Pagi Hari,
Saat mata Chika kembali terbuka, sadar mendapati dirinya dalam ruangan yang tak begitu luas, tapi tenang dan hening. Botol infus menggantung, terhubung ke tangannya.
Matanya menoleh, kaget. Lelaki dengan potongan rambut undercut rapi itu tertidur di sampingnya.
Sinar matahari terang terpantul dari gordyn putih, tembus dari kaca jendela sebelah sofa. Jam dinding di atas tv menunjukkan pukul 12.30.
Pandangannya kembali tertuju pada lelaki berwajah licin dan hidung mancung di sebelahnya. Alis matanya yang tebal dan rapi, nyaris seperti dibentuk.
Ia tak percaya, mengapa lelaki se tampan ini dibuang ibunya di tempat sampah.
Perlahan tangan kirinya melepas cungkup oksigen yang menutup mulut. Merasakan tarikan nafasnya jauh terasa ringan, dan dingin oleh udara penyejuk ruangan.
Izack terbangun, kaget melihat Chika menarik tubuhnya, berusaha duduk.
Ia sedikit menunduk, menekan tuas bed hingga posisi terangkat duduk. Lalu mengucek matanya.
"Gimana? Mau minum?" suara Izack serak, khas bangun tidur.
Chika menggeleng, menarik nafas tenang.
"Kenapa nggak tidur di sofa, Bang," tuturnya lemah.
Lelaki itu bangkit, mengambilkan segelas air putih. Chika meneguknya hingga gelas kembali kosong.
Sejenak mata Izack terpaku, menatap wajahnya lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Chika polos.
Bibir Izack tersenyum samar. Tapi enggan berkata.
"Masih nggak merasa?" tanya Izack.
"Merasa apanya?"
Izack tertawa kecil mengacak poni Chika. Lalu menegakkan punggungnya.
"Apa handponenya kamu jual buat bayar hutang juga?" ejek Izack menahan senyum.
Chika ikut tertawa. Menertawakan dirinya. "Nggak lah, gila apa?"
"Terus, kenapa masalah seperti ini nggak ngomong?"
Raut Chika mengkeret, matanya melirik takut.
"Nggak enak, Bang."
"Kemarin aku sudah ambil uang banyak di ATM untuk bayar KKN."
"Terus? kamu senang jadi gelandangan, begitu?"
Izack masih menahan tatapannya.
"Itu tandanya kamu kualat. Pergi nggak bilang-bilang, sampai Tayoga diusir pak kos," candanya.
Tawa pun pecah, tapi air matanya sudah menggenang di mata. Ia tak sanggup ingat lintasan peristiwa kemarin, hingga tangis pun pecah. Izack tertawa geli, memeluknya erat.
"Hadeeh... nggak percaya aku. Cewek seimut kamu bisa menggelandang di jalanan kota Tayoga malam-malam," ucapnya mengusap lembut kepala dan menciumnya berkali-kali.
Chika mengusap cepat air matanya.
"Biarin, yang penting lobyku berhasil."
"Loby apa?"
"Lokasi KKN."
Glekkk...
Izack menarik nafas lelah. "Serius, mau ikut KKN?"
"Hm, iya." senyum Chika menyeringai.
"Dimana?"
"Pulau terluar."
"Seru aja, akhirnya mimpiku terwujud..." matanya berbinar.
Izack langsung berwajah datar, tak enak.
"Kamu ini mikir nggak sih?"
"Kenapa?"
"Kamu ini habis operasi."
"Belum juga genap tiga bulan, masih masa pemulihan juga."
"Tenang Bang, aku sudah sembuh kok."
"Ganti lokasi," ucapnya tegas, namun bernada sayang. "Nggak ikhlas aku, lepas kamu ke pulau terluar."
Chika cemberut.
"Daripada di area pesisir pantai utara, aku paling nggak suka daerah daerah berisik."
"Tapi itu lebih baik, daripada harus keluar pulau. Sayang..."
Chika melirik, mendongakkan wajah, menatap Izack di hadapannya.
"Bang... aku ini anak kehutanan. Konsentrasi yang aku pilih itu konservasi flora dan fauna."
"Pas, kan?"
"Konservasi hutan mangrove. Itu penting juga, loh."
"Iya, tapi aku nggak suka."
"Tapi itu baik buat tubuh kamu."
Gadis itu melengos kesal.
"Tahu gitu tadi aku nggak perlu ngomong."
"Ganti,"
"Apa perlu Abang sendiri yang nomong ke kampus?"
Raut Chika berubah memelas.
"Bang... sudah lama sekali aku ingin lihat hutan-hutan pulau terluar."
"Iya, tapi badan kamu, Non..."
Chika mengejapkan bibir, melengos.
"Aku sudah sehat, Bang..."
"Ini apa?" tunjuknya pada infus.
"Itu karena aku kemarin belum makan, jalan jauh juga."
"Nah! Apalagi di hutan, kamu jalan bisa berpuluh-puluh kilometer tanpa makanan."
"Tapi kan?"
Izack mendekat, mengecup bibir manisnya.
Spontan pikiran Chika buyar, buntu. Ia lupa, apa yang perlu ia pertahankan, tadi.
Izack masih menjaga jarak wajahnya hanya sekian senti, menatap penuh cinta.
"Aku cuman ingin memastikan kamu aman, sayang," bisiknya, suaranya rendah. Nyaris tenggelam dalam ruangan yang hening.
Izack mengambil jarak, menatap ekspresi istrinya.
"Sudah berapa puluh gadis yang berhasil kamu cium, untuk membungkam mulutnya, Bang?" ucapnya tersenyum sinis.
"Aku dengar, ada gadis cantik anak menteri lulusan luar negeri yang bakal jadi istrimu."
Spontan ekspresi Izack seperti tertusuk. Ia diam menelan ludahnya sendiri, lalu kembali duduk di sofa.
Izack membuka ponsel, lalu mengirim pesan singkat. Lalu kembali menatap matanya yang kecil itu menatap kosong. Membiarkannya sendiri.
Namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa khawatir: membayangkan gadis sekurus dan selemah itu akan melakukan ekspedisi ke hutan pulau terluar, yang jauh dari jangkauannya.
Satu pesan masuk.
Itu adalah nomor telepon dekan fakultas Chika.
Tanpa berkata-kata lagi, ia bangkit dan meninggalkan seribu tanya di benak Chika yang mengikuti kepergiannya.
Pintu itu tertutup pelan, meninggalkan nyeri di hati hingga bergetar ngilu di sekujur tubuhnya.
Sampai di depan pintu, Izack menarik nafas lelah.
Tangannya kembali membuka ponsel dan mengangkat ponsel yang bergetar.
Sambil melangkah ia menelpon mulai bicara.
"Sudah sampai, Bro?"
Sesaat matanya menangkap tiga sosok lelaki dan perempuan yang berjalan ke arahnya. Mereka saling senyum, hingga akhirnya menjabat tangan.
"Habis darimana, kok cepet banget," tanya Izack.
"Basecamp. Kebetulan waktu kamu kirim pesan tadi, posisi sudah di dekat sini."
"Oh..."
"Mau kemana?"
"Kampus, sebentar."
"Buat apa?" tanya Hendrik curiga.
"Biasa... urusan Chika."
Tanpa bertanya lagi, Hendrik tersenyum samar.
"Oh... okelah."
"Nggak lama kan?"
"Urusan apa, Bang?" tanya Heni di belakang Hendrik.
Izack tak menjawab, dua lelaki itu hanya tersenyum paham. Keduanya segera berpisah.
***
Sisi lain Chika yang masih di bangsal perawatan, terdiam.
Bingung.
Kenapa hanya dengan kata seperti itu sudah marah beneran?
Ia menggigit bibir keras, tertunduk. Seakan sadar bagiamana perilakunya terhadap lelaki itu selama ini. Sementara ia luar biasa sabar mengatasi dirinya.
Dan ia mulai merasakan nyeri hebat terbayang hari-hari keras dulu akan ia lalui lagi. Andai perceraian itu terjadi.
Air matanya menetes pelan, tapi ia hapus cepat. Seakan tak membiarkan dirinya runtuh sedikitpun.
Dengan sisa tenaga, ia menyibakkan selimut berusaha bangkit. Namun mendengar pintu diketuk, perasaannya lega.
Tapi begitu yang dilihatnya Hendrik dan Heni, rautnya kembali mencelos.
"Halo..." sapa Hendrik ramah. "Gimana kamu..."
"Tahu kamu mau pergi ke jalanan, mending aku antar kamu ke Basecamp, Chik."
"Hehe..."
"Nggak ketemu Bang Izack di luar kah?"
"Hm, ketemu."
"Ada acara apa ke kampus?" tanya Hendrik.
"Kampus?"
Melihat raut Chika, Hendrik tak meneruskan pertanyaannya.
"Ketemu seniornya, apa?"
"Mungkin," jawabnya singkat. Enggan meneruskan.
Hendrik cukup paham dari raut wajah kedua orang itu.
Chika diam, memainkan jemarinya.
Hendrik meminta dua orang temannya keluar.
Hening.
Heni menutup pintu pelan.
"Kenapa?"
"Lagi ada masalah?"
Chika diam tak menjawab. Hendrik paham, ia menarik nafas cepat.
"Chika... Chika."
"Aku tahu kamu itu cewek mandiri."
"Tapi tolonglah... empati sedikit dengan suamimu yang sedang berjuang keras di luar sana," ucapnya menatap diam.
"Berapa kali aja dia dihujat anak-anak AMN se-tanah, air gara-gara dia absen, demi menunggumu di rumah sakit." suaranya turun,
"Tapi atas perintah dia, berita itu bersih seketika, demi menjaga perasaanmu."
Hendrik tersenyum kecil, getir.
"Keren nggak sih, ada lelaki seperti itu?"
Chika tertunduk.
"Tahu nggak? Beberapa hari yang lalu, kata teman pusat dia baru keluar dari rumah sakit."
"Sakit apa?"
"Nah, malah tanya."
Hendrik diam sesaat. Wajahnya berubah lembut.
"Dia itu tulus mencintaimu, loh."
"Kalau kamu sering buat kecewa, aku khawatir kamu bakalan nyesal nanti."
Raut Chika ciut.
"Dia itu lelaki idaman para cewek, Non..." lanjut Hendrik. "Aslinya, dia itu keras, dingin dan tegas."
"Cuman sama kamu aja dia bisa begitu sabar."
Hening.
Hendrik mengalihkan pandangan, seolah mengingat hari-hari yang ia lalui bersama dengannya dulu.
"Tahu nggak? Lelaki semacam Izack itu paling hati-hati memilih orang."
"Tapi sekalinya dikecewakan, aku khawatir dia nggak akan menoleh lagi. Apalagi kamu yang sudah Chika tertegun, jemarinya meremas ujung selimut dengan gelisah. Ia mencoba mencari celah untuk membela diri, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
"Bang... berapa banyak lelaki sukses yang akhirnya meninggalkan wanitanya, dan memilih wanita lain di luar?" bisik Chika, pahit.
Ada trauma yang terselip dalam suaranya.
Hendrik menggeleng pelan, seolah tak sudi mendengar itu.
"Kalau Izack tipe lelaki seperti itu, sudah nggak terhitung berapa banyak perempuan yang bisa ia jadikan pacar, atau bahkan teman tidur, jika dia mau."
"Dunia di sekitarnya menawarkan itu setiap detik, Chika," tatap Hendrik lurus.
"Tapi sampai detik ini, kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia menjaga dirinya, juga menjagamu."
Chika tak mengelak. Itu benar adanya. Izack adalah benteng yang kokoh, tapi ia sendiri yang sering curiga.
Suasana kamar kembali hening. Heni dan dua orang teman lelaki yang masih di luar, kini kembali masuk mengingatkan untuk segera pergi.
Chika diam menatap kepergian mereka, seolah tengah mencerna egonya sendiri yang kalap termakan harga diri dan martabat.
Di luar jendela, langit Tayoga tampak cerah. Tapi di bangsal itu, hati Chika mulai runtuh, sesak oleh rasa bersalahnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar