Udara sore
itu terasa aneh. Matahari masih menyengat kulit, tapi angin berhembus justru
terasa sangat menusuk dingin. Pepohonan Dedalu menjuntai rimbun di sepanjang
jalanan masuk kawasan pemukiman elite.
Seorang
gadis --dengan rambut dikucir sebahu-- melangkah santai di sisi trotoar. Ia
mengenakan hem biru kotak-kotak yang tampak lusuh tapi rapi. Sepanjang jalanan
itu terasa luas dan sepi. Hanya suara desir angin yang sesekali menghempas, dan
gesekan daun yang sesekali jatuh di aspal menemani memecah keheningan.
Rumah-rumah
megah dengan pagar tinggi berdiri angkuh, seakan menciptakan jarak yang begitu
rendah dengan siapapun yang melintas jalanan di depannya. Apalagi pejalan kaki.
Sepi.
Gadis itu
terus saja berjalan, meski sesekali menoleh gelisah --rasa waspada akan
kejahatan yang mengintai.
Ia menarik
nafas berat. Sesekali menggosok-gosokkan dua telapak tangan menghalau dingin,
sesekali menghitung dengan jari kurusnya, dengan mata menerawang jauh. Seolah
menghitung setiap detil yang ada di kepalanya tanpa boleh terlewat sedikitpun.
Dari
seberang jalan yang lengang, suara engsel pintu besi berderit memecah
keheningan. Pintu pagar kayu tinggi bercat cokelat klasik itu terbuka perlahan.
Seorang lelaki melangkah keluar dari dalam, membuat fokus pikirannya pun pecah
seketika dan menoleh.
Lelaki itu
tinggi, putih sedikit pucat, rambutnya tersisir rapi dengan topi sedikit
menenggelamkan wajahnya yang tampan.
Saat itu
kedua mata saling menatap dari jauh, seakan menghentikan gerak langkah
keduanya. Hanya dalam sekian detik, membuat si gadis spontan salah tingkah.
Awalnya gadis
itu berjalan tenang, namun kini mendadak kikuk.
Tiba-tiba
saja dua orang lelaki dari kejauhan memanggil-manggil lelaki tersebut.
"Izack!"
Tatapan pun
terputus begitu saja. Dan gadis itu pun melangkah cuek, seolah tak terjadi
apa-apa.
"Kapan
datang?" seru salah satu dari mereka menepuk pundak.
Mereka
tampak akrab.
Gadis itu kembali menoleh, sekedar memastikan wajah dua lelaki
yang tak asing. Tapi lelaki tampan itu justru menatap gadis itu lagi
seolah ingin memastikan sesuatu.
Saat kembali berjalan, si gadis kembali tersenyum. Senyum
itu samar, namun terasa getir. Membayangkan betapa jauh status sosial antara
dirinya dengan ketiga lelaki itu.
Sambil kembali melangkah, si gadis menekan rasa nyeri yang
makin menusuk.
"Oh, anak orang kaya... mujur benar hidupmu. Sudahlah
kaya, ganteng, terhormat pula," gumamnya lirih.
"Lha aku?"
"Sudahlah jelek, bodoh, miskin lagi," ujarnya
garuk-garuk kepala, tersenyum pahit.
Saat kontur jalanan menanjak, ia mulai menahan nafas sedikit
terasa berat di kaki. Sementara membiarkan rasa lapar itu menjepit perutnya
sejak pagi tadi.
"Kalau bukan demi naskah buku itu, malas banget aku
kemari. Habiskan tenaga percuma. Mending kerja di warung bisa dapat makan
siang," pikirnya.
Tatapannya menembus ruang kosong, menatap jalanan yang masih
terasa jauh di ujung mata.
Basecamp AMN itu ada di kawasan perumahan Elite dosen kampus
negeri di kota Tayoga. Konon katanya, Basecamp itu rumah milik salah satu
founding universitas negeri yang keluarganya sudah sukses semua dan
ditinggalkan.
Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum pahit, sekedar
membayangkan itu.
Tapi sesaat langkahnya terhenti,
"Akhhh..." keluhnya, nyengir menjepit perut.
Langkah yang berat dan perut yang melilit perlahan
terkalahkan oleh pikirannya pada naskah buku miliknya. Kabarnya naskah itu
telah dikirim ke ibu kota Takata, dari penerbit seniornya di AMN, Bang Awan.
Bahkan sejenak lupa pada lelaki yang melintas di seberang
jalan. Mereka terdengar seru berbincang-bincang.
Sayup-sayup suara itu terdengar:
"Dari ketiga anaknya Jendral Arsyad, hanya kamu yang
mau repot-repot terjun ke dunia politik mahasiswa yang nggak ada untungnya,
Zack."
Lelaki di sebelahnya mengangguk cepat, "Hm, kalau aku
jadi kamu, mending serius di bisnis. Atau lanjut kuliah luar negeri seperti dua
orang kakakmu, Bro," kata mereka.
Suara mereka sebenarnya tak begitu keras, tapi karena
suasana terlalu sepi, suara itu terdengar jelas. Membuat mata Chika pun
terbelalak.
"Jendral Arsyad?!"
Ia penasaran, seperti apa sosok anaknya Jendral yang namanya
digadang-gadang sebagai garda depan keamanan negara, di saat memanas hubungan
luar negeri terkait isu pencaplokan kepulauan terdepan dan terluar di perairan
negara Minensa.
Chika menoleh, memastikan siapa lelaki yang dimaksud.
Tanpa disengaja, keduanya saling menatap sejenak, hingga
Chika pun kembali meneruskan langkah.
Baru berapa lama melangkah, suara berat terdengar dari
belakang.
"Hei, Luchika!"
Suara itu seperti memecah keheningan, dan langkahnya pun
langsung terhenti.
Degg...
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Suara siapa itu?" pikir Chika gugup campur grogi.
"Rendra?"
"Bukan," pikirnya. Ia sangat berharap, bahwa yang
memanggil namanya adalah di antara ketiga lelaki itu.
Dengan nafas menggantung, Chika menoleh cepat --mencari
sumber suara, berharap lelaki tampan itu yang memanggilnya.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum geli dengan perasaan dan
pikirannya yang teraduk-aduk.
Tapi belum sempat ia menoleh, tangannya yang menggamit dua
buku tebal, lemah seketika.
"BRAKKK!!!" buku-buku itu terlempar jatuh.
Spontan rautnya merah padam.
Malu banget.
Rambutnya yang terikat kucir hingga sepunggung, langsung ia
lepas. Membiarkannya tergerai.
Itu adalah strategi dari dulu, demi menutupi rasa malu yang
berantakan.
Tapi belum sempat meraih buku yang pertama, sepasang sepatu
lelaki sudah lebih dulu berdiri di hadapannya.
Jantungnya berdecak halus serasa ada yang melayang --entah
canggung, gugup, atau mungkin harapan kecil.
Tapi begitu mendongak...
"Hwkwk!" wajah lelaki yang sudah akrab itu
terkekeh, menertawakan tanpa belas kasihan saat tahu ketiga lelaki itu berjalan
beberapa langkah di belakang mereka.
Tangannya menyaut cepat dua buku itu. Ia mendengus kesal.
"Hih!! Nyebeli banget kamu."
Tanpa babibu, Chika langsung berdiri, mengayunkan dua buku
yang terasa berat di tangan, lalu memukul keras punggungnya.
"Bughh!"
"Aduh!"
"Sakit tahu!" protes Rendra nyengir sedikit
terdorong.
Chika tertawa menang menanampakkan giginya yang kecil dan
bersih.
Renda menahan tawa sambil mengusap punggungnya.
"Ampun... cowok apa cewek, sih kamu?!"
Izack yang berjalan di belakang mereka cuma tersenyum geli.
Tak banyak kata.
Tapi tatapannya cukup kuat membuat dua orang temannya
berbisik.
"Anak buahnya Leo."
"Siapa?"
"Cewek itu."
"Oh..."
Izack tak berkomentar, hanya tersenyum samar. Ia teringat
kata-kata Hendrik kemarin malam, membayangkan bagaimana sikap tomboynya gadis
itu.
Tapi... benarkah yang dimaksud adalah Luchika yang ini?
Atau ada nama Luchika yang lain.
Atau... bahkan setiap gadis yang namanya Luchika, pasti
cantik, seperti gadis di depannya ini.
Pikiran Izack masih berputar-putar sendiri.
Chika sengaja memalingkan wajah ke kiri, membiarkan
rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya, saat ketiga lelaki itu berjalan
melintas lebih dulu.
Hingga akhirnya ia menarik nafas lega, saat mereka berjalan
di depannya lebih cepat.
Spontan matanya melirik Rendra kesal.
"Dasar! Sontoloyo," gerutunya lirih.
Spontan Rendra tertawa cekakaan.
Dua buku ditangannya kembali mendarat ke punggungnya.
"Buggh!!"
"Diem kau!" pelototnya. Ia khawatir mereka
mendengarnya.
Tak henti-hentinya Rendra tertawa cekakaan geli, menahan
perut, melihat gadis di sebelahnya beraut merah padam menahan malu.
"Ampun Chika! baru berapa detik jalan bareng kamu,
badanku sudah sakit semua," pekik Rendra kesakitan.
Izack yang sudah lebih dulu berjalan di depannya hanya
menoleh sekilas. Tatapannya datar dan tajam, sekilas tatapan Izack dan Rendra
saling bertemu.
Rendra tahu, lirikan sekilas mata lelaki itu tertuju pada
gadis yang berjalan di sampingnya.
Lelaki itu berlalu begitu saja, melanjutkan obrolan dengan
dua orang di sebelahnya.
"Kenapa? Cakep ya?" lirih Rendra.
Chika cuma nyengir menarik nafas sekilas.
"Ah! diluar jangkauan itu mah..." katanya kembali
melangkah santai.
Sepanjang jalanan yang menurun, keduanya tetap ngobrol seru
hingga langkah pun perlahan melambat.
Di depan, sebuah rumah dengan gerbang tinggi dan tembok batu
alam, --seorang lelaki paruh baya berwajah bersih dan berperawakan tenang,
tampak sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu.
"Halo Bang," sapa lelaki tampan terdengar akrab.
Lelaki itu menoleh, spontan matanya membesar.
"Hei?! Izack..." serunya, lalu keduanya saling
memeluk.
"Gimana kabarnya?"
"Tambah keren aja kamu, sejak jadi Ketua Umum?"
balas lelaki itu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Izack tertawa kecil, matanya menyipit bening. "Amiin,
Bang,"
Ia mengeluarkan selembar amplop putih dengan kop AMN dari
tas kecilnya.
"Besok hadir di Kongres Alumni, kan. Bang?"
"Insyaallah..."
"Ini apa?" tanyanya menatap amplop.
Izack tersenyum lebar. "Proposal, Bang."
Lelaki itu hanya mengangguk pelan, ekspresinya datar.
"Hehe... masa kita semangatnya sampai ubun-ubun, tapi
abang-abangnya nggak mendukung. Kalau nggak cair, malu dong sama adik-adiknya,
Bang,"
Bahasa itu terdengar diplomatis, namun terdengar skak.
Itulah bahasa seorang Izack saat menghadapi seniornya yang
berduit.
belum ia ketahui pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar