Hening.
Chika terdiam cukup lama dalam dekapan. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi semua terasa berat untuk diucapkan sekaligus. Karena lelaki ini selalu punya jawaban untuk dunia di luar sana, dan ia masih belajar menemukan jawabannya sendiri --tentang bagaimana caranya tetap menjadi dirinya, tanpa harus tercerabut dari kehidupan yang kini ia masuki.
Angin malam menyelinap lewat balkon, membuat dadanya terasa sesak oleh perasaan yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Izack merasakan tubuh Chika mengendur, tapi pikirannya jelas belum benar-benar tenang. Ia tahu, kecemasan itu bukan soal cemburu, tapi tentang arah hidupnya yang mulai terasa menjauh dari jalur semula. Beberapa detik hening berlalu, hingga Chika akhirnya berbicara, bukan dengan nada protes, melainkan seperti seseorang yang sedang mencari pijakan agar tidak kehilangan dirinya sendiri.
"Besok aku pulang ke Tayoga, ya Bang."
Glekk...
Izack diam, menunduk. Menatap matanya cukup lama.
"Gimana cara membuatmu biar kamu mau singgah di sampingku."
"Nah, kan..." ucapnya melengos.
Izack tertawa.
Ia paham kemana arah pikirannya. Ia menelan ludah, membenjatkan mata sejenak. "Aku ini calon orang perhutani, Bang... cita-citaku berkontribusi banyak pada pelestarian alam yang bakal banyak nggak di rumahnya."
"Kalau kamu menyuruhku tinggal di dalam area hutan beton begini, itu sama halnya kamu memenjarakan aku diam-diam."
"Maaf-maaf, aku nggak berniat begitu," ucapnya, mengusap-usap lengan Chika.
Ia menarik nafas tenang.
"Oke, aku akan cari cara. Biar keinginanmu juga tersalurkan," ucapnya kembali mengeratkan dekapan.
Lelaki itu melirik ponselnya yang menyala sesekali. Ia melihat pesan masuk bertubi-tubi, lalu membaca singkat, dan kembali ia matikan.
"Sudah diingatkan nggak perlu turun jalan. Tetap aja ada yang turun," kecap Izack, meletakkan ponsel.
Keduanya diam sejenak, seakan bertarung dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar alam yang makin riuh kota. Dari sirine, langkah-langkah yang tak lagi sabar. Di luar sana, mahasiswa turun bukan sekadar karena emosi, melainkan karena angka-angka yang tak lagi masuk akal: biaya masuk kuliah yang melambung, sementara pendapatan keluarga terus tercekik di bawah batas hidup layak.
"Bukannya akar masalah kita itu ada di pendidikan, ya," ucapnya setengah menggumam.
Izack tersenyum tipis, menundukkan wajah, lalu mencium pipinya lembut, membuat pikiran Chika mampet seketika.
"Hari ini, guru itu ibarat navigator."
"Ibarat perahu berlayar, guru hanyalah navigator. Sementara penjelajah utamanya adalah murid itu sendiri."
"Dan bangsa kita butuh banyak sekali navigator baru, yang benar-benar tahu kemana bangsa ini harus diarahkan."
Chika mengangguk kecil, mata mereka menatap langit di luar yang makin redup.
Izack memainkan jemari Chika yang kurus dan putih pucat.
"Tapi untuk melindungi navigator, sistem juga harus berubah, Bang," ucap Chika lagi tenang. "Karena tolok ukur keberhasilan guru tidak bisa dinilai dengan lembaran laporan, melainkan bagaimana hidupnya aktivitas anak di sekolah yang tidak monoton dalam kelas."
"Karena hari ini, mereka bisa belajar darimanapun."
Tanpa banyak berkata, Izack kembali mengecup pipinya. Ada rasa bangga yang tumbuh diam-diam. Bahwa gadis yang dipertaruhkannya bukanlah gadis biasa.
Izack bangkit, menyandarkan punggungnya pada headboard. Chika langsung bangkit, tapi tangan Izack langsung menahannya, dan memeluknya hingga bersandar di dada, membuat Chika yang belum terbiasa sedikit canggung.
Ia menarik nafas dalam, "Nggak salah aku memilihmu, Non..."
Entah apa yanga da dalam kepala Izack, ia tersenyum lebar.
"Kenapa lagi?" Chika melotot
"Ya... meskipun keras kepala, tapi setidaknya kamu masih punya empati yang tinggi dan juga peduli."
"Dan satu lagi yang terpenting bagiku. Selain cerdas, kamu cantik."
Chika mencibir.
"Kamu satu-satunya perempuan yang nggak bisa tunduk pada godaan, bahkan kuasa pun."
"Aku membayangkan betapa cerdasnya anak-anak kita kelak, jika ibunya saja seperti ini."
Chika nyengir, asam. Membayangkannya saja sudah ngeri, bagaimana kepala sebesar itu bisa keluar dari alat vitalnya.
Izack kembali mengeratkan dekapannya.
"Aku membayangkan, ketika kelak punya anak. Kamu bakal selalu hadir membacakan cerita menjelang tidurnya. Lalu bercerita segala macam ke kita."
Lagi-lagi Chika hanya tersenyum.
"Kamu yakin?"
"Kenapa?"
"Orang cerdas itu melelahkan, aku nggak mau punya anak yang melelahkan begitu. Karena aku sendiri sudah cukup capek dengan pikiranku, meskipun aku bukanlah orang cerdas."
Izack tertawa spontan, mencium gemas pipinya yang dingin.
"Semester kemarin aku dapat pekerjaan storytelling, anaknya dosenku. Masih sd. Kerjaannya cuma membacakan buku, mengajak cerita si anak, lalu menuliskannya ke dalam tulisan tangan," ceritanya dengan mata berbinar-binar. "Itu pekerjaan yang paling seru seumur-umur."
"Tepat sekali dosenmu, narasi bercerita memang harus dibangun sejak dini lewat budaya storytelling. Dari sana anak mencintai pengetahuan," ucap Izack menatap sudut-sudut ruangan yang lengang.
"Bangsa ini kaya," lanjut Izack lirih. "Sumber daya alamnya, budaya leluhurnya. Tapi karena kita nggak punya narasi bercerita, kita jadi merasa seperti bangsa kecil yang nggak punya apa-apa."
Izack memainkan jemarinya yang kecil dan mulus, lalu menghirup sepenuhnya, membuat nafas gadis itu spontan tertahan.
"Nggak habis pikir. Jarimu ini bukan jari anak perhutani, melainkan jari para penulis," ucapnya kembali mencium pipinya yang dingin, lalu memeluknya erat.
"Aduh... kalau seperti ini, jadi malas keluar nih," ucapnya, saat merasakan Chika menggelayut di dada.
***
Dua jam berlalu.
Di luar, Ozin, yang sudah menunggu sambil menonton TV, akhirnya tertidur di sofa – masih dengan remote di tangan, dan televisi yang belum dimatikan. Dan Izack keluar di saat Chika kembali tertidur. Namun mendengar pintu dibuka, Ozin segera bangun. Tanpa banyak berkata, ia langsung mengikuti Izack keluar unit menuju lift.
Sementara Chika yang terbangun, kaget mendapati dirinya sendiri. Namun jejak hangat tubuhnya masih tertinggal di sana. Ia mulai merasakan betapa kehadirannya sangat berarti, meskipun berulangkali menyangkal rasa itu.
Ia bangkit perlahan, lalu berjalan ke balkon.
Udara siang terasa berat, seakan menambah beban rindu akan pelukan itu.
Pandangannya jatuh ke ponsel di meja kecil balkon –benda yang dulu sangat ia butuhkan, kini seperti barang biasa.
Ia mulai memainkan ponselnya, lalu mulai scroll. Hanya ada beberapa nomor di kontak person. Di antaranya Rendra
Lalu menekan panggilan.
"Halo, lagi dimana kamu?" suara Rendra terdengar parau di antara bising jalanan.
"Lama banget nggak pernah muncul di kampus."
"Hehe... banyak yang berubah," jawab Chika datar.
"Beneran itu berita di kampung?" nadanya terdengar serius.
"Hm,"
"Wuahhh!! Pulang ke Tayoga kamu harus traktir aku makan," serunya berisik, mencoba mencairkan suasana.
"Hei, Bro. Ini aku sedang cari cara alasan tepat untuk bisa pulang ke Tayoga."
"Whuattt? Seorang Chika kehabisan alasan?"
"Aku nggak bisa bayangkan sih, seperti apa sosok suamimu, bisa menakhlukkan kamu."
Chika menghamburkan nafas kesal. Tapi ia tak menjawab sedikitpun.
"Dimana kamu, kok sepi?" tanyanya, menyimak suara yang mendadak senyap.
"Hm, di mobil dinas sosial. Lagi keliling buat assessment anak jalanan."
"Oh..."
"Tahu nggak kemarin?" Chika mulai bercerita panjang lebar tentang awal mula ketemu Izack, hingga masuk rumah sakit dan tendang Izack menjelang pernikahan. Rendra tertawa cekakaan tak henti-henti.
"Ampun Chika... rewel banget kamu! Kalau aku jadi suamimu, sudah tak tinggal pergi sejak pertama."
"Untungnya dia nggak sepertimu," protes Chika.
"Iya, kan? Makanya, bersyukur aja, sudah..." potong Rendra cepat. "Hidupmu nggak terlunta-lunta seperti kemarin lagi."
"Iya sih," Chika menarik nafas panjang. "Tapi... rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku."
"Apa?"
"Nggak bebas seperti dulu lagi. Dari pakaian, tingkah laku, sampai mau kemana. Semua diatur. Kesel nggak sih?"
"Tunggu, tunggu!! Kamu kehilangan kebebasan, atau kehilangan dirimu yang dulu? Beda loh."
"Dua-duanya,"
"Ya pasti lah! Gimana si ah, kau!" ucap Rendra setengah nyolot. "Kamu ini sudah jadi bagian dari dirinya, Nak... Namanya orang seperti itu, sudah auto ketat. Apalagi dia play makernya, sudah pasti banyak musuhnya."
"Sekali kamu berbuat salah, bisa panjang urusannya. Bukan hanya reputasi dia, tapi gerakan yang dia bangun bakal kena imbasnya."
"Dan aku yakin, dia berani menikahimu itu sudah matang perhitungannya. Nggak mungkin enggak."
"Tapi aku kan baru ketemu sekali, itu saja dua tahun lalu."
Rendra terdengar kecap, "Hei... kau ini anak buahnya, Nak... apalagi data anggota AMN itu sudah qualified. Dia nggak perlu ketemu langsung untuk mengenalmu lebih jauh."
"Kok jadi ngeri ya?"
"Terus gimana, kamu mau nggembel seperti kemarin lagi?" ledek Rendra setengah bercanda.
Spontan Chika hanya tertawa. "Enggaklah!"
"Dari ceritamu, dia itu sabar banget loh."
Hening.
"Di saat harus menghadapi badai massa dan kondisi seperti sekarang, masih sanggup atasi cewek keras kepala dan rewel sepertimu."
"Kalau sampai lepas, sudah deh... bakal nyesel kamu seumur-umur."
"Tahu nggak Ren... aku itu malas sebenarnya berhubungan dengan hal-hal politik gitu. Tapi ini kenapa... justru dipertemukan orang seperti itu, mana leadernya lagi?"
"Awalnya ikut AMN, kayaknya seru aja. Organisasi yang serius membicarakan negara dari sudut pandang mahasiswa."
"Tapi nggak tahunya... ternyata hanya jadi batu loncatan saat mereka lulus. Yang nggak sedikit dari mereka, saat jadi pejabat ujungnya sama aja, terbawa arus sistem."
"Manusiawi, Chik," jawab Rendra pelan. "Saat lulus, mereka juga butuh hidup. Butuh menjaga keluarganya. Nggak semua kuat menanggung idealisme seumur hidup."
"Tapi tetap aja, sedih melihat mereka berubah."
"Iya, perubahan besar memang nggak mudah," kata Rendra lagi, suaranya merendah.
"Tapi bukan berarti terus membiarkan padam, kan?"
"Yah... begitulah. Entah sampai kapan negeri ini akan benar-benar berbenah dari akar masalahnya." ucap Rendra terdengar mengawang di awan.
Lelaki itu segera mengakhiri obrolan, dan panggilan pun mati dengan sendirinya.
Tiba-tiba dari grup messenger kelas, muncul pemberitahuan persiapan KKN (Kuliah Kerja Nyata) untuk semester depan dari kampus. Dan dirinya masuk dalam daftar di daerah rawan banjir, persiapan menjelang musim hujan.
"Ahh... kenapa mesti daerah perkotaan begini sih?" gumamnya kecil. "Aku kan pingin banget ikutan program reboisasi di hutan hujan tropis."
Chika terdiam lama. Matanya menerawang jauh.
Seperti ada yang muncul dari pikiraan cerdiknya, sudut bibir pun terangkat naik.
"Sepertinya memang harus lobi sendiri, nih. Face to face sama pembimbing," ucapnya lirih.
Chika menarik nafas dalam. Ia berdiri di sudut balkon menatap langit yang kini benar-benar mendung, hingga rintik hujan perlahan jatuh di pipi, namun meruap begitu saja dihempas angin yang cukup kencang.
Dari kejauhan, sirine meraung-raung. Suaraklakson dan kegaduhan seolah menyeruah di sudut sepanjang jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar