Minggu, 18 Januari 2026

Bab 4. Pertemuan dalam Diam

 

Udara sore itu terasa aneh. Matahari masih menyengat kulit, tapi angin berhembus justru terasa sangat menusuk dingin. Pepohonan Dedalu menjuntai rimbun di sepanjang jalanan masuk kawasan pemukiman elite.

Seorang gadis --dengan rambut dikucir sebahu-- melangkah santai di sisi trotoar. Ia mengenakan hem biru kotak-kotak yang tampak lusuh tapi rapi. Sepanjang jalanan itu terasa luas dan sepi. Hanya suara desir angin yang sesekali menghempas, dan gesekan daun yang sesekali jatuh di aspal menemani memecah keheningan.

Rumah-rumah megah dengan pagar tinggi berdiri angkuh, seakan menciptakan jarak yang begitu rendah dengan siapapun yang melintas jalanan di depannya. Apalagi pejalan kaki.

Sepi.

Gadis itu terus saja berjalan, meski sesekali menoleh gelisah --rasa waspada akan kejahatan yang mengintai.

Ia menarik nafas berat. Sesekali menggosok-gosokkan dua telapak tangan menghalau dingin, sesekali menghitung dengan jari kurusnya, dengan mata menerawang jauh. Seolah menghitung setiap detil yang ada di kepalanya tanpa boleh terlewat sedikitpun.

Dari seberang jalan yang lengang, suara engsel pintu besi berderit memecah keheningan. Pintu pagar kayu tinggi bercat cokelat klasik itu terbuka perlahan. Seorang lelaki melangkah keluar dari dalam, membuat fokus pikirannya pun pecah seketika dan menoleh.

Lelaki itu tinggi, putih sedikit pucat, rambutnya tersisir rapi dengan topi sedikit menenggelamkan wajahnya yang tampan.

Saat itu kedua mata saling menatap dari jauh, seakan menghentikan gerak langkah keduanya. Hanya dalam sekian detik, membuat si gadis spontan salah tingkah.

Awalnya gadis itu berjalan tenang, namun kini mendadak kikuk.

Tiba-tiba saja dua orang lelaki dari kejauhan memanggil-manggil lelaki tersebut.

"Izack!"

Tatapan pun terputus begitu saja. Dan gadis itu pun melangkah cuek, seolah tak terjadi apa-apa.

"Kapan datang?" seru salah satu dari mereka menepuk pundak.

Mereka tampak akrab.

Gadis itu kembali menoleh, sekedar memastikan wajah dua lelaki yang tak asing. Tapi lelaki tampan itu justru menatap gadis itu lagi seolah ingin memastikan sesuatu.

Saat kembali berjalan, si gadis kembali tersenyum. Senyum itu samar, namun terasa getir. Membayangkan betapa jauh status sosial antara dirinya dengan ketiga lelaki itu.

Sambil kembali melangkah, si gadis menekan rasa nyeri yang makin menusuk.

"Oh, anak orang kaya... mujur benar hidupmu. Sudahlah kaya, ganteng, terhormat pula," gumamnya lirih.

"Lha aku?"

"Sudahlah jelek, bodoh, miskin lagi," ujarnya garuk-garuk kepala, tersenyum pahit.

Saat kontur jalanan menanjak, ia mulai menahan nafas sedikit terasa berat di kaki. Sementara membiarkan rasa lapar itu menjepit perutnya sejak pagi tadi.

"Kalau bukan demi naskah buku itu, malas banget aku kemari. Habiskan tenaga percuma. Mending kerja di warung bisa dapat makan siang," pikirnya.

Tatapannya menembus ruang kosong, menatap jalanan yang masih terasa jauh di ujung mata.

Basecamp AMN itu ada di kawasan perumahan Elite dosen kampus negeri di kota Tayoga. Konon katanya, Basecamp itu rumah milik salah satu founding universitas negeri yang keluarganya sudah sukses semua dan ditinggalkan.

Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum pahit, sekedar membayangkan itu.

Tapi sesaat langkahnya terhenti,

"Akhhh..." keluhnya, nyengir menjepit perut.

Langkah yang berat dan perut yang melilit perlahan terkalahkan oleh pikirannya pada naskah buku miliknya. Kabarnya naskah itu telah dikirim ke ibu kota Takata, dari penerbit seniornya di AMN, Bang Awan.

Bahkan sejenak lupa pada lelaki yang melintas di seberang jalan. Mereka terdengar seru berbincang-bincang.

Sayup-sayup suara itu terdengar:

"Dari ketiga anaknya Jendral Arsyad, hanya kamu yang mau repot-repot terjun ke dunia politik mahasiswa yang nggak ada untungnya, Zack."

Lelaki di sebelahnya mengangguk cepat, "Hm, kalau aku jadi kamu, mending serius di bisnis. Atau lanjut kuliah luar negeri seperti dua orang kakakmu, Bro," kata mereka.

Suara mereka sebenarnya tak begitu keras, tapi karena suasana terlalu sepi, suara itu terdengar jelas. Membuat mata Chika pun terbelalak.

"Jendral Arsyad?!"

Ia penasaran, seperti apa sosok anaknya Jendral yang namanya digadang-gadang sebagai garda depan keamanan negara, di saat memanas hubungan luar negeri terkait isu pencaplokan kepulauan terdepan dan terluar di perairan negara Minensa.

Chika menoleh, memastikan siapa lelaki yang dimaksud.

Tanpa disengaja, keduanya saling menatap sejenak, hingga Chika pun kembali meneruskan langkah.

Baru berapa lama melangkah, suara berat terdengar dari belakang.

"Hei, Luchika!"

Suara itu seperti memecah keheningan, dan langkahnya pun langsung terhenti.

Degg...

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

"Suara siapa itu?" pikir Chika gugup campur grogi.

"Rendra?"

"Bukan," pikirnya. Ia sangat berharap, bahwa yang memanggil namanya adalah di antara ketiga lelaki itu.

Dengan nafas menggantung, Chika menoleh cepat --mencari sumber suara, berharap lelaki tampan itu yang memanggilnya.

Tanpa sadar bibirnya tersenyum geli dengan perasaan dan pikirannya yang teraduk-aduk.

Tapi belum sempat ia menoleh, tangannya yang menggamit dua buku tebal, lemah seketika.

"BRAKKK!!!" buku-buku itu terlempar jatuh.

Spontan rautnya merah padam.

Malu banget.

Rambutnya yang terikat kucir hingga sepunggung, langsung ia lepas. Membiarkannya tergerai.

Itu adalah strategi dari dulu, demi menutupi rasa malu yang berantakan.

Tapi belum sempat meraih buku yang pertama, sepasang sepatu lelaki sudah lebih dulu berdiri di hadapannya.

Jantungnya berdecak halus serasa ada yang melayang --entah canggung, gugup, atau mungkin harapan kecil.

Tapi begitu mendongak...

"Hwkwk!" wajah lelaki yang sudah akrab itu terkekeh, menertawakan tanpa belas kasihan saat tahu ketiga lelaki itu berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

Tangannya menyaut cepat dua buku itu. Ia mendengus kesal.

"Hih!! Nyebeli banget kamu."

Tanpa babibu, Chika langsung berdiri, mengayunkan dua buku yang terasa berat di tangan, lalu memukul keras punggungnya.

"Bughh!"

"Aduh!"

"Sakit tahu!" protes Rendra nyengir sedikit terdorong.

Chika tertawa menang menanampakkan giginya yang kecil dan bersih.

Renda menahan tawa sambil mengusap punggungnya.

"Ampun... cowok apa cewek, sih kamu?!"

Izack yang berjalan di belakang mereka cuma tersenyum geli.

Tak banyak kata.

Tapi tatapannya cukup kuat membuat dua orang temannya berbisik.

"Anak buahnya Leo."

"Siapa?"

"Cewek itu."

"Oh..."

Izack tak berkomentar, hanya tersenyum samar. Ia teringat kata-kata Hendrik kemarin malam, membayangkan bagaimana sikap tomboynya gadis itu.

Tapi... benarkah yang dimaksud adalah Luchika yang ini?

Atau ada nama Luchika yang lain.

Atau... bahkan setiap gadis yang namanya Luchika, pasti cantik, seperti gadis di depannya ini.

Pikiran Izack masih berputar-putar sendiri.

Chika sengaja memalingkan wajah ke kiri, membiarkan rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya, saat ketiga lelaki itu berjalan melintas lebih dulu.

Hingga akhirnya ia menarik nafas lega, saat mereka berjalan di depannya lebih cepat.

Spontan matanya melirik Rendra kesal.

"Dasar! Sontoloyo," gerutunya lirih.

Spontan Rendra tertawa cekakaan.

Dua buku ditangannya kembali mendarat ke punggungnya.

"Buggh!!"

"Diem kau!" pelototnya. Ia khawatir mereka mendengarnya.

Tak henti-hentinya Rendra tertawa cekakaan geli, menahan perut, melihat gadis di sebelahnya beraut merah padam menahan malu.

"Ampun Chika! baru berapa detik jalan bareng kamu, badanku sudah sakit semua," pekik Rendra kesakitan.

Izack yang sudah lebih dulu berjalan di depannya hanya menoleh sekilas. Tatapannya datar dan tajam, sekilas tatapan Izack dan Rendra saling bertemu.

Rendra tahu, lirikan sekilas mata lelaki itu tertuju pada gadis yang berjalan di sampingnya.

Lelaki itu berlalu begitu saja, melanjutkan obrolan dengan dua orang di sebelahnya.

"Kenapa? Cakep ya?" lirih Rendra.

Chika cuma nyengir menarik nafas sekilas.

"Ah! diluar jangkauan itu mah..." katanya kembali melangkah santai.

Sepanjang jalanan yang menurun, keduanya tetap ngobrol seru hingga langkah pun perlahan melambat.

Di depan, sebuah rumah dengan gerbang tinggi dan tembok batu alam, --seorang lelaki paruh baya berwajah bersih dan berperawakan tenang, tampak sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu.

"Halo Bang," sapa lelaki tampan terdengar akrab.

Lelaki itu menoleh, spontan matanya membesar.

"Hei?! Izack..." serunya, lalu keduanya saling memeluk.

"Gimana kabarnya?"

"Tambah keren aja kamu, sejak jadi Ketua Umum?" balas lelaki itu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Izack tertawa kecil, matanya menyipit bening. "Amiin, Bang,"

Ia mengeluarkan selembar amplop putih dengan kop AMN dari tas kecilnya.

"Besok hadir di Kongres Alumni, kan. Bang?"

"Insyaallah..."

"Ini apa?" tanyanya menatap amplop.

Izack tersenyum lebar. "Proposal, Bang."

Lelaki itu hanya mengangguk pelan, ekspresinya datar.

"Hehe... masa kita semangatnya sampai ubun-ubun, tapi abang-abangnya nggak mendukung. Kalau nggak cair, malu dong sama adik-adiknya, Bang,"

Bahasa itu terdengar diplomatis, namun terdengar skak.

Itulah bahasa seorang Izack saat menghadapi seniornya yang berduit.

belum ia ketahui pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar