Dua minggu telah berlalu.
Izack hampir tak pernah pulang tepat waktu sejak gelombang aksi besar mahasiswa pecah di berbagai kota. Seusai rapat di perusahaannya –agar tetap aman dan terkondisikan—ia langsung menuju markas pusat AMN untuk memantau situasi lapangan.
Malam-malamnya dihabiskan di ruang IT, menatap monitor-monitor besar. Memantau tiap laporan koordinator AMN yang dipandu CAPN daerah yang selalu update tiap aksi ke meja-meja kebijakan. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah gerakan aksi kecil di pelosok negeri, demi mengatasi krisis yang makin menjepit.
Misalkan yang baru-baru ini ramai adalah mahasiswa lintas keilmuan yang turun ke desa-desa, demi mendistribusikan hasil panen yang melimpah, --yang sebelumnya sempat dibuang, gara-gara harga anjlok.
Sebagian dari mereka mengajarkan bagaimana mengawetkan, mengolah hingga menjualkan ke kota-kota lewat ibu-ibu dan anak-anak mereka di sekolah.
Lalu adalagi jaringan listrik dan jaringan internet yang bermasalah di pelosok-pelosok desa, kini terbantukan dengan hadirnya para dosen, peneliti dan CSR perusahaan lewat koneksi Izack yang cukup luas dan kuat dalam bernegosiasi membantu suplai pembuatan internet tanpa kabel, dan listrik dari sumber daya alam, seperti solar panel, air dan angin.
Namun di sudut kota-kota besar. Gelombang aksi turun jalan terus bergerak tak terbendung. Mereka marah karena di saat kenaikan harga BBM dunia makin melambung, pajak terus dinaikkan. Namun kenaikan tunjangan anggota dewan juga dinaikkan fantastis, perjalanan dinas luar negeri para pejabat terus saja dilakukan.
Di sisi lain, tim IT AMN --yang terus dikawal langsung oleh Izack—mulai menggulirkan data dan kajian dari CAPN, gagasan pembaruan yang seharusnya menjadi ruang dialog antara pemerintah dengan para akademisi.
Tapi di lapangan, suara mahasiswa sudah terlanjur pecah dan panas.
Mereka menilai Izack terlalu lambat. Terlalu berhati-hati.
Padahal, justru orang-orang CAPN lah yang memang sengaja menghindari konfrontasi langsung --karena mereka tahu, hidup mereka bergantung pada pemerintah yang sedang mereka kritik.
Malam itu, di antara riuhnya suara megafon dan notifikasi yang tak henti dari luar daerah, Izack sadar: menjaga keseimbangan antara idealisme dan kenyataan bukan lagi pilihan, tapi ujian.
Ia duduk di kursi belakang tim IT. Matanya merah karena lelah berlarut. Ia menutup wajahnya cukup lama. Sementara empat orang berdiri di sisinya ikut menatap layar dan notifikasi yang masuk dari seluruh cabang AMN di berbagai kota.
"Inilah kenapa sejak awal aku nggak setuju kita kerjasama dengan orang CAPN. Terlalu banyak wacana dan diskursus," suara Dido meninggi.
"Ini bukan kesalahan kita seratus persen," balas Anas cepat. "Kalau kemarin pajak tidak dinaikkan di saat ekonomi lagi labil, mungkin masyarakat nggak akan semeledak ini. Mereka sudah cukup terjepit."
"Itu adalah puncak dari kemarahan rakyat yang sudah menumpuk lama," sela yang lain tetap tenang. "Di saat harga kebutuhan naik, banyak subsidi yang dipotong, sementara di gedung anggota dewan masih bisa tertawa lepas merayakan kenaikan tunjangan."
"Gila!!"
Izack hanya diam, matanya tajam menatap notifikasi di layar lebar.
"Cukup! Yang terpenting bagaimana sekarang, bagaimana teman-teman kita yang hilang dan tertahan bisa kembali dengan selamat," potong Izack jengah.
Hening sejenak.
"Aku sudah mencoba menembus istana, tapi sampai detik ini belum ada tanggapan."
"Apa?!" spontan mereka kaget berpaling pada Izack.
"Kalian lupa, abang kita ini anaknya siapa?"
"Oh," jawab mereka seakan sadar.
Suasana langsung diam membeku.
***
Di luar gedung AMN. Satu peleton tentara dan polisi berjaga ketat. Namun tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Dua pria berperawakan tegap, turun –berpakaian sipil, tapi gerakannya jelas tegas, terlatih.
"Izack al Haque ada di dalam?" tanya salah satu datar, memperlihatkan tanda pengenal berlogo elang emas. Nada suaranya membuat perwira penjaga menegakkan badan.
Negosiasi hanya berlangsung singkat di antara mereka. Beberapa detik kemudian tentara berpangkat menengah mendekat, menerima panggilan di handy talkie, dan membeku.
Wajahnya mendadak berubah. Ia menoleh ke arah rekan-rekannya, memberi isyarat.
Dan seketika, barikade itu terbuka.
Sementara dari luar, terdengar suara orang berlari mendekat ke ruang IT.
"Bang, pengawal papamu menjemput."
Izack akhirnya berdiri saat pengawal itu datang memberi hormat.
"Oh... tidak. Aku nggak akan pulang selagi mereka juga belum pulang."
Glekk... semua menoleh saling berisyarat.
"Keluarlah, Zack..." ucap seseorang pelan. "Lakukan negosiasi lewat Papamu. Kita butuh jembatan, bukan pengorbanan."
Izack menatap satu persatu, menahan nafas berat.
"Kita doakan dari sini, Bang."
Semuanya terdiam, hingga akhirnya satu persatu merangkul Izack, menepuk bahu.
Akhirnya Izack melangkah keluar.
Dua pengawal itu berjalan di sisi depan dan belakangnya --matanya tajam, awas mengamati sekitar. Setiap aparat yang berjaga spontan menunduk hormat –bukan karena dirinya sebagai aktivis, melainkan seseorang di belakangnya.
***
Sepanjang perjalanan, Izack meminjam ponsel pengawalnya untuk memberikan komando pada teman-teman AMN di Markas.
"Tolong, pastikan semua yang masih tertahan segera cari tempat aman. Jangan ke markas dulu, situasai di sana belum stabil."
Ia menarik nafas dalam. "Kalau ada yang terluka parah dan butuh tempat berlindung, arahkan ke apartemenku. Hanya yang benar-benar butuh saja. Paham?!"
***
Malam itu juga, Mama Izack pergi ke apartemen, berniat menjemput Chika agar tinggal di kediaman sang Jendral yang lebih aman.
Tapi Chika menolak. Ia bersikeras menunggu Izack pulang, meski pun perempuan itu memohon dengan cemas.
Akhirnya Mama pulang dengan perasaan kecewa, meninggalkan Chika seorang diri di apartemen yang kini terasa lebih sunyi.
Menjelang dini hari, Chika masih terjaga.
Langit di sebelah timur mulai tampak terang, saat bel pintu terdengar. Ia segera berlari ke monitor kecil sebelah pintu, tapi yang terlihat bukan Izack, melainkan dua orang perempuan dan seorang lelaki muda dengan pakaian berdebu dan wajah kelelahan.
"Maaf, siapa ya?"
"Kami dari AMN, Kak. Abang Izack menyuruh kami kesini. Ada yang terluka."
Chika menatap mereka waspada. "Ada surat atau tanda dari dia?"
Lelaki muda itu segera menunjukkan video panggilan dari ponselnya.
"Halo, Sayang..." suara Izack terdengar dari layar. "Tolong bukakan pintu. Mereka cuma butuh tempat aman sebentar, satu dari salah satu mereka pendarahan. Aku ini menuju istana," ucapnya tampak di dalam mobil.
Deg...
Chika diam sejenak, lalu membuka pintu.
Saat masuk, dua orang pemuda itu langsung memapah satu orang perempuan dengan kepala berdarah, sementara lelaki tersebut dengan jaketnya berlubang mengeluarkan bercak darah. Chika mengarahkannya untuk duduk di sofa. Tapi perempuan satunya lagi kehilangan kendali, dan...
"Brughh!"
"Nia!!" teriak lelaki itu melepas temannya yang terkapar di atas karpet bawah sofa.
Namun Chika sigap menolong gadis itu.
Saat lelaki itu datang, mereka berusaha mengangkat perempuan tersebut bersama. Tapi perut Chika langsung terasa nyeri untuk melangkah.
"Akhhh..." pekiknya kecil menekan perut.
Ia melirik sekilas, melihat perempuan itu berhasil dinaikkan ke atas sofa.
Dengan langkah sigap, Chika mengambil kotak P3K dari lemari sebelah tv sambil membungkuk-bungkuk.
"Terima kasih, Kak. Kami cuma butuh waktu sebentar sampai tim medis datang."
"Ohh... ok ok," jawab Chika.
Tak lama kemudian, bel kembali berbunyi. Setengah menahan nyeri, ia berlari ke pintu.
Seorang perempuan berjas medis berdiri di sana –dokter yang pernah membantunya mencabut benang jahitan.
"Gimana Non?" tanyanya cepat.
"Tiga orang, Kak," jawab Chika singkat, memberi jalan masuk.
Sementara itu, dari ponsel dua mahasiswa tadi terdengar suara tangis orang tua mereka.
"Nggak apa-apa, Ma... aku sudah di apartemennya Bang Izack. Aman di sini."
"Siapa itu Bang Izack?" suara di seberang menangis tersengal.
"Ketua umum AMN, Ma."
Gadis itu mengarahkan kamera ke arah Chika. Chika hanya nyengir menekan perut sambil dadah-dadah di saat dokter muda itu sigap memakai sarung tangan karetnya.
"Ini istrinya Bang Izack, Ma."
"Oh... terimakasih banyak Non," suara si ibu bergetar, membuat Chika hanya mampu membalas dengan senyum dan lambaian tangan pelan dari belakang.
Tak lama kemudian, bel pintu kembali berbunyi.
Mereka adalah empat orang lelaki dengan wajah lebam.
Chika yang mulai kewalahan riwa-riwi, tak mampu menahan rasa nyeri di perut. Namun ia tetap riwa-riwi keluarkan sebagian isi kulkas untuk mereka makan.
"Ayo diminum dulu," langkahnya tertatih-tatih, meletakkan nampan di meja depan sofa.
Tiba-tiba ponsel mereka kembali bergetar. Entah apa yang dikatakan dari seberang, pandangannya langsung tertuju pada Chika.
"Ya?"
"Bang Izack katanya masuk tv, Kak."
"Oh..." Chika menunjuk remote yang langsung diambil dan tv itu langsung nyala.
"Hei, lihat! Bang Izack masuk tv," ucapnya panik.
Semua menoleh.
Di layar, tampak sosok Izack keluar dari mobil hitam di depan istana negara, mengenakan jas biru tua dengan wajah tenang.
Ia tersenyum ringan, menyalami beberapa orang sebelum akhirnya disambut oleh presiden dan rombongan, di tangga utama.
Chika berdiri terpaku.
Ada rasa haru, lega, dan bangga yang diam-diam menyelinap dalam hati, melihat lelaki itu tersenyum ringan menyalami orang-orang, hingga bapak presiden menyambutnya saat memasuki salah satu ruangan.
Hening.
Beberapa menit kemudian bel pintu kembali berbunyi.
Chika kaget. Dengan langkah tertatih-tatih, ia mendekat ke pintu. Melihat dua sosok mahasiswa berdarah-darah dipapah tak berdaya di depan pintu, tangannya sigap membuka. Namun dari belakang, muncul sekitar tujuh orang berbondong-bondong dari lorong dengan tubuh lebam dan setengah pingsan.
Perlahan suara suara itu bercampur di telinganya.
Langkah kaki. Nafas terengah...
Sementara karpet terasa miring.
Dan... dunia menggelap seketika.
Blugh!
"Kak!!"
Itulah suara terakhir yang masuk ke telinga.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar