersih seketika, demi menjaga perasaanmu."
Hendrik tersenyum kecil, getir.
"Keren nggak sih, ada lelaki seperti itu?"
Chika tertunduk.
"Tahu nggak? Beberapa hari yang lalu, kata teman pusat dia baru keluar dari rumah sakit."
"Sakit apa?"
"Nah, malah tanya."
Hendrik diam sesaat. Wajahnya berubah lembut.
"Dia itu tulus mencintaimu, loh."
"Kalau kamu sering buat kecewa, aku khawatir kamu bakalan nyesal nanti."
Raut Chika ciut.
"Dia itu lelaki idaman para cewek, Non..." lanjut Hendrik. "Aslinya, dia itu keras, dingin dan tegas."
"Cuman sama kamu aja dia bisa begitu sabar."
Hening.
Hendrik mengalihkan pandangan, seolah mengingat hari-hari yang ia lalui bersama dengannya dulu.
"Tahu nggak? Lelaki semacam Izack itu paling hati-hati memilih orang."
"Tapi sekalinya dikecewakan, aku khawatir dia nggak akan menoleh lagi. Apalagi kamu yang sudah Chika tertegun, jemarinya meremas ujung selimut dengan gelisah. Ia mencoba mencari celah untuk membela diri, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
"Bang... berapa banyak lelaki sukses yang akhirnya meninggalkan wanitanya, dan memilih wanita lain di luar?" bisik Chika, pahit.
Ada trauma yang terselip dalam suaranya.
Hendrik menggeleng pelan, seolah tak sudi mendengar itu.
"Kalau Izack tipe lelaki seperti itu, sudah nggak terhitung berapa banyak perempuan yang bisa ia jadikan pacar, atau bahkan teman tidur, jika dia mau."
"Dunia di sekitarnya menawarkan itu setiap detik, Chika," tatap Hendrik lurus.
"Tapi sampai detik ini, kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia menjaga dirinya, juga menjagamu."
Chika tak mengelak. Itu benar adanya. Izack adalah benteng yang kokoh, tapi ia sendiri yang sering curiga.
Suasana kamar kembali hening. Heni dan dua orang teman lelaki yang masih di luar, kini kembali masuk mengingatkan untuk segera pergi.
Chika diam menatap kepergian mereka, seolah tengah mencerna egonya sendiri yang kalap termakan harga diri dan martabat.
Di luar jendela, langit Tayoga tampak cerah. Tapi di bangsal itu, hati Chika mulai runtuh, sesak oleh rasa bersalahnya.
***
Bab 46
Ada Aku, di belakangmu
Malam datang, dan pagi pun kembali.
Izack masih duduk di sana –di sofa yang sama. Tubuhnya tegak, matanya tak lepas dari layar laptop. Rambutnya rapi seperti biasa, kulitnya tampak mulus di bawah lampu ruang perawatan.
Bahkan saat perawat dan dokter datang bergantian sejak pagi, ia hanya menjawab seperlunya.
Memang. Sejak pagi ia tampak sibuk mengurusi rapat demi rapat online yang datang silih berganti, mengkoordinir aksi dan gerakan massa di luar sana. Namun kali ini, ia benar-benar lebih terlihat cueknya dibanding hari pertama masuk.
Sementara telinganya terpasang earphone –memberi keterangan panjang lebar, lalu menjawab, lalu tangannya menari cepat di atas tuts.
Beberapa kali Chika mencoba membuka percakapan, tapi lelaki itu seperti telah menutup komunikasi.
Namun kali ini, Chika makin tak peduli. Bahkan andai suaranya tak terdengar sedikitpun.
"Bang," suaranya hati-hati.
Tak ada jawaban.
"Aku... minta maaf dengan kata-kataku kemarin," nadanya berat, tercekat di tenggorokan.
Hening.
Chika menarik nafas. "Toh akhirnya seperti ini, kan?" meringisnya kecut diiringi segelintir air mata yang jatuh. Tapi ia mengusap cepat.
Ia pikir, lelaki itu tak mendengar, ketika telinganya tersumbat dua earphone.
"Mumpung belum terlambat, ktp ku juga belum diubah. Kamu bisa ajukan gugat cerai aja langsung ke pengadilan, Bang," ucapnya pasrah kembali menjatuhkan air mata, diusapnya lagi.
"Kalau satu saat kita bertemu di jalan, anggap saja kita nggak pernah kenal. Daripada kamu malu kenal cewek sepertiku," ucapnya meringis, mengucek matanya yang basah.
"Sekarang... Aku harus melanjutkan perjuanganku, mengangkat harga diriku sendiri sebagai perempuan miskin yang tak punya siapa-siapa."
Izack tetap diam. Ia segera melepas earphone, menutup laptop, lalu meletakkan memo kecil di bed, --tanpa menatap sedikitpun, dan pergi meninggalkan ruangan. Pintu itu ditutup pelan, namun terdengar menyakitkan.
Saat itulah ia merasa seperti terjun bebas dari tebing yang tinggi.
Tangannya lemas meraih kertas.
Jika hanya itu yang perlu aku dengarkan di sini, aku pamit pulang ke ibu kota. Masih banyak urusan yang perlu aku selesaikan.
Jaga diri baik-baik.
Jangan sakit lagi.
Glekkk!!
Tangannya lunglai, kertas pun melayang, jatuh ke lantai.
***
Sore menjelang malam, Izack tak kunjung datang.
Kecemasannya makin meningkat saat dokter menyatakan boleh pulang. Ia panik memikirkan tagihan kamar VIPnya, namun perawat datang lagi mengatakan bahwa semua administrasi sudah beres. Itu membuatnya antara kaget, lega, bingung dan galau.
"Suaminya kemana mbak?" tanya perawat.
"Oh..." Chika kaget campur bingung.
"Nanti mbaknya pulang sama siapa?"
"Sendiri," jawabnya ragu. "Dia sedang ada urusan sama pekerjaannya," imbuhnya cepat.
"Oh..." sorot mata perawat penuh tanya. "Baik. Nggak pusing, kan?" tanyanya lagi penuh empati.
Chika menggeleng.
"Jangan angkat berat-berat dulu, ya," pesannya singkat.
Chika mengangguk.
***
Sore itu langit mulai redup. Chika berdiri termenung memandang langit. Pandangannya masih terasa berat dan pusing. Ia duduk bersandar di depan jalanan menuju ruang lobby.
Dari jauh, Izack tetap mengawasinya diam-diam, menahan nafas.
Lalu dengan sisa tenaganya, gadis itu melangkah lemah menyusuri pinggiran jalanan menuju halte di luar area rumah sakit.
Mata Izack yang tajam, tetap waspada mengikuti. Tapi kemudian ponselnya bergetar.
"Zack, pertemuan dengan orang inti CAPN gimana?"
"Sorry, Ron. Nanti aku telepon lagi."
Ia memutus panggilan begitu melihat Chika masuk ke dalam mini bus.
"Tolong ikuti bus itu, Pak," katanya pada pengemudi ojek.
Bus melaju, berhenti di setiap halte. Tapi Chika tak pernah turun. Sampai akhirnya kendaraan itu masuk ke terminal.
Izack mengikutinya saat gadis itu naik bus antar kota antar provinsi. Sementara langkahnya gontai sedikit dipaksakan, membuat Izack selalu was, takut jatuh.
Seperti apa sebenarnya kehidupanmu, Non?
Ia meminta kondektur menanyakan tujuan Chika lebih dulu dan berjanji membayar tiketnya tanpa sepengetahuan gadis itu.
Kondektur pun sepakat. Itu membuat Chika pun bingung.
Malam semakin pekat, saat bus tiba di kota Giwana.
"Mas, mbaknya sudah mau turun." Kata kondektur membangunkan Izack.
Izack berdiri lebih dulu. begitu Chika turun, ia menyusul dari jarak beberapa meter.
Begitu Chika turun, Izack pun ikut turun beberapa meter darinya.
Chika berhenti sebentar, lalu masuk ke toko kecil di jalanan yang sepi dan gelap. Sementara Izack sengaja berhenti di bawah lampu jalanan, sembari memeriksa pesan grup AMN, yang masuk.
Tapi rupanya ia lengah dengan kondisi yang sepi.
Saat Chika keluar, gadis itu kaget melihat sosok tinggi yang tak asing dengan blazernya.
Mata itu saling menatap dari jarak yang cukup jauh.
"Kamu, Bang..." Chika melongo.
Izack menelan ludah, gugup. Wajahnya yang tirus, tampak makin tampan di bawah lampu kuning keemasan. Sementara jarinya belum selesai menekan ponsel dalam genggaman.
Waktu seakan terhenti.
Izack bingung mencari alasan. Chika masih belum percaya, lelaki itu ada di sana. Ia bahkan menganggap dirinya seperti sedang berhalusinasi, atau melihat bayangan hantu di malam hari.
Chika berjalan ragu mendekat. Sekedar ingin memastikan bahwa itu Izack.
Bibir lelaki itu terkatup, bingung mencari alasan.
"Kenapa kamu sampai sini?" tanya Chika akhirnya.
"Eh..."
"Janjian sama teman," jawabnya cepat.
"Hm?" Chika mengernyit heran. "Punya teman di sini?"
"Hm," angguknya cepat. "Kamu sendiri kenapa sampai sini?" tanya Izack tak mau kalah.
"Nggak punya kos, pulang lah," ucapnya sambil berjalan lebih dulu.
Izack baru sadar. "Ke rumah orang tua?"
"Ya,"
"Terus, naik apa?" tanya Izack heran melihat sekeliling area perkebunan dan persawahan yang gelap.
"Jalan kaki."
"Nggak takut?"
Gadis itu hanya tersenyum kecut, ingat ketemu om-om dan pemabuk di pinggir jalan.
"Sudah, ayo jalan," langkah Izack mendahului.
Chika melirik heran. "Terus temanmu?"
"Gampang, nanti," jawab santai, melangkah.
Chika mengejar, berjalan di sampingnya. Namun tatapannya tak lepas menatap Izack, bingung menebak-nebak.
"Bukannya tadi kamu bilang mau pulang ke ibu kota?"
"Hm." Angguknya cepat "Tapi aku tahu, bakal ada yang nangis lagi, nanti," senyum Izack samar, lalu merangkul pundak.
"Jangan pergi lagi, sayang..." ucap Izack tenang.
Keduanya melangkah bersama berbalut udara malam yang makin dingin.
Chika mulai menceritakan peristiwa malam itu, bertemu pemabok dan om-om mesum.
Izack tertawa kecil. "Itu kualat, namanya."
"Pulang nggak pamit, tahu-tahu diusir pak kos."
Chika tertawa, antara kesal dan sedih.
Izack kembali membubuhkan ciumannya di ujung kepala, --seakan mengalirkan rasa aman, di antara
"Andaikan aku nggak menjemputmu malam itu, mau kemana kamu?" tatap Izack penuh cinta.
"Pulang," jawabnya mendongakkan wajah.
Langkah mereka perlahan terhenti di pertigaan pintu masuk perkampungan. Chika melepas gamitan tubuh lelaki itu, lalu mendekati pintu gerbang kayu, --yang tingginya di atas kepala orang dewasa.
Saat pintu terbuka, semak belukar telah menyambut. Izack tak yakin, langsung keluarkan ponsel dan menghidupkan senter --sekadar menerangi langkah kaki Chika.
"Nggak salah, kamu?" bisiknya.
Chika tak menjawab. Ia terus berjalan menerabas ranting pohon yang menjuntai menutupi pandangan.
Namun di antara rimbun pepohonan, matanya dikejutkan oleh bangunan rumah tua yang cukup gagah. Rumah itu hanya diterangi sinar bulan yang lembut.
Dengan cekatan, tangannya mengarahkan senter ponsel ke pondasi kokoh di depannya dari bebatuan kali yang sengaja dibuat lekukan simetris dengan tinggi hampir se dada Chika.
Izack sempat terpanah, bangunan tua itu tampak megah dan kokoh ala bangunan kolonial. Ia tak menyangka, gadis yang mengaku dirinya miskin, ternyata punya rumah tua semegah ini.
"Siapa kamu sebenarnya?" batin Izack menatap punggung istrinya.
Chika tampak kesulitan membuka pintu, Izack pun menyusul, menaiki tiga anak tangga menuju pintu masuk utama, --yang dindingnya menyatu dengan jendela kayu tinggi dan lebar kotak-kotak. Jendela kaca itu memantulkan cahaya bulan –membuat rumah itu seolah hidup dalam diam.
Pintu pun terbuka, Chika melangkah tenang dalam kegelapan.
Cahaya senter ponsel Izack, mengikuti langkah gadis itu meraih saklar. Cahaya bohlam kuning keemasan itu menggantung lembut di atapnya yang tinggi.
"Wow?!!" Izack tertegun menyapu pandangannya pada sisi-sisi ruangan yang terasa luas.
Di sebelah kanan dan kiri ruangan, ada dua pintu kamar yang sangat, sementara lebarnya tiga langkah kaki. Di tengah ruangan terdapat sepaket meja kursi kayu anyaman dari rotan yang kayu-kayunya masih kokoh menghadap ke jendela kotak raksasa.
Tepat di belakang meja kursi, terdapat dua daun pintu kayu selebar empat langkah kaki orang dewasa, dengan tingga sama pintu-pintu sebelumnya.
Chika menarik kursi, tersenyum ringan menatap Izack yang masih berdiri terpaku menatap langit-langit.
"Kenapa, Bang?"
Izack menarik alis. "Heran. Ada cewek punya rumah sebesar ini mengaku dirinya miskin," sindirnya melirik Chika yang hanya tersenyum kecil menundukkan wajah sejenak. Ia malas menjawab.
"Biasanya rumah yang ditinggalkan lama, bakal banyak kotoran. Tapi ini..." ucapnya menurunkan pandangan pada Chika.
"Aku masih sering kemari, bang," jawabnya santai.
"Tapi, biasanya aku datang saat malam begini."
"Huh?!" Izack melotot, mengernyit aneh. "Kenapa?!"
"Kapan-kapan aja ceritanya," jawabnya membuka bungkusan roti dan air mineral. Sesekali tangannya menekan perut, nyengir kesakitan.
"Kenapa perutmu?" tanya Izack khawatir.
Lelaki itu masih berdiri, menatap tiap sisi ruangan yang masih tampak kokoh dan kuat, baik dinding maupun kayu-kayunya.
Tak lama Chika kembali bangkit dan beranjak membuka pintu belakang.
Ruangan itu gelap, hanya seberkas cahaya dari ruang tamu yang memantul tipis menerangi sebagian sisi.
Tampak tv tabung dan radio tua di atas lemari bifet tua berwarna cokelat tua.
Sesaat lampu menyala terang, menerangi sisi-sisi ruangan itu.
"Kamu nggak takut masuk sendiri malam-malam?" tanya Izack heran.
Chika hanya tersenyum kecil. "Dibanding takut hantu, aku lebih takut kelaparan dan bodoh, Bang."
"Oakhh..." Izack melotot, mendenguskan tawa. "Nggak salah aku, pilih kamu."
Chika kembali membuka pintu. Pintu itu jauh lebih kecil dan pendek dibanding ukuran pintu utama dan kedua. Namun kali ini, Izack tak lagi berani beranjak dari tempat duduknya, melihat pekatnya ruang terbuka itu, jika tidak diterangi sinar bulan.
Gadis itu menuruni anak tangga yang gelap. Hingga tak lama, ruangan kembali terang melihat gadis itu meraih saklar tua yang tergantung di dinding depan kamar-kamar yang berderet memanjang ke belakang menghadap ruang terbuka yang cukup luas.
Chika kembali naik, ia masuk lagi. Melihat raut Izack beku mengamati langkahnya kemana-mana, Chika hanya tersenyum.
"Kenapa Bang," tanyanya memperhatikan kakinya sendiri, --membuka kemasan mie instan. "Kamu pikir aku hantu, apa?" tawanya geli.
Izack tak menjawab, tapi sorot matanya jelas kesal menatap bungkus mie instan di tangannya.
"Nggak ada makanan lain yang lebih buruk dari mie instan, kah?"
"Sudah... nggak usah ceramah lagi."
"Kalau aku tahu kamu ikuti aku kemari, mending beli nasi."
Izack melengos, menahan tawa, bangkit dan mendekat dari belakang, lalu memeluknya hangat.
Hening.
"Kenapa kamu selalu membuatku cemas, Non..." ucapnya membisik nakal di telinga.
Chika geli, menyodok tubuhnya. "Awas, aku mau masak dulu."
"Akhh!" Izack meringis, terkekeh melepaskan tubuhnya.
Ia hanya memandang kepergian gadis itu di kegelapan malam. Saat ia menoleh, matanya tertuju pada foto yang menempel di dinding belakang.
Izack kembali menyalakan senter kecil, menajamkan pandangannya pada foto-foto itu. Foto sosok lelaki tua yang tinggi, dengan baju coklat khaki muda dan seorang lelaki di sebelahnya yang wajah dan kulitannya mirip sekali dengan istrinya.
Tak lama Chika datang.
"Siapa?" tunjuk Izack.
"Bapak dan kakekku."
"Oh..."
Izack hanya manggut-manggut. "Veteran, kah?"
"Hm, iya," jawabnya, mengambil serbet lalu pergi lagi ke dapur.
Suasana kembali sunyi saat Chika kembali pergi.
Ia agak merinding merasakan suasana ruangan yang kembali hening, ditambah foto-foto tua di depannya seakan hidup dan bergerak dari framenya.
Tak mau terbawa halusinasi pikirannya yang jauh, diam-diam Izack turun tangga, memastikan istrinya ada di ruangan yang tampak jauh lebih tua dan senyap.
Ada sekitar empat pintu ruangan yang berjajar ke belakang menghadap ruang terbuka.
Ruang pertama adalah tempat dimana istrinya memasak di bawah temaram lampu bohlam kuning yang sesekali berkedip.
Tiap ruangan terdapat dua buah ventilasi semacam jendela tanpa pintu, hanya teralis batangan kayu.
Tapi perhatiannya agak gatal, melihat bungkus mie instan di hadapannya. Ia menghela nafas, berkecap kesal.
"Baru berapa jam yang lalu kamu keluar dari rumah sakit, masih bisa-bisanya makan mie instan."
Chika nyengir, tapi ia tak menjawab sepatah katapun. Ia tak ingin merusak suasana seperti kemarin.
Aura ruangan itu benar-benar pekat, mungkin karena selain usia bangunan, juga jarang dijamah.
Di meja makan yang tua, Chika membagi mie instan menjadi dua mangkok. Tapi Izack tak mempedulikannya, justru memperhatikan tiga kamar di ruang depan.
"Itu ruangan apa?" tanyanya.
"Kamar tidur."
"Oh..."
Hening. Chika mendekatkan sepiring mie instan di depan Izack.
"Ayo makan, Bang. Aku lapar banget," ucapnya tak sabar mengaduk untalan mie. Ia meniupnya perlahan, sementara tangan kiri menahan rambutnya yang nyaris menyentuh mie.
Melihat itu, Izack bangkit, berdiri di belakang dan mulai menyibakkan rambutnya perlahan, melepas karet dari pergelangan tangan gadis itu, lalu membelai rambut panjangnya –yang lembut-- ke belakang, dan mulai mengikat.
Ada getaran halus yang membuatnya merinding, saat jemari itu tersentuh ke leher. Tapi Chika berusaha mengaburkan batinnya sendiri, tak sabar melahap mie di depannya.
"Pelan-pelan..." ucap Izack, lalu kembali duduk. Matanya tak lepas menatap, seakan ingin mengukir dalam diam.
Chika tahu itu, tapi ia menyingkirkan perasaanya yang grogi, sambil mengangkat wajah. Ia mengalihkan pandangannya pada kamar di ruang depan.
"Sejak meninggalkan rumah ini, aku nggak pernah berani buka pintu kamar itu."
"Kenapa?" tanyanya menatap dalam.
Tangan Chika terhenti, sorot matanya menatap pintu.
"Di situ almarhum ibu dan dua kakakku tewas," nadanya tertahan. Ia membenarkan posisi duduk dan menekan suaranya agar tak runtuh.
Wajahnya tertunduk, menancapkan garpu pada mie. Tapi air matanya terlanjur jatuh, dan mulai mengusap kesal.
Izack bangkit, berdiri di sampingnya, menarik bahu ke dalam pelukan.
Tapi Chika menolak keras, berusaha mendatarkan suaranya yang hendak runtuh.
"Sudah lama aku kangen, ingin lihat ruangan itu."
"Tapi..." suaranya retak. "... aku nggak kuat," tangis pun pecah, luruh tak terbendung.
Malam semakin sunyi. Hanya suara serangga yang bersahut-sahutan terdengar dari luar dinding rumah.
Izack membiarkan tangisnya sedu sedan, hingga tubuh gadis itu lemas, membuat Izack langsung menarik kursi, dan menyandarkan kepala Chika ke dada.
Ia membelai rambut dan ujung kepalanya penuh kasih. Seolah ada kata terucap.
"Menangislah, selagi kamu bisa. Aku temanimu kamu di sini."
Hening.
Tangis perlahan reda, hingga suara itu tak lagi terdengar.
Suara ayam berkokok di ujung malam.
Izack mengangkat tubuh Chika yang lelap tertidur, lalu menurunkannya pelan ke kursi ruang tamu yang lebih panjang. Membiarkan pahanya sebagai bantalan kepala Chika yang tak terganggu sedikitpun.
Bab 47
Rumahku dan Gaharu
Pagi itu Chika terbangun dari mimpi yang perlahan menghilang.
Ia kaget mendapati wajah lelaki di hadapannya. Jantungnya berdegup keras. Ia sadar, dialah suaminya.
Untuk yang ke sekian kalinya, bisa menatap wajah yang nyaris tanpa noda dari dekat di saat terlelap.
Mereka masih duduk di kursi ruang tamu yang warnanya telah memudar.
Saat itu, matahari memantulkan sinar keemasan, menerobos masuk lewat celah rimbun pepohonan di balik pintu kaca jendela kotak raksasa di hadapannya. Kaca itu tebal berdebu, seolah tak berpenghuni.
Izack yang baru saja membuka mata, menawarkan segaris senyum manis.
Udara pagi menyelusup lewat ventilasi di atas dinding, membawa aroma gaharu.
Chika menghela nafas, menyingkirkan helaian rambut yang mengenai wajah Izack. Lelaki itu mengecup punggung tangannya, membuat nafasnya mendadak terhenti. Ia menatap matanya yang masih setengah terpejam.
"Sudah pagi. Ayo bangun."
Izack menyeringai, setengah malas terbangun. "Kamu nggak ingin menatap wajah tampanku lebih lama lagi, kah?"
Chika tertawa mengejek. "Nggak ada lelaki keren yang bilang bahwa dirinya itu keren."
"Bahkan baru bangun tidur pun, kamu tetap cantik Non..." matanya berbinar menggoda.
Chika mendengus, menggigit punggung tangannya cukup keras.
"Akh, sakit."
Gadis itu tertawa kecil, membasahi bibirnya.
Izack menatapnya dengan ekspresi gemas.
"Ahhh... kenapa sih, kamu selalu memainkan lidahmu yang seksi begitu?" keluhnya meronta.
Chika menutup mata lelaki itu dengan telapaknya.
"Bilas wajahmu sana, biar nggak horney!"
Izack kembali menatap. "Aku ini lelaki normal, sayang..."
"Siapa yang tahan melihat wajah cantik dan seksimu di pagi hari."
Chika mengerutkan wajah, jijik. Ia membalikkan badan, tapi Izack menarik pergelangannya. Chika yang tangkas, langsung memutar tangan, menangkis genggamannya hingga lolos meluncur.
"Nggak semudah itu, Bung!" tawanya menang.
"Ck ck ck Ampun...!" Izack geli campur gemas.
Gadis itu membuka dua daun pintu kayu besar. Udara segar menerobos masuk, membawa aroma gaharu yang kian terasa. Ia berdiri di ambang pintu sambil merentangkan tangannya ke atas, tiba-tiba sepasang lengan hangat melingkari pinggangnya dari belakang.
"Bang," nadanya membeku.
Awalnya ia hendak menghentak, tapi tubuh Izack bergelayut manja, meletakkan dagu di pundak, hingga pipinya saling menyentuh. Membuat Chika tak bisa berkutik saat lelaki itu mendesak leher di sela-sela rambutnya yang ia singkirkan. Belum sempat protes, bibirnya yang hangat mengecupnya berulang kali.
"Jangan pergi lagi, sayang... aku nggak bisa lepas darimu sekarang," bisiknya hangat.
Tubuh Chika membeku.
"Hei, kenapa kamu," ucap Izack tersenyum geli. "Aku ini suamimu, sayang..."
Raut Chika semu merah menahan malu.
Tiba-tiba saja suara kucing mengeong membuyarkan suasana. Chika tersentak, Izack hanya terkekeh, namun tak mengendurkan dekapannya sedikitpun.
Chika yang awalnya risih, perlahan belajar menikmati sentuhannya yang nyaman. Sekalipun dalam hati kecil, ia masih ingin berontak. Sesaat pikirannya melayang, membayangkan fenomena perempuan yang telah beristri tubuhnya jadi melebar tak berbentuk.
"Stop!!!" pekiknya, mendorong kuat dada Izack.
Izack yang awalnya tegang hendak marah, sadar. Melihat sorot matanya yang tegang, ia menahan tawa membayangkan apa lagi yang ada di kepala istrinya.
"Aku nggak mau badanku jelek gara-gara sentuhanmu," ucap Chika tegang.
Izack mengangkat satu alis, separuh geli, separuh tak percaya.
"Huh?!! teori dari mana lagi itu?"
"Lihat tuh, perempuan yang sudah bersuami, badan mereka jadi jelek," protes Chika.
Plakk
Izack menepuk wajahnya sendiri. "Ampunn..." ucapnya terkekeh, menaikkan kedua tangannya ke pinggang.
"Hei, aku nggak peduli badanmu mau berubah atau enggak. Aku hanya melihatmu, itu saja."
Namun tatapan Chika penuh pertahanan, seakan siap berdebat panjang lebar.
"Aku nggak bicara soal kamu peduli atau enggak, aku cuma nggak mau badanku jadi jelek."
Izack mendesah, pasrah.
"Terus, aku harus gimana sayang..."
"Nggak boleh sentuh-sentuh!" ujarnya, melotot.
Izack makin geli. "Nikah tapi nggak boleh bersentuhan? Yakin, kamu?"
Chika diam, berpikir keras. "Pokoknya nggak boleh."
"Okey, Nona cantik. Siap!" Izack tersenyum, lesung pipitnya dalam menahan geli.
Ujung mata Izack melirik, menahan senyum. "Lalu, kenapa kemarin aku boleh menyentuhmu?" tanyanya menggoda.
Chika diam, canggung, "Itu... aku masih toleran."
Izack mengangguk, pura-pura bodoh. Tapi jelas, menahan tawa, menikmati reaksi istrinya.
"Oh... Oke! Berarti aku tunggu toleransimu lagi, dong. Ya?" tawanya lebar tak tahan.
Tapi gadis itu memalingkan wajah, malu.
Ia kembali beranjak, duduk di anak tangga, menatap semak-semak yang hampir saja menutupi halaman rumah. Izack mengikutinya, duduk tepat di sebelan.
Chika tak berani menatap. Jelas, aura kehangatan tubuh Izack terpancar, membuatnya menoleh sekilas.
Lelaki itu sengaja menjaga jarak, lalu berpaling sekilas.
Melihat Izack jaga jarak dan berwajah datar, Chika runtuh. Jarinya terkepal di sebelah kaki tanpa sadar. Ada keinginan menarik tangan Izack agar kembali memeluknya, tapi ia tak berani.
Melihat genggaman tangan istrinya, Izack hanya tersenyum. Ia mengulurkan tangan, dan menyentuhnya perlahan. Keduanya tertunduk melihat tangan mereka menggenggam satu sama lain.
Izack menatap lama, ia hanya tersenyum melihat Chika yang tak berani menatap balik. Lalu perlahan ia menggeser tubuhnya lebih dekat dan melingkarkan tangannya ke bahu.
Tubuh Chika perlahan rapuh saat tenggelam dalam pelukan. Izack menahan senyum, tapi getaran dadanya justru terbaca, membuat gadis itu mendongak curiga.
"Kenapa?"
"Enggak..." jawabnya mengeratkan pelukan.
Chika berusaha brontak.
"Pasti kamu berpikir, Nah! akhirnya mau bersentuhan juga?!"
"Iyakan?!"
Izack lolos, tertawa lepas.
"Enggak... itu kan pikiranmu aja, sayang..." ucap Izack berusaha menenangkan.
Chika masih tegang, waspada. Tapi sentuhan lembut Izack membuatnya kembali jatuh perlahan. Izack pun kembali menepuk puncak kepala dan mendekapnya erat.
"Hadeh... nggak bisa membayangkan betapa galaknya ntar kalau punya anak cewek. Persis sama mamanya,"
Chika hanya melirik.
"Membayangkan aja sudah ngeri."
Izack menatap kaget.
"Coba bayangkan," ceritanya. "Lubang sekecil itu bakal dilewati kepala sebesar itu."
Izack terkekeh geli, "Apa lagi, Non..."
Izack menggelitikinya dengan ciuman di leher, membuat Chika tertawa geli tak tahan.
Tawa itu perlahan reda.
Hening...
Gadis itu menarik nafas perlahan.
"Mau dengar ceritaku, Bang?" ucapnya menoleh.
Izack menoleh sekilas, namun ia tak mengendurkan dekapannya sedikitpun.
Sunyi.
"Sudah lama aku ingin cerita, tapi takut bakal jatuh lagi," suaranya tenggelam.
Jemari Izack lembut menyibakkan rambutnya yang jatuh menutupi sebagian wajah
"Sehari sebelum dijebloskan ke penjara. Kakek buyut sempat memberikan amanat pada ayah untuk menyimpankan dokumen negara, --yang kabarnya, itu dokumen penting terkait harta para raja jaman dulu yang disimpan di bank dunia."
Spontan Izack menoleh. Menatap sekilas, namun ia kembali meredam egonya untuk bertanya lebih. Ia ingat peristiwa dua tahun lalu, dimana naskah buku tua yang masuk ke penerbitannya tak lagi kembali.
"Hingga kabarnya, kakek buyut meninggal di penjara, jauh sebelum ayah menikahi ibu," suaranya tertahan.
"Sampai bapak ibu menikah, dan kami bertiga lahir. Semuanya terasa biasa. Bahkan kami tergolong keluarga terhormat di kampung ini."
"Sampai suatu ketika bapak ibu bertengkar hebat karena fitnah tetangga yang mengatakan bahwa bapak adalah orang komunis."
"Itu membuat kami akhirnya dikucilkan dari pergaulan orang-orang kampung."
"Hingga satu malam, rumah digrebek sekelompok orang tak dikenal satu truk," suara Chika tercekat. Ia menahan matanya berkaca-kaca.
Izack menunduk, mengusap lembut kepalanya.
"Bapak diseret keluar dan dipaksa naik ke atas truk. Sementara ibu yang berusaha melawan ditembak di tempat," suaranya retak, tangis pun pecah. Air mata tumpah berjatuhan.
Chika menarik nafas pelan.
"Begitu juga dua orang kakakku, yang berusaha melawan."
Izack mengeratkan pelukan, lalu menunduk. "Terimakasih sudah mau jujur. Aku lebih suka mendengar itu darimu langsung," bisiknya mengusap air matanya pelan.
Chika tersenyum kecut, menggigit bibirnya yang basah. "Aku nggak yakin, setelah ini kamu masih baik ke aku, Bang."
Tangan Izack langsung membungkam lembut. "Bahkan terlintas pun tidak."
"Justru aku bangga punya sosok sepertimu," tatapnya.
Hening.
Keduanya memandang awan kosong, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Mau aku temani buka pintu kamarmu?" ucap Izack, tiba-tiba.
Keduanya saling menatap.
Chika segera bangkit dari pangkuan, Izack mengikuti.
Saat di depan pintu, gadis itu sempat menoleh ragu. Tapi Izack menggenggam tangan Chika, memberi kekuatan membukakan engsel pintu yang berat berkarat.
Suasana senyap langsung menyeruak dari kamar yang gelap. Chika melangkah pelan, Izack membiarkan jemarinya lepas.
Senyap.
Suara tonggeret bersahut-sahutan di balik rimbun pepohonan menjulang di sekeliling rumah yang sudah mirip hutan mini.
Chika membuka pintu jendela, engselnya berderit pelan saat daun jendela terdorong lebar, --seakan melepas udara pengap yang terjebak bertahun-tahun.
"Ini kamarku," katanya.
Ruangan pun terang seketika.
Izack masih berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling kamar, melihat ruangan dengan boneka dan pita-pita berenda.
"Kecilmu dulu lebih feminim dibanding sekarang," ucap Izack. Tangannya merogoh ponsel yang bergetar dari kantong celana.
Itu adalah panggilan AMN.
"Bang," suara di seberang terdengar berat.
"Iya?"
"Jujur kita kewalahan mencegah anak-anak AMN ikut turun jalan."
"Masih terkait isu kenaikan pajak kemarin?"
"Ya,"
Izack diam sejenak, menghembuskan nafas tenang.
"Wajar Dido, di saat harga barang naik, pajak naik gila-gilaan, masih ada anggota dewan euphoria menaikkan tunjangan tempat tinggal sehari, setara dengan gaji buruh pabrik sebulan. Itu kan menyakitkan."
"Nggak heran kalau mereka marah."
Izack menyandarkan bahu, lalu beranjak mengikuti Chika membuka pintu kamar sebelah yang tak kalah besar luasnya.
"Kamar siapa?" ucapnya lirih penuh isyarat, --sembari mendengarkan penjelasan di ujung ponsel.
"Dua kakak laki-lakiku," jawab Chika.
Ia melangkah tenang, membuka dua daun jendela kayu yang lebar, hingga ruangan terang.
"Berapa daerah sudah turun?"
"Tiga kota sudah konsolidasi. Dua lagi menunggu instruksi. Kalau kita nggak ambil sikap, mereka akan pecah bergerak sendiri."
Izack diam beberapa detik.
"Dengar baik-baik," suaranya tetap rendah, tapi tegas.
"AMN bukan organisasi yang lahir untuk ikut terbakar."
"Jadi, kita tahan mereka?" balas mereka di ujung sana.
"Kita arahkan. Bukan tahan."
"Hari ini kumpulkan koordinator wilayah. Minta semua data kongkret, dari harga-harga barang, terutama sembako, sampai pajak yang diduga meloncak 200 kali lipat, tunjangan kenaikan anggota dewan, sampai subsidi yang dicabut. Jangan cuma emosi."
"Siap, Bang."
"Kalau mau turun, turun dengan konsep. Bawa tuntutan tertulis. Bukan sekadar teriak."
"Tapi tekanan publik sudah tinggi, Bang."
"Justru itu. Kalau kita ikut liar, yang rugi rakyat. Merusak fasilitas umum dan menghambat laju ekonomi."
"Mogok pajak tanpa arah juga bisa melumpuhkan layanan publik."
Hening sesaat.
"Bang... kalau pemerintah tetap tutup telinga?"
Izack menatap Chika yang berdiri ragu di depan pintu kamar lain.
"Seperti kontrak awal kita dengan CAPN, kita buka mata publik. Tapi tetap lewat jalur cerdas."
"Baik, Bang. Kami tunggu arahan resmi."
"Rilis sikap sore ini. Jangan ada anggota bertindak atas nama AMN tanpa koordinasi."
"Siap."
Izack mengangguk, "Oke, nanti aku hubungi lagi kalau sudah sampai," jawabnya menutup panggilan.
Telepon terputus. Izack diam sejenak, seakan baru turun dari lamunan panjang bagaimana ia menyusun stategi yang mesti dijalankan.
Melihat dua pasang layang-layang kain yang tergantung di dinding, Izack tersenyum tenang.
"Satu saat, kita akan ramaikan lagi suasana rumah ini dengan anak-anak kita," ujarnya.
Mendengar kata "anak-anak," Chika meringis kecut membayangkan dirinya menjadi seorang ibu. Ia tak menjawab, hanya keluar. Lalu melangkah tenang di depan kamar seberang. Ia mematung cukup lama seolah meyakinkan diri.
Tiba-tiba Izack menepuk pundaknya, lalu menggenggam erat tangan Chika yang memegang engsel pintu, hingga pintu pun terbuka lebar.
Raut Chika mengernyit cukup lama, saat mencium aroma bunga melati memenuhi ruangan.
"Ini kamar bapak ibu."
"Oh,"
"Aku baru ingat. Dulu, almarhum ibu paling suka bunga melati, dan bapak meletakkan tanaman itu tepat di bawah jendela kamar," ucapnya membuka jendela.
Tanaman bunga melati itu merambat, menjalar masuk sebagian.
Sejenak langkah Chika terdiam, berputar menatap sekeliling. "Seingatku ada ruang bawah tanah di sini, tapi lupa di sebelah mana."
Izack melotot kaget, namun ia tak ingin menampakkan itu.
"Hm," angguknya kecil.
Ia ingat betul, kode-kode rumit di naskah buku tua --yang dikirim istrinya dua tahun lalu. Ia tahu, naskah itu seperti kunci utama untuk mendapatkan surat perjanjian penyimpanan harta kekayaan para raja yang ditanda tangani pendiri bangsa ini, --kala itu.
Chika jongkok, ia mulai menggeser semua barang-barang tua penuh debu di bawah ranjang besi tua. Izack yang ikut jongkok, hanya membantu saat gadis itu mulai menggeser-geser posisi ranjang yang berat.
Izack diam seribu kata, ia hanya mengikuti gerak istrinya menarik karpet tua di bawah ranjang. Lalu membantu membersihkan debu di lantai kayu, hingga tampak irisan lantai kayu penuh debu.
Saat Chika kesulitan mencongkel lantai kayu persegi itu, Izack sigap membantunya. Kaget saat melihat lubang besar, yang lebih mirip ruang bawah tanah.
Mata Izack menatap penuh tanya, tapi Chika tak menjawab. Langkah Chika cepat menuruni tangga yang gelap. Hingga ruangan sedikit terang oleh lampu senter yang ia sorotkan ke anak tangga.
Izack mengikutinya dari belakang, saat Chika memberi kode.
"Wow?!" seru Izack terpanah, saat matanya menangkap ruangan yang nyaman, --mirip seperti ruang kerja yang hening.
Saat Chika mulai menyentuh bawah papan piringan hitam yang berdebu dan lengket, Izack hanya diam saat melihat lubang hitam berisi kotak persegi panjang berwarna dob.
Namun entah mengapa, tiba-tiba tangan Chika lemah, kotak persegi dalam genggaman pun jatuh meluncur ke kaki Izack. Bukan hanya itu, tubuhnya mendadak limbung.
Izack sigap menahan tubuhnya, dan kembali memasukkan kotak itu ke lubangnya, lalu menutup kembali piringan musik tua.
Izack menarik tubuh istrinya pelan, pada kursi kayu di sebelahnya.
"Aku nggak kuat ingat kenangan itu, Bang," suaranya putus-putus, menahan nafas.
Izack menangkup wajahnya, menciumnya hangat.
"Kamu aman, sayang... ada aku di sini."
"Ayo, kita keluar. Bang."
"Auranya pekat banget di sini, dan aku nggak kuat," pintanya.
Izack bangkit, lalu sedikit menunduk, mengangkat tubuh Chika dalam gendongan, menaiki tangga, hingga mereka berada di luar –dalam kamar.
Tangis pun pecah seketika saat Izack berhasil menutup pintu lantai dan menggeser kembali ranjang tua. Ia menuntunnya keluar dari kamar, menutup beberapa jendela yang telah terbuka, lalu duduk di sebelah istrinya.
"Oke, ayo kita pulang. Masih banyak yang perlu aku selesaikan di Takata," ucapnya tenang, sembari membersihkan wajah istrinya yang telah sembab air mata.
Tiba-tiba aroma wangi khas gaharu menguar dari luar.
"Aroma apa ini?" tanyanya melangkah di depan pintu.
Chika mengikutinya dari belakang, membiarkan Izack lebih dulu menuruni tangga, sementara dirinya mengunci pintu dan siap pergi.
Sesaat langkah Chika mendahului Izack, menerobos pepohonan yang rimbun. Izack yang lebih tinggi terpaksa harus merunduk, mengikutinya dari belakang. Hingga langkah mereka terhenti di depan batang pohon yang kokoh menjulang.
Kulit kayunya sedikit retak berwarna abu-abu kecokelatan, seakan menjelaskan usianya. Daun-daunnya yang menjulang tampak hijau gelap di antara ranting-ranting.
"Wow?! Pohon apa ini?"
"Gaharu," jawab Chika.
Izack melotot, tak percaya menyentuh batang kasar dan sedikit lengket oleh getah.
"Jadi, begini rupanya aroma gaharu yang mahal itu?" suaranya pelan, seakan lenyap.
"Andai kamu tahu... hanya dengan menjual resin gaharu ini saja, kamu nggak perlu menggadaikan sertifikat tanah, yang nilainya tak terhitung."
"Besok kita ambil sertifikat rumah. Di Bank mana kamu pinjam?" ucapnya tegas.
"Serius??" Chika melotot, melonjak girang, memeluk erat. Membuat lelaki itu kaget, menyambut pelukan.
"Terimakasih banyak, Bang..."
Sesaat ia sadar, siapa yang ia peluk. Spontan menarik tubuhnya, tapi Izack justru mengeratkannya lagi. Sedikit menundukkan tatapan, lalu memburu wajah yang makin tertunduk.
Suara tonggeret saling bersahutan, seakan menambah suasana hening khas hutan rimbun. Saat Izack mulai menyentuh bibirnya. Ia mengulasnya lembut penuh gairah, lalu menyesap perlahan, hingga nafas mereka tak beraturan.
Mata mereka saling bertemu sesaat, jemari Izack menyisir lembut rambutnya yang jatuh menutupi sebagian matanya.
Mereka akhirnya meninggalkan halaman rumah, dan menutup pintu kayu yang dikelilingi pagar batu kali.
Tiba-tiba seorang kakek datang menyapa, tapi Chika tampak tak suka.
"Nak... kamu siapanya keluarga pak Haroso?"
"Saya suaminya dia, Kek. Luchika Aria, anaknya yang bungsu," jawab Izack.
"Oh... ya Allah," matanya terbelalak, spontan berkaca-kaca.
Izack menyenggol siku Chika untuk menjabat tangan si kakek, tapi raut Chika beku.
Ia pergi begitu saja meninggalkan mereka yang tengah ngobrol.
"Nak... sering ada orang yang berusaha masuk kesitu."
Tahu kebiasaan Chika di kampus, Izack menoleh.
"Bukan aku,"
Si kakek tetap melanjutkan ceritanya.
"Nggak tahu mau apa, tapi sepertinya niatnya nggak baik."
"Dijaga istrimu, Nak," pesan si kakek. "Jangan dibiarkan keluar masuk rumah itu malam-malam sendiri."
"Aku paham perasaannya, mungkin masih benci sama warga sini."
"Oh??" Izack kaget mendengar penjelasan singkat si kakek.
"Ayok, Bang." seru Chika tak sabar, rautnya sudah tak enak.
Dua lelaki itu saling berjabat tangan, Izack pun sedikit pamit pergi.
Si kakek hanya menatap kepergiannya dari jauh. Asing.
Di antara Rumah dan Negara
Siang menjelang sore, keduanya tiba di rumah orang tua Izack, --di kawasan perumahan elite kota Tayoga.
Lelaki dengan sweater merah hati itu meletakkan barang bawaannya di sudut ruangan. Lalu dengan dorongan lembut di punggung, ia mengarahkan istrinya masuk kamar, dan membukakan pintu kamar mandi.
"Sudah berapa hari kamu nggak mandi?" tanyanya, setengah bercanda.
Chika mendengus kecil, mencium lengan bajunya. "Tapi kan nggak bau."
"Nggak bau karena badanmu."
Chika terkekeh malu.
Sebelum pintu ditutup, ponsel Izack bergetar. Ia segera menerima panggilan. Tapi sebelum angkat suara, ia mencium bibirnya cepat dan tersenyum manis, lalu membiarkan gadis itu menutup pintu dengan sekali senyuman.
"Halo, selamat sore Bang..."
"Ya? gimana, Abin."
"Sudah aku siapkan Bang, tinggal masuk aja," suara itu terdengar di sudut ponsel.
"Barang-barang, sudah semua?"
"Sudah, Bang."
"Oke, nanti aku antar dia ke situ. Tolong kirim alamatnya," jawabnya, lalu mengangguk kecil dan menutup panggilan.
Izack kembali duduk dan membaca semua pesan yang masuk.
Angin sore bertiup kencang menghempas pepohonan di taman tengah halaman rumah, --menghembuskan sebagian rambut Izack yang tampak kering.
Gerak-geriknya jelas terlihat tenang, tapi rahangnya perlahan mengeras, menajamkan scroll tulisan yang ia baca di grup organisasi dan orang-orang perusahaan.
Jelas, ada sesuatu yang genting.
Sebelum merespon itu semua, tiba-tiba panggilan masuk.
Itu adalah Rury, wakil ketua AMN Pusat.
"Halo, Bang. Tiga puluh menit lagi, teman-teman AMN Pusat mau adakan rapat telekonferens bareng orang-orang CAPN sebelum kita dialog bareng anggota dewan."
"Oh... oke," ucapnya sambil mengusap tengkuknya sendiri, berat.
"Apa pendapat teman-teman AMN?"
"Tetap larinya ke ngobrol bareng anggota dewan sih, Bang."
"Hm."
"Kita mikirnya, kalau mogok bayar pajak benar-benar sporadis, bisa bahaya..."
"Gaji pegawai negeri sipil terhambat, begitu juga dengan perbaikan fasilitas umum. Akibatnya perputaran uang jadi melambat, ekonomi mandeg."
"Nah, itulah mengapa dari kemarin AMN nggak boleh pro gerakan mogok massal bayar pajak."
"Itu bukan berarti kita pro dengan sikap pemerintah seperti sekarang."
"Aku setuju dengan tekanan. Tapi bukan tekanan yang membakar rumah sendiri."
"Artinya?" tanya lelaki di ujung ponsel.
"Dorong audit terbuka. Dorong transparansi anggaran. Kawal lewat jalur hukum dan parlemen. Kalau masyarakat mogok bayar pajak tanpa arah, yang lumpuh justru kita sendiri."
"Tapi teman-teman daerah sudah panas, Bang."
"Aku paham."
"Tapi kita ini orang akademisi, yang punya jaringan ke atas dan ke bawah. Itu yang akan kita gunakan."
"Kita nggak boleh ikutan panas. AMN bukan organisasi yang berdiri untuk ikut terbakar."
Hening beberapa detik.
"Kalau begitu, arah resmi kita?"
Izack menatap kosong ke depan.
"Rapatkan barisan. Siapkan kajian. Kita bicara ke anggota dewan bareng CAPN, bukan ke jalanan."
"Siap, Bang."
Telepon terputus.
Telapak tangan Izack beku, menahan udara dingin, meski pikiran berdenyut keras.
Izack baru sadar, Chika sudah duduk di sebelahnya. Rambutnya masih basah, tertutup handuk kecil. Ia menatap gerak-gerik Izack yang jelas tak tenang.
"Kenapa nggak segera pulang aja, Bang?" tatap Chika.
Mata Izack yang redup, spontan membesar.
"Ngusir, kamu?" senyumnya lumer, tawa pun pecah saat gadis itu menurunkan pundak, kesal.
"Enggak begitu, maksudku Bang. Gimana sih?!" desisnya.
Izack tak peduli, ia melirik sekilas. Lalu menempelkan bergelayut manja di pangkuannya yang tegang.
"Gurau, sayang..."
Tawa pun reda, suasana pun kembali tenang.
Izack melirik jam tangan digital di tangan kanannya. "Dua puluh menit lagi, ada rapat dengan teman-teman AMN. Tolong bangunkan aku ya. Ngantuk banget," ucapnya menguap, lalu matanya memejam pelan.
"Tapi,"
Seolah tak peduli, Ia menyilangkan dua kaki di atas sandaran sofa, dan menghembuskan nafasnya pelan.
***
Malam pun tiba, dan Izack baru saja menutup laptopnya. Mengakhiri rapat dialog.
Seperti baru sadar, bohlam keemasan menyala hangat di sekeliling taman.
Sekelebat sosok Chika berjalan di sudut ruangan, menyalakan lampu.
Ia tersenyum tenang. Rasanya baru kali ini, hari-hari lebih menenangkan. Ada orang lain di sampingnya, yang membuat hari-hari terasa lebih tenang.
Tak lama kemudian gadis itu keluar dengan travel bag di tangan. Sorot mata Izack jelas terpana melihat wajahnya yang lembut di bawah sinar lembut.
Rambutnya yang panjang tergerai lembut, wajahnya tampak lebih segar setelah mandi, tapi tetap ada kelelahan yang samar di matanya.
Di balik sorot matanya yang tajam, pikirannya kembali berputar. Ia teringat penuturan kakek tetangga rumah gaharu. Namun bibirnya meluncur kata, tiba-tiba.
"Sudah siap semua, sayang?"
Chika mengangguk kecil, "Hm."
Tapi tangan Izack sudah membuat panggilan di ponselnya.
"Halo, Adam."
"Aku butuh orang untuk mengawasi rumah istriku."
"Oh, baik Bang. Aku tunggu alamatnya."
Izack mengangguk kecil.
Dengan satu sentuhan, alamat digital itu terkirim.
"Tolong, kalau perlu pasang cctv juga di pintu masuk halaman rumah. Dan spot urgent untuk bisa mengakses pantauan sekeliling rumah."
"Jangan sampai rumah itu terjamah oleh siapapun,"
"Kalau perlu, aku butuh satu sampai dua orang untuk menjaga rumah itu."
Sayup-sayup Chika mendengar, melotot kaget. Ia segera keluar dan berdiri di depan lelaki yang duduk santai di sofa.
"Kenapa mesti pakai penjagaan begitu, Bang?"
Izack bangkit, tepat berdiri di depannya. Lalu sedikit menundukkan punggung, menyamakan tinggi badan, menatap wajahnya yang cemas.
"Kamu tahu rumah itu sangat berharga bagi negara, sayang?"
Chika mengernyit, tapi sesaat ia paham. Ada surat perjanjian yang nilainya lebih dari cukup sekedar melunasi hutang negara.
"Dan bagiku, keselamatanmu lah yang utama," ucapnya.
Tangannya menggenggam jemari Chika yang mulai dingin
***
Sepanjang jalan menuju kos baru, keduanya terdiam lama. Tak ada sepatah katapun yang keluar. Chika baru sadar apa yang dilakukan lelaki di sampingnya selama ini adalah demi dirinya. Dan ia mulai merasa berat jika harus kembali berjauhan.
Saat itulah ia bertanya, ragu.
"Bang, seberapa perlu aku balik ke Takata?"
Izack menoleh, tersenyum kecil menampakkan lesung pipitnya di pipi.
Alih-alih langsung menjawab, ia justru tersenyum samar, sembari menggosokkan jari telunjuknya ke hidung, --kebiasaan saat menggoda.
"Masih kangen, ya?" candanya, tersenyum kecil.
Spontan mulut Chika berkerut, membasahi bibirnya sekilas.
Izack tersenyum lebar, sorot matanya berubah jahil. "Kenapa sih, kalau iya?"
Alih-alih menjawab, dengan raut semburat merah Chika mengalihkan pembicaraan.
"Aku dengar, Abang masuk rumah sakit."
Lelaki itu mengalihkan pandangan, tetap memegang setir tenang.
"Iya, gara-gara kamu tinggal pergi," ucapnya datar.
Glekkk...
"Maaf... aku kira kalau aku pergi, kamu jauh lebih leluasa."
Hening.
Izack tak langsung menjawab.
"Berapa kali aku katakan. Aku butuh kamu, lebih dari yang kamu tahu, sayang..."
Nafas Chika mendadak sesak.
"Maaf..."
"Nggak apa-apa. Sekarang, selesaikan saja studymu."
"Kapan berangkat KKN?" tanya Izack balik.
"Minggu depan, mungkin."
"Perlu aku antar?"
"Enggak lah, nanti aku dikatain lagi sama anak buahmu."
Izack hanya mendenguskan tawa, mencubit hidungnya yang kecil.
***
Hingga malam mulai larut, keduanya masih ngobrol berdua di teras depan kamar kos baru Chika yang jauh lebih bersih dan elegan.
Tak ada hal penting yang diobrolkan. Hingga akhirnya dua orang AMN datang menjemput, untuk berangkat ke ibu kota Takata bersama, malam itu.
Chika diam mematung. Izack tahu, ia butuh pelukannya.
Lelaki itu tersenyum kecil, lalu menariknya ke dalam pelukan.
"Maafkan Abang, Sayang... belum bisa jadi tempat berlindung yang baik," bisiknya, di balik punggung Chika.
Kecupan kecil mendarat di kening.
Chika risih, tapi Izack tak peduli, siapa yang melihat.
Gadis itu menelan ludah seakan ingin menahan, tapi kata itu tak terucap. Hanya genggaman erat ujung jaketnya, seakan takut melepas.
Baru kali ini ia merasakan perpisahan seperti ancaman yang menakutkan.
Dan akhirnya, Chika hanya bisa menarik nafas pelan saat Izack berjalan memasuki mobil. Ia menghembuskan nafas pasrah, saat lelaki itu melambaikan tangan, hingga kendaraan berjalan pelan meninggalkan jejak nyeri yang di dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar